Hope the Holiday Will Make Me Feel Better

Entah kenapa, sekitar seminggu belakangan ini gue ngerasa apa yang biasa disebut orang lain sebagai galau. Bermula dari suatu sore di mana-mana tiba-tiba gue ngerasa super bad mood, bosan, dan yang paling parah, gue jadi males ngomong. Buat orang seperti gue, kalau masih suka ngomel-ngomel, itu hal biasa. Tapi kalo udah sampe males berdebat, males ngomong, itu yang udah bahaya… Apalagi kalo udah sampe jarang senyum dan jarang ketawa… bener-bener udah masuk kategori bad mood tingkat tinggi.

Dulu gue pernah bilang sama salah satu temen gue di EY. Definisi bahagia buat gue itu simpel aja: asalkan dalam satu hari gue bisa sekali aja tertawa senang, berarti hari itu adalah hari yang bahagia buat gue. Dan ya… belakangan ini, gue jarang punya alasan untuk tertawa. Belakangan ini, entah kenapa, gue jarang sekali memiliki hari yang bahagia.

Udah sebulan lebih, gue menghabiskan belasan jam dalam sehari, dari Senin hingga Minggu, hanya untuk bekerja. Setelah semua kerja keras itupun, nyatanya report gue tetap saja selesai terlambat. Pernah di suatu malam, tiba-tiba gue ngerasa capek… Gue jadi mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang gue kejar dengan jam kerja yang menggila seperti itu? Dan apa sebetulnya yang bisa gue dapatkan terutama kalau pada akhirnya, pekerjaan gue tetap saja selesai terlambat…

Bekerja lembur sebetulnya bukan hal baru buat gue. Tapi kerja lembur yang terasa membebani, kerja lembur yang sebetulnya tidak ikhlas gue jalani, serta kerja lembur yang sering membuat gue ngerasa sendiri… semua itu benar-benar hal yang baru terjadi dalam hidup gue. Sehingga kadang, gue jadi ngerasa kangen sama suasana kerja lembur waktu masih di EY… Kerja lembur yang sesekali diselingi acara curhat atau sekedar ngobrol ngalor ngidul sampe pernah, berjam-jam gue dan teman gue lewati hanya untuk ngobrol ini-itu, sampai tanpa terasa, pagi hari sudah datang menjelang…

Sebetulnya gue juga enggak yakin… apakah semua rasa tidak nyaman ini berasal dari pekerjaan. Dan rasanya agak-agak tidak pantas kalau gue menyalahkan semua ini kepada pekerjaan. Gue punya pekerjaan yang baik, prestasi yang baik terutama untuk ukuran orang yang baru berusia 25, gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, gue bisa bilang dia itu bos terbaik yang pernah gue punya… Belum lagi teman-teman yang makin lama terasa makin dekat sama gue, yang suka tiba-tiba nraktir gue mulai dari es jeruk, es kelapa muda, Come Buy, sampe makan bimbimbap di Han Gang, serta teman-teman yang sabar menghadapi kejudesan gue dan seorang teman yang kebaikan hatinya suka bikin gue terkejut…

Ada seorang sahabat yang bilang… mungkin gue hanya perlu istirahat. Mungkin gue hanya merasa lelah setelah harus menyelesaikan begitu banyak masalah sejak hari pertama gue mulai bekerja. Atau mungkin, gue hanya butuh ketetapan hati untuk meninggalkan apa yang saat ini sudah gue miliki untuk sesuatu yang lebih baik lagi…

Jadi singkatnya, gue butuh lepas sejenak dari pekerjaan gue. Butuh bersenang-senang, supaya setelah itu, gue bisa berpikir jernih… tentang apa yang terbaik buat gue, serta tentang apa yang sebenarnya saat ini gue ingini…

Kebetulan hari Senin gue dan keluarga akan pergi liburan. Nggak jauh-jauh, cuma ke Singapura 3 hari 2 malam. Tujuan utamanya sudah pasti Universal Studio. Dan seperti biasa, gue selalu menyukai amusement park. Terlepas dari amusement park, gue selalu menyukai aktivitas traveling. Gue suka berada di tempat baru, melihat suasana kota yang jauh berbeda dengan Jakarta, suka berfoto ria di tempat-tempat yang sebelumnya hanya gue lihat di lembar buku atau layar kaca… Dan semua itu, selalu membuat gue ngerasa bahagia.

So yes… I hope that the upcoming holiday, will definitely make me feel better. Happy holiday for me then 🙂

Working As an Auditor Vs Company Accountant

Pernah punya pengalaman sebagai auditor dari level staff sampai senior, serta pengalaman sebagai company accountant di level supervisor sampai manager, rasanya udah bikin gue jadi cukup eligible untuk membuat tulisan ini. Tabel perbandingan di bawah ini gue buat murni berdasarkan pengalaman pribadi. Hal yang sama persis belum tentu pernah terjadi untuk orang lain terutama orang-orang yang bekerja di jenis perusahaan yang berbeda. Tulisan ini gue buat bukan untuk membandingkan mana yang lebih oke, atau lebih menyenangkan, atau lebih menjanjikan… Tulisan ini hanya sekedar input bagi para alumni jurusan akuntansi yang sedang bingung memilih karier, atau mungkin, buat para auditor yang ingin ganti haluan menjadi company accountant. Selamat membaca!

 

Auditor

Company Accountant

Cuma punya satu maha-deadline: rilis audit report. Hampir setiap hari, selalu saja ada deadline baru, dan hampir semuanya deadline penting!
Selama gue kerja di EY, belum pernah satu kalipun gue berhasil rilis report persis atau lebih awal dari tanggal yang sesuai dengan timetable. Hal itu sih udah biasa, dan enggak pernah berdampak negatif sama karier gue. Telat submit report = you’re so dead… bisa berefek negatif ke KPI gue.
Boleh datang terlambat… yang penting dalam satu hari, jam kerja minimal tetap 8 jam. Nggak boleh datang telat… walau malam harinya habis kerja lembur.
Sebagian besar auditor pasti mengalami masa low season setiap tahunnya, biasanya di pertengahan tahun. Tidak pernah ada istilah low season, tapi tetap ada istilah peak season dari bulan Desember sampai bulan Februari tahun berikutnya.
Nggak usah pusing-pusing mikirin training… sudah ada yang mengatur urusan ini. Harus mikir sendiri… butuh training apa dan di mana?
Punya budget cuma dalam bentuk chargeable hours saja. Enggak usah pusing-pusing mikirin strategi untuk menghemat uang perusahaan. Harus pandai mengatur uang perusahaan… serta dituntut untuk berpikir bagaimana caranya agar perusahaan mendapatkan laba sesuai target.
Jarang terima e-mail tentang pekerjaan… Dulu waktu jamannya BB belum populer, inbox e-mail kantor lebih banyak diisi dengan e-mail lucu/unik/mengharukan daripada e-mail yang berhubungan dengan pekerjaan. Ada banyak e-mail yang harus dibalas! Makin tinggi jabatan, makin banyak e-mail.
Bekerja dalam tim yang relatif kecil. Meskipun kerja di KAP besar, dalam satu tim audit untuk satu perusahaan pasti jumlah auditornya tidak terlalu banyak. Perusahaan gue hitungannya perusahaan menengah atas yang sedang berkembang pesat… Ukuran timnya pun relatif lebih besar. Belum lagi harus kerja bareng orang-orang dari divisi lain juga.
Bekerja berdasarkan peraturan baku… tentang bagaimana praktek yang seharusnya. Harus fleksibel… Kenyataannya, praktek itu jauh lebih sulit daripada sekedar teori.
Kurang memiliki pemahaman tentang operational details. Auditor yang tiba-tiba mau bikin perusahaan sendiri pasti masih harus belajar banyak hal baru. Jadi banyak tahu hal-hal kecil, termasuk tips dan trik, tentang menjalankan sebuah perusahaan.
Pakai accounting system hanya sebagai viewer atas report yang sudah jadi. Pakai accounting system untuk kegiatan operasional sehari-hari. Harus benar-benar paham seluk beluknya supaya saat terjadi masalah, bisa dicari pemecahannya.
Saat akan rilis report, akan ada banyak reviewer, mulai dari senior, manager, sampai partner. I am the only one reviewer. Setelah itu, direksi cuma sebagai user yang terima beres. Pasti ada review dan koreksi dari CFO, tapi tidak mendetail.
Kalau bekerja di KAP besar, terkadang kenaikan gaji bisa jadi kejutan besar. Kenaikan gaji setiap tahunnya tidak terlalu signifikan, kecuali kalau baru dapat promosi. Bisa naik 10% saja sudah termasuk bagus banget lho.
Jam kerja relatif gila… Bisa lewat dari jam 12 malam setiap harinya selama peak season. Lebih jarang kerja lembur, kecuali saat periode reporting.
Agak sulit kerja jadi auditor sambil ambil kursus, kuliah, atau ikutan social community. Lebih fleksibel untuk cari aktivitas lain di luar pekerjaan.

Lately Working Madness

Bulan November 2011 sampai Februari 2012 benar-benar jadi bulan yang super-duper bikin gue capek dan kewalahan. Gimana nggak capek kalo dalam satu waktu gue harus ngurus 2 company sekaligus? Harus handle auditor di 2 company sekaligus, harus ngurus 2 report sekaligus, harus mecahin masalah di 2 company sekaligus… Satu kantor di Gunung Putri Bogor, satu lagi di kawasan CBD Pluit…

Here is the summary of my lately working madness

  1. Untuk pertama kalinya selama 4 tahun gue bekerja, baru sekarang ini gue mengalami dalam satu kali automatic refresh, bisa muncul 3 sampai 10 e-mail baru sekaligus di inbox gue. Dan yang paling menyebalkan, hampir semua e-mail itu sifatnya urgent, harus langsung dibalas!
  2. Saking banyaknya kerjaan (yang disela telepon/YM/e-mail yang bertujuan tanya-tanya soal kerjaan, atau disela orang-orang yang masuk ke dalam ruangan buat tanya-tanya soal kerjaan juga), sampe saat makan siang pun, gue tetep makan sambil menatapi layar laptop. Thank God that woman is multitasking;
  3.  Tiap hari pulang tengah malam itu sih udah biasa lah ya… Tapi yang luar biasa adalah, besokannya gue harus bangun jam setengah 5 pagi supaya bisa sampe kantor on time jam 8 teng! Gila yaa… waktu gue masih kerja di EY, kalo malemnya lembur, besokannya gue boleh dateng siang. Sayangnya di kantor baru, si bos dengan santainya bilang begini, “Ya ini kan bukan EY…” Udah susah payah bangun pagi, nyatanya sepanjang tahun 2011 kemarin, gue dapet rangking 3 buat urusan keterlambatan 😦
  4. Kalo lagi harus ngantor ke Pluit a.k.a harus bangun dan berangkat lebih pagi dari rumah di Bekasi, gue selalu mandi dengan mata masih setengah tertutup. Begitu masuk mobil… zzz, gue tidur lagi di jok tengah sampe keluar tol Jembatan Tiga. Lalu saat dijemput malam harinya, begitu masuk mobil, gue langsung nyari bantal dan zzz… tidur lagi sampe mobil udah diparkir di garasi rumah;
  5. Sebetulnya gue paling pantang tidur di kantor di depan atasan, tapi kali ini, berhubung udah nggak tahan, begitu jam istirahat, gue pernah dengan cueknya tidur dalam posisi duduk. Padahal yaa, kalo di kantor Pluit, gue duduk satu ruangan sama direktur gue lho. Ngelihat gue kecapekan, si bos malah ketawa, “Ya udah, saya udah mau keluar nih, kamu tidur aja cari posisi yang enak, kan saya enggak lihat.” Sambil ngomong begitu, si bos sambil ganti lampu terang ke lampu yang lebih redup… katanya supaya tidur gue lebih nyenyak;
  6. Kalo lagi super capek, kaki gue jadi suka kram di malam hari. Biasanya, kram itu bakal bikin gue meringis dan nggak bisa tidur sampe kramnya hilang. Tapi sekarang, karena capeknya udah melewati batas, ketika kram itu kumat di saat gue lagi tidur, gue malah mikir gini, “Bodo amat deh kram lagi, gue ngantuk!” Dan zzz… gue tidur lagi sampe pagi;
  7. Entah kenapa belakangan ini, kalo lagi capek dan kurang tidur, suhu tubuh gue terasa lebih hangat daripada biasanya… Nggak selalu pusing atau apa, ya cuma terasa hangat aja. Aneh…
  8. Selama kerja di EY, gue berhasil mempertahankan prinsip untuk enggak nyentuh kerjaan di hari Minggu. Begitu resign dari EY, gue bertekad kali ini, hari Sabtu pun gue enggak akan menyentuh pekerjaan. Tapi nyatanya, jangankan hari Sabtu, hari Minggu pun gue masih nongkrong depan laptop sampe tengah malem buat nyelesain kerjaan yang seolah nggak ada habisnya itu 😦
  9. Makin capek, bawaannya makin sensiii. Untunglah gue punya teman-teman kerja yang pengertian. Kalo gue udah mulai ngoceh, mereka malah suka ngisengin gue supaya enggak terlalu tegang. Tapi pernah juga pas gue udah super-duper capek setengah mati, saat marah bukannya ngoceh, gue cuma menghela napas dengan muka cemberut, abis itu buang muka atau balik badan lalu beranjak ke tempat lain. Seems like I’m more dangerous when I’m silent, hehehehe;
  10. Jadi suka emosi sama temen-temen yang suka nggak bales message gue dengan alasan sibuk. Lho, dikiranya cuma mereka doang yang lagi sibuk kerja? Masalahnya ya, justru tipe orang yang begitu itu yang paling suka heboh kalo gantian gue yang telat bales. Kesannya kok kayak orang paling penting sedunia gitu…
  11. Gue kerja sampe nggak sempet gunting kuku, potong rambut, belajar nyetir… tapi kalo buat urusan belanja, herannya tetep selalu ada waktu tiap minggunya, hehehehehe;
  12. Status YM jadi busy melulu, bahkan di hari Sabtu dan Minggu… Kadang kalau lagi benar-benar dikejar deadline, gue sampe enggak punya waktu buat ganti logo available ke logo busy di YM yang automatic sign in setiap kali laptop gue nyala itu…
  13. Berkat super sibuk kayak gini… ortu jadi pengertian. Tiap hari gue pergi kerja masih dianter-jemput dan enggak pernah disuruh buru-buru belajar nyetir sendiri, hohohohoho, menyenangkan 🙂