When All I Need to Do Is Just to Believe

Dulu, gue pernah kepingin banget kuliah di UI. Kayaknya keren aja kalo gue berhasil keterima di UI. Dan gue tau banget kalo gimanapun, ortu bakal lebih bangga kalo gue bisa kuliah di sana. Tapi kenyataannya, gue gagal SPMB dan akhirnya malah kuliah di kampus Binus. Sebenernya waktu itu gue masih punya option lain: kuliah D3 di UI untuk kemudian ambil program extension S1 di sana. Tapi entah kenapa, I just didn’t think that it was a right thing for me to do. Extension program could be right for anyone else, but I did believe that it was not a good option for me.

Beberapa tahun kemudian, gue menyadari bahwa meskipun Binus bukan kampus dengan jurusan akuntansi nomor satu, kenyataannya memang tempat inilah yang terbaik untuk gue. Bukan bermaksud untuk sombong, tapi sampai saat ini gue masih berpikiran… semua prestasi dan IPK gue itu, belum tentu bisa gue dapatkan kalo dulu gue kuliah di UI. Ada beberapa hal dan beberapa kejadian di Binus yang mengubah attitude belajar gue saat itu. Gue jadi terpacu buat baca semua buku-buku tebal itu, menahan diri untuk enggak mencontek satu kalipun, dan jadi banyak belajar dengan cara mengajarkan kepada orang lain.

Hal yang sama terjadi lagi pada saat gue sedang mencari pekerjaan pertama gue. Waktu itu gue pengennya, kerja di perusahaan besar dan gajinya juga besar. Padahal yah… waktu gue hunting kerjaan itu, gue masih duduk di semester 7! Banyak banget lamaran yang tidak mendapatkan jawaban, sampai akhirnya, gue ditelepon sama kantor gue yang pertama itu.

Sebenernya waktu di awal, kantor pertama gue itu sama sekali bukan kantor impian gue. Kantornya kecil banget, jumlah karyawannya sedikit, dan ada pula satu kejadian di awal tes masuk yang bikin gue sempat meragukan perusahaan ini. Tapi entah kenapa, I had a good feeling to this company. Begitu pula saat nggak lama kemudian, gue ditelepon sama 2 perusahaan besar yang pernah gue apply. Lagi-lagi gue ngerasa, sebaiknya gue tetap stay di perusahaan itu sampai gue selesai sidang skripsi.

Dan ternyata memang benar… nggak disangka-sangka, ada banyak banget hal yang gue pelajari dari 8 bulan bekerja di sana. Pengalaman bekerja yang singkat itu pula yang sampe sekarang pun, masih sangat mempermudah gue dalam menyelesaikan pekerjaan. Atau singkat kata, kerja di sana udah berhasil bikin gue jadi lebih pintar dan lebih banyak tahu.

Inti dari blog gue ini adalah… Tuhan emang enggak selalu memberikan apa yang gue inginkan. Akan tetapi, Ia selalu memberikan gue apapun yang gue butuhkan.

Untuk pekerjaan ke dua, Tuhan benar-benar mengabulkan cita-cita gue pada saat itu. Saat bikin skripsi di semester 8, gue sempat bilang sama dosen pembimbing gue, “Saya kepingin kerja di EY.”

Dan ternyata benar… pada akhirnya, gue berhasil kerja di EY.

As the time went by, it turned out that I didn’t like my job as an auditor. Pada waktu itu, gue sempat mempertanyakan… kenapa ya, gue malah memilih kerja jadi auditor? Gue malah ngerasa lebih suka sama kerjaan gue di kantor lama! Tapi lagi-lagi pada akhirnya, setelah gue keluar dari EY, gue juga baru menyadari bahwa ada banyak banget hal yang bikin gue jadi lebih berkembang. Bukan cuma soal technical skill, tapi juga soal working attitude bahkan termasuk hal-hal yang menyangkut kepribadian gue. Then once again I thought… God has given me something which exactly I need to have.

Saat ini gue kembali sedang mempertanyakan perjalanan hidup gue sendiri. Bukan cuma soal kerjaan… tapi juga soal beberapa hal lainnya yang bikin gue frustasi kenapa hal-hal itu enggak pernah berhasil gue dapatkan. Why am I here? How could this happen to me? Why can’t I get exactly what I want to get? Don’t I deserve to get this?

Sebetulnya untuk yang satu ini, gue masih belum menemukan jawabannya. Masih ada aja hal-hal yang gue ngotot bahwa seharusnya, memang hal itulah yang terbaik buat gue, dan seharusnya gue berhak serta pantas untuk mendapatkannya. Tapi kalo gue inget perjalanan hidup gue yang dulu-dulu… rasanya yang perlu gue lakukan saat ini cuma tetap melakukan yang terbaik yang bisa gue lakukan, plus… tetap meyakini bahwa apa yang Tuhan berikan ini adalah apa yang gue butuhkan untuk saat ini.

Akhir kata, thanks to Melanie yang udah tanpa sengaja menginspirasi gue untuk membuat tulisan ini dengan status YM-nya: “When I don’t understand Your plan, I will still to trust in Your promise.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s