I’m 27 and Single, but I’m Not Worried

Sampai beberapa bulan yang lalu, gue paling sebal tiap kali ada orang lain yang bertanya, “Kapan married?” Jika yang bertanya adalah teman yang sudah merit, dalam hati gue berpikir, “Jadi elo pikir gue ngiri sama elo gitu?” Kemudian jika yang bertanya itu sendirinya juga belum merit, gue berpikiran, “I’m not yet married but I’m not a desperate single like you.”

Sounds harsh? Yes indeed… Gue sampe pernah menulis blog yang satu ini.

Satu bulan yang lalu, pada saat soft-skill training di kantor, ada satu quote keren yang diucapkan oleh trainer-nya. “Bukan perkataan orang lain, dan bukan tindakan orang lain yang menyakiti perasaan kita, melainkan diri kita sendiri.”

Dari situ gue belajar… Bisa jadi, orang lain tidak berniat menyakiti perasaan gue, tapi cara gue yang menanggapinya dengan penuh emosi lah yang kemudian menyakiti perasaan gue sendiri. Dalam tingkatan yang lebih tinggi, sebetulnya kita itu bisa lho, tidak ambil pusing omongan orang yang memang berniat menyakiti kita. Jika kita tidak ambil hati, maka kita tidak akan sakit hati!

Kebenaran dari teori itu sangat gue rasakan manfaatnya di hari ulang tahun gue yang ke 27 yang baru saja berlalu itu. Biasanya, gue paling sebal dengan ucapan “semoga cepat ketemu jodoh” yang diucapkan teman dan keluarga. Who says that finally getting married is my biggest wish? Bener-bener tipe birthday wish yang sedikit ngerusak kebahagiaan di hari ultah gue banget deh. Tapi ternyata tahun ini, ucapan yang sama tidak lagi membuat gue ngerasa jengkel. Sekarang gue hanya menanggapinya dengan pemikiran, “Ah… itu kan memang standard wishes-nya orang Indonesia!”

Gue tahu tetap ada orang-orang di luar sana yang sengaja menjadikan masalah jodoh sebagai alat untuk membuat gue ngerasa incomplete, tapi kalo dipikir lagi… why should I let a douche bag ruin my good day? Stay calm and enjoy my life is the best revenge for them after all 😀 Malah sebetulnya gue tersanjung… kalo ada orang yang sampe sebegitu ngototnya berusaha cari celah buat bikin gue unhappy, pastilah di mata mereka, hidup gue ini udah awesome banget, hehehehe. Jadi bener deh… pola pikir seperti ini udah bikin hidup gue terasa lebih damai daripada sebelumnya.

Finally… frankly, the thing is… I just never find a married couple which makes me want to be married like them.

Saat lihat ada teman yang ambil S2 di luar negeri, gue akui gue ngerasa iri. Gue juga pengen kuliah di kampus ternama di luar negeri.

Saat lihat teman yang berfoto di depan Eiffel, gue jadi nggak sabar pengen cepet-cepet pergi ke Paris, Venice, Roma, dan Santorini.

Saat baca sederetan tweet-nya Raditya Dika, gue jadi kepingin bisa nerbitin buku yang disukai oleh banyak orang seperti dia.

Dan saat berkumpul di tengah orang-orang yang sudah berada di puncak karier-nya, gue selalu bertekad di dalam hati, “Kelak… gue juga harus bisa seperti mereka!”

But honestly… I just never feel the same way about marriage. I still have so many wishes, and at least until today, marriage is not yet any of them.

Melebihi tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun kali ini bikin gue sangat-sangat mensyukuri perjalanan hidup gue selama 27 tahun ini. Gue bersyukur dengan mimpi-mimpi yang mulai tercapai satu per satu. Bersyukur karena gue tidak pernah menyerah untuk mengejar impian. Bersyukur karena gue sudah tumbuh dewasa menjadi pribadi yang gue inginkan. Bersyukur karena gue tidak pernah lelah berusaha untuk memperbaiki diri gue sendiri. Bersyukur untuk teman dan sahabat yang gue punya. Dan bersyukur gue selalu bisa bertahan pada apapun yang terjadi dalam hidup gue, dan bersyukur karena pada akhirnya… gue selalu bisa menemukan kebahagiaan di tengah ketidaksempurnaan.

I’m 27 and I’m still single… but I am okay with that, and I am not worried about it, at all. I’m so blessed and I can’t be more grateful for all I have.

Happy birthday to me! 🙂

You May Want to Write This to Your Ex

Dear Ex;

As much as you may feel deep inside your heart, once or twice in my life, I do still miss you. I still remember you when I hear our song, when I watch your favorite movie, when I dine in our memorable restaurant, and I still put a smile on my face everytime I remember the day where we first met.

My heart still feels warm everytime I remember every little thing you ever did to me. I still laugh a little bit everytime I remember the best jokes you ever told to me. Then sometimes when I miss you, I reread our old conversation and smile alone like an idiot.

However Ex… it doesn’t mean that I want you back. I know that I still write about you sometimes, but it doesn’t mean that I want you back. If I write about you, it’s solely to share the lesson I’ve learned from that broken ship.

Moving on from you was one of the hardest things I’ve ever had to do in my entire life. So please, Ex… don’t text me just because you feel lonely. Don’t call me just because you don’t have anyone else to share your life with. And don’t go knocking on my door everytime your life is falling apart.

A few years back, you were the last one to know how deep I fell for you. Hence I guess that right now, you are still the last one to know that everytime you come by, I put my hopes up. But now you know, Ex… you know that my hopes will never happen.  I will never ever have my happy ending with you. Just so you know… you will only break my heart one more time.

Ex… please just let go and forget me so. Don’t compare me with that one girl who’s holding hands with you right know. She may not have something which I used to have, but always do remember… she has that one big thing I never had. She has that one big thing which made you chose her over me.

There may be some times in my future days where I still talk about you. The moments we shared together were too priceless to forget. So please… let me keep those sweet memories and don’t ruin this by being a jerk who come and go everytime you want to.

Finally, Ex… always put in your mind that you were the one who walked out of my life. You were the one who refused to fight for me harder than you did. So everytime you want me back, just remember your past reason to let me go. Always tell this to yourself… I was the girl that you no longer wanted.

 

Regards;

 

 

Your past

Stop Budaya Bertanya, “Kapan Married?”

Awalnya, malam ini gue lagi asyik nerusin report yang udah lama gue tunda… sampai tiba-tiba, notifikasi Facebook gue berbunyi pelan. Begitu gue berganti layar ke halaman Facebook, ternyata ada comment baru dari temannya teman gue soal status yang intinya berisi sebuah curhatan rasa kesal karena lebaran selalu identik dengan pertanyaan: “Kapan married?”

Sama seperti kaum jomblo pada umumnya, gue juga paling males kalo ditanya kapan merit. Alasan gue:

  1. Kata siapa gue pengen buru-buru merit? Someday I want to, but it’s not my biggest wish right know. Daripada sok tahu mendoakan supaya gue cepet-cepet nyusul 2 adek gue yang udah pada merit itu, mendingan ya mbok doain supaya beasiswa S2 gue tembus gitu… kan ceritanya supaya itu doa tepat sasaran, hehehehe;
  2. Sebagian besar orang yang nanya kapan merit itu adalah orang-orang yang dulunya, saat mereka masih single, mereka juga paling bete kalo ditanyain, “Kapan married?” Kalo pun mau bales dendam, ya bales dendamnya jangan sama gue atuh… Kan yang dulu suka iseng tanya-tanya kapan merit sama mereka itu bukan gue orangnya…
  3. Gue enggak suka dikasihani hanya karena gue belum merit… terutama kalo dikasihaninya sama orang-orang yang sorry to say… pernikahan mereka sendiri gue tau banget penuh dengan derita dan air mata. Is it a kind of invitation to join your ‘misery club’? Kalo berurusan sama orang kayak gini, rasanya gue pengen ngebales, “Mendingan elo urusin deh tuh, rumah tanggalo sendiri…”
  4. Ada beberapa hater yang menggunakan pertanyaan ini semata-mata untuk membuat gue ngerasa ‘incomplete‘. Dari dulu, mereka emang seneng cari-cari celah buat nyindir gue. Padahal kadang lucunya, si hater itu sendiri juga masih belum merit lho. What a world
  5. I’m still 26… and this question always makes me feel like I’m an old woman!

Gue yakin tiap orang punya alasan sendiri-sendiri kenapa mereka masih berstatus lajang. Ada yang masih ingin dengan leluasa mengejar cita-citanya, ada yang merasa belum cukup mapan, ada yang karena faktor belum dapat restu orang tua, atau sederhana saja, mereka masih melajang karena masih belum menemukan pasangan yang tepat. Apapun alasannya, apa susahnya sih, menahan mulut untuk tidak mengajukan pertanyaan usil itu? Ngepain juga nanyain kapan merit kepada orang-orang yang kalian tahu persis mereka tidak berencana menikah dalam waktu dekat? Mereka merit atau nggak merit toh nggak ada untung-ruginya buat kalian?

Mungkin pertanyaan macam ini udah semacam tradisi turun menurun kali ya… Buat beberapa orang, bisa jadi ini bukan a big deal, tapi ada pula orang-orang yang merasa dihantui, atau merasa tertekan dengan pertanyaan ini. Gue kenal beberapa orang yang sampai alergi datang ke resepsi pernikahan, ada pula yang sampai takut pulang kampung, hanya karena takut ditanya kapan merit!

Lalu bagaimana dengan gue sendiri? Kalo gue sih… lebih memilih untuk jaga jarak dengan orang-orang ybs. Masalahnya, tipe orang yang kayak gini ini bukan cuma senang menanyakan kapan merit sampai berulang-ulang saja, tapi mereka juga akan terus-menerus kepo dengan urusan hidup gue di tahap-tahap selanjutnya. Nggak worth keeping aja gitu kalo menurut gue.

Finally… saran gue buat teman-teman yang masih single… gue ngerti, hati pasti panas, tapi sebisa mungkin, bereaksi tenang-tenang aja. Don’t give them a satisfaction, not either a new juicy gossip, by being angry with their question. Jangan pula terbebani dengan pertanyaan macam ini… karena faktanya, banyak orang yang jadi lantas sembarang pilih pasangan hidup hanya karena capek ditanya kapan merit!

Lebih baik nikmati saja sisa-sisa hidup kita sebagai lajang, karena sekalinya kita getting married, masa-masa itu tidak akan pernah terulang kembali. Makanya kalo gue bersyukur masih single di umur segini… soalnya gue ini kan tipe orang yang punya banyak banget keinginan, dan gue maunya saat merit nanti, gue udah puas dengan berbagai macam keinginan gue itu. Gue udah puas dengan pencapaian karier gue, level pendidikan gue, udah puas jalan-jalan melihat dunia, udah puas keluyuran tanpa perlu mikir ada keluarga yang menunggu di rumah… sehingga pada waktunya gue menikah, gue sudah lebih ikhlas sekaligus sudah siap memulai hidup yang benar-benar baru. Getting married for forever is a long time… a very very long time, so why should we do it in a rush? What’s wrong with enjoying our short single times?

So guys… let’s move on! Mari kita anggap aja pertanyaan kapan merit itu sebagai the art of life. Kemudian yang paling penting… mari kita jadi generasi pertama yang berhenti mengajukan pertanyaan nggak penting ini. Kalau nanti kita sudah merit, jangan gantian usil nanya-nanya kapan merit kepada kenalan yang masih single! Kalaupun masih pengen tetep membudayakan pertanyaan ini… ya sudahlah… Pastikan saja pernikahan kalian sendiri akan selalu happily ever after, supaya kalian enggak malu sama kaum single yang kalian tanya-tanya itu.

 

P.s.: Semoga enggak ada yang tersinggung sama tulisan gue ini yah… Mumpung masih suasana lebaran, mohon dimaafkan kalo ada salah-salah kata, hehehehe.

Someday I’ll Know

Someday I’ll know…

The reason behind your attention in tiniest details of my life.

The reason behind your cute jealousy once or twice in our history.

The reason why you always listened to every word I ever said.

The reason why you always tried to comfort me.

Until finally… the reason why you suddenly walked out of my life.

 

You used to be my day.

You were the one I told everything I knew.

I knew you like you were a best friend.

But now… you are only somebody that I used to know.

Then again… someday I’ll know what turned us becoming strangers.

Someday I’ll know I was right or wrong.

 

Maybe I took you wrong.

Maybe you only wanted to become a good friend.

But maybe I was right…

Maybe it’s true that I did something wrong.

I did something which killed what you felt inside.

 

Many times have passed me by.

Sometimes I wish I could forget you like you never existed.

But most of the time… deep in my heart… I’m still wondering.

What if I never pushed you away everytime I was afraid?

What if I tried harder?

What if I never let you go?

But once again… someday I’ll know the answers for those questions.

 

I do always wish nothing but the best for you.

I will always remember you as somebody whom I used to love.

Maybe our path will never get crossed again.

Maybe we’ll find our own happily ever after with someone else.

Maybe I will never hear your voice,

Not either seeing your face no more.

But one thing for sure…

I do still believe that someday I’ll know…

Someday I’ll know what we used to have.

And someday, I’ll also know the reason why we never meant to be.

 

someday-someone-will-walk-into-your-denver-wedding-inspiration

Romance Along Chao Praya River

Pernah dengar Wat Arun temple yang terletak persis di pinggir Chao Praya river, Bangkok, Thailand? Kalo menurut gue, Wat Arun kelihatan lebih cantik di malam hari. Go googling its picture and you will love the night view of this temple. Gara-gara itulah gue jadi terobsesi kepengen foto dengan latar belakang Wat Arun di malam hari. Dan salah satu the best place buat ambil gambar ini adalah dari atas kapal yang melintasi Chao Praya river.

Jadilah gue nekad booking buffet dinner on cruise, meskipun cuma pergi sendirian, gue cuek-cuek aja. Malah dalam bayangan gue, keren aja kalo gue makan sendiri di tengah keramaian kapal, duduk di bangku di atas dek kapal yang terbuka bermandikan cahaya bintang, hehehehe.

Tapi emang dasar bad luck… pada malam di mana gue udah booking dinner on cruise, yang ada malah turun hujan sepanjang malam… Karena hujan, area makan di dek luar jadi ditutup. Musnahlah sudah obsesi gue buat foto-foto berlatarkan Wat Arun di malam hari… Mau nggak mau, 2 jam di atas kapal gue habiskan di dalam restoran indoor sambil menyaksikan live performance yang membosankan banget kalo menurut gue. Dan tentunya, bukan cuma gue doang yang tampak kecewa dengan hujan yang turun malam itu.

Anyway, jangan bayangkan dinner on cruise itu model-model candle light dinner yang romantis dan sunyi gitu yah. Yang ada, isi kapalnya membludak! Jarak antar meja rapat banget, untuk ngambil makanannya pun harus antri beberapa menit lamanya. Selain makan malam, kita juga dihibur sama live performance berupa tarian tradisional dan nyanyian mulai dari lagu jadul sampai lagu masa kini. Ada space yang bisa dijadikan dance floor di bagian dalam kapal, tapi itupun paling juga cuma muat buat 3 orang saja…

Di tengah keadaan yang muram itu, ada satu meja berisi sekitar 8 orang yang rajin banget tepuk tangan setiap kali penyanyinya baru menyelesaikan satu lagu. Bukannya bermaksud menghina… tapi emang beneran suara si penyanyi ini sama sekali nggak ada bagus-bagusnya. Lama-lama gue jadi heran, rombongan yang satu ini kok antusias banget yah?

Begitu gue menoleh, gue langsung melihat wajah gadis Prancis, usia sekitar 20 pertengahan, yang tampak sangat menikmati suasana malam itu. Ternyata, si cewek Prancis itulah yang selalu lebih dulu memberikan tepuk tangan, sehingga mau nggak mau, seluruh rombongan dia juga jadi ikutan bertepuk tangan. Dan bukan cuma itu… cewek ini selalu antusias ngambil foto semua penyanyi dan penari yang ada di situ. Pokoknya, keceriaan dia itu bener-bener kelihatan mencolok di tengah kemuraman penumpang kapal pada umumnya.

Tapi ternyata, she was not the only happy person in that room. Setelah gue perhatikan lagi, cewek Prancis tadi datang ke sana bersama pacarnya. Dari situ gue baru ngeh… ceweknya cantik, cowoknya juga ganteng! Badan mereka juga proporsional banget, langsing, keren, enak dilihat… Sayangnya dress code mereka sama sekali enggak matching; si cowok pake baju rapih (kemeja tangan panjang plus celana bahan dan sepatu kulit), sedangkan ceweknya cuma pake tank top plus celana pendek selutut. Meskipun dress code nggak matching, mereka tetep kelihatan pasangan yang serasi banget deh.

Beberapa menit kemudian, lagu berganti jadi pop love song yang romantis banget. Gue lupa judul lagunya, yang jelas tipe lagu yang emang enak banget untuk slow dance. Dan tau-tau aja… pasangan Prancis ini turun ke dance floor dan dansa berdua di situ. Saat itulah… gue seperti melihat a magical moment.

When they danced, holding each other so tightly, I saw them looked each other right in the eyes. For a while, I saw the guy looked at his girl like she was the only one in that room. He kept looking at her so deeply, so warm, so in love… and then they kissed.

Dari situ gue langsung memalingkan muka. I just thought it was inappropriate to keep staring at them. Tapi pada saat itu gue juga jadi mengerti ucapan orang yang bilang bahwa kita bisa mengenali rasa cinta seseorang hanya dari tatapan mata. No wonder kalo si cewek Prancis itu kelihatan gembira sepanjang malam. Nggak peduli hujan, nggak peduli live performance yang membosankan, I think all she wanted to do was to cherish every moment she had with such a great guy like hers.

Sambil meneruskan makan malam yang untungnya lumayan enak itu, gue berpikir… Kapan ya, terakhir kali gue ngerasain kebahagiaan yang seperti itu? Nggak peduli seberapa menyedihkannya keadaan di sekitar gue, gue tetep bahagia cuma karena ada dia di samping gue… Dan yang lebih penting, kapan terakhir kali gue menerima tatapan dari cowok yang seolah hanya melihat ada gue di ruangan itu? Tatapan yang kadang bikin gue ngerasa malu karena diperhatikan sampai segitunya…

Terus terang, gue kangen banget rasanya jatuh cinta. Kangen masa-masa pdkt, kangen senyum-senyum sendiri hanya karena lagi teringat sama si dia… Tapi nyatanya, terakhir kali gue naksir sama cowok, yang ada sikap gue malah nggak konsisten. Telepon pertama, gue menanggapi dengan manis. Tapi telepon ke dua… gue malah jawab pendek-pendek dengan nada bicara yang sama sekali tidak antusias. Nggak mengherankan kalo setelah itu nggak ada lagi telepon ke tiga…

Ya, gue kangen banget rasanya jatuh cinta, tapi… gue sama sekali enggak kangen sama patah hati yang mungkin datang menyertainya.

Setelah gue mulai dewasa, patah hati malah terasa semakin berat ketimbang cinta-cinta monyet ala ABG. Patah hati yang terakhir, entah kenapa, terasa sulit banget buat gue lewatin. Patah hati yang sebelumnya, meskipun nggak setraumatis patah hati yang terakhir itu, anehnya tetep aja butuh waktu selama 4 tahun sampe akhirnya gue bener-bener bisa move on dari cowok itu… It seems like puppy loves were so much easier right?

Saat kapal kembali merapat ke dermaga, seluruh penumpang mulai antri untuk turun dari kapal satu per satu. Kebetulan, pasangan Prancis tadi berbaris persis di depan gue. Yang terakhir gue lihat dari pasanagn itu, kepala si cowok terbentur pintu saking jangkungnya dia. Si cewek langsung kaget, dan dengan heboh mengelus-elus kepala pacarnya itu…

Sekali lagi, gue memalingkan wajah, meneruskan langkah, dengan tekad baru di dalam hati… Someday, I will find a guy who looks at me in the eyes just like the way he looked at that girl, that night, along the Chao Praya River.

5 Hal Sepele Yang Bisa Tiba-tiba Bikin Naksir

Tiba-tiba aja, gue teringat hal-hal sepele yang pernah bikin gue tiba-tiba naksir sama cowok yang sebetulnya udah cukup lama gue kenal. Berikut ini daftar lengkapnya 😀

Gara-gara mimpi

Waktu masih kelas 1 SMA, pernah ada temen cowok yang gosipnya, emang naksir sama gue. Awalnya gue cuek-cuek aja… Soalnya waktu itu ceritanya gue masih dalam tahap mourning period gara-gara pisah sekolah sama gebetan jaman SMP. Kemudian believe it or not, perasaan biasa-biasa aja itu tiba-tiba berubah jadi naksir hanya dalam waktu satu malam saja!

Isi mimpinya sih, biasa-biasa aja… Nggak ada adegan yang gimana-gimana banget gitu. Tapi gara-gara jalan ceritanya romantis banget, pas bangun tidur gue tiba-tiba aja jadi kecentilan nggak sabar pengen ketemu sama dia di sekolah, hehehehe. ABG oh ABG…

Gara-gara dicie-ciein temen-temen sekelas

Gue lupa gimana awal mulanya, dulu pernah ada temen sekelas yang suka dipasang-pasangin sama gue. Pernah suatu hari waktu jamannya angkot G5 lagi mogok massal, gue terpaksa pergi ke sekolah naik taksi gara-gara udah telat masuk kelas.

Begitu sampe kelas, ada temen yang tanya, “Elo ke sini naik apa?”

Gue jawab, “Taksi.”

Temen-temen gue itu langsung heboh… “Ciee… udah kayak Cinta AADC, naik taksi!”

Dan anehnya, nggak lama kemudian, ada anak cowok di kelas yang dikasih julukan Rangga! Dia jadi Rangga, gue jadi Cinta…

Awalnya gue nggak ada perasaan apa-apa sama ‘si Rangga’ ini. Tapi karena sering diledekin, lama-lama jadi naksir juga, hehehehe. Bukan naksir serius siih… Nggak lama kemudian dia malah jadian sama cewek lain pula, dan sekarang udah happily ever after sama keluarga kecilnya.

Gara-gara ngelihat dia mencet-mencet kalkulator

Sejak jaman kuliah, standar gue buat urusan cowok udah mulai naik. Gue udah nggak pernah lagi naksir cowok yang kelihatan lemot. Trus ada teman sekelas yang sebetulnya udah cukup lama gue kenal. Termasuk pintar, tapi pikir gue saat itu, tetep enggak sepinter gue, huehehehehe, belaguuu :p

Sampai suatu hari, kelas gue dan dia dikasih tugas yang susaaaah banget sama salah satu dosen akuntansi. Di saat gue lagi bengong mikirin cara mecahin soal maha sulit itu, tiba-tiba gue ngelihat si cowok ini juga lagi serius ngerjain soal. Dengan kening berkerut, muka serius memandangi buku, dan jari-jari yang sibuk mencet kalkulator.. tiba-tiba aja, dia kelihatan charming di mata gue. Sejak detik itu, gue resmi naksir sama dia, hehehehehe.

Gara-gara suaranya mirip sama first love gue

Di kampus dulu, gue sempet naksir-naksir dikit sama salah satu dosen gue. Alasannya? Karena suara dia mirip banget sama suara first love gue!

Puja dan Nata, dua sahabat gue di Binus, ngakak habis-habisan saat tahu rahasia kecil gue itu. Soalnya… well, dosen gue yang satu itu emang agak-agak unik sih. Dan sampe sekarang pun, si Puja masih suka jadiin masa lalu gue itu sebagai bahan lelucon. Sepertinya… itu akan jadi jokes favorit mereka sepanjang masa… hiiks.

Gara-gara dia nyebrangin gue pas lagi jalan rame-rame

Waktu itu ceritanya lagi jam istirahat makan malam… Seperti biasa, gue pergi makan bareng temen-temen sekantor, termasuk si dia: temen cowok yang udah gue kenal cukup lama. Sejak pertama kenalan, sebetulnya gue udah langsung tau kalo si dia ini termasuk tipe gue banget. Tapi berhubung di awal kerja gue masih deket sama cowok lain, jadi gue nggak pernah ngerasain apa-apa sama temen sekantor gue itu.

Awalnya gue lagi asyik ngobrol sama teman gue yang lain, kemudian pada waktunya nyebrang jalan, tau-tau aja si cowok ini udah berjalan persis di sebelah kanan gue… Cuma hal kecil, sangat kecil, yang udah bener-bener ngerubah hidup gue saat itu.

Di saat-saat terberat, gue suka menyesali kejadian hari itu… Harusnya hari itu, gue enggak usah pergi makan malam sama dia! Tapi belakangan gue sadar… kalaupun enggak ada hari itu, akan tetap ada hari-hari lain yang ngerubah perasaan gue ke dia. Memang bukan cerita cinta yang berakhir bahagia, tapi pada akhirnya gue menyadari, cerita singkat itu udah bikin gue jadi lebih dewasa. Berkat dia, gue jadi tahu, apa yang sebetulnya gue cari, dan apa yang sebetulnya gue harapkan, dari seorang cowok.

Sejak cowok terakhir itu pula… gue udah enggak pernah lagi tiba-tiba naksir cowok secara random kayak dulu. Bukan karena gue belum move on lho ya… Tapi lebih karena sejak itu gue belajar, sesuatu yang terlalu cepat datangnya, akan terlalu cepat juga berlalu dan berakhir selama-lamanya…

P.s.:       Mohon maaf kalo tulisan yang awalnya lucu malah berakhir sedih kayak gini, huehehehe, cheers!

Because a Broken Heart Will Always Make Me a Better Person

Tadi malam, seorang teman cerita sama gue soal gebetannya yang akan pindah rumah ke luar negeri dalam waktu dekat. Gebetan yang sudah dekat sama dia bertahun-tahun lamanya, yang selama ini, dia simpan sendiri rasa cintanya buat sang gebetan.

Mendengar curhatan teman gue itu… membawa gue kepada kenangan yang sama beberapa tahun yang lalu. Gue kembali diingatkan pada titik terendah dalam hidup gue selama ini.

Waktu itu jalan ceritanya juga sama; gue dan si gebetan makin lama makin dekat, tapi enggak pernah ada pernyataan suka, naksir, atau cinta yang terucap dari gue dan dia. Ada orang-orang yang berspekulasi gue naksir dia, dia naksir gue, kita saling suka tapi nggak akan pernah bisa jadian… ada pula yang dengan sadisnya bilang, gue hanya bertepuk sebelah tangan.

Awalnya gue pikir gue cuma naksir-naksir biasa doang. Semacam perasaan yang bakal hilang dengan sendirinya saat gue menemukan cowok baru buat ditaksir. Tapi pada detik gue tau dia akan segera pergi… saat itulah gue menyadari, perasaan gue jauh lebih dalam daripada yang pernah gue bayangkan.

Enggak lama setelah kabar itu sampai di telinga gue, tibalah farewell night untuk melepas kepergian dia. I tried so hard to look fine, but I think I failed… Sulit buat gue menyembunyikan ketidakrelaan bahwa semuanya akan berakhir tanpa sempat dimulai, dan… tanpa pernah ada kejelasan.

Setelah semua orang sudah saling melambaikan tangan untuk pulang menuju rumah masing-masing, saat itulah gue sudah tidak bisa lagi menahan diri. Malam itu Jakarta hujan rintik-rintik, trotoar basah setelah hujan deras yang turun sebelumnya, dan tanpa gue sadari, pandangan mata gue mulai kabur. Air mata yang berebut turun membuat softlens yang gue kenakan tidak berfungsi dengan baik. Gue hanya bisa menarik napas… berusaha untuk tidak jadi orang bodoh yang menangis sesenggukan di tengah jalan.

Beberapa bulan setelah itu tidak lantas jadi lebih mudah buat gue. Dia memang pergi, tapi awalnya masih sesekali say hi. Hal itu tentu saja pernah membuat gue kembali menaruh harapan. Mungkin dia nyesel, mungkin dia pengen coba lagi, mungkin kali ini akan berbeda, dsb dsb… Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Pada akhirnya dia mulai konsisten, mulai benar-benar menghilang dari keseharian gue.

Tadi malam, gue bilang begini sama teman yang sedang patah hati itu, “Once the pain is gone, you will feel much better. It will make you a better person too.”

Ya, gue banyak belajar dari patah hati terburuk gue itu. Dulu itu gue cukup sering ngerasa digantung, dan gue sangat-sangat menyalahkan nasib atas keadaan gue saat itu. Tapi sekarang, gue menyadari… digantung itu bukan nasib, bukan takdir, melainkan sebuah pilihan… yang gue buat untuk diri gue sendiri.

Setelah itu, gue lebih mampu bersikap tegas dalam mengatasi perasaan gue sendiri. Gue tidak lagi suka main api. Jika gue tahu sejak awal bahwa hubungan gue dan si cowok tidak akan pernah berhasil, maka gue juga enggak akan ngebiarin hati gue jatuh cinta sama dia. Dan hebatnya, sejak itu gue jadi mampu bersikap menolak untuk digantung. Gue enggak pernah lagi membiarkan orang lain datang dan pergi dalam hidup gue sesuka hati mereka. If you want me, then just stay, no matter what happens… that’s it, as simple as that.

Masih ingat lirik lagunya Kelly Clarkson?

What doesn’t kill you makes you stronger… stand a little taller… footsteps even lighter.”

So yes, it was the lowest point in my life, but it was okay… because a broken heart will always make me a better person. I am stronger, wiser, and happier ever since.

Semua badai pasti berlalu, dan akhirnya… badai gue sudah lama berlalu 🙂

7 Pemicu “Jomblo Phobia”

Pernah punya teman yang nyaris tidak pernah kelihatan menjomblo? Baru putus sebentar, nggak lama kemudian langsung terlihat jalan bareng gandengan baru… Atau yang lebih parah, mereka sengaja cari pacar baru dulu sebelum bilang putus sama pacar yang lama! Kesannya kok, ngejomblo itu aib buat mereka. Ngejomblo selalu bikin mereka panik, nggak pede, sehingga langsung buru-buru minta dikenalin sama cowok/cewek baru via teman-teman mereka. Itulah sebabnya gue suka ngasih julukan ‘jomblo phobia’ buat tipe-tipe orang seperti mereka.

Kalau menurut gue pribadi, fenomena ini bukan sesuatu yang bisa dibilang wajar. Gue enggak ngerti… kok bisa ya, mereka melupakan mantan pacar sebegitu cepatnya, dan langsung naksir orang baru sebegitu cepatnya juga? Dan kok ya bisa-bisanya ganti pacar udah kayak ganti baju… cuma pilih-pilih sebentar langsung dipake gitu aja…

Setelah gue amati lagi, ternyata memang terdapat benang merah di antara orang-orang yang jomblo phobia ini. Ada beberapa penyebab yang bisa jadi merupakan penyebab mereka selalu buru-buru cari pacar baru setelah putus dengan pacar lama. Di bawah ini ada 7 kemungkinan yang menyebabkan seseorang ‘mengidap’ jomblo phobia.

  1. Self insecurity. Ada beberapa orang yang merasa punya banyak kekurangan dalam dirinya dan menjadikan pacar sebagai pendongkrak gengsi. Mereka ingin menunjukkan pada orang lain: “Gini-gini juga, gue masih banyak yang mau!”
  2. Ketergantungan sama pacar. Biasa dianterin ke mana-mana, dibeliin ini-itu, tiba-tiba harus mandiri dan serba sendiri… Hal ini lebih sering dialami oleh cewek daripada cowok;
  3. Ngerasa dikejar deadline nikah… sehingga siapapun yang masih available dan mau sama mereka langsung ditanggapi tanpa pikir panjang. Hal ini juga lebih sering terjadi pada cewek;
  4. Sexual urge. Orang yang sudah pernah having sex, khususnya cowok, akan cenderung mempunyai ‘kebutuhan’. Itulah sebabnya, mereka selalu butuh pacar untuk menyalurkan kebutuhannya itu…
  5. Tidak punya teman. Ada pula orang yang takut jomblo karena memang hanya si mantan pacar itu lah satu-satunya orang yang bisa mereka ajak hang out;
  6. Butuh obat patah hati. Mereka ngerasa, satu-satunya cara paling efektif melupakan cinta lama adalah dengan mencari cinta yang baru. Nggak penting udah naksir sama si pacar baru dari awal, yang penting udah ada penggantinya dulu. Menurut mereka sih, cinta bisa datang belakangan…
  7. Jaga gengsi depan mantan pacar. Pantang banget buat mereka ngelihat si mantan pacar dapet gandengan baru terlebih dulu. Jadi mereka nggak boleh kalah cepat! Supaya si mantan tahu… putusnya hubungan sama sekali bukan big deal buat mereka.

Gue enggak bilang jomblo phobia itu jelek sih… gue cuma wonder… kok bisa? Kalo gue sendiri sih, lebih prefer menunggu orang yang tepat daripada asal cari pacar. Alasannya:

  1. Salah pilih pacar cuma makan hati doang… bisa ganggu konsentrasi kerja, ngerusak mood, bikin tidur jadi nggak nyenyak… Pengorbanan yang nggak worth it secara ujung-ujungnya toh pasti putus juga;
  2. Gue takut nyesel. Jangan aja nggak lama setelah jadian, gue malah ketemu cowok lain yang jauh lebih oke… I’ve been there once and I will never ever want to go back there anymore;
  3. Ini dia yang paling gue takutkan: gue sering melihat, salah pilih pasangan bisa mengubah hidup seseorang selama-lamanya…
  4. Gue tipe orang yang nggak sreg sama cowok yang punya banyak mantan pacar, jadi gue sendiri juga enggak kepengen jadi cewek yang punya banyak mantan pacar. No offense yah… Ini cuma penilaian yang sifatnya subjektif untuk diri gue sendiri aja kok.

Kalau kamu memang siap dengan resikonya, then go ahead. Tapi kalo habit jomblo phobia itu nggak bikin kamu jadi lebih bahagia… then you might have to think twice. Tidak selamanya berpasangan itu pasti lebih baik daripada sendiri. It’s okay to be alone as long as you are not lonely. Make friends, work hard, do your hobbies, just simply enjoying your life! Ingat satu hal: yang paling penting bukan cepat atau lambat, punya atau nggak punya, melainkan… bahagia atau tidak bahagia. That’s it.

Self-assessment Today

Hari ini, entah kenapa, tiba-tiba aja gue ngerasa perlu mengevaluasi perjalanan hidup gue sampai saat ini. Gue pun mulai menilai berbagai aspek dalam hidup gue sendiri. Kemudian seperti biasa, gue kepingin berbagi hasil penilaian itu melalui blog ini. Rasanya kok ya belum lengkap kalo belum gue share lewat tulisan gitu, hehehehe.

Career

  1. I’m sure I’m doing well in this first year as a manager, but after this, where will I go? Setelah gue jadi manajer, selanjutnya apa? I’m suddenly afraid of standing still and going nowhere;
  2. I said I was doing well… but NOT extraordinary. Gue ngerasa bahasa Inggris gue, terutama active English, masih kurang bule, kurang keren, kurang fasih, kurang lancar… IELTS score gue aja masih 6.5, belum 8. Kemudian presentation skill dan confidence level gue juga masih harus ditingkatkan. Still have so many areas of improvement!
  3. Masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan impian… hiiks;
  4. Anehnya, gue juga mulai bertanya-tanya… si pekerjaan impian itu, memang benar-benar sesuatu yang akan jadi passion gue, atau hanya sekedar ambisi untuk mendapatkan pekerjaan yang gue anggap bergengsi? Hmm… what is my passion, anyway?
  5. Di sisi lain, I’m also making an excellent progress. Mulai bisa nahan diri untuk enggak maki-maki anak buah (I haven’t done this in the last 10 months!), mulai belajar untuk memaafkan anak buah yang dengan teganya ngomongin gue di belakang, kemudian mencoba cari solusinya dengan kepala dingin (and I made it!), dan sekarang mulai berusaha bersikap lebih kalem terhadap klien-klien yang gue anggap menyebalkan.

Friendship

  1. I lost many best friends in the last 2 years… Kebanyakan sih karena gue udah kehilangan kepercayaan sama mereka, tapi ada juga yang karena gue mulai ngerasa, elo kok ngakunya sahabat tapi kenapa memperlakukan gue seperti musuh? Awalnya gue takut kalo begini terus, lama-lama gue cuma bakal end-up seorang diri, tapi sekarang gue sadar… gue enggak perlu takut kehilangan orang-orang yang hanya membuat gue ngerasa takut dibohongi, atau takut ditikam dari belakang. Sebetulnya gue kangen sama mereka, tapi sampai mereka belajar dari kesalahan dan berjanji untuk berubah, maka gue lebih memilih untuk tetap seperti ini saja;
  2. Di saat yang sama, gue juga mulai belajar memaafkan… Ya, gue maafkan, tapi memang untuk kembali sama persis seperti dulu, gue masih butuh waktu. Gue perlu yakin bahwa kali ini, keadaannya akan berbeda;
  3. Gue selalu yakin, di mana ada tempat baru, di situ ada sahabat baru. Baru-baru ini gue menyadari… di kantor yang sekarang, gue punya beberapa teman baik, dan di antaranya lagi, ada 2 orang yang sudah bisa gue sebut sebagai sahabat, yang juga menganggap gue sebagai sahabat baru mereka. Keberadaan mereka udah bikin hidup gue di kantor jadi sedikit lebih mudah. Tiap kali ada orang yang bicara buruk tentang gue, mereka nggak akan ragu buat bilang, “Riffa enggak gitu kok…” I really thank them for just saying such a simple statement;
  4. Oh ya… di tengah sulitnya mencari teman yang bisa dipercaya, dari hasil self assessment ini gue juga jadi menyadari bahwa gue punya 2 orang sahabat yang selalu bisa gue percaya; satu orang sahabat lama di kampus Binus, satu lagi sahabat baru di kantor yang sekarang. Gue belum pernah menangkap basah mereka sedang berbohong sehingga secara otomatis, gue enggak pernah sekalipun mempertanyakan apapun yang keluar dari mulut mereka.

Love Life

  1. Ini dia yang paling menyedihkan… sepanjang tahun 2012 ini, gue enggak naksir satu cowokpun. Nggak satupun! Hiiks…
  2. Ok, sekarang gue akui… dulu itu gue salah berdoa. Jadi ceritanya, setelah susah payah menuntaskan patah hati gue di hampir sepanjang tahun 2011, gue berpikiran, “It’s okay to be single, as long as not single and broken hearted.” Ternyata nggak gitu juga sih… Faktanya, being single and not in love with somebody is not okay either, hehehehe. Gue nggak bakal bisa berjodoh dengan siapapun kalo gue enggak berani ngambil resiko untuk patah hati kan?
  3. Right, kalau begitu, gue ralat doa gue… Hope God will give me another chance with another man… and please, give me a good one for this time 😀 Yaah, mau good or bad, selalu ada aja yang bisa gue pelajari kok. Intinya sih saat ini, gue kangen banget sama rasanya jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri kalo inget dia, rasa nggak sabar kepengen cepet ketemu sama dia, nyimpen semua yang berhubungan sama dia seolah sedang menyimpan intan berlian, rasa bahagia waktu akhirnya dia bilang cinta… aaaah, I really miss those moments 😉

Health

  1. Ini dia yang masih perlu banyak banget perbaikan. Mulai sekarang gue bertekad, suka nggak suka sama makanannya, harus makan minimal setengah porsi. Jam sepuluh malam sudah harus tidur. Rajin minum vitamin, jangan cuma dijadiin pajangan doang. Perbanyak makan sayur dan bua-buahan. Perbanyak minum air putih. Dan… uhm… mulai berolahraga kali yaa;
  2. Harus daftar asuransi kesehatan, tapi kali ini harus lebih teliti. Baru aja punya pengalaman buruk sama perusahaan asuransi yang katanya nomor satu di Indonesia. Kalo nanti masalahnya udah clear, akan gue sharing di blog ini detail konfliknya, supaya teman-teman lain bisa lebih cermat memilih asuransi.

Family         

  1. Lagi betah di rumah… karena ada ponakan yang lucu dan menggemaskan (meskipun ngengeng dan suka ileran, hehehehe);
  2. Ngelihat perjuangan adek gue selama hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya bikin gue jadi sadar… Allah sudah merencanakan segala sesuatu tepat pada waktunya. My sister might be ready for a kid, but I’m not her, not now. Itu pula yang bikin gue semakin terpacu untuk mengejar impian gue, as soon as possible, mumpung gue masih belum punya prioritas lain selain diri gue sendiri. Gue yakin kelak, Allah juga akan memberikan gue keturunan yang baik di saat gue juga sudah siap menjadi ibu yang baik. Untuk sementara, jadi aunty yang baik aja udah cukup lah ya, hehehehe.

Cinta Sejati ala The Hunger Games

Berawal dari nonton filmnya, gue langsung tertarik buat ngeborong 3 novelnya sekaligus. Novel yang cukup tebal, masing-masing buku berisi sekitar 400 halaman. Terdapat beberapa perbedaan detail cerita antara The Hunger Games versi film dengan novelnya. Tapi dalam kesempatan ini, gue lebih memilih untuk menulis berdasarkan sudut pandang buku. Gue enggak akan membocorkan soal akhir dari pemerintahan kejam ala Capitol, di sini gue lebih tertarik untuk membahas akhir dari kisah asmaranya. Jadi buat kamu yang yang tidak mau melihat bocoran ending kisah cinta dari trilogi ini, silahkan stop baca tulisan gue sampai di sini saja.

Mengambil setting di masa depan, The Hunger Games bercerita tentang permainan mematikan yang diadakan satu tahun sekali oleh Capitol, semacam ibu kota dari negara Panem (ceritanya, Panem ini dulunya adalah Amerika Utara). Peserta Hunger Games bukan penduduk Capitol, melainkan dua orang remaja perwakilan dari setiap distrik yang mengelilingi kota tersebut.  In total ada 12 distrik yang masih eksis, sehingga setiap tahunnya, terdapat 24 peserta Hunger Games yang biasa disebut dengan the tributes. Dalam Hunger Games ini, the tributes diharuskan untuk saling membunuh hingga tinggal tersisa satu tribute yang akan meraih gelar The Victor.

Hunger Games diselenggarakan oleh Capitol sebagai hukuman atas pemberontakan 12 distrik tersebut 74 tahun yang lalu. Hal ini dianggap efektif untuk menakut-nakuti penduduk distrik agar tidak berani mengulangi pemberontakan melawan Capitol.

Pada Hunger Games ke 74, Distrik 12 diwakili oleh gadis bernama Katniss, dan remaja pria bernama Peeta. Kemudian diketahui, ternyata Peeta sudah memendam cinta kepada Katniss sejak belasan tahun lamanya. Jadi bagaimana mungkin Peeta tega menghabisi nyawa Katniss? Karena itulah sejak awal, Peeta cenderung mengalah, dan selalu mencari cara untuk menjaga agar Katniss bisa tetap hidup di arena Hunger Games. Dalam Hunger Games, hanya ada satu pemenang… Dan Peeta ingin, satu orang pemenang itu adalah Katniss, meskipun itu berarti, Katniss harus tega membunuh Peeta.

Katniss sendiri sebetulnya sudah beberapa tahun dekat dengan laki-laki lain bernama Gale yang juga berasal dari Distrik 12. Jadi bisa ditebak… ada konflik cinta segitiga yang menjadi bumbu dalam trilogi Hunger Games. Di sini ada Katniss, gadis tangguh yang sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak usia dini. Ada Peeta, anak dari keluarga penjual roti yang termasuk berkecukupan, yang cenderung penakut dan sejak awal Hunger Games dimulai, dia sudah bertekad tidak akan pernah mau membunuh siapapun di arena itu. Makanya selama latihan, daripada mempelajari cara untuk membunuh, Peeta lebih tertarik mempelajari cara untuk melindungi diri. Kemudian ada Gale, anak penambang batu bara yang cenderung nekad dan sangat mudah tersulut amarahnya.

Logikanya, gadis manapun akan lebih memilih Gale daripada Peeta. Gale digambarkan memiliki bentuk tubuh atletis dan wajah yang sangat tampan. Kemudian Gale itu pemberani. Dia dan Katniss sama-sama berani melanggar peraturan pemerintah keluar dari pagar pembatas distrik hanya untuk berburu di dalam hutan. Berbeda dengan Peeta yang di awal permainan tampak manis dan tampak lemah. Jadi tentunya, secara kemampuan fisik, Gale jauh lebih unggul daripada Peeta yang hanya pandai membuat dan melukis roti.

However, believe it or not, gue… tipe cewek yang menggemari cowok yang ‘laki banget’, berkali-kali merasa jatuh cinta dengan sosok Peeta.

Peeta yang masih ingat warna baju dan kepang rambut Katniss di hari pertama mereka sekolah saat masih kanak-kanak.

Peeta yang hapal gerak-gerik dan kebiasaan Katniss.

Peeta yang pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi bisa memberikan sepotong roti kepada Katniss yang sedang kelaparan.

Peeta yang berusaha menjadikan Katniss favorit penonton hanya supaya gadis itu mendapat banyak bantuan dari penonton untuk terus bertahan hidup di arena Hunger Games.

Peeta yang setengah mati melawan Cato, tribute paling jago di arena Hunger Games, sampai mendapat luka tusukan di kakinya hanya supaya Katniss bisa melarikan diri dari kejaran Cato yang sangat bernafsu untuk membunuh Katniss.

Peeta yang jauh lebih peduli pada keselamatan Katniss daripada keselamatan dirinya sendiri… Bahkan saat sedang menjadi tawanan pemerintah pun, Peeta tetap nekad membocorkan rencana serangan pemerintah supaya Katniss dan sekutunya dapat bersikap waspada… Dan tentunya setelah itu, Peeta harus rela disika habis-habisan atas ulahnya tersebut.

Atau hal-hal kecil… seperti saat Peeta memberikan jaketnya dan mengancingkan jaket itu untuk Katniss, atau sekedar memeluk dan membelai rambut Katniss yang sedang ketakutan saat dihantui mimpi buruk dalam tidurnya.

Kedengarannya Peeta emang jagoan banget. Tapi sebetulnya, Peeta itu enggak jago bertarung. Dia cuma rela menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Katniss. Dia rela dijadikan sasaran pukulan bertubi-tubi, asalkan Katniss tetap selamat.  Berbeda dengan Gale yang selalu melindungi dengan cara melawan sekuat tenaga, yang mana Gale memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kelemahan Peeta membuat Katniss juga harus melakukan hal yang sebaliknya: berjuang sekuat tenaga agar Peeta tetap hidup. Pada akhirnya, Katniss sendiri juga selalu berecana untuk mengorbankan dirinya, asalkan Peeta selamat sampai akhir. Di buku terakhir, Katniss berkata pada Peeta, “Kita memang selalu saling melindungi.”

Dalam kehidupan nyata, gambaran kehidupan ala Hunger Games jelas sangat-sangat terlalu berlebihan. Jadi mari kita sederhanakan… Ambil contoh adegan saat Katniss mengajari Peeta berenang di arena Hunger Games. Dalam kehidupan nyata, mana yang kamu pilih… Cowok yang jago berenang seperti Gale, atau cowok yang kamu ajari cara untuk bisa berenang seperti Peeta?

Jika hanya satu itu saja pertanyaannya, jelas mudah menjawabnya: perempuan cenderung tidak memilih laki-laki yang tidak lebih hebat dari mereka. Gue malah kenal seorang teman yang bakal langsung ilfil saat tahu cowok yang dia suka ternyata enggak bisa nyetir mobil, sedangkan teman gue ini termasuk jago nyetir buat ukuran cewek.

Gue sendiri juga begitu… Sejak kuliah, a.k.a sejak nilai-nilai gue mulai melesat jauh di atas rata-rata, gue mulai berubah jadi pemilih. Gue enggak pernah naksir sama cowok-cowok yang pernah belajar akuntansi sama gue (jadi dulu itu, selain kerja jadi guru privat akuntansi, gue juga suka ngajarin temen-temen secara gratisan). Gue gampang ilfil sama cowok yang menurut gue shallow, dan tentunya… gue cenderung mudah mengagumi cowok-cowok yang gue anggap pintar.

Selain itu, gue mengenal sangat banyak teman perempuan yang punya prinsip, pasangan mereka harus memiliki penghasilan yang melebihi penghasilan mereka. Bukan karena matre, tapi hal itu seperti sudah jadi sesuatu yang melekat dalam daya tarik seorang cowok. Banyak cewek yang merasa, cowok dengan penghasilan di bawah mereka kelihatan kurang menarik perhatian mereka.

Intinya adalah, secara naluriah, cewek cenderung menginginkan cowok yang serba lebih daripada mereka. Well, itu kan hanya keinginan, impian, mimpi, harapan, atau yang sejenisnya. Tapi mari kita lihat kenyataannya…

Gue kenal seorang suami yang penghasilannya cukup jauh di bawah istrinya. Dan istrinya bilang, dia ngerasa beruntung punya suami sebaik suaminya itu.

Gue juga kenal sama istri yang sedang sambil kuliah S3, sedangkan suaminya, hanya seorang lulusan S1. Might sounds strange, tapi mereka adalah salah satu pasangan yang paling bahagia yang pernah gue kenal.

Ada temen gue yang orangnya berani banget. Semua wahana permainan paling mengerikan di Dufan, dia berani coba. Sedangkan suaminya… sangat takut sama ketinggian.

Gue kenal cowok yang penakut banget… Takut sama hal-hal seperti hantu maksud gue. Dan kalo ketakutan… dia suka minta temenin ke mana-mana sama ceweknya.

Gue sering lihat banyak cewek cantik yang malah married sama cowok-cowok yang biasa banget, dan cenderung kurang gaul. Bahasa kasarnya… cupu dan kuper. Padahal, cewek-cewek itu dulunya punya sederet mantan pacar yang ganteng dan keren banget.

Kembali lagi ke Hunger Games, Katniss sangat sulit menentukan kepada siapa cintanya berlabuh… Peeta… atau Gale? Katniss sangat takut kehilangan dua orang tersebut, dia menyayangi keduanya dengan sepenuh hati. Akan tetapi sebetulnya, kita sebagai pembaca semakin lama akan semakin yakin dengan sendirinya tentang siapa yang sesungguhnya dicintai oleh Katniss.

Di buku ke tiga, dikisahkan Peeta menjadi korban cuci otak pemerintahan Capitol. Otak Peeta ditanamkan ingatan-ingatan palsu yang membuat dia jadi membenci Katniss setengah mati. Saat sudah kembali ke tangan sekutu Katniss, ingatan Peeta berangsur membaik. Akan tetapi, Peeta tetap suka sulit membedakan… antara yang nyata dengan tidak nyata. Untuk mengatasinya, orang-orang memainkan sesi tanya-jawab. Si penanya akan menceritakan suatu hal, dan Peeta diminta menebak… apakah hal itu nyata atau tidak nyata? Peeta juga akan mengungkapkan isi pikirannya dan bertanya kepada orang lain, nyata atau tidak nyata? Strategi ini pula yang akhirnya berhasil menyembuhkan Peeta.

Saat Peeta baru saja pulih dari masalah ingatannya, Peeta bilang kepada Katniss bahwa dia ingat pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi memberikan sepotong roti untuk Katniss yang sedang kepalaran. Setelah mengingat hal tersebut, Peeta berkata, “Aku pasti sangat mencintaimu.”

“Memang,” jawab Katniss.

“Dan apakah kau mencintaiku?”

“Semua orang bilang aku mencintaimu. Semua orang bilang itu sebabnya Presiden Snow menyiksamu. Untuk menghancurkanku.”

“Itu bukan jawaban,” kata Peeta.

Ya, meskipun pembaca tahu, dan semua orang dalam kisah itu tahu tentang perasaan Katniss kepada Peeta, tetap saja Katniss tidak pernah mau mengakui perasaannya itu. Dari buku pertama hingga ke tiga dipenuhi keraguan Katniss akan hal itu. Sampai akhirnya, pada paragraf penutup di buku ke tiga, Katniss mengakui perasaannya itu. Berikut cuplikan pargraf yang gue maksud, satu paragraf yang paling gue sukai dari buku ini. (P.s.: beberapa kata gue edit supaya mudah dipahami oleh kalian yang tidak pernah mengikuti jalan cerita Hunger Games).

“Aku dan Peeta kembali bersama. Ada saat-saat ketika dia memegangi sandaran kursi sampai kilasan-kilasan ingatan palsu yang ada dalam benaknya lenyap. Aku masih bangun sambil menjerit-jerit karena mimpi buruk dengan mahluk mutan dan anak-anak yang hilang. Tapi lengan Peeta selalu ada untuk menghiburku. Hingga akhirnya bibirnya juga. Pada malam ketika aku merasakannya lagi – rasa lapar untuk terus menciumnya yang pernah menguasaiku di pantai arena Hunger Games – aku tahu memang ini yang akan terjadi. Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri sudah punya banyak api dalam diriku. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, dan bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apa pun kami kehilangan. Bahwa hidup bisa menjadi baik lagi. Dan hanya Peeta yang bisa memberiku semua itu.”

Setelah paragraf itu, Peeta berbisik kepada Katniss, “Kau mencintaiku. Nyata atau tidak?”

Akhirnya, Katniss menjawab, “Nyata.”

Gale memang lebih kuat… dan lebih tampan. Tapi Peeta, hanya Peeta, yang bisa memberi Katniss rasa aman, serta hanya Peeta… yang bisa melengkapi kekurangan dalam diri Katniss.

Dalam kehidupan nyata, pada akhirnya, hanya itulah yang akan dicari oleh wanita dewasa dari laki-laki pilihannya: rasa aman untuk terus hidup bersama dengan dia. Laki-laki itu bisa jadi tidak lebih kaya, tidak lebih pintar, tidak lebih rupawan… tetapi, laki-laki itulah yang paling mampu memberikan rasa aman. Buat apa kita cari cowok pintar dan kaya… kalau dia tidak pernah mau berusaha untuk memperjuangkan keberadaan kita dalam hidupnya? Buat apa pula pintar dan kaya… kalau kita tidak yakin, dia akan selamanya mencintai kita dengan tulus dan apa adanya…

Gue tidak bilang the most wanted bachelor yang ganteng, pintar, dan kaya itu tidak layak jadi pendamping hidup. Itu kan tergantung orangnya… But the thing is… in fact, it’s not the most important consideration. Sekedar keren dan kaya raya saja tidak cukup. Make her feel safe, comfort, and feel like being sincerely loved, then she’s gonna be truly yours.