30 Things to Do Before 30

Untuk pertama kalinya, bertambahnya usia tidak membuat gue senang pada saat ultah yang ke 26 bulan November 2012 yang lalu. Awalnya gue bingung… kenapa? Yang jelas bukan karena gue ngerasa udah dikejar deadline married… tapi apa? Baru kemudian gue sadari, usia gue semakin dekat ke kepala 3, sedangkan masih banyak impian di usia kepala 2 yang masih belum berhasil gue wujudkan.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel menarik di majalah Chic bulan Januari 2013. Judul tulisannya: “132 Things to Do Before 30.” Gue pun jadi kepingin bikin tulisan yang sama!

Tulisan ini akan gue jadikan guideline dalam hidup gue 4 tahun ke depan… Dan berikut ini daftarnya, gue urutkan dari hal-hal yang insyaallah akan terealisasi dalam waktu dekat. Doakan gue berhasil mewujudkan semuanya tepat waktu yaa!

  1. Pergi ke dokter ahli gizi supaya naik berat badan minimal 10 kg;
  2. Ganti facial care gue jadi Clinique semua, dan body care jadi L’occitane semua;
  3. Traveling sendirian ke luar negeri;
  4. Lihat bunga sakura bermekaran di Jepang;
  5. Mulai investasi reksadana atau logam mulia;
  6. Berani nyetir mobil sendiri… itu SIM jangan cuma jadi pajangan doang, hehehehe;
  7. Beli mobil pertama… mobil fasilitas kantor nggak masuk hitungan, hehehe;
  8. Nonton konser penyanyi luar negeri;
  9. Tinggal di apartemen pribadi… Harus banyak-banyak berdoa supaya apartemen gue cepet kelar dibangun;
  10. Pelihara kucing Persia, asli, dan harus yang bersertifikat!
  11. Duduk di business class saat bepergian dengan pesawat;
  12. Tidur di hotel bintang 5 saat menginap di luar negeri;
  13. Liburan keliling Eropa… Italy, France, Germany, Spain, Netherland, UK;
  14. Punya 1 tas Louis Vuitton… kalo bisa beli langsung di Paris;
  15. Lihat salju!
  16. Terbitkan novel perdana;
  17. Membukukan tulisan-tulisan terbaik di blog gue;
  18. Membawa novel gue ke layar lebar;
  19. Tampil di cover majalah atau tabloid Ibu Kota, huahahaha, serius loh ini;
  20. Naikin GMAT score, kalo perlu ikutan kursus;
  21. Coba apply beasiswa S2 ke luar negeri… sekali lagi;
  22. Ambil minimal satu gelar profesi;
  23. Mendapatkan pekerjaan di salah satu kantor impian;
  24. Mulai merintis bisnis kecil-kecilan;
  25. Ngerasain berlibur naik kapal pesiar;
  26. Umrah, trus lanjut ke Dubai nyobain naik unta, plus ke Mesir lihat pyramid;
  27. Menghampiri mantan gebetan dan bertanya, “What was that between us?”
  28. Berbaikan dengan sahabat-sahabat lama yang pernah gue tinggalkan. Siapa tahu, mereka sudah berubah;
  29. Meet my Mr. Right… no more drama, no more heartbroken, no more cowok-cowok yang nggak jelas apa maunya, hehehehe; dan
  30. Merayakan ultah gue yang ke 30… ngundang teman-teman dekat dari jaman SD sampai kerja.

Because a Broken Heart Will Always Make Me a Better Person

Tadi malam, seorang teman cerita sama gue soal gebetannya yang akan pindah rumah ke luar negeri dalam waktu dekat. Gebetan yang sudah dekat sama dia bertahun-tahun lamanya, yang selama ini, dia simpan sendiri rasa cintanya buat sang gebetan.

Mendengar curhatan teman gue itu… membawa gue kepada kenangan yang sama beberapa tahun yang lalu. Gue kembali diingatkan pada titik terendah dalam hidup gue selama ini.

Waktu itu jalan ceritanya juga sama; gue dan si gebetan makin lama makin dekat, tapi enggak pernah ada pernyataan suka, naksir, atau cinta yang terucap dari gue dan dia. Ada orang-orang yang berspekulasi gue naksir dia, dia naksir gue, kita saling suka tapi nggak akan pernah bisa jadian… ada pula yang dengan sadisnya bilang, gue hanya bertepuk sebelah tangan.

Awalnya gue pikir gue cuma naksir-naksir biasa doang. Semacam perasaan yang bakal hilang dengan sendirinya saat gue menemukan cowok baru buat ditaksir. Tapi pada detik gue tau dia akan segera pergi… saat itulah gue menyadari, perasaan gue jauh lebih dalam daripada yang pernah gue bayangkan.

Enggak lama setelah kabar itu sampai di telinga gue, tibalah farewell night untuk melepas kepergian dia. I tried so hard to look fine, but I think I failed… Sulit buat gue menyembunyikan ketidakrelaan bahwa semuanya akan berakhir tanpa sempat dimulai, dan… tanpa pernah ada kejelasan.

Setelah semua orang sudah saling melambaikan tangan untuk pulang menuju rumah masing-masing, saat itulah gue sudah tidak bisa lagi menahan diri. Malam itu Jakarta hujan rintik-rintik, trotoar basah setelah hujan deras yang turun sebelumnya, dan tanpa gue sadari, pandangan mata gue mulai kabur. Air mata yang berebut turun membuat softlens yang gue kenakan tidak berfungsi dengan baik. Gue hanya bisa menarik napas… berusaha untuk tidak jadi orang bodoh yang menangis sesenggukan di tengah jalan.

Beberapa bulan setelah itu tidak lantas jadi lebih mudah buat gue. Dia memang pergi, tapi awalnya masih sesekali say hi. Hal itu tentu saja pernah membuat gue kembali menaruh harapan. Mungkin dia nyesel, mungkin dia pengen coba lagi, mungkin kali ini akan berbeda, dsb dsb… Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Pada akhirnya dia mulai konsisten, mulai benar-benar menghilang dari keseharian gue.

Tadi malam, gue bilang begini sama teman yang sedang patah hati itu, “Once the pain is gone, you will feel much better. It will make you a better person too.”

Ya, gue banyak belajar dari patah hati terburuk gue itu. Dulu itu gue cukup sering ngerasa digantung, dan gue sangat-sangat menyalahkan nasib atas keadaan gue saat itu. Tapi sekarang, gue menyadari… digantung itu bukan nasib, bukan takdir, melainkan sebuah pilihan… yang gue buat untuk diri gue sendiri.

Setelah itu, gue lebih mampu bersikap tegas dalam mengatasi perasaan gue sendiri. Gue tidak lagi suka main api. Jika gue tahu sejak awal bahwa hubungan gue dan si cowok tidak akan pernah berhasil, maka gue juga enggak akan ngebiarin hati gue jatuh cinta sama dia. Dan hebatnya, sejak itu gue jadi mampu bersikap menolak untuk digantung. Gue enggak pernah lagi membiarkan orang lain datang dan pergi dalam hidup gue sesuka hati mereka. If you want me, then just stay, no matter what happens… that’s it, as simple as that.

Masih ingat lirik lagunya Kelly Clarkson?

What doesn’t kill you makes you stronger… stand a little taller… footsteps even lighter.”

So yes, it was the lowest point in my life, but it was okay… because a broken heart will always make me a better person. I am stronger, wiser, and happier ever since.

Semua badai pasti berlalu, dan akhirnya… badai gue sudah lama berlalu 🙂

7 Pemicu “Jomblo Phobia”

Pernah punya teman yang nyaris tidak pernah kelihatan menjomblo? Baru putus sebentar, nggak lama kemudian langsung terlihat jalan bareng gandengan baru… Atau yang lebih parah, mereka sengaja cari pacar baru dulu sebelum bilang putus sama pacar yang lama! Kesannya kok, ngejomblo itu aib buat mereka. Ngejomblo selalu bikin mereka panik, nggak pede, sehingga langsung buru-buru minta dikenalin sama cowok/cewek baru via teman-teman mereka. Itulah sebabnya gue suka ngasih julukan ‘jomblo phobia’ buat tipe-tipe orang seperti mereka.

Kalau menurut gue pribadi, fenomena ini bukan sesuatu yang bisa dibilang wajar. Gue enggak ngerti… kok bisa ya, mereka melupakan mantan pacar sebegitu cepatnya, dan langsung naksir orang baru sebegitu cepatnya juga? Dan kok ya bisa-bisanya ganti pacar udah kayak ganti baju… cuma pilih-pilih sebentar langsung dipake gitu aja…

Setelah gue amati lagi, ternyata memang terdapat benang merah di antara orang-orang yang jomblo phobia ini. Ada beberapa penyebab yang bisa jadi merupakan penyebab mereka selalu buru-buru cari pacar baru setelah putus dengan pacar lama. Di bawah ini ada 7 kemungkinan yang menyebabkan seseorang ‘mengidap’ jomblo phobia.

  1. Self insecurity. Ada beberapa orang yang merasa punya banyak kekurangan dalam dirinya dan menjadikan pacar sebagai pendongkrak gengsi. Mereka ingin menunjukkan pada orang lain: “Gini-gini juga, gue masih banyak yang mau!”
  2. Ketergantungan sama pacar. Biasa dianterin ke mana-mana, dibeliin ini-itu, tiba-tiba harus mandiri dan serba sendiri… Hal ini lebih sering dialami oleh cewek daripada cowok;
  3. Ngerasa dikejar deadline nikah… sehingga siapapun yang masih available dan mau sama mereka langsung ditanggapi tanpa pikir panjang. Hal ini juga lebih sering terjadi pada cewek;
  4. Sexual urge. Orang yang sudah pernah having sex, khususnya cowok, akan cenderung mempunyai ‘kebutuhan’. Itulah sebabnya, mereka selalu butuh pacar untuk menyalurkan kebutuhannya itu…
  5. Tidak punya teman. Ada pula orang yang takut jomblo karena memang hanya si mantan pacar itu lah satu-satunya orang yang bisa mereka ajak hang out;
  6. Butuh obat patah hati. Mereka ngerasa, satu-satunya cara paling efektif melupakan cinta lama adalah dengan mencari cinta yang baru. Nggak penting udah naksir sama si pacar baru dari awal, yang penting udah ada penggantinya dulu. Menurut mereka sih, cinta bisa datang belakangan…
  7. Jaga gengsi depan mantan pacar. Pantang banget buat mereka ngelihat si mantan pacar dapet gandengan baru terlebih dulu. Jadi mereka nggak boleh kalah cepat! Supaya si mantan tahu… putusnya hubungan sama sekali bukan big deal buat mereka.

Gue enggak bilang jomblo phobia itu jelek sih… gue cuma wonder… kok bisa? Kalo gue sendiri sih, lebih prefer menunggu orang yang tepat daripada asal cari pacar. Alasannya:

  1. Salah pilih pacar cuma makan hati doang… bisa ganggu konsentrasi kerja, ngerusak mood, bikin tidur jadi nggak nyenyak… Pengorbanan yang nggak worth it secara ujung-ujungnya toh pasti putus juga;
  2. Gue takut nyesel. Jangan aja nggak lama setelah jadian, gue malah ketemu cowok lain yang jauh lebih oke… I’ve been there once and I will never ever want to go back there anymore;
  3. Ini dia yang paling gue takutkan: gue sering melihat, salah pilih pasangan bisa mengubah hidup seseorang selama-lamanya…
  4. Gue tipe orang yang nggak sreg sama cowok yang punya banyak mantan pacar, jadi gue sendiri juga enggak kepengen jadi cewek yang punya banyak mantan pacar. No offense yah… Ini cuma penilaian yang sifatnya subjektif untuk diri gue sendiri aja kok.

Kalau kamu memang siap dengan resikonya, then go ahead. Tapi kalo habit jomblo phobia itu nggak bikin kamu jadi lebih bahagia… then you might have to think twice. Tidak selamanya berpasangan itu pasti lebih baik daripada sendiri. It’s okay to be alone as long as you are not lonely. Make friends, work hard, do your hobbies, just simply enjoying your life! Ingat satu hal: yang paling penting bukan cepat atau lambat, punya atau nggak punya, melainkan… bahagia atau tidak bahagia. That’s it.

My Best Moments in 2012

Awalnya gue ngerasa, nggak ada something special sepanjang tahun 2012. Untuk urusan kerja, nggak ada promotion seperti tahun 2011. Kemudian untuk urusan cinta-cintaan, setelah belasan tahun lamanya, baru saat 2012 itu aja gue mengalami yang namanya enggak punya gebetan selama satu tahun penuh. Resolusi 2012 gue juga masih saja tidak tercapai. Berat badan masih belum naik, novel masih belum selesai diketik, masih boros dan gila shopping… Betul-betul tahun yang flat kalo menurut gue.

Kemudian beberapa hari yang lalu, saat tinggal 1 hari menjelang tahun baru, ada satu kejadian kecil yang membuat gue menyadari sesuatu. Ceritanya gue sedang makan malam bareng 3 orang teman kantor, dan tanpa gue sadari, gue bisa dengan mudah menebak menu makanan yang ingin dipesan salah satu teman gue. Saat itulah gue tahu dengan sendirinya… ini dia pencapaian 2012 gue… dua orang sahabat baru yang gue dapatkan di tahun 2012.

Pertemanan gue dengan mereka boleh dibilang sesuatu yang nggak terduga. Satu orang teman cowok yang awalnya hanya sering ngobrol untuk urusan pekerjaan, dan satu orang teman cewek yang mulai akrab justru melalui Yahoo Messenger. Setahun belakangan ini, mereka berdua adalah orang pertama yang gue cari untuk berbagi cerita. Sesekali, mereka bikin gue jengkel, begitu pula sebaliknya, tapi pada akhirnya, gue selalu berpikir, “Orang lain boleh aja sebel sama gue tanpa alasan yang jelas… yang penting, gue punya mereka berdua yang akan selalu support gue.”

Kemudian selain dua sahabat baru, di kantor masih ada beberapa teman lain yang juga sudah mewarnai hari-hari gue. Partner gosip, partner cekikikan sampai tertawa terpingkal-pingkal, bahkan partner yang setia mendengarkan keluh-kesah gue yang seolah tidak ada habisnya… And not forget to mention my boss. Terlepas dari segala kekurangannya, tetap ada cukup banyak moment di mana gue ngerasa, gue beruntung punya bos nyentrik kayak dia.

Jadi kesimpulannya, 2012 was not as bad as I thought it was. Malah kalau dikpikir-pikir lagi, I had many great moments during that year!

This slideshow requires JavaScript.

Berawal dari family trip ke Singapura di bulan Februari. Only Singapore, not far from Indonesia, but it was fun too. Gue dan keluarga sangat-sangat menikmati kunjungan kita ke Universal Studio. Ortu dan adek-adek gue juga excited banget belanja-belanja di sana. Semoga lain waktu, gue bisa bawa mereka jalan-jalan ke tempat yang lebih spektakuler 🙂

Nggak lama kemudian, ada lagi short trip ke Bandung bareng temen-temen kantor. Cuma mampir ke Trans Studio, tapi menyenangkan! Puas ketawa-tawa, puas sama wahana yang sebetulnya cuma gitu-gitu aja, puas foto-foto meski dengan kamera ala kadarnya…

Setelah itu masih ada South Korea trip di bulan Mei… Memang bukan perjalanan terbaik yang pernah gue punya, tapi gue tetap selalu merasa senang dan bangga tiap kali bercerita soal perjalanan itu.

Kemudian pertama kalinya nonton Disney on Ice dan Indonesian Idol live in Ancol. Keduanya gue tonton bareng salah satu teman terbaik gue di EY. It felt so good to know that I still have an old friend to have fun with!

Ada pula 2 acara kantor, satu di Bogor, dan satu lagi di Lembang, yang gue lewati dengan banyak tawa. Puas banget rasanya ketawa sampe sakit perut seperti saat-saat itu… I think those were ones of the best laughter I’ve ever had.

Di akhir Oktober, gue dan beberapa orang teman pergi liburan ke Karimunjawa. Karimunjawa was not a spectacular island for me, but the trip was still spectacular for me. Banyak pengalaman baru, dan juga… pulang dengan membawa teman-teman baru!

Malam ulang tahun gue di penghujung November juga sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya… Gue terpaksa melewatkan malam ultah di kantor bersama 3 orang colleagues, dan persis jam 12 malam, si bos menyodorkan lighter-nya dan nyuruh gue make a wish lalu meniup api dari lighter-nya itu! Only a small occasion, but at least, it was something I’ll never forget.

Tiba pada malam pergantian tahun… I had a pretty good time with my office mates. Masak bareng-bareng, bakar jagung yang ternyata gagal total, karokean dengan fasilitas seadanya, dan membunyikan terompet sambil deg-degan takut diomelin tetangga, hehehehe. We also had a sharing session, then for a while, we closed our eyes just to pray for a better year.

Finally… yes, I didn’t have a boyfriend, no more promotion at work, and so many failed resolutions… but so what? I still had great friends around, and of course, my beloved nephew who was born in June 2012. My house feels like a different place since the day he was born and I always have such a good time with this cute baby.

Gue menutup tahun 2012 dengan rasa syukur, dan dengan harapan besar, untuk memulai tahun yang membawa perubahan. Seperti birthday wish di malam ultah gue itu… “Hope that I would change my life, in the new age, in the new year!”

So happy new year 2013 everyone! Wish you have a great year ahead 🙂