I Suddenly Feel Good Today

Ada kejadian hari ini, yang enggak bisa gue ceritakan di sini, yang membuat gue merasa lebih bersyukur dengan hidup yang gue miliki. Bukan karena baru aja naik gaji, bukan karena berhasil lolos beasiswa, bukan karena sebentar lagi mau pergi liburan ke luar negeri, bukan pula karena lagi jatuh cinta atau karena punya gebetan baru.

Gue bersyukur meskipun gaji gue bukan yang paling gede sedunia, setidaknya sekarang gue bisa beli es krim dan kue favorit tanpa perlu berpikir dua kali.

Bersyukur gue bisa beli baju, sepatu, tas baru, atau apapun… tanpa perlu terlebih dulu meminta kepada ortu seperti dulu.

Bersyukur karena setelah dewasa, gue mampu menjadi seorang anak yang tidak terus membebani kedua orang tua.

Bersyukur meskipun masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan impian selanjutnya, setidaknya sejauh ini, di manapun gue bekerja, gue selalu saja punya atasan yang sangat-sangat mempercayai gue.

Bersyukur karena telah diberi kekuatan untuk bertumbuh dari gadis kecil yang penuh dengan rasa minder menjadi wanita dewasa yang memiliki kepercayaan diri, yang mampu menghargai serta mencintai diri gue sendiri.

Bersyukur karena di manapun gue berada, gue selalu memiliki setidaknya satu orang teman yang di kemudian hari menjadi sahabat-sahabat terbaik yang menemani gue dalam suka dan duka.

Bersyukur karena meskipun masih aja menyandang status jomblo, setidaknya gue masih punya begitu banyak kenangan manis dan pernah merasakan indahnya dicintai.

Bersyukur karena mampu merasa cantik tanpa perlu terlebih dulu menjadi pemenang dalam kontes ratu sejagat, dan meskipun selalu saja ada orang-orang yang berusaha membuat gue merasa sebaliknya.

Bersyukur karena gue bisa menjadi orang yang ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain… Senang tahun depan, insyaallah, gue akan punya keponakan-keponakan baru, dan turut senang buat salah satu sahabat yang akan segera melangsungkan pernikahannya.

Bersyukur karena berhasil melawan rasa takut, berani mengambil keputusan besar, berani mengambil resiko, berani meninggalkan rasa nyaman untuk mengejar impian yang lebih besar… meskipun tidak selalu berhasil, setidaknya gue mencoba.

Bersyukur punya kucing – kampung – yang lucu-lucu, punya blog yang terus berkembang dari hari ke hari, bersyukur mulai bisa mendatangi satu per satu tempat yang dulu hanya bisa gue lihat di layar televisi, bersyukur untuk hal-hal kecil yang bisa gue banggakan, dan hal-hal kecil yang bisa membuat gue tersenyum dan tertawa lepas.

Kesimpulannya, gue bersyukur telah mampu menjadi seseorang yang tahu bagaimana caranya berbahagia meski hidup tidak selalu ramah, dan meski gue tidak selalu berhasil mendapatkan segala sesuatu yang gue ingini.

Hidup ini, sampai kapanpun, akan selalu up and down. Bukan enggak mungkin, besok-besok gue akan bikin blog yang isinya dipenuhi dengan keluhan. Tetapi seperti yang gue tulis dalam status Facebook gue malam ini:

Thank God for the rainbow after the storm and hurricane, for the smiles and laughs after the tears, for the people who always trust me, support me, forgive me, be with me for better and worse. Life is up and down, but just like the sun in the sky, I will always rise again until the world ends.”

Intinya gue yakin, meski hidup itu tidak selamanya bahagia, hidup itu juga tidak selamanya susah dan menderita. Malah sebetulnya, berkat segala kesulitan itu, gue jadi lebih bisa memaknai segala kemudahan lain yang akan datang di kemudian hari.

Berkat patah hati, gue jadi lebih menghargai orang-orang yang mencintai gue, meskipun belum tentu gue balik mencintai mereka.

Berkat sakit hati, gue jadi lebih bisa merasakan indahnya persahabatan dengan orang-orang yang juga berusaha menjaga persahabatan mereka dengan gue.

Dan pastinya, di balik semua pekerjaan yang luar biasa sulit itu, di balik berbagai konflik, berbagai kehilangan, berbagai cobaan… semuanya selalu ada hikmah yang insyaallah, bisa membuat gue jadi seseorang yang lebih baik daripada sebelumnya.

Menurut gue, penting untuk menjadi orang yang pandai bersyukur, dan tidak perlu menunggu tercapainya ini-itu hanya untuk mengucap rasa syukur di dalam hati. Bersyukurlah selagi ada kesempatan. Karenanya detik ini, mumpung gue punya kesempatan untuk memanjatkan rasa syukur, maka gue ingin sekali mengungkapkan rasa syukur untuk segala hal dalam hidup gue, sekaligus berbagi lewat blog ini yang siapa tahu, bisa menjadi pengingat untuk teman-teman semua agar senantiasa mensyukuri setiap hal kecil yang menghiasi hari-hari kalian.

Be grateful and wish you all a great life, folks 🙂

Tragedi Yue Yue, dan Matinya Hati Nurani Manusia

Berawal dari tweet-nya Nana, temen setim gue waktu di EY, gue jadi penasaran pengen lihat video kecelakaan tragis yang menimpa Yue Yue, anak berusia 2 tahun di Foshan, Republik Rakyat Cina. Video yang didapatkan dari rekaman CCTV ini dijamin asli, bukan rekayasa. Coba aja search Yue Yue di youtube.com, nanti juga kamu pasti akan menyimpulkan hal yang sama: kejadian ini sama sekali bukan berita bohong.

Rekaman berawal dari gambar Yue Yue yang sedang berjalan sendirian, dengan posisi di tengah jalan yang cukup banyak dilalui kendaraan bermotor. Dari ujung jalan terlihat mobil yang mendekati si malang Yue Yue. Gue yakin sebenarnya pengendara mobil itu bisa lihat dengan jelas bahwa ada balita yang berada persis di depan mobilnya. Tapi pengendara ini enggak menghentikan laju mobilnya sama sekali sampai akhirnya menabrak Yue Yue. Setelah melindas Yue Yue, mobil ini sempat berhenti (posisi Yue Yue berada di kolong mobil). Akan tetapi, bukannya turun untuk menyelamatkan balita itu, eeh, pengemudi ini malah kembali tancap gas dan melindas Yue Yue lagi dengan roda belakang mobilnya!

Yang mengenaskan adalah… saat Yue Yue terkapar tidak berdaya di tengah jalan itu, dalam keadaan masih hidup dan berlumuran darah, ada banyak orang yang lewat melintasi dia, tapi tidak ada satupun yang tergerak untuk memberikan pertolongan! Tragisnya lagi, beberapa menit kemudian muncul mobil ke dua yang juga dengan santainya melindas Yue Yue yang masih dalam keadaan hidup itu!

Menurut berita yang beredar, total ada 18 orang yang melewati dan melihat keberadaan Yue Yue, tapi tidak ada satupun dari 18 orang itu yang peduli kepada penderitaan gadis kecil ini. Sebagian besar (atau mungkin semuanya?) dari 18 orang itu sama sekali tidak terlihat kaget, bingung, khawatir, atau yang sejenisnya saat melihat balita ini terkapar berlumuran darah di tengah jalan. Reaksi mereka cuma sedikit melirik sambil terus berjalan seolah mereka cuma sedang melihat seekor anjing yang terlindas di tengah jalan.

Sampai akhirnya, datanglah saksi ke 19, seorang wanita tua pemulung sampah, yang tergerak untuk menghampiri, mengangkat Yue Yue, memindahkan dia ke pinggir jalan, kemudian berteriak mencari pertolongan. Akhirnya Yue Yue dilarikan ke rumah sakit, tapi sayangnya, meski tim dokter sudah berusaha keras untuk menyelamatkan nyawanya, akhirnya Yue Yue menghembuskan napas terakhirnya setelah terlebih dahulu dinyatakan brain dead.

Yue Yue, before and after the accident.

Semua video yang beredar di Youtube menampilkan banyak banget comment yang menyudutkan orang-orang Cina. Mereka menghujat orang-orang Cina sebagai orang yang tidak punya hati. Banyak orang yang berpendapat, hal yang sama tidak akan pernah terjadi di negara mereka masing-masing. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Entah kenapa, yang pertama terlintas di benak gue adalah kenangan buruk saat gue melihat dengan mata kepala gue sendiri seekor kucing dilindas mobil pick-up. Mobil pick-up itu terus melaju dengan cueknya, entah si supir sadar atau tidak sadar baru saja melindas seekor kucing. Saat gue sedang berpikir gimana cara menyelamatkan si kucing malang, sudah ada 2 laki-laki yang datang menghampiri dan menyelamatkan kucing itu dari tengah jalan.

Gue juga jadi ingat sama salah satu blog yang pernah gue baca yang bercerita tentang perjuangan sekelompok anak muda di Bandung untuk menyelamatkan seekor anjing yang tertabrak mobil di tengah jalan tol. Bukannya gue mau membandingkan manusia dengan binatang… tapi intinya adalah, di Indonesia sini, bahkan binatang pun, diperlakukan jauh lebih baik daripada yang dilakukan 18 saksi dan 2 pengemudi yang tidak punya hati di Cina itu.

Dari begitu banyak comment yang mencaci maki orang Cina di Youtube, ada salah satu comment yang datang dari warga negara RRC. Dia bilang, tidak adil jika semua orang memukul rata seluruh penduduk Cina itu sama sadisnya dengan 20 orang tidak berperasaan yang terlibat dalam tragedi Yue Yue.

Gue sih nggak mau ikut-ikutan nge-judge bahwa semua orang Cina itu sama kejamnya dengan 20 orang itu lah ya… Tapi serius deh, sampe ada 2 pelaku dan 18 saksi mata? Apa sih, yang ada di otak mereka saat itu? Tidakkah mereka punya rasa takut bahwa setelah ini, mereka akan terus hidup dengan dihantui rasa bersalah? Dan yang paling penting adalah, hidup seperti apa yang telah dijalani oleh kedua puluh orang itu hingga mereka bisa sampai kehilangan hati nurani seperti itu?

Penting untuk kita semua memelihara dengan baik hidupnya hati nurani dalam diri kita masing-masing. Jangan membiasakan diri untuk mematikan hati nurani, mulai dari hal yang terkecil sekalipun. Mau seberat apapun hidup ini, mau sepusing apapun dengan permasalahan yang menimpa diri kita sendiri, bukan berarti kita boleh bersikap tidak peduli kepada penderitaan orang-orang lain di sekitar kita. Karena gue yakin, 18 saksi, terutama 2 pelaku dalam kasus Yue Yue, tidak semerta-merta menjelma menjadi orang yang tidak berperasaan seperti itu. Mereka pasti sudah terbiasa mengabaikan hal-hal kecil, membiasakan diri mereka untuk terbebas dari rasa belas kasihan, sehingga saat menghadapi hal besar seperti inipun, mereka bisa bersikap seolah tidak ada gadis kecil yang sedang meregang nyawa persis di hadapan mereka.

Rest in peace Yue Yue, dan semoga Tuhan menguatkan kedua orang tua gadis kecil yang ditinggalkan. Dan semoga, kejadian yang sama tidak akan pernah terulang lagi, di belahan bumi manapun di dunia ini.

Why Should They So Obsess With My Money?

I am a type of person who never denies that money is important. How could I survive with my life without it? Let’s say that money doesn’t buy us happiness, but in fact, have you ever seen a happy homeless out there? And don’t you feel happy everytime you buy something you desire, or when you go somewhere you’ve been dreaming of? Buying your dreams stuffs and visiting your dream places need certain amount of money right? So who says money can’t buy you happiness? You need money to buy the things which make you happy. Agree or disagree, in fact… money takes a significant role in your happiness. So I think… you’re a kind of hypocrite if you are saying that money is not important.

Until lately… something happened to me and changed a little bit of my perspective about money. I have just met certain people who praised money so much more than I do. I don’t want to tell anyone the details here… but here is the summary: they are the people who always watch my back, always look for any chance to bring me down, and can’t help themselves from bragging something which they think is better than me. They try so much effort so that they could have a chance to look down at me, create scenarios to make things which I’m so proud of becomes worthless, and always curious with my life by pretending like they care about my hard times. They don’t care with the fact that I might get hurt with their words.

Since I was in the college, I started to wonder why people so cared about my test scores. And now I started to wonder why people so care about my salary. It’s no longer a GPA competition; it has turned to be a money competition between us. But the question is… who told them that we have a competition in here? Because in fact, I never consider that I’m currently competing my annual income with whoever’s in this world. And the funny thing is… why should they treat me like a competitor in a competition while in fact, there is no trophy at stake? It’s not like somebody would get a prize if their salary exceeds mine right?

Sometimes I wonder whether I’ve done something wrong which make people act like that to me. Have I ever, back in the past, did something which might hurt them so that they want to do me a revenge? Am I that kind of snob girl whom they want to knock-down? I never disclose to anyone of them how much taxes I have to pay every year, how many incremental I have achieved every year, not even mentioning my salary figure without being asked. So seriously… why should they treat me as bad as they treat an enemy?

I think it’s gonna be a waste of time if I keep asking what did I do wrong which makes me deserve this. Let’s just taking the bright side… Seeing people so cared about my money has made me realize that having a lot of money doesn’t guarantee that you would be happy with your life. The people whom I mention here are people whom I can say that they are rich. One of them has a rich daddy, one of them works in a reputable multinational company, and one of them has monthly salary which is I know higher than me. So can’t you see the way I see this? A lot of money doesn’t make them satisfy with their life. It feels like they still have to bad mouth me, or brag me, or show me off to gain more satisfaction maybe? Whatever their reasons, the point is that, if they are already happy with the huge money they have, then why should they still think it’s gonna be fun to bring me down?

I still need money to live my life. I know that I can not having so much fun without sufficient money. I also can not fulfill my dreams to see the world without certain money in my bank account. I still say that money is important. I just now realize that having a lot of money is not enough to make you happy. There is one more thing that you shall do to be happy with your money: you have to know how to be grateful with every cent you have in your pocket. I’m not judging that those people are not grateful with their incomes. They probably are, but they do not do it properly. Trying to show off is not a part of being grateful right?

I also learn that I don’t want to be such a person like them. I don’t need to be the richest just to be the happiest. I only need to focus with my own career and if I make a comparison, I do it so that I know how much the market price to avoid me from being underpaid. I will not do any comparison just to make me feel like I’m the best among them. I do believe that there is always a higher sky above the sky. So if I have to act like them, I will never get my own happiness because there will always be someone out there whose salary is higher than me. Besides, someone who has less money than me today could be someone who is richer than me in the future. So I think… there is no need for me to put myself in an imaginary competition like that. Being acknowledged as the richest won’t add more numbers in my bank account right? Even Forbes never gives any prize to the richest people they mention in their magazine!

Regarding all of those bad mouths… well I think, the only thing I need to do is growing fabulous so that they will have to spend much more times to figure out certain new ways to bring me down, hehehehe.

Apakah Kamu Si Tukang Dengki?

Apa sih definisi dengki? Perasaan iri yang berlebihan saat melihat keberhasilan orang lain, yang membuat kita menjadi merasa benci pada orang tersebut, yang juga membuat kita berusaha mencari cara untuk merusak kebahagiaannya itu.

Nah, berdasarkan hasil ngobrol dengan salah satu teman terbaik gue, berikut ini ciri-ciri konkret sifat pendengki. Ambil pulpen, dan buat catatan dari 10 point di bawah ini, ada berapa point yang cukup sering kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak point yang kamu punya, semakin parah pula sifat iri dan dengki yang tersimpan dalam hatimu.

  1. Kamu suka mengatakan bahwa kamu tidak menginginkan sesuatu yang baru saja dimiliki/terjadi pada teman kamu. Contoh 1: “Elo ngepain kuliah di Aussie segala? Gue sih ogah kuliah di sana. Aussie kan jelek!” Contoh 2: “Elo buang-buang duit aja ih, beli iPad segala. Gue sih sayang duitnya deh. Kalo udah punya laptop, buat apa beli iPad lagi?”
  2. Kamu suka mencari sisi buruk dari pilihan hidup orang lain yang selangkah lebih maju daripada kamu. Contoh 1: “Kuliah S2 di mana? Hah? Di kampus xxx? Itu kan kampus yang enggak terkenal. Kenapa nggak kuliah di Prasmul aja sih?” Contoh 2: “Hah? Serius lo, mau pergi ke Paris naik AirAsia? Pesawat murah kayak gitu emangnya aman? Nggak bakal jatuh?”
  3. Kamu suka mengecilkan kesuksesan yang diraih oleh orang lain. Contoh 1: “Ah, cuma bikin bisnis warnet aja apa susahnya sih?” Contoh 2: “Ah, kalo cuma mobil murah gitu sih, gue juga bisa beli!”
  4. Kamu suka mencari cara untuk merusak kebahagiaan orang lain. Contoh 1: “Eh, pacar baru lo kok ndut-ndut gitu sih?” Contoh 2: “Ah, pas backpacking nanti elo nggak bakal bisa nikmatin deh. Emangnya elo kuat ke mana-mana jalan kaki?” Contoh 3: “Kamar tidur gue masih lebih luas daripada apartemenlo itu… Kenapa nggak ambil yang lebih besar sih?”
  5. Kamu suka membuat teman kamu yang cantik itu jadi merasa jelek. Contoh 1: “Elo gendutan ya?” Contoh 2: “Baju itu bikin elo kelihatan tambah kurus.” Contoh 3: “Itu mukalo kenapa jadi banyak jerawatnya?” Contoh 4: “Potongan rambutlo nggak cocok sama karakter wajah elo.” – Pokoknya kamu akan selalu memanfaatkan setiap celah yang ada buat menyindir dia, TAPI, giliran dia lagi kelihatan fabulous, kamu diam saja alias tidak pernah memberikan pujian;
  6. Kamu berusaha keras mengumpulkan fakta untuk membuktikan bahwa nobody is perfect, dan kamu akan merasa lega, senang, atau yang sejenisnya, saat tahu bahwa hidup seseorang itu tidak sempurna seperti yang terlihat dari luar. Contoh 1: “Dia cantik, pintar, disukai sama banyak orang… tapi penyakitan. Dunia memang adil.” Contoh 2: “Dia gajinya gede, sering ditugasin ke luar negeri, barangnya bermerk semua, punya mobil dan rumah pribadi, tapi dia susah cari jodohnya. Nggak banget deh.” Contoh 3: Kamu rajin memantau profil Facebook salah seorang teman, kemudian saat dia bikin status yang isinya sedih, kamu langsung berujar dalam hati, “Nah kan, akhirnya dia lagi down.
  7. Kamu suka membuat orang lain jadi berkecil hati… supaya dia tidak semakin jauh melampaui kamu. Contoh 1: “Kamu nggak mungkin bisa lolos audisi itu. Pesaingnya kan cantik dan seksi banget.” Contoh 2: “Bisnis makanan itu resikonya besar lho. Bla bla bla… – (Apapun bisnis yang direncanakan oleh teman kamu, kamu akan selalu punya daftar resiko untuk disampaikan kepada mereka).”
  8. Kamu suka membuat orang lain, terutama yang terlihat terlihat hebat di mata kamu, merasa tidak diinginkan. Contoh 1: “Mereka semua itu ngedeketin elo cuma karena elo pintar, cuma karena ada maunya!” Contoh 2: “Gue rasa elo cuma salah sangka. Cowok (keren) itu nggak mungkin naksir sama elo… dia cuma nganggep elo sebagai teman – (padahal kamu tau banget bahwa dari semua tanda-tanda itu, si cowok emang naksir sama teman kamu itu) .”
  9. Kamu selalu aktif memantau gaji beberapa orang teman kamu. Begitu kamu tahu gaji kamu baru aja naik melebihi dia, kamu akan langsung pamer. Contoh 1: “Gaji gue sekarang udah 2 digit lho… gimana kalo elo pindah kerja ke tempat gue aja?” Contoh 2: “SPT gue tahun ini kecil… Cuma 80 juta. – (padahal kamu tahu kisaran SPT dia itu cuma 70jutaan).”
  10. Kamu suka bikin status di Social Media, yang isinya bertujuan untuk merusak kebahagiaan orang lain. Contoh 1: Waktu ada teman upload foto liburan dia keliling Eropa, kamu langsung bikin status: “Buat apa sih, nyumbang banyak devisa buat negara lain? Lebih baik memajukan pariwisata dalam negeri, nggak kalah bagusnya kok.” Contoh 2: Waktu tau ada teman yang baru aja naik pangkat jadi manajer, kamu langsung bikin status, “Tujuan hidup seorang wanita itu bukan untuk mengejar karier setinggi-tingginya, melainkan mengabdi kepada suaminya.”

Sebetulnya gue nggak ngerti kenapa seseorang bisa sampai merasakan dengki. Setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, jadi kenapa harus iri? Emang sih, kenyataannya emang selalu ada aja orang-orang yang terlihat seolah memiliki segalanya. Tapi kamu nggak tahu kan, seberapa keras jerih payah dia untuk mendapatkan dan mempertahankan semua itu? Jadi menurut gue, daripada merasa iri, apalagi sampai dengki, kenapa kita tidak jadikan sosok teman kita itu sebagai motivasi untuk bisa jadi lebih baik lagi?

Lagipula sebenarnya  apa sih, untungnya buat kita bersikap dengki? Merusak kebahagiaan orang lain tidak akan pernah bisa membuat kita jadi lebih bahagia, dan berkata buruk tentang kesuksesan orang lain juga tidak akan membuat hidup kita jadi lebih baik. Kalau begitu buat apa kita mempertaruhkan hubungan baik dengan orang lain hanya karena kita merasa iri dengan kehidupannya?

Dari sisi sebaliknya, jangan pernah membiarkan seseorang merusak kebahagiaan yang tengah kamu rasakan. Dan sebetulnya, kalau sampai ada orang yang melakukan 10 hal di atas, maka berbangga lah! Hidup kamu pasti kelihatan keren banget di mata mereka, makanya mereka sampe sebegitunya, hehehehe.

Akan tetapi di satu sisi, jangan juga selalu melihat saran yang diberikan orang lain sebagai wujud dari rasa iri mereka kepada kamu. Harus pintar-pintar membedakan, mana yang memberikan kritik karena peduli, serta mana yang hanya sedang merasa iri. Bagaimana membedakannya? Orang yang peduli bukan hanya asal bicara, dia juga akan bersedia melakukan hal konkret untuk membantu kamu agar bisa menjadi atau mendapatkan hal yang lebih baik.

Kalian boleh setuju dan boleh enggak setuju dengan apa yang gue tulis dalam blog ini. Tapi tiga hal yang pasti:

  1. Sifat iri dan dengki bukan sifat yang disukai oleh Tuhan, apapun agamamu;
  2. Sifat ini hanya akan membuat kamu dibenci oleh orang lain. Semakin lama, akan semakin sedikit orang yang merasa nyaman saat ngobrol bareng kamu sehingga pada akhirnya, sifat ini akan menjauhkan kamu dari persahabatan; dan
  3. Sifat iri dan dengki dapat menjauhkan kamu dari kebahagiaan.

New Point of View

Beberapa bulan belakangan ini, gue lagi sibuk berpikir… apa ya, yang salah sama gue? Karena entah kenapa, ada satu hal yang terus terjadi berulang-ulang. Mau dalam urusan apapun, mulai dari urusan pekerjaan, teman, sampai urusan cinta-cintaan, selalu aja ada satu benang merah yang bikin gue berpikir, “Lho, kok bisa keulang lagi yah?”

Kalo diinget-inget, hal kayak gini udah terjadi sejak jaman SMP-SMA dulu. Mau sama siapapun dan kayak gimanapun orangnya, ending-nya tetep begitu lagi begitu lagi.

Sampai akhirnya, ada satu kejadian yang memberikan gue that one big clue: ending yang sama terus berulang karena dalam menghadapi masalah apapun, gue ini selalu mengulang satu kesalahan yang sama.

Sekarang gue baru ngeh kalo selama ini, dalam menghadapi suatu permasalahan, gue sering, dan selalu sangat mudah berubah pikiran. Pola mudah berubah pikiran itulah kesalahan yang selalu bikin gue terjebak dalam pola yang sama. Apa alasannya? Kenapa gue bisa dengan mudah berubah pikiran?

  1. Karena emosi yang tadinya meluap-luap itu udah mulai reda;
  2. Karena gue orangnya suka enggak tegaan;
  3. Karena di tengah jalan, ada sesuatu yang menginspirasi dan mengubah pikiran gue;
  4. Karena gue suka terpengaruh sama omongan dan pendapat orang lain;
  5. Karena gue takut salah mengambil keputusan dan juga takut enggak bisa menyelesaikan keputusan gue itu dengan baik;
  6. Karena gue masih menyimpan harapan yang sebenernya udah enggak perlu; dan
  7. Karena gue benci sama orang yang nggak open minded sehingga gue enggak mau dituduh berpikiran sempit dan nggak fleksibel.

Di satu sisi, bersikap fleksibel dan mau menerima input itu emang sifat yang sangat baik. Tapi kok kenyataannya, hal itu justru bikin gue jadi going nowhere ya? Sering mengubah keputusan ternyata enggak berhasil bikin gue sampe ke tujuan sehingga selalu aja pada akhirnya, semua hal itu left unfinished, kandas di tengah jalan, atau apapun lah namanya yang mirip-mirip kayak begitu. Sehingga gue menyimpulkan, di satu sisi lainnya… bersikap fleksibel dengan keputusan yang sudah kita ambil bisa menjadi senjata makan tuan.

Jujur belakangan, gue agak menyesali sifat plin-plan gue itu. Niatnya sih baik, tapi yang ada gue malah jadi capek sendiri. Ada pula satu atau dua hal yang semakin ke sini justru semakin jelas terlihat bahwa sebenarnya, keputusan yang paling pertama gue ambil itu adalah keputusan yang paling tepat. Tapi kenapa waktu itu gue malah lebih memilih untuk mendengarkan pendapat orang lain? Padahal gue yang ngejalanin, gue yang paling tau, tapi kenapa gue ngebiarin orang lain bersikap begitu sok tau?

Gue nggak nyalahin orang lain, atau nyalahin keadaan, sehingga semuanya jadi begini. Yang gue salahkan justru diri gue sendiri… kenapa waktu itu gue enggak mengikuti kata hati gue sendiri?

Akhirnya sekitar satu bulan belakangan ini, gue udah memutuskan… Saat ada keputusan penting yang harus gue ambil, gue akan pikirkan dulu seribu kali tentang hal yang akan gue putuskan itu. I’m gonna ask myself what do I want, and I am gonna be open to any suggestion in the same time. Tapi setelah gue mendapatkan satu keputusan yang terbaik, maka gue nggak akan lagi membiarkan satu hal apapun dengan mudahnya mengubah pendirian gue itu.

I’m afraid it might be too soon to make any conclusion. Tapi yang udah gue rasa… hal ini justru bikin hidup gue jadi lebih mudah. Everytime I get confused in the middle of something, instead of saying what if what if, I would say to myself, “I already to chose it and I have to deal with this.”

Karena sebenarnya, mau keputusan apapun yang kita ambil, akan tetap ada resikonya masing-masing. Jadi kalo kita sering berpindah haluan, yang ada kita justru sedang mengalami kemunduran: dari yang tadinya sudah hampir terbiasa dengan resiko yang ada, kita malah jadi harus beradaptasi lagi sama resiko yang baru lagi.

Mungkin hal ini bakal bikin gue jadi orang yang lebih keras kepala. Hal ini juga berpotensi bikin orang-orang terdekat gue menganggap gue tidak lagi menghiraukan nasehat mereka. Tapi sekali lagi gue bilang, my life, my risk, my choice. Lagipula sebetulnya, saat gue datang buat curhat, yang gue butuhkan bukan persetujuan dari kalian, melain dukungan meskipun sebetulnya, kalian tidak sependapat dengan jalan pikiran gue itu. So please no hard feeling yaa. I only want to make-up with my life and share you my new point of view.

Why Do I Blog?

  1. Because I’m not good on expressing my feeling to others… I never say that I love my families, friends, or whoever it is, except in my blog 😀
  2. I want to let people around me know that I highly appreciate their presences in my life. Again, I’m not good on making people believe that they are important to me until I share some things about them in this blog. That’s why sometimes, I write about people in my daily activities to let them know, and to let the others know the way I feel about them;
  3. Sometimes, it’s better for me to give an advice to somebody through this blog. I’m afraid if I tell this straight to them, my intonation, expression, and gestures would hurt the people whom I talk to;
  4. I could stay true in blog. I could pretend like I’m okay in my Facebook status, but I don’t know why… I only could write something which is actually on my mind in this blog;
  5. I could share so many useful information through this blog… even to strangers who google something until they find what they’re looking for in this blog;
  6. I want to share my dreams to others… and hope that it could inspire the readers to have a dream then try to make it come true;
  7. I could meet certain new people though this blog. It’s nice having new friends who support me to keep writing and pursue my dream as a professional writer;
  8. This blog is a documentation of my journey of life. I love it when I read the things I wrote back in the past. Memories could be erased as the time goes by, but this blog… it would be an eternity;
  9. Seeing increasing number in my blog statistic is very addictive, hehehehehe; and
  10. Finally, I write a blog because writing is a part of me. It makes me happy, it is a thing which I want to do for the rest of my life. I easily get bored at work, but… I never can get enough of writing something.

Tips Sukses Kuliah Ala Gue

Gue baca status temen-temen gue, kayaknya sekarang ini lagi musim masuk kuliah yah? Anak-anak kuliahan di kosan gue juga udah pada balik dari kampungnya masing-masing. Nah, dalam rangka kuliah sudah dimulai, gue mau kasih tips-tips yang semoga aja bisa bermanfaat khususnya buat teman-teman yang baru saja memulai tahun pertama di kampusnya masing-masing.

  1. Jangan dibiasakan mencontek saat mengerjakan TM atau PR dari dosen. Mengerjakan tugas adalah salah satu cara belajar yang paling menyenangkan. Saat mengerjakan tugas, kita punya tantangan yang harus selesai. Makanya gue bilang, mengerjakan tugas itu bisa jadi lebih menyenangkan ketimbang baca buku pelajaran misalnya;
  2. Jangan malas baca buku! Ada perbedaan kualitas antara orang yang membaca dengan yang malas atau jarang membaca. Biasanya, bisa kelihatan dari luasnya knowledge saat mereka sedang membicarakan sesuatu. Trust me, reading books could expand your knowledge more than you know it, and… you will be proud of yourself, proud of your own knowledge;
  3. Meringkas buku pelajaran bisa menjadi salah satu opsi untuk belajar efektif. Meringkas buku sama saja membaca buku itu lebih dari satu kali. Lebih asyiknya lagi, saat nanti menjelang ujian, kalian enggak perlu lagi nenteng-nenteng buku tebal itu. Kalian tinggal baca ulang aja isi ringkasan kalian yang hanya sebanyak beberapa lembar itu;
  4. Rajin mencari kisi-kisi yang diberikan dosen di kelas lain. Untuk satu mata kuliah yang sama, bisa ada lebih dari satu dosen, dan belum tentu dosen yang akan membuat soal ujian itu adalah dosen yang mengajar di kelas kita. Dan menurut gue, memanfaatkan kisi-kisi itu bukan dosa. Secara yah, kisi-kisi itu kan diberikan secara sukarela sama dosen ybs. Jadi kalo kisi-kisi adalah sebuah dosa, maka… dosa itu adalah dosanya dosen, bukan dosanya mahasiswa, hehehehe;
  5. TAPI jangan cuma belajar berdasarkan isi kisi-kisi! Belajar lebih banyak dari soal yang keluar di ujian itu bukan suatu kerugian kok. Lebih banyak belajar akan bikin kita makin pintar. Jadi kenapa harus takut rugi? Lagian percaya deh, apapun yang kalian pelajari, pasti aka nada manfaatnya untuk diri kalian sendiri. Mungkin belum terasa sekarang, tapi nanti di dunia kerja, akan terlihat jelas karyawan mana yang pintar serta karyawan mana yang ilmu pengetahuannya itu serba ngepas;
  6. Niatkan sejak awal, bahwa kalian tidak akan pernah mencontek selama ujian berlangsung. Bertekad untuk tidak mencontek akan membuat kita semakin rajin untuk belajar. Secara saat ujian nanti, kita cuma akan mengandalkan diri kita sendiri tanpa bantuan dari siapapun;
  7. Mengajar bisa menjadi salah satu cara belajar yang paling efektif. Otak kita akan terus berputar saat mengajar sehingga akan mengasah knowledge kita dengan sendirinya. Apalagi kalo kita punya murid yang kritis dan hobi nanya… dijamin deh, dengan mengajar pasti bakal bikin kita menjadi semakin pintar;
  8. Jangan takut sama dosen yang suka seenak jidat. Misalnya, dosen yang ngasal ngasih nilai (satu kelas, entah benar entah salah, semuanya dikasih nilai 80), terutama dosen yang suka mendiskreditkan suku atau agama tertentu. Memang kecil kemungkinan kita berhasil melawan dosen ybs. Tapi, berani melawan itu perlu untuk memberi efek jera terhadap dosen ybs. Memang ada potensi buat merugikan diri kita sendiri, tapi anggap aja amal buat adik-adik kelas kita. Ditambah lagi, berani melawan ketidakadilan akan menjadi kebanggaan yang meningkatkan kepercayaan diri kita untuk selama-lamanya;
  9. Boleh sibuk berorganisasi, tapi kuliah harus tetap jadi prioritas nomor satu;
  10. Jangan suka cari muka sama dosen. Kecil kemungkinan hal itu bisa berhasil bikin nilai kita jadi bagus. Kalau kita memang pintar, tanpa perlu cari muka, dosen-dosen pasti akan mengenal kita dengan sendirinya kok; dan
  11. Saat ada forum kelas, ajukan pertanyaan yang berkualitas, jangan pertanyaan asal hanya supaya kelihatan aktif. Caranya? Baca buku! Saat baca buku, suka ada aja pertanyaan yang terlintas di benak kita tapi tidak terjawab di buku ybs. Kalau kepingin dikenal sama dosen, ini dia salah satu cara yang efektif untuk menarik perhatian mereka.

Kenapa serius belajar saat kuliah itu sangat-sangat penting? Karena…

  1. Saat melamar kerja nanti, enggak akan ada perusahaan yang minta ijazah SD-SMP-SMA kalian. Yang diminta itu cuma transkip dan ijazah D3/S1 kalian. Jadi boleh dibilang, jadi enggak penting di mata perusahaan rangking berapa kalian di sekolah dulu, melainkan berapa IPK dan berapa nilai C di transkip kalian;
  2. Kalo kalian punya cita-cita buat kerja di perusahaan bonafid, kemungkinan besar mereka punya persyaratan IPK minimum 3 ke atas. Gue malah pernah lho, dateng interview ke perusahaan yang minta IP minimum 3,7. Sebagai kompensasinya, perusahaan yang minta IP gede itu nawarin benefit yang relatif gede juga. Jadi boleh dibilang, IPK nantinya akan menjadi alat kita untuk mengetuk pintu perusahaan impian;
  3. Gue sering melihat, besarnya IP menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang di dunia kerja. Ada beberapa orang yang sangat capable dalam pekerjaannya, tetapi ternyata mereka sendiri malah ngerasa agak minder dengan kapasitas diri mereka hanya karena waktu kuliah dulu, IP mereka termasuk ngepas. Padahal dalam banyak hal, percaya diri itu penting untuk memudahkan kita dalam melakukan segala sesuatunya; dan
  4. Lebih baik capek belajar saat kuliah daripada mengejar ketertinggalan setelah bekerja. Gue enggak bilang mustahil untuk mengejar ketertinggalan, tapi tetap lebih enak kalo kita bekerja dalam keadaan sudah siap karena setelah bekerja, otomatis kita jadi tidak punya banyak waktu untuk mempelajari materi yang sebenarnya saat kuliah dulu sudah pernah diajarkan. Jadi saat bekerja nanti, kita tinggal menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah lama kita miliki.

Pada akhirnya, IPK tetap bukan segala-galanya. Orang yang IP-nya gede banget belum tentu kerjanya bagus banget. Apalagi orang-orang yang IPK gede dari hasil nyontek! Jadi sebenarnya, yang paling penting adalah ilmu pengetahuan di balik IPK yang kita miliki, dan, kampus adalah tempat yang paling baik untuk menimba ilmu ketimbang SD-SMA. Selama kuliah itu, kita punya lebih banyak waktu luang kalo dibandingkan jaman sekolah, dan pelajaran yang didapatkan sudah sesuai dengan jurusan masing-masing.

Good luck buat teman-teman yang baru aja memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa. Wish you all the best 🙂

Serba Serbi Pelit

Kali ini gue mau mengupas tuntas soal sifat pelit. Mulai dari ciri-ciri orang pelit berdasarkan tingkat kepelitannya, sampe tingkah laku cowok yang dianggap pelit oleh cewek-cewek pada umumnya. Oh ya, sebelumnya perlu kita samakan persepsi dulu yah. Menurut gue, definisi pelit adalah punya banyak duit tapi tetep suka melakukan seribu satu cara buat berhemat tanpa mempedulikan pendapat atau perasaan orang lain. Orang-orang tidak mampu yang terpaksa berhemat tidak masuk hitungan pelit. Karena untuk orang-orang tertentu, berhemat adalah salah satu cara untuk tetap hidup.

 

3 GOLONGAN BERDASARKAN SIFAT

Enggak pelit alias dermawan, ciri-cirinya:

  1. Kalo makan beramai-ramai, dia enggak keberatan membagi rata jumlah tagihan tanpa peduli apakah dia makan lebih banyak atau lebih sedikit;
  2. Suka menyodorkan satu bungkus makanan yang belum dibuka kepada teman yang terlihat lapar;
  3. Setiap kali habis berpergian jauh, dia rajin banget bawain oleh-oleh, for free;
  4. Hobi nraktir teman-teman saat ada moment tertentu;
  5. Jarang terlihat menagih utang ke teman-temannya, kecuali kalo jumlahnya sangat-sangat material buat dia.

Agak-agak pelit, ciri-cirinya:

  1. Suka menagih hutang dalam nominal receh. Misalnya, lima ratus perak atau seribu-dua ribu;
  2. Saat akan transfer uang untuk melunasi hutang sebesar Rp. 399.999 benar-benar akan dia transfer 399.999 instead of 400.000;
  3. Setiap kali ada orang yang berniat meminjam barangnya, dia sudah pasti akan bertanya dulu, “Buat apa?” Kalau jawaban si calon peminjam kurang memuaskan, dia akan menawarkan solusi lain yang enggak mesti pake minjem-minjem barang dia;
  4. Ekspresi mukanya akan berubah menjadi serius, seperti sedang berpikir keras, saat orang lain berniat meminjam sesuatu dari dia;
  5. Cuma loyal sama orang-orang tertentu aja. Sisanya? Kalo perlu jangan sampai keluar banyak-banyak uang.

Si manusia pelit, ciri-cirinya:

  1. Paling anti minjemin duit ke orang lain. Mungkin karena kalo dipinjem sama orang lain, duitnya enggak bakal berbunga kali yah, makanya daripada minjemin ke temen lebih baik dia taruh di bank aja, hehehehehe;
  2. Nggak mau repot-repot nolongin orang lain. Nyaris enggak pernah menawarkan pertolongan untuk orang lain. Time is money gitu lho. Apalagi kalo buat nolongin itu mesti pake modal pulsa atau bensin misalnya. You wish!
  3. Kalo patungan buat bayar sesuatu, sumbangan dari dia selalu dalam jumlah seminimal mungkin;
  4. Suka ngurang-ngurangin ongkos transportasi umum. Harusnya bayar Rp. 3.000, dia sodorin 2.500. Kalo nanti diomelin sama si supir atau kenek, baru deh, dibayar sisa ongkosnya;
  5. Nebeng taksi temen = tetep temen yang bayar, dia gratisan. Kan namanya juga NEBENG;
  6. Nebeng temen buy 1 get 1 free = tetep temen yang bayar, dia dapet 1 free-nya aja. Mungkin dipikirnya, kan emang kalo si teman berniat beli, memang tetap segitu jumlah yang harus dia bayar? Dan daripada satu gratisannya itu terbuang sia-sia, mendingan buat dia aja dong?
  7. Kalo beli makanan, dia nggak pernah basa-basi nawarin makanan itu ke orang lain. Kalaupun nawarin, dia hanya nawarin setengah hati sehingga orang lain pun bisa tahu dengan sendirinya kalo sebenernya, dia enggak rela membagi makanannya.

 

YANG PALING MENYEBALKAN: PELIT DAN CELAMITAN!

  1. Hobi banget minjemin barang orang lain, dan… tidak dikembalikan. Padahal dia sendiri getol banget nagihin barang-barang yang dipinjem sama orang lain!
  2. Kalo makan rame-rame, selalu pesen menu semurah mungkin. Buat nyicipin menu mahalnya, tinggal comot kanan-kiri;
  3. Nawarin makanan dia dengan setengah hati, tapi kalo minta makanan orang… bisa berkali-kali. Bukan nggak mungkin kalau orang yang punya lagi nggak ada, makanan itu bakalan dia habisin sampe lebih dari setengah bungkus!
  4. Kalo nraktir, maunya nraktir keroyokan alias patungan sama orang lain buat nraktir teman-teman, TAPI, dia tetep maunya dikasih kado super mahal. It’s ok patungan nraktir, tapi jangan nuntut kado kelewat mahal lah. Kan tamu-tamu itu mesti provide 2 kado hanya dengan satu kali traktiran…
  5. Kalo habis belanja rame-rame, dia ikut nyicipin belanjaan orang lain. Tapiii, belanjaan dia sendiri enggak akan pernah dibuka untuk umum.

 

SIFAT COWOK YANG DIANGGAP PELIT SAMA CEWEK:

  1. Cuma nraktir makan enak kalo lagi dapet bonus tahunan aja. Padahal dia sendiri kerjaannya beli-beli gadget mahal melulu;
  2. Beli ini-itu buat mobilnya harus yang paling mutakhir… tapi kalo kado buat pasangannya, tas mahal atau murah itu sama aja kan? Toh yang penting fungsinya…
  3. Jarang nganter-nganter si pacar… hemat bensin, bos! Kalopun dianterin, biasa karena lagi ada maunya atau karena lagi ngerasa bersalah;
  4. Setelah agak lama pacaran, lebih sering kencan di rumah daripada di restoran atau bioskop. Alesannya berhemat demi nabung buat biaya married. Giliran nongkrong sama temen-temennya nggak pernah jauh-jauh dari Starbucks!
  5. Cowok pelit enggak menganut prinsip cowok gentle itu pantang dibayarin sama ceweknya.


KENAPA LEBIH BAIK KITA MENGHINDARI SIFAT PELIT? KARENA…

  1. Menurut pengamatan gue, 4 dari 5 orang pelit yang gue kenal, hidupnya cenderung unhappy. Bisa jadi uang di rekening mereka jumlahnya sangat-sangat banyak, tapi hidup mereka tetap saja tidak bahagia;
  2. Tidak ada orang yang menyukai orang pelit. Bahkan, orang pelit pun paling sebel kalo dipelitin sama orang lain. Lucunya lagi, mereka juga maunya punya pasangan yang enggak pelit sama mereka;
  3. Kepelitan seseorang adalah lelucon favorit semua orang;
  4. Kalo mau jadi pasangan impian, jangan pelit-pelit, hehehehehe;
  5. Dalam agama Islam, orang yang suka memberi kemudahan (alias suka menolong orang lain) hidupnya akan dimudahkan oleh Allah. Secara logika, apa yang kita tanam adalah apa yang kita tuai.

 

Gue akui gue sengaja membuat tulisan ini untuk ‘menyentil’ beberapa orang yang gue kenal. Bukan untuk memancing perselisihan, tapi lebih untuk mengingatkan mereka secara halus (secara kalo gue ngomong lisan, yang ada malah bakalan adu mulut besar-besaran deh).

Yang sering gue lihat selama ini, setiap kali ada orang pelit, orang-orang di sekitarnya (termasuk gue sendiri) lebih suka memperbincangkan kepelitan itu di belakang orang ybs sehingga bisa saja, orang tersebut tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu dipandang sebagai sifat pelit oleh orang lain.

Akan tetapi pada akhirnya, kalau orang-orang yang gue maksud di sini tetap menganggap bahwa tindakan yang mereka lakukan itu memang harus mereka lakukan supaya bisa hidup hemat, ya terserah aja…  As I always say, it’s your life, your risk, your choice… Tapi kalo someday kalian bertanya-tanya apa yang membuat hidup kalian menjadi tidak bahagia, coba ingat kembali isi blog gue ini. That unhappiness could be in you; in your unwillingness to give to another.

Lebaran, A Reminder to Be Grateful

Dulu, ada salah satu tante gue yang suka bawa fruit pie ke acara kumpul lebaran keluarga besar dari pihak Mami. Nyicipin sepotong fruit pie itu selalu jadi agenda yang sangat gue nanti-nantikan dari acara lebaran. Sayangnya setelah beberapa lama, tradisi fruit pie itu ditiadakan dan sudah diganti dengan jenis kue-kue lainnya. Sejak itu gue bertekad, kalau gue udah kerja nanti, gue akan beli sendiri fruit pie yang hanya dijual oleh sebuah toko di Jakarta Pusat itu.

Hari ini, satu hari menjelang lebaran tahun 2011, gue ditemani adik dan adik ipar, pergi ke jalan Sabang untuk membeli fruit pie favorit gue. Sempet deg-degan takut toko kue langganan keluarga gue itu udah tutup. Makanya begitu melihat papan bertuliskan “BUKA”, hati gue langsung berbunga-bunga. Begitu masuk ke dalam toko, kedua mata gue langsung hinggap ke barisan kue pie yang ingin gue beli. Aaah, wanginya yang menggoda, tampilan kue yang cantik dengan potongan buah segar di atasnya! Nggak lama-lama, gue langsung tunjuk dua jenis kue pie yang gue inginkan, satu untuk keluarga gue, satu lagi untuk dibawa ke acara kumpul lebaran keluarga besar Mami.

Fruit pie @ Sakura Anpan

Sesampainya di rumah, gue langsung sibuk memasukkan isi belanjaan: 2 pie, 2 cheesecake, 1 boks es krim, dan satu boks kecil praline ke dalam kulkas. Melihat lemari es yang penuh sesak dengan makanan (ditambah dua boks J Pops yang belum habis), gue jadi merasa bersyukur… Sekarang gue udah bukan lagi gadis kecil yang mengharapkan potongan kue dari tante gue. Alhamdulillah, sekarang gue udah mampu berbagi dengan keluarga besar gue.

Lebaran selalu mengingatkan gue untuk bersyukur. Bersyukur karena mulai dari lebaran empat tahun yang lalu, gue udah mampu membayar zakat gue sendiri. Bersyukur karena sejak itu pula gue udah keluar dari antrian bagi-bagi angpao dan berganti menjadi duduk di atas bangku untuk bagi-bagi angpao buat adik-adik sepupu. Intinya gue bersyukur, gue udah diberikan rezeki yang mencukupi oleh Allah SWT.

Tadi dalam perjalanan pulang dari toko cheesecake di Tebet, adik gue cerita ke suaminya bahwa lebaran tahun lalu gue sedang bokek berat. Jatah angpao buat adik-adik gue perkecil, dan tradisi membelikan cheesecake buat nyokap pun dengan terpaksa gue hentikan.

Gue cuma nyengir sambil mengingat-ingat… kenapa ya? Padahal lebaran tahun lalu kan gue udah jadi senior di EY? Terus gue juga jadi ingat bahwa tahun lalu itu gue sama sekali enggak belanja baju lebaran. Setelah beberapa detik lamanya, gue baru ingat… Lebaran tahun lalu, keuangan gue lagi kritis karena masih harus mencicil DP apartemen yang jumlah cicilannya lebih besar daripada gaji pokok gue per bulan. Ditambah lagi, beberapa hari setelah lebaran, gue akan pergi berlibur ke Thailand bareng temen-temen kuliah gue! Aaah, itu dia alesan yang bikin gue harus jadi pelit di hari lebaran, hehehehehe.

Mengingat hal itu, lagi-lagi, bikin gue ngerasa bersyukur. Tahun ini, gue diberikan pekerjaan baru yang setingkat lebih mapan daripada pekerjaan gue sebelumnya. Tahun ini gue juga bisa beli baju lebaran (berapa pieces ya? antara 7 atau 8, hehehehehe, anggap aja bales dendam karena tahun lalu enggak beli baju sama sekali), dan bisa kembali beli cheesecake buat Mami dan beli fruit pie buat diri gue sendiri. Dan kabar baik buat adik-adik gue… budget buat bagi-bagi angpao udah gue naikkin lho, hehehehehe.

Lebaran tahun ini yang Alhamdulillah enggak perlu pake acara berhemat bukan berarti gue menyesali lebaran gue satu tahun yang lalu. Malah sebenarnya, liburan tahun lalu tetap libur lebaran terbaik yang pernah gue lewati hingga saat ini. Have fun with the girls, menikmati keindahan kokohnya batu karang di Phi-phi Island yang seolah membingkai cantiknya air laut yang masih jernih, langit biru, dan pasir pantai putih bersih. How can I not be grateful for that?

Anyway… gue menulis blog ini sama sekali bukan berniat untuk pamer. Gue hanya ingin membagi rasa syukur gue, dan siapa tahu, bisa menginspirasi teman-teman untuk ikut menyukuri anugerah yang Tuhan berikan. Hidup memang tidak sempurna, dan tidak akan pernah bisa sempurna. Akan tetapi, jika kita pandai bersukur, maka anugerah dan rezeki sekecil apapun, akan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.

Sekalian lewat tulisan ini, gue mau mengucapkan minal aidzin walfaidzin buat semua blog readers, baik yang gue kenal maupun yang tidak gue kenal, baik yang sesama muslim maupun nonmuslim. Mohon maaf kalau ada isi dari blog ini yang tidak berkenan di hati teman-teman semua. Wish you all have a great holiday 🙂

It’s Time For Me to Give Up

I’m currently feeling exhausted of holding on with certain people in my life. There are those people whom I always put as my priority, whom I always try to treat them as well as I could. And I really wish that they would at least, try to treat me as well as I always do. However in fact, many of the people I mentioned before no longer do me the favors in return.

Because in this life…

When I give my best to help someone, it doesn’t mean that later, they would help me back when I need their help.

When I try to make time for them in the middle of my hectic job, it doesn’t mean that they would also try to make time for me.

When I highly appreciate my relationship with somebody, it doesn’t mean they also think that their relationship with me is important.

When I always try to be a honest person, it doesn’t mean that they will never ever lie to me.

When I always be brave enough to make confession and apologize, it doesn’t mean that they will also try to make it up to me.

I’ve been wondering what makes things so tiring like this. It seems like no one else cares about it but me. Until today I realize… the problem is that I’m just too scare of loosing people in my life. Then the question popped up in my mind this morning… do they ever feel the same about me? Are they also scare of loosing me in their life?

So I think… I have overvalued certain people in my life. Beautiful past memories, or probably kindness they ever gave to me in the past, makes me think that they would be good for me forever. I keep believing that they are still the same person whom they used to be, and keep thinking that I shall do everything to keep them in my life.

Because if I talk about the present days… it still feels warm in my heart the times when they disappointed me. When they keep creating the new lies to back-up their previous lies. The times I was hanging on the phone, wishing someone to pick it up and give me a help on something. The times when they didn’t fulfill their promises to me, again and again. The times when they thought that it was okay to let me wait for them. And the times they acted like so hard to get, acted like I should beg for their presence.

I know that in life, every relationship must be up and down. But is it still worth keeping if they do not put an effort to be honest to you? If they only come to you when they’re bored? If they’re only here with you for fun but suddenly missing while you need a help? It’s funny how such a person like this doesn’t get ashamed of themselves.

Sometimes I’m tired of trying to be a good person. It feels like my time has been so much wasted helping someone who doesn’t deserve a hand. It might look like I put myself in a trouble right?

I’m not saying that I don’t want to be helpful anymore. Not either that I want to be a mean girl. I’m just considering to stop caring those wrong people too much. I shall be ready to let go, and to stop putting my hopes up like I used to be.

Today, as I have decided to let them go, it feels like I’m free. At least I was trying. So if later we’re apart to each other, they would have no right to blame me for this. I was trying, and now I give up.