Gagal Mendapatkan Promosi? Ini Alasannya!

Tengah tahun rasanya saat yang tepat untuk menulis masalah performance review. Gagal dapat promosi akhir tahun lalu dan ingin bisa mendapatkannya akhir tahun ini? Baca tulisan gue yang satu ini lalu coba terapkan selama enam bulan ke depan. Siapa tahu bisa berhasil! Tulisan ini memang gue tulis berdasarkan pengalaman pribadi, tapi menurut gue, pola pikir atasan pada umumnya tidak jauh berbeda. Open your mind and win that seat!

Terlalu cepat berpuas diri

Ini alasan utama yang sering menghalangi kita dari promosi. Merasa sudah bisa mengerjakan pekerjaan kita dengan baik? Tugas selalu selesai tepat waktu? Well, bukankah memang untuk itu kamu dipekerjakan di posisi kamu sekarang ini? Untuk menyelesaikan pekerjaan kamu dengan baik tepat pada waktunya?

Sekedar selesai dengan baik dan tepat waktu itu sifatnya hanya “meet expectation”, sedangkan promosi hanya akan diberikan kepada orang yang “exceed expectation”. Orang yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tepat waktu itu bukan hanya kamu saja lho. Dan tidak mungkin ada perusahaan yang bisa memberikan promosi kepada semua orang yang meet expectation!

Lalu apa yang harus kamu lakukan? Do the extra miles! Make differences! Take a lead role as the agent of change! When your bosses ask you for one thing, give them ten! PUSH yourself to do the things you never do! Embrace the challenges and make the best of it! That’s my friend, a winner’s attitude.

Tidak ada skill development

Sudah bekerja untuk satu perusahaan bertahun-tahun lamanya bukan jaminan kita sudah menjadi ahli untuk pekerjaan kita itu. Jika pengetahuan dan keahlian kita saat ini masih tidak jauh beda dengan satu tahun sebelumnya, maka wajar saja jika promosi terlihat sangat jauh di depan mata. Dan jangan pula salahkan atasan jika saat ada posisi kosong, mereka malah memilih untuk merekrut orang baru! Memang belum tentu si orang baru betulan sesuai harapan mereka, tapi setidaknya, hal itu menandakan atasan sedang coba mencari orang lain yang memiliki satu atau beberapa hal yang tidak kita miliki.

Jangan pernah merasa sudah cukup pintar, jangan pernah berhenti untuk belajar! Sempatkan diri untuk selalu baca satu buku baru tiap bulannya. Aktif cari training baik soft skill maupun technical skill. Dan ini yang banyak sekali terlewat dari bawahan pada umumnya: cari kesempatan untuk belajar dari atasan! Perhatikan cara mereka mengambil keputusan, tanya-tanya tiap ada kesempatan, dan beranikan diri untuk minta saran langsung dari mereka! Inilah satu alasan pentingnya punya atasan yang bisa dijadikan role model. Find a good boss instead of just a good company!

Pesimis, pesimis, dan pesimis!

Gue paling malas saat harus berdebat dengan bawahan yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi buruknya saja. Mencari kejelekan tanpa menawarkan solusi itu benar-benar percakapan yang buang-buang waktu! Kalau ini-itu kita bilang tidak bisa, tidak bisa, dan tidak bisa, lantas kita ini bisanya apa?

Berpikir kritis, jangan berpikir negatif. Segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Jika sesuatu itu menurut kita memang tidak worth doing, jelaskan alasannya dan solusi alternatifnya. Jangan menolak suatu ide tanpa menawarkan ide yang lainnya. Dan yang paling penting, jangan pernah menolak suatu pekerjaan hanya karena kita tidak yakin kita bisa mengerjakannya! Kalau sudah sampai separah itu, apa yang membuat kita berpikir kita pantas mendapatkan promosi?

Sombong tanpa ada kontribusi nyata

Pernah lihat karyawan yang suka mengancam akan resign jika kemauannya tidak dipenuhi? Tidak dikasih cuti, ngambek. Gaji naik kurang beberapa persen, ngambek lagi. Padahal sebetulnya, hasil pekerjaan mereka termasuk biasa-biasa saja. Saat ditantang untuk menyebutkan contoh konkret prestasi mereka pun, tipikal seperti ini belum tentu bisa menyebutkan dengan baik. Mereka hanya akan menyebutkan daftar pekerjaan sehari-hari yang memang sudah seharusnya mereka lakukan.

Hanya saja sayangnya, tipikal seperti ini bisa jadi sangat hoki saat kebetulan mendapatkan atasan yang penakut dan pemalas. Memang ironinya, ada saja tipe orang yang bisa mendapatkan promosi dengan modal gertak sambel saja. Tapi hati-hati. Jika atasan kita cukup cerdas, bersikap seperti ini hanya akan membuat kita turun drastis dari daftar top priorities mereka! Atasan yang cerdas tidak akan mau ‘berinvestasi’ kepada bawahan yang tidak terlihat ‘tahan lama’.

Terlalu menyebalkan

Poin yang satu ini jujur saja masih menjadi salah satu PR terbesar untuk diri gue sendiri. Gue sadar gue sendiri pernah sekali dua kali kehilangan kesempatan emas hanya karena gue sudah bertingkah kelewat menyebalkan. Bagaimanapun, kita perlu dukungan atasan untuk bisa mendapatkan promosi, dan jangan lupa, atasan juga manusia yang punya perasaan! Jika dikembalikan pada diri sendiri, mau kah kita memberikan kesempatan kepada bawahan yang selalu saja menyakiti perasaan kita sebagai atasannya?

Ada bedanya bersikap tegas dengan bersikap jahat. Don’t be rude even in the worst situation at work! Jangan selalu bersikap sinis kepada semua orang tanpa ada alasan yang jelas. Jangan suka mempersulit orang lain hanya karena ego kita pribadi. Bagaimanapun juga, teamwork itu wajib hukumnya! Jangan jadi orang sulit yang membuat pekerjaan tim malah jadi tambah sulit! Atasan kemungkinan besar tidak akan mau mengambil resiko mempromosikan seseorang yang hobinya menyakiti perasaan orang lain! Be professional and control yourself!

Jadi Atasan (yang Baik) Itu Susah!

Menulis review soal film My Stupid Boss membuat gue jadi kepikiran… Banyak orang (termasuk diri gue sendiri, to be honest) yang suka membicarakan daftar kejelekan bosnya diam-diam. Padahal kenyataannya, jadi atasan yang baik itu sangat-sangat susah lho. Could we do better than our boss if we were them?

Apa sih, yang paling sulit dari menjadi atasan? Menjaga tingkah laku, kalo menurut gue. Itulah sebabnya, menjadi bos itu sebetulnya pekerjaan 24 jam. Sudah di luar jam kerja bukan berarti gue boleh seenaknya nulis apapun yang gue suka di socmed dan blog gue sendiri, misalnya. Segala jenis omongan betul-betul harus disaring dan setidaknya buat gue, menahan diri itu betul-betul susah! Apalagi kalau sedang bad mood dan banyak masalah…  Bawaannya emang kepingin mengeluarkan segala pikiran jelek yang terlintas di benak gue aja gitu.

Selain itu, gue juga merasa tantangan terbesar dari memimpin tim adalah keharusan untuk selalu menempatkan kepentingan perusahaan di atas kepentingan gue pribadi. Gue sering mengambil keputusan yang gue sadari sudah merugikan kehidupan pribadi gue. Misalnya, menegur rekan kerja yang juga teman baik gue sendiri, membatalkan janji dengan keluarga hanya karena meeting yang luar biasa penting, atau yang paling menyebalkan, harus bisa bersikap tegas dengan rekan kerja pria yang diam-diam gue sukai. Sudah tidak terhitung berapa kali gue berhasil bikin cowok jadi menjauh hanya karena gue harus ‘mendisiplinkan’ mereka. Big sigh…

Kemudian yang tidak kalah sulitnya, saat kita sudah menjadi atasan, maka semua kesalahan bawahan adalah kesalahan kita sendiri juga. Kadang gue pribadi ngerasa kesal harus rela melakukan hal ini. Meminta maaf atas kesalahan tim gue misalnya. Gue juga kesal banget sama mereka, tidak setuju dengan tindakan mereka, tapi gue tetap harus minta maaf anyway. Kenapa harus begitu? Karena gue punya kewajiban untuk mengembangkan dan mendidik tim gue sendiri, dan dalam kasus ini, gue gagal untuk melakukannya.

Yang terakhir, yang tampaknya menjadi tantangan terbesar bagi atasan pada umumnya adalah menanggung resiko atas keputusan yang harus kita ambil. Keputusan kecil saja bisa jadi begitu mahal harga yang harus kita bayar karenanya. Semakin tinggi jabatan, semakin mahal harga dari kesalahan yang kita perbuat. Betul-betul bisa bikin keringat dingin, terus terbayang siang dan malam, atau bahkan bisa sampai terbawa mimpi!

Oh ya, hampir lupa satu lagi: sulitnya menjadi atasan adalah saat harus bisa berbesar hati saat tahu tim yang gue perjuangkan sekuat tenaga itu malah diam-diam menggunjingkan di belakang punggung gue. Benar-benar tidak enak rasanya. Itulah sebabnya, jika gue curhat soal atasan ke teman-teman gue, maka gue akan pastikan bahwa gue juga akan menyampaikan hal yang sama langsung ke atasan gue yang bersangkutan. Karena bagaimanapun, atasan juga hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

See? Menjadi atasan yang baik itu tidak mudah! Tidak semua orang bisa. TAPI, jika kita sudah terpilih jadi atasan di dunia kerja, maka sebetulnya kita tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus belajar untuk bisa menjadi atasan yang baik untuk tim kita itu.

I believe leadership is a responsibility. The leaders are paid higher for a reason. Be a good one and make yourself deserve every penny you earn as your salary. It’s not easy to be a good boss, but it’s totally doable! Good luck, leaders! Let’s be awesome! 

My Stupid Boss the Movie

Saat pertama dengar film ini akan tayang, awalnya gue lupa-lupa ingat; ini film adaptasi novel yang mana ya? Rasanya kok familiar banget gitu. Lalu entah kenapa, gue malah sempat teringat dengan novel yang bercerita soal atasan yang selingkuh dengan sekretarisnya! Baru saat melihat poster filmnya gue menyadari… Ini My Stupid Boss yang lucu banget itu! Yang diangkat dari kisah nyata itu! Jadilah gue yang awalnya pengen nonton AADC (lagi) malah beralih ke film ini.

Soal jalan cerita kurang lebih sama persis kayak bukunya. Sepanjang film dipenuhi kekonyolan Bossman yang bikin penonton tertawa geli. Di luar itu, ada pula interaksi antar pemain lainnya yang terasa cukup menghibur (untuk bagian ini rasanya tidak pernah ada di versi bukunya). Klimaks cerita hanya sekedar Diana marah besar tetapi langsung jadi luluh saat melihat sisi baik hati dari bosnya itu.

Selain sukses bikin gue tertawa terbahak-bahak, ada pula adegan yang membuat gue ngerasa tersentuh. Yang pertama adegan saat Diana menari-nari dengan teman sekantornya (friendships in office nowadays is hard to find!) dan apa lagi kalau bukan adegan di panti asuhan! Adegan yang seolah mengingatkan kita bahwa selalu ada sisi baik dalam diri setiap orang.

Ya, itu dia pesan moral dari buku dan film ini: selalu ada sisi baik dalam diri setiap orang; semenyebalkan apapun orang tersebut. Dan tiba-tiba saja, gue jadi teringat dengan bos gue yang dulu. Tipe bos yang tidak kelihatan seperti bos. Penampilan sederhana, suka ngomong blak-blakan, senang bercanda dan suka dengan polosnya bilang begini, “Kalo yang susah-susah tanya Riffa aja, dia lebih pintar dari saya, hahahaha.”

Believe it or not, bos gue yang satu ini justru masih jadi bos terbaik yang pernah gue punya. Gue pernah punya bos lain yang jauh lebih pintar, yang lebih bijaksana, bahkan ada pula bos lain yang lebih serius berupaya untuk mengembangkan karier gue, tapi tetap saja, mantan bos gue yang sangat unik itu tetap meninggalkan kesan yang paling mendalam.

Kenapa bisa begitu? Karena banyak hal yang gue pelajari dari dia!

Gue banyak belajar soal kepemimpinan dari bos gue itu. Misalnya, mau tahu kunci untuk mendapatkan loyalitas tim? Jangan pernah jadi atasan pelit yang suka hitung-hitungan! Dan tidak ada salahnya sesekali mengeluarkan uang untuk tim dari dompet kita sendiri! Bukan untuk membeli loyalitas, tapi untuk sekedar membuktikan bahwa kita punya niat baik untuk merangkul tim kita lebih dari hanya sekedar rekan kerja!

Gue juga banyak belajar memaafkan dari bos gue itu. Kelakuan gue di awal kerja benar-benar enggak banget deh. Terlalu labil dan suka heboh mendramatisir keadaan. Si mantan bos udah banyak banget memaklumi kelakuan gue itu. Alasannya sederhana, karena saat itu gue dianggap masih sangat muda. Itu pula sebabnya, jika sekarang gue melihat tim gue bersikap kekanakan, gue akan coba nasehati sambil coba memaklumi, “Mereka masih muda… Suatu saat juga mereka akan sadar dan belajar dari kesalahannya.”

Si mantan bos ini juga mengajarkan gue soal pentingnya berusaha memahami perasaan tim kita sendiri. Amati dan coba tempatkan diri kita sendiri di posisi mereka. Bukan berarti kita harus berusaha membuat mereka selalu merasa senang, melainkan untuk membantu mereka menyelesaikan masalah mereka di dunia kerja. Saat kita sedang menolong bawahan itu sebetulnya sama saja kita sedang menolong tim, perusahaan, dan juga diri kita sendiri sebagai atasannya!

Selain tiga pelajaran penting itu, masih banyak hal-hal kecil lainnya yang gue palajari dari mantan bos gue itu. Soal memberikan perhatian-perhatian kecil, pentingnya memberikan penghargaan atas kerja keras tim, soal team bonding dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, tiap kali atasan-atasan gue selanjutnya memuji bakat kepemimpinan gue, dalam hati gue akan langsung teringat dengan atasan gue yang satu itu. Meski gue udah enggak kerja bareng dia lagi, segala hal yang dulu gue pelajari dari dia tetap selalu membantu gue di perjalanan karier gue selanjutnya.

Oh ya, tahu apa lagi satu hal penting yang gue pelajari dari dia? Bahwa sekeras apapun kita berusaha, kita tetap tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Kita tetap tidak akan pernah bisa jadi bos kesayangan semua orang. And it’s okay! As long as you’ve done your best, then the rest is none of your business.

Selamat hari Senin dan selamat mencoba untuk jadi atasan yang baik! Don’t be a stupid boss, okay? 😉

What Happens After Working for Two Years at Lazada?

DSCF4893Have I ever told you that 2014 was one of the best years in my life and it was only because I joined Lazada back in April 21, 2014? Initially I thought, “Oh, well… Maybe it’s just a newbie’s euphoria.”

One year later, I wrote this blog… I was still happy with my job at my first anniversary with Lazada. And then today, another one year after that, apparently, I’m still happy for being a part of this company 🙂

Yes, there were the ups and downs. There were some times where it felt like I was in between of giving up or seeing how many more I could take. Yet somehow at the end of the day, I had so many good times in this Company that made me whisper deep inside my heart, “Thank God for the life you give to me!”

My team is getting bigger and bigger in the past two years. The Company is growing so fast and it has brought some more new people to my team. From a stranger in their interview days to a ‘partner in crime’. My partner to talk and laugh so many random things in life. And then last month, for the first time ever, I went traveling with my teammates at work. It was really a memorable trip for so many good and bad reasons 😉

Also in this past two years, I had not one but five new bosses at work! I needed to adapt with a new boss over and over again. But do you know? It was actually so much fun! It was like, “Oh, well… New boss means a new challenge for me to prove how good I am!” Hehehehe. But seriously, I’m just glad that no matter whom I work with, I always manage to make a good relationship with them. Not to mention there’s always something I can learn from each and everyone of them.

I’m also proud of being a part of Lazada’s success story. From having active sellers less than 100 to thousands of sellers in a week! From, “Lazada what?” to “Ah, you’re working in Lazada!” From Zahir to SAP. From a team of two to a team of twenty! I’m so proud that we’ve been making this far and I believe we will only get bigger and stronger than before! It feels like I’m a proud mother in this company, hehehehe.

However, just like many other people in all other companies on earth, I will never know how many longer I will stay. One thing that I know for sure is that Lazada will always be a company to remember. In this company, I’ve come to learn to embrace every moment I have even if it’s only the tiniest one. I’ve learned a lot and I believe I’ve grown gracefully with this company. The hard times, the good times, the love stories and the heartbreaks will always be my kind of fairy tale to tell. It’s only two years but if feels like 20 years already, hehehehe.

Hence again, thank God for taking me here. For the lessons I’ve learned. For the joy and sorrow. For the friends and frenemies. And of course, for all promotions I’ve earned in the past two years!

The third year, bring it on!

My Secret of Success

Previously, it was always confusing to me everytime someone asked me the secret behind my success. It was flattering that people thought I had succeeded with my career, but seriously, was there any secret that took me there?

I mean, I know that I work hard. Very hard. But so many others do! I also know how knowledgeable I can be, but still I am not the smartest people in this field. I know a few other people way smarter than me. I still have a lot of things to learn but somehow my career has been growing so fast. Being a VP before 30 is honestly beyond my wildest dream.

I was confused with myself until a few weeks ago. I had a long chat over lunch with a colleague that made me realize one important thing that has taken me to my career achievements. I finally found out my kind of secret of success. It’s nothing huge, it’s only a courage that I have inside.

Since my very first day at work, I’ve been having a courage to start something new and take the risk. I never let my doubts consume me. I never let my insecurities stop me. I fake it, I learn, until I finally make it.

I always have a courage to speak up my mind. I tell people what I want, my expectation, and my plan for me to get there. I’m not afraid of having unpleasant conversation whenever I know it’s necessary. I let people know how I feel and even let them know what I think of them right on their faces.

I also have the courage to do what I believe is right. I’ll fight for it until either I succeed and enjoy the victory or I fail and learn from it. Again, I’m a risk taker; I’m not afraid of making a decision, I’m not afraid of making mistakes.

I never let myself to lose courage even when it comes to the most difficult people at work. I should not be afraid of anyone, we’re all only a human anyway. I may be terribly scared inside, but again, I never let my fear prevent me from doing my job.

And then finally, I always have the courage to admit that I’m not perfect. I never run and hide everytime I make a bad mistake. I will say I am wrong, I am sorry, and I will do everything it takes to make things right.

So there I would say that the secret behind my success is simply my courage. From courage will come a confidence. Just do it even when you don’t know if you can do it! And then it will give you more chances to take, more challenges to conquer, more things to learn, until finally, more victories to celebrate! Believe me when I say, your courage will take you to the places you’ve never seen. You will never know until you try!

Have courage and wish you a wonderful week ahead!

I Will Survive One More Time

Minggu kemarin, ceritanya gue balik lagi ke Phuket dan Bangkok, kali ini bareng teman-teman sekantor di Lazada. Phuket dan Bangkok; dua kota yang kalau diingat-ingat lagi, pernah jadi tempat pelarian gue beberapa tahun yang lalu.

Gue pergi ke Phuket enggak lama setelah patah hati terburuk yang pernah gue alami enam tahun yang lalu, dan gue pergi ke Bangkok saat hidup gue sedang mengalami begitu banyak ujian dalam begitu banyak hal sekaligus tiga tahun yang lalu.

And you know what? Last week’s trip was actually pretty much the same; I left Jakarta in a heartbreak.

Masalah pekerjaan yang semakin lama terasa semakin membebani pundak gue. Masalah cinta-cintaan yang masih saja patah hati lagi patah hati lagi. Dan masalah pribadi lainnya yang membuat gue mulai meragukan diri gue sendiri.

What do I do wrong? What makes me deserve this? Why is my very best effort never good enough for them? Why should the same thing keep happening to me over and over again? What should I do to make things right?

Saat kembali mengunjungi Patong Beach minggu lalu, gue duduk cukup lama dengan salah satu teman gue curhat soal kekecewaan gue soal patah hati yang seolah tidak pernah ada habisnya. Hal yang sama juga gue lakukan di pantai yang sama, dengan teman curhat yang berbeda, 6 tahun sebelumnya.

Kemudian saat menghabiskan malam terakhir di Bangkok beberapa hari yang lalu, di perjalanan kembali ke hotel, gue sibuk merenung soal beratnya tanggung jawab baru gue di Lazada. Renungan yang sama juga gue lakukan, di kota yang sama, saat gue baru saja menginjak tahun pertama di level manajerial, 3 tahun sebelumnya.

Sebetulnya gue mau bilang, gue pulang ke Jakarta dengan keadaan terinspirasi atau semacamnya, tapi sayangnya, tidak begitu kenyataannya. Gue pulang ke Jakarta dalam keadaan masih begitu-begitu saja. Masih bingung gue maunya apa, masih bingung harus bagaimana, dan masih enggak yakin apakah gue akan bisa survive melewati ujian yang sama untuk ke sekian kalinya.

I was still in doubt, until this morning; my first day back to work after my holiday.

Enggak ada hal luar biasa yang terjadi di kantor hari ini sebetulnya, hanya saja, percaya nggak percaya, sambutan dari teman-teman sekantor membuat gue merasa seperti pulang ke rumah. Nggak disangka-sangka, dalam satu hari yang penuh dengan agenda meeting ini, gue malah banyak menertawakan hal-hal yang sebetulnya bikin gue stres banget itu. Bahkan anehnya, bule-bule yang biasanya bikin gue sewot sendiri malah jadi orang-orang yang membuat gue merasa terhibur sepanjang hari ini.

Kemudian sekitar satu jam yang lalu, saat gue tinggal sendirian di kantor yang mulai sunyi dan gelap gulita, gue sempat flash back sebentar, dan gue sadar dengan sendirinya… I used to be in the same situations and I survived it all. If I could do it back then, what makes me think that I can’t do it now?

Di awal gue baru menjabat sebagai manager, Group GM di kantor sempat meragukan capability gue sebagai manager. GM yang sama yang 2 tahun kemudian menjadi orang yang paling menyayangkan kepergian gue dari perusahaan gue sebelumnya itu. Jika gue bisa melewati tahun pertama gue di kursi managerial meski tanpa dukungan yang memadai, kenapa sekarang gue tidak bisa melewati tahun pertama gue di kursi VP ini? Apalagi bedanya, di Lazada ini gue punya begitu banyak orang yang mendukung perjalanan karier gue!

Kemudian 6 tahun yang lalu itu, gue pernah patah hati sampai kerja tanpa kenal waktu. Gue ingat suatu malam 6 tahun yang lalu, sepulang kerja menjelang jam 3 pagi, jantung gue terasa nyeri. Energi gue seolah tersedot habis. Dari yang awalnya hendak pulang ke rumah, gue langsung minta diantar supir taksi menuju rumah sakit terdekat. Jika gue bisa move on dari patah hati yang sebegitu buruknya, kenapa sekarang gue tidak bisa? Apalagi bedanya, kali ini gue sudah mengusahakan sebanyak yang gue bisa. Gue yakin kali ini, gue tidak akan lagi tenggelam dalam pikiran, “What if I did it differently?”

After I wrote this here, I know that things will not be magically easier to me. It will still be challenging. It will still be painful. But at the end of the day, this too will pass. And somehow, I just know that I will survive one more time, won’t I?

My Career Path; The 8 Years Mark

Yesterday, HR asked me to complete a training request form for my team. That form also required me to write down my career background; start from my total working experiences until total years of managerial experiences. When I wrote down the answer, it reminded me that this month is the 8th anniversary of my career! January this year was also the 5 years mark of my career at managerial level. It brought a smile on my face knowing how many years I’ve survived this bumpy road.

Do you know what else amazed me? Just a few months before my 8 years mark, I was promoted from Senior Manager to Vice President 🙂 I knew that if I worked hard enough, I would make a great career; but being a VP before 30 was beyond my imagination! When I planned my career path 8 years ago, I never thought that I would make it this far by now.

After submitting the form, I looked back to the past 8 years, and I asked myself, “What makes this promotion feel so great?”

The new remuneration? Not really.

The new tittle on my Linkedin profile? I don’t think so. Some colleagues even told me, “I thought you were a VP already! You did a VP work all this time.”

Then what is it? What makes this promotion mean something to me?

This promotion is simply a reward to me. Not from the bosses, not either from the Company; I believe it’s only from God and from myself for all the hard works I’ve done.

It’s for all the sleepless nights.

The stress, depression, crazy pressures and all those – nearly – impossible demands.

The tears and disappointments when I tried hard and failed.

The struggles and exhaustion to hang on, rise again, and win again.

This promotion makes me feel good knowing that I didn’t work hard for nothing. Knowing that there would always be a rainbow after the rains. Knowing that all I’ve got to do is just to learn dancing in the rain!

Do you know what else I’ve learned in the past 8 years?

I’ve come to learn that everyone can change their life. From a crazy packed public bus to a comfort city car. From a super hot and dirty house to a comfort bed at night. And from never been anywhere to travel around the world!

I’ve also learned that self development, work satisfaction, and happiness are much more important than just a salary package and a fancy title on your business card. At the end of the day, they’re all the things that will put a smile on your lips a lot more often than just a monthly payslip can do.

And the most important thing, I’ve finally learned the hard way that a perfect career doesn’t exist on earth. There’s no such a thing like a perfect company, perfect boss, perfect co-workers, perfect team… And no matter how hard you work, there will always some things at work that upsets you, knocks you down, and makes you ask this to yourself, “After everything I’ve done, it’s all that I get?”

Right before I thought it’s all I’ve got along my career journey, I looked at my Path timeline and smiled. Here’s one other amazing thing I’ve had at work: no matter where I work, I always have a few people that ended up as my best friends. Many other people may resent me for doing the right things, but these people will always be there to back me up. And when it felt like me almost giving up, knowing that I already have these amazing people work with me in this Company always makes me want to hang on a little bit longer and longer. Who says you can’t be friends with your own team? They will still piss you off sometimes, but so do all other friends outside the office, don’t they?

People says, fairy tale does not exist in the real life, yet somehow to me, my career has given me my kind of fairy tale. I’ve seen how it has changed my life, not literally a magic, but it turns me from an ugly duckling to a girl living her own dream. Believe me when I say, I just cannot ask for more.

Happy 8th years anniversary to me!

Bidakara; Gedung dengan Sejuta Cerita

Hari ini ceritanya, gue pergi makan siang bareng teman-teman sekantor ke gedung Bidakara; gedung yang pernah jadi lokasi kantornya Lazada sampai dengan pertengahan tahun ini. Dan sebetulnya sebelum itu, dulu gue pernah punya klien yang berlokasi di gedung yang sama. Jaman-jamannya gue masih kerja di EY, jaman-jaman gue baru saja memulai perjalanan karier gue.

Gue masih ingat betapa gugupnya gue di hari pertama kerja di EY. Baru hari pertama, langsung ditugaskan menyusul tim gue yang sudah ‘bermarkas’ di kantor klien di Bidakara. Tim yang masih sama sekali asing buat gue saat itu. Ketemu muka saja belum pernah, langsung disuruh datang ke sana sendirian!

Begitu sampai di ruang meeting yang khusus disediakan klien untuk tim auditor EY, gue langsung keliling ruangan kecil itu untuk berkenalan dengan teman-teman setim audit gue. Semuanya pasang muka cemberut, kecuali satu senior yang semangat ngajak kenalan sampe-sampe nyamperin gue hanya dengan slipper sebelah saja, hehehehe.

Mulai dari situ, ada banyak kenangan yang tidak terlupakan buat gue.

Salah satu yang paling berkesan, dulu gue pernah kepergok habis teleponan di sudut-sudut kantor klien. Begitu gue kembali masuk ke dalam ruangan, ada satu teman yang nyeletuk, “Si Ipeh abis ini mau pergi kencan!” Dan benar saja, seisi ruangan langsung berubah jadi heboh! Disuruh dandan lah, dikasih tips dan trik supaya  jangan nervous di kencan pertama pula! The date was apparently not so special, but their support was still unforgettable to me 🙂

Banyak pula hal-hal lucu yang terjadi di gedung itu. Mulai dari ditegur satpam gedung saat sedang asyik main kartu remi beramai-ramai di food court gedung, sampai habis dikeroyok teman-teman setim soal konsep pernikahan impian gue yang mereka anggap ‘very unusual‘. Waktu itu ada yang berkomentar, “We’ll see… Who is gonna be that lucky guy, hahahahaha.” Dan pastinya, pengalaman gempa bumi di hari pengumuman promosi pertama gue juga udah jadi kenangan unik tersendiri, hehehehe.

Bidakara udah jadi saksi bisu masa-masa awal perjuangan karier profesional gue. Rasa takut yang harus gue lawan saat ‘dipaksa’ langsung berhadapan dengan klien-klien senior, lembur tiap hari dengan begitu banyak hal baru yang harus gue pelajari, dan masa-masa awal gue membentuk jati diri sebagai pekerja kantoran.

Beberapa tahun kemudian, setelah sempat bekerja selama 3 tahun di perusahaan lainnya, gue kembali lagi ke gedung Bidakara selama satu tahun lamanya. Meski hanya 1 tahun, tetap cukup banyak kenangan yang gue dapatkan selama rentang waktu itu.

Gedung itu kembali jadi tempat pertemuan gue dengan rekan kerja satu tim, atau bahkan rekan kerja dari lain tim, yang kemudian menjadi teman-teman terbaik gue  di Lazada ini. Tim yang tadinya hanya berisi 2 orang sudah bertumbuh jadi belasan orang hanya dalam waktu satu tahun saja. Dan tentunya, di gedung ini pula gue sempet naksir-naksir sama bule lucu yang kemudian malah pulang kampung itu, hehehehe.

Bidakara is however just Bidakara, just a very old building on Pancoran area. Hence it’s not about the building, it’s the people I met and the struggles I’ve had that has made all of those memories still remain. It’s one of the places where I learned how to become who I am today. It’s only a building, but it has become a symbol, and a reminder, to the awesome journey I’ve been having since 7 years ago 🙂

I’ve made a lot of good memories in Bidakara, hoping that I will get a lot more of it in Lazada’s new office and anywhere else I am in the coming years.

Good night and have a nice dream!

You’re More Successful than You Realize

Last night, I had a quite long chat with an old friend and I told him how I felt like I hadn’t had enough in my career path. I said, “I’m not yet satisfied with my career achievement. It’s not that I’m not grateful, it’s just that I haven’t reached a point where I think; this is it.”

I do really feel that way about myself. It feels like I haven’t done much enough for the companies I’ve worked for. As much as I’m proud of being a part of my current Company, I still feel like I haven’t found that one thing I really want to do for the rest of my life. I also don’t feel like I’ve learned much enough in my life, I’m not yet as good as I want me to be, and I still have a so long way to go before defining my career as a success.

And then a few hours later, I found this video. I watched it, and it gave me chills! And yeah… a little bit of tears came out, just a little bit 😉

I don’t know how much score will be given by my families or best friends about my success, but it got me thinking… maybe, I’ve been too tough to myself. It’s good to be the hardest critic to myself, but maybe, it’s been over the top. And again, it reminded me once again to be thankful for all I have.

Yes, it’s still true that it takes a really long time for me just to figure out the next best thing in life. But hey, good things take time, don’t they?

And yes, it’s also true that I haven’t been somewhere I really want me to be… but I’ll get there! I know I’ll get there.

So maybe, I just need to be a little bit more kind to myself. Just one rejection doesn’t necessarily mean the whole years I’ve been working on is a failure. Other mediocre gets the same job with mine doesn’t make me out of the blue on the same average level with them. Been struggling in pursuing my big dreams doesn’t necessarily mean that I have failed either. I only fail once I give it up, right?

Life is still a long way to go. I haven’t failed, I just haven’t arrived in my final destination because I’m a little bit lost along the way. But that’s okay! As long as I keep on going, then I’m already on a right direction. For now, all I need to do is taking a deep breath, smile, give applause for myself, and continue running toward my finish line. I still don’t think that I have been as successful as I wish I were, but perhaps it’s true, I’m actually more successful than I realize.

And well, maybe, it’s a sign that it’s okay to reward myself a fancy trip, a little bit over budget, in my Greece trip this month, no? 😉

P.s.: Tomorrow is another Monday, let’s continue the race!

That One Painful E-mail, a Few Years Ago

A few days ago, my boss told me that he admired how knowledgeable I was. I joined Lazada just one year ago yet according to him, I knew so many details that I looked like an e-commerce expert already. I only smiled, not so much flattered since I already heard similar compliments from many other else a few times before. And everytime people ask me the secret behind it, all that I can think of is that one night a few years ago.

That day, I was almost one year working for my previous employer. I had an assignment from headquarter office that I needed to complete right away. It was just a simple sales report per product category, yet somehow, I kept making mistakes over and over again. The Group CFO was waiting for that report and I seemed to piss her off.

A few hours later, after so many reworks from my end, that report was finally done. And then before I went home, I received a new e-mail from my direct boss; the local CFO. That one e-mail that I never thought I would ever have in my inbox.

So apparently, that Group CFO sent another e-mail to my boss without putting me in the CC. She told my boss that I was technically good but I clearly needed to learn more about our Company. She advised my boss to guide me more about the industry, the product, the way it worked in another division… In short, that e-mail really made me feel like I was not good enough.

Knowing that my boss let me read that painful e-mail gave me the idea that he approved the Group CFO’s statement about my performance. And no kidding, it was just like a slap on my face! I had worked so hard to fix so many things but turned out I was not good enough just because I couldn’t identify the difference between one products with another. Seriously… was it for real?

Yes, at the beginning, I was angry. I did apologize to my boss, but deep in my heart, I was so upset. But then I asked myself… How could I fail such simple task? What was the root cause? It took me quite some times to get there, but I finally admitted that my bosses were right. It was not about me being stupid, it was just that I didn’t put so much effort to learn about the business my company engaged.

That one short e-mail has finally changed the way I work. It’s not only me and my division, it’s about me and the whole company. Even though I’m not a salesperson, I still need to understand the products we sell. How can I analyze the product profitability without knowing the specifications? I also don’t work in Ops team, but how can I make a business process improvement if I have no clue on their daily procedures? At the end of the day, that shocking e-mail has contributed one new key strength on my performance.

Apart from learning the importance of in-depth business understanding, what happened that day has made me learn one other most important rule to live by: good critics is not comforting, but it’s certainly building a better us inside. That’s simply a process on being a grown-up: you make mistake and you learn from it. Cursing and telling the world that you did nothing wrong while clearly you’ve just made a terrible mistake will bring you nowhere. You will only repeat the same mistake over and over again.

Finally, all that I can say that there’s no top achiever on earth that was as good as they are today in their very first day working a few years back. They all started on the same line with their colleagues, but their efforts to always make an improvement and their willingness to learn from their mistakes were simply the things that brought their careers up to the next levels. You don’t need to be born genius, you only need to have that one big heart to tell yourself that you can be wrong.

Let’s make mistake, learn from it, and have an awesome Monday!