7 Alasan Kenapa Pujian Bisa Jadi “Berbahaya”

Akhir-akhir ini, gue seringkali berpikiran bahwa pujian juga bisa jadi sesuatu yang “berbahaya”. Kenapa demikian? Macam-macam alasannya. Beda kasus bisa beda sebab-akibatnya. Berdasarkan pengalaman pribadi gue sendiri, berikut ini daftar alasan kenapa gue bilang, pujian juga bisa jadi sesuatu yang berakibat buruk untuk diri kita sendiri.

  1. Membuat kita jadi besar kepala, sombong, dan tidak lagi rendah hati;
  2. Membuat kita merasa sudah “good enough” sehingga tidak lagi melakukan upaya pengembangan diri;
  3. Membuat kita lengah hanya karena merasa sudah “menang”. Bisa jadi suatu hati kita terkejut dengan datangnya si “kuda hitam”;
  4. Kadang-kadang, suatu pujian bisa membuat gue ngerasa nervous… Bagaimana jika suatu hari gue melakukan kesalahan dan gue tidak lagi dinilai pantas mendapatkan pujian itu?
  5. Pujian itu amanah yang harus dijaga… dan menjaga amanah memang tidak selalu mudah untuk dilakukan;
  6. Membuat kita jadi ekstra syok saat di lain kesempatan, kita mendapat kritik dari orang lain (atau bisa jadi, dari orang yang sama yang dulu memberikan pujianQ); dan
  7. Membuat kita jadi “rigid”. Pernah mendapatkan pujian dalam suatu hal bisa membuat kita berpikiran kita harus melakukan hal yang sama dalam semua kondisi yang akan datang.

Lalu bagaimana cara gue menyikapi ketujuh hal di atas?

Yang pertama, tetap harus relaks! Jika dapat pujian, ucapkan terima kasih, tersenyum tulus, lalu tidak ada salahnya kita bersenang hati saat menerima suatu pujian. Tidak ada yang salah dari “merayakan” pencapaian hidup kita sendiri. Tidak usah pula berpikir macam-macam soal motif di balik pujian tersebut. Anggap saja pujian itu sebagai hadiah atas kerja keras kita. Enjoy it when you have it!

Hanya saja setelah itu, jangan lantas berpuas diri. Jangan lengah. Jangan berhenti untuk terus mengembangkan diri kita sendiri! Ingat selalu bahwa kenyataannya, mempertahankan itu bisa jadi lebih sulit daripada mendapatkannya! Tidak masalah jika pujian itu sedikit terasa seperti beban, tapi jangan biarkan beban itu memperlambat langkah kehidupan kita ini!

Do great things in life and be happy with it! Wish you all a winning week ahead!

Dengarkan Nasehat yang Baik, Meskipun Datangnya dari Anak Kecil Sekalipun

Dulu banget, gue pernah mengeluh ke bokap tentang guru yang sok menasehati gue padahal dia sendiri pun sangat terkenal dengan perilaku buruknya. Waktu itu, bokap gue malah bilang begini, “Enggak usah dilihat siapa yang memberi nasehat, yang penting dilihat isi nasehatnya. Nasehat yang baik harus diterima meskipun nasehat itu datang dari anak kecil sekalipun.”

Dan ternyata, nasehat bokap itu datangnya dari kisah salah satu Imam di jaman Rasulullah dulu. Sudah belasan tahun berlalu, dan baru akhir-akhir ini gue melihat kebenaran dari nasehat bokap gue itu. Kenapa baru sekarang? Awalnya karena baru sekarang gue menyadari… bahwa gue sendiri pun, sesekali masih suka menasehati orang lain sesuatu yang gue sendiri belum bisa lakukan dengan baik dan benar. Gue juga masih jauh dari sempurna, tapi gue tetap suka menasehati ini-itu.

Kadang, gue melakukannya sebagai bagian dari pekerjaan. Sudah kewajiban gue sebagai atasan untuk memberikan feedback kepada tim gue, bahkan terkadang, kepada atasan-atasan gue sendiri. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk bersama-sama meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perusahaan!

Di lain waktu, gue melakukannya dengan niat untuk membantu. Kadang, gue menasehati berdasarkan pengalaman pribadi; sesuatu yang pernah berhasil gue lakukan dengan baik. Tapi kadang, saat gue menasehati orang lain, di saat yang sama, gue juga sedang menasehati diri gue sendiri. Gue tahu apa yang gue harus lakukan (yang juga relevan untuk lawan bicara gue), hanya saja karena beberapa hal, gue sendiri masih belum mampu melakukannya.

Yang terakhir, bisa jadi gue tidak menyadari bahwa gue sendiri juga pernah melakukan hal-hal buruk yang gue sebutkan dalam nasehat gue itu. Gue kan hanya manusia biasa, bisa khilaf, bisa lupa, sangat jauh dari yang namanya kesempurnaan… Dan kalau gue ingin dimaklumi, maka gue juga harus belajar memaklumi!

Kemudian suatu waktu, gue melihat beberapa orang kenalan dalam waktu yang hampir bersamaan, yang sebetulnya punya potensi luar biasa dalam diri mereka. Gue tahu banget mereka bisa menjadi lebih dari apa yang mereka inginkan. Hanya saja sayangnya, setiap kali diberikan nasehat baik, mereka lebih memilih untuk merasa diserang. Disudutkan. Dihina. Dan lain sebagainya. Sebagai bentuk perlindungan, mereka malah mengembalikan nasehat itu kepada si pemberi nasehat. Orang-orang yang berniat menolong malah dibilang munafik hanya karena mereka memberikan nasehat di saat diri mereka sendiri masih punya banyak kekurangan.

Sejak itulah gue semakin meyakini… Jika kita menunggu manusia yang sempurna hanya untuk menerima nasehat mereka, maka sampai kapanpun, tidak akan pernah ada nasehat baik yang akan pernah masuk ke telinga kita ini. Kenapa demikian? Karena kenyataanya, orang yang sempurna itu tidak pernah ada!

Gue mengerti betapa menyebalkannya mendengar nasehat dari seseorang yang di mata gue benar-benar “enggak banget”. Tapi setelah dipikir-pikir lagi… jika gue menolak mendengar sesuatu yang baik untuk gue, maka gue sendiri juga yang akan paling dirugikan dan bukan mereka yang mencoba memberikan nasehat! Perbaikan diri kita adalah urusan kita, tanggung jawab kita, sedangkan perbaikan orang lain yang hanya sibuk menasehati orang lain tanpa memberbaiki dirinya sendiri itu murni urusan mereka, bukan urusan kita. Jadi kenapa tidak kita coba cerna demi kebaikan diri kita sendiri?

Memang benar, tidak semua nasehat itu harus kita dengarkan. Tidak semua nasehat itu benar. Sesuatu yang baik untuk orang lain, belum tentu baik untuk diri kita ini. TAPI, jika kita tidak coba untuk mendengar dulu, maka dari mana kita bisa tahu baik tidaknya nasehat mereka itu?

Ada kalanya, orang lain yang berada dalam posisi netral memang betul bisa melihat permasalahan kita secara lebih jelas dan bijaksana. Jadi, didengar dan dicerna tidak akan pernah ada ruginya! Bagaimanapun, masukan dari orang lain tetap salah satu dasar untuk instropeksi yang paling berharga. Dan jika kita ingin berpikiran positif, masih ada yang menasehati itu artinya masih ada orang yang peduli pada hidup kita ini!

Hidup manusia sudah pasti terlalu pendek untuk bisa mencapai kesempurnaan. Jangan pernah merasa diri kita sudah cukup dewasa untuk merasa serba sempurna. Dan kenyataannya, orang yang paling merasa serba sempurna, yang selalu merasa paling benar, adalah orang yang paling lambat perkembangan jalan hidupnya. Mendengarkan nasehat baik bisa jadi awal yang baik untuk hidup yang lebih baik. Jadi dengarkanlah, meskipun nasehat itu datangnya dari anak kecil, dari orang yang paling menyebalkan, atau dari orang yang tidak lebih baik daripada diri kita sendiri.

We only live once, let’s just make the very best of it! Let’s be the very best that we can be! Remember what I’d always love to say; we can’t be perfect, but we definitely can be awesome, hehehehe.

 

 

Everything I Always Wished for in My Career

Last night, a friend from Ernst & Young (EY); my first full time employer, got married. Unlike any other wedding party, I was a little bit nervous on my way to the wedding venue. I was going to meet the people in my first professional job. Even though I only worked for EY less than three years, my short tenures with this Company was still a major contributor in my career achievements.

Working for EY has taught me how to be tough. You may be tired and lack of sleep, but deadline is deadline anyway.

I learned how to be confident and went talking to the clients even though I was just a fresh graduate (read: a newbie).

I also learned how to build a decent working paper, how to solve accounting problem efficiently, and some other survival kits you need to fight on finance and accounting battlefield.

I even still remember some of my seniors’ advice:

  1. Not documented, not done;
  2. Do not let anything pending on you. It has to be pending on someone else, always; and
  3. Fake it until you make it.

And did you know? I would never get my jobs at the two companies after EY if I didn’t have working experience at EY written in my CV.

Resigning from EY was another milestone of my life. I loved the Company, I loved my team, but I just couldn’t stand working as an auditor. I used to tell my teammates this and that about my dream job and then I truly left. I knew, I just knew, auditing was not made for me.

It’s been more than five years since I left EY and almost everyone in my former audit team have left EY as well. And then last night, I met them again. I only stayed in touch with a few of them and it was really nice to meet many familiar faces from the past again!

Most of my friends came to the party with their spouses and kids, of course. Intimidating? Apparently not! None of them asked me when I would get married, and nearly all of them asked me about my career instead. We talked about how I liked my current job, my bosses who really trust me to run the Company, and the most discussed topic was about my business trips (they know how much I love traveling). Last night, the more I realized… I’ve got everything I always wished for in my career.

Finding in a dream job is pretty much the same in finding myself. I’ve got to try everything the Company can offer to me, the ups and downs, learn from the mistakes and restart from the scratch again. And then when I find “the one”, it does really make my life feel complete. I know what I want, what I’d love to do more, I know where to keep up and where to improve myself.

People says that I’m already good at my job, but the truth is, I’m still learning. I still have a lot of flaws that I’ve got to work on. Having said that, it’s still nice to know that I’m already on the very right track. It’s nice to know that I left EY for something better; for a brighter future, for a path toward my dream job. Insyaallah! 🙂

Staying or leaving your current job, either way is okay, as long as you know that you would do awesome in whichever decision you make.