Apa Tolak Ukur Kita Sudah Move On dari Mantan?

Ada pembicaraan dengan salah satu teman sekantor yang bikin gue berpikiran, “Sebetulnya apa sih, tolak ukur kita sudah move on dari mantan pacar atau mantan gebetan?”

Sudah berhenti menangisi si mantan yang bikin kita patah hati itu? Belum tentu berarti kita sudah move on. Bisa jadi kita hanya sudah terbiasa dengan absennya dia dari kehidupan kita. It’s like having “a new normal”.

Sudah punya pacar baru? Ini juga belum tentu. Orang yang sudah menikah tapi belum move on dari mantan pacarnya juga ada kok.

Atau sudah berhenti sedikit-sedikit curhat soal si mantan? Well, bisa jadi kita cuma sudah kehabisan teman curhat yang masih tampak tertarik mendengar curhatan kita yang isinya itu-itu saja.

Kalau begitu, lalu apa tolak ukurnya?

Menurut gue, beda orang beda tolak ukurnya.

Teman yang tadi gue sebutkan di awal tulisan ini masih anti melihat Instagram stories milik mantannya. Dan menurut gue, itu tanda dia belum move on. Dia masih takut terbayang-bayang, atau mungkin, dia masih enggan melihat hidup si mantan sudah baik-baik saja meski sudah enggak ada dia di dalamnya.

Bagaimana dengan diri gue sendiri? Apa tolak ukur gue sudah move on dari orang yang pernah bikin gue patah hati?

Satu dekade yang lalu, gue masih senang menulis diary. Bukan lagi diary dalam bentuk buku fisik, tetapi diary yang gue tulis menggunakan komputer. Waktu itu gue sudah mulai kenalan dengan blog, tapi gue masih suka menulis diary untuk hal-hal yang enggak mungkin gue bagi di blog gue saat itu. Gue terus menulis diary, sampai akhirnya gue patah hati. Itu pertama kalinya gue jatuh cinta (cowok-cowok sebelumnya cuma naksir-naksir biasa saja), dan itu juga pertama kalinya gue patah hati, habis-habisan.

Saat gue memutuskan untuk move on dan berhenti menunggu cowok itu, gue juga memutuskan untuk “mengubur” diary gue dalam-dalam. Gue taruh folder berisi diary gue itu di dalam tempat yang sangat dalam di hard drive gue untuk menghindari gue yang tanpa sengaja melihat kembali isi dari folder itu. Pikir gue saat itu, melihat kembali isi folder itu akan menjadi pengalaman yang sangat-sangat menakutkan. Gue tidak ingin hapus, tapi gue juga tidak ingin melihatnya untuk sementara waktu. Sejak saat itu sebetulnya gue sudah pernah beberapa kali suka sama beberapa cowok baru, tapi entah kenapa, gue tetap tidak berani menyentuh diary folder yang satu itu.

Beberapa bulan yang lalu, gue ketemu cowok baru yang sifatnya agak mirip dengan mantan gebetan gue 8 tahun yang lalu itu. Beberapa sifat dia mengingatkan gue dengan sifat si mantan gebetan, sampai akhirnya, mengingatkan gue dengan diary yang gue sembunyikan itu.

And you know what I did? Yes, I finally opened the folder and I reread that diary I wrote over 8 years ago.

Saat itulah gue tahu dengan sendirinya, bahwa akhirnya, setelah 8 tahun lamanya, gue benar-benar move on dari si mantan gebetan.

Apa rasanya membaca diary yang gue hindari selama 8 tahun lamanya? Sedih, tapi lebih karena gue kasihan sama diri gue sendiri. Kasihan melihat naik-turunnya emosi gue saat itu. Di satu hari gue merasa sangat optimis, hopeful, bahagia… di lain hari gue merasa pesimis, hopeless, sedih dan kadang sampai terpuruk juga. Gue juga jadi ingat bahwa awalnya, dulu itu gue enggak sebegitu yakinnya dengan perasaan gue ke si mantan gebetan sampai akhirnya gue kehilangan dia. Mungkin itu pertama kalinya gue merasakan apa yang orang bilang dengan, “You don’t really know what you have until it’s gone.”

Lalu apa yang harus kita lakukan supaya bisa move on? Ini juga beda orang bisa beda jawabannya, tapi menurut gue, ada satu yang pasti: time heals. Cuma memang, rasanya enggak enak banget kalau sampai perlu waktu satu dekade hanya untuk bisa benar-benar move on, hehehehe.

Balik lagi ke teman sekantor yang menginspirasi gue menulis post ini, gue lalu mengajarkan dia cara untuk bisa menyembunyikan Instagram stories tanpa perlu unfollow orang yang bersangkutan. Setelah gue ajarkan, dia malah bilang begini, “Tapi jangan deh… kalo gue hide, nanti gue malah nggak belajar.”

Hmm… ada benarnya. Mungkin, kalo dulu gue lebih keras sama diri gue sendiri, kalo gue enggak sebegitu protektifnya sama perasaan gue sampai harus menghindari segala hal tentang si mantan gebetan, maka mungkin, gue enggak akan butuh waktu sampai satu dekade.

A Tribute to My Grandpa

Gue selalu worried ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi ketika gue sedang bepergian jauh ke luar negeri. Enggak terbayang deh mesti gimana… Selain jauh, jadwal penerbangan juga jumlahnya masih terbatas. Itu pula yang gue khawatirkan saat hendak berangkat ke Iceland bulan lalu… Kondisi Kakek dari nyokap makin memburuk… dan firasat kami sekeluarga sudah mulai enggak enak. Jadi lah gue mengunjungi Kakek beberapa hari menjelang keberangkatan ke Iceland bulan lalu itu.

Hari itu gue duduk menemani Kakek yang terbaring di tempat tidur. Ngobrol panjang lebar, bantu Kakek download aplikasi radio supaya ada hiburan buat Kakek yang sudah enggak kuat lama berdiri, dan juga bantu beli-beli barang yang Kakek butuhkan melalui online store.

Waktu itu gue bilang begini, “Aku mau ke Iceland, Kek, rencananya. Sama Norway juga. Tapi Kakek lagi sakit begini…”

Kakek menjawab, “Nggak papa, Fa… Kakek malah seneng ngelihat Ifa bisa jalan-jalan, mewujudkan cita-cita Ifa dari kecil. Kakek seneng Ifa sukses, bahagia, bagus rezekinya… Pergi aja, nggak usah mikirin Kakek.”

Setelah ngobrol beberapa lama, gue keluar kamar untuk makan malam, dan nggak lama kemudian gue pulang ke rumah nyokap. Saat mobil sudah terlanjur jalan… baru gue sadar gue lupa pamit sama Kakek! Entah kenapa gue bisa kelupaan. Sempat berniat mau telepon Kakek, tapi akhirnya gue cuma titip pesan melalui WhatsApp ke Nenek saja.

Dua minggu gue habiskan di Iceland dan Norway, saat gue pulang, kondisi Kakek sempat agak membaik. Lega banget kekhawatiran gue enggak terbukti. Sempat terpikir ingin jenguk Kakek lagi, tapi kesibukan di kantor, plus masalah pribadi yang sedang menguras emosi gue pasca liburan, membuat gue lebih memilih menghabiskan akhir pekan di kosan saja, sendirian. Bawaannya capek dan enggak mood untuk ketemu banyak orang.

Kemudian minggu lalu, gue ditugaskan ke Singapura. Dalam perjalanan menuju bandara, gue dapat kabar Kakek dibawa ambulans ke rumah sakit terdekat. Perasaan gue mulai enggak enak. Pesawat gue akan take-off dalam 2 jam, dan jarak rumah sakit lumayan jauh dari kosan gue. Dalam hati gue hanya bisa berdoa, semoga Kakek akan baik-baik saja.

Sampai di Singapura, tidak lama setelah gue kembali dari makan malam di Orchard road, gue mendapatkan kabar duka… Kakek sudah meninggal dunia, meninggalkan kami sekeluarga, untuk selama-lamanya…

Apa yang selalu khawatirkan akhirnya terjadi juga… musibah menimpa keluarga saat gue sedang jauh dari mereka. Rasanya memang betul-betul enggak enak! Nangis sendiri, mau pulang tapi sudah tidak ada penerbangan, ingin curhat nggak ada teman ngobrol karena sudah lewat tengah malam… Rasanya betul-betul kesepian banget deh.

Senin pagi, gue langsung ambil first flight kembali ke Jakarta. Semalaman nggak bisa tidur, ingin cepat pulang, tapi jadwal penerbangan tentu saja enggak bisa gue majukan! Sampai di Jakarta, gue sudah serba buru-buru, sesampainya di lokasi, Kakek sudah selesai dimakamkan 😦

Bokap banyak bercerita tentang masa-masa terakhir Kakek. Berkali-kali shalat, dan tidak henti-hentinya Kakek berdzikir, dan mengucap dua kalimat syahadat, sampai helaan napas terakhirnya…

Almarhum Kakek ini mulai taat beragama sejak 10 tahun yang lalu. Kakek sampai sengaja beli rumah baru yang lokasinya di seberang mesjid tidak lama setelah mengidap glukoma. Kakek bilang, ingin tinggal depan mesjid supaya saat penglihatannya mulai menghilang, Kakek akan tetap dengan mudah pergi shalat ke mesjid depan rumah. Kakek yang sudah tidak terhitung berapa kali khatam Qur’an, Kakek yang selalu membanggakan anak-anak serta cucunya, sudah pergi untuk selama-lamanya…

Sehari setelah kepergian Kakek, nyokap bantu Nenek berberes kamar. Saat itulah nyokap menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan kakek… secarik kertas yang berisi doa-doa almarhum Kakek untuk seluruh anggota keluarganya 😦

Tadi malam menjelang tidur, tiba-tiba saja gue ingat Kakek. Aneh rasanya saat memikirkan orang lain dan menyadari bahwa gue enggak akan pernah bisa melihat mereka lagi… Baru di tahun 2018 ini, gue merasakan kehilangan dalam artian yang sebenar-benarnya.

Dan jujur gue menyesali…

Harusnya waktu itu, gue putar balik ke rumah kakek untuk salim dulu…

Atau harusnya, gue mampir lagi ke rumah Kakek sebelum berangkat ke Singapura…

Jika bisa putar balik waktu, gue kepingin banget bisa lihat Kakek lagi, untuk yang terakhir kalinya…

Salah satu pesan terakhir Kakek adalah supaya gue tetap menjadi orang yang baik… Kakek sangat meyakini hidup gue diberkahi karena kebaikan yang gue berikan kepada orang-orang di sekitar gue. Saat itu gue hanya mengangguk… Kakek tidak tahu saja, gue juga tidak selamanya selalu baik pada orang-orang di sekitar gue 😦

Rest in peace, Kakek… semoga amal ibadah Kakek diterima oleh Allah, semoga Kakek mendapatkan tempat di surga, dan semoga doa Kakek untuk kami sekeluarga juga dijabah oleh Allah SWT.

You will be missed, Kek… always, and forever.