10 Hal Yang Bisa Bikin Ilfil

Terinspirasi dari tulisan sejenis di Cosmopolitan, gue jadi kepingin bikin tulisan versi gue sendiri. Berikut ini 10 hal yang selalu sukses bikin gue hilang feeling dari cowok-cowok yang pernah gue suka sebelumnya.

  1. Odor problem. Baik cowok maupun cewek, mesti sesekali pergi ke dokter gigi, pakai dental floss dan mouth wash jika perlu, rajin mandi (dan jangan cuma mandi asal-asalan saja!), kalau pakai sabun pakai sampai ke ujung jari dan sela-sela tubuh lainnya, pakai minimal body spray dan deodoran jika perlu,  ganti kaus kaki sehari sekali, intinya, ada banyak cara untuk menghindari masalah ini. Jangan malas!
  2. Too many bad languages. Buat gue, kalo cuma ngucapin F word sesekali saat sedang super pissed terhadap suatu keadaan atau benda mati rasanya masih cukup acceptable, tapi kalau sampai menggunakan F word, S word dan semua bad languages lainnya tentang orang lain (apalagi kalau sampai mengarahkan kata-kata itu ke gue sendiri!), itu sih betul-betul bikin ilfil deh. Having said occassion F word would be fine to me, most of the times I tend to fall for the ones who can always control his own language;
  3. Kasar, terutama kalau suka main fisik. Dan hal ini berlaku juga untuk perlakuan mereka terhadap hewan. Cowok yang suka membentak orang lain dengan kasarnya, suka main tangan, memperlakukan orang-orang tidak mampu dengan seenak jidatnya, atau cowok yang dengan tega menendang kucing-kucing yang kelaparan hanya akan kehilangan respect gue saja;
  4. Party animal. Cowok yang suka mabuk dan menjadikan night club sebagai rumah ke dua rasanya tidak akan pernah bisa get along dengan gue. We’re just two too different people;
  5. Too many lies. Memang benar tidak ada orang yang tidak pernah berbohong, tapi kalau bohong sudah jadi kebiasaan yang selalu dilakukan tiap kali ada kesempatan, itu sih sudah betul-betul bikin ilfil! Tell me the truth, I can accept it no matter how ugly that is;
  6. No show up. Janji mau jemput jam 7 malam tapi malah tidak datang tanpa kabar sama sekali? Go to hell! Tentu bisa dimengerti jika sebabnya hal-hal yang di luar kendali seperti kecelakaan bermotor misalnya, tapi kalau tidak muncul karena kelupaan? Come on! Put some respect to others! Even the king of the world cannot do that;
  7. Memakai dialek kedaerahan di dunia kerja. Pertama, kesannya tidak profesional, ke dua, sebagai cowok jadi kelihatan kurang keren di mata gue. Tidak ada salahnya menggunakan bahasa daerah atau sekedar menggunakan dialek tertentu di lingkungan rumah, tapi tidak dalam suasana kerja dan acara formal lainnya!
  8. Can’t stop looking at his phone when he’s with me. Kalau memang cuma mau main hp saja ya buat apa ajak gue ketemuan? Main hp di rumah saja sana!
  9. Too many ex-girlfriends. I don’t know if I want to handle this kind of guy. He’s just not for me, I guess;
  10. Malas, pesimis, dan tidak peduli akan masa depannya. Cowok yang prinsipnya hanya sekedar ikut air mengalir? Kerja asal-asalan yang penting terima gaji tiap akhir bulannya? Rasanya memang tidak akan pernah bisa cocok dengan kepribadian gue.

Every Girl Would Love to Have Her Fairy Tale

 

IMG_8234It’s all started while I was copying the pictures of my last vacation to Disneyland. A Cinderella Movie just started playing at HBO and it got me thinking… Deep in their heart, all girls I know are dreaming of a fairy tale in their own life. All girls, including myself.

I know that people know me as a modern female ‘warrior’. I fight hard for my dreams and for everything that I believe is right. I don’t give up easily, I stand up even higher after I fall. And as many of you know, I’m never afraid to speak up my mind. So yes, I believe it’s true that I’m a warrior on my own.

But did you know? Once upon a time, I was just an ordinary little girl who was falling for fairy tales. Everytime I read them in my books or watched them on TV, I smiled alone and told myself that someday I would meet my prince charming too. He would come to rescue me and we would live happily ever after. A happy ending; me and him against the world.

Many years have passed me by and I have survived (even more that just survive I would say) so many tough battles in my life, even though I am all alone. With that being said, does it mean that I no longer need my prince charming to rescue me?

Rescue me? You’re kidding me! Why would I need to be rescued from this amazing life I already have? 😉 But seriously… I no longer think that I need to be rescued. All that I need right now is just a right person who is willing to fight the battles to come, together with me; just me and him against the world.

As a grown up, I’ve come to learn that life is not as easy as a fairy tale. Real life is a battlefield, a never ending one. One ending is always just another beginning. That’s why to me, as long as I can find someone who stays with me to conquer it all, then it would be all that I need. It would be nice if he comes with flowers, sweet surprises, and all sweet things to make me smile alone when I think of him. He doesn’t need to be perfect, he only needs to be the very best of him, loves me, and fights for me sincerely.

Just by that, I would already have my happy ending in my love story. And that’s my friend, my kind of fairy tale that I would love to have.

Wish you all a lovely week ahead!

Why do We Fall for AADC 2?

Spoiler alert! Jangan baca kalau enggak mau tahu jalan cerita dan ending film-nya!

Belakangan ini gue baru menyadari bahwa sebetulnya, jalan cerita AADC 2 itu tidak ‘ideal’. Sebetulnya, Rangga dan Cinta melakukan hal yang kalau menurut istilahnya Cinta, hal yang ‘jahat’. Coba dipikir lagi… Rangga ngerebut tunangan orang lain dan Cinta selingkuh dari tunangannya. Well, she kissed Rangga first in that movie, didn’t she? Buat gue itu sama aja dengan selingkuh, hehehehe.

Tapi entah kenapa, fakta bahwa mereka berdua melakukan hal yang sifatnya jahat sama sekali tidak mengganggu gue selama nonton film itu. Padahal biasanya, gue paling sebal kalau nonton film tentang orang-orang yang selingkuh. Kesannya kok, seperti membenarkan hal yang salah gitu. Tapi sekali lagi, anehnya, gue tidak merasakan rasa sebal yang sama saat nonton AADC 2.

Kenapa bisa begitu?

Mungkin, tulisan gue setelah ini tidak merepresentasikan pendapat semua orang, tapi jika kamu juga merasakan hal yang sama dengan gue, maka bisa jadi, berikut ini alasannya.

Bisa jadi, kita tidak merasa ada yang salah dengan lanjutan kisah Rangga dan Cinta karena pada dasarnya, kita semua ingin melihat bahwa pada akhirnya, cinta sejati pasti akan bersatu. True love will win, it will always find a way back to each other. 

Kalau meminjam nasehatnya salah satu teman gue, “Jangan sampai elo mutusin buat give up tapi nanti, bertahun-tahun dari sekarang, elo bertanya-tanya sama diri lo sendiri; what if you did it differently? Jangan pernah bikin keputusan yang bikin elo berakhir dengan pertanyaan ‘what if‘ itu.”

Hanya saja kenyataannya, tidak semua orang punya kemampuan atau mungkin kemauan yang cukup keras untuk memperjuangkan true love itu sendiri. Tidak selalu soal mantan pacar yang pernah terlanjur kita tinggalkan, tapi juga semua kesempatan yang pernah kita lewatkan hanya karena kita anggap sebagai ‘mission impossible‘. Itulah sebabnya, saat kita melihat kisah percintaan di layar kaca, kita seolah berkaca pada pengalaman diri sendiri dengan harapan akan melihat ending yang berbeda. Kalau pemikiran gue sendiri, “Di dunia nyata aja hidup gue udah nggak happy ending, masa’ gue nonton film enggak happy ending juga sih?”

Nyaris semua orang yang nonton AADC 2 sudah mengikuti kisahnya Rangga dan Cinta dari film pertamanya. Seolah masih segar di ingatan kita naik-turunnya mereka berdua, betapa cute-nya proses pdkt mereka berdua, sehingga saat melihat merasa nyaris terpisahkan, kita jadi cenderung berpikir, “Seriously? You want to let it go?” Kita jadi melupakan bahwa dalam kisah itu, ada Trias yang tersakiti hatinya 😉

By the way, omong-omong soal Trias, meskipun amit-amit banget sih ya, tapi kalo gue jadi dia, gue akan lebih memilih untuk mengikhlaskan Cinta. Gue malah akan bersyukur Rangga datang kembali di saat yang ‘tepat’. Buat apa married sama seseorang yang hatinya masih ‘milik’ orang lain? Cepat atau lambat, Rangga akan jadi masalah dalam pernikahan mereka anyway. Dan percaya nggak percaya, gue cukup sering menemukan kejadian seperti ini dalam kehidupan nyata.

Dan ya, selain soal cinta segitiga, banyak hal dalam kisah AADC ini sangat dekat dengan kehidupan kita sendiri.

Jatuh cinta dengan orang yang jauh berbeda dengan kita.

Jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tidak terduga.

Kisah cinta yang awalnya tidak ‘direstui’ orang-orang terdekat kita.

Terpaksa pisah atau putus karena keadaan.

Perpisahan tanpa penjelasan.

Waktu yang terbuang hanya untuk bertanya-tanya, “Apa yang salah?”

Dan penyesalan yang datang kemudian.

Segala hal yang sifatnya common itulah yang membuat AADC melekat erat di hati kita. Setidaknya, melekat di hati gue. Dan sekali lagi, kesamaan itu pula yang membuat kita mengidam-idamkan happy ending antara Rangga dan Cinta. Happy ending yang diam-diam, kita harapkan untuk diri kita sendiri.

Dan tahu apa yang bisa kita pelajari dari film AADC? Happy ending itu tidak ditemukan, tapi diusahakan. Fight for someone you love. Give your very best fight, before you give it up.

AADC dan ‘Rangga Syndrome’

Warning! This post contains spoiler! Save this post for later unless you are keen on having some kind of sneak peek here 😉

Jadi ceritanya hari ini gue nonton AADC 2 setelah tertunda satu minggu gara-gara Hong Kong-Macau trip gue. Tadinya gue pikir, asyik juga kalo nontonnya sekalian movie date. Tapi berhubung masih jomblo juga, ya sudahlah, nonton sama teman-teman sekantor juga nggak masalah. Dan bener deh, meskipun kamu suka nonton sendirian, khusus untuk AADC lebih baik cari teman nonton. Secara AADC itu identik dengan cerita percintaan dan persahabatan  kan tuh. Sedih aja kalo jadi berasa udah pacar nggak punya, masa’ teman nonton juga nggak punya? Hehehehe.

Di awal film, gue sibuk menganalisa penampilan Cinta and the gank. Mereka itu kan ceritanya kelahiran tahun ’86, which is seangkatan sama gue, dan sempat terpikir di benak gue, “Well… Gue masih lebih awet muda kalo dibanding sama mereka, hehehehe.”

Semua pemain ceweknya lebih cantik sekarang kalo menurut gue. Paling salut sama Titi Kamal. Masih langsing meskipun anaknya udah lebih dari satu! Lalu untuk si ganteng Rangga… Gue yakin banget Nicholas Saputra sampe diet ketat hanya untuk main film sekuel ini, hehehehe.

Hal selanjutnya yang gue amati sudah tentu akting para pemainnya! Gaya akting yang masih nggak jauh beda dengan AADC 1 belasan tahun yang lalu. Dan entah kenapa, ada beberapa adegan Rangga-Cinta yang bikin gue bergumam, “Ih apaan sih” saking kaku dan jadulnya. Maksud gue, emangnya masih ada ya, orang Jakarta yang ngobrol dengan kosakata dan intonasi seperti itu di tahun 2016 ini? Terlalu kaku, baku, dan nggak enak didengar. Dan satu lagi, saat pertama Rangga muncul di layar, gue langsung cekikikan, “Si Rangga masih galau aja!”

Terlepas dari beberapa adegan kaku yang bikin gue berkerut dahi itu, tetap ada, bahkan lumayan banyak, adegan yang bikin gue senyum-senyum sendiri. Berantemnya Rangga dan Cinta emang selalu bikin gemas! Komentar salah satu teman nobar gue, “Pelajaran dari AADC 2: kalo cewek lagi galak mode: on, jangan langsung dikonfrontasi. Ajak jalan-jalan dulu! Bravo, Rangga!” Dan emang bener, cara Rangga mengatasi amarahnya Cinta udah berhasil bikin hati penonton jadi ikutan lumer, hehehehe.

Selain bikin senyum-senyum sendiri, ada pula adegan romantis dan sedih yang bikin gue merinding. Bener-bener merinding. Kayaknya ini film yang paling banyak bikin gue jadi merinding deh. Tipikal merinding yang bikin gue mempertanyakan keputusan yang baru saja gue ambil untuk love life gue sendiri. Tipikal merinding yang bikin sedih sekaligus bikin kita kangen sama orang yang kita suka. Tipe merinding yang bikin kita kepingin jatuh cinta lagi 😉

Tahu apa lagi yang gue suka dari AADC 2? Lokasi syutingnya! Gue tidak menyangka Yogyakarta bisa tampak seindah itu. Dari sekedar vila tempat Cinta dan teman-temannya menginap saja sudah luar biasa cantiknya! Belum lagi sederetan tempat kencan reuninya Rangga dan Cinta! Aaah… Jadi pengen balik lagi ke Yogyakarta! Tempat gue pertama kali ketemu sama first love gue dulu! 😉

Finally soal jalan cerita. Agak-agak klise sih menurut gue. Nggak sengaja ketemu di Yogya dalam waktu yang bersamaan? Cinta nyaris ketabrak truk dan jadi sadar kalo dia harus ngejar Rangga lagi? Oh, come on! Belum lagi Cinta yang udah nyaris married sama cowok lain itu… Cintapuccino banget nggak siih?

Yang konsisten kerennya apa lagi kalau bukan kisah persahabatannya! Persahabatan sepanjang masa dalam suka dan dalam duka. Nggak gampang dan jarang ada, makanya tadi saat nonton, gue jadi ngerasa beruntung! Gue emang payah buat urusan cinta-cintaan, tapi untuk persahabatan, gue masih beruntung punya beberapa sahabat yang sudah gue kenal belasan tahun lamanya! Tadi saja, gue nonton bareng teman sekantor yang juga sahabat gue dari bangku kuliah dulu!

Pada akhirnya, terlepas dari segala kekurangannya, gue tetap suka banget sama AADC 2. Tetap movie of the year kalo buat gue. It’s simply sweet and heartwarming. Tipe film yang bikin gue kepingin nonton sekali lagi! It’s a must watch, terutama buat generasi ABG di tahun 2000 awal kayak gue ini, hehehehe.

Speaking of AADC 2, film ini bikin gue jadi menyadari sesuatu: entah sejak kapan, gue udah terjebak dalam ‘Rangga syndrome‘. You know… Cowok puitis, tukang galau, misterius, susah ditebak, insecured dan kurang usaha buat ngejar cewek yang dia suka… Bahkan ternyata, selain hobi menulis, ceritanya Rangga itu suka fotografi dan traveling juga! Ya ampuun, deskripsinya mirip banget sama cowok terakhir yang gue sukaaa, uups 😀

Tanpa sengaja gue jadi berpikir… Apa yang bikin cowok seperti Rangga kelihatan menarik? Mari gue ulang: tukang galau, insecured dan kurang usaha buat deketin cewek yang dia suka! Apa menariknya coba? Cowok kok ya mellow banget gitu. Kenapa si Cinta bisa tergila-gila? Dan kenapa begitu banyak cewek Indonesia juga ikut tergila-gila sama si Rangga?

Ah sudahlah, itu toh bukan pertanyaan yang ada jawabannya. Toh si Rangga juga, ujung-ujungnya ada perubahannya. Realitanya pun begitu juga. Kalau Rangga tetap Rangga yang menutup diri dari Cinta, siapa pula yang masih akan jatuh cinta sama pujangga ini? Percuma jago nulis puisi kalau merasa mampu terus hidup sendiri…. Penonton juga pasti bosan kalau sepanjang film isinya tetap kebanyakan Cinta yang sibuk ngejar-ngejar si Rangga kayak film pertamanya dulu itu. If the feelings are mutual, the effort will be equal, remember?

Whatever it is, I would say AADC already had a perfect ending. And that tender kiss in a beautiful place like that… It may make you want to have someone by your side too 😉 Watch it and feel what I feel!

Tapi jangan salahin gue kalo abis itu jadi baper sendiri lho yaa, hehehehe.

Selamat menonton!

I Love My Life, Myself, with All the Flaws that Come with It

This morning, I woke up late. With the dress I wore all day yesterday, with the makeup stayed still on my face. I woke up for a while, changed my dress, cleansed my face, put some masker on, and went back to sleep. I skipped breakfast and lunch, and I had no idea how I could find a dinner with empty wallet and the rain dropped outside my windows.

So there I texted my best friends, looking for a company so that I no longer felt empty. One friend who tried to console me with his jokes, and another one who tried to figure out if there was anything he could do to deliver some foods to my doorstep. And just like that, I felt better.

I may lose many things in life, but I never lose my very best friends. And believe me, such a friend like them, is hard to find. Especially when it comes to me. I’m not an easy person to be with. I’m not always as kind and as wise as I write in this blog. I could totally relate when someone else told me, “I’m not surprised when people leave, I’m more surprised when they stay.”

There’s nobody happy for being left behind. And neither am I. It makes me feel unwanted. It makes me feel like I do have something wrong in me. But think again! My imperfection doesn’t necessarily mean that it is wrong for being me!

Yes, I’m a workaholic and it may never change. That’s only because I love how it has changed my life and how it has put a lot of smiles on my parents’ faces. Yet it doesn’t mean that I have no space to have a life aside from my career life!

Yes, I can be so annoying when I’m angry. I’ve tried so hard to deal with it but I guess it will always be a part of me. It will always be my imperfection. Yet it doesn’t mean that I’m a cruel evil! It’s not like I have an intention to hurt other people.

Yes, I can be so fancy sometimes. I’m a big fan of branded handbag, I don’t want to take picture with the same outfits twice, I can’t leave home without any makeup on my face. But seriously, does it all make me a bad person? Does it hurt anyone else if I do all these?

And yes, I’m a high maintenance person. I can’t stand too much heat, I hate too much walks, and I’m always craving for a comfort bed. After all hard works I’ve done, I really need to soothe myself. Yet it doesn’t mean that I’m not in for any adventure in life!

Finally, all I want to say is that I love my life, myself, with all the flaws that come with it. All I need to have is solely the people who is willing to be a part of it. I believe it’s true when Marilyn Monroe once said, “I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best.”

I Will Survive One More Time

Minggu kemarin, ceritanya gue balik lagi ke Phuket dan Bangkok, kali ini bareng teman-teman sekantor di Lazada. Phuket dan Bangkok; dua kota yang kalau diingat-ingat lagi, pernah jadi tempat pelarian gue beberapa tahun yang lalu.

Gue pergi ke Phuket enggak lama setelah patah hati terburuk yang pernah gue alami enam tahun yang lalu, dan gue pergi ke Bangkok saat hidup gue sedang mengalami begitu banyak ujian dalam begitu banyak hal sekaligus tiga tahun yang lalu.

And you know what? Last week’s trip was actually pretty much the same; I left Jakarta in a heartbreak.

Masalah pekerjaan yang semakin lama terasa semakin membebani pundak gue. Masalah cinta-cintaan yang masih saja patah hati lagi patah hati lagi. Dan masalah pribadi lainnya yang membuat gue mulai meragukan diri gue sendiri.

What do I do wrong? What makes me deserve this? Why is my very best effort never good enough for them? Why should the same thing keep happening to me over and over again? What should I do to make things right?

Saat kembali mengunjungi Patong Beach minggu lalu, gue duduk cukup lama dengan salah satu teman gue curhat soal kekecewaan gue soal patah hati yang seolah tidak pernah ada habisnya. Hal yang sama juga gue lakukan di pantai yang sama, dengan teman curhat yang berbeda, 6 tahun sebelumnya.

Kemudian saat menghabiskan malam terakhir di Bangkok beberapa hari yang lalu, di perjalanan kembali ke hotel, gue sibuk merenung soal beratnya tanggung jawab baru gue di Lazada. Renungan yang sama juga gue lakukan, di kota yang sama, saat gue baru saja menginjak tahun pertama di level manajerial, 3 tahun sebelumnya.

Sebetulnya gue mau bilang, gue pulang ke Jakarta dengan keadaan terinspirasi atau semacamnya, tapi sayangnya, tidak begitu kenyataannya. Gue pulang ke Jakarta dalam keadaan masih begitu-begitu saja. Masih bingung gue maunya apa, masih bingung harus bagaimana, dan masih enggak yakin apakah gue akan bisa survive melewati ujian yang sama untuk ke sekian kalinya.

I was still in doubt, until this morning; my first day back to work after my holiday.

Enggak ada hal luar biasa yang terjadi di kantor hari ini sebetulnya, hanya saja, percaya nggak percaya, sambutan dari teman-teman sekantor membuat gue merasa seperti pulang ke rumah. Nggak disangka-sangka, dalam satu hari yang penuh dengan agenda meeting ini, gue malah banyak menertawakan hal-hal yang sebetulnya bikin gue stres banget itu. Bahkan anehnya, bule-bule yang biasanya bikin gue sewot sendiri malah jadi orang-orang yang membuat gue merasa terhibur sepanjang hari ini.

Kemudian sekitar satu jam yang lalu, saat gue tinggal sendirian di kantor yang mulai sunyi dan gelap gulita, gue sempat flash back sebentar, dan gue sadar dengan sendirinya… I used to be in the same situations and I survived it all. If I could do it back then, what makes me think that I can’t do it now?

Di awal gue baru menjabat sebagai manager, Group GM di kantor sempat meragukan capability gue sebagai manager. GM yang sama yang 2 tahun kemudian menjadi orang yang paling menyayangkan kepergian gue dari perusahaan gue sebelumnya itu. Jika gue bisa melewati tahun pertama gue di kursi managerial meski tanpa dukungan yang memadai, kenapa sekarang gue tidak bisa melewati tahun pertama gue di kursi VP ini? Apalagi bedanya, di Lazada ini gue punya begitu banyak orang yang mendukung perjalanan karier gue!

Kemudian 6 tahun yang lalu itu, gue pernah patah hati sampai kerja tanpa kenal waktu. Gue ingat suatu malam 6 tahun yang lalu, sepulang kerja menjelang jam 3 pagi, jantung gue terasa nyeri. Energi gue seolah tersedot habis. Dari yang awalnya hendak pulang ke rumah, gue langsung minta diantar supir taksi menuju rumah sakit terdekat. Jika gue bisa move on dari patah hati yang sebegitu buruknya, kenapa sekarang gue tidak bisa? Apalagi bedanya, kali ini gue sudah mengusahakan sebanyak yang gue bisa. Gue yakin kali ini, gue tidak akan lagi tenggelam dalam pikiran, “What if I did it differently?”

After I wrote this here, I know that things will not be magically easier to me. It will still be challenging. It will still be painful. But at the end of the day, this too will pass. And somehow, I just know that I will survive one more time, won’t I?

Someone Who Changed My Life

A few weeks back, a guy from my past congratulated me for my recent promotion at work. He seemed impressed with my achievement. I only said thanks, but deep in my heart, I whispered, “Maybe, I wouldn’t make it this far if it was not because of you.”

So many years ago, my life was completely a boring one. I didn’t have any passion, dream, ambition, not either a simple purpose in life. I didn’t even understand what a true happiness felt like. My life was okay, but not wonderful. My life was very plain in so many ways, until I met him.

What makes him so special? Well, a very long time ago, he was the only person who believed in my potential even a lot more than I believed in myself. He said, I could be anything I wanted if only I tried hard enough to make it happen. And somehow, he made me believe in that!

So there I started to picture my own future. I pictured myself as a successful young woman with a pretty dress working in a high rise building (sounds stupid, I know 😉 ). She has a happy life, she travels the world, and she is surrounded by the people she loves. For the first time in my life, I had something to pursue. I had many good reasons to wake up in the morning, and I had a strong belief that someday I’d get there.

And then today, after so many years have passed me by, anytime I look back to my past, I still can’t believe how that insecure, lazy, and grumpy girl can live the life I live in now. It’s not a perfect one, not either an easy one, but it’s nearly everything I’ve always dreamed of. And most of the times I think, I might not be who I am today if it was not because of that boy I met so many years ago.

Last week, I was sitting in a blue taxi taking me to Grand Indonesia, just by myself. As I just said, my life is everything I’ve always dreamed of, except when it comes to love.  Then out of the blue, I thought of him, and it just hit me… he was actually the biggest loss I’ve ever had in life.

Back to the past, I was only a teenager when the first time I met him. So many things made me decide that he was not good enough for me. I mean, he and his tons of girlfriends! Could I ever trust him? So that I thought, I was still young, I would still meet a lot of new boys at school, college, and later at work!

Then what about my real life after that? Is it true that I would meet another boy in another chance?

It’s true that I met a lot of new guys after that one guy, but recently I just realized… none of those new guys treated me the way he did. I don’t know how deep their feelings to me, but one thing I know, there was nobody ever fought for me and wanted to be with me as much as he did. I rarely doubt my own decision, yet this time, I began to wonder, “What my life would be if I did it differently?”

Does it mean that I regret my decision? Well, I’m actually still a believer that everything happens for a reason. I don’t think this guy regrets the ending of our story since now he is happily married anyway. So no, I don’t think it’s something to regret. Yet if there is one thing I’ve learned, I simply learned that I should have given him a chance. I should have given myself a chance, not only back then, but also to the chances to come! At least even if it fails, I know that I have given my very best fight. Failure may haunt me for years, but a regret for never trying may haunt me for a lifetime!

However, regardless how it was ended between us, I’m still so grateful that I met him. And somehow I believe, each and everyone of us got one, didn’t we? We all had that someone who brought out the very best in us, the one who enhanced us, the one who made us a better us. And if everything happens for a reason, I believe he happened to become my wake-up call. He was not someone who was meant to be with me, but he was still someone who changed my life.

Finally, as I believe he has no regret on me, I really hope that someday I’ll prove myself that I also have nothing to regret on him. I hope that someday, I will meet someone that makes me realize that all those heartbreaks have finally made a perfect sense. A perfect sense that brings me to someone who is meant to be with me, forever and ever 🙂

Unconditional Happiness

Pernah dengar istilah unconditional love a.k.a cinta tanpa syarat? Kita harus bisa mencintai orang lain dengan tulus tanpa banyak syarat dia harus begini dan dia harus begitu. Nah, gue juga punya istilah ala gue sendiri: unconditional happiness a.k.a kebahagiaan tanpa syarat. Nggak perlu tunggu ini dan tunggu itu hanya untuk bisa ngerasa bahagia.

Dan hari ini, gue kembali membuktikan kalo gue benar bisa tetap hidup bahagia tanpa banyak syarat ini dan itu. Today, I could stay happy even though I didn’t get what I really want to have in this particular day: a Valentine date.

Sebelum gue teruskan, maaf banget ya, buat teman-teman yang tidak merayakan Valentine… I really really respect your point of view. Tapi menurut gue, kalaupun ada yang salah dari perayaan Valentine, yang salah itu prilaku orangnya, bukan event-nya. It’s debatable, I know… but please let us just agree to disagree, okay? 😉

Back to the blog… what makes me feel happy apart from just staying at home all alone all day long? It’s just those simple things in life!

Dimulai dengan nyobain restoran dim sum baru yang rasanya enak banget! Pesan antar pakai Klikeat!

Lalu nonton film dan serial TV kesukaan sambil duduk bersandar di atas tempat tidur, berselimut hangat diiringi suara rintik hujan…

Nulis satu lagi judul blog yang bikin gue bangga banget sama diri gue sendiri, hehehehe… Please pardon my narcissism, ok! 😉

Dapat satu lagi comment di blog yang bikin gue ngerasa senang dan puas dengan blog gue yang hanya ala kadarnya ini…

Dapat kiriman video lucu dari salah satu sahabat yang disertai caption, “Maybe this is the reason why your crush didn’t ask you out today, hahahaha.” And it really made me laugh outloud 😀

Kemudian bertukar comment agak-agak flirty di Path sama sahabat gue yang lainnya… Comment yang bikin gue berpikir, “It looks like I’m a flirting expert! Tapi giliran ngomong sama gebetan, gue speechless berat!”

Dan diakhiri dengan bikin tulisan tentang unconditional happiness ini yang udah bikin gue jadi senyum-senyum sendiri! 😉

See? I’m home alone today, but I’m not lonely at all. I would be very happy if I had a candle light dinner tonight or maybe just a casual lunch would do, but even without it all, I’m okay too. I want to be able to stay happy in all conditions in life, that’s why I mentioned this as an ‘unconditional happiness’, get it now? 🙂

At the end of the day, love is not only about your crush, boyfriend, fiance, or husband. I love my families, my friends, my career, my comfort home, my hobbies, my life! And I think, that’s Valentine is all about: a reminder on how grateful I am for being able to love this much!

So guys… merayakan atau tidak merayakan Valentine, gue sungguh berharap semoga hidup kita selalu dilingkupi kasih sayang dan kebahagiaan, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.

Have a lovely life, everyone! And please, be happy unconditionally! 🙂

No, I’m Not in a Rush

Ada salah satu teman lama yang senang sekali menanyakan kapan gue married. Beberapa bulan sekali, dia akan Whatsapp gue benar-benar hanya untuk menanyakan soal getting married. Awalnya tanya kabar, setelah itu, dia akan bilang begini, “Elo udah tua, udah mau kepala 3, kapan married?”

Well, agak tajam memang. Gue juga enggak ngerti kenapa dia senang sekali mengulang pertanyaan dan pernyataan yang sama sejak dia sendiri mulai berumah tangga beberapa tahun yang lalu. Tipe orang seperti inilah yang menurut gue sering membuat kaum jomblo jadi suka tertekan dan akhirnya memutuskan untuk menikah as soon as possible.

Lalu bagaimana dengan reaksi gue sendiri?

Menurut gue, yang paling rugi adalah diri gue sendiri jika gue sampai married terburu-buru hanya karena termakan omongan orang. Gue yang rugi, dan bukan mereka yang rajin menekan gue dengan pertanyaan kapan married itu.

Ya, memang benar usia gue akhir tahun ini akan menginjak 30 tahun. Konon katanya nanti akan semakin sulit untuk punya anak dan sebagainya. Semakin lama pasti akan semakin stres kedua ortu gue ngelihat gue yang masih belum married juga. Dua adik gue sudah menikah duluan, dan bisa jadi yang paling bungsu pun akan melangkahi gue seperti dua kakaknya itu. Dan memang pasti terjadi, semakin lama akan semakin banyak omongan tajam yang nanti mampir ke telinga gue.

Tapi tetap saja, semua itu bukan alasan untuk bersikap terburu-buru. Memilih pasangan hidup itu keputusan besar. Pilih sepatu dan tas baru saja gue lama mikirnya, apalagi pilih pasangan hidup!

Hampir 30 bukan berarti gue harus mulai menurunkan standar. Laki-laki yang baik, yang bisa jadi pemimpin untuk gue, yang gue yakini rasa cintanya untuk gue, yang gue yakini potensi dan masa depannya, tetap akan selalu jadi syarat utama. I will never ever settle less than I deserve.

Hampir 30 bukan berarti gue harus cepat-cepat menerima cowok mana saja yang datang mendekat. Jika nanti sudah jadian pun, bukan berarti harus langsung married satu tahun kemudian. Bahkan bisa jadi, belum tentu gue nanti akan married dengan cowok yang jadi pacar gue tahun ini! We both may need some times to be convinced.

Dan hampir 30 bukan berarti gue harus mengorbankan segala-galanya hanya demi menikah tahun ini juga. Tidak semua pasangan dimudahkan persiapannya. Mudah mendapatkan restunya. Dan lain sebagainya. If it takes a while to get there, then be it.

Setiap orang boleh saja punya pendapat yang berbeda-beda, dan gue hargai semua pilihan hidup yang dibuat oleh perempuan-perempuan lainnya. Jadi gue harap, orang lain juga bisa menghargai pilihan gue.

Yes, I’m almost 30, but no, I’m not in rush to get married anytime soon. Good things take times, and I will take my times. 

Find Someone Who Loves You Just the Way You Are

A few days ago, I had a long chat with one of my best friends about his problem with a girl he just knew. Long story short, apparently that new girl thought that my friend was too aggressive. It confused me. It’s not like he texted her many times in a day! In fact, he didn’t always text that girl everyday the entire week! I don’t think it’s too aggressive at all.

Having said that, deep in my heart, initially I wanted to suggest my friend to play cool. I personally find that he looks more attractive when he is calm and cool.

But then I realized… my friend actually deserves someone better than that girl. He deserves someone who embraces him just the way he is. If she can’t accept his effort to take care of her, then it was her loss, not his. I’ve known this guy for years by now, and I also know that the way he takes care of the people he loves is the very best quality in him. Why should he change it just because a girl came and said it was wrong for him to look after her?

So then I said to my friend, it was not his fault, it was just that girl didn’t share the same chemistry with him.

Many people somehow believe that we have to ‘market’ ourselves differently. Act like someone you’re not until you win your crush’s heart. It may have worked well for most cases, but to me, it just sounds so wrong. Find someone who loves you just the way you are, not the way you make them think you are.

Someone who genuinely loves you is someone who’s capable to see the good things in you. Knowing all your flaws doesn’t stop them from falling for you. They don’t see all the things you already have or the things that you don’t have just yet; they see you far beyond that. They have a strong belief that you’re capable to be more than you already are.

Don’t we all want to be with someone who loves us that much? If the answer is yes, then we will never find one unless we show them who we really are. Just be ouselves and let them decide if they want to take a part in our life or let us go.

Find someone who loves you just the way you are, and love them back, just the way they are.