What Is the Scariest Super Human Gift?

Berawal dari iklan Asia’s Next Top Model season 5, gue jadi teringat tayangan lainnya (entah kartun TV atau film Hollywood yang pernah gue tonton), yang mana salah satu tokoh utamanya bilang begini, “Dari semua kekuatan supernatural, yang paling mengerikan adalah kemampuan untuk membaca pikiran orang lain.”

Gue sudah lupa alasan kenapa tokoh itu berpendapat demikian, tetapi semakin bertambah usia gue, semakin gue mengerti bahwa isi pikiran manusia memang bisa jadi sesuatu yang “mengerikan”. Mampu membaca isi pikiran orang lain belum tentu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Kenyataannya, jumlah orang yang jujur dengan perkataannya itu sangat-sangat sedikit. Banyak orang yang tidak berani mengemukakan pendapat, tidak berani mengakui kesalahan, mengakui kekurangan dalam diri sendiri, atau tidak berani untuk sekedar menjadi diri sendiri. Mengetahui isi hati mereka yang sebenarnya bisa jadi sesuatu yang mengejutkan, bisa membuat kita tidak lagi merasa mengenal orang yang kita kenal.

Selain masalah keberanian, pada umumnya, setiap orang itu senang menilai perbuatan orang lainnya (bisa baik, bisa juga buruk). Yang paling mengejutkan tentu saja penilaian buruk seseorang tentang diri kita ini! Penilaian jelek yang muncul dalam benak mereka itu bisa timbul karena begitu banyak hal.

Karena perbedaan latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang.

Karena rasa tidak percaya diri, atau rasa tidak aman (insecurity) yang berujung pada rasa iri.

Karena rasa benci dan rasa dendam yang terpendam (bisa jadi karena sebetulnya, masalah yang ada hanya masalah sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan).

Atau karena ketidakbahagiaan yang membuat mereka jadi membenci orang lain yang terlihat baik-baik saja dengan hidupnya.

Mendengar isi kepala seseorang saat hatinya sedang tidak berada pada kondisi yang baik, bisa jadi hanya melukai orang yang tidak bersalah apa-apa. Dan mendengar understatement yang memojokkan identitas seseorang (SARA misalnya), pasti hanya akan menyulut konflik antar golongan. Itulah sebabnya, mampu membaca isi pikiran orang lain itu benar-benar bisa menjadi mimpi terburuk!

Tapi… secara kemampuan membaca pikiran itu sifatnya fiktif belaka, maka sebetulnya tidak perlu dipikirkan juga. Lalu buat apa gue membahas topik supernatural di blog gue ini? Karena jika suatu waktu kita tersakiti oleh perkataan orang lain, coba baca kembali semua isi tulisan gue ini.

Ada kalanya, seseorang membiarkan mulut mereka mengucapkan persis apa yang ada dalam hati mereka. Atau bisa juga sebaliknya, mereka mengucapkan kebohongan yang terasa sangat sulit untuk kita percaya. Dan sebelum hati kita “tersayat” terlalu dalam, coba pikir kembali… Kenapa mereka sampai tega mengucapkan hal-hal tersebut?

Baca kembali paragraf di atas tentang keberanian. Kalimat yang menyakitkan bisa jadi hanya sebentuk usaha untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Terkadang, seseorang memang bisa tega menyakit perasaan orang lainnya hanya demi melindungi diri mereka sendiri.

Kemudian jika ingin bicara soal motif kenapa mereka mengucapkan hal-hal yang menyakitkan hati, baca kembali empat kemungkinan yang gue tulis di atas.  Maybe it’s not you, it’s them.

Ada satu nasehat yang mati-matian berusaha gue terapkan selama lima tahun belakangan ini; “Bukan orang lain yang bisa menyakiti perasaan kita, tetapi diri kita sendiri. Kita tidak akan sakit hati jika bukan karena kita yang membiarkan mereka menyakiti perasaan kita.”

Sekali lagi, boleh saja instropeksi, tapi jangan juga terlalu keras pada diri sendiri. Jangan sampai kita jadi membenci diri sendiri, hanya karena ulah orang yang sebetulnya sedang membenci diri dia sendiri.

Life is too short to be unhappy, remember?

 

At the End of the Day, the Right Person Will Stay

Pernah berandai-andai seharusnya kita tidak begini dan tidak begitu supaya beberapa orang tertentu tetap tinggal dalam hidup kita? Gue pernah. Sempat beberapa kali menyalahkan diri sendiri atas kehilangan gue itu. Sampai suatu hari, jawaban seorang teman seperti membuat gue melihat sisi lain dari masalah yang gue hadapi.

Waktu itu gue bilang begini, “Kalau waktu itu gue enggak kasih dia promotion, dia enggak akan stres sampai akhirnya malah resign.

Teman gue ini malah menjawab, “Gue rasa enggak juga. Sifatnya dia emang udah begitu. Enggak promote juga dia akan tetap resign. Akan ada aja alasan lain buat dia resign.”

Percakapan hari itu mengingatkan gue dengan kehilangan-kehilangan lain yang pernah gue hadapi. Setelah gue pikir-pikir, gue mulai menemukan benang merahnya. Sehingga pada akhirnya gue berkesimpulan… Kita bisa kehilangan seseorang karena dua hal; untuk memberikan kita pelajaran, atau untuk membuat kita menghargai orang-orang yang tetap tinggal.

Memang benar bahwa bisa jadi, kita harus berusaha instropeksi diri setiap kali ada seseorang yang memutuskan untuk pergi. Bisa jadi itu memang salah kita sehingga siapapun orangnya tidak akan pernah bisa tahan dengan perangai kita, tapi bisa jadi juga, mereka hanya bukan orang yang tepat. Dengan orang yang salah, sebaik apapun kita berusaha tidak akan pernah cukup untuk membuat mereka tetap tinggal. Jika sudah demikian, kehilangan mereka pada dasarnya hanya mengajarkan kita rasa syukur dan apresiasi kepada orang-orang yang tetap tinggal.

Dalam konteks apapun, bisa dalam hal pekerjaan, pertemanan, bahkan percintaan, apapun yang terjadi, orang yang tepat akan tetap berusaha untuk tinggal. Mau dicari sampai ke manapun, tetap tidak akan pernah ada orang yang sempurna. Bedanya, orang yang tepat adalah orang yang tetap bertahan serta tetap berusaha untuk mengatasi ketidaksempurnaan itu.

Boleh instropeksi diri, tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri. Hargai diri kita sendiri karena setidaknya, kita adalah salah satu orang yang tidak pernah menyerah terhadap diri kita sendiri.

Once again I’m telling you… the rest of the world may give up on you, but never ever giving up on yourself. So long you keep believing in yourself, you’re on the right way.

My Dream Future Dates

Gue tipe traveler yang ‘pantang’ mengunjungi beberapa tempat tertentu sampai saatnya gue sudah married nanti. Rasanya aneh saja kalau gue datang ke tempat-tempat ini bareng keluarga, teman-teman, apalagi jika malah datang sendirian! So there I save some places to be visited with my future husband!

Selain tempat-tempat untuk kencan impian, ada juga beberapa hal yang sifatnya couple activity. Apa saja? Check this out!

Honeymoon in Maldives resorts

Gue sengaja menulis resorts (pakai s) karena gue berniat pindah dari satu resort ke resort lainnya selama bulan madu gue itu! Minimal 3 resorts dan masing-masing tinggal selama dua malam, hehehehe. Salah satu resort-nya tentu harus yang letaknya above the sea itu!

Riverside bale picnic at Hanging Gardens Ubud

Riverside-Bale-Picnic-byHangingGardensUbud-11

Pernah dengar infinity pool di Hanging Gardes Ubud yang tersohor itu kan? Selain infinity pool, hotel ini juga terkenal dengan paket couple picnic-nya. Lokasi pikniknya di atas bale di pinggir sungai Ubud yang cantik itu! My husband (only God knows who) and I can really make a great picture by the river! 😎

Just one night at Marina Bay Sands hotel

Ya, gue pengen ke sini apa lagi kalau bukan karena infinity pool-nya! Bisa aja sih, gue datang ke sini bareng teman atau keluarga, tapi masalahnya, enggak pernah ada orang yang mau gue ajak sharing cost menginap di sini… Room rate-nya dianggap terlalu mahal… hiiks. Jadi ya sudahlah. Someday I’ll stay there with my husband!

A week in Italy

Ada alasan kenapa gue hanya berencana pergi ke Prancis akhir tahun ini: karena gue maunya, nanti datang ke Italia sama suami gue aja, hehehehe. Secara ini Italia, negerinya Romeo dan Juliet! Rome and Venice, I’ll save you for later!

Naik perahu berdua, di mana saja!

Jenisnya boleh kayak, pedal boats, speed boat, boleh apa saja yang penting cuma berdua saja, hehehehe. Tapi untuk mewujudkan ini… mesti banget cari suami yang jago berenang, secara gue enggak bisa berenang sama sekali, hehehehe.

Naik banana boat bareng

Sebenarnya gue udah kapok naik banana boat. Terakhir kali naik banana boat, pulangnya gue kena sinusitis untuk yang pertama kalinya. Tapi berhubung banana boat ini udah jadi dream date gue sejak jaman dulu banget, jadi ya udah, nanti gue naik ini bareng sama pasangan gue aja 😀

Camping

Gue sebenarnya bukan tipe orang yang senang camping, tapi sesekali pengen juga pergi camping sekalian nge-date, hehehehe.

Keren kan, isi wish list gue yang ini? Emang masih angan-angan sih, secara calon suami juga masih belum ada. But well… all of the great things in my life always started with a dream 😉

Semoga gue dan si future husband punya umur dan rejeki yang cukup untuk bisa mewujudkan semuanya, satu per satu. Amiin!

Bijaksanakah Menyebarluaskan Berita Orang yang Baru Pindah Agama?

Apa yang kita rasakan saat melihat orang dari agama lain berpindah memeluk agama yang juga kita yakini? Bangga, haru, tersentuh… Tapi bagaimana rasanya jika kita melihat kejadian yang sebaliknya? Seseorang dari agama kita berganti meyakini agama lainnya? Marah, kesal, kecewa?

Jika kita tidak suka melihat orang lain keluar dari agama kita, maka menurut gue, sebaiknya tidak perlu ikut menyebarluaskan berita, gambar, atau video orang lain yang baru saja memeluk agama kita. Jangan merusak tali persaudaraan antar agama dengan sesuatu yang tidak begitu jelas apa manfaatnya.

Berpindah agama, kenyataannya, tidak semudah yang terlihat di video 30 detik. Ada orang tua dan anggota keluarga lainnya yang merasa kecewa. Ada teman-teman dan tetangga yang memandangnya sebelah mata. Ada konflik batin yang luar biasa sebelum akhirnya seseorang memutuskan untuk mengganti sesuatu yang dia yakini bertahun-tahun lamanya. Dan umumnya, mereka tidak menyukai publikasi yang berlebihan. Kenapa? Karena mereka tidak mau menyakiti perasaan orang-orang dengan agama yang mereka tinggalkan… Jika mereka saja enggan untuk menyebarluaskan, kenapa malah kita yang lebih semangat untuk sharing sana-sini?

Jangan pernah berpikir bahwa siapa tahu, berita yang kita sebarkan itu akan “mengilhami” orang lain untuk ikut memeluk agama yang kita yakini kebenarannya. Berpindah keyakinan sama sekai tidak sesederhana itu! Keyakinan tidak datang dari sekadar berita pendek, keyakinan datang dari dalam diri sendiri. Dari pembelajaran yang bisa jadi sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Jadi sekali lagi, sebelum berbagi berita yang kontroversial seperti itu, tanya kembali pada diri kita sendiri… apa manfaatnya? Jika efek negatifnya lebih banyak dari manfaatnya, maka sebaiknya, jangan dilakukan.

Selain masalah publikasi, menurut gue, akan lebih baik lagi jika kita tidak meributkan keputusan seseorang terkait agama yang dipeluknya. Agama adalah urusan masing-masing orang, dan kita harus bisa menghargai keputusan mereka, sama seperti kita ingin dihargai sebagai orang yang tetap meyakini agama kita sendiri.

People Can Change, Can’t They?

Gue sangat sering mendengar statement seperti ini tentang orang-orang di sekitar gue, “Dia udah enggak bisa berubah. Sampai kapanpun, dia akan tetap kayak gitu.”

Seringkali, gue juga ikut terbawa arus. Sering merasa frustasi karena berkali-berkali terbentur masalah yang sama dengan orang yang sama bikin gue jadi pesimis. Harapan bahwa keadaan bisa membaik, mereka bisa berubah jadi lebih baik, lama kelamaan mulai pudar dengan sendirinya.

Kemudian hari ini, di salah satu hari santai gue, saat sedang asyik bermalasan di atas kasur dengan setumpuk bantal dan selimut tebal, tiba-tiba saja gue teringat dengan diri gue yang dulu. Ada begitu banyak hal yang sudah berubah dari diri gue sendiri.

Gue yang dulunya penakut, sekarang malah dikenal sebagai orang yang sangat berani dalam begitu banyak hal (I’ll write more about this later).

Gue yang dulunya pesimis dan minder, sekarang sudah selalu optimis dan punya kepercayaan yang besar terhadap diri gue sendiri.

Gue yang dulunya paling malas bersosialisasi, sekarang justru tidak terbayang jika harus hidup tanpa ada sahabat yang menemani.

Atau yang paling ekstrim, gue yang tadinya pemalas dan sering dapat nilai jelek di sekolah, sekarang alhamdulillah, mulai berhasil mewujudkan karier yang dulu gue impikan untuk diri gue sendiri.

Selain empat hal yang baru saja gue sebutkan, ada pula beberapa kebiasaan jelek gue yang sekarang sudah benar-benar jadi bagian dari masa lalu gue. Malu rasanya kalau ingat dulu gue pernah berperilaku seperti itu. Sehingga pada akhirnya gue berpikiran, “Jika gue bisa berubah, kenapa orang lain tidak bisa?”

Memang benar butuh waktu yang lama untuk seseorang bisa mengubah karakter buruk mereka. Orang yang baru mengenal gue satu atau dua tahun tentu tidak dapat mengenali perubahan dalam diri gue ini, tapi orang yang sudah mengenal gue sejak lama, pastilah tahu betul bedanya gue yang sekarang dengan gue di waktu yang lalu. Atau misalkan teman gue di kantor yang lama bekerja kembali dengan gue di kantor yang sekarang, pastilah mereka bisa mengenali perbedaan-perbedaan dalam diri gue ini.

Bagaimana cara agar bisa berubah jadi lebih baik?

Tidak ada cara yang mudah, tentunya. Prosesnya panjang, dan kadang, terasa berat untuk dilewati. Tidak menutup kemungkinan, perubahan justru datang dari tamparan keras yang pernah kita terima di waktu yang lalu. Awalnya, tentu ada up and down. Kadang bisa berubah, kadang kembali lagi ke bad habit kita itu. Terus begitu, hingga lama kelamaan, kita mulai perlahan terlahir kembali menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Dibutuhkan waktu lama, sangat lama, atau bahkan, perlu berusaha sepanjang hidup kita, untuk bisa menjadi pribadi yang benar-benar kita inginkan. Makanya, diperlukan konsistensi, kesabaran, dan pantang menyerah untuk bisa memperbaiki diri! Jangan pula frustasi saat menyadari bahwa sebetulnya, sekeras apapun kita berusaha, kita tetap tidak akan pernah bisa menjadi sempurna.

Langkah pertama dari perubahan adalah mengakui bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Mulai dari situ dulu! Jika belum apa-apa kita sudah merasa sempurna, jika kita selalu merasa tidak ada yang salah dari diri kita sendiri, ya jangan kaget jika hidup kita akan tetap begitu-begitu saja. Jangan kaget jika bertahun-tahun dari sekarang, kita tetap menjadi kita yang bertingkah laku tidak sesuai dengan usia!

Sampai kapanpun, kita tetap tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kita tetap tidak akan pernah bisa punya hati persis seperti malaikat. Kita tetap manusia biasa yang dibekali dengan perasaan dengan segala keterbatasannya. TAPI, semua itu tidak boleh jadi alasan untuk bisa bersikap seenaknya saja! Cintai diri kita apa adanya, tapi tetap berusaha untuk menjadi versi terbaik yang kita bisa.

Be better and make yourself proud!

Obat Anti Baper: Cari Personal Project!

Akhir tahun lalu, gue sempat benci banget sama weekends dan weekdays nights. Pekerjaan sudah selesai, di kosan cuma sendirian, sehingga bawaannya jadi galau melulu. Masalah pribadi yang bisa gue lupakan selama seharian sibuk bekerja mulai kembali lagi ‘menghantui’ pikiran gue.

Langkah pertama, gue salurkan lewat tulisan. Socmed dan blog, sampai lama-lama gue malas sendiri lihat timelines gue yang dipenuhi dengan kesedihan.

Langkah ke dua, cari teman curhat. Sampai lama-lama gue kasihan juga sama teman-teman gue karena mesti mendengar curhatan gue yang isinya itu-itu saja.

Langkah ke tiga, pergi jalan-jalan. Ketemuan sama teman-teman, nonton, belanja, apa saja selama bukan hanya berdiam diri di rumah. Sampai lama-lama gue sadar… tagihan kartu kredit gue semakin naik mendekati limit, hehehehe.

Coba langganan Netflix, akhirnya gue malah bosan. Main sama ponakan, lumayan bikin capek kalo kelamaan. Sampai suatu hari gue kepikiran untuk merayakan ultah gue yang ke 30. Minta bantuan adik ipar karena mustahil banget gue bisa urus ini-itu sendirian menimbang jam kerja gue yang sudah termasuk di atas rata-rata pekerja kantoran pada umumnya. Dan sejak itu, tanpa gue sadari, frekuensi baper gue jadi berkurang dengan sendirinya.

Gue punya kesibukan di luar jam kerja. Ada excitement yang membuat gue melupakan masalah pribadi gue. Intinya, gue punya hal lain yang lebih terasa menyenangkan untuk gue pikirkan. Pesta ultah juga jatuhnya lumayan costly sih, tapi yang penting, kesibukan dan kesenangan yang gue dapatkan betul-betul ampuh untuk mengalihkan pikiran gue! Gue benar-benar menikmati mulai dari tahap persiapan, hari H, bahkan sampai beberapa hari setelah acaranya selesai.

Asyiknya lagi, saat pikiran sudah mulai tenang, gue mulai bisa melihat permasalahan pribadi gue dengan lebih jelas. Gue mulai bisa mengambil keputusan cerdas. Kemudian perlahan, gue juga mulai merasa ikhlas.

Berawal dari situ, gue jadi ketagihan untuk bikin personal projects! Ada satu lagi family project yang sedang gue rintis (tapi gue belum bisa cerita sekarang!), kemudian selain itu, di awal tahun 2017 ini, gue langsung booking 4 tiket pesawat sekaligus! Gue bertekad harus menyempatkan diri untuk jalan-jalan setidaknya tiga bulan satu kali!

Dan benar saja, menyibukkan diri dengan personal projects ini terus terbukti ampuh mengurangi frekuensi galau gue. Masalah pribadi akan selalu ada, tapi tidak worth it kalau gue menghabiskan waktu sampai berjam-jam setiap minggunya hanya untuk bermuram durja!

Sisi positif lainnya, family projects ini hopefully bisa jadi salah satu sarana supaya gaji gue dari kantor jadi lebih well spent. Gue juga banyak belajar hal-hal yang sebelumnya hanya gue pahami dari kulit luarnya saja. Kemudian soal jadwal traveling rutin gue itu juga betul-betul ide yang brilian! Baru selesai satu trip, gue langsung sibuk menyiapkan trip yang lainnya lagi. Mulai dari bikin itinerary, cari tempat menginap, sampai menyiapkan mau pakai baju apa betul-betul pengalih pikiran yang terasa menyenangkan!

Sekali lagi, hidup itu terlalu pendek untuk merasa tidak bahagia, dan gue percaya… akan selalu ada cara untuk kita membahagiakan diri kita sendiri. Start making your own plans and make it happen! Start from now!

When I Care About You, I Will Try to Correct You

This morning, I read this one lovely quote by Abdulbary Yahya on Instagram, “Those who love us will correct us.”

And it reminds me of myself… That’s exactly what I always do to the people whom I care about: I try to correct them. It’s not because I feel like I’m always right, it’s just because I do care about these people.

When it looks like they’re making mistakes, I’ll tell them; right on their faces. I won’t just stay quiet and watch them drown. It just doesn’t feel right.

When I want to keep them as a part of my life, I’ll tell them how I feel about them. And that includes when I’m hurt, disappointed, and angry. I tell it all hoping that we’re both aware that we’ve got to find a way to make things right.

I correct them because I want them to be a better one. I want them to be prouder of themselves by doing the right things. I want them to be happier with being the very best version of themselves. I might be wrong, everyone can be wrong, but at least, I make time to give it a try because I want what’s best for them.

I know that I don’t always put the words nicely. I know that the way I take care of someone can seem so tough. But again, if I have to try that hard just to tell you the words, if I still manage to correct you in that kind of tough situation, then that’s just another sign how I really care about your life. I put all that great efforts just for you, not myself. It’s a sign that in that very moment, I think of you more than I think of my own sake.

The truth is, love is not always pretty.

Love between two lovers is not always a beautiful romance. Love is not merely the flowers and candle light dinners.

Love between the families is not only the warmth of a home, but also the tough love to make each other better and wiser.

Love between two best friends is not always a laughter and joy. If you’re always happy with your friendship with them, then probably, you’re not close enough with them.

So again, if I’m willing to fight all those ugly moments just to remind you to do the right things, then I only do that because I truly care about your life. Otherwise, why would I bother to multiply my life problems by picking a fight just to correct you?

So yes, when I care about you, I will try to correct you. And that’s not going to change.

Little Things I’m Enjoying This Year

I’m a believer that happiness can also come from the little things. Here is the list of the little things I’m enjoying throughout the year!

  1. Wake up early in the morning and I can hear the birds chipping from the trees outside of my windows!
  2. Sleep surrounded by multiple pillows, bolsters, cushions, and dolls!
  3. Taking pictures with my new phone! Check my Instagram account to see how awesome this phone camera really is!
  4. Random talks with my four years nephew. He can be smart, funny and sweet all in the same time!
  5. Open video gallery in my phone and watch the videos of my little niece. She’s so adorable!
  6. Leave office on time just to watch my favorite TV shows (The Royals, Scandal, Notorious, and many more!)
  7. Just found a dessert restaurant in Kemang (restaurant name: Cacaote) and I have tried nearly all of their cakes menu! It’s fun to try different cake in every order and to wonder how it tastes! My favorite? Mango, vanilla, and raspberry flavor; they’re the best!
  8. Play Gojek swipe games and I can earn up to 400 points at one swipe!
  9. Order Gofood only to buy one cup of bajigur, almost everyday until I get bored, hehehehe;
  10. Browse my old folders and find many pictures to be posted to Instagram. Somehow I can be surprised seeing how good those pictures are, hehehe;
  11. Pamper myself with mani-pedi (I love seeing how pretty my nails turned out!), brow threading (tried once and I’m addicted to it now!), try Bio Oil to get rid the marks from my bike accident in Greece;
  12. Mix and match old clothes in my wardrobe. It’s odd how I can forget that I have some cool stuffs in there, hehehe;
  13. Long chats with some old friends. They’ve really helped me to get through the worst days of my life!
  14. Watch cute cats and dogs videos on Instagram; and
  15. Spend times alone just to figure out, “What’s next?” The ideas popped up on my mind can be unpredictably awesome, hehehehe.

Have fun with the little things and wish you a wonderful weekend!

Someday, Somebody Will See Me the Way My Best Friends See Me

Have I ever told you how lucky I am for having incredible friends who somehow, choose to stay with me inspite of all my flaws?

They always see the good things in me. They believe that I must have a very good reason behind everything I do, even when it doesn’t always look pretty.

They are hurt, they are angry, they feel my pain everytime I’m wounded inside. Say something horrible about me, they will be the first ones who stand up for me, without being asked.

They care about me even when I don’t feel like I deserve any of that. They think of my problems as if those problems were theirs. They step up, they do something, just to make my problems go away. They really go beyond my imagination, a lot more than I ever expect from a best friend.

They have my name in their prayers, they sincerely wish nothing but the best for me, my life, and my future.

They know how cranky, grumpy, annoying, and moody I can be, but they also know that no matter how bad things go, I’ll never ever be one bad person. I’m no angel, but I’m not an evil either.

They understand I can be extremely noisy, pushy, demanding, and brutally honest, all of that just because I care. They also understand how weird and mellow and stubborn I can be, and all of that just because the way I am. It’s just the trait that has made me who I really am.

Can’t you see it now? For some reasons, they always find a way to believe in me. To forgive me. To accept me for being who I am. They help me to evolve, to be the very best of me. Not only they support me when life knocks me down, they also celebrate with me when this life raises me up. And everytime I feel so bad about myself, they constantly remind me that I am never as bad as I think I am.

They; my very best friends, make me believe that someday, a right man will come along and see me they way they see me. Treats me the way they treat me. Cares about me, fights for me, and chooses to always stay here right by my side. He will always stay, no matter what.

As my best friends always tell me all the way, “Hang on! You’ll get there, someday.”

Hidup Lebih Luas dari Dinding Kantor dan Rumah Saja

Awalnya, gue tipe orang yang merasa cukup dengan diri gue dan karier gue saja. Cukup ketemu teman-teman sesekali saja, toh di kantor juga sudah seminggu lima kali ketemu sama teman-teman sekantor. Weekend lebih enak di rumah, bangun siang, nonton serial TV kesukaan, home spa, atau pergi ke mall untuk nonton dan belanja sepuasnya. 

Puas dengan pekerjaan, puas dengan eratnya hubungan gue dengan rekan kerja, puas bisa memanjakan diri dengan beli ini dan itu, sempat membuat gue tenggelam dalam dunia gue sendiri. Sisi positifnya, gue bisa membuktikan bahwa gue bukan lagi tipe orang yang menggantungkan kebahagiaan gue di tangan orang lain. Menyenangkan awalnya, sampai lama kelamaan gue mulai bosan.

Gue lalu teringat sahabat-sahabat yang telah menemani gue bertahun-tahun lamanya. Gue mulai menyempatkan waktu untuk bertukar kabar dengan mereka. Hang out bareng lagi, traveling bareng lagi! Pergi berkunjung ke rumah sahabat, bahkan pernah sampai menginap beberapa hari lamanya!

Gue juga mulai menyisihkan lebih banyak waktu untuk keluarga gue sendiri. Mulai pulang ke rumah ortu lebih sering dari sebelumnya. Gue tetap suka tidur sampai siang di akhir pekan, tapi gue juga suka dibangunkan oleh ketukan pintu dari keponakan gue di Sabtu dan Minggu pagi.

Gue juga sudah tidak pernah lagi membiarkan jatah cuti gue hangus begitu saja. Gue sempatkan untuk traveling, setidaknya tiga bulan sekali. Gue manfaatkan business trip untuk dilanjutkan dengan leisure trip! Gue kembali lagi seperti gue di awal karier dulu; ada tiket murah? Langsung beli saja dulu! 

Sekarang, hidup gue jadi lebih berwarna. Lebih ramai dari sebelumnya. Masa-masa yang seharusnya sangat berat jadi terasa lebih ringan dan lebih mudah untuk dijalani. Gue punya lebih banyak teman untuk berbagi. Lebih banyak alasan untuk tertawa. Dan lebih banyak kesempatan untuk menikmati hidup dengan cara yang berbeda-beda.

Hidup bukan hanya sebatas dinding kantor dan kamar tidur saja. Lihat dunia luar, jangan terlalu malas dengan hanya bermalasan di kamar tidur sepanjang akhir pekan! Jangan pula membiarkan karier menjadi satu-satunya kehidupan yang kita miliki. Karena bagaimanapun, ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa diisi dengan karier kita saja.

Ada orang-orang tertentu, gue salah satunya, yang masih perlu belajar untuk memberi ruang untuk orang lain. Untuk hal lain. Untuk tujuan lain yang lebih besar dari sekedar membahagiakan diri sendiri. Pada akhirnya, kita akan mengerti dengan sendirinya kenapa orang bilang, “The more, the merrier.”

Selamat bermalam minggu!