The Branded Bags

Jadi ceritanya, akhir-akhir ini gue sedang terobsesi dengan branded bag yang harganya satu digit lebih banyak dari tas-tas kulit yang biasa gue beli. Sebetulnya, gue masih ngerasa berat keluar uang sebanyak itu hanya untuk satu buah tas. Tapi melihat orang lain tampak keren dengan tas super mahal itu bikin gue jadi kepengen!

Awalnya gue bingung kenapa lumayan banyak teman gue yang bisa beli tas-tas super mahal itu. Padahal setahu gue, penghasilan bulanan mereka tidak seberapa jumlahnya. Barulah saat gue buka aplikasi Tokopedia, gue langsung menemukan jawabannya: tas-tas yang dulu cuma dijual via Instagram oleh importirnya kini bisa dibeli dengan cicilan 0% melalui Tokopedia.

Setelah gue hitung-hitung lagi, jika dicicil 6-12 bulan memang tidak terasa berat sih ya. Tidak terasa “keluar banyak uang”.

Gue pun mulai tanya-tanya ketersediaan tas super mahal yang gue ingin beli ke penjualnya. Model tas yang gue mau ternyata masih belum banyak dijual oleh importir individual di Indonesia ini. Belum sempat menemukan tas super mahal yang gue inginkan, gue lebih dulu menemukan dua tulisan yang langsung mengubah jalan pikiran gue.

Pada tulisan yang pertama, penulis bercerita tentang kelahiran anak ke tiganya. Ceritanya si penulis sedang pusing memikiran biaya lahiran anak bungsunya yang jumlahnya mencapai dua juta rupiah. Eh, tunggu dulu. Gue berhenti membaca sampai di situ. Gue baca ulang kalimat yang baru gue baca itu. Biaya melahirkan cuma dua jutaan? Kok murah banget yah? Lanjut baca… ternyata hanya habis dua jutaan karena hanya melahirkan di bidan saja. Hanya dua juta, tapi si penulis masih kesulitan mengumpulkan uangnya. Gue seperti baru menyadari bahwa dua juta rupiah bisa jadi jumlah yang sangat besar untuk begitu banyak orang di luar sana. Kembali ke cerita penulis, sayangnya, bidan kemudian merujuk istri sang penulis ke rumah sakit karena penyakit yang diderita istrinya itu. Biaya persalinan jadi jauh lebih mahal, dan si penulis terpaksa menjual motor untuk menutup biaya persalinan.

Gue menghela napas. Gue heran bagaimana bisa si penulis menulis kisah mengharukan seperti itu dengan cara yang sangat jenaka? Menurut cerita si penulis, dia dan istrinya tetap mampu melewati masa krisis itu penuh dengan canda dan tawa seperti mereka yang biasanya. Gue jadi teringat betapa grumpy-nya gue dulu saat uang di dompet mulai menipis! Boro-boro menjaga selera humor… gue enggak marah meledak-ledak aja sudah bagus banget!

Lanjut baca ke tulisan ke dua… tulisan yang kemudian membatalkan niat gue untuk segera beli tas super mahal itu.

Singkatnya, tulisan ke dua ini menceritakan rasa haru si penulis atas kesederhanaan istrinya. Pakai tas rombeng yang sudah rusak bagian dalamnya, pakai bedak yang sudah retak, dan juga lipstik yang sudah patah. Terharu, si penulis membawa istrinya untuk beli tas baru di Ramayana dengan modal uang di dompet yang jumlahnya tidak seberapa. Istrinya ikut terharu, dia sampai tidak bisa menahan tangis di depan kasir Ramayana sambil memeluk tas barunya. Tas baru… yang harganya hanya ratusan ribu saja.

Selesai baca tulisan soal tas baru dari Ramayana itu, gue langsung membuka lemari tempat gue menyimpan koleksi tas gue. Ya, gue punya satu lemari yang penuh dengan berbagai jenis, berbagai ukuran, dan berbagai warna tas. Pandangan gue lalu beralih ke tas terbaru yang sedang senang gue pakai dua bulan belakangan ini. Tas yang bukan hanya cantik tapi juga praktis dan muat banyak! Gue jadi ingat tadi malam, saat sedang cari-cari tas baru yang super mahal itu, sebetulnya gue sempat mengeluh dalam hati. “Kalo gue beli tas super mahal ini, gue jadi nggak akan pakai lagi tas kesayangan gue yang super praktis ini dong ya?”

Gue mulai menghela napas… What made me think that I needed a new bag to begin with?

Akhirnya gue menyadari… ini bukan soal gue kepingin beli tas baru… ini cuma soal gue enggak mau kalah keren, cuma soal gengsi yang sifatnya sangat tidak perlu. Lucunya, gue bahkan lebih suka sama tas gue yang sekarang ketimbang calon tas baru yang harganya selangit itu!

Sebetulnya tidak ada yang salah dari membeli tas mahal yang gue sukai, tapi jika membeli tas itu mengharuskan gue berpikir panjang, apalagi mengharuskan gue sampai berhutang berbulan-bulan, maka tas itu belum waktunya untuk gue beli dan gue miliki. Sebetulnya gue punya prinsip, gue hanya bersedia mengeluarkan uang untuk apapun itu sampai dengan batas di mana gue tidak merasa berat untuk menghabiskannya. Jika sebelumnya gue bisa disiplin, kenapa harus berubah sekarang?

Orang lain boleh membuat pilihannya sendiri, tapi ini pilihan gue pribadi, yang ingin gue bagi melalui blog gue ini. Gue tulis untuk gue bagi, sekaligus sebagai pengingat untuk diri gue sendiri.

Selamat bagi kamu yang baru saja menerima THR… mari kita sama-sama gunakan dengan bijaksana.

I’m Glad that I’m Getting Older!

Akhir-akhir ini, gue merasa sangat-sangat nyaman dengan diri gue sendiri. Banyak pembelajaran di waktu yang lalu yang kini membantu gue dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup gue ini. Semakin ke sini, pertambahan usia justru terasa semakin menyenangkan!

Sekarang ini, gue sudah lebih mampu untuk menjadi rem untuk diri gue sendiri. Saat gue mendapati diri gue nyaris mengulangi kesalahan yang sama, gue akan langsung bilang pada diri gue sendiri, “Kalau gue melakukan ini, artinya sama saja gue enggak belajar dari pengalaman!”

Gue juga sudah semakin mengenal diri gue sendiri. Gue dapat dengan mudah mengenali alasan di balik keputusan, perkataan, dan perasaan gue sendiri. Sudah semakin jarang gue bertanya-tanya pada diri sendiri, “What’s wrong with me?”

Gue yang sekarang juga lebih mudah mengenali kapan gue harus instropeksi serta kapan gue tidak harus ambil pusing atas konflik yang tengah terjadi. Gue sudah tidak lagi dengan mudah menyalahkan diri gue sendiri. Ada kalanya, gue punya hak untuk berkata, “It’s not me, it’s them.

Pengalaman hidup lebih dari 30 tahun membuat gue lebih menerima diri gue sendiri lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Gue sudah bisa dengan enteng mengatakan bahwa gue tidak ahli atau bahkan sama sekali tidak mengerti akan hal-hal tertentu yang memang betulan tidak gue kuasai. Gue juga tidak merasa perlu malu atas kekurangan-kekurangan yang akan selalu ada dalam diri gue ini. Bahkan, sekarang gue bisa dengan entengnya menertawakan “kebodohan” gue sendiri. Hampir 32 tahun gue hidup dan gue tidak pernah menemukan manusia yang sempurna, jadi buat apa gue pusing-pusing berusaha menjadi manusia serba sempurna?

Yang paling gue sukai, bertambahnya usia membuat gue jadi lebih kuat, lebih tahan banting, dan lebih mampu membahagiakan diri gue sendiri. Gue tidak lagi butuh satu dekade hanya untuk bisa move on, tidak pula selalu butuh orang lain untuk membuat gue merasa lengkap dan bahagia. Semua orang bisa saja berubah perasaannya kepada gue, dan kalaupun perasaan mereka bisa tetap sama, cepat atau lambat, semua orang akan tetap bergantian pergi dari hidup gue ini. Tapi apapun itu, setidaknya, gue tetap harus ada untuk diri gue sendiri, dan yang paling penting, harus tetap mampu menyayangi diri gue sendiri. Konsep yang terdengar kesepian ini memang bukan konsep yang mudah dipahami, karena memang sekali lagi, dibutuhkan waktu yang lama untuk bisa mempelajari dan memahami “rasa cukup” ini dengan sendirinya.

Beberapa waktu yang lalu, gue berjalan keluar dari shopping mall seberang kantor sambil membawa satu cup minuman khas Thailand kesukaan gue. Entah kenapa, tiba-tiba saja, gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri; “Maukah gue menukar kebahagiaan yang sekarang gue rasakan dengan hal-hal yang belum berhasil gue miliki?”

Sambil melangkah menyeberangi jalan, dengan mantap gue menjawab, “Nope, never!”

See? Sangat menyenangkan menjadi orang dewasa yang tetap bisa berbahagia meski dengan segala keterbatasan yang gue miliki. I’m beyond blessed… and I cannot ask for more!

Beramal, dengan Cara yang Baik dan Benar

Akhir-akhir ini sedang populer tulisan yang dibagikan via Facebook tentang pentingnya memberikan barang yang layak pakai dan bukan hanya sekedar barang murah meriah yang akhirnya tidak terpakai sama sekali. Kue kelewat murah yang rasanya tidak karuan, pakaian murah yang terasa panas dan tipis menerawang, serta pemberian-pemberian lain yang akhirnya tidak terpakai karena memang kualitasnya sangat tidak layak pakai.

Saat membaca tulisan itu, gue bertanya-tanya… kenapa ya, banyak orang yang melakukan amal menggunakan barang yang tidak layak pakai? Meminjam kalimat penulis yang gue sebutkan di atas, banyak orang yang sering bilang begini saat sedang membeli barang untuk amalnya, “Beli yang murah saja lah, buat dibagiin ini.”

Kembali lagi ke pertanyaan gue, “Kenapa?”

Jawaban gue berikut ini sifatnya hanya hasil observasi gue yang belum tentu bisa digeneralisasi, tapi tidak ada salahnya, dibaca untuk dijadikan dasar instropeksi diri.

Ada orang yang beli barang seadanya, lalu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, untuk kemudian aktivitas amalnya dibagikan berkali-kali di social media. Tidak penting kualitas barangnya, yang penting ada dokumentasinya.

Alasan lainnya, ada orang yang senang memberi karena dia senang melihat orang lain yang tampak senang saat menerima pemberiannya. Mereka lupa untuk berpikir lebih lanjut, “Akan tetap senangkah orang-orang itu saat membuka dan mengkonsumsi pemberian mereka itu?”

Ada pula orang yang asal-asalan memberikan barang asalkan dia tampak keren saat membagikan pemberiannya itu. Tipe orang yang senang menjadi pusat perhatian sehingga saat memberi, fokusnya malah diri dia sendiri dan bukan fokus kepada kebutuhan orang yang dia beri.

Atau bisa juga, ada orang yang hanya tidak menyisihkan lebih banyak waktu untuk mencicipi makanan atau mencoba barang-barang yang diberikannya itu. Fokusnya hanya budget, tanpa memikirkan kualitas pemberiannya.

Jika memang kita memiliki keterbatasan budget untuk amal kita itu, maka menurut gue, kita bisa mengurangi kuantitas untuk meningkatkan kualitasnya. Memberi 10 barang yang bermanfaat akan jauh lebih berarti dari 100 barang yang tidak layak pakai.

Kembali mengutip isi tulisan yang menginspirasi tulisan gue ini, “Jangan memberikan barang yang tidak sudi kita konsumsi sendiri.”

Coba bayangkan kesenangan orang yang kita beri yang langsung sirna dalam sekejap saat mereka mencicipi pemberian kita itu… Dari yang tadinya sangat senang akan berubah menjadi kecewa…. Tidak menutup kemungkinan, mereka bisa berkecil hati, merasa tidak cukup layak untuk menerima pemberian yang layak.

Mari kita belajar memberi di bulan yang baik ini, dengan cara yang juga baik, dengan tujuan yang tidak kalah baik.

Selamat berpuasa!

Orang yang Kalian Sakiti Hatinya di Dunia Maya Adalah Orang yang Punya Perasaan di Dunia Nyata

Semakin ke sini, netizen di dunia maya semakin liar dan tidak terkendali. Semakin anonymous, semakin tidak terkendali. Mentang-mentang tidak saling kenal, mentang-mentang tidak mesti berhadapan langsung, banyak sekali netizen yang jadi lebih berani berkoar yang menyakiti perasaan.

Apa saja contoh kekejaman netizen yang bikin gue geleng-geleng kepala? Ada banyak!

Nggak usah lah ya, sebut-sebut soal SARA, di sini cukup gue sebutkan contoh kenyinyiran netizen dalam topik lain yang sampai bikin gue berpikiran, “Mesti banget ya, mereka komentar kayak gitu?”

Gue pernah lihat salah satu selebgram nekad posting foto selfie dia saat hendak snorkeling: polos tanpa make-up sama sekali. Kenapa gue bilang nekad? Karena posting seperti ini sering sekali mengundang cibiran dari netizen! Dan benar saja… selebgram yang menurut gue tetap cantik apa adanya itu habis dihujat para netizen di comment box-nya… Dibilang ternyata aslinya jelek lah, alisnya botak lah, hitam dan lain sebagainya. Gue sampe berpikir, “Ya ampun, udah kayak mereka (si tukang bully) aslinya lebih cantik daripada si selebgram ini!”

Kemudian pernah juga beredar foto yang diduga Syahrini di halaman IG Lambe Turah. Caption Lambe Turah sih cuma soal mempertanyakan siapa cowok yang jalan bareng sama Syahrini di foto itu, tapi isi comment netizen yang sampai bawa-bawa soal fisiknya Syahrini. Kurang lebih mereka bilang begini, “Iya itu emang Syahrini… kalau difoto candid baru kelihatan aslinya dia itu b*****.” Pikir gue, “Ini ada supermodel yang tinggi langsing ngomentarin tinggi badan orang lain.” Gosh.

Gue sendiri juga pernah jadi korban nyinyirnya netizen btw. Ada satu yang sampe bikin research soal gue lalu menyerang gue via LINE… Intinya dia tidak terima soal artikel gue yang membahas soal “kutu loncat”. Dia jabarkan di LINE work history gue yang saat kerja freelance jaman kuliah dulu cuma stay 8 bulan saja. Dia juga sebutkan soal gue kerja di EY nggak sampe 3 tahun. Kalo gue mau membela diri, wajar kerja freelance cuma sebentar, cuma sampingan sambil menyelesaikan skripsi saja kok. Kalau setelah lulus gue bisa dapat pekerjaan tetap, kenapa gue harus tetap jadi freelancer? Setelah itu, masa bakti gue sekitar 2.5-3.5 tahun untuk satu perusahaan. Masuk hitungan kutu loncat kah? Kalaupun iya, kenapa juga mesti sebegitu niatnya bikin fake LINE account hanya untuk caci maki gue? Malas meladeni, gue block orang itu tanpa pernah gue balas. Nasehat guru agama gue dulu: orang yang meninggalkan debat kusir dijanjikan rumah di dasar surga, hehehehe.

Selain itu pernah juga ada orang komentar negatif di blog gue. Di situ gue menulis soal rasa minder gue yang masih juga single di usia hampir 30. Lalu ceritanya salah satu sahabat cowok menasehati gue soal cowok-cowok minder mendekati gue yang menurut mereka “cantik dan pintar”. Gue bercerita di tulisan itu soal nasehat si sahabat yang bikin gue ngerasa lebih baik. Nggak lama setelah gue post, muncul satu comment yang sangat pedas. Intinya dia bilang kenapa gue mesti ngaku-ngaku cantik padahal di blog ini ada foto gue dan semua orang bisa menilai kalau gue enggak ada cantik-cantiknya. My God. Ini juga malas balasnya. Gue mau ngotot memang betulan ada orang bilang kalau gue ini cantik juga dia nggak akan yang percaya. Nggak ada untungnya juga gue berdebat dalam hal yang sifatnya sangat subjektif seperti itu. Akhirnya gue nonaktifkan tulisan gue yang satu itu. Gue ingin blog gue jadi wadah diskusi dan bertukar informasi, bukan wadah kenyinyiran netizen!

Dari semua kisah nyata itu, gue bisa menarik beberapa kesimpulan:

  1. Orang yang sudah happy dengan dirinya sendiri tidak akan usil mengusik orang lain dengan komentar pedas yang tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya buat si netizen, terlebih lagi buat orang yang dia hina-hina;
  2. Orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi memang sering jadi sasaran kemarahan netizen yang belum cukup happy dengan diri dan hidupnya sendiri. Mereka tidak senang melihat orang lain senang, as simple as that; dan
  3. Akankah netizen nyinyir itu secara terbuka menghina orang yang dia benci itu saat mereka sedang bertatap muka? I don’t think so.

Budaya internet ini cukup bikin gue sebagai orang Indonesia kaget. Orang Indonesia terkenal lebih tertutup, lebih banyak sungkannya, lebih banyak tidak berani bicara terus terang. Meski demikian, saat sudah masuk ranah internet, isi ocehannya bisa lebih parah dari orang bule yang aslinya sudah blak-blakan. Sudah sampai tahap di mana ciri khas keramahtamahan orang Indonesia sudah tidak lagi tampak. Sudah tidak ada lagi perilaku berhati-hati untuk menjaga perasaan orang lain. Mereka seolah lupa bahwa orang yang mereka hina di dunia maya adalah orang yang juga punya perasaan di dunia nyata.

Jika sudah begitu, menurut gue, orang Indonesia tidak lagi tampak sopan dan santunnya. Aslinya mereka bukan sungkan, mereka hanya tidak punya keberanian untuk bisa bicara langsung alias beraninya cuma di internet saja. Teman gue malah pernah bilang begini, “Ah, di IG aja si artis dimaki-maki… kalo ketemu langsung juga diajak foto bareng!”

Gue nulis begini juga termasuk nekad sebenarnya… tidak menutup kemungkinan akan ada lagi angry netizen yang tidak suka dengan tulisan gue ini. Tapi, jika benar tulisan ini bikin kalian tersinggung, coba kalian tanya sama diri kalian sendiri, “Are you really that low?”

Ingat, ada orang bijak yang bilang energi mengalir ke tempat di mana fokus kita berada. Kalau fokus kalian malah mencari kejelekan orang lain, maka energi kalian juga akan habis untuk hinaan yang tidak membuat kalian jadi lebih baik. Boleh bebas berpendapat, tapi ada aturan mainnya. Kalau kalian tidak suka dihina, jangan menghina. It’s simple, isn’t it?

Mencabut Duri dalam Daging

Ada salah satu teman lama yang rutin bertanya via WhatsApp, “Elo udah married belum, Fa?” Padahal dia tahu jawabannya, tapi tetap saja, dia rajin WA gue hanya untuk mengulang pertanyaan yang sama. Dan tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah gue menjawab, teman yang satu ini akan selalu menimpali dengan komentar-komentar yang luar biasa tajamnya. Contoh, “Elo kan udah tua, Nek, masa’ masih jomblo aja?”

Tipe teman yang bikin gue menghela napas… sungguh sulit jadi perempuan single di usia 30-an di Indonesia ini.

Saat mendengar cerita itu, salah satu sahabat gue berkomentar, “Kenapa juga elo mesti bales semua WA dia? Cuekin aja! Nggak ada gunanya balas-balas WA dia.”

Gue menghelas napas lagi… Kalau gue cuekin, image gue akan terlihat semakin jelek. Bisa-bisa teman lama gue itu akan semakin nyinyir dengan bilang begini, “Sensitif banget ih… pasti deh dia sensi gitu karena belum married.”

Karena benar deh… Kenyinyiran sesama perempuan Indonesia untuk topik ini memang bisa sebegitu kejamnya. Contohnya, opini publik soal cewek yang suka marah-marah. Kalau cewek tersebut sudah married, komentar publik biasanya hanya begini saja, “Dasar emak-emak bawel!” Tapi kalau cewek tersebut belum married, komentar publik, “Tuh kan… dia galak sih, makanya nggak ada cowok yang mau sama dia.” Atau seperti yang gue sebutkan di atas, “Dia jadi judes dan sensi gitu karena stres belum married kali ya.”

Karena malas mendengar komentar seperti itu makanya gue lebih memilih untuk pura-pura manis depan si tukang nyinyir. Capek, tapi mau gimana lagi?

Gue tetap sok-sok sabar sampai suatu kejadian yang tidak bisa gue ceritakan mengubah jalan pikiran gue. Kejadian yang menyadarkan gue bahwa “telat” menikah bukanlah satu-satunya keputusan gue yang bisa jadi sasaran empuk untuk dikomentari secara negatif. Menikah bukan berarti segelintir tukang nyinyir itu akan berhenti mengomentari jalan hidup gue. Ada banyak pilihan hidup gue nantinya yang sifatnya tidak lazim di mata orang Indonesia pada umumnya. Pilihan-pilihan yang jika gue tulis di sini pasti hanya akan disambut oleh komentar-komentar yang tidak menyenangkan.

Setelah gue pikir-pikir lagi, memang benar tidak ada gunanya gue meladeni si tukang nyinyir. Membiarkan mereka tetap ada dalam hidup gue sama saja memelihara duri dalam daging gue sendiri: mereka akan terus dan terus menyakiti gue dari dalam.

Minggu lalu, si teman lama yang suka nyinyir itu kembali WA gue. Tidak langsung gue buka pesannya. Gue berpikir dulu. Dan akhirnya gue putuskan; gue tidak akan lagi membalas pesan-pesan dia. Memang sih, tidak baik memutus tali silaturahmi. Tapi kalau dipikir lagi, apakah masih silaturahmi namanya jika tujuannya hanya untuk menyakiti perasaan gue saja? Gue malah berpikiran, dengan tidak gue balas, gue justru menghindarkan dia dari dosa karena terus-terusan menyakiti perasaan gue, hehehehe.

Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang pernah melewati segala hal yang pernah gue lewati sehingga tidak ada satu orangpun yang bisa sepenuhnya memahami alasan-alasan yang kemudian membentuk pilihan-pilihan gue. Tidak ada satupun yang akan pernah benar-benar mengerti, sehingga tidak ada satupun dari mereka yang memiliki hak untuk menghakimi keputusan-keputusan gue itu.

Only God who can judge me and my decisions, and that’s that.

Key of Happiness: Set Zero Expectation on Anyone Else

Ada serentetan kejadian dua tahun belakangan ini yang membuat gue memutuskan untuk berhenti menaruh harapan kepada orang lain. Siapapun orangnya, sebaik apapun kelihatannya, gue lebih memilih untuk tidak menyimpan ekspektasi apa-apa. Dan bukan cuma itu, jika dulu gue selalu memulai perkenalan dengan orang lain dengan modal kepercayaan 100% di awal, sekarang justru sebaliknya. Gue lebih memilih untuk bersikap skeptis dan membiarkan orang lain “menentukan” sendiri seberapa jauh gue bisa percaya dengan perkataan dan perbuatan mereka.

And did you know? My life becomes happier and happier ever since the day I decided reduce my expectations on other people down to zero.

Gue jadi tidak lagi sakit hati saat ada orang yang gue anggap teman baik tiba-tiba datang “menyerang” gue dengan pertanyaan atau pernyataan yang menyakitkan hati (gue juga heran kenapa selalu ada saja orang iseng dan nyinyir seperti ini).

Gue tidak lagi kaget saat orang-orang yang gue kira memihak gue malah bermanis-manis dengan orang yang jelas-jelas berusaha memusuhi atau menyakiti gue.

Gue tidak lagi ambil hati apalagi sampai berkecil hati saat ada orang lain yang berbohong dan mengingkari janji-janjinya. Saat ada orang lain berjanji, gue akan lupakan saja dan tidak pernah lagi berharap mereka akan ingat untuk menepatinya.

Gue tidak pernah lagi menyesali diri gue sendiri saat orang-orang yang dulu dekat dengan gue perlahan menarik diri tanpa ada penjelasan apa-apa. Seorang teman pernah menasehati, “Not everyone is your cup of tea.”

Gue juga tidak pernah lagi ambil pusing saat ada orang-orang yang hanya baik sama gue saat mereka ada maunya atau perlunya saja.

Gue bahkan tidak pernah lagi berharap orang yang gue berikan pertolongan, atau orang-orang yang pernah gue perjuangkan kelak akan ingat untuk membalas budi. Prinsip gue sekarang; berikan… lalu lupakan.

Dulu, tiap kali ada orang lain let me down, reaksi gue, “Kok bisa ya? Emangnya gue salah apa?” Tapi sekarang, reaksi gue sudah sangat jauh berbeda. Gue cuma menghela napas sambil bilang sama diri gue sendiri, “Oh well, of course they do. And it’s not me, it’s them.”

Saat ada orang yang merasa perlu merusak kebahagiaan gue, saat ada orang yang memilih untuk bermuka dua, saat ada orang berbohong atau tidak menepati janjinya, atau saat ada orang yang hanya ingin memanfaatkan gue saja, maka semua itu bukan salah gue. Makanya gue bilang sebelumnya, “It’s not me, it’s them.”

Ada kalanya gue harus instropeksi diri, tapi menyalahkan diri sendiri atas prilaku orang lain yang masih bermasalah dengan dirinya sendiri jelas bukan pilihan yang bijak.

Mungkin sampai sini, tulisan gue terlihat suram. Tapi sebetulnya tidak juga. Seperti yang gue tulis di atas; berhenti menaruh harapan pada orang lain justru membuat gue lebih bahagia. Kenapa bisa begitu?

  1. Karena sekarang, sudah nyaris tidak ada lagi hal-hal yang bisa melukai perasaan gue. Banyak hal buruk yang sudah gue duga sejak awal; dan
  2. Rendahnya ekspektasi justru membuat gue jadi lebih mudah terkesan dengan orang-orang yang ternyata lebih baik daripada dugaan gue.

Ironisnya, jumlah orang di kelompok 1 di atas entah kenapa jauh lebih banyak daripada kelompok 2. Dengan standar yang sudah sangat rendah pun, tetap lebih banyak orang yang tidak bisa memberikan kesan baik untuk diri mereka sendiri. Gue awalnya sampai bingung sendiri, “Apa sih susahnya menjadi orang yang punya integrity? Atau kalau memang tidak bisa jadi orang baik, setidaknya jangan jahat.” Tapi sekarang, gue sudah tidak ambil pusing. Hidup ini memang berat, dan orang yang tidak cukup kuat tidak akan punya cukup energi untuk mengendalikan dirinya sendiri. Itu pangkal masalahnya, dan sekali lagi, “It’s not me, it’s them.”

Awal tahun ini gue sempat merasa khawatir dengan diri gue sendiri. Kenapa gue jadi negatif begini ya? Sampai kemudian belum lama ini, gue menemukan tulisan ini, “When one’s expectations are reduced to zero, one really appreciate everything one does have – Stephen Hawking.”

Dari situ gue mulai menyadari bahwa sebetulnya gue sudah mengambil pilihan yang tepat. Gue juga mulai melihat perubahan pola pikir gue dari sudut pandang yang berbeda. Gue bukan negatif, gue hanya memilih untuk bersikap lebih realistis.

Gue sudah berhenti berusaha mengambil hati orang-orang di sekitar gue. Orang yang mendukung gue akan tetap ada di sisi gue tanpa harus gue minta-minta.

Gue sudah berhenti berusaha menjadi pahlawan kesiangan. Gue tidak akan pernah bisa mengubah orang lain. Sekeras apapun gue berusaha untuk menolong, tetap hanya orang itu sendiri yang bisa menolong dan mengubah diri mereka sendiri.

Dan yang paling penting, gue sudah berhenti memberikan banyak ruang untuk orang lain dalam hati dan pikiran gue.

Saat ini, hidup gue terasa lebih tenang, dan ternyata, kedamaian hati dan pikiran itu banyak manfaatnya! Gue jadi lebih fokus mengurus dan menata hidup gue sendiri, gue jadi punya lebih banyak energi untuk memikirkan solusi atas permasalahan yang tengah gue hadapi, dan yang paling menyenangkan, gue jadi lebih mampu membahagiakan diri gue sendiri!

Life is too short to be unhappy, and I’m glad that I’ve found a new way to be happier!

Pentingnya “Data Driven Decision” dalam Kehidupan Sehari-hari

Dulu, pernah ada salah satu kenalan saya yang sangat vokal menyuarakan ketidaksukaan dia atas segala sesuatu di lingkungan kerja dia.

Dia sering bilang, “Bos gue sering marah-marah.” Atau, “Banyak yang nggak betah kerja di sini.”

Kemudian saya tanya, “Memangnya seberapa sering dia marah-marah?”

Setelah berpikir sejenak, dia bilang, “Nggak tiap hari marah-marah sih, tapi bla bla bla.” Dia lanjutkan dengan pernyataan-pernyataan lain yang sifatnya sangat subjektif.

Pernah juga saya tanya, “Memang seberapa banyak orang yang nggak betah kerja di sana?”

Dia bilang, “Dua dari tiga, termasuk gue. Tim under bos gue kan emang cuma kita-kita aja, jadi ya 2 dari 3 itu banyak namanya.”

Jika merujuk pada penggunaan bahasa yang baik dan benar, sering itu artinya “most of the times“. Kemudian, banyak itu setidaknya “hampir mayoritas”. Kebetulan mengenal satu atau dua orang lain yang berpendapat sama tidak bisa langsung kita nyatakan sebagai “banyak”.

Lalu bagaimana jika jumlahnya 2 dari 3?

Well, tahukan kamu bahwa ahli statistik yang sudah sering melakukan research tidak akan berani mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sedikit data? Sebelum memulai analisa, mereka akan pastikan dulu bahwa jumlah data yang mereka kumpulkan sudah cukup banyak sehingga mampu merepresentasikan suatu kesimpulan.

Jika ahli statistik saja sangat berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, kenapa kita yang cuma punya sedikit coincidences bisa-bisanya langsung menghakimi dan menyebarluaskan judgement yang belum tentu benar keadaannya?

Saya akui saya juga pernah gegabah melakukan kesalahan yang sama. Dulu, saya pernah merasa banyak orang di lingkungan baru saya yang sangat suka berbohong. Kemudian saya iseng-iseng menghitung jumlah orang yang suka berbohong di tempat itu. Hasilnya? Tidak sampai 30%. Memang tidak sedikit, tapi tidak juga seburuk yang saya rasa sebelumnya. Hanya dengan perhitungan sederhana itu saja kepercayaan saya pada mereka langsung berangsur membaik. Tidak adil rasanya jika saya menyamaratakan semua orang hanya karena perkara segelintir orang saja.

Sejak itu, saya tidak lagi sembarangan melipatgandakan segala sesuatu hanya berdasarkan “kira-kira” atau berdasarkan luapan emosi yang tanpa saya sadari membuat saya menjadi hiperbolis. Jika saya bilang banyak, berarti memang betulan banyak. Jika saya punya angka pasti, atau setidaknya kisaran angka, maka saya akan lebih memilih menyebut angka tersebut ketimbang penggunaan kata “sedikit” dan “banyak” atau “jarang” dan “sering”. Itu pula alasan yang sama yang membuat saya sering bertanya kepada lawan bicara saya, “How much is it exactly?” Atau “How often does it happen?”

Ini yang gue maksud dengan pentingnya data driven decision in daily life. Sembarangan mengambil kesimpulan bisa jadi keputusan yang merugikan orang lain, dan tidak mustahil, merugikan diri kita sendiri juga. Penilaian yang sembarangan akan membuat tingkat kepercayaan orang lain atas pendapat kita menjadi perlahan menurun, bisa merusak image pribadi kita juga dengan anggapan kita ini cenderung lebay dalam menafsirkan sesuatu. Belum lagi resiko kita menyakiti orang lain dengan menyebar fitnah yang hanya berdasarkan data kira-kira.

Kita boleh saja curhat dengan teman, lebih boleh lagi menyampaikan kritik langsung kepada orang ybs, TAPI, pastikan kita sudah quantify pernyataan kita sebelum kita tuduhkan kepada orang lain. Jangan dilebih-lebihkan, jangan pula dikurang-kurangi. Ada tanggung jawab moril atas judgment yang kita sebar luaskan, jadi jangan sembarangan!

Ingat kata pepatah: mulutmu, harimaumu.

3 Unusual Advices I Learned from My Psychologists

I’m not ashamed of the fact that I occasionally visit psychologist just to consult about my everyday life. I know that I’m not the most miserable person on earth, but it doesn’t mean I don’t deserve a professional’s help on my problems.

One thing I like the most about my sessions with psychologists is that they often challenge traditional paradigms that lead me to think outside the box. Here are my most favorite quotes I got from my psychologists:

  1. “You have to know the reason why you fall for him, otherwise, you won’t have any good reasons to hold on when life gets rough between you two.” I find it’s so true in so many ways! This advice fits better in reality rather than “I love him for no reason” as we often heard from a fairytale. It’s always good to do some reality check and ask ourselves, “Is it worth fighting for?”
  2. “Dating at this age is no longer about getting through the thick and thin together. Every individual should be responsible for their own problem instead of dragging the other one into their personal problem.” I know it might not sound ideal, but again, it’s always good to do a reality check! It’s not a healthy relationship if you have to fix your loved one’s problems over and over again. Both people in a relationship should have a strong will to change and help themselves; and
  3. “Negative thoughts towards anything new after an incident is actually a good thing. It means you learn something from your past mistake and you choose to be more careful to prevent the same thing from happening again. Give yourself some times to heal and it will eventually fade away.” It was such a relief for me to hear that!

I’ve come to learn that what we often heard among the society is not always the perfect fit. We’re only human and angelic advice is not always working well due our imperfections as a human. This is a real life after all, not a fairytale! Try to get real and feel the different!

Lesson from a New Wallet and Old Pair of Shoes

Ceritanya gue beli dompet baru untuk menggantikan dompet lama yang sudah usang. Gue lalu pergi ke Kate Spade Kokas dengan harapan akan menemukan dompet model terbaru yang belum dijual oleh online shops di Instagram atau Tokopedia. Kalau gue cuma mau beli dompet Kate Spade model lama (yang cuma polos-polos aja), harga di online stores bisa jauh lebih murah.

Sesampainya di sana, gue tidak bisa menemukan model dompet yang sesuai harapan gue. Ada yang bagus warnanya, tapi jelek modelnya. Begitu juga sebaliknya. Gue sempat keluar dari toko, lalu gue masuk kembali, dan setelah menimbang agak lama, gue beli dompet pink yang gue sangat suka dengan warna dan ukuran dompetnya. Masalanya cuma satu: dompet ini modelnya agak terlalu sederhana. Cuma kelihatan sedikit berbeda dengan dompet Kate Spade keluaran lama. Tapi nggak papa. Sentuhan aksen pita dan deretan batu menyerupai permatanya itu terlihat cantik dan serasi dengan warna dompetnya.

Saking seringnya belanja di Kate Spade, gue tidak cek harga terlebih dulu. Gue langsung bayar ke kasir. Saat kasir menyebutkan harga, dalam hati gue cukup kaget juga. Sejak kapan harga dompet Kate Spade jadi semahal itu? Sekitar 40% lebih mahal dari biasanya. Karena batu-batuan yang menyerupai permata itu kah? Tapi apa boleh buat. Kasihan SPG-nya kalau sampai batal. Harganya masih masuk budget gue dan gue hanya kecewa karena untuk model sederhana seperti itu biasa dijual dengan harga lebih murah. Gue butuh banget dompet baru dan mungkin, memang ada yang istimewa dari dompet pink itu.

Dan ternyata, memang benar ada sesuatu yang istimewa dengan dompet baru gue itu. Belum sampai satu hari, gue langsung jatuh cinta dengan dompet gue sendiri. Gue senang lihatnya, senang tiap kali mengeluarkan dompet dari dalam tas. Gue sering bilang sama diri gue sendiri, “Aduh, cantiknya dompet gue!” Dan jika gue perhatikan, batu-batu di dompet gue itu memang membuat dompetnya terlihat lebih menawan, dan lebih mewah juga. Akhirnya gue bilang sama diri gue sendiri, “Ok, it is worth the price.”

Kejadian dompet itu lalu mengingatkan gue dengan sandal usang gue belasan tahun yang lalu. Waktu itu, ceritanya bokap beliin gue sandal baru sebagai hadiah. Awalnya, gue enggak suka sama sandal itu. Sandal gunung yang lebih cocok untuk anak cowok. Tapi karena enggak mau mengecewakan bokap, gue putuskan untuk mulai pakai sandal gunung yang ternyata nyaman banget dipakai itu! Sandal itu akhirnya jadi sandal favorit gue dan masih saja gue pakai saat mereka mulai tampak menua. Biasanya gue tipe orang yang saat usang sedikit saja akan langsung gue ganti dengan yang baru, tapi kali itu gue tetap saja suka memakai si sandal gunung untuk acara-acara kasual. Gue tetap pakai, sampai suatu hari teman gue meminta sandal itu dari gue. Dia tahu gue tipe orang yang suka memberikan barang gue yang sudah agak usang ke orang lain, dan waktu itu dia benar-benar butuh sandal “baru” untuk mengganti sandal dia yang sudah rusak berat. He needed them more than I did, so there I gave them anyway.

Apa kesamaan dari cerita dompet baru dan sandal tua gue itu? Kesamaannya adalah belajar menerima apa yang sudah kita miliki, karena bisa jadi, hal itu akan menjadi hal terbaik yang pernah kita miliki.

Some things will always seem too much or too little for us in the beginning, we will never know their real value to us until we give it a shot.

Akhir-akhir ini, gue harus melewati beberapa perubahan besar dalam hidup gue dan tidak semuanya terasa menyenangkan. Tulisan ini pun sebetulnya gue tulis untuk jadi reminder bahwa bisa jadi, perubahan ini juga akan jadi hal-hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup gue ini. Dijalani dulu, dengan ikhlas, baru nanti gue boleh menghakimi keputusan gue sendiri di kemudian hari.

Perfect life is impossible to find, but many things like my new wallet and old sandals have unexpectedly made my life way beyond awesome! Take a deep breath and here I am, starting my new life!

Cheers!

Riffa

Micky, My Blind Cat

Berawal dari Instagram post orang lain yang bercerita tentang anjing yang kehilangan mata kanannya, gue jadi teringat dengan kucing gue yang buta kedua matanya sejak masih baru dilahirkan. Micky namanya.

Mata Micky sangat jelas terlihat aneh. Sangat sipit dan terlihat seperti tidak ada bola matanya. Waktu umur Micky baru beberapa bulan, gue pernah coba bawa Micky ke dokter hewan. Ternyata posisi mata Micky terbalik, harus dioperasi untuk diputar ke depan. Operasi besar yang cukup tinggi resikonya dan belum tentu terjamin keberhasilannya. Gue enggak tega membiarkan Micky naik ke meja operasi, dia cuma akan kesakitan dan belum tentu akan sembuh setelah operasinya.

Gue bawa pulang Micky ke rumah. Meski buta kedua matanya, Micky baik-baik saja. Micky sudah menghapal seluk-beluk rumah, dia bahkan bisa berkeliaran bolak-balik ke rumah seberang yang tidak lain rumah salah satu adik kandung gue. Micky tahu di mana letak pagar dan tangga, dia tahu kapan harus berhenti dan bersiap untuk melompat naik. Micky juga dapat mengenali suara kendaraan bermotor, dia akan berhenti saat mendengar suara mesin di sekitar dia. Micky memang buta, tapi dia bisa hidup baik dengan indera pendengarannya. Micky juga masih bisa kawin, jangan tanya gue gimana caranya, hehehehe.

Awalnya, gue sering sedih saat melihat Micky. Anak-anak tetangga sering meneriaki Micky “si kucing buta” sambil menunjuk-nunjuk Micky yang sedang duduk di teras rumah. Micky juga bukan kucing kesayangan orang rumah, dia kalah lucu dengan kucing-kucing kami yang lainnya. Micky juga sering mengalah saat berebut makanan dengan kucing-kucing lain, gue sering lihat dia makan makanan sisa kucing-kucing lainnya itu.

Saat gue pindah dari rumah ortu untuk tinggal sendiri di rumah kost, gue sering menitipkan pesan khusus ke keluarga gue untuk tidak lupa memberikan makanan terpisah buat Micky, sama seperti yang biasa gue lakukan setiap harinya. Setiap kali gue makan ayam atau ikan, gue juga sisakan sedikit dagingnya lalu gue akan kasih sisa makanan gue itu hanya untuk Micky saja (gue enggak tega jika hanya kasih dia tulangnya saja, gizinya jadi kurang banyak). Kadang, gue duduk di sebelah Micky sampai dia menghabiskan makanannya, hanya untuk memastikan makanan dia tidak direbut kucing-kucing lainnya.

Mungkin memang aneh, gue malah lebih sayang sama kucing jelek yang buta matanya (Micky juga terlihat lebih kotor dibanding kucing lain di rumah). Orang lain mungkin akan jijik. Padahal sebetulnya, Micky kucing yang sehat, dia hanya buta dan agak kotor saja (makin gampang terlihat kotor karena bulunya berwarna putih). Micky memang bukan kucing yang menggemaskan, tapi tiap kali melihat dia sedang makan lahap, gue sering berpikir, “Micky memang buta, tapi dia akan jadi cahaya dalam masa-masa tergelap dalam hidup gue.”

Mungkin terdengar lebay, mellow, dan tidak masuk akal, tapi memang benar begitu kenyataannya. Melihat Micky yang masih lincah dan senang bermain sering membuat gue merasa bersemangat saat hidup gue sedang dirundung banyak masalah. Micky seperti mengingatkan gue untuk tetap menikmati hidup terlepas segala kekurangan dan rintangan yang menghambat gerak langkah gue. Selain itu, melihat Micky makan lahap selalu membuat gue merasa lebih baik. It just feels good knowing that I’m doing something good even if it’s just for a blind old cat.

Micky tidak bisa melihat, tapi Micky berhasil hidup sampai tua. Hidup dengan baik, dengan kelincahan dan kemanjaannya. Hanya saja sayangnya, gue tidak bisa ingat kapan terakhir kalinya gue melihat Micky. Suatu waktu, dia menghilang begitu saja. Micky tidak pernah lagi ada tiap kali gue pulang ke rumah orang tua. Dengan sendirinya gue tahu, Micky sudah enggak ada. Micky tidak pernah bisa pergi jauh dari rumah, jadi jika dia sudah tidak terlihat, berarti dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Micky sudah punya rumah baru, Micky sudah tidak lagi berjuang dengan kebutaannya.

Sudah lama gue tidak menangisi kucing gue yang sudah pergi, tapi menulis ini ternyata bikin gue jadi sedih sendiri. Air mata gue menetes sendiri. Jadi semakin terasa bahwa kini Micky sudah pergi. Tidak ada lagi kucing yang mesti gue tunggu sampai habis semua makanannya. Tidak ada lagi kucing yang membuat gue ngerasa cemas tiap kali melihat dia berjalan zig-zag saat menyeberang jalan menuju ke rumah. Tidak ada lagi Micky yang membuat gue merasa bersemangat hanya dengan melihat kelincahannya saja.

Membesarkan hewan peliharaan membuat gue belajar bertanggung jawab, dan membesarkan Micky secara khusus mengajarkan gue belas kasihan. Kemudian yang tidak kalah penting; memelihara Micky mengajari gue untuk untuk menerima ketidaksempurnaan, menyayangi tanpa syarat, dan mensyukuri hidup ini lengkap dengan segala kekurangan di dalamnya.

Goodbye Micky, you know you were loved, and will always be loved.

Forever in love with you,

Riffa.