Apa Hubungannya Traveling dengan Pencarian Jati Diri?

Satu minggu sebelum keberangkatan gue ke Norway-Iceland yang baru saja berakhir kemarin siang, bos gue di kantor cerita dulu dia pernah berhenti kerja, jual mobil, dan pergi keliling South America. Dia bilang pada saat itulah dia merasa menemukan jati dirinya.

Cerita dia itu mengingatkan gue dengan popular quote dari David Mitchell yang satu ini, “Travel far enough, you meet yourself.”

Nah, pertanyaannya: memang apa hubungannya sih antara traveling dengan pencarian jati diri?

Beda orang bisa jadi beda jawabannya, tapi berikut ini jawaban pribadi yang gue tulis berdasarkan pengalaman gue pribadi juga.

Traveling membantu kita berpikir lebih jernih

Melepaskan diri dari kegiatan rutin sehari-hari memberikan diri gue ruang untuk berpikir lebih jernih. Fokus gue tidak lagi soal deadlines, konflik dengan keluarga, dan lain sebagainya. Saat traveling, isi pikiran gue menjadi lebih jernih, lebih fokus pada diri gue sendiri, dan lebih terbebas dari opini-opini orang lain di sekitar gue yang secara tidak disadari bisa membuat gue berusaha untuk menjadi orang yang diinginkan oleh orang lain dan bukan orang yang gue inginkan untuk diri gue sendiri.

Traveling menguji batas toleransi kita

Traveling ke tempat yang luar biasa asingnya buat kita itu akan sangat menguji kesabaran. Nyasar di jalan, ketinggalan kereta, hampir kehabisan uang dan lain sebagainya. Belum lagi konflik-konflik sepele yang bisa terjadi antara kita dengan teman-teman seperjalanan. Semua itu sudah membantu gue untuk mengenali batas toleransi gue; apa yang masih bisa gue maklumi serta apa yang jelas-jelas tidak akan pernah bisa gue terima. Jika sudah demikian, pengambilan keputusan penting di masa yang akan datang akan jadi terasa lebih mudah untuk gue lakukan.

Traveling mengajarkan kita cara-cara ajaib untuk bisa survive sepanjang perjalanan

Contohnya? Gue belajar cara menghemat energi yang paling cocok buat gue dari serangkaian trip yang pernah gue lakukan. Dari situ gue jadi tahu batasan aktivitas fisik yang boleh dan tidak boleh gue lakukan. Gue juga jadi belajar bagaimana cara yang paling efektif untuk meredakan emosi gue (kebanyakan marah-marah bikin trip jadi tidak menyenangkan dan buat gue itu sama saja dengan buang-buang uang, hehe). Pelajaran yang sama lalu gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan seringkali mendatangkan manfaat untuk diri gue ini!

Traveling membantu kita untuk menemukan apa yang kita suka dan apa yang kita tidak suka

Hidup ini menawarkan banyak banget pilihan dan traveling udah membantu gue untuk mengenali hal-hal apa yang kemungkinan besar akan gue suka atau tidak akan pernah gue sukai. Kenapa bisa begitu? Karena ada banyak banget keputusan yang harus gue ambil sebelum dan saat pergi jalan-jalan. Harus memilih tempat yang akan didatangi, harus memilih akomodasi dan alat transportasi, belum lagi pilihan yang harus gue buat di tempat saat terjadi hal-hal yang tidak gue perkirakan sebelumnya. Berkat semua itu, mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari juga jadi terasa jauh lebih mudah! Buat apa gue buang-buang waktu mencoba sesuatu yang gue tahu tidak akan pernah gue sukai? Ada kalanya gue tetap mencoba hal baru, tapi tetap ada batasannya. Membuat pilihan yang tepat itu rasanya benar-benar menyenangkan! It feels like my time has been very well spent!

Traveling membuat wawasan gue jadi jauh lebih luas

Saat jalan-jalan, gue banyak melihat, merasakan, dan mempelajari hal-hal menarik yang tidak pernah gue ketahui sebelumnya. Hal ini pada akhirnya bukan cuma memberikan wawasan baru buat gue, tapi juga perspektif atau sudut pandang baru atas berbagai hal yang sedang terjadi dalam hidup gue ini. Hal ini juga yang kemudian membantu gue untuk mendefinisikan diri gue sendiri (misalnya, siapa gue, seperti apa sifat gue, dsb…).

Jadi benar deh, traveling itu pada akhirnya memang bukan cuma sekedar pulang dengan cerita dan foto-foto bagus saja, tapi juga tambahan keyakinan soal siapa diri kita ini. Sudah beberapa kali traveling tapi masih belum pernah merasakan apa yang gue rasakan? Mungkin, traveling-nya masih kurang sering, masih kurang jauh, atau, jumlah travelmate-nya terlalu banyak. Coba deh sesekali traveling sendirian ke tempat yang agak jauh; itu trip pertama gue yang akhirnya membantu gue menemukan jati diri gue ini.

Enjoy your vacation and hope you’ll come home with a new real you inside!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s