Lie to Social Media is a Lie to Ourselves

Lately I realize, some people (including myself!) can fake a lot of things in social media. I don’t do it often but when I realize some others are doing this, it gets me thinking, “Why do we do this? And whom are we kidding here???”

People post a lot of romantic pictures with their spouses while actually, they fight nearly all the times with each other.

People seem to have a lot of fun with their friends in their pictures while actually, they were busy with their phones and only got together when they took that cheerful pictures.

People post this and that just to imply they’re so in love while actually, they’re only trying to make their ex jealous, angry, regret their decisions and bla bla bla.

People fake their statuses trying to say how they have moved on from their ex while actually, they only lie to themselves thinking that it will make them look any better.

The way I see it now, we’re more focus on what it seems on social media rather than seeing what actually happens in the real life.

There’s nothing wrong from posting romantic pictures, it’s even can be so cute! But do make sure that you two are happy together too. Make an effort to make that romance happen in your real life!

There’s nothing wrong from taking pictures with your friends, but put down your phones and do actual talks when you’re sitting right next to them. Always make the real memories to be remembered and to be told to your grandchildren!

Having unfinished business with your ex? Just knock their door and tell them everything you always want to say out loud! Good things, bad things, just learn how to close your book properly!

Real life is a lot larger than just a Facebook homepage, Path timeline, and all of those tweets we have posted. When we lie to our social media, we’re actually lying to ourselves. And yes, we’re kidding to ourselves too!

Have fun with your social media, but don’t let you make fun of yourself in your own social media.

Don’t Be Too Tired to Be Better

Akhir-akhir ini, ada beberapa kejadian yang membuat gue ngerasa belum jadi seseorang yang gue inginkan untuk diri gue sendiri. Tiba-tiba, gue sadar dengan sendirinya bahwa gue masih jauh dari good enough.

Apa saja contohnya?

  1. Nge-judge sifat buruk orang lain padahal gue juga memiliki sifat buruk yang tidak jauh beda dengan orang yang gue judge;
  2. Menasehati orang lain di saat sebaiknya gue menasehati diri gue sendiri;
  3. Membenci orang lain atas sesuatu yang juga pernah gue lakukan terhadap orang lainnya;
  4. Merasa jadi korban padahal sebetulnya, gue sendiri yang jadi “penjahatnya”;
  5. Menuduh orang lain sebagai si “Mr. Wrong”, padahal bisa jadi, gue juga si “Ms. Wrong” buat dia.

Saat gue menyadari lima hal di atas, gue mulai terpikir untuk instropeksi lebih dalam lagi. Rasa-rasanya, gue seperti mulai berkaca; seolah melihat sisi jelek diri gue sendiri dalam diri orang lain di depan gue.

Tidak mudah mengubah sifat jelek yang sudah kuat tertanam dalam diri kita sendiri. Tapi konon katanya, awal dari perubahan adalah mengakui bahwa masih sangat banyak hal yang harus kita rubah dalam diri kita ini. Semakin kita merasa yakin bahwa sifat kita sudah sempurna, maka sebenarnya, diri kita justru semakin jauh dari kesempurnaan itu sendiri.

Be better. And never ever be too tired for that.

10 Quick Ways to Be Happier

Sampai kira-kira tiga minggu yang lalu, mood gue masih jelek-jeleknya. Semua jenis perasaan yang serba jelek seolah bercampur aduk jadi satu dalam hati gue ini. Tapi lalu beberapa hari belakangan ini, perasaan gue malah sedang senang-senangnya! The past two weeks has been the greatest weeks of the year!

Apa rahasianya? Hal-hal sederhana saja!

  1. Do more of the things that I love to do, in my case: traveling! Meski cuma sempat traveling satu hari penuh di Guilin, Cina, rasanya sudah senang banget! Gue berhasil bawa pulang foto-foto yang bisa bikin orang lain iri, hehehehe;
  2. Make the best of my weekends. Kalau pun enggak bisa traveling yang jauh-jauh, yang deket-deket kayak Bandung juga boleh lah. Atau kalau bukan traveling, ya setidaknya jangan tiap weekend hanya makan-tidur di rumah saja! Beneran deh, terlalu banyak lazy weekends hanya bikin hidup jadi membosankan! Makanya sekarang, secapek-capeknya, weekend gue tidak boleh lagi hanya di rumah saja!
  3. No drama queen, please! Salah satu hal yang bikin mood gue jadi jelek adalah orang-orang yang suka mendramatisir keadaan. Trik gue: saat omongan mereka sudah mulai terdengar tidak masuk akal, ya sudahlah, ditinggalkan saja! It really makes my life feel easier;
  4. Be friends only with the ones who want me back. Ini benar lho, bertepuk sebelah tangan itu bukan cuma terjadi di urusan cinta-cintaan aja. Buat apa lah sibuk ngejar-ngejar teman yang susah banget diajak hang out kalau masih ada (dan pasti ada!) teman lain yang hanya one text away;
  5. Terima kenyataan bahwa semakin tinggi pohon, semakin kencang juga anginnya. Sekarang, gue sudah lebih masa bodo dalam menghadapi para pembenci itu. Gue mau sebaik apa pun juga, kalau memang pada dasarnya pendengki ya akan tetap jadi pendengki saja. Nggak perlu balas jahat sama mereka, tapi enggak usah juga capek-capek baik-baikin mereka semua! Lebih baik gue fokus berbuat baik pada orang-orang yang juga baik sama gue kaan, hehehe;
  6. Know when I’ve got to move on. Kalau gue sudah berusaha menunjukan perasaan gue, sudah jelas-jelas mengistimewakan dia, tapi dia masih diam saja, ya sudah, anggap saja gue cuma bertepuk sebelah tangan! Masa’ iya toh, gue mesti sampe nembak duluan? Toh gue percaya, cowok yang benar-benar sayang sama gue tidak akan membiarkan gue lewat begitu saja 😉
  7. Meet some new people. Ini dia yang bikin hidup gue 2 minggu belakangan ini terasa sangat menyenangkan: kenalan dengan orang-orang baru! Waktu di Hangzhou minggu lalu, sampai ada teman baru yang ngajak gue makan malam lanjut jalan-jalan di sekitar The West Lake. It was really a night to remember!
  8. Be very very good at my job. Kalau kata bos-bos gue, gue ini tipikal consistent performer (cie ciee). Mau gimanapun keadaannya, performance gue selalu saja di atas rata-rata. Ikhlas nggak ikhlas, senang nggak senang, capek nggak capek, kualitas kerja tetap di atas segala-galanya. I’ve just got some kind of special reward from my company this week and it has really been the highlight of the year!
  9. Belajar memaafkan. Tidak ada manusia yang sempurna, gue juga tidak sempurna, jadi jika gue ingin dimaafkan, gue juga harus belajar memaafkan! Dan kadang kala, tidak ada salahnya lho, memberikan kesempatan ke dua. Dicoba dulu saja!
  10. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas! Sekeras apapun gue berusaha, gue tetap tidak akan selalu mendapatkan segala yang gue inginkan. Dan setulus apapun gue mencintai, belum tentu gue pasti akan balas dicintai sama besarnya. Selama gue sudah berusaha semaksimal yang gue bisa, apapun hasilnya, gue ikhlas. 🙂

Sepuluh hal di atas terdengar sangat-sangat sederhana? Memang! Karena kadang kala, jika hal-hal besar sudah tidak lagi membuat kita merasa bahagia, bisa jadi, justru hal-hal kecil yang terlewati yang bisa mengembalikan kebahagiaan kita itu!

Always try to find a way to be happy, and that’s only because this life is too short to be miserable! Have a blast with your life!

I’m Indonesian, and I’m Proud of It

Akhir-akhir ini, gue cukup sering mendengar pertanyaan-pertanyaan berikut ini dari orang-orang asing yang baru saja mengenal gue.

“Are you Indonesian (or you just happen to work in Indonesia)?”

“So you were born and raised in Indonesia?”

“Did you ever go to school abroad?”

Jawaban dari semua pertanyaan itu sudah tentu iya, iya, dan tidak. Seolah sulit dipercaya buat mereka bahwa gue betulan orang Indonesia asli yang tidak pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Kata mereka, gue tidak seperti orang Indonesia pada umumnya. Bangga, sudah tentu, tapi di sisi lain, gue cukup merasa tersentil juga. Bukankah itu tandanya, kita; warga negara Indonesia, masih punya banyak PR dalam membangun bangsa ini?

Kita masih perlu belajar untuk menjadi bangsa yang berani mengambil keputusan. Berani mengutarakan pendapat serta benar-benar berani mewujudkan pendapat tersebut dalam bentuk perbuatan yang nyata (alias jangan cuma omdo). Berani berambisi dan berani mengambil resiko untuk mewujudkannya. Termasuk di dalamnya, berani meninggalkan zona nyaman untuk menantang diri kita sendiri!

Kita juga masih perlu belajar untuk menjadi bangsa yang mempunyai kepercayaan dan kebanggan diri. Bangga atas budaya sendiri, bangga untuk mengatakan tidak pada budaya yang tidak sejalan dengan hati nurani, serta punya keyakinan diri bahwa kita; bangsa Indonesia, tidak kalah dengan bangsa-bangsa lainnya! Jika mereka (baca: orang-orang bule itu) bisa melakukan sesuatu yang hebat, maka kita juga bisa jadi sama hebatnya! We can even be much better than them!

Yang terakhir, kita masih perlu banyak mempercerdas diri kita sendiri. Jangan malas untuk mempelajari ilmu baru, mempertajam ketrampilan, memperluas wawasan, dan tidak ada salahnya untuk mencoba melihat satu permasalahan dari berbagai sudut perspektif. Do the extra miles, serta jangan terlalu cepat merasa puas!

Kita harus berhenti menyalahkan pemerintahan Indonesia sehingga kita hanya bisa jadi begini-begini saja. Harus berhenti menyalahkan buruknya sistem pendidikan di Indonesia sehingga kita tidak sepintar bangsa-bangsa lainnya. Harus berhenti merasa malu bahwa kita hanya seorang warga negara Indonesia. Meski terdengar klise, tapi kenyataannya memang benar bahwa jika kita masih menyimpan pikiran seperti itu dalam benak kita, maka seseungguhnya, diri kita ini belum merdeka.

 I’m Indonesian, I was born, raised, and studied in Indonesia, and I’m proud of it.

Terlepas dari segala keterbatasannya, Indonesia adalah tempat gue mengejar mimpi (credit to OLX for this tag line!). Indonesia adalah tempat gue dipertemukan dengan orang-orang yang kemudian mengukir sejarah dalam hidup gue. Indonesia adalah tempat gue belajar mencintai dan dicintai. Indonesia adalah bagian dari diri gue, hidup gue, dan masa depan gue.

Selamat ulang tahun yang ke 71, Indonesia! Let’s do better, and let’s start from ourselves.

I’m Beyond Blessed!

Setelah menghabiskan 6 malam di kota Hangzhou (I’ll write more about that later), akhirnya gue kesampaian menginjakan kaki di kota Guilin, China. Rencananya, besok gue akan mengunjungi Li river yang terkenal indah itu!

Sesampainya di Guilin, seperti biasa, gue langsung norak foto-foto ruangan kamar gue. Gue udah bayar sedikit lebih mahal buat dapetin kamar dengan balcony dan juga kamar mandi menghadap ke sungai, rugi banget kalo enggak didokumentasikan. Sesuai prinsip auditor pada umumnya; not documented not done, hehehehe.

Selesai foto-foto, gue langsung retouch dan naik ke sky garden buat early dinner. Udah hampir jam 6 sore tapi gue baru sempat makan besar! Tadi pagi gue sibuk hunting foto di Hangzhou, lanjut meeting sebentar di kantor Alibaba (plus sempat-sempatnya belanja oleh-oleh di office complex-nya Alibaba), lalu setelah itu terjebak macet 2 jam di perjalanan menuju airport. Untunglah pesawat gue delay, jadi sempat makan cheesecake dulu di restaurant kecil di dalam bandara.

Begitu naik ke sky garden hotel gue di Guilin ini, gue langsung terpukau! View-nya malah lebih bagus daripada teras kamar gue itu. Sungainya, pepohonannya, ditambah suara jangkriknya!

Setelah puas ambil banyak foto pemandangan, gue pesan makan. Ini agak tricky secara sangat susah cari makanan halal di Cina ini, jadi sudahlah, gue pesan cream soup dan garlic bread saja. Sambil menunggu, gue sempat-sempatnya minta tolong mbak penjaga restoran buat ambilin foto gue! 😀 Dan si mbak ini niat banget lho bantuin fotonya. Dia foto gue dari berbagai angle yang dia anggap bagus. I like it!

Saat makanan datang, tentu makanannya gue foto dulu. Setelah itu langsung gue makan, dan nggak disangka-sangka, rasa supnya enak banget! Garlic bread-nya juga gurih dan terasa pas menyatu dengan cream soup-nya. Sambil makan, pandangan mata gue tidak bisa lepas dari pemandangan di depan sana. Hembusan angin, suara alam sekitar, dan rakit bambu yang melintas di sungai di bawah sana membuat acara makan malam gue jadi terasa sangat berbeda. Saat itulah, dalam hati gue berpikiran, “I am beyond blessed! This is exactly the life I’ve been dreaming of.”

7I’ve been spending a lovely week this week. Mengunjungi tempat baru, ketemu orang-orang baru, tinggal di dua hotel yang sangat fotogenik! Memang capek karena jadwal kerja di sini padat banget, tapi toh, gue masih sempat menghabiskan akhir pekan untuk acara jalan-jalan. What can be better than such a job like this? 😉

Emang sih, hidup gue ini banyak banget rintangannya. Tanggung jawab besar, tekanan besar, stres dan deadline yang tidak pernah ada habisnya… Belum lagi permasalahan pribadi yang terkadang membuat gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Did I do something wrong?” Memang tidak mudah menjalani keseharian gue, tapi, rasanya betul-betul menyenangkan! Ibaratnya prinsip investasi, higher risk, higher return, hehehehe 😉

Di saat hati gue sedang terasa luar biasa damainya, eeh, tiba-tiba di depan gue ada orang asyik pacaran! Si cowok sibuk mengambil gambar pasangannya, pakai kamera SLR, dan si cewek sibuk berpose secantik-cantiknya. Mereka kelihatan serasi, dan gue betulan ngerasa iri! Duh duh duh, manusia emang nggak pernah ada puasnya :p Sambil senyum-senyum sendiri melihat sepasang muda-mudi itu, dalam diam gue berbisik sama diri gue sendiri, “Someday, I’ll have my turn too.”

Sometimes, all that you really need is simply a break. Away from your own everyday life. Meet the strangers, get lost in some new places, have some times alone just to figure out the next big thing in life. When you finally find your peace in your getaway, you’ll eventually realize how grateful you are with the life you’ve been living in. At least, that’s exactly what I feel right in this moment.

Thank God for this decent life! Again, I’m beyond blessed! 🙂

This Too Will Pass

One month ago, all of sudden, my life turned upside down. I started to see that I had lost the battle I had been fighting for a while. I thought things would get better anytime soon, but apparently, the past one week was even worse!

In the past one month, I looked at the mirror and I really hated the reflection I saw. I hated the way I looked with all that grief on my face. I lost that sparkle in my eyes, and that genuine smile right on my lips. I lost my hopes; I lost a good reason to wake up and jump off my bed early in the morning. I lost my belief that someday I’d finally get there.

After long months wasted on putting my hopes way too high, I suddenly realized that some things just never meant to be. I woke up from my long sleep and I told myself, “I’ve tried my very best and things doesn’t seem to change. I should love myself and walk away! Enough is enough, and I deserve so much better than this.”

So there I was a lot more determined than I ever did, I pushed myself so hard to let it go. I faked a lot of smiles but deep inside, I felt defeated, unwanted, disappointed and all horrible feelings that could happen to you when your heart was broken. I felt empty and I still couldn’t believe how I’d been wrong about all this. I was freaking tired and I really really wanted to run away.

And there I came to yesterday; another Friday in my life. I actually had some exciting stuffs to look forward to, but somehow, I was hardly excited about anything. I was consumed by my problems and all that I could think of was just wondering what I did so wrong back in the past. I kept feeling sorry for myself, until yesterday night.

I had a lovely night with my colleagues yesterday. Started with a dinner served at the office and had a good laugh, we went to a movie followed by another dinner and another good laugh. And then today, I went to a broadway show with an old friend of mine and ended the night with a sleepover with my sister and her son. My nephew came to pick me up in a restaurant, he smiled and he hugged my waist. And just like that, I knew that I would be just fine. I realized that apart from this heartbreak, I do have a lot of lovely days and nights in my entire life.

I have my families who are always there to support my back. A nephew who never ceases to amaze me. Best friends who never get bored to listen to my similar problems over and over again. Colleagues who end up as a couple of good friends. And on top of all that, I’ve turned myself to a grown-up that I always dreamed of.

I’m living my own dream and I always have those people who accept me just the way I am. How can I ask for more?

It’s true that I didn’t get the one that I really wanted, but I believe, that’s only because it was not the one that I really need. And it’s also true that I’d never get there, but someday, I’ll get somewhere else that I belong. It might take some times, but my wound would heal and I would eventually find my happy ending.

Enough about this problem and now I really look forward to my upcoming China trip! I’m going to visit Alibaba office in Hangzhou and then I’m flying to Guilin over the next weekend! I also met someone from Alipay China who offered to take me to West Lake sometime next week! Another exciting week is about to come! I’ll try to make the most of my trip and I hope, I’ll get over my problem anytime soon!

See? It’s not that bad! I only need to believe that this too, will pass.

Wish you too a wonderful weekend!

My Favorite “What If”

I know that I often said that we should live this life with no regret, we should be grateful for all we have in life, we should be happy for who we are, and bla bla bla. But did you know? Me too, sometimes have some kind of “what if” questions deep in my mind. There’s always some times my mind wandering and wondering how my life would be if I were not who I really am.

What if I chose to work just like many other people who can always leave on time?

What if I just wrote books and blogs and poems for a living?

What if I didn’t say no to – too – many guys back in my past?

What if I didn’t overthink so many things in my whole life?

What if I was not too hard on myself?

What if I stopped being such a perfectionist?

What if I just went on with the flow and followed whatever seemed easy to me?

If I did all that, would my life become any less happier? Would I become any less wiser? Would I become any less better than who I am?

Somehow I know, the answer to all that questions is definitely a yes. I will be a lot less than who I am without all those struggles. I know that the more battles I fight, the more battles I’ll win. But well, I’m only a human anyway. Is it ungrateful if I say that sometimes me too want to have a break from my own life? Is it childish if I say that I want to set myself free for a while? Is it stupid if I say that I want to rest my brain from all the troubles and my heart from all the pains just for a little time?

Seriously, I forget when was the last time I managed to be ignorance, careless, and simply said, “That’s not my problem anyway.”

I forget when was the last time my heart just jumped from one crush to another.

I forget when was the last time my life felt easy, less drama, less chaos, and less stuffs to think about.

I simply really forget how a simple life felt like.

I’ve been spending a couple of weeks asking myself, “If I could turn back the time, would I ever choose to live my life any differently?” This question has really been my favorite what if question recently. I know that the answer is simply a big no, but seriously, I’m really thinking that maybe, it would be good for me to stop being me for a while.

I need a break, a time off, an escape, just for a little while.

Life is Too Short to…

Lately I realized that I’ve been using this phrase in this blog way too much. But well, I just think it’s so true that I can’t help myself from using it 😉 So here I am rewriting everything using this phrase!

  1. Life is too short to be a hater. Hatred will consume YOU, not your enemy. Just get rid of it!
  2. Life is too short to be spent with all the things you hate. Do more of the things that you really love! Be very good at it and feel the joy! What if you don’t even know what you would love to do? Try to do the new things in your life! You will never know until you try!
  3. Life is also too short to be spent with the job that you hate. Fight yourself to leave your comfort zone and find your dream job! Believe that your dream job is out there waiting for you to get there;
  4. Life is too short if you only want to be like someone else in your very own life. Everyone has their own forte, hence if it looks good on them, it doesn’t mean that it would look good on you too. Just learn how to bring out the very best in yourself and start shining on your own way;
  5. Life is too short to be cynical. It won’t make you any happier than you were yesterday, so why should you do it in the first place?
  6. Life is too short to be spent alone. We should be able to be happy with BOTH of being alone and being with the beloved ones. At the end of the day, spending the whole years just by yourself will eventually kill you inside;
  7. Life is too short to be spent with the wrong ones. You will always be too little or too much for the ones who don’t really want you in their lives, and you will never ever be happy to spend your life with them. Move on and spend your life with the ones who embrace you for who you really are!
  8. Life is too short to be wasted in useless wars. Pick your battle and save your energy! Not all arguments are worth fighting for;
  9. Life is too short to be spent in regrets. It’s okay if you want to look back once in awhile and learn from your past mistakes, but that’s it! Do not miss your future just because your can’t seem to move on from your past. Give yourself a chance for a happy ending;
  10. Life is too short to be lazy, and being lazy is boring! Push yourself to do the extra miles. All the best things in life doesn’t come easy! Put more efforts and make your dreams come true!
  11. Life is too short to be a coward. Courages will take you to the places you’ve never seen before. Try to do the unimaginable! If someone else can do it, and so can you!
  12. Life is too short to always surrender. Sometimes, the universe only wants you to fight harder! In anything in life, tell yourself to always give your very best fight before you give it up;
  13. Finally, this is the most important one: life is too short to be unhappy. Life can be so tough, but be happy anyway. Happiness is a work, so work on it! It’s totally your choice to be consumed by the agony or to learn how to dance in the stormy rain.

Life is Too Short to Be Too Cynical

Cukup sering gue menemukan, orang-orang di social media berubah menjadi lebih sinis saat berbagi cerita di dunia maya. Ada saja sindiran yang disampaikan lewat status, gambar, atau meme yang kelihatan seperti melucu padahal sebetulnya hanya sedang menyindir dengan pedasnya. Hal-hal sepele, perbedaan yang tidak perlu diributkan, tapi sangat berpotensi untuk membuat pembacanya jadi sakit hati. Mungkin yang ingin disentil hanya satu atau dua orang tertentu, tapi akibatnya, semua pembaca yang memiliki kemiripan latar belakang dengan objek yang disndir akhirnya malah jadi ikut merasa sakit hati.

Mau contoh?

Misalnya, status-status yang ribut membandingkan ibu yang bekerja versus ibu yang menetap di rumah. Padahal kenyataannya, belum tentu kategori yang satu pasti lebih baik dari kategori yang lainnya. Belum tentu anak dari wanita karier akan lebih menderita dan lebih tidak terurus daripada anak dari ibu yang penuh waktu tinggal di rumah, begitu pula sebaliknya. Padahal, perbedaan pilihan itu tidak merugikan orang lain di keluarga lain, jadi kenapa mesti repot-repot disindir?

Begitu pula soal kerja kantoran versus bisnis sendiri. Sebagai si pekerja kantoran, gue tetap sangat senang saat browsing di online shop yang dimiliki teman-teman dan keluarga gue. Rasanya terharu melihat mereka bisa mewujudkan impiannya itu. Gue tidak pernah menilai bisnis kecil-kecilan orang lain itu lebih rendah daripada karier gue sendiri, tapi gue juga tidak merasa pilihan karier gue ini lebih rendah hanya karena gue masih bekerja untuk orang lain. Pekerjaan gue halal dan sudah sangat membahagiakan gue, dan buat gue, itu saja sudah lebih dari sekedar cukup.

Selanjutnya soal barang-barang bermerk. Memang benar, lebih baik tas seharga 5 dolar dengan isi 500 dolar daripada tas seharga 500 dolar dengan isi hanya 5 dolar, tapi kalau buat gue, lebih baik lagi tas seharga 500 dolar dengan isi lebih dari 500 dolar, hehehehe. Orang lain mau beli tas seharga milyaran rupiah pun bukan urusan gue, begitu pula sebaliknya; barang-barang yang gue beli pakai uang gue sendiri itu sama sekali bukan urusan orang lain. Gue tidak akan berhenti membeli barang yang gue suka hanya karena terus disindir oleh orang lain yang melihatnya 😉

Kemudian soal hobi traveling. Katanya, lebih baik Umrah dulu. Lalu naik Haji dulu. Memang ada benarnya, tapiii, setiap orang kan punya pertimbangan masing-masing. Punya keinginan naik haji dengan suami atau istri misalnya. Apapun itu, sebetulnya gue tidak punya kewajiban untuk repot-repot menjelaskan kepada orang lain, hanya saja sayangnya, orang lain masih banyak yang merasa punya hak untuk mendapatkan jawaban.

Sinisme yang sama sering pula terjadi untuk hal-hal yang sifatnya luar biasa sepele. Misalnya, game Pokemon Go. Gue tidak ikutan main, tapi gue senang-senang saja melihat koleksi Pokemon teman-teman gue, atau menyimak cerita petualangan mereka saat mencari Pokemon. Anak-anak di kantor mau main game ini pun tidak masalah, asal tidak mereka mainkan di jam kerja serta tidak mengurangi kualitas pekerjaan mereka.

Kalau mau diteruskan, daftar gue ini tidak akan pernah ada habisnya! Padahal kalau menurut gue, biarkan saja orang lain berbahagia dengan pilihannya sendiri. Ikut-ikutan trend bukan berarti tidak punya pendirian. Jika kebetulan mereka memang benar menyukai hal-hal yang tengah digandrungi oleh banyak orang lainnya, ya mengapa tidak? Selama tidak merugikan siapa-siapa, maka kegemaran mereka bukan pula urusan siapa-siapa.

Jangan bersikap sinis hanya karena orang lain memiliki caranya tersendiri untuk membahagiakan dirinya sendiri. Dan tahu tidak? Sebetulnya, orang yang sudah bahagia dengan hidupnya tidak akan mau repot-repot berusaha mengurangi kebahagiaan orang lainnya.

I’m a believer that life is too short to be too cynical. It’s okay to be critical, but give yourself some limit! When you’re wasting too much energy on hating what people are doing, then it’s actually your very own loss, not theirs! Just move on and be happy with your own choices. 

Have a blast and happy Monday!

Stop Taking People for Granted!

Seringkali, gue merasa sedih saat melihat realita di depan mata. Kita – termasuk diri gue sendiri – seringkali taking others for granted. Memperlakukan mereka secara semena-mena, tidak menghargai mereka sebagaimana mestinya, dan ironisnya, seringkali kita melakukan hal tersebut justru kepada orang-orang terdekat kita. Kepada orang-orang yang tulus menyayangi dan selalu ada buat kita.

Contohnya anggota keluarga. Kita paling sering berkata seenaknya kepada mereka. Meluapkan apa saja yang ada di dalam perasaan. Kita bisa bersikap lebih sopan kepada orang asing ketimbang anggota keluarga kita sendiri. Kenapa demikian? Karena kita tahu, keluarga akan tetap jadi keluarga. Mereka akan selalu menerima kita dengan segala keburukan dalam diri kita ini. Kita malah dengan enteng berpikiran, “Toh mereka sudah terbiasa dengan kelakuan gue!”

Tanpa kita sadari, hal yang sama juga kita lakukan dalam lingkungan pergaulan. Kita lebih mementingkan teman-teman yang kelihatan lebih keren. Lebih asyik. Lebih kaya raya. Dan lain sebagainya. Teman-teman yang selalu ada dalam suka dan duka justru jadi prioritas selanjutnya. Teman-teman yang menyediakan bahunya untuk tangisan kita justru teman-teman yang kita lupakan saat kita tertawa bahagia.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam dunia kerja. Menggaji karyawan seenaknya. Memperlakukan mereka bukan berdasarkan kontribusi, tapi malah berdasarkan rasa suka tidak suka yang sifatnya sangat subjektif. Mengkambinghitamkan tim yang tidak bersalah hanya demi keuntungan pribadi. Dan masih banyak lagi hal-hal buruk lainnya.

Kemudian yang terakhir, dalam hal percintaan. Terkadang, kita merasa bisa memperlakukan mereka sesuka suasana hati karena kita tahu mereka tidak akan ke mana-mana. Kita merasa boleh datang dan pergi sesuka hati karena toh mereka akan selalu bersedia menerima kita kembali. Kita seolah lupa bahwa jika kita tidak bisa balas mencintai, maka dilepaskan saja. Biarkan mereka mendapatkan orang lain yang bisa mencintai mereka sama besarnya.

Cintailah orang lain sebagaimana mestinya.

Jangan biarkan anggota keluarga kita menyayangi kita hanya karena terpaksa; hanya karena mereka tidak punya pilihan lain selain menerima kita sebagai bagian dari keluarga.

Jangan pula biarkan teman-teman terbaik kita perlahan pergi dari hidup kita ini. Memangnya kita pikir kita ini siapa? Lama-lama mereka juga akan gerah jika kita hanya datang saat ada maunya.

Kita juga harus belajar berlaku adil kepada rekan kerja. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawabnya. Jangan hanya mau terima gajinya saja!

Yang terakhir, hargailah orang lain yang mencintai kita dengan setulus hatinya. Jika ingin menolak, lakukan dengan penuh perasaan. Jangan malah jadi congkak! Dan bagaimanapun, menolak tetap jauh lebih baik daripada menggantung tanpa ada keputusan.

Kenapa di awal gue bilang gue merasa sedih melihat realita ini? Karena sebetulnya, memperlakukan orang lain secara semena-mena justru menjauhkan diri kita sendiri dari kebahagiaan. Kita menjauhkan diri dari orang yang paling mampu menerima kita apa adanya. Kita menjauhkan diri dari orang-orang yang kemungkinan besar, paling mampu membuat kita bahagia.

Stop taking people for granted, let’s start from the closest ones. Let’s start from saying sorry for all the pain that we put them through. Let’s start to treat them right! And always remember, what comes around goes around.

Have a lovely week ahead!