This Girl is On Fire!

Sudah jadi cita-cita sejak jamannya masih kanak-kanak, gue kepingin ngerasain kuliah di luar negeri. Setelah kerja, keinginan untuk hal itu terasa semakin kuat. Gue kepingin banting setir, kepingin kerja jadi Business Consultant di Consulting Company papan atas, dan untuk itu, gue harus punya gelar MBA. Secara program MBA itu cuma ada di luar negeri dan terkenal sangat mahal, beasiswa sudah jadi satu-satunya option buat gue.

Dua tahun yang lalu, gue pernah coba apply beasiswa yang disediakan pemerintah Australia. Gue pilih MBA meskipun sebetulnya tidak ada di preferred program mereka. Lalu hasilnya? Gagal, tentu saja, secara sampe sekarang gue masih di sini-sini aja 😀 Kemudian dari hasil ngobrol-ngobrol sama beberapa blog reader yang pernah dapet MBA scholarshipgue disarankan coba Fullbright (program beasiswa US) dan harus kejar GMAT score setinggi-tingginya. 

Sejujurnya, saat tahu soal GMAT, semangat gue sempat mengendur. I’m not good at Math, at all. Itulah alasannya kenapa gue bisa jago Microsoft Excel, salah satunya demi menutupi kekurangan gue buat urusan matematika 😀 Kemudian sempat ada kenalan yang menyemangati… GMAT score masih bisa didongkrak dengan kursus. Yang penting, good English and knows the trick. Gue pun mulai nge-Google, dan ketemu satu tempat kursus GMAT yang paling populer di Jakarta: PASCAL. Gue simpan link-nya, dan berniat daftar jika ada waktu luang.

Seiring berjalannya waktu, soal ikut GMAT preparation class seolah terlupakan dengan sendirinya. Dan tau-tau aja, gue malah udah siap-siap mau ambil PPAK! Kenapa gue malah memprioritaskan PPAK meskipun dalam hati kecil, gue kepingin banting setir dan meninggalkan dunia akuntansi?

Well, accounting is my comfort zone. There’s no doubt, I am good at it. Gue pernah coba karier jadi accounting software consultant, auditor, lalu sekarang, company accountant, dan semuanya selalu berjalan mulus. Dan gue khawatir… keberhasilan yang sama tidak akan gue dapatkan kalo gue banting setir. Makanya, gue pikir PPAK bakal lebih sesuai buat gue daripada GMAT program

Alasan lainnya, bekerja jadi business consultant sama saja gue kembali kepada kehidupan karier tanpa jeda. Crazy overtime and working from client to client… Gue masih ingat gimana beratnya hidup dengan jam tidur kurang dari 6 jam setiap harinya. Bangun tidur susahnya setengah mati, jadi dapet penyakit yang nggak pernah gue derita sebelumnya, nggak punya cukup waktu buat mikirin penampilan… Do I really want to go back to that kind of life? Belum lagi kenyataan bahwa banting setir = kembali memulai dari 0. Padahal di bidang akuntansi, gue udah sampe level managerial dan insyaallah, gue punya peluang di masa depan untuk sampai di level direksi. Jadi kenapa gue harus banting setir?

Kemudian beberapa waktu belakangan ini, ada serangkaian kejadian yang kembali mengingatkan gue sama impian yang sempat terlupakan itu. Karena suatu company event, gue jadi berkenalan dengan beberapa orang yang punya cool job. They all have the job that I’ve always wanted. Gue terpana banget dengan hanya sekedar ngelihat name cards mereka, dengan sekedar ngelihat betapa kerennya gerak-gerik serta betapa pintarnya mereka… Gue sampe bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Why am I still here?”

Di saat yang sama, gara-gara kesibukan kerja, gue jadi telat daftar kuliah PPAK gelombang bulan April. Kelas yang gue inginkan udah keburu penuh! Kalau mau, gue harus ambil kelas yang lokasinya jauh banget dari kantor, atau, ikut di lokasi yang diinginkan tapi itupun nanti, baru mulai bulan Agustus! Gila gue pikir… November sampai dengan bulan Mei tahun berikutnya itu busy season-nya accounting. Mana sanggup gue kuliah sambil kerja gila-gilaan dalam waktu yang bersamaan?

Puncaknya malam ini, dosen gue di Binus bikin kultwit tentang beasiswa S2 di luar negeri. Baca serangkaian tweet Ibu dosen bikin gue kembali on fire. Gue emang payah di Matematika, tapi Business Math gue di Binus berhasil dapet A dengan belajar dan latihan 2 kali lebih keras. Kemudian soal jam kerja, lho buktinya, gue kerja jadi Company Accountant juga pun, 4 bulan belakangan ini gue lembur gila-gilaan dan so far gue masih survive aja tuh. Jadi apa salahnya sih, gue coba lagi… coba sekali lagi? Lagipula bukankah… hal ini masih jadi bagian 30 things to do before 30-nya gue?

Memang benar, ikut kelas persiapan belum tentu berhasil dongkrak GMAT score gue. GMAT score sudah menjulang pun, enggak jaminan gue pasti dapet beasiswanya. Dengan beasiswa di tanganpun, enggak jaminan gue bisa diterima kerja di perusahaan impian. Dan yang paling buruk, mendapatkan pekerjaan impian pun bukan berarti gue akan benar-benar bisa menikmatinya. Tapiii, itu semua kan masih dalam bentuk kemungkinan. Mungkin, gue akan gagal, tapi… mungkin, gue juga bisa berhasil.

Gagal atau berhasil, yang penting gue coba dulu. Gue nggak mau terus-terusan menjadi orang yang hanya bisa menatapi betapa kerennya kartu nama orang lain. I have to give it a good fight, my best fight, before I give it up. Kalau ternyata kapasitas otak gue memang enggak akan pernah sampe untuk GMAT yang pantas masuk ke kelas MBA di universitas papan atas, ya sudah, yang penting gue tahu bahwa gue sudah mencoba.

So now… stop talking and tomorrow, first thing in the morning, I will call PASCAL right away to register my name in May 2013 class. Wish me luck!

10 Bad Habit yang Bisa Merusak Masa Depan Karier

  1. Bikin bos serba salah. Dikasih kerjaan gampang, “Ngebosenin! Nggak berkembang kalo begini terus,” tapi giliran dikasih kerjaan susah dikit, “Emang gue dikasih gaji berapa sampe disuruh ngerjain beginian?”
  2. Nggak mau tau ‘dosa-dosa’ masa lalu. “Masalah ini kan bukan gara-gara gue, melainkan gara-gara si A (yang notabene udah resign). Jadi kenapa harus gue yang beresin?”
  3. Paling anti disuruh lembur… Kalaupun akhirnya tetap lembur, kerjanya setengah hati, muka cemberut, dan hasil akhir banyak salahnya;
  4. Bikin report asal jadi, yang penting selesai tepat waktu, tapi isinya sulit dimengerti oleh orang lain, banyak typo alias salah ketik, format berantakan dan nggak enak dilihat;
  5. Keseringan cuti sampai-sampai jatah cuti jadi habis dan kena potong gaji hanya karena berbagai macam alasan. Anak sakit, suami sakit, orang tua sakit, nganter ortu ke sini-situ, nganter anak ke sini-situ…
  6. Cuti di saat peak season. Harusnya untuk yang satu ini, kita bisa sadar dengan sendirinya… jangan pernah cuti di masa-masa yang sudah pasti divisi kita sedang sibuk-sibuknya;
  7. Terlalu sering menjelek-jelekan atasan. Curhat di pantry, di lift, di toilet, curhat sama teman, sama OB, sama teman dari kantor sebelah… Ingat, semakin sering kita curhat, apalagi di tempat umum, semakin besar peluang omongan kita itu sampai ke telinga atasan. Be careful!
  8. Keseringan browsing, chatting, atau main games di jam kerja. Kalaupun ingin sesekali refreshing, pastikan kita menggantinya dengan pulang beberapa menit lebih akhir. Dan ingat satu hal, jangan sampai ketahuan siapapun! Not even your own friend in the office… Hal ini bisa dijadikan senjata oleh orang lain untuk menjatuhkan karier kamu;
  9. Sering bersikap ngelunjak… mentang-mentang tau si bos butuh kita banget. Hati-hati… dalam dunia kerja, akan selalu ada new comers. Kalau kita suka ngelunjak, jika kelak datang 1 saja new comer yang berpotensi menjadi rival, then we’ll be just nobody ever since; dan
  10. Tidak mau otodidak, maunya serba diajari oleh atasan. Supervisi anak buah memang sudah jadi tugas atasan, tapi tetap saja, karyawan yang mampu mengembangkan dirinya selalu sendiri punya peluang yang jauh lebih besar untuk mendapatkan promotion.

Apa sih, Kegunaan Eye Cream?

Awal mula gue rutin pakai eye cream setelah mendengar cerita dari teman sekantor gue, sekitar 2 tahun yang lalu. Teman gue ini bercerita tentang kenalan ibunya yang sudah berusia lanjut, sudah berkeriput di mana-mana, kecuali di daerah mata yang terlihat masih kencang. Ternyata rahasianya, rutin pakai eye cream sejak usia muda (baca: sejak usia 20-an!). Katanya, tidak penting mahal atau murah, yang penting rutin pakai eye cream setiap hari.

Nggak lama kemudian, gue ikutan beli eye cream dan mulai merasakan sendiri manfaatnya. Apa saja? Check this out… 6 manfaat eye cream berdasarkan pengalaman pribadi gue:

  1. Tekstur kelopak mata jadi lebih halus… Sebelumnya entah kenapa, kelopak mata kiri gue itu agak-agak keriting. Hal ini bikin gue jadi suka kesulitan mengaplikasikan garis lurus pencil eye liner di kelopak yang satu ini;
  2. Eye shadow menempel dengan baik. Kalo kulit area mata gue sedang kering, eye shadow yang gue aplikasikan jadi suka berceceran dan jatuh mengotori wajah. Eye cream has helped me reduce this problem;
  3. Make-up mata (eye shadow dan eye liner) tampak lebih terang. Terlihat beda banget hasil akhir riasan saat kulit sedang lembab versus kulit sedang kering;
  4. Make-up mata juga jadi lebih tahan lama. Kalo gue sedang tidak wudhu, riasan mata gue masih terlihat awet sampai malam hari tanpa perlu retouch lho;
  5. Dalam jangka panjang, bisa mengatasi lipatan kelopak mata yang turun. Nggak enaknya punya kelopak besar itu, ada kalanya lipatan kelopak suka berubah dengan sendirinya. Efeknya, mata gue jadi kelihatan kecil sebelah! Again, eye cream has helped me get through this; dan
  6. Mata jadi terasa lebih fresh. Sama lah dengan sensasi yang kita rasakan jika sudah menemukan body lotion yang pas. Kulit jadi terasa lebih nyaman dan enak dipegang.

I’m currently trying: All About Eyes cream by Clinique. Harganya emang mahal, sampai Rp. 450.000 (dan dengar-dengar, sebentar lagi harganya akan naik!) hanya untuk satu pot kecil 15 ml. Tapi gue jadi tergoda gara-gara Clinique bilang, produk ini bisa mengurangi puffy eyes (itu lho… kantung di bawah mata).

All About EyesSelain itu, gue sengaja beli krim yang mahalan dikit dengan harapan, krim ini bisa bantu mencegah dan mengurangi munculnya kerutan di sudut-sudut mata. Berhubung gue baru satu minggu pake eye cream ini, gue juga belum bisa comment apa benar ada eye cream yang bisa mengatasi masalah puffy eyes dan keriput. Apalagi untuk urusan keriput… secara umur gue masih 26, jadi masih belum tau juga seberapa efektifnya eye cream buat urusan keriput. Keriput yang muncul di sekitar mata juga belum ada soalnya…

Jadi kesimpulannya, gue juga merekomendasikan agar jangan ragu untuk mencoba eye cream. Segera mulai sejak menginjak usia 23-25 tahun. Disarankannya sih, pakai eye cream sehari dua kali. Tapi kalo gue cuma sehari sekali menjelang tidur aja, dan hanya dengan begitupun, manfaatnya sudah sangat terasa.

Oh ya, one more tip: tidak perlu mengoleskan eye cream terlalu banyak, cukup ambil sedikit menggunakan ujung jari (make sure sudah cuci tangan pakai sabun yaa), lalu oleskan menggunakan jari manis. Ingat, harus jari manis, karena hanya jari ini yang paling bisa memberikan pijatan lembut untuk mata. Pijat pelan-pelan karena gimanapun, area mata memiliki kulit yang paling sensitif.

Selamat mencoba!

And Now I Know How It Feels…

GIVING ADVICES RULE

Dulu

Gue suka bingung tiap kali baca majalah yang bilang bahwa sebaiknya, kita tidak memberikan advice jika tidak diminta. Bisa jadi, teman ybs hanya ingin didengarkan. Gue pikir, apa salahnya memberikan saran? I’m well known as a great advisor, and what’s wrong with that?

Sekarang

Sekarang gue tau betapa enggak enaknya dinasehati panjang lebar di saat sebenarnya, gue hanya sedang ingin menumpahkan uneg-uneg. Apalagi kalau nasehatnya terkesan menyalahkan gue… Bukannya gue enggak mau terima input, tapi ‘digurui’ saat hati sedang panas yang ada malah bikin hati tambah panas! Niatnya curhat supaya hati lega, yang ada malah tambah kesal…

Sudah sejak beberapa bulan belakangan ini, gue menahan diri untuk tidak asal kasih nasehat. Gue harus cari timing yang pas, kata-kata yang tepat, bahkan, intonasi dan raut wajah yang pas saat mengatakannya. Kemudian untuk posisi sebaliknya, gue juga mulai pilih-pilih tempat curhat. Gue akan lebih memilih curhat dengan teman yang bisa bikin gue ngerasa nyaman, bukan malah bikin gue tambah uring-uringan…

 

STOP COMPLAINING

Dulu

Setiap kali ada teman yang menegur agar jangan suka mengeluh, gue berpikir dalam hati… apa salahnya? Gue kan, hanya ingin mengungkapkan isi hati, supaya lega. Toh yang penting, meskipun gue mengungkapkan keluhan, segala hal yang harus gue kerjakan ya akan tetap gue kerjakan. Makanya dulu itu gue sering bilang sama teman-teman gue, “Aduh kalian ini… kalo misalkan gue curhat, bukan berarti gue lagi ngeluh.”

Sekarang

Sejak mulai menduduki posisi manajerial di kantor, gue jadi merasakan betapa tidak enaknya berhadapan dengan bawahan yang suka mengeluh. Malah terkadang, hal-hal kecilpun, mereka keluhkan dengan cara yang dibesar-besarkan. Belakangan ini, gue jadi berkaca dengan diri gue sendiri… Gue sendiri pun, masih aja jadi bawahan yang suka mengeluh. Kalau dipikir-pikir… kasihan si bos punya bawahan kayak gue.

Makanya, mulai hari ini gue bertekad, gue akan batasi status BBM, Facebook, dan Twitter yang isinya berbau keluhan. Gue juga akan berusaha mengurangi celotehan gue yang nggak penting-penting banget itu. Untuk urusan curhat, gue cuma akan curhat satu kali untuk satu topik dan hanya kepada satu orang tertentu aja. Kasihan juga teman-teman gue kalo keseringan dengerin curhatan gue yang itu-itu aja, hehehehe.

 

KEBIASAAN NGAMBEK

Dulu

Waktu SMA, ada temen cowok gue yang bilang gini, “Gue paling kesel kalo cewek udah mulai ngambek… Bikin bingung!”

Pikir gue saat itu… namanya juga orang lagi marah. Ya manusiawi lah kalo muka jadi cemberut, jadi males ngomong, atau kalopun ngomong jadi ketus dikit… Gue malah serem sama orang yang tetep tersenyum manis meskipun di hatinya sedang tersimpan dendam kesumat sama orang ybs… Kesannya palsu dan muna banget nggak sih?

Sekarang

Sekarang gue memahami apa yang dimaksud dengan ngambek yang menyebalkan. Muka cemberut, bersungut-sungut, tapi tidak mau mengutarakan letak permasalahannya. Diajak bicara terbuka pun, reaksinya malah menyebalkan. Kalo udah ngambek, maunya dibaik-baikin, segala sesuatu harus diturutin, dan… orang ybs harus bisa baca pikiran kita tanpa perlu kita ucapkan secara verbal. Atau tren terbaru, ngomong langsung sih enggak, tapi sengaja bikin status di social media buat nyindir-nyindir pihak ybs. Gimana masalah mau selesai jika kita bereaksi childish seperti itu?

Sampai sekarang gue masih berusaha keras untuk menghilangkan kebiasaan ngambek. Gue udah nggak pernah lagi sih, sengaja nyuekin orang yang lagi ngomong sama gue, atau sengaja bertingkah menyebalkan, hanya supaya dia berasa gue lagi kesel sama dia… Tapi tetep aja, ekspresi muka gue di saat sedang marah itu yang susah banget buat dipoles. Kalo kata bos gue, “Kamu ini kalo lagi stres mukanya jelek, suka cemberut. Jangan suka cemberut.”

Tapi sudahlah. Mengubah kebiasaan jelek kan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang penting kan, muka boleh cemberut, tapi sikap gue tetap koperatif, dan kerjaan pun tetap gue selesaikan dengan ikhlas. Kalo nanti gue udah pinter nahan emosi buat enggak sembarangan ngoceh di saat marah, baru deh, gue urusin ekspresi masalah ekspresi muka gue itu…