Always Do Your Best, Let God Do the Rest

Sekitar satu atau dua tahun yang lalu, seorang teman pernah bilang, “Bekerja itu jangan cuma untuk gaji, jangan juga hanya untuk dapat pujian dari atasan, bekerja itu untuk Tuhan, harus ikhlas karena untuk Tuhan.”

Awalnya, gue hanya menganggap perkakataan dia sebagai sekedar ‘quote of the day’ saja. Tapi seiring berjalannya waktu, quote itu udah naik tingkat menjadi ‘quote of my life’.

Jika kita bekerja hanya untuk gaji, akan selalu ada orang lain yang gajinya lebih besar daripada kita. Kerja di perusahaan yang sama, posisi yang sama, dan tanggung jawab yang sama besar pun, belum tentu nominal gajinya juga sama besar. Bahkan bisa saja terjadi, orang dengan jabatan lebih rendah daripada kita di kantor malah dapat gaji bulanan yang lebih besar!

Jangan pula bekerja hanya untuk dipuji atasan… Kenyataannya, belum tentu atasan menghargai report yang kita buat, menghargai jam kerja kita yang lebih dari 12 jam dalam satu hari, karena bisa jadi buat mereka, semua pengorbanan dan prestasi kita itu sebagai sesuatu yang ‘kan-memang-sudah-seharusnya-seperti itu.’

Gue percaya jika kita bekerja keras, bekerja cerdas, dengan ikhlas dan menghasilkan output yang luar biasa, maka pekerjaan itu tidak akan pernah sia-sia. Seperti yang pernah gue bilang ke seorang teman lainnya, “Just do your best, let God do the rest. Hidup itu adil, manusianya aja yang suka berbuat enggak adil. But God doesn’t sleep! Jika kerja keras kita nggak dihargai di kantor ini, maka pasti, nanti akan ada perusahaan lain, atau pintu rejeki lain, yang membayar hasil dari kerja keras kita itu.”

Saat kita bekerja luar biasa, belum tentu imbalan materinya otomatis akan luar biasa juga. Tapi kita harus percaya bahwa tiap kali kita bekerja luar biasa itu, di saat yang sama, kita juga sedang melakukan ‘investasi’ dalam kualitas diri kita sendiri. Someday we will eventually realize how much we have learned from all of those hard works.

Kemudian saat hasil kerja keras hanya dianggap angin lalu oleh atasan, jangan berkecil hati! Anggap saja, pekerjaan kita itu sebagai amal ibadah kita. Lakukan dengan ikhlas, agar hal tersebut dapat mendatangkan berkah, mendatangkan pahala, dan mendatangkan kebaikan untuk hidup kita di masa yang akan datang. Makanya, sekali lagi, bekerjalah untuk Tuhan. Bekerjalah dengan ikhlas. Lakukanlah yang terbaik, dan harus tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Untuk teman-teman sesama muslim, gue ingin sekalian mengutip satu baris dari Q.S. Al-Zalzalah, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”

 Always do believe… you only need to do your best, and let God do the rest.

Sulitnya Menjadi Wanita Karier di Indonesia

Tadi pagi, gue nemuin iklan Pantene Philippine yang di-share dosen gue dulu via Twitter. Iklan berdurasi satu menit yang menyoroti kontrasnya opini masyarakat tentang pria yang sukses dengan karier-nya jika dibandingkan dengan wanita yang juga sukses dengan karier-nya. Nonton iklan ini bener-bener bikin gue merinding! Satu dari sedikit iklan yang bikin gue ngerasa terharu. Kepingin lihat iklannya? Ini link Youtube-nya.

Iklan ini dibuat oleh Pantene Philippine yang bisa jadi mengisyaratkan, hal serupa masih sering terjadi di negara tersebut, sama seperti yang gue rasakan saat berkarier di negara tercinta ini. Berikut ini kerasnya label sosial atas perjalanan karier gue sendiri.

I’m bossy

Pernah ada seorang teman yang membocorkan… ada beberapa orang di kantor yang menganggap gue ini tipe orang yang bossy. Setelah gue cari tahu, ternyata penyebabnya sederhana saja: gue suka ngasih-ngasih tugas yang disertai dengan specific deadline.

Gue kaget bukan karena ada orang lain yang bicara buruk tentang gue. Gue udah bisa terima kenyataan bahwa memang benar, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Yang bikin gue kaget adalah… kenapa memberikan tugas yang disertai dengan tanggal pengumpulan dikategorikan sebagai sifat bossy? That is my responsibility as their boss.

Padahal gue sudah menyertai semua kalimat gue dengan kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’. Malah terkadang, gue bertanya pada mereka apakah deadline itu doable untuk mereka achieve? Tapi tetap saja… label bossy melekat erat di diri gue. Ironisnya lagi, di kantor jelas-jelas ada bos lain yang suka memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal-hal remeh yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan. Tapi apa komentar orang lain tentang dia? Orang-orang hanya dengan santai merespon, “Ya wajarlah, namanya juga boss.”

Dan… ya… Bos lain yang gue bilang suka memerintahkan hal-hal remeh tetapi tidak dibenci oleh karyawan kantor itu laki-laki, bukan perempuan seperti gue.

Gue sombong dan suka pamer

Ada lagi satu temuan yang pernah bikin gue ngerasa syok: gue sombong dan suka pamer. Lagi-lagi, julukan itu ditujukan ke gue hanya karena hal-hal yang luar biasa sepele. Jadi ceritanya, baru-baru ini, gue mengetahui ada rekan kerja yang tidak suka saat gue bilang begini kepada orang lain, “Oh… iya… saya kerja untuk dua perusahaan. Di Bogor, saya pegang finance and accounting. Kalo di Pluit sini saya cuma pegang Accounting-nya saja.”

Masalahnya… di kantor ada cukup banyak orang, khususnya the new comers, yang suka bertanya, “Jadi kamu itu kerja di Bogor atau Pluit?” Mereka juga suka bertanya-tanya, “Kenapa di Pluit office bisa sampai 3 orang manajer di divisi finance-nya?” Dan kalau jawaban yang gue kutip di atas itu dianggap sombong, jadi seharusnya gue jawab apa gitu?

Menurut teman gue yang berpendapat demikian, statement gue itu kesannya gue ngerasa gue ini yang paling hebat dan paling banyak kerjaannya. Seriously… I’m just speechless. Di kantor, memang hanya gue satu-satunya manajer perempuan yang bekerja untuk 2 company sekaligus. Ada beberapa manajer lain yang juga melakukan hal yang sama, yang juga selalu menjawab pernyataan yang sama jika diajukan pertanyaan yang sama. Pertanyaan gue sekarang, kenapa hanya gue yang dianggap sombong dan suka pamer hanya karena menjawab telah bekerja untuk 2 perusahaan sekaligus?

Perempuan sukses dengan karier-nya = calon perawan tua

Ini dia… label sosial yang paling gue benci soal perempuan yang sukses dengan karier-nya.  Dua tahun yang lalu, saat gue baru saja mendapatkan promotion ke managerial level, bukannya mengucapkan selamat, seorang kerabat malah bilang bilang begini ke nyokap gue, “Hati-hati itu si Riffa… Di kantor gue, cewek-cewek kayak dia biasanya susah dapet jodoh.”

Tentu akan lain cerita kalo gue ini terlahir sebagai laki-laki… Gue yakin, tidak mungkin ada orang yang berpendapat, “Riffa akan jadi perjaka tua karena karier-nya sudah terlalu tinggi buat ukuran laki-laki.”

Gue akui, memang benar bahwa semakin tinggi pencapaian karier perempuan, maka umumnya, semakin tinggi pula ekspektasi kami terhadap si calon Mr. Right. Women tend to want someone who is ‘more’ than us and I think, that is a very normal behavior. Memang tidak semua perempuan sukses menginginkan pasangan yang lebih sukses daripada mereka, tapi kasus pertikaian rumah tangga karena si istri lebih sukses daripada suaminya itu bukan hanya terjadi di sinetron saja. Makanya wajar jika kami menginginkan cowok yang serba lebih, yang pada akhirnya, membuat kami semakin sulit menjatuhkan pilihan.

Dari sudut pandang sebaliknya, ada beberapa teman cowok yang mengakui… mereka cenderung tidak memilih perempuan yang terlihat lebih sukses daripada mereka. Malah, beberapa teman cowok pernah menasehati, “Elo itu kalo di depan cowok yang elo suka, sesekali pura-pura bego aja! Ngalah aja! Jangan kelihatan terlalu pintar.” Lagi-lagi, hal ini udah mempersedikit jumlah pilihan yang gue punya.

Akan tetapi… haruskah gue menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita setinggi langitnya gue itu? Definitely no, a big NO. Sama seperti tagline-nya iklan Pantene yang tadi gue share: “Don’t let labels hold you back. Be strong and shine.”

If your career achievements make you feel happy, worthy, and proud for who you are, then never ever let those labels stop you. Don’t let them define you, keep going and be the best that you can be. Always remember: there’s always a price that we’ve got to pay for everything good in life. Those labels maybe are the price those we’ve got to pay for our success… but those exclusive leather handbags totally worth the price right? Hehehehe.

You Know You’re Happy With Your Life If You…

You know you’re already happy with your job if you no longer compare it with the previous one, or when finding a new job never crosses your mind again not because you’re afraid to quit, but simply because you know you already have the best one.

You know you’re already happy with your love life when you stop talking about your Ex like all the time, or when you have stopped calling and texting them just because you still feel something is missing or just because you’re afraid that you have lost your best one.

You know you’re already happy with your friendship when you no longer have to try hard just to show off how many friends you already have, or when the warmth of true friendship touches your heart in better and worse.

You know you’re already happy with your families when you sincerely accept them as a part of your life instead of feeling trapped just because you have no other choice other than sticking with them.

You know you’re happy with who you are when you stopped trying to become someone else. You could accept and deal with your flaws, and you sincerely feel grateful for all the good things in you.

You know you’re happy with your choices when you stop constantly asking yourself, “What if I took that other decision?” You will also stop trying so hard just to convince yourself that you have made the right decisions.

You know you’re happy with your achievements when you stopped trying to bring people down just because it looks like they have achieved much more than you do. You will sincerely accept the fact that every people have their own path and their own definition of success.

Finally, you know you’re happy with your life when you could stay strong, stay positive, and stay enjoying your life even when things around you are not always pretty. You know that your life is not perfect but you also know how to deal with it. You no longer wait for perfection to come just be happy with the life you already have.

Happiness will never come to someone who just sits and hopes miracle will come and bring some joys. We have to work very hard just to be happy with our job. We have to push ourselves to become a good person if we want to be surrounded by many good friends. We have to fight and never give up in order to live happily ever after with our soulmates. In a few words, we need to work hard just to be happy.

Life is beautiful, only if you know how to live in it. Wish you have a happy life! 🙂

Bersahabat dengan Rekan Kerja? Kenapa tidak?

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat pernah cerita tentang teman-teman lamanya. Dia bilang, “Dulu sih akrab, tapi setelah lulus atau setelah pindah kerja, komunikasi jadi putus.”

Gue lalu berpikir, dan teringat dengan diri gue sendiri. Gue juga pernah mengalami hal yang sama. Makin ke sini, jumlah sahabat dari bangku sekolah malah makin sedikit. Padahal dulu akrab banget, temen curhat, temen hang out, temen haha-hihi dan bergosip ria… tapi sekarang, jangankan bagaimana kabar mereka… mereka kerja di mana, punya pacar namanya siapa, atau sekarang tinggal di mana pun gue udah nggak tau lagi.

Lalu gue juga jadi teringat… setelah bekerja pun hal yang sama kembali terulang. Misalnya sekarang, gue punya sahabat baru di kantor baru yang belum sampai 3 tahun berteman dengan gue. Meski belum sampai 3 tahun, pertemanan gue dengan dia justru lebih erat ketimbang hubungan gue dengan sahabat gue di kantor yang dulu, yang notabene, sudah gue kenal sejak hampir 5 atau 6 tahun yang lalu.

Ujung-ujungnya, gue juga teringat sama sahabat baik gue sejak kuliah dulu. Syukurnya sampai sekarang, gue dan dia masih keep in touch. Dia masih jadi tempat curhat favorit gue, dan hopefully, gue juga masih jadi temen curhat favoritnya dia, hehehe. Meski begitu, gue tahu bahwa di kantornya, dia punya sahabat baru yang sepertinya, lebih akrab dengan dia ketimbang dengan gue yang sudah dia kenal jauh lebih lama.

Nah… sampai sini, gue malah jadi heran. Kenapa justru banyak orang yang bilang bahwa berteman dengan rekan kerja itu mustahil hukumnya? Karena kalo buat gue, bisa jadi, mayoritas teman terdekat kita saat ini adalah teman sekantor kita sendiri. Kenapa begitu?

  1. Untuk maintain friendship, tentu diperlukan kebersamaan. Dengan teman kantor, secara otomatis, kita sering banget menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Beda dengan teman-teman lama yang juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing;
  2. Tidak diperlukan appointment untuk having fun dengan teman-teman kantor. We could have fun with them in lunch time, in the pantry, in office outing, office party, etc… Beda sama teman-teman luar kantor yang terkadang, bikin appointment sama mereka bisa jadi lebih susah daripada bikin janji sama Presiden RI…
  3. Biasanya, kerja bareng identik dengan menanggung suka dan duka bersama-sama. Punya satu bos menyebalkan yang sama, sama-sama lembur sampai tengah malam, atau sama-sama membenci satu peraturan kantor yang dinilai unfair. Dan biasanya, berbagi suka-duka ini yang secara otomatis mendekatkan kita dengan orang lain; dan
  4. Punya satu topik (biasanya gosip kantor) yang sama-sama diminati kedua belah pihak. Ngomongin gosip kantor dengan teman SMA tentu terasa kurang greget karena mereka tidak mengenal lingkungan dan orang-orang yang sama dengan kita. Lagi-lagi, tanpa kita sadari, gosip kantor sudah bikin kita jadi lebih akrab dengan rekan kerja.

Makanya kalau menurut gue, rugi banget jika kita lebih memilih untuk jaga jarak dengan teman kantor kita sendiri. Jaga jarak dengan rekan kerja = kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sahabat baru. Belum lagi, berteman baik dengan rekan kerja juga bisa membantu pekerjaan kita di kantor lho. Berteman baik dengan atasan akan membuat mereka menaruh kepercayaan lebih kepada kita, hidup kita di kantor juga biasanya akan terasa jadi lebih mudah. Berteman baik dengan bawahan akan membuat mereka lebih tulus dan ikhlas untuk membantu kita. Dan berteman baik dengan rekan kerja lainnya bisa menjadi extra support di saat-saat tersulit kita di kantor. Kemungkinan kita di-backstab juga akan mengecil jika kita bisa berteman baik dengan kompetitor kita sendiri. It sounds great, right?

Memang benar, berteman dengan rekan kerja itu juga ada resikonya, tapi kenapa tidak dicoba dulu? Tidak semua orang akan berubah kurang ajar dan tidak profesional hanya karena merasa sudah akrab… Yang penting satu prinsipnya: jika keakraban kita dengan mereka pada akhirnya malah put us in danger, dan saat kita sudah harus memilih antara pekerjaan atau teman, sebagai seorang yang bekerja secara profesional, kita tetap harus memilih pekerjaan ketimbang teman. Kita tidak boleh membenarkan sesuatu yang salah sehingga sampai merugikan perusahaan hanya karena faktor terlanjur akrab dengan rekan kerja ybs.

So simply be good to your colleagues, because perhaps, they could be a good friend, even a very good friend you’ll ever have along the way.

Buat gue, dalam hidup ini, ada 5 tingkatan dalam pertemanan:

  1. Cuma kenal nama (acquaintance);
  2. Teman (friend);
  3. Teman baik (good friend);
  4. Sahabat (best friend); dan
  5. Sahabat sejati (true friend/BFF – best friends forever).

Banyak orang bisa lanjut sampai tahap ke empat, tapi belum tentu bisa terus bertahan sampai tahap ke lima. Sahabat sejati tidak mengenal usia, tidak mengenal jarak, dan sahabat sejati akan selalu punya waktu untuk satu sama lainnya. Sahabat sejati akan selalu memaafkan, dan sebaliknya, akan selalu memantaskan diri agar layak untuk dimaafkan. True friends are hard to find, and who knows you can find yours in the office?

Satu hal lagi yang membuat gue berpikir kita justru bisa menemukan true friend di kantor adalah karena: jika mereka bisa menyingkirkan faktor uang, jabatan, konflik pekerjaan, dan persaingan hanya untuk menjadi sahabat kita, maka mereka adalah orang yang memang benar-benar layak untuk dijadikan sahabat. Jadi sekali lagi… kenapa tidak dicoba dulu?

Apakah Kamu si ‘Kutu Loncat’?

Percaya nggak percaya, kutu loncat alias orang yang hobi pindah-pindah kerja, umumnya tidak mau mengakui bahwa mereka memang pantas dijuluki kutu loncat. Makanya bisa jadi, diri kita pun hanya si kutu loncat in denial. Lalu bagaimana cara kita introspeksi tentang seberapa kutu loncatnya diri kita ini?

Setelah gue amati para kutu loncat di sekitar gue, berikut ini ciri-ciri mereka pada umumnya!

  1. Ciri yang paling mudah, masa kerja kutu loncat sangat-sangat pendek. Kutu loncat yang paling parah bisa berganti kerja setiap tahunnya, tapi sebetulnya… berganti pekerjaan setiap tiga tahun sekali masih masuk hitungan kutu loncat juga lho;
  2. Ada yang bilang 3 tahun sekali itu masih wajar, ada juga yang bilang tidak wajar. Jadi memang masih ambigu. Maka mari kita teliti ciri-ciri si kutu loncat yang lainnya: kutu loncat sering menjadi alasan ‘tidak cocok dengan atasan/rekan kerja’ sebagai alasan untuk resign. Di manapun kita kerja, pasti akan ada saja orang yang menyebalkan setengah mati. Jika kita tidak bisa berdamai dengan hal tersebut, tidak heran kalau kita jadi sering banget ngetik surat resign;
  3. Kutu loncat cenderung membenci orang-orang yang sering kerja bareng mereka. Makanya untuk acara makan siang, mereka lebih memilih teman sekantor yang jarang berurusan dengan mereka. Kutu loncat mudah sekali melihat kualitas buruk rekan kerjanya dan cenderung mudah melupakan sisi baiknya, sehingga balik lagi ke point 2, ujung-ujungnya, mereka resign dalam waktu singkat;
  4. Kutu loncat biasanya suka menempatkan diri mereka sendiri sebagai korban, sebagai orang yang didzalimi, diperlakukan tidak adil, dsb dsb… Padahal bisa jadi, justru mereka sendiri yang sedang mendzalimi orang yang mereka tuduh mendzalimi itu…
  5. Mereka tipe yang terlalu suka mengenang masa-masa kerja di kantor terdahulu, terlalu sering bilang kangen, ada pula yang sampe kepingin balik lagi, padahal dulu, waktu masih kerja di tempat lama, dia benci setengah mati sama mantan kantornya itu. Berhati-hati sama tipe staf yang sudah menunjukkan ciri-ciri ini… biasanya, pengunduran diri mereka hanya tinggal hitungan bulan;
  6. Tidak suka mengeluh tentang pekerjaan bukan berarti tidak memiliki potensi sebagai kutu loncat. Malah menurut pengamatan gue, orang yang suka curhat itu justru lebih tahan banting ketimbang orang yang suka memendam perasaan. Saat curhat, beban di hati akan sedikit berkurang sehingga keinginan untuk resign akan berangsur hilang. Sebaliknya, orang yang tertutup cenderung menumpuk beban perasaan dan saat sudah tidak tahan, mereka lebih memilih untuk melarikan diri;
  7. Kutu loncat sering pindah-pindah kerja dengan alasan merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya, padahal bisa jadi sebenarnya, mereka sendiri yang tidak pernah berusaha keras untuk beradaptasi;
  8. Banyak kutu loncat alergi setengah mati dengan kritik dari rekan kerja, termasuk kritk dari atasannya sendiri. Tipe orang seperti ini, saat dikritik, akan sibuk membenci dan bukannya sibuk berusaha memperbaiki diri. Tidak adanya perbaikan hanya membuat jumlah kritik yang mereka terima jadi semakin banyak, sehingga ujung-ujungnya, mereka lebih memilih untuk lari dari sumber kritiknya. Padahal kenyataannya… tidak ada tempat kerja yang bebas kritik. Terus-terusan berusaha cari kantor bebas kritik = menjelma jadi kutu loncat;
  9. Kutu loncat biasanya tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja under pressure. Makanya, kalau tidak mau punya karyawan yang mendadak kabur saat pekerjaan sedang sulit-sulitnya, jangan pernah rekrut si kutu loncat!
  10. Terlalu mudah bosan. Tidak semua kutu loncat resign karena alasan bosan, tapi orang yang terlalu mudah bosan dengan pekerjaannya, cenderung berakhir menjadi kutu loncat. Tapi kabar baiknya, tipe pembosan biasanya tidak akan mengulang kesalahannya dengan cara apply ke pekerjaan yang sama persis sehingga pada suatu titik, mereka akan berhenti jadi kutu loncat setelah berhasil menemukan jenis pekerjaan yang mereka sukai.

Gue tidak bilang semua kutu loncat itu jelek. Gue sendiri pernah satu kali punya karyawan kutu loncat yang kerja bareng gue enggak sampe satu tahun. Meski begitu, gue enggak nyesel pernah terima dia jadi bagian dari tim gue. Karena meskipun cuma sebentar, dia udah ngeberesin banyak hal dalam masa kerja dia yang singkat itu. Tapi tetap saja… untuk ke depannya, gue lebih prefer karyawan yang bisa bekerja dengan baik dalam jangka waktu yang lebih lama. Akan lebih sulit untuk create improvement kalau sebentar-sebentar karyawan gue ada yang resign.

Saran gue buat teman-teman yang suka jadi kutu loncat… if it doesn’t make you happier, not either make you a better person, then stop it. Belajar jadi orang yang tangguh, yang mau memperbaiki diri, dan bukan malah jadi orang yang suka lari dari masalah. You have to know when you must stop and when you must keep on going. Good luck!

5 ‘Mantra’ Andalan

Sebelum gue mulai, jangan salah sangka dulu yah… Mantra yang gue maksud di sini bukan mantra sihir atau guna-guna, tapi kalimat andalan yang sering gue bilang sama diri gue sendiri di saat-saat tertentu. Semacam kalimat penyemangat buat diri sendiri kali yaah.

Nah, berikut ini, daftar mantra andalan gue:

Semua badai pasti berlalu, pasti…

Ini kalimat yang pernah dua kali gue jadikan status Facebook, plus sering gue sebutkan dalam hati, saat gue sedang melewati masa-masa yang luar biasa sulit. Kadang di saat panik dan tertekan, gue suka lupa bahwa semua kesulitan itu pasti akan berlalu, dan hanya dengan mengingat semua itu nantinya akan berlalu, selalu bikin gue jadi lebih tenang.

God will give the best way out, just right in time…

Nah, kalimat yang ini biasa gue ucapkan kalo udah mulai nggak sabaran… kenapa sih, doa gue masih belum dikabulkan sama Tuhan? Kalimat ini merupakan upaya gue untuk kembali percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar yang terbaik buat gue, tepat pada waktunya.

Whatever will be, will be…

Kalo pada akhirnya gue mulai pasrah, udah mulai nyerah, ini dia kalimat andalan gue… Ada kalanya, sekeras apapun gue berusaha, tetap ada hal-hal yang tidak akan pernah bisa gue kendalikan. Jadi ya sudah… apa yang akan terjadi, terjadilah.

I want to be a big girl so that I can be a big person…

Ada kalanya, tidak peduli sekeras apapun gue berusaha, hasil kerja keras gue itu belum tentu diapresiasi oleh orang lain. Malah entah kenapa, semakin ke sini semakin banyak aja orang yang senang meremehkan pencapaian yang gue punya. Kadang rasanya gue pengen marah, pengen ngebales rasa sakit hati gue, tapi gue selalu bilang sama diri gue sendiri… gue harus belajar berbesar hati. Gue punya banyak doa, karenanya gue sangat ingin jadi orang yang pantas dikabulkan segala doa-doanya. I do really hope that I could be a big girl who deserves to be a big person.

Someday I’ll live the life I’ve been dreaming of…

Belakangan ini, gue sering ngerasa karier gue stuck di situ-situ aja. Ada pula beberapa hal yang bikin gue ngerasa, “I deserve much better than this!” Kalo cuma mau nurutin emosi, gue bisa aja kabur secepatnya. Tapi masalahnya, my dream is much bigger than that! Gue punya mimpi besar yang perlu upaya luar biasa keras dan waktu yang sangat lama untuk bisa sampai ke sana. Makanya, di saat-saat seperti ini, gue selalu bilang sama diri gue sendiri… “Sabar… suatu hari, gue pasti bisa menjalani hidup sesuai impian.”

It’s difficult… but doable…

Gue nyadar banget bahwa prinsip-prinsip gue itu susahnya setengah mati buat diwujudkan… It’s so hard to live with principal and idealism like this. Tapi gimanapun gue percaya… kita harus menetapkan standar setinggi-tingginya supaya sejatuh-jatuhnya nggak bakalan jatuh banget. Besides, it doesn’t feel like me if I don’t fight for my own principal. Segala sesuatu yang baik itu biasanya memang susah untuk dijalankan, tapi jika hasilnya bisa bikin gue jadi orang yang lebih baik, kenapa tidak? Memang susah, tapi tidak mustahil! 

This Girl is On Fire!

Sudah jadi cita-cita sejak jamannya masih kanak-kanak, gue kepingin ngerasain kuliah di luar negeri. Setelah kerja, keinginan untuk hal itu terasa semakin kuat. Gue kepingin banting setir, kepingin kerja jadi Business Consultant di Consulting Company papan atas, dan untuk itu, gue harus punya gelar MBA. Secara program MBA itu cuma ada di luar negeri dan terkenal sangat mahal, beasiswa sudah jadi satu-satunya option buat gue.

Dua tahun yang lalu, gue pernah coba apply beasiswa yang disediakan pemerintah Australia. Gue pilih MBA meskipun sebetulnya tidak ada di preferred program mereka. Lalu hasilnya? Gagal, tentu saja, secara sampe sekarang gue masih di sini-sini aja 😀 Kemudian dari hasil ngobrol-ngobrol sama beberapa blog reader yang pernah dapet MBA scholarshipgue disarankan coba Fullbright (program beasiswa US) dan harus kejar GMAT score setinggi-tingginya. 

Sejujurnya, saat tahu soal GMAT, semangat gue sempat mengendur. I’m not good at Math, at all. Itulah alasannya kenapa gue bisa jago Microsoft Excel, salah satunya demi menutupi kekurangan gue buat urusan matematika 😀 Kemudian sempat ada kenalan yang menyemangati… GMAT score masih bisa didongkrak dengan kursus. Yang penting, good English and knows the trick. Gue pun mulai nge-Google, dan ketemu satu tempat kursus GMAT yang paling populer di Jakarta: PASCAL. Gue simpan link-nya, dan berniat daftar jika ada waktu luang.

Seiring berjalannya waktu, soal ikut GMAT preparation class seolah terlupakan dengan sendirinya. Dan tau-tau aja, gue malah udah siap-siap mau ambil PPAK! Kenapa gue malah memprioritaskan PPAK meskipun dalam hati kecil, gue kepingin banting setir dan meninggalkan dunia akuntansi?

Well, accounting is my comfort zone. There’s no doubt, I am good at it. Gue pernah coba karier jadi accounting software consultant, auditor, lalu sekarang, company accountant, dan semuanya selalu berjalan mulus. Dan gue khawatir… keberhasilan yang sama tidak akan gue dapatkan kalo gue banting setir. Makanya, gue pikir PPAK bakal lebih sesuai buat gue daripada GMAT program

Alasan lainnya, bekerja jadi business consultant sama saja gue kembali kepada kehidupan karier tanpa jeda. Crazy overtime and working from client to client… Gue masih ingat gimana beratnya hidup dengan jam tidur kurang dari 6 jam setiap harinya. Bangun tidur susahnya setengah mati, jadi dapet penyakit yang nggak pernah gue derita sebelumnya, nggak punya cukup waktu buat mikirin penampilan… Do I really want to go back to that kind of life? Belum lagi kenyataan bahwa banting setir = kembali memulai dari 0. Padahal di bidang akuntansi, gue udah sampe level managerial dan insyaallah, gue punya peluang di masa depan untuk sampai di level direksi. Jadi kenapa gue harus banting setir?

Kemudian beberapa waktu belakangan ini, ada serangkaian kejadian yang kembali mengingatkan gue sama impian yang sempat terlupakan itu. Karena suatu company event, gue jadi berkenalan dengan beberapa orang yang punya cool job. They all have the job that I’ve always wanted. Gue terpana banget dengan hanya sekedar ngelihat name cards mereka, dengan sekedar ngelihat betapa kerennya gerak-gerik serta betapa pintarnya mereka… Gue sampe bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Why am I still here?”

Di saat yang sama, gara-gara kesibukan kerja, gue jadi telat daftar kuliah PPAK gelombang bulan April. Kelas yang gue inginkan udah keburu penuh! Kalau mau, gue harus ambil kelas yang lokasinya jauh banget dari kantor, atau, ikut di lokasi yang diinginkan tapi itupun nanti, baru mulai bulan Agustus! Gila gue pikir… November sampai dengan bulan Mei tahun berikutnya itu busy season-nya accounting. Mana sanggup gue kuliah sambil kerja gila-gilaan dalam waktu yang bersamaan?

Puncaknya malam ini, dosen gue di Binus bikin kultwit tentang beasiswa S2 di luar negeri. Baca serangkaian tweet Ibu dosen bikin gue kembali on fire. Gue emang payah di Matematika, tapi Business Math gue di Binus berhasil dapet A dengan belajar dan latihan 2 kali lebih keras. Kemudian soal jam kerja, lho buktinya, gue kerja jadi Company Accountant juga pun, 4 bulan belakangan ini gue lembur gila-gilaan dan so far gue masih survive aja tuh. Jadi apa salahnya sih, gue coba lagi… coba sekali lagi? Lagipula bukankah… hal ini masih jadi bagian 30 things to do before 30-nya gue?

Memang benar, ikut kelas persiapan belum tentu berhasil dongkrak GMAT score gue. GMAT score sudah menjulang pun, enggak jaminan gue pasti dapet beasiswanya. Dengan beasiswa di tanganpun, enggak jaminan gue bisa diterima kerja di perusahaan impian. Dan yang paling buruk, mendapatkan pekerjaan impian pun bukan berarti gue akan benar-benar bisa menikmatinya. Tapiii, itu semua kan masih dalam bentuk kemungkinan. Mungkin, gue akan gagal, tapi… mungkin, gue juga bisa berhasil.

Gagal atau berhasil, yang penting gue coba dulu. Gue nggak mau terus-terusan menjadi orang yang hanya bisa menatapi betapa kerennya kartu nama orang lain. I have to give it a good fight, my best fight, before I give it up. Kalau ternyata kapasitas otak gue memang enggak akan pernah sampe untuk GMAT yang pantas masuk ke kelas MBA di universitas papan atas, ya sudah, yang penting gue tahu bahwa gue sudah mencoba.

So now… stop talking and tomorrow, first thing in the morning, I will call PASCAL right away to register my name in May 2013 class. Wish me luck!

10 Bad Habit yang Bisa Merusak Masa Depan Karier

  1. Bikin bos serba salah. Dikasih kerjaan gampang, “Ngebosenin! Nggak berkembang kalo begini terus,” tapi giliran dikasih kerjaan susah dikit, “Emang gue dikasih gaji berapa sampe disuruh ngerjain beginian?”
  2. Nggak mau tau ‘dosa-dosa’ masa lalu. “Masalah ini kan bukan gara-gara gue, melainkan gara-gara si A (yang notabene udah resign). Jadi kenapa harus gue yang beresin?”
  3. Paling anti disuruh lembur… Kalaupun akhirnya tetap lembur, kerjanya setengah hati, muka cemberut, dan hasil akhir banyak salahnya;
  4. Bikin report asal jadi, yang penting selesai tepat waktu, tapi isinya sulit dimengerti oleh orang lain, banyak typo alias salah ketik, format berantakan dan nggak enak dilihat;
  5. Keseringan cuti sampai-sampai jatah cuti jadi habis dan kena potong gaji hanya karena berbagai macam alasan. Anak sakit, suami sakit, orang tua sakit, nganter ortu ke sini-situ, nganter anak ke sini-situ…
  6. Cuti di saat peak season. Harusnya untuk yang satu ini, kita bisa sadar dengan sendirinya… jangan pernah cuti di masa-masa yang sudah pasti divisi kita sedang sibuk-sibuknya;
  7. Terlalu sering menjelek-jelekan atasan. Curhat di pantry, di lift, di toilet, curhat sama teman, sama OB, sama teman dari kantor sebelah… Ingat, semakin sering kita curhat, apalagi di tempat umum, semakin besar peluang omongan kita itu sampai ke telinga atasan. Be careful!
  8. Keseringan browsing, chatting, atau main games di jam kerja. Kalaupun ingin sesekali refreshing, pastikan kita menggantinya dengan pulang beberapa menit lebih akhir. Dan ingat satu hal, jangan sampai ketahuan siapapun! Not even your own friend in the office… Hal ini bisa dijadikan senjata oleh orang lain untuk menjatuhkan karier kamu;
  9. Sering bersikap ngelunjak… mentang-mentang tau si bos butuh kita banget. Hati-hati… dalam dunia kerja, akan selalu ada new comers. Kalau kita suka ngelunjak, jika kelak datang 1 saja new comer yang berpotensi menjadi rival, then we’ll be just nobody ever since; dan
  10. Tidak mau otodidak, maunya serba diajari oleh atasan. Supervisi anak buah memang sudah jadi tugas atasan, tapi tetap saja, karyawan yang mampu mengembangkan dirinya selalu sendiri punya peluang yang jauh lebih besar untuk mendapatkan promotion.

Mulutmu, Harimaumu

First of all, mari kita ingat kembali… Pernahkah kita melakukan 3 hal yang gue sebutkan di bawah ini?

Mulut tidak berhenti mengomentari berbagai detail dari pernikahan seorang teman… Makanan terlalu pedas, makanan sudah hampir habis, AC kurang dingin, kebersihan kurang terjaga, make-up si pengantin terlalu menor, dsb dsb… Setiap kali ketemu satu tamu lain yang kita kenal, mulut kita ini langsung sibuk melontarkan berbagai kekurangan dari pernikahan teman kita itu.

Kantor sedang mengadakan kegiatan rapat kerja tahunan, dan kita tidak henti-hetinya menggosipkan kinerja panitia raker. Pengumuman yang terlambat, instruksi yang kurang jelas, koordinasi yang kacau balau, acara ngaret lima belas menit, dst dst…

Atau saat sedang pergi berlibur dengan beberapa orang teman. Kita terus menerus mengungkapkan kekecewaan kita terhadap furniture hotel yang sudah tua, tour guide yang tidak pandai berbahasa Inggris, makanan yang rasanya aneh, sampai live show yang membosankan dan bikin ngantuk.

Pernahkah kita melakukan ketiga hal tersebut di atas?

To be honest, gue pernah. Bahkan cukup sering. No wonder kalau gue ini terkenal cerewet dan tukang komplain. Pikir gue saat itu, gue kan cuma menyuarakan isi hati. Gue tipe orang yang ngerasa, segala sesuatu itu harus diungkapkan, supaya hati jadi lega. Toh segala yang gue ucapkan itu sifatnya fakta, bukan gosip atau fitnah belaka… Jadi gue yakin betul, tidak ada yang salah dari melakukan hal-hal yang seperti itu.

Gue berpikiran tidak ada yang salah, sampai gue tiba pada suatu waktu di mana tiba-tiba saja, gantian gue sendiri yang sering menjadi objek gosip favoritnya orang-orang di sekitar gue.

Gue kenal seorang cewek yang senaaang sekali mengumbar kejelekan orang lain. Give her fifteen minutes to talk, then she will badmouth at least 3 other names. Dan sialnya lagi, gue tahu bahwa di belakang gue, dia juga suka sekali menjelek-jelekan gue tanpa bukti atau tanpa alasan yang kuat.

Kemudian ada lagi seorang cowok yang setiap kali ada event kantor, mulutnya tidak bisa berhenti ngoceh tentang berbagai kekurangan dari event tersebut. Gue sampai berpikir, kalo gue yang jadi panitia, gue pasti bakal kesal banget sama cowok itu. Lagipula memangnya apa dia yakin, dia bisa melakukan persiapan yang lebih baik jika gantian dia yang jadi panitia?

Dari situ, cara pandang gue langsung berubah total.

Mari kita bahas lagi 3 kondisi yang gue sebutkan di atas.

Yang pertama soal melontarkan banyak kritik atas pernikahan orang lain. Pertanyaan gue, jika kita sendiri yang menikah, relakah kita bila segala upaya untuk mewujudkan pesta pernikahan yang sempurna malah dikritik tiada henti oleh teman-teman kita sendiri?

Setiap orang, khususnya perempuan, selalu berusaha keras untuk mewujudkan pesta pernikahan impian mereka. Segala makanan yang disajikan itupun, mereka siapkan untuk menyenangkan tamu-tamunya, bukan untuk mengenyangkan perut mereka sendiri. Jadi apa susahnya sih, menahan mulut untuk tidak berkomentar negatif? Hargailah upaya keras sang pengantin, dan jangan rusak kesenangan mereka, atau kesenangan keluarga besarnya, dengan terus menerus menyampaikan kritik yang bukan tidak mungkin akan sampai ke telinga mereka. Senang merusak kebahagiaan orang lain adalah pertanda ketidakbahagiaan dalam hidup kita sendiri.

Kemudian soal mengkritik kinerja orang lain di kantor. Pertanyaan gue, beranikah kita menyampaikan kritik itu langsung kepada orang ybs? Langsung kepada atasan kita sendiri, misalnya? Dan senangkah diri kita ini jika mengetahui ada orang lain yang suka menikam punggung kita dari belakang?

Terkadang, mulut kita cenderung suka membesarkan sesuatu. Hal yang sebetulnya kecil, sengaja kita buat menjadi besar. Misalnya saat kita bilang, “Ih, di kantor ini emang banyak yang sebel sama dia tau. Kerjanya nggak becus sih.” Padahal kenyataannya, yang sebal sama orang tersebut cuma dua atau tiga orang saja. Pada dasarnya kita sendiri pun tahu, keadaan tidak sampai sebegitu buruknya, hanya kita saja yang membesar-besarkan. Atau bisa jadi kita tidak punya bukti, melainkan hanya sekedar iri, makanya kita hanya berani ngomongin mereka di belakangnya saja. Dan coba dengar suara hati kita sendiri… pantaskah kita disebut orang baik hati jika mulut ini seringkali mengucapkan fitnah?

Jika kita punya kritik, sampaikan langsung kepada orang ybs, disertai bukti, dan saran perbaikan untuk diri mereka. Jika tidak punya bukti, tidak pula punya saran yang lebih baik, maka jangan bicara. As simple as that.

Yang terakhir soal traveling. Yang namanya group traveling, sudah pasti ada PIC untuk setiap kebutuhan liburan. Misalnya, si A khusus cari dan booking hotel, sedangkan si B mengurus tiket pesawat. Sebagai PIC, teman kita juga pastinya menginginkan hal yang terbaik untuk liburan kita itu. Tapi jika ternyata kenyataannya di luar ekspektasi, ya sudahlah, mau apa lagi? Ngoceh tidak akan memperbaiki keadaan, yang ada malah bikin teman yang sudah susah payah menyiapkan jadi merasa bersalah, atau bisa juga, jadi sakit hati gara-gara mendengar ocehan kita itu. Jangan gara-gara ketidakpuasan kita jadi merusak holiday mood semua orang.

Besides, believe it or not, segala sesuatu dalam liburan itu sebetulnya tergantung sudut pandang kita. Di liburan terakhir, gue kaget saat melihat boat yang akan gue tumpangi untuk island hoping. Bentuknya mirip perahu nelayan bo, beda banget sama boat gue waktu di Phuket. Actually I was shock, but I prefer to stay silent and enjoy the ride. Then you know what? Perjalanan menggunakan ‘perahu nelayan’ itu akhirnya malah jadi perjalanan yang paling seru sepanjang hidup gue. Untuk detailnya, baca di sini.

Intinya sekarang ini, gue sedang banyak melihat bukti bahwa memang benar, mulut itu bisa lebih tajam daripada pedang. Dan jangan kita lupa… kalau kata pribahasa, mulutmu, harimaumu. Bisa jadi segala ocehan yang keluar dari mulut kita itu kelak akan balik menyerang diri kita sendiri.

Balik lagi ke contoh di atas…

Saat kelak gue married, gue akan pikir dua kali sebelum ngundang teman yang gue tahu suka mengkritik pernikahan orang lain.

Kemudian di kantor, gue paling malas melibatkan staf yang suka ngeluh. Kerja bareng mereka cuma bikin kuping panas dan bikin capek hati secara apapun yang gue lakukan akan selalu dianggap salah. Kemudian jangan lupa… sering mengeluhkan hasil pekerjaan orang lain sama saja menghadiahkan diri kita sendiri sebuah resiko untuk balik dikeluhkan oleh orang lain.

Kalau soal traveling, gue nggak akan mau lagi pergi bareng sama temen jalan yang mulutnya rese-rese selama perjalanan, hehehehehe.

Mulut ada cerminan kualitas hati. Orang yang selalu mengumbar kejelekan orang lain menandakan kedengkian, dan orang yang selalu meneriakan kata-kata kotor menandakan ketidakbahagiaan. Kendalikanlah mulut saat bicara. Jika ingin curhat, lakukan secara terbatas dan bukan terus menerus curhat sama semua orang! Bahagiakan diri kita sendiri, dengan mengendalikan kata-kata kita sendiri.

Self-assessment Today

Hari ini, entah kenapa, tiba-tiba aja gue ngerasa perlu mengevaluasi perjalanan hidup gue sampai saat ini. Gue pun mulai menilai berbagai aspek dalam hidup gue sendiri. Kemudian seperti biasa, gue kepingin berbagi hasil penilaian itu melalui blog ini. Rasanya kok ya belum lengkap kalo belum gue share lewat tulisan gitu, hehehehe.

Career

  1. I’m sure I’m doing well in this first year as a manager, but after this, where will I go? Setelah gue jadi manajer, selanjutnya apa? I’m suddenly afraid of standing still and going nowhere;
  2. I said I was doing well… but NOT extraordinary. Gue ngerasa bahasa Inggris gue, terutama active English, masih kurang bule, kurang keren, kurang fasih, kurang lancar… IELTS score gue aja masih 6.5, belum 8. Kemudian presentation skill dan confidence level gue juga masih harus ditingkatkan. Still have so many areas of improvement!
  3. Masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan impian… hiiks;
  4. Anehnya, gue juga mulai bertanya-tanya… si pekerjaan impian itu, memang benar-benar sesuatu yang akan jadi passion gue, atau hanya sekedar ambisi untuk mendapatkan pekerjaan yang gue anggap bergengsi? Hmm… what is my passion, anyway?
  5. Di sisi lain, I’m also making an excellent progress. Mulai bisa nahan diri untuk enggak maki-maki anak buah (I haven’t done this in the last 10 months!), mulai belajar untuk memaafkan anak buah yang dengan teganya ngomongin gue di belakang, kemudian mencoba cari solusinya dengan kepala dingin (and I made it!), dan sekarang mulai berusaha bersikap lebih kalem terhadap klien-klien yang gue anggap menyebalkan.

Friendship

  1. I lost many best friends in the last 2 years… Kebanyakan sih karena gue udah kehilangan kepercayaan sama mereka, tapi ada juga yang karena gue mulai ngerasa, elo kok ngakunya sahabat tapi kenapa memperlakukan gue seperti musuh? Awalnya gue takut kalo begini terus, lama-lama gue cuma bakal end-up seorang diri, tapi sekarang gue sadar… gue enggak perlu takut kehilangan orang-orang yang hanya membuat gue ngerasa takut dibohongi, atau takut ditikam dari belakang. Sebetulnya gue kangen sama mereka, tapi sampai mereka belajar dari kesalahan dan berjanji untuk berubah, maka gue lebih memilih untuk tetap seperti ini saja;
  2. Di saat yang sama, gue juga mulai belajar memaafkan… Ya, gue maafkan, tapi memang untuk kembali sama persis seperti dulu, gue masih butuh waktu. Gue perlu yakin bahwa kali ini, keadaannya akan berbeda;
  3. Gue selalu yakin, di mana ada tempat baru, di situ ada sahabat baru. Baru-baru ini gue menyadari… di kantor yang sekarang, gue punya beberapa teman baik, dan di antaranya lagi, ada 2 orang yang sudah bisa gue sebut sebagai sahabat, yang juga menganggap gue sebagai sahabat baru mereka. Keberadaan mereka udah bikin hidup gue di kantor jadi sedikit lebih mudah. Tiap kali ada orang yang bicara buruk tentang gue, mereka nggak akan ragu buat bilang, “Riffa enggak gitu kok…” I really thank them for just saying such a simple statement;
  4. Oh ya… di tengah sulitnya mencari teman yang bisa dipercaya, dari hasil self assessment ini gue juga jadi menyadari bahwa gue punya 2 orang sahabat yang selalu bisa gue percaya; satu orang sahabat lama di kampus Binus, satu lagi sahabat baru di kantor yang sekarang. Gue belum pernah menangkap basah mereka sedang berbohong sehingga secara otomatis, gue enggak pernah sekalipun mempertanyakan apapun yang keluar dari mulut mereka.

Love Life

  1. Ini dia yang paling menyedihkan… sepanjang tahun 2012 ini, gue enggak naksir satu cowokpun. Nggak satupun! Hiiks…
  2. Ok, sekarang gue akui… dulu itu gue salah berdoa. Jadi ceritanya, setelah susah payah menuntaskan patah hati gue di hampir sepanjang tahun 2011, gue berpikiran, “It’s okay to be single, as long as not single and broken hearted.” Ternyata nggak gitu juga sih… Faktanya, being single and not in love with somebody is not okay either, hehehehe. Gue nggak bakal bisa berjodoh dengan siapapun kalo gue enggak berani ngambil resiko untuk patah hati kan?
  3. Right, kalau begitu, gue ralat doa gue… Hope God will give me another chance with another man… and please, give me a good one for this time 😀 Yaah, mau good or bad, selalu ada aja yang bisa gue pelajari kok. Intinya sih saat ini, gue kangen banget sama rasanya jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri kalo inget dia, rasa nggak sabar kepengen cepet ketemu sama dia, nyimpen semua yang berhubungan sama dia seolah sedang menyimpan intan berlian, rasa bahagia waktu akhirnya dia bilang cinta… aaaah, I really miss those moments 😉

Health

  1. Ini dia yang masih perlu banyak banget perbaikan. Mulai sekarang gue bertekad, suka nggak suka sama makanannya, harus makan minimal setengah porsi. Jam sepuluh malam sudah harus tidur. Rajin minum vitamin, jangan cuma dijadiin pajangan doang. Perbanyak makan sayur dan bua-buahan. Perbanyak minum air putih. Dan… uhm… mulai berolahraga kali yaa;
  2. Harus daftar asuransi kesehatan, tapi kali ini harus lebih teliti. Baru aja punya pengalaman buruk sama perusahaan asuransi yang katanya nomor satu di Indonesia. Kalo nanti masalahnya udah clear, akan gue sharing di blog ini detail konfliknya, supaya teman-teman lain bisa lebih cermat memilih asuransi.

Family         

  1. Lagi betah di rumah… karena ada ponakan yang lucu dan menggemaskan (meskipun ngengeng dan suka ileran, hehehehe);
  2. Ngelihat perjuangan adek gue selama hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya bikin gue jadi sadar… Allah sudah merencanakan segala sesuatu tepat pada waktunya. My sister might be ready for a kid, but I’m not her, not now. Itu pula yang bikin gue semakin terpacu untuk mengejar impian gue, as soon as possible, mumpung gue masih belum punya prioritas lain selain diri gue sendiri. Gue yakin kelak, Allah juga akan memberikan gue keturunan yang baik di saat gue juga sudah siap menjadi ibu yang baik. Untuk sementara, jadi aunty yang baik aja udah cukup lah ya, hehehehe.