My Whole Life is a Lesson to Love the Others

Recently I realize… I’ve been learning how to love others since the day I was born thirty years ago. I’ve learned how to love as a daughter, a sister, a friend, a colleague, or as a girl who falls in love.

I’ve learned how to tell people how I feel, knowing that silence is in fact not always golden.

I’ve learned to accept that I’m not perfect, and neither is anyone else.

I’ve learned to fight for the people I love, I even fight myself just to keep that feeling alive inside my heart.

I’ve learned to never give up easily on the people I care about.

I’ve learned to not forget someone’s else good deed just because one mistake they did.

I’ve learned that to love is to take and to give, equally, and to love is to be less selfish than I once was.

I’ve learned to give people their second chances. 

I’ve also learned how far I should go knowing that I should also love myself enough to walk away everytime I realize I deserve better.

I’ve learned to forgive, to let go, and be okay with it.

I’ve learned to heal myself from a heartbreak and to love again. To believe in humanity, again.

I’ve learned how blessed and loved that I really am. And I cannot ask for more.

Pasar Malam Pinggir Jalan

Beberapa kali dalam sebulan, ruas jalan di depan kosan gue langganan dipakai untuk menggelar semacam pasar kaget. Pedagang pakaian, aksesoris, mainan, jajanan pasar, dan bahkan ada juga wahana sederhana untuk anak-anak kecil. Pasar malam di tengah kota Jakarta yang sangat sederhana tapi tidak pernah sekalipun tampak kekurangan pengunjung.

Suatu malam, gue melewati pasar dadakan itu di perjalanan pulang menuju kosan. Dari dalam taksi, gue melihat keluarga kecil berjalan bergandengan. Si anak terlihat gembira dengan balon merah di tangan kanannya. Begitu pula raut wajah ayah dan ibunya. Mereka bertiga tampak sangat bersemangat melihat-lihat barang dagangan yang digelar di sepanjang jalan.

Hanya begitu saja, hari gue saat itu menjadi lebih baik dengan sendirinya. Gue masih saja sering lupa… bahagia itu sederhana. Sesederhana menikmati malam bersama keluarga. Atau sesederhana berbahagia melihat kebahagiaan orang lain.

Sejak malam itu, perjalanan melewati pasar malam yang awalnya terasa menjengkelkan saking ramainya, berubah menjadi terasa menyenangkan. Gue seperti menemukan satu lagi alasan kecil untuk bisa berbahagia.

Find your happiness, start from the little things.

The People I Need in My Life

One of the greatest lessons I learned from getting  older is to learn the things I like, want, and need for my own life. I’ve come to learn quality over quantities, and it includes the people that I need to have around.

I don’t need a thousand friends on my social media, I only need a smaller circle of people who truly care.

I don’t need dozens of social event invitations, I only need unforgettable moments with the loved ones.

And I don’t need a bunch of bride maids on my wedding day, I only need a couple of best friends who are always there in my ups and downs.

Why can’t I have all of that with more of people in my life? Because it takes a great amount of effort just to have a few of them in a longer run and that makes all of them very hard to find!

And why did I say they were hard to find? What precisely do I need from the people that count to me?

Here’s the short list!

  1. I need the people who is genuinely happy for me when my life is up on the sky (and not the ones who let their envy consumes themselves);
  2. The people who is genuinely upset when my life knocks me down (and not the ones who are secretly happy to see me fail);
  3. The people who think of my problems as if it were theirs;
  4. The people who can keep my secrets carefully;
  5. The people who never get bored with the stories and problems I share with them repeatedly;
  6. The people who always reply my text, even the not so important ones (and just because they understand it’s really important for me);
  7. The people who are always willing to forgive my flaws;
  8. The people who still believe in me and capable to see my lights even in my darkest times;
  9. The people who are always in my corner (even when I’m doing all the wrong things in public); and
  10. The people who make time for me, no matter how busy they are.

What makes it even more difficult? Because when I know how hard they try to do all that for me, I will also put my very best effort to do all that for them back. That’s why I said; quality over quantities. I would rather to spend my times and energy to the ones that really matter.

It would be great if you can have dozens of people like that in your life, but to me, I’m beyond grateful just to have a couple of them. I don’t know what I ever did in my past that makes me deserve every single one of them. Not only they are the people I need, they’re also the people I want and I love to have to be a part of my life. I hope, I really hope, we’re going to have each other for the rest of our life.

What If?

So I’ve been on something big, like really really big, in the past couple of months… and I’ve started to doubt myself.

Am I really going to do this?

Do I really know how to do it all?

Do I really have what it takes to make it happen?

Tried to treat myself a movie to distract me from all that crazy thoughts, but here I am… sitting on a wooden bench in Starbucks, wandering and still wondering all the things I’ve done to pursue this one big dream.

I know that I’m not a coward, I’ve never been one in my entire life, but still… doing what I’m doing at this age is beyond brave! What made me think I could survive this one too? It’s gonna change my life, but what if, it’s not gonna change my life in a good way?

I’m actually a believer that if I believe I will, then I will. But what if I’m wrong this one time? What if I’m wrong and I miserably fail? 

I really want to tell you that I go back home 100% sure that I will be just fine. But the truth is, I’m still doubting myself. Yes, I doubt myself, but make no mistake, it doesn’t mean I no longer believe in me. 

Yes, I might be wrong, BUT… what if I’m right? What if I’m right and I can make it all happen?

I don’t know, and neither does anyone else. I’ll never know, unless I try. Hence at least for now, if I believe I will, I will. Insyaallah.

Harus Dibedakan: Saran VS Hinaan

Entah kenapa, banyak dari kita yang lebih “mendengarkan” hinaan daripada saran yang membangun. Saat dihina: langsung dimasukkan ke dalam hati. Tapi saat diberi saran: masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.

Padahal seharusnya, kita hanya boleh mendengar saran, dan tidak perlu menerima hinaan apapun dan dari siapapun.

Bagaimana cara membedakan saran, masukan, dan nasehat dengan hinaan?

Saran diucapkan dengan tenang, secara konstruktif, dan atas niat membawa kebaikan untuk orang yang bersangkutan.

Sedangkan hinaan diucapkan berbarengan dengan amarah, secara menggebu-gebu, atas niat menyudutkan objek yang sedang dibencinya.

Saran yang konstruktif bisa jadi memang benar cerminan dari diri kita sebagai penerima saran, lain halnya dengan hinaan yang bisa jadi hanya luapan emosi dari orang yang mengucapkannya.

And don’t you know? Hurt people will tend to hurt another people.

Orang yang sedang sakit hati, atau sedang bermasalah dengan diri dan hidupnya sendiri, disadari atau tidak, cenderung berpotensi melukai orang-orang di sekitar mereka. Malah dalam kasus-kasus tertentu, hinaan mereka itu bukan hanya sekedar luapan emosi mereka saja, tapi juga cerminan atas kekecewaan mereka terhadap diri dan hidup mereka sendiri. Itulah sebabnya, saat mereka sedang marah, tidak selamanya kita punya andil dalam kemarahan mereka itu. Dan kalaupun ada, biasanya mereka hanya membesar-besarkan masalah kecil saja.

So maybe… it’s not you, it’s just them.

Kenapa gue bisa sangat yakin dengan teori gue ini? Karena gue juga pernah melakukan keduanya: memberi saran dengan niat untuk menolong, pernah pula mengucap hal buruk hanya karena terlarut dengan emosi yang sedang meluap. Saat gue memberi nasehat, tidak ada salahnya untuk didengar, tapi saat gue menyindir atau bersikap sinis, tolong tegur dan ingatkan. Dan jangan dimasukkan ke dalam hati! Gue tidak bermaksud demikian, jangan dengarkan isi kalimat yang bahkan langsung gue sesali segera setelah gue ucapkan. Jangan dengarkan sindiran yang pernah keluar dari mulut gue di saat gue sedang berada dalam titik terburuk gue. Orang yang tengah meluap emosinya bukan orang yang berada dalam posisi terbaik untuk memberikan meski hanya sepotong nasehat.

Bedakan saran dengan hinaan. Belajar menerima saran sama pentingnya dengan belajar untuk tidak menggubris hinaan. Jangan merugikan diri sendiri dengan terus menolak saran dari orang yang peduli, serta jangan pula merugikan diri sendiri dengan membiarkan hinaan orang lain mengkonsumsi pikiran dan energi dalam diri kita ini.

Be smart enough, and you’ll be more than just fine.

My Appreciation to Gojek

Entah kenapa, dua minggu belakangan ini gue sedang malas-malasnya pergi keluar rumah. Badan gue rasanya luar biasa pegal dan capek banget! Belum pernah tempat tidur gue terasa sampai sebegitu nyamannya. Bantal terasa lebih empuk, selimut lebih lembut, sampai AC yang temperaturnya tidak bisa diatur itu mendadak terasa pas untuk menemani gue tetap tidur di akhir pekan. 

Masalahnya cuma satu: gue kehabisan bedak padat. Sudah 2 weekends plus 1 hari libur nasional terlewati, gue masih saja belum menyempatkan diri pergi ke Grand Indonesia; mall terdekat yang menjual bedak gue itu. 

Gue mulai bingung. Hari Rabu minggu ini gue berangkat ke Vietnam untuk urusan pekerjaan. Apa jadinya gue pergi tanpa bedak? Tapi tetap saja, pikiran harus meninggalkan kasur hanya untuk pergi beli bedak terasa bukan ide yang menyenangkan. Pikir gue, “Minggu ini akan bikin capek banget! Harus submit beberapa reports sebelum pergi ke Vietnam dan selama di sana, pagi sampai sore ikut summit, lalu malamnya pasti harus kerja di hotel untuk handle urusan di Jakarta sini. Pulang dari Vietnam hari Minggu sore dan besoknya harus kerja lagi!”

Lihat kan? Lebih baik gue tetap tidur di rumah saja! Lalu bagaimana dengan bedak gue? Ah… Beli pakai aplikasi Gojek saja!

Awalnya gue ragu-ragu mau beli bedak pakai fitur Go-Shop. Cash di dompet hanya ada dua ratus ribu sedangkan harga bedak gue bisa lebih dari lima ratus ribu. Bisa pakai Go-Pay, tapi masalahnya, jarang ada driver yang mau ambil order Go-Pay dengan nilai sampai setinggi itu. Tapi ya gue coba saja dulu. Sambil tunggu aplikasi Gojek cari driver-nya, sambil gue menyusun back-up plan jika sampai tidak ada driver yang bersedia ambil order gue. Tapi ternyataa, tidak butuh waktu lama sampai ada driver yang ambil order gue!

Gue sempat khawatir si driver ini akan cancel order gue. Udah lima menit lebih tidak ada SMS atau telepon dari si driver. Jadi ya sudah. Gue SMS dia duluan untuk menjelaskan lokasi toko kosmetiknya. Nggak lama si driver telepon dan meminta gue untuk konfirmasi warna bedak langsung ke SPG-nya. Tidak sampai setengah jam kemudian, bedak gue sudah tiba di kosan! Persis sesuai pesanan yang gue tulis di aplikasinya.

Beres urusan bedak seperti mengingatkan gue betapa gue mulai sangat tergantung dengan aplikasi ini. Jalanan macet dan malas naik taksi, gue tinggal pesan Go-Ride. Malas ke salon untuk potong rambut, gue pesan Go-Glam. Shampo yang baru gue beli ketinggalan di rumah nyokap, gue ambil pakai Go-Send. Dan yang paling sering, malas keluar cari makan, gue pesan pakai Go-Food saja! Berkat Go-Food, gue jadi lebih banyak makan daripada sebelumnya! Banyak pilihan yang bisa gue coba setiap harinya! Walau anehnya, badan gue tetap saja kurus seperti biasanya sih. 😐

Selain fitur yang sudah pernah gue coba, gue masih pengen coba Go-Massage. Pengen cobain hot stone massage-nya. Lalu kapan-kapan mau coba make-up plus hijab styling-nya juga! Trus nanti pas Lebaran, mau coba pesan Go-Clean juga. Gojek sudah sangat lengkap buat gue, kecuali untuk urusan alis; masih belum ada jasa eyebrow wax atau threading di menu Go-Glam-nya. Gojek, please hear me out!

Saking terkesannya sama Gojek, gue iseng-iseng Googling si Nadiem Makarim dan berakhir di Instagram-nya. Cuma sedikit foto, entah benar punya dia atau bukan, yang sudah dihujani komentar dari unhappy customers dan bahkan, banyak juga komentar dari unhappy drivers!

Emang sih, gue enggak kerja di Gojek. Tapi gue bisa memahami sulitnya menjalankan online business skala besar. Semakin banyak transaksinya, semakin canggih fitur yang ditawarkan, semakin tinggi pula potensi terjadinya system error. Not an excuse, but understandable. Gue percaya Gojek tidak berniat menelan dana Go-Pay nasabah yang gagal top-up, gue yakin itu hanya system glitch saja. Perusahaan tempat gue bekerja juga terkadang bisa terlambat melakukan refund, tapi hal itu betul-betul bukan sesuatu yang disengaja, bukan pula dilakukan untuk cari untung dengan mengambil dana milik customers. It’s not easy to run an e-commerce, but it’s fun!

Balik ke Gojek, gue senang dan merasa sangat terbantu dengan aplikasi ini. Tarifnya juga bersahabat, sangat bersahabat, sehingga kadang gue penasaran, “Kalau tarifnya terus serendah ini, gimana kalau suatu saat nanti Gojek sudah tidak lagi mendapatkan suntikan dana? Bagaimana cara mereka bisa survive? Oh, well… I guess that is Gojek’s homework! 😉

Berkat Gojek, hari ini gue bisa santai-santai seharian. Makan, tidur, makan lagi. Nonton TV kabel, ketawa-tawa sendirian, sambil makan lagi 😀 Ada banyak definisi hari yang menyenangkan, dan hari ini salah satunya. And I thank Gojek for this! Hehehehe.

Great job, Gojek! Keep it up!

When Was the Last Time I Cried?

Last night, I had a headache when I still had to work on something in the office. I decided to take a rest on the couch for a while. Right when I closed my eyes, in between of asleep and awake, I asked myself, “When was the last time I cried?”

I couldn’t find the answer. It’s been a day and I still can’t seem to remember the right answer. It must have been so long time ago and somehow, that surprises me!

I’ve just gone through what I call as the hardest months of my life and I didn’t shed the tears, not even once!

My best friend betrayed me and so did some other people I relied on. Someone whom I thought I had something with surprisingly told me that I was wrong and that he only admired me as a person. Endless long nights in the office and many other real life dramas I never thought would ever happen to me.

As I started to see the light at the end of the tunnel, I wondered and I asked myself, “How could I be so strong?”

I can’t really find just one good answer to that question.

Maybe, it’s because I’m happier with my life so that I refuse to let anything take the happiness away from me.

Maybe, I’ve come to learn a lot about life, about people, and about myself. I know that just because I made mistakes, it doesn’t mean I deserved all the disappointments. I don’t need to be too hard on myself.

Maybe, it’s also because all these events have helped me to find out who really matters in my life. It helped me to distinguish the best friends and the enemies. It even helped me to build a stronger bond with the people who trully care about me.

Or maybe, it’s only because I realize, and I’ve accepted, that my life will never ever be perfect. I have so many things to be thankful. I’m living a life I always wanted for myself. And I’ve worked so hard, so damn hard, to be who I am right now. I’m not perfect, my life is not perfect, but that’s okay.

So maybe, just maybe, all the reasons above have made feel like I didn’t have any reason to cry. I will cry when I lose my real friends and families, but the people who didn’t even care about how I feel? Are they worth crying for? Well, I don’t think so!

Some people I know are too scared of growing old. But me? I enjoyed being a 30’s! At the end of the day, it’s the life experience that teaches me how to survive and to stay happy all along. And it took times until I got it right! I’m glad that I’m no longer a young lady crying alone in an empty office in the middle of the night! I’m glad that not only I’m getting older, but also that I’m growing as a person.

Pick your problems. Pick your reasons to cry. And you’ll be just fine. Insyaallah.

The Next Big Thing: My Dream Life!

I’m grateful with all I have. Really. It’s just that at this point, it feels like I’ve reached the end. If God permits, I do have chances for some more promotions at work. I will still travel the world; one new place in a time. I will still do what I’ve been doing since the past years, but that’s that. I’ve spent too many times in between of my office walls, the same walls, day and night, over and over.

But don’t get me wrong. It’s not about my job. It’s my life in general. I really need to do the things I never did before. I want to pursue all those forgotten dreams. I want to start a new life, a new challenge, a new set of stories to tell! I know that I’m living my dream but I want to start a new dream!

What do I want precisely? How do I describe the next dream life of mine?

I want to travel to work. Go somewhere and make business out of it. I want to expand my business meetings from the high rise building walls to somewhere out there. A business meeting by the beach? That would be lovely!

I want to make a living from something that I really love, inside out! I want to do the things I’m always passionate to do! I want to have not only a dream job, but also a dream career!

I want to wake up in many beautiful places on earth. In some days, I only want to sit with a laptop on my lap, writing my novel until late at night. I can picture myself sitting on a deck with a mountain view right in front of me!

I want to have enough times to pursue my study. I’m craving to learn. To compete with who I was yesterday!

I want to meet a bunch of new people. Expand my networks and hear more varieties of life stories. A lot more than just a corporate drama!

I want to have enough times to pamper myself. To be who I really want to be. I want to make sure that I’ll have it all done before I die!

Does it sound too good to be true? I don’t think so… And I hope it’s not too good to be true! This time, just one time in my life, I want to challenge myself to do the impossible. And I hope, this time too, God will bless my path along the way. Like He always does. Hope He always will.

My new dream life: here I come!

The Digital Era, Is It Good or Bad?

Semakin ke sini, gue semakin sering menemukan meme yang menyindir budaya digital masa kini. Masalah orang-orang yang tetap main hp saat sedang berkumpul dengan teman-teman dan keluarga. Soal posting foto makanan, liburan, OOTD, dan lain sebagainya. Belum lagi budaya belanja yang sudah banyak tergantikan dengan belanja online. Dan satu lagi: soal anak-anak balita yang sudah jago main iPad!

The question: is it a good thing or is a bad thing?

Gue tipe orang yang meyakini bahwa teknologi itu sesuatu yang baik untuk hidup gue ini. Tidak terbayangkan jika gue harus hidup tanpa smart phone dan sinyal internet!

Contohnya?

Gue tidak terbayang harus berpergian tanpa hp. Duduk bosan menunggu kemacetan Jakarta yang hanya reda saat Lebaran saja.

Tidak terbayang hidup tanpa Whatsapp… Biaya silaturahmi dengan keluarga dan teman-teman akan jadi jauh lebih mahal! Ingat berapa banyak pulsa yang harus kita habiskan untuk SMS dan telepon di jaman dulu itu?

Tidak terbayang hidup tanpa social media… Gue pasti sudah putus kontak dengan begitu banyak teman SMA (kesibukan kerja tidak memungkinkan gue untuk rajin bertukar kabar dengan semua orang!). Mungkin gue tidak akan pernah tahu kabar mereka, sudah punya anak berapa, kerja di mana dan lain sebagainya!

Tidak terbayang hidup tanpa online stores… Berkat online stores, gue tidak perlu pergi keliling mall hanya untuk mencari barang yang gue butuhkan. Gue bahkan bisa belanja lebih hemat karena bisa dengan mudah membandingkan harga antar toko sebelum pembelian!

Tidak terbayang hidup tanpa Gojek. Mau pesan makan harus repot-repot angkat telepon, berlama-lama mengeja alamat dan menyebutkan pesanan… Belum lagi, tidak semua restoran menyediakan layanan pesan antar!

Tidak terbayang hidup tanpa digital books… Kamar gue pasti sudah penuh dengan tumpukan buku dan majalah yang berdebu. Lihat saja koleksi manga gue di rumah ortu gue itu! Rak buku gue sampai melengkung karena kelebihan beban…

Sama halnya dengan digital music and movie… Sudah tidak usah pusing dengan pita kaset yang kusut atau permukaan disc yang lecet, tidak usah pula berlama-lama berdiri di toko hanya untuk mendengarkan musik yang ingin gue beli.

Tidak terbayang pula kalau gue tidak punya camera phone. Gue tipe orang yang senang mengabadikan suatu momen dalam gambar. Repot banget kalo cuma hangout bareng teman-teman sekantor saja mesti bawa SLR!

Belum lagi sederet aplikasi lain yang sangat bermanfaat di hp dan laptop gue! Aplikasi untuk menghilangkan orang asing yang berdiri di photo background gue hanya dalam hitungan detik, bermacam aplikasi untuk jadi reminder gue yang pelupa ini (mulai dari shopping list sampai pengingat waktu tidur), dan masih banyak lagi!

Lihat kan? Teknologi itu tidak selalu buruk. Ada plus-minusnya, tapi gue tetap merasa jauh lebih banyak manfaatnya. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Yang gue sebutkan di atas hanya sebatas kehidupan pribadi lho ya, isi daftar gue akan jauh lebih panjang lagi jika sudah menyangkut urusan pekerjaan! Sudah tidak terhitung berapa banyak teknologi telah mempermudah pekerjaan gue. Mulai dari sekedar Excel, ERP, database query, sampai dengan berbagai automation lainnya! Menurut pendapat gue, jaman sekarang ini akan sulit untuk berkompetisi dalam dunia kerja jika kita masih saja gagap teknologi!

Manfaatkan teknologi, dan bukan sebaliknya! Dan tetap benar juga, jangan sampai terlalu asyik dengan dunia maya sampai malah jadi lupa dengan dunia nyata. Lalu yang paling penting: jadilah pengguna teknologi yang bertanggung jawab! Ambil manfaatnya, tapi jangan berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan, sebaik apapun itu, tetap tidak akan baik untuk diri kita ini.

Selamat hari Senin dan selamat menikmati teknologi masa kini!

Kenapa Orang Jujur itu Sulit Ditemukan?

Beberapa waktu yang lalu, gue pernah dengar salah satu kenalan yang bilang begini, “Di Indonesia ini, banyak orang taat agama. Rajin ibadahnya. Banyak amalnya. Tapi enggak tahu kenapa, enggak banyak orang yang jujur sifatnya.”

Semakin ke sini, semakin gue membenarkan teori teman gue itu. Orang yang sangat takut dengan dosa pun, entah kenapa, bisa-bisanya tidak merasa takut untuk berbohong. Saking banyaknya orang yang suka berbohong, gue sampai nyaris tidak lagi menganggap suka berbohong sebagai kekurangan dalam sifat orang lain.

Lalu bagaimana dengan teman gue itu sendiri? Termasuk orang jujur kah? Well… enggak usah jauh-jauh menilai orang lain. Diri gue sendiri pun, harus gue akui, tidak benar-benar 100% jujur.

Ada kalanya, gue sedikit berbohong untuk menyelamatkan orang lain. Berbohong untuk mendamaikan dua kubu yang sedang bertengkar, atau setidaknya, supaya keadaan di antara mereka tidak semakin buruk. Atau sedikit berbohong dalam rangka “damage control“.

Kadang, gue merasa tidak ada yang salah dari white lies gue itu. Tapi lebih seringnya, gue menyesal dan balik mempertanyakan diri gue sendiri. Apakah memang benar ada yang namanya berbohong untuk kebaikan? Jika iya, demi kebaikan siapa persisnya?

Jika dibilang untuk kebaikan diri gue sendiri, khawatirnya, lama-kelamaan gue jadi kebiasaan. Satu kebohongan kecil bertumbuh menjadi besar. Sampai lama-lama, satu kebohongan harus selalu ditambal dengan kebohongan lainnya. Itukah jenis “kebaikan” yang gue inginkan untuk diri gue ini?

Coba kita pikirkan kembali. Kenapa kita berbohong?

Saat berbohong di kantor misalnya. Apa benar demi kebaikan tim, atau hanya demi melindungi karier kita semata? Hanya karena takut kena marah bos, atau yang lebih buruk, takut kena SP, misalnya?

Atau saat kita mengarang cerita. Apa benar hanya sekedar seru-seruan, atau sebetulnya, ada kah masalah serius di balik kebohongan yang kita ucapkan itu? Bukankah mengarang cerita seru sama artinya kita tidak punya cukup banyak hal dalam hidup yang bisa kita banggakan? Bukankah itu artinya kita harus bekerja lebih keras untuk membahagiakan dan membanggakan diri kita sendiri?

Dalam kasus gue, berbohong untuk damage control. Oh God, this is really the worst! Ini yang gue maksud bisa berujung menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya! Meskipun niatnya mulia, rasanya benar-benar tidak mengenakkan deh!

Jangan biasakan berbohong. Mulai kendalikan diri dari ucapan-ucapan bohong, mulai dari hal yang paling kecil sekecil-kecilnya. Jangan sampai hal-hal baik dalam diri kita di kemudian hari tertutup begitu saja hanya karena satu kebohongan yang terbongkar di depan orang lain.

Tips terakhir dari gue: belajar jadi orang yang pemberani. Banyak kebohongan yang lahir dari rasa takut. Jadilah pemberani. Berani mengutarakan isi pikiran, berani melakukan hal yang benar, berani mengakui kesalahan, berani mengakui ketidaksempurnaan, dan berani meminta maaf ketimbang mangarang alasan yang hanya akan buat orang lain tambah kesal!

Why should we lie if we have a truth to tell? Be brave enough to tell the truth, and only the truth.