Idul Fitri: A Perfect Chance to Start Over

Satu hal yang paling gue suka dari Ramadhan dan Idul Fitri adalah kesempatan untuk kembali memulai dari awal. Dosa-dosa dihapuskan dan seluruh umat saling memaafkan. Karena sebaik-baiknya manusia, pastilah tidak luput dari kesalahan. Begitu pula dengan diri gue sendiri.

Gue tipe orang yang menjunjung tinggi kejujuran. Dalam hal terkecil sekalipun, gue selalu berusaha untuk bersikap dan berkata jujur. I have the courage to tell people the truth, even if it’s not always pretty. Tapi ada kalanya, seringkali tanpa gue sadari, gue tetap pernah mengucapkan kebohongan. I did it in the name of white lie, but who knows… what I called as white lie was actually the safest way to protect myself anyway.

Gue juga pada dasarnya enggak suka berbuat jahat. I really really want to be a good person. Gue sering menolak melakukan sesuatu dengan alasan tidak tega. Tapi tetap ada kalanya, tekanan, konflik yang berkepanjangan, atau mungkin, tuntutan pekerjaan, tanpa gue sadari memaksa gue untuk bersikap sebaliknya. Tanpa pernah gue niatkan, pastilah gue pernah berbuat atau berkata-kata yang dapat menyakiti perasaan orang lain.

Seringkali, segera setelah menyadari gue baru saja melakukan sesuatu yang tidak gue inginkan, gue akan langsung ngerasa nggak enak, menyesal, dsb dsb… Gue tentu akan selalu berusaha keras untuk memperbaiki diri sendiri, tapi tetap saja… gue cuma manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sekeras apapun gue berusaha, gue tidak akan pernah bisa jadi sempurna. I was not born to be perfect and people might get hurt by my imperfection.

That’s why I’m so relieved to know that people will at least try to forgive me in this holy day. I’m grateful that they give me a chance to start over, and on top of that, I’m grateful that God give me a chance to redeem my faults.

Sebaliknya, kesadaran yang sama juga mendorong gue untuk belajar memaafkan. Jika masih luar biasa sulit untuk gue bisa memaafkan, gue juga enggak bisa berpura-pura. Tapi setidaknya di dalam hati, gue selalu berjanji pada diri sendiri, pasti akan tiba saatnya gue memaafkan dari lubuk hati gue yang paling dalam.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak pernah memantaskan diri untuk dimaafkan? Well, sometimes, for some people I know, the best way to forgive them is by letting go. Kenapa begitu? Karena dengan gue membiarkan mereka pergi, maka dengan sendirinya, gue sudah tidak lagi memberi mereka kesempatan untuk melakukan hal-hal yang nantinya bikin gue kembali harus bersusah payah hanya untuk bisa memaafkan mereka.

I believe that forgiveness is something that we’ve got to earn. It’s not something which always comes free. Therefore in this opportunity, please do accept my deepest apology. I’m so sorry for every pain I’ve put you through and I hope, you would like to give me a chance to start over.

Happy Ied for my blog readers who celebrate. And of course, happy happy holiday!

Tu Me Manques

il_570xN.371987770_stnnPeople says, we don’t really know what we feel about somebody until we start missing their presences in our life. And it can happen in every kind of relationships on earth.

I knew how much I cared about my nephew in my first out of town trip after he was born. Knowing that he was sick during my departure made me feel worried all the time. It felt like I wanted to go back home soon just to see that he was okay.

I knew how wonderful my best friends were after I realized how lousy other friends could be. Too bad that the terrible fight we had before made me couldn’t text them just to say hi. There were some times I really wanted to share the news about my life but I couldn’t. When I finally made up with them, it felt like a few parts of me were coming back.

I knew what a great boss that I used to have after knowing that other people might not do the same favors he did to me. It felt bad to realize that he had no obligation to be that good to me but he did. I’m happier with my new life now, I’m okay with my new boss, but frankly sometimes I think, “It would be different if it were him.”

Finally, most of the time, I knew that I loved somebody when they start missing from my life. In the worst scenario, it could happen when they left me for good. My life was falling apart, broken heart, and bla bla bla.  But sometimes, it could also happen in such an unexpected time. If I feel bad knowing that he will leave just for a holiday trip for instance, at that moment I will know I have that one feeling for him.

Unfortunately, I’m not good on missing somebody. I hope I could just grab my phone and text them first. But all that I can do is mourning the long gone past or looking at the calendar and counting days if I know for sure they will still come back. That’s why I really hate missing somebody.

I hate wondering whether they’re also thinking of me. I hate wondering whether they will say hello to me first. I hate wondering whether something will change upon their return. I also hate knowing that I no longer have somebody to talk those stupid things, to laugh those hilarious jokes, to work things out together, or simply just to see them somewhere in my daily life. And for me, it’s not a pleasant thing to feel this way.

Do you know in French, you don’t really say “I miss you” when you actually miss somebody? They will say instead, “Tu me manques” which means “You are missing from me”. It sounds nice to me, and, it describes better how I feel about missing somebody. I miss them, simply because they are missing from my life. And I really really… want to have them back.

Apa Kabar Aplikasi Beasiswa MBA Gue?

Rencananya, tahun ini gue kepengen coba, sekali lagi, apply beasiswa MBA entah itu ke US, UK, atau Aussie. Awal tahun 2014, dengan penuh semangat, gue pernah menulis blog yang ini. Pertanyaannya sekarang, berhasil kah gue menembus beasiswa yang gue idam-idamkan itu?

Well, jangankan berhasil atau gagal… sekedar coba mengirimkan aplikasinya pun enggak jadi gue realisasikan di tahun 2014 ini! Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: gue ngerasa masih belum siap.

Hari pertama gue ikut GMAT Preparation Class, gue masih menikmati tiap menit dalam kursus itu. Gue excited ketemu teman-teman baru yang juga mempunyai cita-cita yang sama dengan gue. Senang bisa berbagi cita-cita, berbagi cerita, informasi, serta tips dan trik terkait big dreams kita itu. Ada beberapa teman yang terlihat luar biasa pintar, dan beberapa teman lainnya yang bisa berbahasa Inggris dengan luar biasa fasihnya.

Awalnya, suasana kelas yang seperti itu masih membuat gue ngerasa bersemangat, sampai akhirnya gue masuk ke pertemuan ke dua, ke tiga… semakin lama, gue semakin ngerasa tertinggal di belakang. Dan yang paling enggak pernah gue sangka-sangka, gue ketinggalan pelajaran justru karena kendala bahasa!

Jadi di tempat kursus GMAT gue itu, pengajarnya orang Amerika asli, dan tentunya, dia selalu membawakan materi kursus dalam bahasa Inggris. Gue sering ngerasa dia bicara terlalu cepat serta banyak menggunakan istilah-istilah yang enggak bisa gue pahami. Yang bikin gue ngerasa makin down, nyaris semua teman sekelas gue terlihat bisa mengikuti materi pelajaran dengan mudahnya!

That was the first time in my life I realized that my English is not good enough. MY 6.5 IELTS score is far from enough.

Saat sedang luar biasa frustasi dengan ketertinggalan gue itu, gue menemukan satu lagi hal yang bikin gue jadi makin patah semangat: kampus yang gue minati mewajibkan seluruh international students untuk punya skor IELTS minimum 7.0.

Gue tahu, skor 6.5 itu gue dapatkan sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, saat gue masih baru bergabung dengan Niro, perusahaan gue sebelumnya. Setelah hampir 3 tahun kerja di Niro, gue yakin English gue sudah mengalami kemajuan secara di sana gue lebih aktif berbahasa Inggris untuk keperluan pekerjaan. Memang cuma ada 2 expatriates di sana, plus sesekali berkomunikasi dengan HQ team di Malaysia, tapi gue yakin itu pun udah banyak improve English skill gue. Tapi tetap saja, semua itu toh nyatanya nggak bikin gue bisa survive di kelas GMAT! I mean, if I’m not good enough for the preparation class, then what makes me think I will survive in the real class? Apalagi ceritanya, gue ngincer kampus-kampus yang masuk dalam World Top 10

Akhirnya dengan berat hati gue putuskan… gue masih harus menunda, satu tahun lagi. Tapi tentu saja, gue enggak pengen satu tahun berikutnya itu jadi satu tahun yang sia-sia! Gue pun memutuskan… untuk pekerjaan gue selanjutnya HARUS pekerjaan yang mewajibkan gue speaking English setiap harinya. Itulah sebabnya, di awal tahun ini gue menghadiri 3 job interview yang gue tahu sejak awal, gue akan berhadapan langsung dengan expatriates di sana. Lalu kenapa akhirnya gue lebih memilih kerja untuk Lazada? Karena saat interview, gue lihat di sini paling banyak jumlah bulenya 😀

Gue nggak tahu apakah kerja di sini bisa bantu gue mencapai big dream gue itu… Tapii, yah… at least, I’m doing something real to get there. Once again, please wish me luck!