Ketika Kita Merasa Nyaman dengan Ketidaknyamanan

Pernah mati-matian mempertahankan sesuatu hanya karena terlalu malas untuk memulai hal yang baru? Atau sebaliknya… Berkeras meninggalkan sesuatu hanya karena tidak ingin berhadapan dengan resiko dan rintangan yang mungkin datang jika tetap bertahan.

Akhir-akhir ini gue menyadari… Manusia, termasuk diri gue sendiri, bisa bertingkah sangat gegabah dalam mengambil keputusan. Rasa takut atas perubahan, atau rasa takut akan ketidakpastian, membuat kita lebih memilih untuk merasa nyaman (atau setidaknya untuk bertahan) di dalam ketidaknyamanan. 

Saat mempertahankan sesuatu yang sebetulnya tidak lagi baik untuk kita, pada dasarnya kita hanya mengulur waktu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik untuk kita miliki. Dan pada saat kita melarikan diri dari sesuatu yang kita anggap sulit (meskipun sebetulnya pelarian itu hanya membawa lebih banyak penderitaan), pada dasarnya kita justru sedang melepaskan kesempatan terbaik kita untuk mendapatkan kebahagiaan. Dengan kata lain, ada kalanya, kita tetap lebih memilih bertahan pada rasa tidak nyaman ketimbang memperjuangkan sesuatu yang sifatnya sangat tidak pasti.

Can’t you see? Takut akan kesulitan, perubahan, dan ketidakpastian bisa membuat kita membuang banyak waktu untuk penderitaan yang tidak perlu. Biasanya, kita membela diri dengan berkata, “Ini hanya untuk sementara.” Bisa jadi, memang hanya untuk sementara, TAPI, bagaimana jika kita salah dan malah membuang lebih banyak waktu untuk mempertanyakan hal-hal yang tidak pernah kita lakukan? Hal-hal yang bisa jadi, akan membawa lebih sedikit penderitaan dan lebih banyak kebahagiaan, yang pada akhirnya hanya akan membuat kita bertanya-tanya pada diri kita sendiri, “Kenapa gue tidak lakukan ini sejak awal ya?”

Berawal dari satu masalah yang sangat sepele, akhir-akhir ini gue jadi lebih kritis dalam menilai keputusan gue sendiri. “Do I do this just because this is easy OR because I know this is the very best for me?”

Kadang, hidup yang sudah sulit membuat gue malas mengambil keputusan yang juga sulit, meskipun bisa jadi kenyataannya, hal itu justru membuat hidup gue jadi lebih sulit. Hal ini kembali mengingatkan gue pada satu teori paling dasar dalam hidup gue ini, “You’ll never know until you try. Do your very best, before you give it up.” 

When a Girl Earns More than Her Man

Kamu cowok dan pernah merasa minder dengan karier pasangan yang terlihat lebih cemerlang dibandingkan karier kamu sendiri? Jika iya, maka tulisan panjang ini wajib kamu baca sampai kalimat terakhir! Tulisan gue yang buat berdasarkan kisah nyata yang dialami teman cowok gue (sudah atas ijin pihak yang bersangkutan tentunya) yang kebetulan pernah juga gue alami sendiri.

Berawal dari random chat dengan si teman cowok pagi kemarin, obrolan kita sampai di curhatan dia soal pacarnya yang baru saja mendapatkan promosi. Mereka mulai berkarier di saat yang hampir bersamaan, tapi si pacar sudah mendapatkan lebih banyak promosi sepanjang karier-nya. Prestasi yang memang termasuk sangat cepat untuk usia mereka saat ini.

Yang mengagetkan, teman cowok gue ini bilang begini, “Apa sebaiknya gue putusin aja ya? Sekarang gue dan dia jadi nggak make sense! It’s not fair for her.”

Gue balas bertanya, “Dia pernah mempermasalahkan soal karier nggak? Sering ribut soal ini? Atau soal uang?”

Surprisingly, dia bilang mereka enggak pernah berantem soal uang atau karier. Malah termasuk jarang berantem selama lebih dari satu tahun pacaran.

“Tapi gue yakin banget, suatu saat hal ini pasti akan jadi masalah. Mumpung belum terlalu banyak kenangan, lebih baik putus sekarang, iya kan?”

Gue tanya lagi, “Lalu kalo enggak pernah ribut, saat bilang putus, elo mau kasih dia alasan apa?”

“Gue bisa karang alasan sih. The bad ones. Supaya dia benci sama gue dan lebih cepet move on.”

Gue malah menghela napas mendengar pengakuan teman gue ini. Emang sih, seharusnya gue berpihak sama dia yang notabene teman gue sendiri, tapi nyatanya, gue malah jadi simpati sama pacarnya itu. Bagaimana tidak? Cewek itu sekarang berada dalam posisi yang juga pernah gue alami beberapa kali sebelumnya. Pengalaman buruk yang amit-amit jika sampai harus terulang kembali.

Dengan sehalus mungkin, singkatnya gue bilang begini sama teman gue itu, “Kalo menurut gue, masalahnya bukan dia, tapi elo. Elo ngerasa insecure. Elo nggak yakin bisa menyamai prestasi karier dia dalam waktu dekat. You’re just too afraid AND you put all the weight on her.”

Lalu apa saran gue buat teman gue ini? Singkat saja: selesaikan masalah yang sebenarnya, dan, si pacar jelas bukan masalah yang harus dia bereskan.

Sebagai cewek yang (alhamduillah) termasuk dilancarkan jalan karier-nya, hal seperti ini sudah sangat tidak asing untuk diri gue sendiri. Sudah tidak terhitung ada berapa banyak cowok yang batal pdkt setelah tahu title yang gue tulis di Linkedin, business card, dan e-mail signature. Being a VP at this age is actually a bless and a curse! Dan masih jauh lebih baik jika cowok-cowok itu memilih mundur di tahap awal daripada cowok yang coba-coba tapi toh akhirnya menyerah juga.

Mau tahu apa sudut pandang gue tiap kali berada dalam posisi seperti ini?

  1. Gue enggak ngerti kenapa cowok-cowok ini sampai sebegitu mindernya. Kalo gue sampe suka sama mereka, itu artinya gue meyakini potensi yang mereka miliki. Mungkin saat ini, penghasilan gue memang masih melebihi mereka, tapi gue toh bukan sekedar mencari short-term relationship dan gue yakin banget bahwa kelak, mereka bisa menjadi lebih dari gue yang sekarang ini! I’m not a stupid girl anyway, so they should really believe me when I say they definitely can be a lot more than who they are!
  2. Apa yang membuat mereka berpikir berbuat jahat supaya gue ilfil akan lebih baik buat gue ketimbang mengakui ketakutan mereka yang sebenarnya? Takut dibilang loser? Well, the way I see it, if they give me up just because of my career, then their reasons (whatever it is!) will never matter to me anyway. Tapi setidaknya, mengatakan yang sebenarnya akan membuat gue merasa lebih baik. Tidak membuat gue merasa rendah diri atau merasakan sakit hati yang tidak perlu, serta tidak pula membuat gue terus saja bertanya-tanya, “Emangnya gue salah apa? Kurang di mana?”
  3. Bagaimana jika pengakuan mereka (soal insecurity yang mereka rasakan) malah membuat gue tidak mau melepaskan mereka? Well, that’s not gonna be the case, at least not to me! Alasannya sederhana saja, gue tidak menginginkan orang yang tidak menginginkan gue. Relationship tidak seharusnya serumit itu! Gue berhak mendapatkan orang yang berusaha keras untuk jadi bagian dari hidup gue dan bukannya sedikit-sedikit berpikir untuk melarikan diri… Gue juga toh enggak mau selamanya capek sendirian! It always takes two to tango, remember?
  4. Jika terus dijalankan, apa jaminannya suatu saat gue tidak akan pernah mengungkit masalah financial gap saat situasi sedang sulit-sulitnya? Memang tidak ada jaminan, secara gue juga hanya manusia biasa yang bisa khilaf, TAPI, kalaupun bukan masalah finansial, bukankah masalah-masalah besar lainnya akan selalu ada? Dengan siapapun juga, keadaannya pasti akan tetap sama, yang berbeda hanya jenis masalahnya saja! Lagipula, jika selama ini gue selalu bisa menjaga perkataan gue, kenapa sih mereka mesti sampai berpikir paranoid sampai sejauh itu?
  5. Jujur, gue betulan sering merasa mereka put the weight on me. Tanpa mereka sadari, keputusan yang mereka pikir demi kebaikan gue sendiri itu justru membuat gue merasa ada yang salah dari diri gue ini. Salah kah jika gue berjuang keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi gue? Berjuang keras untuk memenuhi harapan kedua orang tua gue? Salah kah jika gue ingin membahagiakan diri sendiri dengan karier yang bisa gue banggakan?

Kembali ke teman cowok yang gue sebut di awal tulisan, berkaca dari pengalaman gue sendiri, gue bilang begini sama dia, “Gue tau kenapa sekarang elo tiba-tiba mempermasalahkan soal karier… You’ve started to fall for her, haven’t you?”

Secara tidak langsung, teman gue itu membenarkan. Dan memang ini yang dulu sering gue rasakan…. Cowok-cowok itu sangat sering berubah sikapnya justru di saat gue dan mereka sedang dekat-dekatnya. Satu pola yang sudah gue hapal luar kepala. 

Dulu, gue sampai pernah mengeluh begini ke salah satu sahabat gue, “Gue udah melakukan semua hal yang dinasehatkan orang lain ke gue soal cowok. Mengangkat ego mereka. Minta tolong saat sebetulnya gue enggak perlu pertolongan. Secara terbuka memuji kelebihan mereka… Tapi tetap saja. They never chose to stay anyway.”

Mendengar pengakuan teman cowok gue ini membuat gue pada akhirnya menyadari… it’s not me, it’s them. Jika masalah utamanya terletak dalam diri mereka sendiri, maka apapun yang gue lakukan tidak akan pernah cukup untuk mereka. Kesalahan kecil saja akan tampak besar di mata mereka. Kesalahan kecil yang di kemudian hari akan mereka jadikan excuse untuk melangkah pergi.

Sebetulnya, tidak mudah untuk gue menulis topik yang satu ini. Bukan untuk berniat menyindir siapa-siapa, melainkan untuk berbagi sudut pandang yang mungkin tidak diketahui atau tidak disadari oleh semua orang. Siapa tahu, bisa jadi “penyelamat” bagi relationships lain yang sedang nyaris kandas hanya karena permasalahan finansial. 

Pesan gue cukup satu saja… Uang, karier, dan kekayaan akan selalu bisa dicari. Tapi orang yang tulus mencintai dan menerima kalian apa adanya tidak selalu dengan mudah bisa kalian dapatkan. Dan kalaupun ada, tetap tidak akan ada orang yang sama persis seperti mereka; orang-orang yang mungkin akan segera kalian tinggalkan.

Hidup memang selalu dibentuk oleh pilihan… Jika memang perempuan yang sangat sukses karier-nya tidak sesuai dengan idealisme kalian sebagai laki-laki, sebetulnya itu memang murni hak kalian sendiri untuk memilih. Tapi, jika gue boleh bertanya, kenapa harus memilih memperjuangkan karier seorang diri jika ada yang bersedia menemani? Dan kenapa harus menyakiti orang yang niatnya hanya ingin menyayangi?

Think twice before you give her up… at some point, she may never come back from her pain. And maybe, it will be your loss, not hers. Think… before you break her heart any deeper. 

Jangan Ucapkan 5 Hal Ini Saat Sedang Marah

Sebetulnya, gue sendiri tipe orang yang mudah meledak-ledak saat sedang marah. Meski begitu, ada 5 pantangan yang sebisa mungkin tidak terucap dari mulut gue ini. Kenapa? Karena gue seringkali melihat, 5 hal ini pada umumnya sulit dimaafkan oleh orang lain, atau setidaknya, 5 hal ini seringkali membuat keadaan tidak akan pernah lagi kembali sama seperti sebelumnya.

Bilang putus, cerai, pemecatan, dan yang sejenisnya

Semarah apapun, jangan pernah mudah terucap hal-hal yang jelas menyatakan keinginan kita untuk berpisah dengan mereka. Tidak ada perasaan yang lebih membawa rasa tidak aman dalam sebuah hubungan melebihi rasa tidak diinginkan. Saat perasaan ini mulai muncul, sekalipun nanti sudah berbaikan, rasa ragu, tidak tenang, dan rasa sakit hati tidak akan dengan mudah hilang dengan sendirinya. 

Keadaan akan menjadi lebih sulit saat berhubungan dengan orang-orang yang sangat mencintai dirinya sendiri. Umumnya, mereka akan cenderung lebih tidak terima saat diusir begitu saja. Mereka lebih punya kesadaran bahwa mereka pantas diperlakukan dengan lebih baik. Dengan kata lain, tidak semua orang bisa kita perlakukan seenaknya! Jadi lebih baik hati-hati saja… Jangan mengusir orang lain, kecuali jika memang benar-benar itu yang kita inginkan.

Menyerang dengan menggunakan suatu cerita yang dulu pernah mereka percayakan pada kita

Saat seseorang sedang berada dalam titik terendah dalam hidup mereka, mereka akan cenderung berhati-hati dalam memilih tempat berbagi. Saat-saat rapuh di mana mereka membutuhkan support untuk mengurangi beban dalam hati mereka. Oleh karena itu, semarah apapun, jangan pernah mengungkit isi curhatan mereka untuk berbalik menyerang mereka. 

Menurut gue, hinaan yang seperti ini betul-betul hinaan yang sangat menyakitkan hati. Selain itu, menyerang titik lemah yang dulu mereka percayakan pada kita itu sama saja dengan tidak menjaga amanah! Bukan salah mereka jika kelak, hal tersebut lantas mengurangi kepercayaan mereka pada diri kita. Dengan kata lain, hubungan tidak akan (atau sangat sulit) untuk kembali sama seperti sedia kala.

Membocorkan rahasia besar

Semarah apapun, amanah tetaplah amanah. Sekalipun mereka yang bersalah tidak lantas memberikan kita hak untuk menyebarkan rahasia yang pernah mereka titipkan. Semakin besar dan sensitif isi rahasia tersebut, semakin besar kemungkinan kita kehilangan mereka untuk selama-lamanya.

Dirty words

Mungkin buat orang lain, tidak ada yang salah dari mengucapkan the F word, tapi tidak demikian dengan gue. Dan bukan hanya F words, isi kebun binatang dan bahasa kotor lain itu sama ‘haramnya’ buat gue. Bukan hanya terasa merendahkan, tapi juga membuat gue berpikir ulang soal hubungan gue dengan orang tersebut. Gue jadi akan mulai bertanya-tanya, “Do I really want to have someone like this in my entire life?”

Menyerang intelektualitas, SARA, dan hal-hal sensitif lainnya

Setiap orang punya harga diri dan identitas yang sudah menjadi bagian dari diri mereka sendiri. Jangan pernah dengan sengaja membuat orang lain merasa rendah diri, jangan pernah pula mengatakan hal-hal yang menyudutkan asal-usul mereka. Sangat jarang ada orang yang mau berhubungan karib dengan orang lain yang pernah menghina identitas mereka (agama, suku, pekerjaan, dsb…). Penghinaan seperti itu hanya akan membuat mereka merasa tidak diterima dengan baik. Jadi berhati-hati saja!

Sulit Berhubungan Erat dengan Orang Lain? Ini Sebabnya!

Sering merasa kesepian seolah hanya hidup seorang diri? Punya banyak teman tapi hanya terasa dekat sekadarnya saja? Atau seringkali merasa kesulitan untuk menjalin hubungan erat dengan teman, keluarga, dan rekan kerja? Baca terus tulisan ini! Gue akan berbagi hal-hal yang menurut pengalaman pribadi gue dapat membuat kita sulit menjalin hubungan erat dengan orang lain.

Menutup diri

Contohnya? Selalu menyimpan masalah pribadi untuk diri sendiri (alias menolak untuk curhat), tidak mau berbagi rahasia-rahasia sampai yang terkecil sekalipun, atau terlalu pendiam dan sangat jarang terdengar celotehan dari mulut kita.

Berbagi cerita hidup memang beresiko. Bahkan orang yang tampak bisa dipercaya hari ini bisa saja berkhianat di kemudian hari. Tapi tetap saja, selalu bersikap curiga atau terlalu pemalu untuk berbagi cerita hidup kita hanya membuat orang lain sulit merasa punya ikatan emosional dengan kita. Lama kelamaan, mereka akan mulai merasa hubungan tersebut sifatnya hanya satu arah saja. Tipe hubungan yang biasanya menjadi prioritas paling akhir dalam hidup teman atau bahkan keluarga kita sendiri.

Mempercayai orang lain memang beresiko, tapi sayangnya, tidak ada hubungan yang bisa mendatangkan kebahagiaan untuk waktu lama jika tidak dimulai dengan kepercayaan.

Hanya peduli pada diri sendiri

Sekali lagi gue tulis di sini, hubungan tidak bisa berlangsung lama jika berjalan hanya satu arah saja. Coba perhatikan, jika dalam satu percakapan isinya 90% celotehan dari kita sendiri dan selalu kita kembalikan pada cerita kita saat lawan bicara sedang ingin gantian bercerita, maka itulah yang gue maksud dengan hanya peduli pada diri sendiri. Tipe orang yang saat gantian mendengar pun, kalimat lawan bicara hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Kalau gue perhatikan, tipe orang seperti ini biasanya senang memaksakan keakraban dengan orang lain yang kelihatan anteng-anteng saja mendengar celotehan panjang mereka. Tapi tetap saja, biasanya tetap bukan hubungan yang solid dalam jangka panjang (dan bukan pula hubungan yang menjadi prioritas dalam hidup orang lain).

Tidak bisa dipercaya

Jangan salahkan orang lain jika mereka menjauh setelah kita “tidak sengaja” membocorkan rahasia pribadi mereka. Jangan salahkan orang lain jika mereka menjaga rahasia pribadi mereka dari kita yang suka mengumbar rahasia pribadi orang lain di depan mereka. Jangan salahkan orang yang menjaga jarak dari kita yang senang mengumbar keburukan orang lain. Jangan pula salahkan orang lain yang selalu curiga dengan kita yang cenderung dengan mudahnya mengucapkan kebohongan persis di depan mereka.

Sama seperti yang gue tulis di atas, sulit untuk membangun hubungan tanpa ada kepercayaan, dan, kepercayaan orang lain itu jelas tergantung dari diri kita sendiri! Ingin bisa punya sahabat karib bertahun-tahun lamanya? Bisa dimulai dengan menjadi orang yang bisa dipercaya!

Terlalu sering bersikap netral

Gue meyakini bahwa memberikan kritik justru lebih baik daripada menolak untuk berpendapat sama sekali. Bukan berarti gue mengajarkan untuk jadi tukang kritik, gue hanya tidak menyarankan untuk selalu bersikap netral.

Kenapa?

Karena bersikap netral itu bukan hanya membosankan, tapi juga bisa terkesan tidak peduli atau tidak mau repot-repot untuk berpikir dan memberikan pendapat. Setidaknya dengan menyuarakan opini, kita jadi punya bahan diskusi yang membantu kita untuk mengenal satu sama lainnya.

Tidak mau memihak orang lain

Kedengaran shallow? Bisa jadi. Tapi logikanya, maukah kita punya pacar, kakak, adik, sahabat atau orang tua yang ikut-ikutan menyudutkan kita di depan umum? Nyamankah kita berdekatan dengan orang lain yang selalu berada di kubu seberang sana?

Kenyataannya, banyak orang yang bisa menjadi akrab hanya karena mereka selalu “membela” satu sama lainnya. Bisa jadi, di balik pintu mereka saling berdebat dan menasehati, tapi di depan orang lain, mereka kompak berada dalam satu tim yang sama! Konon katanya, ini salah satu resep untuk hubungan yang tahan lama dan bahagia. Dicoba saja!

Terlalu sering meniru

Memang benar, kesamaan dapat mendekatkan kita dengan orang lain. Sesekali punya barang samaan pun bisa terlihat super cute. Tidak ada salahnya pula ikut mencoba sesuatu yang disukai orang lain yang kita kenal dengan baik.

TAPI, jika kita mulai senang meniru orang lain sampai hal yang sekecil-kecilnya, maka wajar saja jika orang tersebut malah merasa risih dan lebih memilih untuk menjauh saja. Kenapa? Sulit dijelaskan alasannya. Rasanya tuh agak-agak creepy aja gitu. Gue bisa cuek aja saat ada orang yang mulai suka meniru, tapi tetap saja, mereka bukan tipe orang yang akan gue jadikan BFF. Entah kenapa, gue sulit percaya dengan orang yang sangat memperhatikan hidup gue sampai sebegitunya (hanya untuk kemudian mereka copy-paste!).

Senang “mengusir” orang lain di saat-saat sulit

Jangan pernah meluapkan kemarahan, kesedihan, atau kesusahan kepada orang-orang yang hanya berniat untuk membantu dengan cara mengusir mereka jauh-jauh dari hadapan kita. Hargai upaya mereka untuk membuat kita merasa lebih baik. Jika ingin menyendiri, katakan baik-baik dan jangan lupa untuk tetap mengucapkan terima kasih atas perhatian mereka.

Memang benar bahwa orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan menyerah begitu saja, tapi sebelum berpikir sedramatis itu, ingat kembali bahwa kita tidak punya hak untuk memaksa mereka untuk mau menerima kita kembali. Orang yang punya perasaan, yang bisa terluka hatinya, bukan hanya kita seorang saja. Jadi berhati-hatilah, dan jangan pernah terlalu sombong dengan berpikiran mereka pasti akan selalu datang kembali.

Jangan pernah mendorong orang lain sampai titik di mana mereka tidak akan pernah bisa kembali. Jangan. Kecuali jika kita cukup merasa bahagia dengan hanya hidup seorang diri.

How Should I Start 2017?

Okay, today is the first day of 2017. How should I start this year? The first thing came to my mind is to completely let go of things I lost in 2016. What’s done is done, there’s nothing I can do to change that. So here are the things I should do, starting from now!

I have to stop wondering what went so wrong. What I did wrong.

I have to stop asking myself what if I did what I did differently.

I have to stop analyzing if there is anything I can do to make (all those broken) things right.

I have to stop pushing myself to change the things that I can’t change.

And finally, I have to stop pursuing the ones that got away. I have to stop hoping for another chance.

I have spent many months in 2016 to do all that, and now it’s time to stop. Now it’s time to look forward and start the 365 days ahead!

I have a long list to do. I have some places I want to go. I have a lot more dreams to fulfill. And I have no time for the same old drama this year.

2017, here I go!

2016; The Best Year of My Life

As written earlier, I was a little bit in doubt if 2016 was the best year of my life. I know that I won a lot of things back in 2016 (a lot more than I ever did in the previous years!), but I also know that I lost some things that really mattered to me back then. The sadness, disappointment, and the anger have made 2016 less than a perfect year to myself.

I was in doubt, until just yesterday. Many things happened in the last few days in 2016 that sort of reminded me how wonderful 2016 was. I also realized… if I have to wait until I have one flawless year with just victories and no downfall, then I will never ever have any best year for the entire life. And all those downfalls… they have made me learn (more) on how to get back up on my feet again. 2016 told me that some people will always try to throw at me many reasons to cry, but I’ve got to keep smiling anyway. Life is too short to be unhappy, remember?

Besides, seriously… 2016 was truly wonderful to me!

My career was up high on the sky, even higher than I had ever been before. More than the promotion (VP before 30! Yaay!) and the monetary rewards I earned during the year, I also got many appreciations that made me feel more proud of myself. Just a little thing like a handful of invitations to top management meeting (including the one with Jack Ma!) has really made me feel so much appreciated. And of course, that one week at Alibaba office at Hangzhou has definitely made me feel like I was indeed a part of that one huge business empire. Thanks to Lazada for the incredible 2016!

In 2016, I also reunited with some old best friends of mine. Being with them again has finally made me realize… not everyone has what I have with them. Best friends who get mad when I am wounded, or get angry when someone else badmouth about me. Best friends who think of me as a part of their families. And best friends who do their very best to figure out on how to solve my personal problems. Not everyone has that, but I do . We reunited and we all learned how to become a better friend for each other. We (including the ones who continuously stayed with me for the past years) hope that best friends forever is not just a myth!

Other than friendship and career life, 2016 was also another year of learning to me. I learned how to love someone unconditionally, I learned how to let go what was not meant to be, I learned how to forgive; well I simply learned how to be a bigger person inside. I’m proud that this year, I have proven to myself how I managed to keep my faith on humanity. Just because some people broke my trusts doesn’t mean all people around me will always do the same. I won the battle with myself and it was definitely another victory to celebrate!

Also happened in 2016, I managed to visit 10 countries only in one year! At least to me, it was my highest record. What’s even better, I really enjoyed all of those trips I had. Coming back from one trip only made want to go for another trip. And it’s very enjoyable to me to see how beautiful my Instagram pictures I posted along this year! Those picture are telling me how I have lived my very own dream, notably in 2016.

Finally, I also had a few others unforgettable moments by the end of 2016.

My 30th birthday was surely the best I’ve ever had! I received some early birthday gifts from my best friends, a lot of wishes right on my birthday, the birthday party I threw, and the after party surprises I had from my friends (I still received birthday gifts even until 3 weeks after the party!).

Other than that, my niece was born in December 2016. I finally had a chance to buy all those pretty little things for her, in pink!

And then started two days ago, my year-end celebration was truly one of a kind! I went hiking with a friend (wearing dresses and full make-up on my face!) to take some beauty shots and we pretty much nailed it! I also joined BBQ party with his families and friends where many of them have really tried to make me blend in as a part of them (you know, I’m very shy with strangers, hehehehe). It was one of the moments I felt the beauty of diversity (yes, my friend and I are kind of living in two very different worlds).

Don’t you see? 2016 was an amazing year to me. And if I have to admit it, that was the exact same reason why I lost some battles in the same year. I went so far in 2016, I earned a lot as the returns, and not everyone was okay with that. I know I did a few mistakes, but so did everyone else! Out of the blue, I was never good enough for them. But now I have come to realize… it was not me, it was them. I have tried my best to get them back, but at some point, I just gave up and I moved on. I loved them, but I love myself more. And I deserve better. I deserve to be treated better.

Apart from all the heartbreaks, I only want to remember all the good things happened to me in 2016 (the lessons I learned from the downfalls were also the good things to remember!). I felt so much loves this year and it has made my life seems to be a better place. A great place to live I would say. My hard works (as a worker, as a friend, and as a person) were totally paid off along the year.

So… 2017… you have a very high bar to compete! I have many bigger dreams to aim and I really hope that I can make it all happen this year. Let’s start the first day in 2017, let’s start to make many dreams to come true!

Happy new year 2017!

 

A Good Boss Always Sees The Very Best of You

Dulu, gue suka heran sendiri tiap kali bos-bos di kantor memuji gue sampai sebegitunya. Dalam diam gue berpikiran, “Am I really that good? Gue kan cuma melakukan apa yang bos gue perintahin aja.”

Malah sejujurnya, sampai sekarang pun, tetap ada kalanya gue masih berpikiran seperti itu. Hanya saja bedanya, sekarang gue sudah tahu alasan kenapa seringkali, bos-bos gue bisa memberikan pujian lebih dari yang gue bayangkan. Alasannya sederhana saja: mereka bisa melihat potensi gue melebihi gue melihat potensi dalam diri gue sendiri. Alasan yang gue pahami dengan sendirinya setelah gue juga mulai duduk di kursi manajerial.

Bagaimana caranya seorang manajer bisa melihat potensi dalam diri bawahannya?

Seorang atasan umumnya sudah bekerja dengan lebih banyak orang. Mereka bisa dengan mudah membedakan hal-hal yang mudah atau yang sulit dilakukan pekerja lain pada umumnya. Bisa jadi kita tidak menyadari, hal yang kita anggap biasa-biasa saja sebetulnya sesuatu yang jarang dikuasai oleh orang lain pada umumnya.

Selain itu, tidak ada yang lebih menyentuh hati atasan melebihi dedikasi kepada pekerjaan yang kita lakukan. Atasan yang cukup cerdas tidak akan termakan hanya dengan sweet talking belaka, mereka akan lebih menghargai upaya dan kerja keras kita untuk get things done. Dan percaya tidak percaya, tidak banyak orang yang memiliki dedikasi seperti itu (satu hal yang lagi-lagi belum tentu kita sadari sebagai karyawan). When we, as boss, find someone like that, it truly feels like we just found a buried treasure! 

Yang terakhir, atasan yang baik pandai membaca “rasa lapar” di balik sorot mata best player mereka. Mereka tahu ada orang-orang tertentu yang sangat ingin berkembang dalam karier-nya. Bagaimana cara mereka bisa tahu? Dengan cara berkaca pada diri mereka sendiri! Saat seorang atasan melihat behavior yang sama seperti mereka dalam diri bawahannya, saat itulah mereka merasa tertarik untuk mengembangkan karier orang tersebut.

Banyak yang bilang, penting untuk punya atasan yang memiliki kepercayaan pada kemampuan kita, dan menurut gue, hal itu sangat benar adanya. When they believe in you, they invest in you.

But did you know? Diberi kepercayaan itu tidak selamanya terasa menyenangkan! Tumpukan proyek baru yang tiada henti. Deadline yang seolah tidak ada habisnya. Dorongan untuk mempelajari hal-hal baru yang sepenuhnya asing buat kita. Dan kritik yang tajam saat kita belum berhasil  standar yang ditargetkan oleh atasan (baca: standar yang mereka yakini bisa kita capai).

Selama hampir 8 tahun bekerja, alhamdulillah gue dipertemukan atasan-atasan yang selalu mempercayai kemampuan gue. Diberi banyak kesempatan tanpa pernah gue minta; kesempatan yang membuat gue mempelajari begitu banyak hal baru yang tidak gue temui di bangku sekolah dulu. Capek memang, kadang sampe fisik gue rasanya ingin menyerah saja, tapi entah kenapa, gue tidak ingin mengeluh. Tidak ingin menolak hal-hal yang sebetulnya baik buat gue. Kalau sudah terlalu capek, gue tinggal tulis e-mail minta satu hari untuk istirahat di rumah. Dan hebatnya, semua bos gue selalu mengerti!

Makanya gue selalu menyarankan teman-teman gue… Saat pergi interview, jangan hanya dilihat perusahaan dan gajinya saja, lihat juga calon bosnya nanti! Bukan cuma calon atasan saja yang boleh melakukan “background check” atas calon karyawannya, tapi juga bisa sebaliknya! Hal ini mungkin tidak sebegitu pentingnya buat semua orang, tapi, jika kamu tipe orang yang ingin going far with your career, maka mencari atasan yang tepat bisa jadi langkah pertama untuk memulai.

Yang terakhir, meskipun di atas gue menekankan pentingnya punya a good boss, ujung-ujungnya akan tetap kembali pada diri kita sendiri. Bersediakah kita menerima peluang yang dia sodorkan pada kita itu? Salahkah mereka jika mereka menaruh kepercayaan yang sangat besar dalam diri kita ini? Ini pula yang nantinya pasti akan membedakan top performers dengan rekan kerja mereka pada umumnya: mereka tipe orang yang berhasil membuktikan bahwa kepercayaan atasan mereka tidak akan pernah terbuang sia-sia.

Find a good boss who believes in you and don’t fail them! If you manage to get it right, then a bright future is most likely just one step away.

2016 with Lazada

2016 at Lazada was literally a lot of things to me. The ups and downs were just unbelievable. Things changed so fast it felt like it was too much for just a year.

It was the year when I was the closest to my team, but it was also the year I had to rebuild my team (nearly) from the scratch again.

It was the year when I told myself that I had found my dream job, but it was also the year when I realized some things had changed and might never ever be the same again.

It was the year when I felt fulfilled, but it was also the year I got swamped and it felt like I hadn’t given my very best to the Company.

It was the year when I met a few incredible colleagues (including a new boss who had been one of the best mentors during my career), but it was also the year I had to deal with a few horrible persons who hurt me so badly.

And finally, it was the year when I was both of the happiest and the saddest in my entire career path. It was the year I claimed some victories, but it was also the year I lost some battles.

Given the crazy downfall, I am still unsure if 2016 at Lazada was a better year than the one I used to have back in 2014, but one thing for sure; I am so grateful that I stayed long enough with this Company. If only I decided to leave, then I might never have all these exciting roles, and I might never meet that one boss who really made me feel appreciated in his own way. And the most important thing, staying one more year at Lazada has taught me this one great lesson in life on how to be a better, bigger, and happier person.

Thanks to Lazada for this one crazy year and I’m still hoping to grow with you at least in a couple of years to come! Happy new year for all Lazadians!

 

Why Do I Want to Get Married?

Everytime I see a friend who really wants to get married, I will ask them this one question, “Why do you want to get married?” And somehow, I was rarely satisfied with their answers.

“Because at the end, we all have to get married and I’m already in that age.”

“Because almost all of my friends are married.”

“Because I’m not happy being single.”

“Because I envy the married couple.”

Or… “Because my parents told me so.”

I don’t want to judge, it’s their life anyway, it’s just that I will never use the same reason for myself. The way I see it, there is no such a thing like a proper age to get married. Some people are mature enough to get married before 25, but some others are still too selfish for a marriage in their 30’s. I’m also not that kind of person who does something just because everyone does it or just because someone else tells me to do so. I’m happy with my life as it is and I don’t envy someone else’s life.

And then today, I had a long chat with an old friend and it made me ask myself, “Why do I want to get married?”

Okay, now it is my turn to answer my own question… Here are the reasons why I want to get married.

The first reason, I want to have someone who is devoted to share this life with me. I want to have someone who always have my back, someone to share my ups and downs, someone to make life decisions together with me, and someone to be my partner for life. I’ve had enough of people walk out of my life and I really want to have someone who I can rely on for the rest of my life.

The second reason, I want to take a very good care of someone other than myself. People says, it’s a basic female instinct. If you really know me, then it might not sound like me to you, but the truth is, I would really love to play my role as a wife looking after her husband. I want to make sure he lives well, eats right, and I also want him to be happier than he used to be. I simply want to help him to have a better life to live in.

And finally, I want to get married because I know that I will eventually get bored with my life as a single. I really know myself and I know than in the years to come, I will be fed up with similar single problems over and over again. Even right now, I’m already bored with all those random dates and heartbreaks that came with it. Seeing someone new nearly every year is no longer as exciting as it used to be. Settling down with that Mr. Right (I hope he does truly exist, hehehehe) would be all that I really want from now on.

Does that sound like a good reason to get married? I think it is, at least for myself. I really hope that the right person will come along! And of course I also hope, I’m already good enough to be a right person for someone out there. Amiin! 🙂

My (Early) Year End Post

I have a very mixed feelings about 2016. So many things have happened to me and I can’t believe it all happened only in a year! I know that it may be too early to write this post, but I just can’t wait any longer!

So… what happened to me in 2016?

2016 was the year where I fell in love so deeply. I never thought that I was capable of loving somebody that much! Even if it appeared that I was wrong about it, I still had some great times to remember. Some cute moments that brought smiles to my lips, and a good story to tell even after it all passed and I left it all behind. I moved on not because I wanted to, but only because I had to.

2016 was also a year where I finally felt like I found my dream job. No, I didn’t get any new job; still same company, pretty much the same role, it’s just that I was trusted to do the works that I always wanted for myself. Not an easy one, pretty challenging I would say, bur I definitely love it! I also had a couple of chances to travel around Asia for some business trips plus some vacations over weekend!

I also had some wonderful trips with families and friends in 2016. Umraj trip with my parents (plus a short trip to Turkey afterward), Singapore plus Thailand trip with my teammates (it was definitely trip that I’ll never forget),  Hongkong-Macau with my families (I had a lovely time with my nephew!), and a solo trip to Guilin, China. Which one was the best trip of the year? The Umraj trip, of course. I would never forget how it felt when the tears came to my eyes right when I thanked God for all the blessings I had in my entire life. Somehow to me, it felt like I was coming home.

In 2016, I learned a lot on how to become a better person. A person that I always wanted. The forgiving one. Stay composed and calm even in the hard times (I’m not there yet but I’m making a good progress I think). Less cranky. More patient. And the most important, I leaned a lot more on how to stay happy even when many things in life were going rough. Life would never ever be perfect, but I don’t need to have a perfect life just to have a happy life.

Also in 2016, I managed to reunite with some old friends and it has really made my life a better place to live. Too busy at works should never be a reason for us to be  emotionally apart from each other. We’re not always side by side every single day, but we know that we’ll always be there for each other, even in the middle of the night! The way I see it, that’s the beauty of an having an old friend in life 🙂

What is the highlight of my year? It was my birthday party! It was not perfect, but it was everything I always wanted ever since I was a teenager. My big families were there, my best friends, my colleagues (from all four companies!), everyone in the same room, and what can be better than that? As usual, my little nephew has really made my party even merrier than it could be. Bravo, little kid!

The only nightmare happened to me in 2016 was my struggle to be able to genuinely let go of the things that I should let go. I lost some people that really mattered to me, that really broke my heart, but at the end I realized that it was not me, it was just the way this life worked. People come and go, and it only makes me even more appreciate the ones who choose to stay with me. They don’t have to stay with me with all my flaws, but they do. Somehow, they do.

I’m not quite sure yet if I could tell that 2016 was the best year of my life, but surely it was one of the best years I’ve ever had in life. And the life lessons I earned during the year would always be one thing that I hold onto.

2016… is that all or you still have some surprises you keep? Bring it on!