In My Cosmetic Bag

Berikut ini daftar kosmetik yang gue punya dan gue rekomendasikan (jadi tenang aja, barang dengan kualitas jelek nggak akan gue masukin dalam tulisan ini, hehehe). Oh ya, soal tingkat harga, cara gue memberikan rating adalah berdasarkan harga jenis produk tersebut di pasaran. Misalkan, untuk lipstik yang harganya di bawah Rp. 50.000 itu berarti murah banget, sedangkan kalo cuma lip balm harganya sampe Rp. 50.000 itu udah masuk kategori mahal.

Alas bedak: The Body Shop Oil Free Balancing Foundation

Alas bedak ini diformulasikan khusus buat kulit berminyak. Pertama kali pake… gue langsung suka! Alas bedak ini gampang banget dibaurkan, dan hasilnya bikin muka kelihatan jadi lebih mulus. Hebatnya, alas bedak ini nggak bikin muka kita kayak pakai topeng, nggak mudah retak, tahan lama, dan enggak terasa tebal di muka. Tapi emang dasar muka gue minyaknya lumayan parah, nggak boleh kepanasan dikit tetep aja bedaknya sedikit pecah di daerah hidung. However gue tetep suka sama alas bedak ini. Dari sekian banyak alas bedak yang pernah gue coba, alas bedak ini satu-satunya yang setelah gue pakai enggak bikin muka gue jadi break-out. (Tingkat harga: lumayan mahal).

Tinted mousturizer: ZA

Katanya sih, tinted moisturizer (alias pelembab yang mengandung alas bedak ringan) ini boleh dipake sehari-hari. Tapi tetep aja, gue gak berani pake tiap hari karena gimanapun, yang namanya alas bedak itu lebih berpotensi menyumbat pori-pori. Nah, tinted moisturizer ZA ini enak banget dipakenya. Karena bentuknya cair, jadi bener-bener nggak berasa pake alas bedak! Buat ukuran harganya yang nggak gitu mahal, ZA udah termasuk ok banget: gampang dibaurkan dan lumayan tahan lama. Gue lebih suka sama produk ini daripada Maybelline BB cream yang jatuhnya terlalu putih di muka gue. (Tingkat harga: lumayan murah).

Bedak padat: Clinique Stay Matte Sheer Pressed Powder

Bedak padat ini diformulasikan khusus buat kulit berminyak. Hebatnya, meski kulit udah mulai berminyak (biasanya after lunch), bedak ini tetep kelihatan bagus di muka. Malah gue ngerasa, semakin siang bedak ini malah bikin muka kelihatan makin halus. Cuma bedak ini doang satu-satunya bedak padat yang nggak bikin muka jadi jerawatan. Setelah sekian lama berusaha nyari bedak yang cocok, kayaknya gue nggak bakal ganti merk lain setelah berjodoh sama bedak yang satu ini. (Tingkat harga: mahal).

Concealer: ZA

Ini concealer terbaik yang pernah gue punya. Gampang dibaurkan, hasilnya merata dan enggak pecah, serta enggak malah menimbulkan jerawat baru. Sayangnya concealer ini nggak cukup canggih buat nutupin jerawat besar terutama kalo jerawatnya baru aja mulai mengering. (Tingkat harga: lumayan murah).

Eye shadow: NYX

Gue punya 3 merk eye shadow, dan cuma merk ini teksturnya lembut, warnanya terang sehingga nggak perlu ambil banyak-banyak, gampang dibaurkan, dan warnanya masih kelihatan cukup jelas sampe malam hari. (Tingkat harga: lumayan mahal).

Eye liner: ZA

Satu-satunya eye liner (berbentuk pensil mekanik) yang kelihatan sempurna membingkai mata gue. Body-nya yang langsing bikin gue jadi gampang mengaplikasikannya. Kelemahannya, eye liner ini gampang patah dan perlu dipakai berkali-kali sampai warnanya kelihatan. Makanya saat mengaplikasikan, harus sabar dan jangan putar pensilnya terlalu panjang. (Tingkat harga: lumayan murah).

Maskara: Maybelline Unstoppable Curly Extension Waterproof Mascara

Akhirnya setelah berkali-kali ganti merk, gue berhasil nemuin maskara yang terbaik menurut gue. Gagang dan kuasnya yang ramping mempermudah pengaplikasian maskara sampai ke bulu mata yang sulit dijangkau, enggak menggumpal, dan selalu berhasil bikin bulu mata gue jadi kelihatan lentik! Jangan lupa beli yang tutup botolnya warna biru kalo kepengen pake maskara Unstoppable yang waterproof yaa. (Tingkat harga: murah).

Pensil alis: NYX

Gue suka banget pensil alis ini. Entah kenapa, kalo pake pensil ini, gue jadi gampang mengatur ketebalan yang gue inginkan. Udah gitu, pensil alis mekanik gue ini sama sekali nggak pernah patah, dan pastinya, nggak pernah luntur karena keringat atau air wudhu. Kelebihan lainnya, di ujung pensil alis udah ada sikat alisnya juga! Bener-bener praktis. (Tingkat harga: lumayan mahal).

Blush on: Maybelline

Karena jarang banget gue pake, gue juga agak bingung mau nulis apa. Tapi seinget gue, belum pernah ada masalah apa-apa selama gue pake produk ini. Yang gue tau pasti, blush on ini enggak pernah bikin muka gue jadi break-out. (Tingkat harga: murah).

Pensil bibir: NYX

Gue suka karena kebetulan merk ini punya warna yang pas buat gue; lebih terang dari warna asli bibir tapi masih menyatu sama pulasan lipstik. Pensil bibir mekanik ini juga enggak berampas, mudah digunakan, dan belum pernah patah. (Tingkat harga: lumayan mahal).

Lip balm: The Body Shop

This is the best lipbalm I’ve ever tried! Wanginya enak, terasa lembut di bibir, dan pastinya, berkat lip balm ini, gue jadi jarang mengalami bibir pecah-pecah sekalipun gue lagi puasa! Lip balm ini juga penyelamat gue kalo bibir gue lagi kering karena sakit atau baru balik dari dokter gigi buat narik kawat. Oh ya, lipbalm ini enggak berampas dan bisa membaur dengan sempurna sama lipstik dan lip gloss gue. (Tingkat harga: lumayan mahal).

Lipstick: Loreal Glam Shine

Ini lipstik ok banget. Nggak berampas, nempel dengan sempurna, tahan lama kecuali kalo udah bersentuhan sama makanan atau minuman, dan enggak bikin bibir gue terasa lengket. Tapi kadang, kalo kondisi bibir lagi kurang ok, lipstik ini bisa bikin bibir gue sedikit pecah-pecah. (Tingkat harga: lumayan mahal).

Lip gloss: ZA

Formulanya ringan, nggak bikin bibir pecah-pecah, nggak lengket, dan nggak terlalu glossy. Kalo dipake campur sama lipstik gue, lipgloss ini juga bisa membaur dengan baik. Kelemahannya? Hmm, ternyata kalo gue lagi puasa, lip gloss ini jadi sedikit berampas di sudut bibir gue. (Tingkat harga: lumayan murah).

Don’t Go Breaking My Heart

Entah kenapa, gue kepengen banget nonton film Don’t Go Breaking My Heart di Blitz Megaplex. Walaupun pilihan jam tayangnya tinggal sedikit, gue tetep bela-belain nonton film yang diputar jam setengah sepuluh malam itu.

Don’t Go Breaking My Heart bercerita tentang Zhi En, gadis yang baru saja putus karena dikhianati pacarnya setelah 7 tahun pacaran. Saat sedang patah hati itu, Zhi En berkenalan dengan 2 cowok baru dalam waktu yang hampir bersamaan. Cowok pertama namanya Shen Ran, cowok charming yang sangat sukses di usia muda. Shen Ran ini ceritanya udah cukup lama naksir sama Zhi En yang sering dia lihat dari jendela kantornya. Cowok yang ke dua bernama Qi Hong, seorang arsitek berbakat yang sedang mengalami depresi saat bertemu dengan Zhi En.

Setelah patah hati habis-habisan di awal film, akhirnya Zhi En mulai benar-benar move on setelah berkenalan dengan Qi Hong. Cowok ini mengarahkan Zhi En untuk mengubah penampilannya, mengajaknya bersenang-senang, serta bersedia menampung semua barang peninggalan mantan pacar yang masih tertinggal di apartemen Zhi En. Selain semua benda mati, Zhi En juga memberikan Qi Hong seekor kodok yang dulu dipelihara mantan pacarnya.

Di akhir pertemuan mereka, Zhi En membelikan satu set pensil warna untuk Qi Hong. Dia ingin Qi Hong menggunakan pensil warna itu untuk kembali berkarya. Dia juga memotivasi Qi Hong untuk berhenti minum-minum dan juga bangkit dari keterpurukannya. Pada saat itulah, Qi Hong mulai jatuh cinta kepada Zhi En. Qi Hong lalu mengajak Zhi En untuk bertemu lagi beberapa hari kemudian, dan dia berjanji, pada pertemuan selanjutnya itu, Qi Hong akan menunjukan hasil karya terbarunya.

Sayangnya di hari yang sudah dijanjikan, Zhi En juga punya janji kencan dengan Shen Ran untuk yang pertama kalinya. Ternyata Zhi En lebih tertarik pada Shen Ran sehingga melupakan janjinya kepada Qi Hong. Jadilah Qi Hong menunggu Zhi En yang tidak pernah datang ke tempat pertemuan mereka pada waktu yang telah dijanjikan.

Ironisnya, pada saat Zhi En tengah menunggu Shen Ran di café yang telah disepakati, Shen Ran malah tidak datang karena tergoda dengan ajakan kencan semalam dari cewek lain yang berpenampilan sangat menggoda. Tapi dasar Shen Ran cowok penggoda… Meski awalnya Zhi En sangat marah dengan ketidakhadiran dia di kencan pertama mereka, toh akhirnya mereka berdua jadian juga.

Akting Louis Koo si pemeran Shen Ran cukup berhasil memesona penonton. Aura bad boy-nya itu kerasa banget. Ngelihat betapa kerasnya usaha Shen Ran mengejar Zhi En bikin penonton jadi terbius… Zhi En disuruh bantu memillih mobil mewah, apartemen mewah sekaligus furniture-nya, yang ternyata, semua itu dibelikan Shen Ran untuk Zhi En! Saat itu gue sempet berpikir, cewek mana juga yang bisa menolak? Ya pantes aja lah kalo akhirnya Zhi En tetep jatuh ke pelukan Shen Ran…

Tiga tahun kemudian, Zhi En merasa curiga dengan Shen Ran yang menyimpan banyak kondom di dalam mobilnya. Padalah selama berpacaran, mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan intim. Setelah ditanya, Shen Ran pun mengakui bahwa selama ini dia memang masih berkencan dengan perempuan-perempuan lain. Saat Zhi En menjadi murka, dengan entengnya Shen Ran bilang begini, “Aku tidak mau berbohong! Lagipula di dunia ini cuma ada dua jenis lelaki: lelaki yang berselingkuh dan yang ingin berselingkuh. Kamu lebih memilih yang mana?”

Zhi En menjawab, “Aku memilih lelaki yang ke tiga!”

Shen Ran membalas, “Cari saja di planet Mars!”

Tidak lama setelah putusnya Shen Ran dengan Zhi En, cewek ini kembali bertemu dengan Qi Hong, si arsitek depresi yang kini sudah mampu mendirikan perusahaannya sendiri. Qi Hong pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kembali mendekati Zhi En. Dan tentu saja, Shen Ran tidak tinggal diam. Ada beberapa adegan yang menunjukan dua cowok ini saling berlomba menarik perhatian Zhi En.

Ada satu adegan yang sangat mengharukan di film ini. Ceritanya meski sudah tiga tahun berlalu, Qi Hong masih menyimpan kodok pemberian Zhi En. Saking sayangnya dengan si kodok, Qi Hong menamakan perusahaannya Qi Hong & Frog! Nggak heran kalo semua orang yang mengenal Qi Hong juga tahu bahwa kodok itu merupakan pemberian wanita yang dicintai Qi Hong, dan, bahwa meskipun ada banyak wanita yang mengidolakan Qi Hong, cowok ini tetap menaruh harapan kepada sang pemberi kodok yang sudah tiga tahun putus kontak dengannya itu.

Nah, suatu hari, Zhi En memutuskan pulang ke rumah orang tuanya karena merasa tertekan harus memilih di antara Shen Ran dan Qi Hong. Menghilangnya Zhi En itu kemudian memicu perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Saat mereka sedang berkelahi itulah, si kodok tidak sengaja terinjak hingga mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Matinya si kodok langsung mengakhiri perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Shen Ran bahkan meminta maaf kepada Qi Hong yang berlutut terpaku menatap kematian kodoknya. Saat kabar perkelahian tersebut sampai ke telinga Zhi En, cewek ini langsung kirim SMS turut bersedih kepada Qi Hong.

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, cowok jaman sekarang ini bawaannya suka ngambek. Makanya saat Zhi En kirim SMS, gue sempat nebak, Qi Hong tidak akan menghiraukan SMS-nya itu. Tapi ternyata, meski si kodok baru saja mati gara-gara ulah mantan pacar Zhi En, dan meski Zhi En baru saja meninggalkan Qi Hong beberapa saat sebelum perkelahian itu, Qi Hong tetap membalas SMS dari Zhi En. Qi Hong bertanya, “Kamu di mana? Di mana alamatnya?”

Segera setelah menerima balasan dari Zhi En, QI Hong langsung naik pesawat menuju rumah orang tua Zhi En. Sesampainya di sana, begitu Zhi En membuka pintu rumahnya, Qi Hong langsung berkata, “Si kodok sudah mati.”

Zhi En yang merasa tersentuh langsung memeluk Qi Hong dengan erat…

Apakah Shen Ran sudah menyerah? Hampir saja dia menyerah sampai di situ. Dia sudah kembali beredar di club langganannya, dan mulai tebar pesona mencari perempuan yang bisa dia ajak tidur. Tapi ternyata, saat dia dan teman kencannya sudah naik taksi menuju hotel, Shen Ran berubah pikiran. Dia kehilangan minat untuk kencan dan memutuskan untuk kembali mengejar Zhi En.

Emang dasar film drama yang menjual mimpi… Bisa-bisanya di akhir cerita, Shen Ran dan QI Hong melamar Zhi En dalam waktu yang bersamaan! Dengan dua cara berbeda yang dua-duanya tuh romantis banget. Lucunya, saat melamar itu, Shen Ran bilang begini, “Sekarang aku sudah jadi mahluk Mars!”

Sampai adegan itu… Yantri – adek gue, bergumam, “Awas aja kalo dia malah nerima Shen Ran!”

Padahal ya… di awal film, adek gue ini juga sempet terpesona banget sama sosoknya Shen Ran. Bahkan, Yantri yang suka ngomelin gue karena sering naksir cowok bandel itu akhirnya mengaku bisa mengerti alesan kenapa gue sampe jatuh hati sama mereka. Tapi begitu ngelihat betapa jelalatannya Shen Ran setiap kali melihat cewek seksi… saat melihat kebiasaan dia mencari pelarian dengan kencan semalam… adek gue kembali lagi pada akal sehatnya. “Hidup itu kan panjang… Masa’ iya sih, Zhi En mau selamanya hidup enggak tenang bareng cowok model Shen Ran? Dia kan bisa janji bakal setia hanya karena masih penasaran sama Zhi En. Belum tentu kalo nanti udah balik lagi dia tetep setia, terutama kalo mereka lagi berantem misalnya.”

Dan lucunya… Gue yang punya kecenderungan naksir bad boy pun, ngerasa ogah banget kalo Zhi En sampe memilih Shen Ran. Walau cuma fiksi belaka, rasanya gue tetep enggak rela kalo Zhi En malah ninggalin Qi Hong. Qi Hong yang penyayang, setia, baik hati, pemaaf pula…

Berkat film ini gue jadi sadar bahwa cowok-cowok bandel emang bisa jadi kelihatan charming (kecuali bad boy wannabe yang lagaknya malah bikin eneg), tapi kalo kita berpikir panjang… kita harusnya lebih memilih cowok yang bisa memberi kita rasa aman. Karena benar kata Zhi En, mencintai playboy itu sangat sulit, dan… sangat sulit dipercaya bahwa playboy bisa berubah jadi setia.

Jadi saran gue buat penggemar-penggemar bad boy lainnya… Kasih kesempatan lah, buat cowok baik-baik yang sayang sama kalian. Cowok terakhir yang gue taksir sama sekali bukan bad boy, dan ternyata rasanya malah lebih menyenangkan loh. Good guy itu lebih caring, lebih pengertian, dan malah sebenarnya, justru good guy ini yang punya potensi buat jadi idol without trying. Cowok baik hati model gini justru ngerasa bersalah kalo tau ada banyak cewek yang bertepuk sebelah tangan karena dia. Beda banget lah sama golongan bad boy yang menganggap hal menyedihkan kayak gitu sebagai suatu kebanggaan.

Kalo masih nggak percaya, langsung ajalah, nonton film ini di Blitz Megaplex. Gue yakin kalo film ini bisa bikin kita jadi sadar kalo sebenernya, bad boy is disgusting. Uups, no offense yah guys, hehehehe.

Crazy Little Thing Called Love

 

Sebenernya karena suatu hal yang terjadi baru-baru ini, gue berniat untuk enggak lagi nulis soal my personal love life experience di blog ini.  Tapi gara-gara film Crazy Little Thing Called Love yang baru aja gue tonton, jadi ada satu hal lagi yang ingin gue share di sini.

Crazy Little Thing Called Love bercerita tentang Nam, cewek culun yang naksir sama Shone, kakak kelas yang ganteng dan cool banget. Selama tiga tahun cewek ini memendam perasaannya, sampe akhirnya, dia malah sempet jadian sama sahabatnya Shone! Ceritanya Nam bersedia jalan sama sahabatnya Shone itu ya supaya bisa deket-deket sama Shone terus.

Setelah putus sama pacarnya, Nam memberanikan diri buat bilang suka ke Shone di hari kelulusan mereka. Sayangnya saat itu, Shone baru saja jadian sama cewek lain persis satu minggu sebelum Nam bilang suka!

Yang mengejutkan… ternyata selama tiga tahun itu, Shone juga tergila-gila sama si Nam! Dia masih nyimpen cokelat pertama yang diberikan Nam tiga tahun yang lalu, dan bahkan, dia punya satu scrap book berisi foto-foto candid Nam disertai ­caption yang isinya curahan hati Shone kepada Nam.

Sayangnya ternyata, Shone tidak pernah punya cukup keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada Nam. Pada hari valentine, Shone memberikan bunga buat Nam… Tapi bukannya bilang, “This is flowers from me,” si Shone ini malah bilang, “This is flowers from my friend.” Shone pernah beberapa kali berbuat baik untuk Nam, tapi tetap tidak cukup untuk menunjukkan rasa sukanya sama cewek itu. Sampai akhirnya, Shone bener-bener keduluan sahabatnya nembak si Nam.

Lalu bagaimana ending ceritanya? Nam pindah sekolah ke Amerika, dan baru kembali ke Thailand 9 tahun kemudian. Dan… ya, Shone dan Nam baru jadian 9 tahun setelah perpisahan mereka di bangku sekolah.

Nonton film ini serasa mengenang kebodohan semasa ABG dulu yah… Dulu gue juga pernah tuh, iseng nelepon gebetan gue tapi enggak ngaku kalo itu telepon dari gue. Dan gue juga pernah, semangat pergi sekolah cuma supaya bisa ketemu sama si gebetan, hehehehe.

Tapi bukan soal kebodohan ala ABG yang pengen gue bahas di sini. Gue cuma ingin membagi isi pikiran gue: kenapa cowok harus segitu takutnya bilang suka sama cewek yang mereka suka? Karena menurut gue, rasa takut yang sampe segitunya itu belongs to a girl, not a guy! Kalo mengutip dari serial Gossip Girl, guts makes a man a man.

Gue cukup sering berpikiran, dilahirkan sebagai cowok, khususnya di Indonesia, rasanya jauh lebih enak daripada jadi cewek. Di Indonesia, cowok yang pantang menyerah ngejar cewek incarannya bisa dianggap keren dan cowok banget. Dan gue sering lihat pada akhirnya, cowok itu berhasil juga memenangkan hati gebetannya itu. Tapi kalo sebaliknya, cewek yang pantang menyerah ngejar-ngejar cowok idamannya… Haduuuh, yang ada cowok itu bakalan kabur atau yang lebih parah, si cewek bakal langsung dikasih label cewek murahan yang udah desperate.

Waktu usia gue masih lebih muda, cieee:p, gue pernah tuh, berusaha bersikap manis buat menarik perhatian gebetan gue. Makanya gue bilang, tingkahnya si Nam di film itu mengingatkan gue sama diri sendiri, hehehehe. Bedanya dalam kasus gue, no matter how hard I tried to touch his heart, he would never get it and change his mind. Sampe akhirnya gue keburu capek dan mulai lupa sama dia dengan sendirinya. Makanya tadi gue bilang… Saking gemesnya, gue sering berpikiran, keadaannya pasti akan jauh berbeda kalo gue dilahirin sebagai cowok.

Terus ya… emang dasar gue kurang hoki atau apa… Setelah lewat beberapa tahun, setelah gue udah capek dan bener-bener lupa sama cowok-cowok itu, eeeh, baru kemudian gue tau kalo sebenernya mereka juga suka sama gue! Kalo gue juga pernah suka balik sama dia, dalam hati gue akan berpikiran gini… “Aduuuh, udah terlambat. Kenapa baru sekarang sih?”

Hal terakhir dari film ini yang agak-agak related sama gue adalah usaha buat jadi cewek yang lebih baik demi menarik perhatian si gebetan. Nam yang tadinya buruk rupa berubah jadi cantik, dan Nam yang tadinya bodoh berubah jadi pintar, hanya supaya bisa jadi cewek yang cukup pantas untuk Shone.

Dulu gue pernah punya gebetan yang orangnya tuh baiiik banget. Bener-bener tipe everybody’s sweetheart lah. Saking baiknya, dia tuh bisa tetep bisa bersikap ramah dan sopan even sama orang-orang yang dia benci. Gara-gara suka sama dia, gue juga jadi kepengen punya kepribadian yang lebih baik. Gue mulai memperbaiki intonasi bicara gue sedikit demi sedikit, belajar menahan emosi, dan belajar mentoleransi sifat jelek orang-orang di sekitar gue. Udah gitu, gara-gara dia juga gue jadi mulai nonton saluran berita dan rajin baca artikel di Detiknews dan Kompas.com… Maksudnya supaya bisa nyambung kalo ngobrol sama dia gitu, hehehehe.

Menurut gue sih, enggak ada salahnya ya, memperbaiki diri demi orang yang kita suka. Toh selama perubahan itu sifatnya positif, yang akan diuntungkan tetap diri kita sendiri juga. Dalam kasus gue, meskipun enggak ada happy ending antara gue sama dia, perubahan positif yang udah gue dapetin itu tetep gue pertahankan sampe sekarang. Karena nyatanya, gue jadi ngerasa lebih bahagia dengan kepribadian gue yang baru ini. Dengan bersikap lebih ramah dan mengelola emosi dengan baik, gue jadi bisa berteman dengan lebih banyak orang. Terus soal rajin nonton dan baca berita… Well, itu udah berhasil banget bikin gue kelihatan smart dan berwawasan luas, hehehehe.

 

Seminggu Setelah Facial Di Natasha

As I promised last week, hari ini akan gue tuliskan perkembangan kulit wajah gue seminggu setelah facial di Natasha hari Sabtu yang lalu. Here we go

 

Day 1

Bangun tidur, warna merah di muka gue udah sepenuhnya menghilang!  Kulit muka udah enggak super sensitif seperti waktu baru selesai facial, tapi kalo dipegang rasanya tetep bikin kita ngerasa harus berhati-hati gitu. Cuci muka dan pake lotion rasanya harus serba pelan-pelan.

 

Day 2

Senin pagi, kulit muka gue mulai mengelupas… Padahal krim-krim yang gue beli di Natasha itu nggak sekalipun gue pake loh. Soalnya gue paling benci sama pengelupasan kulit. Tapi kayaknya waktu facial di sana, muka gue langsung dipakein krim pengelupasnya itu deh. Untungnya sih, pengelupasan itu nggak terlalu kelihatan. Gue tanya ke temen-temen gue, mereka bilang baru kelihatan mengelupas kalo dilihat dari jarak dekat.

 

Day 3

Muka mulai terasa aman untuk dipegang-pegang pada hari ke tiga. Rasanya muka gue juga jadi halus dan licin banget! Selasa malem, pas gue bersihin make-up, ada banyak kelupasan kulit berwarna putih kecil-kecil yang ikut tersapu bersih.

 

Day 4

Kulit yang masih mengelupas tinggal di ujung hidung dan pangkal dahi saja… Untuk daerah lain, pengelupasannya udah nggak kelihatan sama sekali.

 

Day 5

Kamis pagi, sebelum gue berangkat hang-out bareng temen-temen gue, kondisi muka gue masih mulus banget. Tapi begitu malam harinya gue pulang ke rumah… gue lihat muka gue tiba-tiba break-out! Ada beberapa jerawat kecil di daerah pipi. Muka gue juga kelihatan kusam dan oily banget. Oh oh… apa sebabnya yah? Gue langsung ambil masker lumpur gue malam itu juga!

 

Day 6

Muka gue masih kelihatan kusam… Terus malam harinya, pas gue retouch bedak (waktu itu ada acara farewell temen sekantor, makanya gue retouch supaya kelihatan bagus di foto, hehe),  muka gue tuh kondisinya lagi lengket banget. Hasil fotonya juga tetap super mengkilap meskipun gue udah retouch.

 

Day 7

Sabtu pagi, jerawat-jerawat kecil mulai menghilang… Sepertinya berkat masker lumpur dan obat jerawat gue yang canggih itu. Seharian, ‘produksi’ minyak di muka gue juga enggak seaktif sehari sebelumnya. Sampai hari ini, muka gue tetep terasa halus dan enak banget buat dipegang-pegang, hehehehe.

 

Selain wajah jadi halus banget, hal lain yang menyenangkan dari facial adalah muka jadi terlihat lebih bersih daripada sebelumnya. Gue jadi pede untuk mengurangi jumlah bedak di pagi hari, sekaligus mengurangi jumlah concealer yang biasa gue pake untuk menutupi bekas-bekas jerawat. Selain itu, entah kenapa setelah facial, kalo ada komedo atau jerawat kecil yang baru muncul jadi lebih cepat kering lalu keluar dari pori-pori kulit dengan sendirinya.

Jadi, terlepas dari rasa sakit yang amit-amit itu, rencananya gue akan balik lagi ke Natasha untuk facial sekitar 2 atau 3 bulan lagi. Soalnya gue ngerasa udah cocok sih, facial di sana… So far nggak ada reaksi alergi atau rasa sakit yang berkepanjangan pasca facial di sana. Nilai plus lainnya, tempatnya bersih, ruangan facial-nya khusus buat cewek, stafnya ramah-ramah banget, dan lokasinya juga strategis buat gue. So yes, the conclusion is… I recommend you to have your facial at Natasha.  

 

Facial di Natasha

 

Akhirnya, kemaren gue nyobain facial di Natasha Cibubur. Kenapa di Cibubur? Selain karena dekat sama rumah ortu, dalam pikiran gue, kayaknya enggak banyak orang di sekitar Cibubur yang tertarik ngeluarin uang ratusan ribu hanya untuk facial. Dan ternyata benar dugaan gue… Meskipun hari Sabtu, gue nunggu giliran cuma beberapa menit saja! Bandingkan dengan facial di Natasha Kelapa Gading pas weekend yang nunggunya aja bisa lebih lama daripada facial-nya!

 

Begitu dateng gue langsung daftar. Karena masih new member, gue disuruh konsultasi dulu sama dokternya. Dulu gue pernah facial di Melrose dan waktu itu gue juga disuruh konsultasi dulu sebelum facial karena baru pertama dateng. Jadi ya sudahlah… gue masuk aja dulu ke ruangan dokternya.

 

Sebelum masuk ke ruang dokter, muka gue difoto pake kamera digital. Dan ternyata foto close up gue itu langsung tampil di layar monitor dokternya. Foto muka gue langsung di-zoom sampe keliatan pori-porinya. Dokternya cuma bilang, ‘Kulit kamu termasuk bersih ya…’

 

Hahahaha, puas banget rasanya denger si dokter ngomong begitu. Ya iyalah udah bersih… Dia nggak tau aja betapa ribetnya regime gue bersihin muka tiap pulang kerja, ditambah masker yang rutin gue lakuin seminggu dua kali. Coba si dokter lihat kulit wajah gue akhir tahun lalu… pasti dia langsung heboh deh ngasih gue resep ini-itu. Soalnya selama November-Desember yang lalu itu gue lagi sakit-sakitan, dan selama sakit gue males banget bersihin muka. Baru sejak awal tahun 2011 gue kembali berjuang ngeberesin muka gue ini.

 

Meskipun dari luar kelihatan udah bersih, tapi sebenernya di beberapa bagian yang tertutup jilbab masih ada jerawat kecil-kecil. Udah gitu gue ngerasa kulit muka gue nih masih banyak komedo dan terlihat kusam gara-gara bekas jerawat yang dulu-dulu. Makanya gue dateng facial ke Natasha, buat bersihin komedo sekaligus kulit mati di muka gue ini.

 

Tapi dasar Natasha nih emang suka komersil… Tiba-tiba aja dokternya bilang dia ngasih gue resep krim pagi, krim malam, sama krim anti iritasi! Bodohnya gue nggak nolak pula! Untunglah pas dokternya bilang mereka juga punya produk pembersih wajah, gue langsung nolak. Gue bilang, setelah berganti-ganti merk, akhirnya gue udah nemuin pembersih yang cocok dan gue udah nggak mau ganti-ganti lagi. Thank God si dokter itu nggak maksa gue beli pembersihnya juga…

 

Keluar dari ruang dokter, gue agak-agak serem ngebayangin jumlah yang harus gue bayar. Gue inget cerita orang-orang yang bilang, waktu pertama dateng ke Natasha mereka harus bayar sekitar sejutaan! Kasus mereka juga sama kayak gue, kulit berminyak dan berjerawat. Tapi ternyata gue ‘cuma’ keluar lima ratus ribuan aja tuh. Itu udah termasuk biaya dokter, krim-krim, dan facial anti acne. Hahaha, berarti kasus gue emang beneran dianggap ringan sama si dokter itu!

 

Terus terang, gue agak nyesel sih udah harus beli krim-krim Natasha itu. Gue udah percaya banget sama merk Acnes dan Ponds yang emang udah terbukti berhasil mengatasi masalah jerawat gue. Makanya pas selesai facial, gue langsung pasang status di Facebook gue, ‘Ada yang mau beli krim Natasha gue nggak? Gue jual lebih murah deh…’

 

Meskipun nyesel soal krim-krim yang totalnya Rp. 160.000 itu, gue tetep enggak nyesel udah bayar extra cost buat konsultasi sama dokternya. Gara-gara ngobrol sama dia, gue jadi tau bahwa:

 

  1. Gue pake jilbab terlalu kencang sehingga menimbulkan jerawat di area pipi yang tertutup jilbab;
  2. Kelenjar minyak gue ini aktif banget… Makanya gue nggak boleh sampe kepanasan supaya nggak keluar jerawat baru;
  3. Jerawat gue lebih banyak di sebelah kanan bawah karena posisi tidur gue, dan karena kebiasaan gue bertopang di pipi sebelah kanan;
  4. Untunglah gue nggak suka makanan pedas, karena katanya makanan pedas itu bisa bikin jerawat gue tambah banyak; dan
  5. Kurangi makanan berlemak. Gue langsung nyeletuk, “Kalo saya menghindari makanan berlemak, saya bisa tambah kurus, Dok.” Dokternya langsung nyengir…

 

Abis konsultasi sama dokter, gue tinggal nunggu dijemput sama beauty therapist buat di-facial. Sampe di ruangan facial yang khusus cewek, gue langsung disuruh ganti baju pake kemben gitu. Dengan jantung berdebar-debar, facial itu pun dimulailah sudah…

 

Dulu waktu kuliah, gue emang pernah facial di Melrose. Bedanya sama tempat facial lain, Melrose itu painless dan nggak bikin muka jadi merah-merah. Sayangnya Melrose itu kejauhan kalo dari tempat tinggal gue sekarang ini. Makanya gue pilih Natasha yang sama aja kayak tempat facial pada umumnya: sakit dan bikin muka jadi merah.

 

Awalnya muka, punggung, dan dada bagian atas dibersihkan sambil dipijat. Buat yang suka dipijat, rasanya enak kok dipijat di Natasha. Seinget gue rasanya lebih enak daripada di Melrose dulu. Udah gitu di Natasha ini dibersihinnya bener-bener maksimal banget. Entah itu berapa kali cairan pembersihnya diolesin ke muka gue. Trus muka gue juga dibersihin pake dua spons bulat yang dicelupkan ke air yang udah dicampur cairan beraroma sulfur.

 

Waktu muka gue lagi dibersihin, gue denger ada suara mesin berisik banget di tempat tidur sebelah. Gue langsung ngeri… Jangan-jangan itu suara mesin yang akan bikin muka gue jadi sakit! Tapi ternyata bukan… Alat yang berisik itu cuma kayak kuas yang muter-muter gitu. Kayaknya sih berfungsi buat sapu bersih sel kulit mati deh. Trus abis itu ada juga alat buat vakum kulit wajah gue. Entah apa fungsi vakum ini… Untuk membuka pori-pori mungkin?

 

Abis itu barulah proses ngeluarin komedo yang painful itu dilakukan… Sebelum dimulai, mbaknya nanya sama gue, “Tahan sakit nggak, Mbak?”

 

Gue bilang, “Nggak tau juga sih Mbak, belum pernah soalnya.”

 

Dulu waktu baru pertama kali pasang kawat gigi, dokter gigi gue sampe salut banget sama gue gara-gara gue nggak pernah sekalipun bilang aduh atau segala bentuk rintihan kesakitan lainnya. Jadi gue sempet berpikir, kayaknya gue emang tipe orang yang tahan sakit. Lagian gue tuh maunya jadi good girl supaya si dokter bisa dengan tenang menyelesaikan pekerjannya sehingga hasilnya pun jadi lebih maksimal.

 

Alat buat ngeluarin komedo yang dipake di Natasha bentuknya gagang besi tipis yang di ujungnya ada lingkaran kecil. Lubang di tengah lingkaran itulah yang menjadi ujung tombak buat ngeluarin komedo…

 

Pertama kali alat itu menyentuh jidat gue, gue berpikir, “Sakit sih, tapi cemen lah.”

 

Tapi ternyata, semakin dekat dengan area mata, semakin terasa efek sakitnya. Apalagi kalo mbaknya udah mulai bilang, “Ini ada komedo yang masih keras, tahan dulu yaa.”

 

Waktu area jidat udah selesai dan berpindah ke pipi kiri, lama-lama gue mulai ngerasa capek. Akhirnya gue nggak tahan untuk bertanya, “Masih banyak ya, Mbak?”

 

Dalam bayangan gue, pipi kiri gue itu pasti udah lebam-lebam. Saking sakitnya, air mata gue sampe mengucur dengan sendirinya. Pertama kali mbaknya nanya, “Masih tahan nggak, Mbak?”

 

Gue jawab, “Masih kok…”

 

Waktu udah sampe pipi kanan, mbaknya mengajukan pertanyaan yang sama lagi. Kali ini gue jawab, “Ya mau gimana, lagi?”

 

Untuk mendeskripsikan rasa sakitnya… well, mirip-mirip ditusuk jarum kali yaa. Tapi tetep aja, ditusuk jarum infus rasanya masih lebih sakit daripada ini. Tapi karena pas facial ‘ditusuknya’ berulang-ulang, ya lama-lama pasti capek juga sih. Meski begitu awalnya gue pikir, kayaknya gue masih kuat bertahan sampe akhir.

 

Tapi ternyata, begitu udah sampe ke daerah hidung… alamaaak, sakitnya setengah mati! Air mata gue semakin deras mengucur, kaki gue udah mulai resah nggak bisa diem, badan gue terasa gerah, dan gue sampe nggak sanggup buka mata karena lampu yang diarahkan ke muka gue itu jadi kelihatan silau banget di mata gue. Gue juga semakin sering bilang aduh, ugh, atau aww, selama proses pembersihan komedo di hidung itu.

 

Rini, temen sekantor gue pernah bilang, dia enggak gitu suka facial di Natasha gara-gara mbaknya terkesan terburu-buru dan enggak maksimal bersihin komedo dia. Mungkin karena kebanyakan pasien kali yaa. Tapi waktu kemaren gue di Natasha, mbaknya sih teliti banget nyariin komedo gue. Saking banyaknya itu komedo sampe-sampe gue bisa lihat ada banyak butiran putih di telapak tangan mbak itu.

 

Well, meskipun mbaknya semangat banget nyariin komedo gue, akhirnya gue sendiri yang minta berhenti. Awalnya gue tanya, “Tinggal hidung aja ya, Mbak?”

 

Ngelihat muka gue udah tersiksa banget, mbaknya jawab gini, “Iya, tinggal hidung. Mau diteruskan?”

 

Setelah gue timbang-timbang, akhirnya gue pun nyerah sampe di situ. Gagal deh, niat gue buat jadi good girl! Dalam hati gue berpikir, ya udahlah, buat bagian hidung mending nanti gue pake Biore pore pack aja, hehehehe.

 

Abis itu muka gue dipakein serum. Emang udah seharusnya gitu… Serum itu berfungsi buat menenangkan kulit pasca skin treatment. Abis itu gue dipakein masker, di daerah punggung, dilanjutkan masker di wajah. Waktu lagi nunggu masker di muka gue mengering, gue sempet ketiduran… Rasanya capek banget setelah proses facial yang menyakitkan itu.

 

Setelah facial selesai dan udah ganti baju, gue langsung nyariin kaca. Gue inget dulu pernah ngeliat cewek di mall mukanya merah banget yang jangan-jangan karena efek facial. Udah gitu, ibu-ibu di tempat tidur sebelah gue juga mukanya merah banget gitu waktu baru selesai diangkat komedonya. Ternyata muka gue emang merah, tapi nggak semerah cewek yang dulu gue lihat. Dan si ibu-ibu yang di sebelah gue itu juga begitu keluar ruangan mukanya enggak semerah sebelumnya.

 

Sampe di rumah, meski wajah masih agak merah, gue udah pede mampir ke Indomaret buat belanja. Terus pagi ini, efek kemerahannya udah hilang sama sekali! Oh ya, sampe tadi malem, muka gue tuh kalo disentuh rasanya jadi sensitif banget. Tapi hari ini udah terasa normal, dan yang paling asyik, kulit gue jadi licin dan lembut banget!

 

Berdasarkan pengalaman facial gue kali ini, berikut tips-tips dari gue buat kalian yang kepengen facial:

 

  1. Jangan sembarangan pilih tempat facial! Tempat facial itu harus bersih, dan alat-alatnya harus steril! Kalo Natasha punya ruangan khusus mensterilkan alat-alat facial-nya;
  2. Pilih tempat facial yang enggak terlalu ramai pengunjung. Biasanya sih, daerah pinggiran relatif lebih sepi daripada daerah tengah kota. Alternatif lainnya, pergi facial-nya pas weekdays aja;
  3. Jangan facial saat jerawat lagi banyak-banyaknya. Dan jangan pula berharap facial bisa bikin jerawat langsung kempes. Jerawat yang udah membesar justru nggak akan disentuh sama sekali sama terapisnya;
  4. Abis facial mendingan langsung pulang aja. Gue pernah baca, disarankan jangan langsung dandan atau terpapar sinar matahari secara kulit wajah masih dalam ekadaan sangat sensitif; dan
  5. Meski nggak ada yang menyarankan, setelah facial gue bersihin muka pake air dingin supaya muka gue cepet kalem dan terasa sejuk. Terus semalem sebelum tidur, gue juga pake Acnes lotion yang terasa dingin di wajah. Mungkin itu yang bikin merah di muka gue cepat hilang. 

 

Hal terakhir yang pengen gue comment dari Natasha adalah… kenapa ya, ada cukup banyak pegawai di sana yang wajahnya enggak mulus dan berjerawat? Bahkan dokter kulitnya pun, ada beberapa jerawat di daerah pipinya. Beda banget sama pegawai di Melrose yang kulit mukanya bikin ngiri.

 

Well, sekian dulu beauty report dari gue. Seminggu dari sekarang akan gue posting perkembangan kulit wajah gue pasca facial di Natasha. Ditunggu yaa!

 

Letters to Juliet Movie Quote

 

Letters to Juliet bercerita tentang Sophie yang bekerja sebagai ‘sekretaris Juliet’. Pekerjaannya adalah membalas surat yang dikirimkan cewek-cewek untuk Juliet. Konflik bermula saat Sophie menemukan surat yang ditulis lima puluh tahun yang lalu oleh grandma Claire. Nggak disangka, gara-gara balasan surat dari Sophie, grandma Claire jadi bertekad buat mencari true love dia lima puluh tahun yang lalu itu!

 

Menurut gue sih, dari segi cerita termasuk biasa-biasa aja yah. Tokoh utama cowoknya juga kurang ganteng, hehehe. Tapi, yang gue suka dari film ini ada quotes-nya. Sejak nonton film ini sekitar dua minggu yang lalu, gue udah bertekad bakal langsung nyari kumpulan quotes dari film ini. And here they aremy favorite quotes from this movie:

 

Sophie’s letter to grandma Claire:

“Dear Claire… ‘What’ and ‘If’ are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life: What if? What if? What if? I don’t know how your story ended but if what you felt then was true love, then it’s never too late.”

 

Sophie to Charlie (cucunya grandma Claire yang sangat menentang niat neneknya untuk mencari true love sang nenek 50 tahun yang lalu itu):

“I’m sorry, I didn’t know love had an expiration date.”

 

Charlie to Sophie (quote yang ini, dua kalimat pertamanya cuma based on ingatan gue aja… soalnya yang gue dapetin dari internet kurang lengkap sih):

“I’m glad I’m not Romeo. I don’t want to just stand and whisper in the garden. If I were Romeo, I would have grabbed her from that blasted balcony and been done with it.”

 

Between Charlie and Sophie (gue lupa siapa persisnya yang ngomong begini, hehe):

Sometimes, perfectionist is just another word of chicken.”

 

Grandma Claire to Charlie:

“How many Sophies do you think there are on this planet? Don’t wait for 50 years before you find her. Go, Charlie, go!”

 

However, meskipun gue suka sama quotes dalam film ini, di satu sisi gue tetep ngerasa film ini agak-agak berlebihan. Jangankan 50 tahun deh… nyari first love gue 10 tahun yang lalu aja gue ogah, hehe…

 

Terus tagline film ini kan bahwa cinta sejati itu nggak akan pernah kadaluarsa yah. Masalahnya kalo yang terjadi sama gue, setiap cinta yang pernah gue rasain pasti punya expired date. Pernah beberapa kali, gue menolak kesempatan buat ‘balik’ sama cowok-cowok yang DULU pernah gue sayang dengan sepenuh hati.

 

Tapiii, yah… secara gue juga masih muda. Siapa tau besok-besok gue nemuin cowok yang bisa bikin gue ngerasain true love sedahsyat itu kali yaa, hehehe. So I guess lucky for you who already have one.

 

Movie Review: You Again

 

Kalimat yang paling tepat mendeskripsikan film You Again: filmnya lucu! Ada banyak adegan lucu yang nggak jorok dan bikin jijik. Dan pastinya, ada pula dialog-dialog segar yang mengundang tawa. Hanya saja sayangnya, film ini akan jadi lebih lucu lagi seandainya para pemainnya lebih pintar memainkan ekspresi.

Ceritanya tentang Marni, cewek sukses di usia muda yang harus menerima kenyataan abangnya akan menikahi cewek yang dulu menindas dia selama SMA. Bisa ditebak, konflik dalam film ini adalah kecemburuan Marni sama calon kakak iparnya, serta berbagai usaha dia buat menggagalkan pernikahan itu.

Selain dialog lucu, film ini juga menyelipkan begitu banyak kalimat bijak. Gue udah coba googling movie quote-nya You Again, tapi hasilnya enggak sesuai dengan yang gue inginkan. Mungkin karena filmnya masih baru kali ya… Jadi di sini, gue akan share movie quote yang sifatnya seinget gue aja ok! Here they are…

“You can’t ruin someone else’s life and then pretend like nothing happened.”

“Seeing you beg me to feel sorry for you, is priceless.” (Rasanya gue juga pengen ngomong kayak gini deh, sama musuh bebuyutan gue waktu SMA! Hehehehe).

“I know that I should have asked you for apology since the day you walk through the door. I’m just afraid that people will judge me bad if they knew who I was.”

“Everybody deserves a second chance.”

Terus ada juga kalimat-kalimat motivasi tentang betapa berharganya diri kita sendiri, yang sayangnya gue bener-bener lupa saking panjangnya kalimat itu.

Moral of the story: bersyukurlah kalo waktu SMA dulu, kita nggak mengalami bullying seperti yang dialami Marni. Days by days would feel like hell! Kalopun hal itu pernah terjadi sama kita, don’t ever let them bring us down! Buktikan kalo in the future, kita bisa jadi lebih hebat daripada musuh bebuyutan kita itu.

Well, yeah… film ini jelas ngingetin gue sama musuh bebuyutan gue sendiri. Cewek yang entah kenapa sebel banget sama gue, pernah berusaha ngadu domba gue sama sahabat-sahabat gue, suka banget nusuk gue dari belakang, dan enggak pernah suka kalo ngelihat gue seneng. Beruntunglah gue punya muka judes sehingga dia nggak pernah berani mengusik gue lebih dari sekedar omong kosong… And lucky for me, cewek ini sekarang udah married dan dia enggak married sama salah satu anggota keluarga gue, hehehehe.

 

Life As We Know It

 

Tadi malam, setelah rencana nontop Step Up 3D terpaksa ditunda sampe malam ini (padahal gue udah sempet-sempetin restock softlense supaya pas nonton 3D gak perlu nge-double kacamatanya, hehe), akhirnya gue putusin buat nonton Life As We Know It di FX yang terletak persis di seberang kantor klien gue. It felt like I need an entertainment as soon as possible aja gitu, hehe…

 

Tadinya gue berniat nonton film ini sendirian secara temen-temen sekantor yang juga berminat sama film ini not available for a movie tonight. Untunglah di last minutes, Arlene, salah satu temen sekantor gue berubah pikiran. Dan jadilah kita nyebrang ke FX berdua buat nonton film yang dibintangi Katherine Heighl ini.

 

Life As We Know It bercerita tentang Messer dan Holly yang dicomblangin sama sahabat mereka masing-masing. Sayangnya, kencan pertama mereka gagal total karena perbedaan karakter yang sangat mencolok di antara mereka. Messer orangnya santai dan urakan, sedangkan Holly cenderung disiplin dan terencana.

 

As time goes by, sepasang sahabat Messer dan Holly itu menikah dan punya anak bernama Sophie. Dalam berbagai kesempatan, Messer dan Holly beberapa kali ketemu lagi tapi tetap nggak pernah sekalipun ada kecocokan di antara mereka.

 

Lalu suatu hari, saat usia Sophie baru menginjak satu tahun, kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Dan ternyata, kedua ortu Sophie sudah membuat surat wasiat yang menyatakan bahwa jika mereka berdua meninggal, maka mereka akan mewariskan seluruh kekayaan mereka kepada Messer dan Holly, sekaligus menitipkan Sophie kepada kedua sahabat mereka itu!

 

Bisa ketebak, sisi lucu film ini apalagi kalo bukan kocaknya kerepotan Messer dan Holly dalam mengurus si kecil Sophie… Nggak usahlah ya gue ceritain betapa lucunya film ini. Besides actually, I am not a good movie reviewer. Yang pengen gue share di sini justru moral of the story dalam film ini.

 

Di awal-awal, sambil ketawa-tawa nonton filmnya, gue sambil mikir, “Gila yah, punya bayi itu repotnya setengah mati! Kerjaannya nangis melulu, suka muntah sembarangan, susah dikasih makan, gampang sakit, belum lagi saat harus berurusan sama pampers-nya si bayi!”

 

Sempet-sempetnya loh ya, pas nonton gue ngerasa kalo gue emang bener-bener belum siap punya bayi, hehehehe.

 

Dari situ, soal cerita sih gampang ketebak lah ya. Dari yang tadinya cuma merawat setengah hati, akhirnya Messer dan Holly jadi beneran sayang dan peduli sama si kecil Sophie. And of course, two of them are finally falling in love!

 

At this point, yang gue pelajari adalah bahwa pada akhirnya, kerepotan ngerawat bayi itu sifatnya worth it. Gue jadi bisa memahami keinginan salah satu temen gue yang berniat resign setelah punya anak hanya untuk melihat anaknya itu tumbuh besar.

 

Bukan berarti gue juga jadi kepengen resign after having a baby loh ya. Seenggaknya gue jadi paham apa yang dimaksud teman gue itu sebagai melihat anaknya tumbuh besar. Gue baru tahu dari film ini bahwa adalah penting buat setiap ortu untuk melihat langkah kaki pertama anak-anak mereka. Dan adalah suatu unforgettable moment for every woman to hear her baby calls her mommy for the first time. Dan… yeah, setelah dipikir-pikir, kayaknya gue juga nggak mau melewatkan moment-moment istimewa seperti itu sih, hehe…

 

Bukannya mau mendramatisir loh ya, tapi sejak dulu gue emang terkenal sebagai not a big fan of a baby. Dalam bayangan gue, pasti bakalan stres abis ngurusin bayi bertahun-tahun lamanya. Gue malah pernah bilang sama temen gue, pasti enak kalo tiba-tiba anak kita udah langsung masuk SD^^ Dan gue juga lega banget waktu tante gue bilang dia bersedia dititipin anak gue nanti (soalnya kalo nyokap udah warning dari sekarang nggak bakal mau dititipin cucu, hehehehe).

 

Tapi dari film ini gue jadi berpikir… Probably having a baby is not as bad as I think this way. Buktinya, ada banyak banget pasangan yang secara sadar menginginkan anak ke dua, ke tiga, dan seterusnya. Terus ya itu tadi, ada beberapa parental moment yang cuma bisa dirasakan oleh orang-orang yang merawat bayi mereka.

 

However, I still think that I’m not ready for such a big responsibility like that yet. Punya anak itu kan nggak sama kayak pelihara kucing yang kalo kita udah capek ngerawatnya bisa kita kasih ke orang lain… Nggak sama pula kayak dititipin keponakan yang cuma sehari dua hari aja, dan jelas enggak sama dengan sekedar nyubitin pipi tembem anak tetangga sebelah…

 

Gue maunya, saat punya anak nanti gue udah siap secara mental. Siap dibangunin suara tangis bayi setiap malam, siap terpaksa menelantarkan pekerjaan gara-gara anak gue sakit, dan yeah… siap berurusan sama poop, pee, and vomit (euw…). Selain itu pastinya, gue harus mapan secara finansial dulu lah ya. I want to buy everything the best for my kids, send them to the best school in town, and afford their expensive medical treatments.  

 

Finally, gue cuma bisa bilang… gue salut banget sama temen-temen gue yang siap jadi ortu dalam usia muda. Because I think it’s true that a kid will make our life is no longer the same with the life as we know it. 

 

10 Movies’ Review

Sekitar dua minggu yang lalu, gue beli sebelas DVD sekaligus (sebenernya beli sepuluh gratis satu, hehe). Nah, gue kan udah selesai nonton semua film itu tuh, makanya sekarang ceritanya gue mau bikin movie review! Please be noted that this review was written based on my personal taste ok!

 

Still

Film horror buatan Thailand ini berisi empat cerita pendek yang enggak saling berhubungan. Buat ukuran film hantu, ini film nggak ada serem-seremnya! Nggak ada tuh, rasa takut, deg-degan, atau terkejut karena setannya tiba-tiba muncul… Yang ada gue malah pengen ketawa ngelihat penampakan salah satu setannya. Beda jauh lah sama Forbia, Shutter, dan Alone yang sama-sama film horror buatan Thailand. Tapi, ada satu adegan di film ini yang bikin gue jadi ikutan sedih. Ceritanya ada cowok yang baru ditinggal mati sama pacar yang udah lama tinggal serumah sama dia. Pas lagi di wastafel, cowok itu memandangi deretan botol pembersih wajah, pelembab, dan kosmetik milik almarhum pacarnya. Karena kangen, si cowok itu ngambil satu botol pelembab, menuangkan sedikit isinya, lalu memakai lotion itu di wajahnya sambil berlinangan air mata…

Salt

I’m not a big fan of action movie but I always love Angelina Jolie’s movies. Dan untuk film ini pun, gue cukup menikmati kok. Sayangnya, cerita film ini gampang ketebak. Beda banget sama Wanted yang menyimpan lebih banyak kejutan yang unpredictable.

Sex and The City 2

Entah kenapa menurut gue, film ini enggak seburuk yang orang-orang bilang. Menurut gue keren aja umur udah lima puluhan tapi tetep seksi dan fashionable. Gue juga selalu suka sama cerita persahabatan di Sex and The City. Selain itu, gara-gara film ini, gue jadi kepengen nyobain makan siang mewah di tengah padang pasir, hehehe.

When in Rome

Di awal, gue suka banget sama jalan ceritanya. Tapi lama-lama, ceritanya jadi agak aneh dan berbau takhayul gitu. Not bad sih, lumayan enjoy juga gue nontonnya. Apalagi ditambah lokasi syuting di kota Roma yang arsitekturnya keren banget! Wuaaahhh, jadi nambah pengen liburan ke Italia deh…

The Joneses

Ceritanya tentang sekelompok orang marketing yang menyamar jadi satu keluarga harmonis. Tugas mereka hanya memamerkan barang-barang keluaran klien mereka supaya orang lain jadi iri kemudian membeli barang yang sama. Film ini termasuk lumayan lah ya, buat ngisi waktu luang. Tapi sayang konfliknya kurang tajem dan adegan romatisnya kurang dapet.

Prince of Persia

Banyak yang bilang, film ini bagus banget. Tapi kalo menurut gue, film ini cuma masuk ketegori not bad but not great enough. Adegan action-nya enggak begitu istimewa, begitu juga sama unsur romance yang menurut gue kurang menyentuh. Apalagi menurut gue, ending-nya nggak realistis. Loosing everyone then he could turn back the time and got them back? What a perfect life it that’s possible.

Karate Kid

Ini juga nggak sesuai sama ekspektasi gue secara orang-orang bilangnya film ini bagus banget. Karena menurut gue, dari segi cerita bener-bener biasa aja. Tapi anehnya, dari semua film action dalam review ini, justru Karate Kid yang adegan berantemnya paling seru dan enak dilihat.

The Date Night

Ini film lumayan lucu. Ada beberapa adegan yang bikin gue ketawa. Pesan moralnya juga lumayan dapet: jangan sampe usia pernikahan dan keberadaan anak-anak mengurangi romantisme suami-istri.

Vampire Sucks

This movie is simply sucks! Ini film enggak gue tonton sampe selesai. Tapi ada satu adegan yang lucu. Ceritanya, ketika trio vampir Victoria-James-Laurent muncul, mereka sempet berpose sambil bilang, “Black Eye Peas.” Gue baru nyadar… ciri-ciri fisik mereka emang mirip banget sama tiga personel BEP, hehe.

The A Team

Belum sampe lima belas menit nonton tapi gue udah ketiduran adalah suatu pertanda ini film enggak cukup bagus. Jagoannya udah tua-tua, konfliknya sulit dimengerti, adegan action-nya juga kurang seru, hingga akhirnya, belum sampe selesai filmnya udah gue matiin.

The Last Song

Cerita tentang cewek yang berbakat main piano tapi malah nolak beasiswa sekolah musik karena alasan personal nggak bikin gue jadi tertarik sama film ini. Entah kenapa, rasanya nggak ada chemistry buat terus nonton film ini gitu. Akhirnya, film ini juga enggak gue tonton sampe selesai.

 

He’s Just Not That Into You

It sounds hurt but true: lebih banyak cewek daripada cowok yang dibodohi atas nama cinta. Lebih buruk lagi, kita para cewek sering kali menyangkal bahwa pada dasarnya kita hanya sedang dibodohi. Kita tidak bisa berhenti bersikap naïf, sok bijak dengan selalu berpikiran positif, dan yang paling buruk, kita menaruh harapan terlalu tinggi terdahap seseorang yang sebetulnya tidak benar-benar mencintai kita.

Sebetulnya gue bukan penggemar buku psikologi soal cinta-cintaan. Tapi karena suka sama filmnya, gue mulai tertarik baca buku yang berjudul He’s Just Not That Into You. Gue pun mulai membaca… dan seperti biasa, gue menandai bagian yang gue sukai dengan cara melipat ujung halamannya. Dan ternyata… ada begitu banyak halaman yang gue beri tanda lipat!

 

Jujur ya… gue ngerasa ditampar keras sama buku terjemahan yang dahsyat ini. Gue pikir selama ini gue udah cukup pintar, cukup pemilih, serta cukup cerdas dalam mengambil keputusan… Tapi ternyata, gue juga sering banget dibodohi atas nama cinta.

 

Nah, dalam kesempatan kali ini gue akan menuliskan dengan jujur bagian-bagian dari buku ini yang gue anggap menarik dan gue banget. Buat cewek-cewek, siap-siap ngerasa kaget, dan buat cowok-cowok, mohon maaf kalau elo merasa tersindir dengan tulisan gue ini.

 

  1. Jangan biarkan kata-kata ‘honey’ dan ‘baby’ menipu anda.
  2. Seorang pria tidak benar-benar menyukai anda kalau dia tidak menelepon anda. So girls, berhenti berpikir: sinyal hp lagi error, dia nggak punya pulsa, dia lagi sakit atau sibuk, atau yang paling konyol: hp-nya dijambret orang!
  3. “Bolehkah seorang pria lupa menelepon saya?” Jawabannya, “Tidak.”
  4. Menelepon saat anda berjanji adalah batu bata pertama dari rumah cinta yang anda bangun.
  5. Pria yang baik akan menggunakan telepon. E-mail tidak berlaku (termasuk menurut gue, comment di Facebook juga tidak berlaku:)
  6. Pria tidak pernah terlalu sibuk untuk mendapatkan keinginan mereka. Dan, pria tidak pernah terlalu sibuk untuk menelepon wanita yang benar-benar mereka sukai.
  7. Jangan menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak menepati janji. Jadi, jangan pernah berkencan dengan seseorang yang membuat anda menunggu-nunggu telepon darinya.
  8. Seorang pria berkata, “Rasa takut terhadap kedekatan cuma mitos belaka. Itulah yang kami katakan pada wanita ketika kami tidak benar-benar mencintai mereka.”
  9. ‘Tidak ingin merusak persahabatan’ hanyalah akal bulus.
  10. Pada akhirnya, pria pasti berani mengajak kencan seorang wanita yang berstatus lebih tinggi jika dia benar-benar tertarik pada wanita itu.
  11. Orang lain memberi tahu anda siapa dia yang sebenarnya setiap saat. Jadi ketika dia berkata bahwa dia tidak bisa bermonogami, maka anda harus mempercayainya.
  12. Orang yang berselingkuh adalah orang yang punya banyak masalah dan mereka berusaha menyelesaikannya dengan menghancurkan hati anda.
  13. Cowok badung itu brengsek karena mereka menyusahkan, hanya sedikit menghargai diri sendiri, banyak memendam amarah, banyak membenci diri sendiri, serta benar-benar tidak percaya terhadap segala bentuk hubungan percintaan yang penuh kasih sayang.
  14. Seorang pria tidak benar-benar mencintai andai jika dia menghilang dari hidup anda.
  15. Inilah yang dia lakukan selama masa vakum hubungan anda: dia mengendus sekelilingnya untuk mencari orang lain yang lebih baik dari anda, dan jika dia tidak menemukannya, dia merasa kesepian sehingga dia terpaksa kembali ke ‘rumahnya’.
  16. Satu-satunya alasan kenapa dia merindukan anda adalah karena dia sendiri yang lebih memilih untuk tidak memilih anda.
  17. Bila anda tidak bisa mencintai dengan bebas, itu namanya bukan cinta.
  18. Hidup sudah cukup berat tanpa harus memilih seseorang yang bermasalah untuk berbagi hidup.
  19. Saya tidak akan berkencan dengan pria yang membuat saya merasa tidak diinginkan secara fisik.
  20. Pria lebih memilih dilindas gajah daripada memberitahu bahwa dia tidak serius dengan anda. Malah buat yang udah pernah pacaran, cowok lebih memilih memancing pertengkaran hebat daripada minta putus secara langsung!
  21. Binatang peliharaan adalah cara Tuhan untuk berkata kepada anda, “Jangan turunkan standar hanya karena merasa kesepian.”

 

Setelah baca buku ini, gue mulai berbesar hati untuk menerima bahwa pada dasarnya, cowok-cowok itu emang enggak bener-bener suka sama gue. Bukan karena kelulusan, bukan karena jarak jauh, bukan karena dia sibuk kuliah kedokteran, bukan karena dia minder dengan prestasi gue, bukan karena perbedaan besar di antara gue dan dia, bukan karena tidak ingin merusak persahabatan, dan bukan pula karena suatu masa lalu yang sangat sulit untuk ditinggalkan.

 

Intinya jangan pernah takut untuk mengakui bahwa faktanya, dia tidak beanr-benar mencintai kita. Jangan pula merasa rendah diri hanya karena kita ini bukan tipenya dia. Kita juga berhak kok, menetukan tipe cowok idaman yang kita inginkan. Kalau kita tega menolak cinta seorang cowok, kita juga harus berbesar hati kalau gantian kita yang ditolak sama mereka.

 

Jadi daripada buang-buang waktu buat cowok yang enggak benar-benar cinta sama kita, lebih baik kita nikmati hidup sampai nanti kita menemukan seseorang yang mencintai kita dengan layak. Dan jangan lupa, kita BERHAK untuk dicintai secara layak