The Wake-Up Calls

Seperti yang pernah beberapa kali gue tulis di blog ini, ada beberapa orang yang kehadirannya seolah menjadi wake-up call dalam hidup gue ini. A wake up call to make me become a better person in life. Contohnya, tulisan gue yang ini dan ini.

Pertanyaannya, is that really necessary? Tidak bisakah kita mengubah jalan hidup kita tanpa perlu ada wake-up call sama sekali? Pertanyaan selanjutnya, apakah benar wake-up call seperti itu akan langsung mengubah hidup kita semudah kita membalikan telapak tangan?

Gue akan coba jawab dari perspektif gue sendiri. Bisa jadi, jawaban gue ini memang hanya terbatas dari pengalaman pribadi gue sendiri, tapi siapa tahu, tulisan gue ini bisa membawa manfaat!

Menurut gue, ibarat kehidupan sehari-hari, wake-up call itu sederhananya nyaris sama saja dengan alarm yang membangunkan kita dari tidur lelap di pagi hari. Hanya alarm. Suara bising yang membuat kita tersadar dan dihinggapi dengan rasa tidak nyaman. Setelah itu, keputusan tetap ada di tangan kita: menekan snooze untuk bisa tidur lebih lama lagi, atau, berusaha keras untuk membuka mata, turun dari tempat tidur, dan memulai hari yang baru.

What I’m trying to say, most likely, each and everyone of us already has that wake-up call in life. Bisa jadi wake-up call itu datang dari seseorang yang mengajarkan kita hal-hal penting dalam hidup ini, atau bisa jadi, wake-up call kita itu hanya sesuatu yang kita jumpai dalam keseharian kita saja. Misalnya, peristiwa yang kita saksikan di perjalanan menuju kantor, film yang kita tonton, atau bisa juga, cerita hidup orang lain yang menggerakan hati nurani. Semua itu pada akhirnya akan kembali lagi pada diri kita sendiri.  Will we listen to that call and change our life or we will just ignore it and stay the same?

Kemudian yang sudah-sudah, wake-up call yang pernah gue dapatkan hanya sempat hadir dalam sekejap saja. Satu bulan, dua bulan, paling lama hanya satu tahun saja. But do you know? Butuh waktu bertahun-tahun untuk gue memperjuangkan hal yang ingin gue ubah dari diri gue itu. Butuh usaha yang luar biasa kerasnya. Semakin besar perubahan yang ingin gue lakukan, semakin besar pula usaha yang harus gue kerahkan.

Contohnya, butuh waktu 15 tahun sampai akhirnya gue mencapai kematangan dalam kepercayaan diri gue. Ternyata mengubah sifat minder itu tidak semudah kelihatannya! Mau tahu apa yang lebih buruk dari 15 tahun? Kenyataan bahwa bisa jadi, perlu waktu seumur hidup kita untuk terus memperjuangkan perubahan yang kita inginkan. Kenapa bisa sampai seumur hidup lamanya? Jawabannya sederhana saja: karena tidak ada manusia yang sempurna.

Tiap orang dilahirkan dengan kekurangannya masing-masing. Dan kenyataannya, kekurangan itu akan terus menjadi kekurangan yang melekat di dalam diri kita. Hanya saja bedanya, kekurangan itu sudah tidak lagi kasat mata. Kekurangan itu sudah tidak lagi menjadi batu sandungan dalam hidup kita sendiri. Kekurangan itu sudah berhasil kita kalahkan dengan perjuangan yang tiada hentinya.

Once again, wake-up call is just an alarm ringing for a few minutes. Waking up or staying asleep, the choices are yours.

Happy Monday and wishing you a powerful week ahead!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s