We’re not the God, Don’t Judge Too Much

Belum lama ini, gue curi-curi dengar obrolan beberapa orang di meja makan sebelah di salah satu restoran di Kota Kasablanka. Salah satu cewek di kelompok itu bilang begini, “Rumah dia kemalingan pasti karena kurang banyak sedekahnya!”

Gue cukup kaget mendengarnya. Orang kena musibah kok, bukannya bersimpati malah dituduh yang bukan-bukan? Lagipula, dia itu kan bukan Tuhan, maka dari mana dia bisa tahu segala-galanya tentang amal-ibadah temannya itu?

Percakapan mereka mengingatkan gue dengan salah satu teman lama. Saat orang lain tertimpa musibah, dia akan langsung bilang, “Itu karmanya dia karena bla bla bla.” Tapi saat gantian dia sendiri yang sedang punya masalah, dengan entengnya dia cuma bilang, “Kesabaran gue sedang diuji sama Tuhan.”

Memang benar ujian itu ada banyak ‘penyebabnya’. Bisa jadi teguran dari Tuhan, ujian atas kesabaran, dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, bagaimanapun, hanya Tuhan yang Maha Mengetahui, bukan manusia!

Saat kita terkena musibah, entah itu hilangnya harta benda, kehilangan pekerjaan, penyakit, kecelakaan, dan lain sebagainya, tidak ada salahnya kita instropeksi diri. Teguran atas kelalaian kita kah? Balasan karena pernah menyakiti perasaan orang lain kah? Atau memang bisa jadi hanya sekedar ujian kehidupan saja. Toh pada akhirnya, enggak pernah ada manusia yang hidupnya selalu lancar-lancar saja!

Akan tetapi, jika musibah tersebut jatuh menimpa orang yang kita kenal, lebih baik kita bersimpati daripada berkomentar yang hanya akan memperkeruh suasana. Tidak perlu menyebarkan opini yang belum tentu kebenerannya (ini jatuhnya bisa jadi fitnah lho). Tidak usah sibuk menduga-duga karena kita tidak tahu segala-galanya. Jika kita tidak bisa menghibur atau membantu mengurangi beban mereka, maka, sekedar diam saja sudah lebih dari cukup.

Don’t play God. Don’t judge too much. 

Kenapa Kita Harus Belajar Memaafkan?

Waktu jaman sekolah dulu, gue pernah sebal banget dengan teori bahwa jika kita tidak mau memaafkan, maka dosa orang yang kita benci itu akan berpindah kepada kita. Pikir gue, tidak adil dan tidak masuk akal! Bagaimana jika memang orang yang bersangkutan yang berbuat salah dan menyakiti perasaan kita?

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit, gue mulai belajar untuk memaafkan orang lain. Bukan soal dosa atau tidak dosa, tapi lebih karena kesadaran atas alasan kenapa gue harus bisa memaafkan kesalahan orang lain. Apa saja alasannya?

  1. Karena bisa jadi, orang lain menyakiti gue karena gue sendiri yang pernah terlebih dulu menyakiti perasaan mereka;
  2. Karena tidak ada manusia yang sempurna, termasuk diri gue sendiri. Jika gue ingin dimaafkan atas segala kesalahan gue, maka gue juga harus bersedia memaafkan orang lain atas segala kesalahan mereka;
  3. Karena tidak seharusnya gue membiarkan keburukan seseorang membuat gue melupakan kebaik-kebaikan mereka sebelumnya;
  4. Gue hanya akan menghabiskan masa tua seorang diri jika gue tidak mau memaafkan orang lain di sekitar gue. Apalagi kenyataannya, semakin dekat seseorang, semakin besar kemungkinan mereka menyakiti perasaan kita;
  5. Memaki-maki orang yang gue benci (terutama jika dilakukan di depan umum, termasuk social media) hanya akan membuat gue sendiri yang terlihat menyebalkan di mata orang lain;
  6. Saat gue belajar memaafkan orang lain, gue belajar memaafkan diri gue sendiri; dan
  7. Yang paling penting, membenci dan menyimpan amarah hanya akan melukai perasaan gue sendiri. Bukan melukai orang yang gue benci, tapi melukai diri gue sendiri.

Bagaimana jika konflik yang menimpa kita itu murni kesalahan orang yang bersangkutan? Kebohongan mereka, fitnah mereka, dan lain sebagainya… Buat gue tetap sama saja; maafkan segera setelah kita berhenti ‘berduka’ (malah sebetulnya, semakin cepat, semakin baik!).

Setiap orang bertumbuh dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang masih labil dan mencari jati diri. Ada yang masih belum makan banyak asam garam yang dapat mendewasakan kepribadian mereka. Dan ada pula yang hanya khilaf yang karena sedang tertekan dengan banyak masalah dalam hidup mereka sendiri. Gue sendiri pernah banyak menyakiti perasaan orang lain dalam proses pembelajaran itu, dan sekali lagi, jika gue ingin dimaklumi dan dimaafkan, maka gue juga harus bisa memaklumi dan melupakan. Dan bisa jadi, dengan kita memaafkan bisa membantu mereka untuk belajar dari kesalahan mereka, atau bahkan, membantu mereka untuk ikut belajar memaafkan.

Belajar memaafkan itu rasa-rasanya salah satu “proyek seumur hidup” buat diri gue sendiri. Awalnya, gue mulai dari belajar untuk tidak terlalu membenci orang lain. Dulunya, gue bisa benci sama orang lain sampai sekedar mendengar suaranya saja gue sudah sebal! Kemudian sekarang, gue belajar untuk tidak melulu lari dari kenyataan. Tidak menegur orang yang gue benci (padahal jelas-jelas saling berpapasan!) itu sudah benar-benar terlalu “ABG” untuk perempuan seusia gue. Kenyataannya, menghindari orang-orang yang menyakiti gue tidak membuat gue “sembuh” dari luka hati itu. Memaafkan (atau setidaknya mencoba untuk memaafkan) adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan sakit hati gue sendiri.

Memang benar ada beberapa luka yang terlalu dalam sehingga segalanya mungkin tidak akan pernah lagi kembali sama. Memang benar ada beberapa luka yang butuh waktu lama untuk kita bisa melupakannya. Tapi setidaknya, belajar untuk mencoba memaafkan selalu bisa jadi obat ampuh untuk menyembuhkan. Membantu mengembalikan fokus kita kepada hidup kita sendiri ketimbang sedikit-sedikit sibuk mengamati hidup orang lain yang kita benci… Semakin cepat kita memaafkan, semakin hidup kita kembali berbahagia.

When a deep injury is done to us, we’ll never heal until we forgive – Nelson Mandela.

Forgive, even if they don’t ask for forgiveness. You do it for you, for yourself, to set you free. 

Selalu Ada Kekurangan di Balik Setiap Kelebihan

Dari dulu sampe sekarang, gue tipe orang yang jarang iri dengan kelebihan orang lain. Entah itu soal fisik, sifat, atau materi. Bukan karena gue punya segalanya (siapa pula orang yang punya segalanya di dunia ini!), tapi murni karena sejak dulu gue menyadari bahwa tidak ada sesuatu apapun di dunia yang sempurna sepenuhnya.

Mau contohnya?

Berikut kekurangan di balik kelebihan yang gue tulis berdasarkan pengalaman pribadi. Gue mulai dari hal-hal remeh sampai hal-hal yang paling serius.

Contoh pertama, kelopak mata alami dan bulu mata panjang. Memang enaknya jadi tidak perlu ‘selotip mata’ atau bulu mata palsu, tapi tidak enaknya, kelopak mata agak besar bisa bikin mata gue lebih cepat terlihat besar sebelah. Biasanya saat gue sedang kecapekan atau kurang tidur, kelopak mata gue bisa berubah bentuk dengan sendirinya! Lalu bulu mata panjang bisa bikin maskara gue mudah menempel ke kulit sekitar mata (dan ini benar-benar bikin kesal jika gue sedang terburu-buru harus pergi!).

Sama halnya dengan kulit putih gue yang aslinya sangat mudah berubah menjadi lebih gelap ini. Dulunya, terpapar matahari dua jam saja, kulit gue bisa jadi belang hingga berbulan-bulan lamanya. Sekarang memang mulai konsisten terlihat putih, tapi efforts-nya itu lho! Mesti beli bukan hanya body lotion, tapi juga sabun mandi merk tertentu saja. Harus rajin scrubbing juga. Jadi mesti menghabiskan lebih banyak uang dan waktu hanya untuk menjaga warna kulit. Menyenangkan sih, tapi ya itu tadi, kulit lebih putih juga tidak datang dengan sendirinya!

Kemudian badan kurus-tinggi gue. Banyak yang bilang jadi mirip supermodel, terutama karena kaki jenjang gue, tapi sisi jeleknya, jadi susah banget cari pacar saking jangkungnya, hehehehe. Tapi yang gue rasa lebih mengganggu sudah tentu masalah kesehatan! Suka pusing, gampang capek, dan kalo sakit bisa agak lama sembuhnya. Bagusnya berat badan memang yang sedang-sedang saja!

Beralih ke soal pertemananan. Memang benar gue termasuk tipe orang yang punya cukup banyak sahabat yang sudah bertahan bertahun-tahun lamanya. Indah dan menyenangkan, sudah tentu, tapi di balik itu, banyak juga konflik dan luapan emosinya! Gue malah pernah sampe nangis-nangis gara-gara berantem sama sahabat gue, hehehehe. Memaafkan sahabat tidak selalu terasa mudah buat gue, begitu pula sebaliknya, tapi jika gue tidak melakukannya, maka tidak akan pernah ada sahabat yang masih tersisa di hari tua gue nanti!

Selanjutnya soal keleluasaan gue melakukan 2 hobi gue: belanja dan jalan-jalan. Tidak bohong, memang enak rasanya. Jadi bisa beli barang-barang yang lebih berkualitas. Sudah semakin banyak pula tempat-tempat impian yang sudah berhasil gue datangi. Apa tidak enaknya? Berurusan dengan orang lain yang suka iri berlebihan. Dari iri masalah materi saja bisa merembet sampai ke mana-mana. Sekali gue salah sedikit, fitnahnya langsung cepat menyebar bahkan sampai ke orang-orang yang tidak gue kenal. Kadang gue sampe berpikir, “Gimana rasanya hidup jadi cewek yang udah bisa beli tas Hermes ya?”

Yang terakhir, satu hal yang sebetulnya paling sulit gue dapatkan: prestasi karier gue. Di balik jabatan, tunjangan, dan pujian yang gue dapatkan, kenyataannya, ada jauh lebih banyak kerja keras dan jatuh-bangun yang gue hadapi. Kerja 10-14 jam dalam sehari, belum lagi jika ada business trip… Saat malam hari pulang ke hotel, gue harus kerja lagi mengurus hal-hal yang gue tinggalkan di Jakarta ini. Pernah saking padatnya, sepulang dari business trip, malam harinya gue menghadiri undangan dari klien dalam keadaan luar biasa capek sampai nyaris ketiduran di lokasi acara! Saat di luar jam kerja pun, ada kalanya gue masih kepikiran. “Gue sudah mengambil keputusan yang tepat atau belum ya?” Karena salah sedikit saja, reputasi kantor bisa jadi tercemar! Atau yang lebih bikin deg-degan, saat gue harus mengambil keputusan finansial yang ‘harganya’ mencapai belasan juta dollar! Dan tahu apa lagi yang paling melelahkan dari perjalanan karier gue? Berurusan dengan sesama rekan kerja lainnya di saat-saat sulit dan penuh cobaan. Orang lain tidak tahu saja seberapa sering gue harus memberanikan diri hanya untuk bicara dengan orang lain, termasuk kadang-kadang, atasan-atasan gue sendiri.

Lihat kan? Tidak semua hal yang tampak indah itu mudah didapatkan, atau mudah dipertahankan (malah sebetulnya, mempertahankan itu betulan lebih susah daripada mendapatkannya!). Bukannya gue ingin mengeluh, tapi intinya gue hanya ingin berbagi bahwa tidak ada gunanya iri-iri dengan orang lain. Pastilah ada ‘harga’ yang harus orang lain bayar untuk sesuatu yang tampak bersinar dalam diri mereka itu.

Tidak munafik, gue juga ingin punya pipi tirus dan dagu lancip. Ingin bentuk tubuh yang sedikit lebih berisi. Ingin bisa jadi orang yang lebih supel dan humoris. Ingin cepat-cepat menemukan Mr. Right gue dan hidup berumah tangga seperti teman-teman gue lainnya. Ingin pula bisa belanja di Milan tanpa perlu lihat-lihat label harga, hehehehe. Tapi ya itu tadi, gue tidak lantas jadi iri dengan orang-orang yang sudah memiliki semua itu. Gue lebih memilih untuk fokus dengan hidup gue sendiri, dan sesekali, menjadikan sesuatu yang belum gue miliki itu sebagai target hidup gue yang selanjutnya.

Yang terakhir, mau tahu apa lagi hasil pengamatan gue? Orang yang paling sering iri adalah orang-orang yang paling lambat memiliki perkembangan dalam perjalanan hidupnya. Jadi jika lain kali kita kembali merasa iri dengan sesuatu yang dimiliki orang lain, cukup diingat-ingat saja… selalu ada kekurangan di balik kelebihan setiap orang. Tidak perlu lantas dicari-cari kekurangannya, tapi cukup ikhlaskan dan kembali fokus pada hidup kita sendiri.

The less envy you are, the happier that you’ll become. 

The Truth Is, the True Relationship Doesn’t Always Look Pretty

Waktu kecil dulu, pernah ada teman sekelas yang bilang begini sama gue, “Kata Mama, aku nggak boleh bertemen terlalu deket sama orang lain.” Alasannya? Supaya tidak malah jadi sering ribut. Supaya tidak perlu sakit hati. Dan supaya hidup jadi lebih tentram.

Lalu ceritanya beberapa bulan belakangan ini, gue sedang berusaha untuk reconnecting dengan teman-teman lama gue. Ada beberapa di antaranya yang sempat putus kontak sampai bertahun-tahun lamanya. Hidup gue, dalam sekejap, menjadi lebih ramai daripada sebelumnya. Selalu ada saja kejadian-kejadian yang membuat gue merasa tersentuh. Hanya sekedar Whatsapp di pagi hari yang isinya, “Are you ok?” saja sudah cukup untuk membuat gue merasa tidak sendirian.

And did you know? That kind of warm and deep friendship was definitely not built in just an overnight!

Gue dan sahabat-sabahat gue ini sudah melewati begitu banyak hal. Kita pernah saling mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kita katakan. Melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Pernah saling berpikiran buruk tentang satu sama lainnya. Bahkan seperti yang tadi gue tulis sebelumnya, pernah juga sampai tidak saling berkomunikasi bertahun-tahun lamanya.

Ya, pertemanan itu, semakin dalam memang akan semakin sering ribut. Semakin dekat justru semakin berpotensi untuk bikin kita jadi sakit hati. Dan saat sedang sakit hati, hidup memang jadi terasa semakin jauh dari rasa damai. Tapi tetap saja, untuk diri gue sendiri, gue tidak lantas berkesimpulan bahwa berteman erat itu ‘haram’ hukumnya!

Bertahun-tahun yang lalu, gue pernah punya masalah ekonomi, dan tanpa gue minta, sahabat-sahabat gue datang menawarkan bantuan.

Pernah pula gue nyaris disidang skripsi oleh dosen yang terkenal membenci gue setengah mati, dan saat gue hanya berpasrah diri, malah si sahabat gue yang mengangkat issue ini ke kampus sehingga akhirnya, dosen penguji gue diganti dengan dosen penguji lainnya.

Kemudian ada lagi satu sahabat lainnya dan berkeras membela gue di depan orang-orang lain yang sedang berkumpul untuk membicarakan kejelekan gue. Dengan penuh keyakinan, dia bilang begini, “Riffa nggak kayak begitu orangnya.”

Belum lagi serangkaian kejadian kecil yang selalu berhasil bikin gue ngerasa terharu. Kejutan manis di hari ulang tahun gue. Oleh-oleh lucu yang beneran “gue banget”. Atau sekedar telinga yang tidak pernah bosan mendengar berbagai keluh-kesah dan curhatan gue.

Do you really think you can get all of those things from your just ordinary friends? 

Dari situ gue belajar… jika suatu pertemanan itu isinya hanya haha-hihi dan hal-hal manis lainnya, maka pertemanan itu masih belum seberapa dalamnya. Bukan tipe pertemanan yang akan bertahan selama-lamanya. Bukan pertemanan yang tetap erat mesti jarak dan kesibukan mulai memisahkan satu sama lainnya. Bukan pertemanan yang akan sekuat tenaga saling membantu saat hidup sedang sulit-sulitnya.

Sama halnya dengan hubungan-hubungan lain dalam hidup ini!

Saat masih kencan pertama, isinya tidak jauh dari flirting dan serangkaian pujian yang tidak ada habisnya. Saat mulai pacaran agak lama, mulai saling berani mengatakan isi hati yang sebenarnya, meskipun bisa jadi, hal itu bukan kejujuran yang enak didengar. Lalu saat sudah menikah, mulai tidak ada lagi rasa sungkan untuk menunjukan kepribadian yang sebenar-benarnya.

Kemudian dalam dunia kerja. Jika si bos hanya melulu soal pujian dan tidak sedikit pun ada kritikan, maka dijamin, kita hanya belum kerja cukup lama dan cukup dekat dengan bos kita ini. Semakin sering kerja bareng, sebagus-bagusnya hasil pekerjaan kita, ada kalanya bos akan mulai memberikan feedback. Feedback yang bisa kembali lagi kepada diri kita sendiri: mau kita anggap sebagai saran untuk perbaikan, atau kita anggap sebagai kritik yang penuh dengan kebencian?

Apa inti dari seluruh isi tulisan gue ini? Jika tidak berani sakit hati, maka kita tidak akan pernah memiliki hubungan yang berarti. Tidak akan ada persahabatan yang betul bertahan dalam suka dan duka. Tidak akan ada pernikahan yang bertahan hingga ajal memisahkan. Dan tidak akan ada pekerjaan yang bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Karena kenyataannya, tidak ada satupun hubungan di dunia ini yang akan selamanya terlihat indah.

Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mengikhlaskan. Belajar mempertahankan. Jika dua orang dalam satu hubungan itu saling berusaha untuk melakukan semua itu, maka, yang namanya “best friends forever” atau “love until death do us part” itu insyallah, bukan hanya sekedar mitos.

The People Who Believe in You

Going back to many years ago when I was still a teenager, I never thought that someday I would be very proud of my career path. I used to be very insecure, had a lot of doubts, pessimistic, and so many other negative thoughts that could only hold me back in the years to come.

Many years have passed me by, many things happened, and apparently, I’m no longer the girl that I used to be.

I know what I’m doing at work, I never give up, I never doubt my capabilities, and I’m a strong believer that I can survive anything that can possibly happen at work. It may not be easy, but at the end of the day, I’ll find a way to make it happen!

How could I change that much? Well, just one blog will never be enough to tell it all, but one thing for sure; one of the keys of my self-confidence was the people’s beliefs on me; on the things that I was capable of, on the future that they said I could have as mine.

Back in junior high school, I met a guy who told me how to dream. Who told me how smart I was. Who made believe that I could do a lot better in my life.

In the senior high school, I met a senior who endorsed me to lead the school body. He said he saw a leader quality in me. He did all the best he could just to make me win the election. I only won the third place, but that was the first time I learned how to lead a team.

In my final year in the college, a lecturer told that I could be anything I wanted. He believed that I could go far in my career.

And then when my career started, regardless where I worked, I always met all those bosses who tremendously believed in my capabilities.

The first boss who fought for my first promotion (even though I thought it was technically impossible).

Another boss who trusted me to manage a middle size team even when I was just 25 years old.

And many other bosses who trusted me with new responsibilities at work.

They saw the qualities that I failed to see it in me. They believed in me even when nobody else did, not even myself! They encouraged me, they told me I would be more than just fine, and at the end of the day, they were all right. They were always right.

I also have a lot people say all those horrible things to me. Who down talked me, laughed at my dreams, the ones who always tried to make me feel like I have failed myself. But I don’t care! I don’t believe in people who don’t believe in me. And somehow in fact, those mean people; they were just wrong.

So yes, I thank all the people who believe in me. Who told me frankly the good things in me that only made me want to do even better than before. They may not stay forever in my life, but they are certainly not the ones to forget for the rest of my life.

Thank them, the people who believe in you, anytime you have a chance. But did you know? No matter how much they believe in you, it will never make you any better person if you do not believe in yourself.

Have some faith! Because sometimes, you’re more capable that you realize.

My Current Life, in a Nutshell

Waktu jaman duluuu banget, gue pernah punya masalah bertubi-tubi yang akhirnya bikin gue jatuh sakit, sampe hampir dirawat di rumah sakit. Gue baru sembuh total setelah beberapa minggu lamanya, setelah tiga kali ganti-ganti dokter spesialis. Saat itu gue tahu, masalahnya bukan kecapekan, bukan kebanyakan lembur, tapi stres, tertekan, kekecewaan, sedih, patah hati, yang semuanya seolah melebur jadi satu. Waktu itu rasa-rasanya benar-benar titik terendah sepanjang hidup gue.

Daaan… tepat di saat gue berpikir tidak ada yang mungkin lebih buruk dari kejadian bertahun-tahun yang lalu itu, rentetan konflik yang baru kembali menimpa gue. Kali ini, saking tertekannya, gue sampe dateng ke tempat praktek psikolog klinis. Bukan berarti gue punya masalah kejiwaan lho yaa, hanya saja entah kenapa, saat itu gue ngerasa butuh sudut pandang orang asing yang bisa gue percaya dan bisa memberikan penilaian secara objektif. Kalau bukan psikolog, siapa lagi?

Bukannya beres sampai di situ, keadaan justru memburuk beberapa saat setelah kunjungan gue ke psikolog itu. Tapi justru di situ itu lah perfect timing menurut gue. Saat keadaan memburuk, saran si mbak psikolog itu sudah mulai gue terapkan, dan percaya tidak percaya, gue ngerasa bisa melewati ujian kali ini jauh lebih baik daripada kejadian bertahun-tahun yang lalu itu.

Berawal dari saran untuk kembali menghubungi sahabat-sahabat lama, untuk mengubah tabiat gue, untuk memberanikan diri mencari penyelesaian dari masalah gue, lama kelamaan, gue jadi ketagihan ingin mengubah cara hidup gue sendiri.

Gue mulai menyempatkan diri untuk kembali terhubung dengan sahabat-sahabat lama. Mulai kembali curhat sama mereka, mulai ketemuan, atau curi-curi waktu untuk makan siang bareng… Gue seperti kembali teringat alasan kenapa dulu gue bisa berteman sebegitu erat dengan mereka semua.

Gue yang tadinya hanya makan siang, makan malam, pergi nonton dan karoke dengan orang-orang yang itu-itu saja, mulai melebarkan sayap dengan ngobrol panjang lebar dengan lebih banyak orang. Gue berusaha lebih mengenal orang-orang yang sebelumnya hanya gue kenal sepintas saja. Wajah-wajah di socmed homepage gue jadi lebih bervariasi daripada sebelumnya!

Gue juga mulai menantang diri gue sendiri untuk bisa belajar sabar. Bukan berarti gue tidak akan pernah marah lagi, jika memang harus marah, ya gue tetap marah. Tapi setidaknya, gue lebih mengendalikan kata-kata yang gue ucapkan. Dan setidaknya, sekarang gue udah bisa marah-marah dengan suara sepelan-pelannya, hehehehe.

Lalu malam ini, untuk pertama kalinya, gue memberanikan datang ke wedding reception seorang diri! Biasanya, gue mesti banget janjian dengan minimal satu orang teman yang gue kenal dengan baik. Tapi hari ini, gue langsung datang dan sesampainya di sana, langsung cari-cari orang yang bisa gue ajak ngobrol-ngobrol. Awalnya sempat boring, tapi lama-lama, malah ada beberapa percakapan yang lumayan interesting. Tanpa terasa, dua jam di sana sudah terlewat dengan sendirinya.

Kembali ke tadi siang, setelah resepsi pernikahan pertama yang gue hadiri di hari ini, gue menyempatkan makan sore (iya, makan sore-sore, hehehehe) bareng sahabat dari kantor gue sebelumnya. Dia bilang, dia membelikan sesuatu yang menurut dia tuh bener-bener gue banget. Dia belikan barang-barang itu sebagai kado ultah gue yang jatuhnya masih sebulan lagi! Tahu apa isi kadonya? Buku berjudul The Alpha Girl’s Guide, dilengkapi dengan satu batang cokelat yang katanya bisa bikin enteng jodoh (dan nama produknya beneran Cokelat Enteng Jodoh!). Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue tertawa bahagia saat menerima pemberian orang lain. This gift is very thoughtful!

Hari ini, gue juga sempat ngobrol panjang lebar dengan sahabat baik gue di bangku kuliah dulu. Gue sempat mengenalkan sahabat kuliah dengan sahabat di kantor lama sambil makan-makan sore itu. Melihat mereka bisa akur dan saling bercanda satu sama lainnya, hati gue jadi tersentuh! Gue jadi menyadari betapa beruntungnya diri gue ini. Gue jadi sadar bahwa ternyata, seumur hidup gue, gue tidak pernah benar-benar sendiri.

Ternyata, gue memiliki hal-hal yang belum tentu dimiliki orang lain pada umumnya: sahabat dan keluarga yang tulus mengasihi, orang-orang luar biasa yang selalu bisa menerima gue dengan segala kekurangan dalam diri gue ini. Menghabiskan waktu bersama mereka membuat gue menyadadari bahwa seburuk apapun situasi gue saat ini, setidaknya, gue tidak pernah seorang diri.

Gue selalu punya orang-orang yang ikut marah saat gue sedih dan tersakiti.

Gue selalu punya orang-orang yang tidak putus menyemangati untuk gue bangkit lagi.

Gue selalu punya orang-orang yang menyempatkan waktu, bahkan di tengah malam sekalipun, untuk mendengar keluh kesah gue.

Gue selalu punya orang-orang yang betulan serius memutar otak bagaimana caranya untuk menghibur dan membuat gue kembali tertawa.

Gue selalu punya orang-orang yang menemani tiap langkah gue, dalam suka-duka, dalam titik terbaik dan juga titik terburuk sepanjang hidup gue.

Banyak orang yang bilang, karier gue adalah anugerah terbaik dalam hidup gue. Tanpa mengurangi rasa syukur gue untuk kemudahan karier gue, kali ini gue mau bilang… Kenyataannya, sahabat dan keluarga gue adalah anugerah terbesar dalam hidup gue ini. Tanpa mereka, gue pastilah bukan siapa-siapa.

Thanks for the love, the patience, the never ending support, and on top of all that, thanks for always being there for me. You guys are the best! And I just cannot ask for more.

Don’t Hurt Someone Too Much

Honestly, I used to think that it was okay to let out my rage as much as I want. I must have a good reason to be angry, and I know that deep down, I’m a good person. I am truthful and I never have any intention to harm anyone else. Nobody is perfect, and rage control just happens to be my imperfection. On top of that, being brave, honest, and outspoken has a price to pay and I simply think I can’t always please everyone at everytime. I truly believe that people who really love me will always forgive me and at the end of the day, they will always find a way back to me anyway.

I kept thinking that I had done the right thing until I saw my own thought from the opposite perspective. One thing led to another, I got hurt, and I couldn’t believe that it had just happened to myself. It broke my heart, it made me feel like I’m a total s*** as a person, and I couldn’t stop wondering what I did so wrong that made me deserve to be treated like that. The worst part is that the more I try to let it go and pretend that everything is okay, the more I put pressures on myself and the more I got hurt inside.

At that point, I realize… The truth is, there’s never a good reason to hurt somebody. There’s no good deed that we did that give us right to hurt people that deep. Having said that nobody is perfect, it doesn’t necessarily mean that we’ve got an excuse to break someone else’s heart. We can’t expect that we can go mad and people will always come back! It’s true that we have a right to say whatever we want to say, but the people whom we hurt, they have every right to refuse to take us back in their life.

Don’t take someone’s pain for granted, because sometimes, they just don’t know how to go back from their own pain. The wound may be healed, but they will never forget how we used to make them feel. Things may never be the same again, even if they try, even if they want to. Don’t hurt someone so much it’s unbearable, especially, when they actually deserve to be treated a lot better than that.

Supir Blue Bird Pagi Ini

Ceritanya hari ini, gue pesan taksi untuk berangkat ke apartemen gue untuk serah terima unit (akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, apartemen gue itu selesai juga!). Kebetulan pagi ini, gue diantar bapak supir taksi yang terlihat sangat dalam pemahaman agama Islam-nya. Ngobrol panjang lebar, si bapak supir bilang begini sama gue, “Saya salut… jarang ada orang kaya yang sifatnya santun kayak Mbak.”

Gue terdiam. Gue? Santun?

Well, pada dasarnya gue tipe orang yang menjunjung tinggi sopan santun. No bad languages, tidak pernah menghina orang lain dengan julukan-julukan yang merendahkan, tidak pernah marah-marah sampai banting barang dan sebagainya… Tapi… benarkah gue tipe orang yang santun dalam artian selalu bisa bersikap sopan, ramah, dan baik hati sepanjang waktu?

Jika lawan bicara gue menyenangkan, mood sedang bagus, tidak banyak tekanan, hidup sedang indah-indahnya… tentu mudah untuk bersikap santun. Tapi tunggu saat gue sedang ditempa banyak cobaan, stres dan tertekan karena pekerjaan, ditambah lagi jika dihadapi pada lawan bicara yang terasa menyebalkan! Masihkah bisa gue bersikap santun?

Baru-baru ini gue menyadari betapa benar bahwa kata-kata itu bisa lebih ‘tajam’ daripada pedang. Betapa emosi yang tidak terkendali benar-benar bisa melukai perasaan orang lain. Melukai dan bisa jadi, tidak akan pernah benar-benar bisa pulih sepenuhnya. Dan ironisnya, gue baru menyadari hal tersebut justru setelah gue mengalaminya sendiri. Saking sakit hatinya, gue malah bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Have I ever done the same thing to someone else?”

Sepanjang perjalanan, gue sangat-sangat menikmati percakapan gue dengan bapak supir ini. Percakapan yang seolah mengingatkan diri gue untuk terus berusaha menjadi a good person. Percakapan yang juga membuat gue berpikir keras, “Is there anything I can do to undo the pain I’ve put people through?”

Gue enggak bilang gue akan bisa berubah dalam sekejap mata. Usaha untuk bisa mengendalikan emosi itu udah seperti proyek abadi buat gue. Berkali-kali gue coba, berkali-kali gue gagal lagi dan lagi. Tetap ada saja salah-salah kata yang terucap dari mulut gue di saat gue sedang marah. Padahal sebetulnya, niat gue baik, hanya pemilihan kata dan intonasi yang banyak dipengaruhi oleh emosi gue itu.

Being a good person is not as easy as posting a good quote. It’s not as easy as writing this blog either. It takes quite an effort, and it may take us a lifetime to keep fighting for just being a good person. However somehow, just having the idea that I wanted to try harder already made me feel a lot better about myself. Suddenly, I knew, I just knew, I could still do better than I already did. 

Terkadang, Orang-orang Tertentu Hanya Tepat Untuk Waktunya Masing-masing Saja

Beberapa minggu yang lalu, ada kenalan yang berprofesi sebagai psikolog bilang begini sama gue, “Coba kamu datangi kembali orang-orang yang pernah kamu tinggalkan, lalu minta honest feedback. Untuk bisa survive di relationships selanjutnya, kita harus bisa belajar dari relationships sebelumnya.”

Berawal dari situ, ceritanya gue menghubungi kembali dua sahabat lama yang dulu rasa-rasanya sudah seperti saudara gue sendiri. Ngobrol panjang-lebar, saling update kabar kehidupan masing-masing, dan alhamdulillah, persahabatan yang sempat kandas itu mulai perlahan terjalin kembali.

Dari situ gue belajar bahwa gue tidak boleh terlalu mudah memutuskan hubungan baik hanya karena keadaan tidak lagi selalu menyenangkan, karena kenyataannya, memang tidak akan pernah ada relationships yang selalu menyenangkan sepanjang waktu. Kalau gue terbiasa walking away di saat situasi sedang sulit-sulitnya, maka lama kelamaan, tidak akan ada lagi orang yang tersisa dalam hidup gue ini.

Di saat yang nyaris bersamaan, ironisnya, hubungan gue dengan dua orang teman terbaik gue beberapa tahun belakangan ini justru mulai merenggang. Tidak sampai benar-benar putus kontak atau berhenti saling menyapa, tapi karena beberapa alasan, keadaan sudah tidak bisa kembali sama seperti sebelumnya. Semakin gue berusaha memperbaiki keadaan, justru semakin memperburuk keadaan di antara gue dengan mereka. Lalu entah kenapa, meskipun sebetulnya gue luar biasa sedih dengan keadaan ini, tetap saja berusaha kembali berbaikan seperti sedia kala rasa-rasanya malah seperti memaksakan keadaan. Gue justru merasa lebih lega dengan keadaan di mana gue bisa ‘terbebas’ dari mereka setidaknya untuk beberapa saat ini.

Apakah itu artinya gue kembali memutuskan untuk back-off? Bisa jadi. Hanya saja bedanya kali ini, gue sudah pernah berusaha untuk memperbaiki keadaan. Gue sudah coba mengutarakan isi hati gue dengan harapan friendships gue dengan mereka bisa kembali seperti sebelumnya. Gue sudah coba, tapi tidak berhasil. Haruskah gue berusaha lebih keras lagi? Rasanya percuma, karena bagaimanapun, keadaan tidak akan pernah membaik jika hanya gue saja yang berusaha untuk memperbaikinya.

Pada akhirnya gue sadar… tidak semua orang akan tepat untuk gue pada setiap waktu sampai dengan selama-lamanya… Bisa jadi, mereka hanya tepat pada waktu-waktu tertentu saja. Begitu pula sebaliknya, gue juga hanya tepat untuk mereka pada waktu-waktu tertentu saja.

Terkadang, kita perlu waktu untuk bisa menerima kekurangan orang lain. Atau bisa jadi, kita juga perlu waktu untuk menyadari kesalahan yang pernah kita perbuat. Itulah sebabnya, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti, kita akan menyadari bahwa kita sudah pernah memiliki yang terbaik saat di kemudian hari kita justru berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih buruk dari orang-orang yang pernah kita tinggalkan itu.

Lalu terkadang, ada pula orang yang perlu waktu hanya untuk bisa menerima kita dengan segala kelebihan dan pencapaian dalam hidup kita ini. Tidak semua orang memiliki kebesaran hati  untuk menerima hal tersebut, dan bagaimanapun, jika keberhasilan kita justru membuat mereka merasa tidak nyaman untuk menyaksikannya, maka tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka menerima kita dengan tangan terbuka.

Lantas bagaimana dengan teori jika gue masih saja membiarkan orang-orang pergi dari hidup gue, lama-lama gue hanya akan tersisa sendiri saja?

Well, memang di situ tantangannya! Yang penting, gue sudah berusaha, dan gue akan terus berusaha, sampai gue menemukan orang-orang yang juga bersedia untuk mempertahankan gue sepanjang hidup mereka.

Gue tidak akan selamanya 100% menyenangkan untuk mereka. Gue punya banyak sifat jelek. Gue punya keterbatasan. Gue punya naik-turun kehidupan yang mungkin membuat gue jadi terlihat sangat-sangat menyebalkan. Dengan demikian adanya, gue hanya perlu orang-orang yang tidak lantas pergi meski di saat-saat terburuk dalam hidup gue.

Begitu pula sebaliknya. Semakin gue mengenal seseorang, semakin banyak pula sisi jelek mereka yang akan gue temukan dengan mata kepala gue sendiri. Akan selalu ada saja hal-hal baru yang membuat gue merasa tersakiti. Jika sudah demikian, gue hanya perlu memilih… mana orang-orang yang sepenuhnya bukan ‘my person’, mana orang-orang yang sangat harus gue pertahankan, serta mana orang-orang yang mungkin, harus gue lepaskan untuk sesaat atau bisa jadi, harus gue ikhlaskan untuk selama-lamanya…

Menyadari fakta pahit bahwa tidak semua orang akan selalu ada untuk selamanya justru membantu gue untuk lebih menghargai hari-hari yang gue lewati. Hal-hal kecil saja, gue nikmati, gue syukuri, dan gue anggap sudah cukup untuk membuat gue merasa bahagia. Prinsip gue sekarang, “Love it when I have it, and let it go, if my very best is just never good enough for them.”

Are You the Hater?

Menurut pengamatan gue, haters itu terbagi menjadi dua jenis: haters yang selalu membenci siapapun yang memiliki kriteria tertentu (misalnya, agama atau suku tertentu, bentuk tubuh tertentu, profesi tertentu, atau haters yang benci dengan semua orang yang dianggap lebih good looking), dan jenis yang ke dua, haters yang cenderung membenci (tanpa alasan yang jelas) satu atau dua orang tertentu saja.

Dan tahukah kalian? Haters tidak selalu menyadari bahwa dirinya sudah menjelma jadi si pembenci. Cukup sering menjadi objek the haters membuat gue jadi mudah mengenali ciri-cirinya. Coba dibaca, dan tidak ada salahnya untuk mulai instropeksi!

  1. Haters selalu menganggap apapun yang dikatakan atau dilakukan oleh orang yang mereka benci sebagai suatu kesalahan. Tidak peduli seberapa benarnya, di mata mereka, orang tersebut akan selalu salah;
  2. Bahkan di saat orang tersebut mulai menyetujui pendapat yang dulu mereka berikan, haters akan tetap menganggap pendapat itu salah besar. Mereka seolah lupa bahwa dulunya, mereka sendiri yang berpendapat seperti itu;
  3. Haters cenderung tidak bisa berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Mereka cenderung anti mengucapkan selamat, kalau pun diucapkan, sifatnya hanya pura-pura saja;
  4. Sebaliknya, haters cenderung suka berbahagia di atas penderitaan orang lain. Mereka senang saat menyadari bahwa orang yang mereka benci itu pun hidupnya masih jauh dari sempurna;
  5. Haters senang mengamati gerak-gerik orang yang mereka benci hanya untuk mencari pembuktian bahwa orang itu punya banyak kekurangan dalam hidupnya. Semakin banyak celah yang mereka temukan, mereka akan semakin senang!
  6. The enemy of haters’ enemy is their friends. Haters senang berkumpul dengan haters lainnya, seolah justifikasi bahwa orang yang mereka benci itu memang benar sangat menyebalkan (padahal sebetulnya tidak jelas kesalahan macam apa yang pernah diperbuat orang ybs);
  7. Haters cenderung berupaya mencari cara untuk mengurang-ngurangi kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang mereka benci. Mereka tidak segan berkata pedas di depan orang yang mereka benci (meskipun sebetulnya bisa jadi, hal tersebut sama sekali bukan urusan mereka). Mereka berdalih kejujuran itu penting, padahal sebetulnya, mereka hanya ingin melampiaskan kebencian mereka saja;
  8. Haters senang sekali menyepelekan hal-hal yang sangat dibanggakan oleh orang yang mereka benci. Mereka tidak sungkan untuk mengatakan hal itu sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja;
  9. Haters cenderung berusaha mengurangi optimisme orang yang mereka benci. Apapun rencana orang itu, yang disampaikan oleh the haters hanya sisi jelek-jeleknya saja; dan
  10. Haters senang menghasut orang lain untuk ikut membenci atau menjauhi orang yang tidak mereka sukai. Mereka juga tidak sungkan untuk menyampaikan kepada orang ybs tentang betapa banyaknya orang yang membenci dia. Tega? Memang.

Awalnya, gue masih coba berdamai dengan para haters. Tapi lama kelamaan, gue capek juga. Berteman dengan mereka tidak membuat mereka lebih menyukai gue. Kenyataannya, semakin mereka dekat dengan gue, semakin banyak celah yang mereka dapatkan untuk menyakiti perasaan gue. Jadi sudahlah. Tidak perlu lagi berusaha untuk baik-baik sama mereka, berusaha merebut hati atau menyenangkan mereka, karena pada akhirnya, haters will hate anyway.

Lalu bagaimana jika ternyata diri kita sendiri yang tanpa disadari telah menjadi hater untuk orang lain? Jawabannya sederhana: bahagiakan diri sendiri supaya tidak usah repot-repot iri dengan kehidupan orang lain. Iri itu betulan pangkal dari berbagai penyakit hati lainnya, cobalah untuk dikurangi!

Do the things that make yourself proud of you. Do more of the things that make you happier. And on top of all that, count YOUR blessings! And did you know? The people that you hate actually have put a lot of works just to earn their decent life. It’s not fair to hate them for being the very best of themselves! Simply tell this to yourself; if they can do it, you can do it.