Falling in Love is Not Supposed to Be Complicated

Ada beberapa kejadian di sekitar gue akhir-akhir ini yang membuat gue berpikiran, “Jatuh cinta itu seharusnya tidak perlu jadi rumit.” Banyak orang, termasuk diri gue sendiri, yang cenderung membuat keadaan jadi lebih rumit daripada yang seharusnya.

Ada orang yang saat jatuh cinta, malah pamer kemesraan dengan orang lain di depan orang yang mereka cintai itu. Mungkin maksudnya, untuk dipancing supaya cemburu. Tapi coba kalau kita berada di posisi yang sebaliknya, enak tidak rasanya?

Ada orang yang saat bertengkar dengan pasangannya selalu merasa pantang untuk menghubungi terlebih dulu. Pokoknya, harus dia duluan yang minta maaf! Ask this to yourself… which one is bigger? Your love… or your ego?

Ada orang yang saat jatuh cinta, bukannya menyampaikan secara langsung, bisanya hanya kasih-kasih kode yang tidak terlalu jelas apa maksudnya dan ditujukan untuk siapa. Ujung-ujungnya? Pesan belum tentu sampai dan bisa jadi malah membuat si gebetan jadi salah sangka.

Ada orang yang suka mengetes ini-itu kepada pasangannya sendiri. Katanya sih, kepingin menguji seberapa besar rasa cinta pasangannya itu. Saat si pasangan tidak bereaksi sesuai harapan, akhirnya malah bertengkar yang tidak perlu.

Lalu yang paling sering terjadi, banyak orang yang tidak mau mengakui perasaannya sendiri. Pura-pura hanya teman saja, pura-pura sudah move on, pura-pura sedang suka dengan satu orang lainnya… Tapi toh ketika akhirnya si mantan malah bersanding dengan orang lain, tetap saja kita sendiri juga yang paling patah hatinya.

Jika memang jatuh cinta, ya diupayakan saja! Tidak usah menahan diri untuk memberikan perhatian, untuk mengistimewakan, bahkan untuk menyatakan isi hati kita itu. Biarlah drama hanya menjadi tontonan di layar kaca, tidak perlu ikut jadi bagian dalam hidup kita sendiri. Dan sebetulnya, buat apa sih capek-capek mengetes pasangan? Tanpa perlu dibuat-buat, nantinya toh akan selalu ada ujian sesungguhnya dalam hidup kita ini! Tidak perlu buang energi untuk konflik yang tidak perlu.

Akhir-akhir ini, gue sering berpikiran, “I wish I could turn back the time!”

But well… it’s been too late anyway. Yang gue bisa lakukan, mulai sekarang dan seterusnya, tidak perlu lagi membuat jatuh cinta yang (seharusnya) indah menjadi luar biasa sulit dan penuh dengan drama.

Let yourself fall, and be happy with it.

Selamat bermalam minggu!

Kenapa Bad Boy (Tidak Lagi) Tampak Menarik?

Waktu masih lebih muda dulu (ngucapin kalimat ini bikin gue ngerasa tua, hehehe), gue sering beranggapan bad boy atau playboy atau player itu menarik. Kenapa? Karena mereka pintar mencuri hati perempuan, mulutnya manis, banyak akalnya, dan terasa menantang jika akhirnya gue bisa menaklukan mereka.

TAPI, lain dulu lain sekarang. Bad boy sudah tidak lagi tampak menarik di mata gue. Kenapa demikian? Berikut ini daftar alasan dari diri gue sendiri.

  1. Mulut mereka memang manis, tapi manisnya bukan sama gue saja. Jadi nggak berasa istimewa!
  2. Jokes ala bad boy sudah tidak lagi terdengar lucu di telinga gue. Saat lihat pria-pria beristri bikin lelucon seperti itu, gue malah sebal melihatnya! Gue berpikiran, “Gimana perasaan istrinya ya?”
  3. Mereka pintar menghadapi perempuan? Tentu saja! ‘Jam terbangnya’ sudah tinggi! Bayangan bahwa gue hanya cewek ke sekian buat dia bikin gue ngerasa rugi, hehehehe;
  4. Gue malas ‘bersaing’ dengan begitu banyak cewek dari masa lalunya;
  5. Karakter tidak mudah untuk diubah. Sekarang bisa berubah, tapi saat nanti keadaan sudah mulai menjadi sulit, kemungkinan untuk kembali ke old habit tidak akan pernah hilang seutuhnya;
  6. Gue enggak mau menghabiskan seumur hidup gue mengkhawatirkan kesetiaan dia. Cuma bikin hidup jadi nggak tenang!
  7. Bad boy itu banyak tantangannya? Oh, come on! Hidup itu sendiri sudah banyak rintangannya! Cowok yang gue yakini bisa setia mendampingi melewati masa-masa sulit itu tampak jauh lebih menarik untuk gue saat ini;
  8. Gue ingin mendapatkan pasangan yang bisa membuat gue jadi lebih baik daripada sebelumnya, bukan sebaliknya;
  9. What if someday his karma pays him back?
  10. Dalam Islam, perempuan baik-baik untuk pria baik-baik. Period.

Ada obrolan dengan seorang sahabat lama yang membuat gue menyadari hal ini. Setelah dewasa, gue justru semakin menghargai pentingnya kesetiaan, loyalitas, dan komitmen. Kebutuhan akan rasa aman nyatanya tumbuh lebih kuat daripada sekedar euforia belaka.

Gue menyukai saat menyadari gue ini istimewa untuk seseorang lainnya. Gue tidak lagi tersanjung dan tersipu-sipu hanya karena seseorang dengan mudahnya bilang, “You look pretty today.” Every girl looks pretty to him today anyway.

Gue menyukai saat tahu perhatian yang dia tunjukan (dalam bentuk perbuatan!) hanya dia berikan untuk gue saja.

Gue menyukai rasa tenang bahwa dia bukan tipe orang yang senang tebar pesona ke mana-mana.

When I’m in love, he’s the center of my attention, and there’s nothing better than having the same attention from the one whom I really love.

Pesan gue untuk bad boy?

You guys are too getting older! Don’t wait for someone to come and change you! Just change yourself so that you deserve her; a fine girl, a good one, to stay with you for the rest of your life.

Girls’ Deepest Secrets

Banyak teman cowok yang bilang ke gue, cewek itu ribet. Padahal sebetulnya, pola pikir cewek pada umumnya itu sangat mudah untuk ditebak. Kenapa? Karena pada umumnya, cewek itu pola pikirnya sederhana: kami mempercayai apa yang kita lihat serta apa yang kita dengar. Ada beberapa cewek yang lebih cuek atau sebaliknya, lebih analitis daripada cewek pada umumnya, tapi tetap saja, ujung-ujungnya cewek itu hanya menafsirkan apa yang terlihat mata serta apa yang didengar telinga.

Berikut ini contoh penafsiran di benak perempuan atas prilaku-prilaku orang yang kita sukai.  Mungkin, teori gue ini tidak 100% benar, tapi setidaknya, apa yang gue tulis ini adalah murni isi pemikiran gue sendiri yang kebetulan juga sama persis dengan cewek-cewek lain yang gue kenal.

11

Apa kesamaan dari semua hal yang gue sebutkan di atas? Kesamaannya adalah: cewek cenderung lebih menurunkan harapan dan ekspektasinya. Kita lebih memilih untuk melihat the worst scenario-nya. Kalau pun di awal kita masih sok-sok mencoba berpikiran positif, jika prilaku yang sama terus berulang beberapa kali setelahnya, maka kita akan mulai berhenti menghibur diri dan lebih memilih untuk move on saja. Kenapa demikian? Supaya kita tidak kecewa dan patah hati semakin dalam!

Gue tahu bahwa kadang-kadang, cowok punya alasannya tersendiri, tapi kalian juga harus hati-hati! Bisa-bisa malah salah strategi yang hanya akan menjauhkan kita dari kalian (kecuali jika memang itu yang kalian inginkan). Karena seberani-beraninya perempuan, kita cenderung lebih penakut untuk urusan cinta-cintaan. Tidak aneh jika cukup banyak cewek yang saat harus memilih di antara dua cowok, mereka akan memilih cowok yang terlihat lebih jelas atau lebih serius menunjukkan rasa cintanya.

Nah, masihkah kalian berpikiran kalo cewek itu ribet jalan pikirannya?

The Relationship Goals

Until just a little while ago, I used to wonder what I did so wrong that my past relationships never lasted long or even never happened in the first place.

Is it something that I said?

Should I be more obvious on the way I felt about him?

Should I be nicer, less moody, more patient, more like many other girls that I know? Really? Should I really be so much less of myself?

Or maybe, I shouldn’t do this and that to keep him around, should I?

But then lately I realized… They; all those guys from the past, just didn’t feel the same way like I used to feel about them. Because if they did really care about me, then they would never give up on me. They, together with myself, would always try to find a way to make it work between the two of us.

If both of us really wanted to make it happen, then no matter how many mistakes we had done to each other, we’d always try to forgive each other. If there was any doubt, insecurity, and confusion between us, we would ask and talk like an adult. And if we really loved each other, as much as we tried to bring out the best of each other, at the end of the day, we would still accept each other just the way we were.

It takes two to tango; a relationship can’t work if both of us don’t do the work. I couldn’t be perfect, he couldn’t be perfect, yet we should always try to live with that anyway.

Don’t blame yourself way too hard if someone you love does not love you as much as you love them. Don’t feel too much less than who you are, don’t feel worthless, don’t feel like all mistakes are on you. Love yourself enough to move on, or maybe, to fight for it – properly – just one more time.

Whatever it is, always do remember: when two people really care about each other, they – both of them! – will always find a way to make it work. No matter how hard it is. Period.

I’m Beyond Blessed!

Setelah menghabiskan 6 malam di kota Hangzhou (I’ll write more about that later), akhirnya gue kesampaian menginjakan kaki di kota Guilin, China. Rencananya, besok gue akan mengunjungi Li river yang terkenal indah itu!

Sesampainya di Guilin, seperti biasa, gue langsung norak foto-foto ruangan kamar gue. Gue udah bayar sedikit lebih mahal buat dapetin kamar dengan balcony dan juga kamar mandi menghadap ke sungai, rugi banget kalo enggak didokumentasikan. Sesuai prinsip auditor pada umumnya; not documented not done, hehehehe.

Selesai foto-foto, gue langsung retouch dan naik ke sky garden buat early dinner. Udah hampir jam 6 sore tapi gue baru sempat makan besar! Tadi pagi gue sibuk hunting foto di Hangzhou, lanjut meeting sebentar di kantor Alibaba (plus sempat-sempatnya belanja oleh-oleh di office complex-nya Alibaba), lalu setelah itu terjebak macet 2 jam di perjalanan menuju airport. Untunglah pesawat gue delay, jadi sempat makan cheesecake dulu di restaurant kecil di dalam bandara.

Begitu naik ke sky garden hotel gue di Guilin ini, gue langsung terpukau! View-nya malah lebih bagus daripada teras kamar gue itu. Sungainya, pepohonannya, ditambah suara jangkriknya!

Setelah puas ambil banyak foto pemandangan, gue pesan makan. Ini agak tricky secara sangat susah cari makanan halal di Cina ini, jadi sudahlah, gue pesan cream soup dan garlic bread saja. Sambil menunggu, gue sempat-sempatnya minta tolong mbak penjaga restoran buat ambilin foto gue! 😀 Dan si mbak ini niat banget lho bantuin fotonya. Dia foto gue dari berbagai angle yang dia anggap bagus. I like it!

Saat makanan datang, tentu makanannya gue foto dulu. Setelah itu langsung gue makan, dan nggak disangka-sangka, rasa supnya enak banget! Garlic bread-nya juga gurih dan terasa pas menyatu dengan cream soup-nya. Sambil makan, pandangan mata gue tidak bisa lepas dari pemandangan di depan sana. Hembusan angin, suara alam sekitar, dan rakit bambu yang melintas di sungai di bawah sana membuat acara makan malam gue jadi terasa sangat berbeda. Saat itulah, dalam hati gue berpikiran, “I am beyond blessed! This is exactly the life I’ve been dreaming of.”

7I’ve been spending a lovely week this week. Mengunjungi tempat baru, ketemu orang-orang baru, tinggal di dua hotel yang sangat fotogenik! Memang capek karena jadwal kerja di sini padat banget, tapi toh, gue masih sempat menghabiskan akhir pekan untuk acara jalan-jalan. What can be better than such a job like this? 😉

Emang sih, hidup gue ini banyak banget rintangannya. Tanggung jawab besar, tekanan besar, stres dan deadline yang tidak pernah ada habisnya… Belum lagi permasalahan pribadi yang terkadang membuat gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Did I do something wrong?” Memang tidak mudah menjalani keseharian gue, tapi, rasanya betul-betul menyenangkan! Ibaratnya prinsip investasi, higher risk, higher return, hehehehe 😉

Di saat hati gue sedang terasa luar biasa damainya, eeh, tiba-tiba di depan gue ada orang asyik pacaran! Si cowok sibuk mengambil gambar pasangannya, pakai kamera SLR, dan si cewek sibuk berpose secantik-cantiknya. Mereka kelihatan serasi, dan gue betulan ngerasa iri! Duh duh duh, manusia emang nggak pernah ada puasnya :p Sambil senyum-senyum sendiri melihat sepasang muda-mudi itu, dalam diam gue berbisik sama diri gue sendiri, “Someday, I’ll have my turn too.”

Sometimes, all that you really need is simply a break. Away from your own everyday life. Meet the strangers, get lost in some new places, have some times alone just to figure out the next big thing in life. When you finally find your peace in your getaway, you’ll eventually realize how grateful you are with the life you’ve been living in. At least, that’s exactly what I feel right in this moment.

Thank God for this decent life! Again, I’m beyond blessed! 🙂

This Too Will Pass

One month ago, all of sudden, my life turned upside down. I started to see that I had lost the battle I had been fighting for a while. I thought things would get better anytime soon, but apparently, the past one week was even worse!

In the past one month, I looked at the mirror and I really hated the reflection I saw. I hated the way I looked with all that grief on my face. I lost that sparkle in my eyes, and that genuine smile right on my lips. I lost my hopes; I lost a good reason to wake up and jump off my bed early in the morning. I lost my belief that someday I’d finally get there.

After long months wasted on putting my hopes way too high, I suddenly realized that some things just never meant to be. I woke up from my long sleep and I told myself, “I’ve tried my very best and things doesn’t seem to change. I should love myself and walk away! Enough is enough, and I deserve so much better than this.”

So there I was a lot more determined than I ever did, I pushed myself so hard to let it go. I faked a lot of smiles but deep inside, I felt defeated, unwanted, disappointed and all horrible feelings that could happen to you when your heart was broken. I felt empty and I still couldn’t believe how I’d been wrong about all this. I was freaking tired and I really really wanted to run away.

And there I came to yesterday; another Friday in my life. I actually had some exciting stuffs to look forward to, but somehow, I was hardly excited about anything. I was consumed by my problems and all that I could think of was just wondering what I did so wrong back in the past. I kept feeling sorry for myself, until yesterday night.

I had a lovely night with my colleagues yesterday. Started with a dinner served at the office and had a good laugh, we went to a movie followed by another dinner and another good laugh. And then today, I went to a broadway show with an old friend of mine and ended the night with a sleepover with my sister and her son. My nephew came to pick me up in a restaurant, he smiled and he hugged my waist. And just like that, I knew that I would be just fine. I realized that apart from this heartbreak, I do have a lot of lovely days and nights in my entire life.

I have my families who are always there to support my back. A nephew who never ceases to amaze me. Best friends who never get bored to listen to my similar problems over and over again. Colleagues who end up as a couple of good friends. And on top of all that, I’ve turned myself to a grown-up that I always dreamed of.

I’m living my own dream and I always have those people who accept me just the way I am. How can I ask for more?

It’s true that I didn’t get the one that I really wanted, but I believe, that’s only because it was not the one that I really need. And it’s also true that I’d never get there, but someday, I’ll get somewhere else that I belong. It might take some times, but my wound would heal and I would eventually find my happy ending.

Enough about this problem and now I really look forward to my upcoming China trip! I’m going to visit Alibaba office in Hangzhou and then I’m flying to Guilin over the next weekend! I also met someone from Alipay China who offered to take me to West Lake sometime next week! Another exciting week is about to come! I’ll try to make the most of my trip and I hope, I’ll get over my problem anytime soon!

See? It’s not that bad! I only need to believe that this too, will pass.

Wish you too a wonderful weekend!

The Right Person Will Come Along

Bertahun-tahun yang lalu, gue sempat dekat dengan satu cowok yang terkenal sangat sangat mencintai dirinya sendiri. Tipe cowok yang sangat menikmati kesendiriannya, fokus dengan diri sendiri, hidup, dan masa depannya. Saat akhirnya dia memutuskan untuk pergi, gue menghibur diri sendiri dengan berpikiran, “It’s not me, it’s him. Cowok kayak dia emang nggak akan pernah bisa berkomitmen dengan siapapun.”

Lalu apa yang terjadi? Beberapa tahun kemudian, ternyata malah dia yang married duluan! Beberapa bulan sebelum hari pernikahannya, gue sempat BBM-an agak lama sama dia, membahas soal gue yang masih santai-santai saja hidup sendirian. Saat itu, nggak disangka-sangka, cowok ini malah bilang begini, “Elo cuma belum nemuin cowok yang tepat aja. Dulu juga gue enggak kebayang kepengen married dan berkeluarga, sampe akhirnya gue ketemu tunangan gue.”

Waktu itu, rasanya seperti disambar petir. Buat gue, itu sama saja dia bilang bahwa masalahnya sederhana saja: gue bukanlah cewek yang tepat buat dia. Tidak dulu, tidak sekarang, tidak pula selamanya.

Meski demikian, gue tidak lantas berpikiran bahwa ada yang salah dalam diri gue ini. Saat itu gue justru belajar bahwa pasangan yang tepat adalah pasangan yang dapat menerima gue dengan segala kekurangan dan yang tidak kalah penting, dengan segala kelebihan gue juga. Dan sekali lagi, masalahnya hanya lah, apa yang gue punya bukanlah apa yang dia cari untuk hidupnya sendiri.

Pria yang tepat tidak akan menganggap gue terlalu cerewet, terlalu judes, terlalu serius, terlalu banyak mikir, dan lain sebagainya. Dia akan bisa melihat bahwa segala kekurangan gue itu sudah jadi satu paket dengan segala kelebihan yang kemudian membentuk kepribadian gue ini.

Pria yang tepat juga tidak akan menganggap gue terlalu kurus, terlalu tinggi, dan lain sebagainya. Dia hanya akan melihat hal-hal yang dia sukai dari diri gue ini. He will look at me as if I am the prettiest girl on earth.

Pria yang tepat tidak akan melihat sederetan cita-cita dan ambisi gue sebagai suatu masalah besar. Dia akan bisa mengerti bahwa karier dan sederet wish lists gue itu adalah hal-hal yang telah sangat membahagian gue, dan dia tidak akan berkeinginan untuk mengambil kebahagiaan itu dari masa depan gue.

Yang terakhir, pria yang tepat tidak akan melihat pencapaian hidup gue sebagai suatu ancaman. Dia akan memiliki kebesaran hati bukan hanya untuk menerima kelebihan gue tersebut, tetapi juga untuk mampu menjadi pendukung terbaik dalam perjalanan karier gue ke depannya.

Pria yang tidak bisa menerima semua itu bukan berarti pria paling payah sejagad raya, dia hanya bukan pria yang tepat buat gue, dan gue juga bukan wanita yang tepat untuk hidupnya. Seringkali, kita hanya harus bisa menerima kenyataan bahwa memang tidak semua orang dapat menjadi pasangan yang tepat untuk satu sama lainnya.

I’m still a believer that someday, the right person will come along. The one who celebrates me, the one who really wants to be a part of my future, the one who never let me feel anything less than who I am. Someday I’ll find him, and I’m on my way.

 

 

Stop Taking People for Granted!

Seringkali, gue merasa sedih saat melihat realita di depan mata. Kita – termasuk diri gue sendiri – seringkali taking others for granted. Memperlakukan mereka secara semena-mena, tidak menghargai mereka sebagaimana mestinya, dan ironisnya, seringkali kita melakukan hal tersebut justru kepada orang-orang terdekat kita. Kepada orang-orang yang tulus menyayangi dan selalu ada buat kita.

Contohnya anggota keluarga. Kita paling sering berkata seenaknya kepada mereka. Meluapkan apa saja yang ada di dalam perasaan. Kita bisa bersikap lebih sopan kepada orang asing ketimbang anggota keluarga kita sendiri. Kenapa demikian? Karena kita tahu, keluarga akan tetap jadi keluarga. Mereka akan selalu menerima kita dengan segala keburukan dalam diri kita ini. Kita malah dengan enteng berpikiran, “Toh mereka sudah terbiasa dengan kelakuan gue!”

Tanpa kita sadari, hal yang sama juga kita lakukan dalam lingkungan pergaulan. Kita lebih mementingkan teman-teman yang kelihatan lebih keren. Lebih asyik. Lebih kaya raya. Dan lain sebagainya. Teman-teman yang selalu ada dalam suka dan duka justru jadi prioritas selanjutnya. Teman-teman yang menyediakan bahunya untuk tangisan kita justru teman-teman yang kita lupakan saat kita tertawa bahagia.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam dunia kerja. Menggaji karyawan seenaknya. Memperlakukan mereka bukan berdasarkan kontribusi, tapi malah berdasarkan rasa suka tidak suka yang sifatnya sangat subjektif. Mengkambinghitamkan tim yang tidak bersalah hanya demi keuntungan pribadi. Dan masih banyak lagi hal-hal buruk lainnya.

Kemudian yang terakhir, dalam hal percintaan. Terkadang, kita merasa bisa memperlakukan mereka sesuka suasana hati karena kita tahu mereka tidak akan ke mana-mana. Kita merasa boleh datang dan pergi sesuka hati karena toh mereka akan selalu bersedia menerima kita kembali. Kita seolah lupa bahwa jika kita tidak bisa balas mencintai, maka dilepaskan saja. Biarkan mereka mendapatkan orang lain yang bisa mencintai mereka sama besarnya.

Cintailah orang lain sebagaimana mestinya.

Jangan biarkan anggota keluarga kita menyayangi kita hanya karena terpaksa; hanya karena mereka tidak punya pilihan lain selain menerima kita sebagai bagian dari keluarga.

Jangan pula biarkan teman-teman terbaik kita perlahan pergi dari hidup kita ini. Memangnya kita pikir kita ini siapa? Lama-lama mereka juga akan gerah jika kita hanya datang saat ada maunya.

Kita juga harus belajar berlaku adil kepada rekan kerja. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawabnya. Jangan hanya mau terima gajinya saja!

Yang terakhir, hargailah orang lain yang mencintai kita dengan setulus hatinya. Jika ingin menolak, lakukan dengan penuh perasaan. Jangan malah jadi congkak! Dan bagaimanapun, menolak tetap jauh lebih baik daripada menggantung tanpa ada keputusan.

Kenapa di awal gue bilang gue merasa sedih melihat realita ini? Karena sebetulnya, memperlakukan orang lain secara semena-mena justru menjauhkan diri kita sendiri dari kebahagiaan. Kita menjauhkan diri dari orang yang paling mampu menerima kita apa adanya. Kita menjauhkan diri dari orang-orang yang kemungkinan besar, paling mampu membuat kita bahagia.

Stop taking people for granted, let’s start from the closest ones. Let’s start from saying sorry for all the pain that we put them through. Let’s start to treat them right! And always remember, what comes around goes around.

Have a lovely week ahead!

 

 

Do We Need a Reason Just to Fall in Love?

Sampai pertengahan tahun lalu, gue masih berpendapat bahwa pasti lah ada alasan kenapa kita bisa jatuh cinta dengan seseorang. Lucu, atraktif, bikin gue ngerasa nyaman, bisa gue jadikan panutan, dan lain sebagainya. Jaman ABG dulu malah lebih parah! Bisa-bisanya dulu gue menjadikan cowok yang ganteng dan jago main gitar sebagai kriteria cowok idaman! Padahal katanya, cinta sejati itu tidak perlu alasan. Konsep yang sempat gue anggap aneh, sampai akhirnya gue bisa mengerti dengan sendirinya.

Kenyataannya, cinta sejati memang tidak selalu perlu alasan. We met someone and we fall in love. That’s all. Tidak selalu ada penjelasan logis, tidak selalu mudah untuk diuraikan dengan kata-kata. I simply feel what my heart wants to feel.

Gue bilang begini bukan berarti gue udah enggak tertarik lagi sama cowok ganteng lho ya. Tapi, kalo emang gue udah terlanjur cinta sama dia, di saat dia sedang gendut-gendutnya dan potongan rambutnya sedang kelihatan aneh pun, gue tetep suka sama dia anyway.

Bukan pula berarti gue tidak lagi tertarik dengan cowok pintar, terutama karena gue masih beranggapan cowok pintar itu kelihatan lebih menarik. Tapi sepintar-pintarnya seseorang, tetap ada satu atau banyak hal yang lebih gue kuasai (secara gue juga bukan cewek yang mediocre buat urusan akademis dan karier 😉 ). Tapi toh bukan berarti perasaan gue ke dia lantas berkurang hanya karena dia tidak menguasai hal-hal yang sudah menjadi keahlian gue!

Kemudian soal kebaikan hati. Gue tetap nggak suka sama cowok nggak berperasaan atau cowok yang terlalu nakal, tapi bukan berarti gue cinta sama dia semata-mata karena dia cowok baik hati yang penuh perhatian. Karena kenyataannya, di saat mood dia sedang jelek, tingkahnya menyebalkan dan mendadak cuek setengah mati pun, perasaan gue tetap tidak lantas hilang dengan sendirinya.

Yang terakhir soal lucu dan rasa nyaman. Ada kalanya dia bikin gue tertawa bahkan sampai senyum-senyum sendiri sampai agak lama setelah itu, tapi ada kalanya pula kita hanya duduk diam bingung mau ngobrol apa. Kenyataannya, orang yang paling gue suka pun, tidak selalu bisa membuat gue tertawa dan tidak pula selalu bisa memberikan rasa nyaman (terutama kalau keadaan memang sedang tidak menyenangkan). Tapi toh sekali lagi, hal itu tidak lantas mengurangi perasaan gue untuk dia!

Pada titik itulah gue menyadari, cinta yang sejati itu memang benar cinta yang tanpa ada alasan pasti. Cinta yang sejati adalah cinta sampai pada hal yang sangat kecil sekecil-kecilnya.

Mulai dari sekedar suka sama suara, senyum, dan cara dia ngelihat gue.

Suka sama muka ngantuknya di pagi hari atau rambutnya yang masih terlihat basah dan acak-acakan.

Suka sama cara-cara ala dia untuk bikin gue ketawa dan hal-hal kecil yang dia lakukan untuk bikin gue ngerasa istimewa.

Pokoknya, saat gue beneran jatuh cinta, gue cuma ngelihat dia dan diam-diam gue berbisik dalam hati, “How I really love this guy!”

It takes time until you meet someone who makes you feel like this. And it takes more time for you to fight and make it happen. It may work, or it may not work; but who knows?

Regardless the ending, that kind of feeling is somethig rare and you should be grateful for that! That kind of feeling that gives you your kind of fairytale. That kind of feeling that makes your life worth living. And that kind of feeling that finally makes you understand that you don’t need a reason just to fall for him. You love him, and that’s all that you can explain.

When I Fall in Love…

When I fall in love, I will do the things I don’t usually do. Sometimes, it’s so stupid and childish, but did you know? I like myself when I fall in love.

When I fall in love, I will think of him everytime I dress up and look myself in the mirror. His opinion if I look pretty is the only opinion that matters.

When I fall in love, I can be such a coward sometimes. I can ask everyone if they want to join me to a movie but him. Tell me to make the first move, my hands will be cold just in a second!

When I fall in love, the smile and laugh because of him will last longer. I just can’t help myself to smile alone just because I still have his jokes deep in my mind.

When I fall in love, I will be his number one social media fan. I may not read his posts in the same minute he posts, but there is nothing I will miss.

When I fall in love, I can be so patient and so forgiving. People may say that I’m stupid, but I would say that when you love someone, you love him with all his flaws.

And finally, when I really really fall in love, I don’t need a bunch of reasons just to fall for him. I just look at him and I tell myself, “Oh, I really love this guy!”

I don’t fall in love easily, but when I do, I mean it with all my heart.