Belajar dari Kung Fu Panda

Setelah nonton Kung Fu Panda untuk ke sekian kalinya, saya jadi menyadari ada beberapa pelajaran yang bisa kita terapkan dalam dunia kerja, baik itu dari sudut pandang atasan maupun sudut pandang bawahan.

Apa saja?

Sebagai atasan….

  1. Jangan mudah menyerah saat mengembangkan bawahan di kantor. Tidak semua orang mempunyai learning curve yang sama cepatnya. Jika kita sebagai atasan sudah menyerah, mereka sebagai bawahan juga akan menyerah pada dirinya sendiri. Po tidak akan mau meneruskan latihannya jika bukan karena Shifu yang terus berusaha melatih anak didiknya itu!
  2. Believe in your team, even in their darkest times! Pada dasarnya, semua orang memiliki kebutuhan akan rasa dipercaya oleh orang-orang yang mereka anggap penting (dalam dunia kerja, atasan adalah salah satunya). Kepercayaan kita sebagai atasan dapat membantu mereka untuk bangkit dari masa-masa sulit dalam perjalanan karier mereka;
  3. Pelajari motivasi masing-masing orang dan kembangkan mereka dengan cara yang paling sesuai untuk mereka. Tidak ada yang namanya one size fits all dalam dunia kerja. Ingat adegan di mana Shifu melatih Po menggunakan makanan? Motivasi Po adalah makanan, sesuatu yang belum tentu sama penting untuk lima anak didik Shifu yang lainnya;
  4. Jangan membuat bawahan merasa “not good enough”. Ketika seseorang merasa bahwa upaya terbaik mereka tidak pernah cukup baik untuk atasannya, mereka akan lebih memilih untuk pergi dan mencari tempat lain yang membuat mereka merasa masih memiliki peluang untuk level up. Terkadang, bersikap keras dan tegas memang diperlukan, tapi jangan sampai kelewatan. Jika kita masih ingin mempertahankan mereka dalam tim, maka jangan sampai membuat mereka merasa kehilangan masa depan karier-nya bersama kita; dan
  5. Jangan sampai kita bablas membesarkan seorang “monster”. Terkadang, rasa bangga yang berlebihan terhadap bawahan bisa membuat mereka menjadi sombong. Membuat mereka menjadi lupa untuk bersikap rendah hati. Tujuan karier mereka jadi hanya materi dan jabatan semata (sama seperti Tai Lung yang terobsesi mendapatkan Dragon Scroll). Terlalu banyak pujian bisa membuat mereka tidak mau menerima kritik sekalipun kritik itu baik untuk mereka. Ingat selalu satu hal ini: atasan yang gelap mata akan menciptakan bawahan yang juga gelap mata.

Sebagai bawahan…

  1. Jangan takut untuk bermimpi besar. Banyak orang yang terlalu minder terhadap dirinya sendiri. Hanya untuk bermimpi pun mesti pakai embel-embel “harus tahu diri”. Seolah hanya orang besar yang boleh punya mimpi besar! Bermimpilah seperti Po si anak tukang mie yang akhirnya jadi Kung Fu master!
  2. Cari atasan yang bisa kita percaya sebagai role model. Penting untuk kita mendapatkan atasan yang dapat menjadi role model dalam perjalanan karier kita. Saat kita sudah menemukannya, maka kita harus percaya bahwa segala yang dia lakukan adalah untuk kebaikan diri kita, termasuk segala tuntutan dan kritikan yang dia berikan untuk kita! Cara seorang atasan mengembangkan anak buahnya tidak selalu manis dan membahagiakan, ibarat menelan pil pahit yang sebetulnya baik untuk diri kita ini;
  3. Jangan terlalu santai dalam menjalani karier. Orang yang terlihat selalu santai cenderung sulit mendapatkan kepercayaan rekan kerjanya, terutama atasannya. Selalu bercanda dan memasang silly face hanya selalu lucu untuk pergaulan sehari-hari saja. Selalu bertingkat demikian dalam dunia kerja dapat membuat orang lain mempertanyakan komitmen kita sebagai seorang pekerja;
  4. Jangan pernah terlalu lelah, apalagi terlalu malas, untuk terus bekerja keras. Tidak ada kesuksesan yang mudah untuk dicapai, itu sebabnya, atasan akan lebih memilih untuk mengembangkan orang-orang yang mempunyai kesadaran diri untuk bekerja keras dalam membangun karier-nya sendiri; dan
  5. Salah satu pelajaran terbesar yang ingin disampaikan Kung Fu Panda adalah untuk percaya pada diri sendiri. Akan percuma saja atasan punya kepercayaan besar pada diri kita jika kita justru tidak bisa mempercayai diri kita sendiri. Seperti isi movie quote-nya Kung Fu Panda: “To make something special, you only have to believe that is special,” dan “There is no secret ingredient, it’s just you.”

Finally, meskipun saya bilang ada hal-hal yang dapat kita pelajari dari Kung Fu Panda, tetap ada satu hal yang tidak boleh kita percaya dari jalan cerita film kartun ini.

Apa persisnya?

Jangan percaya bahwa kita bisa menjadi “master” dalam suatu hal hanya dalam waktu yang singkat saja. Seringkali, meskipun kita sudah berusaha sangat-sangat keras, tetap dibutuhkan waktu yang cukup atau bahkan sangat lama untuk kita bisa sampai di tujuan.

Kung Fu Panda tetap hanya film kartun, dan kenyataannya, tidak ada orang yang bisa jadi ahli Kung Fu hanya setelah berlatih selama beberapa minggu saja 😉

It Appears that, Working for Someone Else’s Corporate is Super Comforting!

I was upset last night. I’ve started to do some free advertising (Instagram, Facebook, Path) to recruit sellers for my online marketplace and I’ve announced that the sellers can find us at hunters@thelenstory.com.

I was so excited that the website was underway and I was getting closer to my biggest dream, excited with the tremendous supports given by my families, friends, and even my colleagues in my current employer (yeah, I’m still working for someone else’s corporate too), until my sister in law texted me and she said that her friend could not send e-mail to that mailing group!

I instantly knew that I made mistake on the permission setting and I thought that I could easily fix it. I logged in to my domain administration account but then I was confused.

What did I do wrong?

What should I do to fix this?

So there I googled to search for some clues and it was super annoying that the given guideline was no longer matching with the latest version of the mailing service I use! I clicked here and there, I finally found the setting I was looking for!

The first trial, I told myself, “Oh well, this is easy.” I logged in to my personal Yahoo mail account and sent a testing e-mail to that mailing group… but it bounced back!

I googled again… it appeared that there was one separated setting that I should change. I changed it and sent a second trial e-mail… and it bounced back again! I rechecked everything, one by one, until I realized I missed clicking one button!

Alright, here we go… the third trial… and the e-mail didn’t bounce back to my Yahoo mail! I finally nailed it! But… wait. The e-mail was sent from my Yahoo mail, but I can’t seem to find it in my thelenstory.com inbox!

I refreshed my browser, over and over again, but still, the e-mail was not coming!

At this point, I was super upset to myself. If the same thing happens in my corporate job, I can just text IT Helpdesk and they will fix it right away. This kind of issue may never ever happen in my corporate job anyway. I can ask IT team to prepare the mailing group and they will get it done with no issue like this in the first place!

Can’t you see? My current corporate job is actually comforting!

Have a connection problem? Go to IT team.

Have a legal confusion? Consult with Legal team.

Tax administration? Let the Finance team handles everything (you have no idea how irritating it could be!).

Running out of money? Send e-mail to your HQ or regional office asking (or a bit of begging) for more funding, hehehehe.

But seriously, running a business is like “running” from your comfort zone. Unless you are very well funded, building a new company will push you to learn all the little things at work. You will have to roll up your sleeves even higher than your old corporate job!

Back to my group e-mail problem… how did it end? I finally realized that I hadn’t registered myself as the member of that mailing group! That’s why I didn’t receive the e-mail in my inbox, hehehe.

Having said that my old corporate job was comforting, running my own business is way more challenging to me. Yes it makes me have to touch the ground, but if you see it from another perspective, it actually makes me learn a lot of new things about building a company from the scratch. Until someday, this little scratch; this start-up, is going to be my very own corporate job.

Tips Tidur Nyenyak ala Gue

Beberapa bulan belakangan ini, sejak gue mulai sering mengalami capek tanpa sebab, gue memutuskan untuk mengatasi masalah tidur gue. Baru tidur jam 1-2 pagi itu bukan kebiasaan yang menyehatkan! Dan bukan cuma soal tidur lebih awal, tapi juga soal tidur lelap yang berkualitas.

Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya gue menemukan 10 tips untuk tidur yang lebih berkualitas:

  1. Bersihkan make-up, cuci muka, dan mandi. Selarut apapun sampai rumah, tetap harus mandi jika ingin tidur lebih nyenyak;
  2. Cari bantal dan selimut yang terasa paling nyaman buat kita. Coba beli bantal bulu angsa; ini nyaman banget kalo buat gue;
  3. Tempat tidur harus dalam keadaan bersih DAN rapih. Singkirkan barang-barang yang tidak perlu dari atas kasur. Kurangi juga jumlah boneka atau bantal kecil yang hanya membuat ruang gerak kita jadi lebih sempit;
  4. Matikan TV. Suara-suara yang mengejutkan dari tayangan TV bisa membangunkan kita di tengah malam. Lakukan hal yang sama dengan ponsel. Jangan biarkan notifikasi dari ponsel menganggu tidur lelap kita;
  5. Suhu ruangan harus tepat buat kita. Badan yang menekuk di bawah selimut atau tangan dan kaki yang bolak-balik dikeluarkan dari dalam selimut itu pertanda suhu ruangan belum sesuai. Sibuk mengatur posisi selimut juga bisa bikin tidur jadi tidak nyenyak! Jangan malas ambil remote AC dan sesuaikan temperaturnya!
  6. Jangan lakukan hal-hal yang yang terasa seru buat kita. Contoh, jangan nonton drama Korea kesukaan, jangan baca buku bagus, atau dalam kasus gue, jangan sibuk mengurusi bisnis pribadi sebelum tidur. Ini cuma bikin kita penasaran sehingga akan terus terjaga sampai larut malam;
  7. Jangan tidur dengan membawa beban pikiran yang berlebihan. Cari teman curhat yang bisa dipercaya. Mungkin tidak akan langsung dapat solusinya, tapi setidaknya, beban bisa berkurang dan tidur bisa lebih nyenyak!
  8. Saat mengalami mimpi yang terlalu menakutkan, atau saat mengalami sleep paralysis, cobalah untuk mengingat kenangan indah dalam hidup kita. Gue pernah coba dan ini betulan bisa mengeluarkan kita dari mimpi buruk itu!
  9. Biasakan tidur teratur. Sekarang gue sedang berusaha untuk tidur sebelum jam 12. Jika sudah terbiasa tidur jam 11 misalnya, maka kita akan mulai mengantuk dengan sendirinya tiap kali sudah masuk jam 11 malam; dan
  10. Biasakan juga bangun teratur. Ini paling susah, tapi harus diusahakan! Paksakan bangun di jam yang sama, ini perlahan-lahan akan membantu kita untuk bisa tidur di jam yang juga sama setiap harinya.

Punya tips tambahan lainnya? Let me know!

Jangan Membuat Keadaan Lebih Buruk dari yang Seharusnya

Belum lama ini, gue membaca cerita tentang wanita usia pertengahan 30 yang mengalami depresi. Tujuh tahun yang lalu, dia harus dua kali naik meja operasi karena penyakit yang cukup serius. Waktu itu, banyak orang yang ingin memberi dukungan, tapi wanita ini malah menjauhi semua temannya. Dia tidak pernah lagi ikut hang out, selalu membalas SMS dengan ketus, dan dia seringkali mengatakan bahwa tidak ada orang yang benar-benar bisa mengerti keadaan dia saat itu. Apapun yang dilakukan teman dan keluarganya selalu salah di mata dia.

Lima tahun kemudian, perempuan ini sembuh dari penyakitknya. Saat itulah dia menyadari, dia sudah tidak punya siapa-siapa. Orang tua dan adik-adiknya terasa seperti orang asing buat dia. Wanita ini memutuskan untuk pindah ke luar kota, mencari suasana baru, dan saat sedang kesepian, datanglah pria bersuami yang hanya membuat hidup dia jadi lebih kacau balau. Wanita ini harus menghadapi banyak drama meski setelah dia memutuskan untuk meninggalkan pacarnya. Dia ingin punya teman bicara, tetapi teman-teman lamanya sudah sangat jauh dari jangkauan. Bukankah aneh tiba-tiba kirim Whatsapp pada teman lama yang dulu dia usir hanya untuk bercerita dia baru putus dari pria yang sudah menikah? Akhirnya, penderitaan yang kini dia rasakan justru lebih buruk daripada saat dia masih mengidap penyakitnya 7 tahun yang lalu.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita ini? Kita harus belajar untuk tidak membiarkan satu masalah melahirkan lebih banyak masalah dalam hidup kita ini. Jangan menjadi gelap mata, jangan menghancurkan hal-hal yang sebelumnya baik-baik saja. Jangan menyakiti orang-orang yang peduli, yang hanya datang karena ingin memberikam bantuan. Buat apa hidup sendiri jika ada orang lain yang bersedia menemani? Jangan membuat keadaan yang sudah buruk menjadi lebih buruk dari yang seharusnya.

Cerita yang gue tulis di atas hanya satu contoh acak, ada lebih banyak lagi contoh kecerobohan yang bisa dilakukan seseorang saat tengah dirundung masalah.

Ada orang yang sengaja menyakiti orang lain meski sebetulnya, orang itu tidak ada kaitan dengan masalah yang menimpa kehidupan pribadinya. Mungkin tanpa disadari, dia hanya tidak suka melihat orang lain hidup bahagia di saat hidup dia tengah sulit-sulitnya. Atau bisa juga, dia hanya sedang mencari pelampiasan atas rasa marah pada hidupnya sendiri.

Ada juga orang yang sengaja menyombongkan diri saat tengah menghadapi masa-masa sulit. Tidak mau menerima pertolongan, mengarang atau melebih-lebihkan cerita, bersikap sangat sulit dan semakin membuat orang-orang di sekitarnya merasa makin jengkel. Bukannya fokus mencari solusi, dia malah fokus mencari cara untuk mempertahankan ego dan kebanggaan pribadi mereka.

Yang terakhir, dan yang paling sering gue temui (termasuk dalam diri gue sendiri) adalah orang-orang yang menjadi terlalu sensitif saat sedang menghadapi masalah besar dalam hidupnya. Jika sudah demikian, kita cenderung salah menangkap maksud perkataan atau tindakan orang lain, membesar-besarkan masalah kecil, dan selalu menilai orang lain dengan cara yang sangat negatif. Akhirnya, kita malah menghadirkan masalah baru dengan orang-orang yang belum tentu ada kaitannya dengan masalah kita yang sesungguhnya.

Menurut pendapat pribadi gue, salah satu kunci hidup bahagia adalah dengan memiliki kemampuam untuk menolong diri sendiri. Mampu mengendalikan diri saat sedang menghadapi masa-masa sulit. Semua orang pasti pernah menghadapi cobaan, tapi tidak semuanya bisa melewati cobaan itu dengan baik. Tidak semua orang dapat kembali berbahagia setelah cobaan yang menimpa dirinya.

Do yourself a favor: control your hatred, anger, and disappointment. Find your way back to your happiness. Life is too short to be unhappy, remember?

Start-up Story – 3 Things I’ve Learned at Very Early Preparation Stage

As I mentioned earlier in this blog, I’m currently working on my own start-up. Just finished the blueprint, business plan, and of course, vendors hunting.

Here are 3 things I’ve learned about building a start-up at this very early stage:

  1. How to choose vendors and the traits you should consider before awarding the projects. You don’t need to hire super expensive vendors but you can’t always choose the cheapest service just because it fits your budget. At this point, you will realize the importance of chemistry and belief in your business partners. If you don’t feel clicked since the very beginning, it they don’t share the same passions as yours, and if it takes ages for them to response your inquiries, then you’re just not meant to work with them. There are plenty of good vendors out there, but not everyone will work well with your business;
  2. How to do free marketing. I’ve learned a lot from a couple of successful business founders. Free is not always bad, it can be as effective, it just requires more times to figure it out and a lot more times to work on it. Your apps is not yet live anyway, you have plenty of times to do it yourself. I’ve chosen not to accept any investor’s funding and free marketing (or cheap marketing to some extent) is the only choice I have at the moment; and
  3. I’ve learned the hard way that I can’t have all features I want to have in the first development. I should be able to distinguish “the must have” against “the nice to have”. It’s better to have a few well developed features rather than a lot of troublesome features on your apps. Go live as soon as you can, new features can be developed later on.

I’ll write more about my start-up later on! I’ve created a new category in this blog named The Lens Story and a new tag named The Start-up Story.

And yes, my start-up is named The Lens Story. The web apps is going live in the next three months (insyaallah).

Stay tune!

10 Kesamaan Drama Korea

Setelah bertahun-tahun lamanya, sebulan belakangan gue kembali suka nonton drama Korea. Baru selesai nonton 2 drama terbaru, tapi rasanya sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa drama Korea pada umumnya masih punya kesamaan sebagai berikut.

  1. Banyak banget kebetulan-kebetulan, seolah dunia benar-benar sebegitu sempitnya;
  2. Adegan nggak penting yang maksudnya melucu tapi kadang jatuhnya malah bikin boring;
  3. Adegan tokoh utama menatapi lawan main yang sedang tidur;
  4. Adegan tokoh utama cemburu dengan tokoh lain yang dekat dengan pasangan atau gebetannya;
  5. Adegan minum-minum sampai mabuk;
  6. Adegan tokoh utama terpana melihat tangan yang baru disentuh sama lawan mainnya;
  7. Ada mantan pacar yang menjadi bumbu cerita;
  8. Penonton dibikin gemas karena tokoh utama lama banget jadiannya, tarik ulur berkali-kali sebelum akhirnya bisa jadian;
  9. Pasangan yang menjadi tokoh utama putus-sambung sepanjang cerita. Baru bahagia sedikit, datang masalah besar yang bisa bikin putus. Terus begitu sampai tamat; dan
  10. Cukup banyak adegan yang menampilkan oranh tua dari tokoh utamanya.

Ada yang mau menambahkan isi daftar ini? 😀

5 Things to Do Before I Die

A couple of months ago, an old friend from high school passed away. She was just 30 years old, yet she died from a heart attack. That day she said that she was tired and took a nap in her office, and she never woke up.

That news was somehow beyond shocking to me. I came to question my purpose of life. It reminded me of my forgotten dreams; all the things I wanted to do before I die, all the things that I sacrificed for mornings to nights in the office. I always thought I had plenty of times, but what if I didn’t?

It was also shocking to me because the day my friend died, I also felt pretty much the same symptoms as hers. I didn’t think I was sick, I just felt extremely tired and I always craved for a long nap. I still remember the nights I fell asleep in the office, with a cushion in my arms, and then I’d woke up just to go back to my laptop again.

I finally asked myself, “Do I really want to do this for the rest of my life?  And from all the things I wanted to do in life, what did I want the most?”

I want to run my own business. Turning my biggest dreams to a reality. I want to run a company that makes the employees a better person; the very best version of themselves. I want to see my ideas becoming a brand. And I want to prove myself that I can really do what I thought as “the impossible”.

I want to take further study. I miss reading thick books and worked on my exams. I miss the butterflies in my stomach everytime I was expecting my grades came out on the screen. I missed the excitement, the joy, and the pride knowing that my hard work was paid off. I really really miss to be a student again and to learn from someone else again.

I want to write a book. Any book. A novel, I hope. I’ve always wanted to become a real writer ever since I was a little kid. I want to be able to see a book with my name on it displayed in a bookstore. I want to have some legacies, and the book I write should be one of them.

I want to travel around the world. One or two countries in every continent on earth only in one trip. I had been working too hard even before I finished my study and I really want to take a long break.

And of course, I want to finally meet my Mr. Right. I’m sick of feeling like I’m not good enough. I’ve had enough of restarting over and over again. I’m done with wondering and waiting. I want to be able to tell myself that I have finally found someone to share a lifetime with.

Right after all those thoughts, I made up my mind. I should not wait any longer. So there I told my boss I would only stay until end of year. I wanted to spend more times on my own start-up. I also eventually reduce my overtime to have a lot more of me times. I continued writing my novel and I started to look for the best business school in town. And the best part is that I finally moved on from my latest heartbreak and all the dramas that came with it. What about traveling the world? Oh well I can’t do everything only in a year, but least, I’m starting to get my life back to the track that I really want for myself!

I hope, I really hope, I will still have enough times to do at least, to pursue all these 5 biggest dreams of mine.

Amiin for me, please? 🙂

If You Really Love Somebody, Let Them Go

Entah dari mana sumber aslinya, gue cukup sering mendengar kalimat berikut ini, “Sometimes when you really love somebody, you have to let them go. If they come back, they will be forever yours. If they don’t, it’s just not meant to be.”

Kemudian kebetulan hari ini, ada teman gue yang bercerita soal teman ibunya. “Dulu nyokap gue pernah punya teman cowok yang ngejar-ngejar satu cewek. Tiap hari, cowok ini muncul depan rumah cewek itu. Suatu hari nyokap gue saranin cowok ini untuk mendadak hilang untuk lihat reaksi si cewek. Dan bener aja, setelah si cowok bener-bener mundur, cewek ini nyariin duluan dan akhirnya mereka married sampai sekarang.”

See? Nasehat model begini memang bukan sekedar mitos!

Hilangnya seseorang yang sebelumnya selalu ada akan membuat kita merasakan bagaimana jadinya hidup tanpa ada dia. Jika terasa baik-baik saja, berarti memang sudah sebaiknya tidak dilanjutkan. Tapi jika langsung terasa ada yang hilang, rasa takut kehilangan yang mulai kita rasakan itu akan membuat kita menyadari arti dia yang sebenar-benarnya. Pernah takut kehilangan juga akan membantu kita untuk tidak lagi memperlakukan dia dengan seenaknya (taking them for granted). Kita jadi bisa lebih menghargai keberadaan dia dalam hidup kita ini.

Dulu banget, gue pernah ada di posisi sebaliknya. Ada satu cowok yang pantang menyerah berusaha deketin gue sampai hampir satu tahun lamanya. Pada satu titik, akhirnya dia nyerah juga. Akhirnya dia hilang juga dari keseharian gue. Apa yang gue rasakan? Gue sempat merasa ada yang hilang, tapi gue merasa baik-baik saja. Gue hanya merasa perlu adaptasi sebentar dan memang benar saja, akhirnya gue lupa dengan sendirinya.

Bertahun-tahun kemudian, gue menyadari bahwa memang sudah sebaiknya gue dan dia berpisah sampai di situ saja. Sekarang dia bukan cuma udah married, tapi juga terlihat benar-benar bahagia dengan pernikahannya. Gue melihat istrinya betulan bisa menerima dia apa adanya; dia bisa melakukan hal-hal yang belum tentu bisa gue lakukan untuk suaminya itu.

Dulu, gue sadar bahwa cowok ini emang sengaja menghilang untuk melihat reaksi gue. Tarik-ulur istilahnya. Tapi ternyata, gue tidak terpancing, yang memang artinya, gue dan dia hanya “not meant to be“. Dan gue yakin, dia enggak menyesali keputusannya untuk melepas gue saat itu, karena toh akhirnya, dia menemukan orang lain yang memang lebih baik untuk hidupnya.

Itulah alasannya, saat gue udah had enough dengan orang yang gue sukai, pada akhirnya gue akan melepaskan mereka dengan benar-benar mundur teratur. Kalau dia enggak kembali lagi, maka ya sudah. Buat apa gue ngotot mengejar orang yang merasa hidupnya baik-baik saja meski tanpa gue? Insyaallah suatu saat nanti, akan dagang orang lain yang lebih baik dan terbaik untuk diri gue. Tapi kalau perginya gue membuat dia merasa sangat kehilangan, maka insyaallah, dia akan mencari jalannya sendiri untuk kembali lagi.

Jangan terlalu takut melepaskan genggaman, karena pada dasarnya, orang yang benar-benar menginginkan kita dalam hidupnya tidak akan balas melepas genggaman tangan kita itu. Mereka tidak akan membiarkan kita terlepas dari genggaman tangan mereka.

Let them go, and see if they will try to find their way back to us.

What Makes People Unhappy?

Three days ago, my boss invited me to join a non-technical training in the office. Before the session was begun, he asked us to open menti.com (an online voting tool) to answer this question: from scale 1 to 10 and 10 is the happiest, how happy are you?

There was no doubt, I gave it an 8. It would be a 9 or 10 if I already sorted out my career and love life drama. If you asked me the same question one year ago, I would definitely gave it a 9 to 10. My life was at its happiest moment back then. I was so much in love, my career was beyond exciting, and my best friends hadn't bailed on me. But well, 8 is not that bad, is it?

And apparently I was right; 8 was not that bad. It was not bad at all. It appeared that the average score of almost 20 people in the room was only 5! If I gave it an 8 and the average score was 5, it meant some people only scored it a lot less than 5! In other words, so many people in that training were unhappy with their life.

That training was not intended to make us happier; that was not even the main topic. But that one vote about happiness really consumed me. I know many people in that room and apparently, some of them are not as happy as it seems.

I looked around and I wondered, "But why?"

And then it hit me. If I got the same question twenty years ago, I would only score it at 3. Ten years later, it was 5 or 6. It kept increasing with up and down in between, but in the past one decade, it's never less than 7 even in the hardest moments of my life as an adult. It feels so amazing and I'm grateful for that!

The question now, what did I do to make myself happier? What made me unhappy and how did I deal with that?

Twenty years ago, I only went on with the flow. I had no ambition, no purpose in life, no good reason to wake up in the morning and start a new day. And then I evolved. I started to write a wish list, I started to dream, I started to work hard to make it all happen. Pursuit of dreams were never easy, but it never ceased to make me happier than who I was before.

Along with my determination to have a better life, I had also learned on how to have courage and how to fight for everything that I believed was right. I was no longer silent everytime people were unfair to me, I spoke up my mind and I stood up for myself. I've won so many battles to overcome my own fear and from all of my achievements in life, this is what I'm proud the most!

Also when I was younger, I didn't care so much about friendship. As long as I had someone to have lunch with was more than enough. And then I started to make some good friends. I started to build a friendship that lasts for decades, and for lifetime, I hope. We didn't always get along in all those entire years, but we always found our way back to each others. And it always makes me happier knowing that no matter what happens, I will never be alone.

Nine or ten years ago, I was never really into my own hobby. I simply did what I wanted to do and that was that. And then I eventually did a lot more of it. I purchased this domain for my blog, I started to travel the world frequently, I read more variety of books, I also gave myself some specific budgets to shop all the things that I wanted to buy every month! I still remember how happy I was the first time I bought my authentic leather bag. It might sound artificial, but I'm happy that I've worked so hard that I'm able to reward myself a life I always dreamed of.

And finally, apart from the broken hearts, I have to admit that I'm happiest when I'm in love. It can instantly scale up my happiness score from 9 to 10! It always makes me happy to see someone I love trying so hard to make me happy, or to comfort me in the little things. It's always lovely to know there is someone else care so much about me that he always puts me before himself. That's the reason why I was happier after I knew how it felt to fall in love. The downside, it's also the reason why once I lose it, I also lose a little bit of happiness that I used to feel.

At the end of the day, I've come to learn that happiness is a work. A hard work. You can't just sit at home hoping that happiness will come along! As much as it's important to be happy with the little things, it's also important to conquer the big things to make us happier, to make us fulfilled with joy and pride. And of course, great things in life are never easy. But then, the happiness you feel after all the hard works you put into will be the greatest happiness that make all those sacrifices are just worth it. So maybe, if you feel unhappy, that's only because you're too lazy to make yourself happy.

Life is too short to be unhappy. From all people on earth, you are the only one who can make yourself the happiest version of you. Find your way to evolve, then happiness will be no longer a myth.

Belajar dari Abang Gojek

Sebagai pelanggan setia Gojek yang sedang berambisi mendapatkan iPad gratis (48,000 points to go! 😀 ), gue punya banyak banget cerita tentang gue dan sederetan abang Gojek. Daripada cerita soal yang paling lucu dan paling menyebalkan, gue lebih ingin bercerita soal abang Gojek yang paling meninggalkan kesan positif. Berikut ini rangkumannya!

Abang Gojek dan Aqua botol

Sebagai anak kosan yang malas naik-turun ke pantry di lantai 3, gue lebih memilih untuk beli Aqua botol sekalian saat gue pesan makanan via Gofood. Kemudian suatu hari, gue pesan makan ke Lucky Cat yang ternyata tidak menjual air mineral merk apapun!

Awalnya si abang Gojek menelepon, dia bilang Lucky Cat tidak jual air mineral karena mereka menyediakan air putih gratis untuk pengunjungnya. Si abang Gojek tanya gue mau minum apa sebagai penggantinya? Gue bilang tidak usah, gue cuma perlu air putih. “Maklum anak kos, hehehehe,” kata gue saat itu.

Hampir satu jam kemudian, abang Gojek sampai ke depan kosan membawa makanan gue lengkap dengan 3 botol Aqua yang sempat gue pesan secara manual lewat aplikasinya! Saat gue tanya, abang Gojek bilang begini, “Akhirnya tadi saya beliin di Sevel, mbak. Cuma jalan sedikit dari Lucky Cat.”

Gue tersenyum lebar… masalah air mineral selesai sudah! 😀

Abang Gojek dan mayonnaise satu kantong 

Gue ini penggemar berat Dim Sum Inc semata-mata karena mayonnaise mereka yang enak banget! Mereka menyediakan satu botol mayonnaise di masing-masing meja restorannya. Hanya saja sayangnya, mereka pelit kasih mayonnaise untuk pesan antar!

Untuk mengakali masalah Dim Sum Inc pelit mayonnaise, gue suka bilang ke abang Gojek untuk minta mayonnaise yang banyak. Kadang dikasih, kadang tidak dikasih. Entah salah di mana, tapi gue tidak selalu mendapatkan extra mayo yang gue mau meskipun gue sudah pesan banyak menu sekalipun.

Lalu suatu hari, abang Gojeknya bilang begini, “Ok, Mbak. Saya tahu caranya.”

Mau tahu bagaimana caranya? Dia minta plastik es ke restoran, lalu dia isi hampir seperempat plastik es itu dengan mayonnaise dari dalam botol! Puas banget deh pokoknya, hehehehe.

Abang Gojek dan Pablo cheesecake

Waktu Pablo baru buka, gue penasaran kepengen coba tapi malas lihat antriannya. Berkali-kali coba pesan lewat Gofood, berkali-kali gue harus klik “Try Again“. Setelah percobaan ke sekian kalinya, akhirnya ada juga Gojek yang bersedia ambil! Saat si abangnya telepon, sempat deg-degan akan dibatalkan (lagi), tapi ternyata hari itu emang hari keberuntungan gue!

Abangnya bilang, “Ini antrinya bisa 2 jam, nggak papa ya, Mbak?”

“Iya, Pak. Nggak papa. Berapa lama pun saya tungguin deh.”

Hampir tiga jam kemudian, akhirnya datanglah juga Pablo pertama gue! Abangnya senyum-senyum sambil bilang, “Saya ngantri 2 jam lho.” Belum lagi perjalanan Gandaria-Kuningan yang lumayan jauh! Jadi terharu, hehehehe.

Abang Gojek dan batagor kesukaan

Gue suka banget makan batagor di rumah makan dekat kosan. Hanya saja kadang-kadang, bumbu batagornya suka kelewatan pedasnya! Karena gue enggak suka makan pedas, gue tegaskan ke abang Gojeknya bahwa gue enggak bisa makan pedas.

Saat akhirnya pesanan gue tiba, abang Gojeknya bilang begini, “Kata orang restonya, bumbu mereka emang udah dari sananya agak pedas, Mbak. Tapi ini udah saya minta bungkusin kecap manis.”

Masalah batagor gue terpecahkan, hehehehe.

Abang Gojek dan pecel ayam

Malam itu gue benar-benar sangat lapar. Udah mepet jam tutup restoran pada umumnya, kalau tidak cepat pesan, pilihan makan malam gue akan jadi sangat terbatas. Dan benar saja, restoran yang gue inginkan sudah tutup setengah jam lebih awal 😦

Abang Gojeknya lalu bilang, “Pecel ayam aja mau, Mbak? Mirip-mirip sama ayam goreng yang Mbak tadi pesan. Di mall ini ada yang jual dan masih buka.”

Pecel ayam: sold!

Apa yang bisa kita pelajari dari semua cerita ini? 

Pelajarannya: apapun karier yang kita pilih, akan selalu ada peluang untuk melakukan “the extra miles”. Saat bekerja, tidak usah melulu hitung-hitungan! Lakukan saja semaksimal yang bisa kita lakukan. Ini yang membedakan karyawan teladan dengan karyawan yang biasa-biasa saja, dan ini pula yang menurut gue, membedakan Gojek yang dapat banyak tip ketimbang Gojek yang hanya dapat sedikit tip, hehehehe.

Do your best, let God do the rest.