We Learn How to Love from The Hearts We Broke

Beberapa waktu yang lalu, gue ikut games di acara office gathering. MC mengajukan pertanyaan dan peserta diwajibkan menjawab pertanyaan itu dengan cara bangkit berdiri atau tetap duduk.

Salah satu pertanyaannya, “Bagi kamu yang pernah bikin orang lain patah hati, dipersilahkan berdiri.”

Ruangan dipenuhi dengan tawa, dan cukup banyak orang yang menjawab pertanyaan dengan cara berdiri. Gue hanya tertawa geli, sambil tetap duduk. Salah satu teman menunjuk ke arah gue sambil bilang, “Eh elo kok enggak berdiri, Rif?”

Sejak itu gue jadi berpikir… pernah kah gue bikin orang lain patah hari?

Pernah. Gue tahu gue pernah bikin orang lain jadi patah hati. Dan jujur, ada beberapa tingkah laku gue saat itu yang membuat gue menyesalinya.

Apa saja?

Gue menyesal pernah tiba-tiba kabur ke rumah tante saat gue sudah setuju untuk pergi nonton bareng cowok yang waktu itu sedang dekat dengan gue. Saat dia datang menjemput dan gue tidak di rumah, dia kirim SMS, dan gue tidak membalasnya. I knew that I should have texted him before he came, but I didn’t. I hated confrontation and I wanted him to just disappear… and that was actually cruel.

Gue menyesal pernah sengaja tidak membalas SMS, YM, dan tidak mengangkat telepon gebetan gue yang lainnya hanya karena gue masih ragu hubungan itu mau dibawa ke mana. Gue bahkan pernah dengan ketusnya membalas, “Elo sadar nggak sih, gue lagi berusaha ngehindarin elo?” I should have treated him better. I should have told him how I felt. And I’m so sorry I didn’t do any of that.

Gue menyesal pernah dengan judesnya menolak cowok yang sudah begitu banyak melakukan hal-hal manis buat gue. Hal-hal yang tidak pernah gue dapatkan dari begitu banyak cowok yang gue temui di tahun-tahun berikutnya. Seharusnya saat itu, gue lebih menghargai perhatian-perhatian kecil dia. He’s now happily married and I’m genuinely happy for him… he deserves that.

Gue menyesal pernah sengaja menjodohkan cowok yang gue sukai dengan teman gue sendiri. Entah apa alasannya. Padahal gue tahu cowok itu juga suka sama gue. Dan teman gue juga tidak minta dijodohkan. I guess I was just too afraid of getting too close to him. And I went back off. I was such a coward, wasn’t I?

Dan gue menyesal pernah beberapa kali bersikap seperti cewek plin-plan. Kadang hangat dan penuh perhatian, kadang dingin dan seolah tidak peduli sama sekali. Ragu sedikit saja, gue lebih memilih untuk menarik diri. I was always too afraid of getting hurt and when I thought I was just protecting myself, I hurt them along the way.

Bertahun-tahun sudah berlalu, dan akhirnya gue belajar dari pengalaman gue itu. Gue belajar untuk mengatasi rasa takut gue sendiri. Gue belajar untuk bertahan di saat-saat sulit. Gue belajar untuk memberanikan diri. Pelan-pelan, gue belajar untuk mencintai.

I wish I didn’t have to hurt all their feelings, but I did. And I have to admit… I learned how to love from the hearts those I broke. They all deserved better, and I sincerely hope, the universe will find its way to treat them better.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s