The Rejections

One week ago, while I was lying on my bed with bad cough and high fever, I received an e-mail from a stranger offering a pretty interesting job opportunity. He found me through Linkedin, so I clicked his profile right away, interested to know more about him and his Company.

I was actually and literally very sick. I was too tired of my crazy working hours in the office. However, I was committed to myself. I would never leave something unfinished. I have a responsibility to finish that one big thing I’m doing at work right now. Besides, deep in my heart, I still like my job here, I’m still proud of being a part of this Company, and I still want to give it a try.

Without any further chance to get to know about the opportunity that knocked, I said no, again for a few times in the past ten months.  But this time, I don’t know why, rejecting this one reminds me to a few past opportunities that I pushed away.

Just like rejecting the guys who came close to me, rejecting a job offer is also never easy to me. There’s always that time where I wonder…

What if I was wrong? What if that was actually the best thing that I could ever have?

What if that company could be one big thing that I desire in the future?

What would I learn if took that job?

Who would I meet?

Where would I be?

What would I have?

And would I be happier if I were there?

It’s not that I regret the jobs that I finally ended up with. I know that I have achieved so much and I’m so grateful for it. But you know… no matter how awesome the life that you have, a wonder will always cross your mind once or twice in your lifetime.

So I don’t write this blog as an expression of regret, I write this to remind myself to always think before I make such a big decision in my life. I want to take that one decision that will not make me keep looking back at my past over and over again. I hope that I will never hope to turn back the times. Because sometimes, when we reject something, it’s not always their loss, it can be our own loss instead.

Think before rejecting, and once we make our mind, we have to do our best to make the most of it. Make sure that even if someday we do look back to our past, we can be the one who says, “I used to have that one option, but I’m proud that I chose this path. Otherwise, I wouldn’t have this decent life and I wouldn’t have met these people of my life.”

Make the decisions and grow awesome!

My Kind of Guy

Berawal dari pertanyaan seorang teman beberapa hari yang lalu, gue jadi serius berpikir tentang tipikal cowok yang gue suka. Fisiknya harus tinggi? Naksir yang lebih pendek pun gue udah pernah. Harus cowok pintar dan sukses? Naksir cowok yang termasuk lemot pun, kalo diinget-inget ternyata pernah juga. Lalu harus cowok yang terkenal baik hatinya? Naksir cowok raja tega pun ternyata udah pernah juga!

Kenyataannya, gue enggak pernah benar-benar tahu tipe cowok seperti apa yang selalu gue sukai, sampai akhirnya dua hari yang lalu, ada satu kejadian sederhana yang membuat gue berhasil menemukan jawabannya. Dalam sekejap, gue langsung bisa ‘merumuskan’ kesamaan di antara cowok-cowok yang pernah gue sukai. Dan ternyata, jawabannya sangat sederhana!

Yang paling pertama, gue suka sama cowok yang bisa nyambung ngobrol sama gue. Harus tipe orang yang bisa bikin gue tanpa terasa udah ngobrol berjam-jam sama dia. Tanpa perlu dipikir, percakapan akan terus mengalir dari satu topik ke topik lainnya. Kenyataannya, ini dia hal pertama yang gue lihat dari cowok yang baru gue kenal.

Setelah cocok ngobrol, gue akan dengan sendirinya mencari rasa nyaman. Rasa nyaman untuk menyampaikan isi pikiran gue, rasa nyaman untuk menunjukkan diri gue yang sebenarnya, dan rasa nyaman hanya untuk sekedar menghabiskan waktu dengan dia, lagi dan lagi.

Bersamaan dengan poin ke dua, gue punya ketertarikan yang konsisten dengan cowok yang bisa bikin gue tertawa lepas. Enggak mesti jadi cowok lucu yang dijuluki ‘badut kantor’, asalkan dia bisa mencari celah untuk melempar jokes yang bisa bikin gue tertawa lepas, itu saja sudah cukup. Apalagi kalo leluconnya sudah diselipkan dengan unsur flirting… asalkan jatuhnya terdengar pas di telinga gue, dijamin bikin naksir!

Yang paling akhir, ketika gue udah ngerasa cocok sama dia, nyaman untuk berada di samping dia, dan banyak terhibur hanya dengan keberadaannya, cowok yang akhirnya bisa bikin gue jatuh cinta adalah cowok yang bisa memperlakukan gue dengan baik. Perhatian-perhatian kecilnya, pertolongan tanpa pernah gue minta, atau sekedar menangkap basah dia yang sedang diam-diam memperhatikan gerak-gerik gue… aaah, bener-bener bikin hati luluh!

Hanya saja sayangnya, cinta memang tidak selalu datang pada tempatnya. Tidak semua cowok yang memenuhi kriteria di atas melakukan semua itu karena mereka juga memang beneran jatuh cinta sama gue. Sudah pasti mereka termasuk dekat dengan gue, teman baik atau rekan kerja terbaik yang gue punya, tapi bisa jadi, memang hanya sebatas itu saja.

Jadi kabar baiknya, gue tidak separah itu untuk urusan pilih-pilih cowok. Hanya saja kabar buruknya, itu justru bikin gue bisa saja terjatuh di tempat yang salah. Tapi, seperti yang pernah gue tulis di sini… tidak ada yang perlu gue sesali dari mencintai seseorang dengan tulus. Falling in love has created my own version of fairy tale. And according to that fairy tale, I may need to kiss a ton of frogs before I end up with my final prince.