Another Solo Traveling Will Be Fun!

Tiba-tiba, gue teringat dengan solo travel gue di 2 hari pertama gue di Greece September tahun lalu. Dan tiba-tiba pula, mumpung masih single, gue kepingin  sekali pergi traveling sendirian. Ke Eropa. Kenapa Eropa? Karena menurut gue, berlibur ke Eropa itu betul-betul paling terasa nuansa traveling ke negeri asingnya. Budayanya, penduduknya, gaya arsitektur dan tata kotanya…

Lalu apa menariknya traveling sendirian? Banyak!

Gue pernah ngobrol akrab dengan supir taksi yang gue book seharian untuk keliling Kalambaka, Greece. Banyak obrolan menarik yang tidak akan terjadi jika saat itu gue tidak sendiri secara bisa jadi gue akan lebih banyak ngobrol dengan teman gue sendiri. Asyiknya lagi, si supir taksi ini senang banget fotoin gue di begitu banyak tempat yang fotogenik. He insisted me to jump to a cliff just to get a stunning picture and I’m glad he did! Foto-foto hari itu udah jadi salah satu koleksi foto paling keren yang pernah gue punya.

Di Kalambaka itu gue sempat juga ikut tur bareng travel agent resmi, berbaur dengan satu keluarga asing lainnya. Gue banyak ngobrol dengan mereka, banyak ngobrol dengan tour guide-nya, bahkan, gue dan si tour guide berlanjut berteman di beberapa social media.

Satu malam di Santorini juga sempat gue habiskan sendirian. Gue pergi nonton live show yang tidak diminati teman seperjalanan gue. Melihat gue hanya duduk sendiri, sekelompok wanita paruh baya dari US mengajak gue untuk bergabung dengan meja mereka. Gue pun menghabiskan sisa malam dengan bernyanyi dan bertepuk tangan bersama dengan mereka.

Kembali lagi ke Kalambaka, di kereta pulang menuju Athens, gue sempat duduk satu coach dengan cowok asal Dubai. Cowok yang jago banget flirting kalo menurut gue. Baik, lucu, dan sangat membantu gue dengan koper gue yang super berat itu. Holiday fling? Bisa jadi. Dan gue sangat menikmatinya! Ngerti kan sekarang, kenapa gue ingin traveling sendirian mumpung gue masih single? Hehehehe.

Segera setelah ide itu muncul di benak gue, gue langsung sibuk menyusun rencana.

Gue ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Paris dan sekitarnya. Gue ingin mewujudkan salah satu things to do before 30-nya gue: beli satu tas LV langsung di butik Paris! Gue naksir berat sama hat box-nya LV yang sepertinya tidak dijual di Jakarta.

Kemudian gue ingin mampir sebentar ke Italia, Spanyol, dan Jerman untuk meet up dengan mantan teman-teman sekantor yang pernah kerja di Lazada. Sudah waktunya memanfaatkan privilege kerja di perusahaan multinasional yang banyak ekspatnya, hehehe. And it’s gonna be fun to catch up with them again after long time no see!

Kemudian masalah foto-foto. Tadinya gue pikir, rugi pergi jauh ke Eropa kalo nggak ada teman yang bantu fotoin gue. Tapi sekarang gue sudah punya solusinya! Gue bisa sewa 1 travel photographer untuk 1 sampai 2 hari penuh! Mereka itu penduduk lokal yang khusus menangani turis-turis asing. Mereka pasti lebih tahu tempat-tempat menarik untuk berfoto!

Aaaah, it sounds so exciting, right? Masalahnya cuma satu… Jatah cuti gue tahun ini sudah habis! 😦 I think I’m gonna spend the next few weeks to figure out how to make it happen before I turn 30 November this year, hehehehe.

Terlalu Sibuk itu Hanya Mitos!

Gue pernah baca satu quote di Instagramnya Mandy Hale, “Too busy is just a myth.”

Baca quote itu mengingatkan gue sama teman-teman lama yang sangat sulit diajak meet up. Alasannya, karena terlalu sibuk. Ada yang sibuk dengan pekerjaan, ada yang sibuk dengan acara keluarga.

Mari kita bahas satu per satu. Gue punya alasan kuat untuk meyakini bahwa terlalu sibuk itu betulan hanya ‘mitos’ semata.

Yang pertama soal terlalu sibuk bekerja. Well, gue sendiri kebetulan bukan tipe orang yang bekerja hanya 9 to 5 alias datang tenggo dan pulang tenggo. Gue kerja lembur hampir tiap hari. Selalu ada saja kesibukan yang bikin gue harus pulang lebih larut. Malah terkadang, pekerjaan bisa saja mengganggu akhir pekan gue. Texting soal pekerjaan saat sedang asyik nonton di bioskop? Harus cepat pulang ke rumah hanya untuk buka laptop dan kirim report? Mendadak harus datang ke kantor di hari Sabtu dan Minggu? Sudah bukan hal baru buat gue. Tapi apakah ada sahabat gue yang mengeluh sangat sulit bikin janji ketemuan sama gue? Dijamin tidak ada!

Kemudian soal acara keluarga. Gue kebetulan terlahir di keluarga yang sangat besar. Bokap dan nyokap masing-masing punya 6 saudara kandung. Belum lagi saudara jauh dari kakek-kakek dan nenek-nenek gue yang masih cukup erat kekerabatannya. Saking banyaknya, misal gue married dan mau mengundang semua keluarga, bisa-bisa 500-600 undangan akan habis untuk keluarga gue saja. Nah, meski gue belum married, jumlah keluarga gue sendiri sudah cukup banyak, bukan? Jadi banyak acara keluarga? Memang. Tapi tidak sebanyak 30 hari dalam sebulan! Belum tentu ada yang married, tunangan, sunatan atau merayakan ulang tahun tiap bulannya. Arisan keluarga juga paling banyak hanya 2 acara tiap bulannya. Itupun jujur, gue jarang banget menghadirinya. Makanya gue suka penasaran apa benar ada keluarga besar yang selalu punya hajatan setiap akhir pekan setiap minggunya? Hehehe.

See? Terlalu sibuk itu hanya mitos. Gue selalu punya waktu untuk teman-teman gue. Gue toh bukan selebritis yang sibuk tur, bukan bula presiden RI yang sangat padat agenda kerjanya. Bahkan selebriti pun masih sering posting foto hanging out bareng teman-temannya kan!

By the way, jika hal ini juga terjadi dalam pertemanan kamu, sebetulnya tidak perlu berkecil hati. Hal ini bisa terjadi sama semua orang yang sudah beranjak dewasa. Yang penting cukup pastikan saja bahwa kita tidak ketularan pura-pura sibuk! Jangan jadi teman yang egois. Sibuk cari teman saat hanya sedang kesepian atau butuh pertolongan. It’s a big no no!

Finally, sisi positif dari fenomena ini adalah kesediaan untuk meluangkan waktu sebetulnya bisa jadi kriteria yang memudahkan kita untuk menyeleksi teman-teman lama kita. Kita jadi tahu mana yang sahabat sejati serta mana sahabat yang hanya datang saat ada maunya. Atau mana sahabat yang masih menganggap kita penting serta mana sahabat yang hanya menganggap kita bagian dari masa lalunya. If we still matter to them, they will make time for us. Period.