A journey to remember

Key of Happiness: Set Zero Expectation on Anyone Else

Posted on: March 24, 2018

Ada serentetan kejadian dua tahun belakangan ini yang membuat gue memutuskan untuk berhenti menaruh harapan kepada orang lain. Siapapun orangnya, sebaik apapun kelihatannya, gue lebih memilih untuk tidak menyimpan ekspektasi apa-apa. Dan bukan cuma itu, jika dulu gue selalu memulai perkenalan dengan orang lain dengan modal kepercayaan 100% di awal, sekarang justru sebaliknya. Gue lebih memilih untuk bersikap skeptis dan membiarkan orang lain “menentukan” sendiri seberapa jauh gue bisa percaya dengan perkataan dan perbuatan mereka.

And did you know? My life becomes happier and happier ever since the day I decided reduce my expectations on other people down to zero.

Gue jadi tidak lagi sakit hati saat ada orang yang gue anggap teman baik tiba-tiba datang “menyerang” gue dengan pertanyaan atau pernyataan yang menyakitkan hati (gue juga heran kenapa selalu ada saja orang iseng dan nyinyir seperti ini).

Gue tidak lagi kaget saat orang-orang yang gue kira memihak gue malah bermanis-manis dengan orang yang jelas-jelas berusaha memusuhi atau menyakiti gue.

Gue tidak lagi ambil hati apalagi sampai berkecil hati saat ada orang lain yang berbohong dan mengingkari janji-janjinya. Saat ada orang lain berjanji, gue akan lupakan saja dan tidak pernah lagi berharap mereka akan ingat untuk menepatinya.

Gue tidak pernah lagi menyesali diri gue sendiri saat orang-orang yang dulu dekat dengan gue perlahan menarik diri tanpa ada penjelasan apa-apa. Seorang teman pernah menasehati, “Not everyone is your cup of tea.”

Gue juga tidak pernah lagi ambil pusing saat ada orang-orang yang hanya baik sama gue saat mereka ada maunya atau perlunya saja.

Gue bahkan tidak pernah lagi berharap orang yang gue berikan pertolongan, atau orang-orang yang pernah gue perjuangkan kelak akan ingat untuk membalas budi. Prinsip gue sekarang; berikan… lalu lupakan.

Dulu, tiap kali ada orang lain let me down, reaksi gue, “Kok bisa ya? Emangnya gue salah apa?” Tapi sekarang, reaksi gue sudah sangat jauh berbeda. Gue cuma menghela napas sambil bilang sama diri gue sendiri, “Oh well, of course they do. And it’s not me, it’s them.”

Saat ada orang yang merasa perlu merusak kebahagiaan gue, saat ada orang yang memilih untuk bermuka dua, saat ada orang berbohong atau tidak menepati janjinya, atau saat ada orang yang hanya ingin memanfaatkan gue saja, maka semua itu bukan salah gue. Makanya gue bilang sebelumnya, “It’s not me, it’s them.”

Ada kalanya gue harus instropeksi diri, tapi menyalahkan diri sendiri atas prilaku orang lain yang masih bermasalah dengan dirinya sendiri jelas bukan pilihan yang bijak.

Mungkin sampai sini, tulisan gue terlihat suram. Tapi sebetulnya tidak juga. Seperti yang gue tulis di atas; berhenti menaruh harapan pada orang lain justru membuat gue lebih bahagia. Kenapa bisa begitu?

  1. Karena sekarang, sudah nyaris tidak ada lagi hal-hal yang bisa melukai perasaan gue. Banyak hal buruk yang sudah gue duga sejak awal; dan
  2. Rendahnya ekspektasi justru membuat gue jadi lebih mudah terkesan dengan orang-orang yang ternyata lebih baik daripada dugaan gue.

Ironisnya, jumlah orang di kelompok 1 di atas entah kenapa jauh lebih banyak daripada kelompok 2. Dengan standar yang sudah sangat rendah pun, tetap lebih banyak orang yang tidak bisa memberikan kesan baik untuk diri mereka sendiri. Gue awalnya sampai bingung sendiri, “Apa sih susahnya menjadi orang yang punya integrity? Atau kalau memang tidak bisa jadi orang baik, setidaknya jangan jahat.” Tapi sekarang, gue sudah tidak ambil pusing. Hidup ini memang berat, dan orang yang tidak cukup kuat tidak akan punya cukup energi untuk mengendalikan dirinya sendiri. Itu pangkal masalahnya, dan sekali lagi, “It’s not me, it’s them.”

Awal tahun ini gue sempat merasa khawatir dengan diri gue sendiri. Kenapa gue jadi negatif begini ya? Sampai kemudian belum lama ini, gue menemukan tulisan ini, “When one’s expectations are reduced to zero, one really appreciate everything one does have – Stephen Hawking.”

Dari situ gue mulai menyadari bahwa sebetulnya gue sudah mengambil pilihan yang tepat. Gue juga mulai melihat perubahan pola pikir gue dari sudut pandang yang berbeda. Gue bukan negatif, gue hanya memilih untuk bersikap lebih realistis.

Gue sudah berhenti berusaha mengambil hati orang-orang di sekitar gue. Orang yang mendukung gue akan tetap ada di sisi gue tanpa harus gue minta-minta.

Gue sudah berhenti berusaha menjadi pahlawan kesiangan. Gue tidak akan pernah bisa mengubah orang lain. Sekeras apapun gue berusaha untuk menolong, tetap hanya orang itu sendiri yang bisa menolong dan mengubah diri mereka sendiri.

Dan yang paling penting, gue sudah berhenti memberikan banyak ruang untuk orang lain dalam hati dan pikiran gue.

Saat ini, hidup gue terasa lebih tenang, dan ternyata, kedamaian hati dan pikiran itu banyak manfaatnya! Gue jadi lebih fokus mengurus dan menata hidup gue sendiri, gue jadi punya lebih banyak energi untuk memikirkan solusi atas permasalahan yang tengah gue hadapi, dan yang paling menyenangkan, gue jadi lebih mampu membahagiakan diri gue sendiri!

Life is too short to be unhappy, and I’m glad that I’ve found a new way to be happier!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 962,959 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click the pictures below to visit my Instagram...

I used to read a quote written by my former lecture saying that even a bad decision would always be much better than no decision at all. It reminded me of the decisions I put on hold and I asked myself, “What prevents me from making all those decisions?” I could instantly listed down many personal reasons that didn’t even sound good to myself. So there I made a couple of decisions; the good ones and the bad ones, and apparently it was so true: even bad decision was still better than no decision at all. First of all, it helped me to move on. I no longer waited for this and that; I made decisions and I started to make the actions. It also gave me a peace of mind knowing that I owed nothing to anyone, not even to myself. And most importantly, all those decisions made me learn, notably the bad ones. It’s not that I intentionally made a bad one, but well, how did I know my decision was bad until I gave it a try? Ever since the day I decided to stop putting my decisions on hold, my life felt a lot lighter and I have never been more proud of myself. Other people might not be happy with my decisions, but I only do what I’ve got to do and they can’t blame me for having courage to do the things they’re not willing to do. If it holds me back and nobody wants to make the call, then let me do the honor. It’s actually that simple, and again, it sets me free.
My biggest career goal is always running my own business. I have been an entrepreneur even since I was a seven years old. I was never hesitate everytime I saw an opportunity to earn some cash to buy toys and comic books. Graduating from college and starting my first corporate job has stopped me from doing my own business. I was too busy to do something else beside my main job. I tried to run a small jewelry business but then I got bored. I came to learn that if I want to start a business, I have to do something bigger. But of course, a bigger scale own business will also require a bigger effort! The comfort of corporate job made me decide to postpone starting a new business until at some point, it was no longer comforting to me. I still remember one night I went home feeling extremely upset with my boss and I just told myself, “I can’t do this forever. I can do much better than working for a jerk.” Right at that moment, I decided to start my biggest dream: starting my own business. Not so long after that, @thelenstory was born.
There is this one little secret about @thelenstory. There was one particular guy who made me fall deeper with photography. He was so talented he could make an old dirty lamp look beautifully glow in his pictures. I still remember that day on a boat, he took pictures of me and he smiled behind his lens. That kind of smile that made me feel the prettiest girl on earth. I didn’t know why but I just loved seeing this guy holding his camera. I even still loved it when he took pictures of me with his grumpy face! At the end of the day, The Lens Story is way more than just a girl who fell in love. The ups and downs, and all lifetime savings that I’ve spent have been the greatest leap of faith I’ve ever taken in my entire life. That one guy from my past was just a starting point. He was my inspiration, he made me believe that there were many hidden talents like him out there and I would be more than happy to help them start their professional career in photography. That was the very beginning story on how my start-up was born, and to me, that will always be one of my favorite stories to tell.

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements
%d bloggers like this: