Hal-hal yang Gue Lakukan Saat Susah Tidur

Pernah ingin tidur tapi nggak bisa tidur? Sudah lewat tengah malam tapi masih belum ngantuk juga. Bisa dicoba cara-cara ajaib yang pernah gue lakukan berikut ini, siapa tahu mempan!

  1. Baca buku matematika… Saking bencinya sama matematika, tiap baca buku ini, gue malah jadi ngantuk, hehehehe;
  2. Nonton film yang membosankan… Gue punya beberapa judul yang efektif bikin gue tidur saat nonton film itu. Salah satunya? A Star is Born;
  3. Makan sampai kenyang. Ini bukan kebiasaan yang menyehatkan sih. Selain bikin lambung jadi capek, ini juga bisa bikin perut jadi buncit;
  4. Buka aplikasi online shopping. Melihat isi online catalog entah kenapa bisa bikin gue pelan-pelan merasa ngantuk lalu tertidur;
  5. Dengar suara hujan, aliran sungai, atau jangkrik. Ini sebabnya, gue masih sesekali berlibur ke pedesaaan. Tapi suara seperti ini bisa didengar via aplikasi hp juga sih, cuma kurang natural saja kedengarannya;
  6. Cari teman ngobrol. Meskipun topiknya menarik, texting atau teleponan di atas tempat tidur itu efektif bikin gue ngantuk. Dan entah kenapa, percakapan yang menyenangkan sebelum tidur itu bikin tidur gue juga jadi lebih nyenyak;
  7. Baca berita. Ini juga efektif bikin gue ngantuk jika isi beritanya membosankan semua. Tapi ini bisa juga terjadi sebaliknya: isi berita sangat menarik sehingga gue malah terus-menerus baca berita sampai lupa untuk segera pergi tidur; dan
  8. Memejamkan mata dan membayangkan orang yang gue sukai, hehehehehe. It soothes me, somehow.

Punya cara-cara lain yang efektif buat kalian? Please share in comment box!

Kenapa Gue Tidak Mau Jadi Golput?

Jujur awalnya, gue hampir golput di Pemilu tahun 2019 nanti. Gue enggak happy dengan pemerintahan Jokowi, tapi gue juga pernah punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Prabowo (cuma insiden kecil, tapi terasa menyebalkan). Gue juga tidak terkesan tiap kali melihat mereka berpidato di ranah publik. Beda banget dengan saat gue melihat pidatonya Obama, misalnya.

Beberapa bulan berlalu, akhirnya hari ini gue menjatuhkan pilihan. Apa pilihan gue? Pilihan untuk setidaknya, gue tidak golput.

Kenapa tidak jadi golput?

Karena kejadian yang gue alami belasan tahun yang lalu.

Saat itu gue masih duduk di bangku SMA. Ceritanya sedang ada pemilihan Ketua KIR; ekstrakurikuler yang gue ikuti. Waktu itu gue kecewa karena senior-senior di sana tidak memilih gue untuk menjadi salah satu calon ketua KIR yang baru, sehingga akhirnya pada saat pemilihan, gue memilih untuk abstain.

Saat hasil pemilihan selesai dibacakan, Ketua KIR yang lama, mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota, “Hari ini ada satu suara yang abstain. Boleh tahu siapa orangnya?”

Semua orang diam. Gue hanya diam.

Dia melanjutkan, “Tidak akan ada konsekuensi… kami hanya ingin dapat masukan… apa alasannya? Apa yang bisa kami perbaiki untuk pemilihan berikutnya?”

Dan gue tetap diam. Tidak berani mengakui bahwa pada saat itu, gue memilih untuk abstain.

Si kakak kelas gue itu mulai kelihatan kecewa. Dan dia mengakhiri pertemuan dengan pertanyaan yang tidak terjawab.

Saat itu, gue jadi malu dengan diri gue sendiri. Gue yang tidak mengakui perbuatan gue itu betul-betul bukan diri gue yang biasanya. Walau sebetulnya, ada alasan kenapa gue tidak mau mengakuinya. Alasan yang kemudian menjadi alasan untuk gue tidak pernah lagi memutuskan untuk abstain di pemilihan-pemilihan lain yang harus gue lakukan sepanjang hidup gue.

Alasan apa?

Alasan bahwa sebetulnya, gue malu mengakui bahwa gue baru saja melakukan hal yang tidak ada gunanya. Golput itu tidak akan pernah mengubah apa-apa. Tidak ada manfaatnya. Jadi daripada bikin malu diri sendiri, gue akhirnya lebih memilih untuk bungkam. Dalam hati gue bertekad… tidak akan pernah lagi, gue menempatkan diri gue dalam rasa malu atas keputusan gue sendiri. Gue berjanji, gue tidak akan pernah golput lagi.

Lalu kenapa gue bilang golput itu tidak ada gunanya?

Karena saat kita memilih untuk golput pun, di pemilihan manapun, pasti akan tetap ada kandidat yang keluar sebagai pemenangnya. Dengan memilih abstain, kita kehilangan kontribusi untuk menentukan siapa pemenangnya. Dan bagi gue, tidak ada kontribusi itu artinya sama saja dengan tidak ada kegunaannya.

Selain soal tidak memberikan kontribusi apa-apa, golput bisa jadi pertanda pola pikir yang terlalu pesimis. Atau bisa juga, pola pikir yang terlalu sombong… merasa diri jauh lebih baik daripada para kandidat yang namanya tertera di kertas suara. Kembali lagi apapun alasannya, dengan tidak memilih, kita memilih untuk menjadi seseorang yang tidak memberikan kontribusi.

Masih ada waktu 4 hari lagi untuk menentukan pilihan. Pelajari masing-masing paslon, plus-minusnya, track record-nya, rencana kerja dan janji-janjinya… Gue juga masih tidak sepenuhnya sreg dengan pilihan gue nanti, tapi setidaknya, gue memberikan kontribusi. Setidaknya, gue tidak membiarkan satu suara gue terbuang sia-sia.

Selamat menentukan pilihan dan selamat menikmati pesta demokrasi!

Kadang, Melakukan Hal Baik itu Harus Dipaksa

Dulu, bokap seringkali menasehati…

“Zakat itu mesti dipaksa. Nggak apa-apa merasa terpaksa. Nggak usah nunggu ikhlas. Rajin shalat juga mesti dipaksa. Nggak usah nunggu dapat hidayah.”

Dan dalam begitu banyak hal lainnya, nasehat bokap itu ada benarnya!

Rajin belajar itu mesti dipaksa. Entah dipaksa orang tua, atau dipaksa oleh diri sendiri. Gue sering merasa terpaksa harus belajar saat kuliah dulu, tapi hasilnya sekarang betul-betul bikin bangga!

Rajin olahraga juga mesti dipaksa. Paksa diri bangun pagi, paksa diri melakukan aktivitas fisik yang hanya bikin diri kita merasa capek dan penuh keringat. Jika tidak dipaksa, bisa jadi kita tidak akan pernah memulai!

Menyisihkan waktu luang untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita juga lama kelamaan harus dipaksa. Harus disempatkan. Nggak usah nunggu ada waktu luang karena bisa jadi, akan selalu ada alasan untuk selalu sibuk kerja.

Memaafkan orang lain, memaklumi kekurangan mereka, dan berdamai dengan mereka juga seringkali harus dipaksa. Enggak ada manusia yang sempurna membuat enggak ada hubungan antara 2 manusia yang akan pernah bisa sempurna. Suka nggak suka, paksa diri untuk bisa menerima orang lain apa adanya.

Memperbaiki diri sendiri juga harus dipaksa. Memang enggak enak, capek, dan menjengkelkan. Tapi tetap harus diusahakan! Paksa siri sendiri untuk berubah, untuk keluar dari zona nyaman yang sebetulnya tidak terasa betulan bikin nyaman itu!

Orang yang tidak pernah memaksa dirinya untuk melakukan hal-hal baik dalam hidupnya hanyalah orang-orang malas! Orang-orang yang malas berubah dan sangat senang mencari excuse.

Gue bersyukur sepanjang hidup gue, selalu ada hal-hal yang mengingatkan gue untuk memaksa diri agar berusaha lebih keras dari sebelumnya. Hal-hal yang seringkali pahit, yang mengingatkan gue untuk melakukan hal-hal yang sudah seharusnya gue lakukan.

Great things in life require great efforts… and sometimes, we only need to push ourselves more, and harder than we already did.

Merasa terpaksa? Biarkan saja! Lama-lama, kita akan mulai merasa terbiasa.

Start pushing yourself, start from now!

We Learn How to Love from The Hearts We Broke

Beberapa waktu yang lalu, gue ikut games di acara office gathering. MC mengajukan pertanyaan dan peserta diwajibkan menjawab pertanyaan itu dengan cara bangkit berdiri atau tetap duduk.

Salah satu pertanyaannya, “Bagi kamu yang pernah bikin orang lain patah hati, dipersilahkan berdiri.”

Ruangan dipenuhi dengan tawa, dan cukup banyak orang yang menjawab pertanyaan dengan cara berdiri. Gue hanya tertawa geli, sambil tetap duduk. Salah satu teman menunjuk ke arah gue sambil bilang, “Eh elo kok enggak berdiri, Rif?”

Sejak itu gue jadi berpikir… pernah kah gue bikin orang lain patah hari?

Pernah. Gue tahu gue pernah bikin orang lain jadi patah hati. Dan jujur, ada beberapa tingkah laku gue saat itu yang membuat gue menyesalinya.

Apa saja?

Gue menyesal pernah tiba-tiba kabur ke rumah tante saat gue sudah setuju untuk pergi nonton bareng cowok yang waktu itu sedang dekat dengan gue. Saat dia datang menjemput dan gue tidak di rumah, dia kirim SMS, dan gue tidak membalasnya. I knew that I should have texted him before he came, but I didn’t. I hated confrontation and I wanted him to just disappear… and that was actually cruel.

Gue menyesal pernah sengaja tidak membalas SMS, YM, dan tidak mengangkat telepon gebetan gue yang lainnya hanya karena gue masih ragu hubungan itu mau dibawa ke mana. Gue bahkan pernah dengan ketusnya membalas, “Elo sadar nggak sih, gue lagi berusaha ngehindarin elo?” I should have treated him better. I should have told him how I felt. And I’m so sorry I didn’t do any of that.

Gue menyesal pernah dengan judesnya menolak cowok yang sudah begitu banyak melakukan hal-hal manis buat gue. Hal-hal yang tidak pernah gue dapatkan dari begitu banyak cowok yang gue temui di tahun-tahun berikutnya. Seharusnya saat itu, gue lebih menghargai perhatian-perhatian kecil dia. He’s now happily married and I’m genuinely happy for him… he deserves that.

Gue menyesal pernah sengaja menjodohkan cowok yang gue sukai dengan teman gue sendiri. Entah apa alasannya. Padahal gue tahu cowok itu juga suka sama gue. Dan teman gue juga tidak minta dijodohkan. I guess I was just too afraid of getting too close to him. And I went back off. I was such a coward, wasn’t I?

Dan gue menyesal pernah beberapa kali bersikap seperti cewek plin-plan. Kadang hangat dan penuh perhatian, kadang dingin dan seolah tidak peduli sama sekali. Ragu sedikit saja, gue lebih memilih untuk menarik diri. I was always too afraid of getting hurt and when I thought I was just protecting myself, I hurt them along the way.

Bertahun-tahun sudah berlalu, dan akhirnya gue belajar dari pengalaman gue itu. Gue belajar untuk mengatasi rasa takut gue sendiri. Gue belajar untuk bertahan di saat-saat sulit. Gue belajar untuk memberanikan diri. Pelan-pelan, gue belajar untuk mencintai.

I wish I didn’t have to hurt all their feelings, but I did. And I have to admit… I learned how to love from the hearts those I broke. They all deserved better, and I sincerely hope, the universe will find its way to treat them better.