A Tribute to My Grandpa

Gue selalu worried ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi ketika gue sedang bepergian jauh ke luar negeri. Enggak terbayang deh mesti gimana… Selain jauh, jadwal penerbangan juga jumlahnya masih terbatas. Itu pula yang gue khawatirkan saat hendak berangkat ke Iceland bulan lalu… Kondisi Kakek dari nyokap makin memburuk… dan firasat kami sekeluarga sudah mulai enggak enak. Jadi lah gue mengunjungi Kakek beberapa hari menjelang keberangkatan ke Iceland bulan lalu itu.

Hari itu gue duduk menemani Kakek yang terbaring di tempat tidur. Ngobrol panjang lebar, bantu Kakek download aplikasi radio supaya ada hiburan buat Kakek yang sudah enggak kuat lama berdiri, dan juga bantu beli-beli barang yang Kakek butuhkan melalui online store.

Waktu itu gue bilang begini, “Aku mau ke Iceland, Kek, rencananya. Sama Norway juga. Tapi Kakek lagi sakit begini…”

Kakek menjawab, “Nggak papa, Fa… Kakek malah seneng ngelihat Ifa bisa jalan-jalan, mewujudkan cita-cita Ifa dari kecil. Kakek seneng Ifa sukses, bahagia, bagus rezekinya… Pergi aja, nggak usah mikirin Kakek.”

Setelah ngobrol beberapa lama, gue keluar kamar untuk makan malam, dan nggak lama kemudian gue pulang ke rumah nyokap. Saat mobil sudah terlanjur jalan… baru gue sadar gue lupa pamit sama Kakek! Entah kenapa gue bisa kelupaan. Sempat berniat mau telepon Kakek, tapi akhirnya gue cuma titip pesan melalui WhatsApp ke Nenek saja.

Dua minggu gue habiskan di Iceland dan Norway, saat gue pulang, kondisi Kakek sempat agak membaik. Lega banget kekhawatiran gue enggak terbukti. Sempat terpikir ingin jenguk Kakek lagi, tapi kesibukan di kantor, plus masalah pribadi yang sedang menguras emosi gue pasca liburan, membuat gue lebih memilih menghabiskan akhir pekan di kosan saja, sendirian. Bawaannya capek dan enggak mood untuk ketemu banyak orang.

Kemudian minggu lalu, gue ditugaskan ke Singapura. Dalam perjalanan menuju bandara, gue dapat kabar Kakek dibawa ambulans ke rumah sakit terdekat. Perasaan gue mulai enggak enak. Pesawat gue akan take-off dalam 2 jam, dan jarak rumah sakit lumayan jauh dari kosan gue. Dalam hati gue hanya bisa berdoa, semoga Kakek akan baik-baik saja.

Sampai di Singapura, tidak lama setelah gue kembali dari makan malam di Orchard road, gue mendapatkan kabar duka… Kakek sudah meninggal dunia, meninggalkan kami sekeluarga, untuk selama-lamanya…

Apa yang selalu khawatirkan akhirnya terjadi juga… musibah menimpa keluarga saat gue sedang jauh dari mereka. Rasanya memang betul-betul enggak enak! Nangis sendiri, mau pulang tapi sudah tidak ada penerbangan, ingin curhat nggak ada teman ngobrol karena sudah lewat tengah malam… Rasanya betul-betul kesepian banget deh.

Senin pagi, gue langsung ambil first flight kembali ke Jakarta. Semalaman nggak bisa tidur, ingin cepat pulang, tapi jadwal penerbangan tentu saja enggak bisa gue majukan! Sampai di Jakarta, gue sudah serba buru-buru, sesampainya di lokasi, Kakek sudah selesai dimakamkan 😦

Bokap banyak bercerita tentang masa-masa terakhir Kakek. Berkali-kali shalat, dan tidak henti-hentinya Kakek berdzikir, dan mengucap dua kalimat syahadat, sampai helaan napas terakhirnya…

Almarhum Kakek ini mulai taat beragama sejak 10 tahun yang lalu. Kakek sampai sengaja beli rumah baru yang lokasinya di seberang mesjid tidak lama setelah mengidap glukoma. Kakek bilang, ingin tinggal depan mesjid supaya saat penglihatannya mulai menghilang, Kakek akan tetap dengan mudah pergi shalat ke mesjid depan rumah. Kakek yang sudah tidak terhitung berapa kali khatam Qur’an, Kakek yang selalu membanggakan anak-anak serta cucunya, sudah pergi untuk selama-lamanya…

Sehari setelah kepergian Kakek, nyokap bantu Nenek berberes kamar. Saat itulah nyokap menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan kakek… secarik kertas yang berisi doa-doa almarhum Kakek untuk seluruh anggota keluarganya 😦

Tadi malam menjelang tidur, tiba-tiba saja gue ingat Kakek. Aneh rasanya saat memikirkan orang lain dan menyadari bahwa gue enggak akan pernah bisa melihat mereka lagi… Baru di tahun 2018 ini, gue merasakan kehilangan dalam artian yang sebenar-benarnya.

Dan jujur gue menyesali…

Harusnya waktu itu, gue putar balik ke rumah kakek untuk salim dulu…

Atau harusnya, gue mampir lagi ke rumah Kakek sebelum berangkat ke Singapura…

Jika bisa putar balik waktu, gue kepingin banget bisa lihat Kakek lagi, untuk yang terakhir kalinya…

Salah satu pesan terakhir Kakek adalah supaya gue tetap menjadi orang yang baik… Kakek sangat meyakini hidup gue diberkahi karena kebaikan yang gue berikan kepada orang-orang di sekitar gue. Saat itu gue hanya mengangguk… Kakek tidak tahu saja, gue juga tidak selamanya selalu baik pada orang-orang di sekitar gue 😦

Rest in peace, Kakek… semoga amal ibadah Kakek diterima oleh Allah, semoga Kakek mendapatkan tempat di surga, dan semoga doa Kakek untuk kami sekeluarga juga dijabah oleh Allah SWT.

You will be missed, Kek… always, and forever.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s