10 Tipe Teman Berdasarkan ‘Fungsinya’

 

Teman yang enak buat diajak chatting:

Balesnya cepet,

Ngetiknya cepet,

Nggak suka reply cuma pendek-pendek,

Kalo ngetik gantian sama kita.

 

Teman yang enak buat fesbukan:

Reply-nya cepet,

Komentarnya lucu-lucu,

Nggak pernah nggak bales comment temen fesbuknya.

 

Teman yang enak buat wisata kuliner:

Hobi nyobain tempat makan baru,

Berani nyobain berbagai jenis makanan,

Punya banyak info tentang tempat makan enak.

 

Teman yang enak buat diajak hang out:

Bisa diajak pergi spontan,

Enggak keberatan hang out cuma berduaan,

Betah diajak duduk dan ngobrol berjam-jam,

Nggak suka hitung-hitungan.

 

Teman yang enak buat diajak shopping:

Nggak cepet capek,

Nggak bete nungguin kita bolak-balik ke fitting room,

Nggak bete nemenin kita balik lagi ke toko yang udah didatengin sebelumnya,

Bisa dimintai pendapat soal barang yang mau kita beli.

 

Teman yang enak buat diajak diskusi:

Punya pengentahuan luas,

Bukan cuma sekedar sok tau,

Ngaku nggak tau kalo emang nggak tau,

Open untuk menerima new insight dari orang lain,

Berani mengaku salah kalo pendapat mereka sebelumnya terbukti salah.

 

Teman yang enak buat dijadiin tempat curhat:

Mendengar dengan baik, bukan cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri,

Mampu memberi saran tanpa memberikan kesan judging atau menggurui,

Berusaha memahami dengan menempatkan diri dia di posisi kita,

Terbuka dalam membagi pengalaman pribadinya,

Sabar mendengarkan curhat kita yang berulang-ulang,

 

Teman yang enak buat diajak traveling:

Enggak terlalu ribet,

Mandinya cepet,

Enggak terlalu banyak maunya,

Enggak suka ngeluh,

Enggak suka ngomel-ngomel when something goes wrong,

Kalo liburan on budget, harus bisa diajak susah.

 

Teman yang enak buat kerja bareng:

Enggak membawa sentimen pribadi dalam pekerjaan, begitu pula sebaliknya, nggak membiarkan konflik pekerjaan merusak pertemanan,

Kalo levelnya sama, tetap saling mendukung meskipun harus bersaing dalam pekerjaan,

Kalo levelnya beda, menyadari meskipun berteman karib, saat bekerja tetap ada hierarki,

Enggak suka menggampangkan pekerjaan atas nama pertemanan.

 

Tipe teman yang bisa dijadikan sahabat:

Selalu memaafkan kesalahan kita (kesannya egois, tapi dalam hubungan apapun, selalu saling memaafkan itu penting supaya bisa awet terus),

Berusaha meminta maaf saat melakukan kesalahan,

Selalu mendukung kita, meskipun hal itu bertentangan dengan pendapatnya,

Berusaha memberi solusi atas masalah kita seolah itu juga maslah mereka,

Bisa dipercaya dan selalu berusaha untuk percaya sama kita,

Ikut sedih saat kita sedih, ikut senang saat kita senang,

Menyempatkan diri buat keep in touch, sesibuk apapun,

Bisa menyampaikan kabar buruk dengan cara yang paling baik,

Tidak melupakan kita meskipun mereka udah bahagia sama pasangannya masing-masing.

 

Once again, semua yang gue tulis di sini sifatnya subjektif alias based on sudut pandang gue pribadi alias penilaian gue tentang temen-temen di sekitar gue.

 

Yang jelas gue cuma mau bilang, daripada repot-repot menuntut teman-teman kita untuk memenuhi SEMUA kriteria di atas, lebih baik accepting them just the way they are. Nggak usah maksa ngajakin temen yang nggak suka nonton buat ikut sama kita ke XXI, atau ngajak temen yang anti shopping buat keliling mall.

 

Meski begitu, tips dari gue, nggak ada salahnya kok sesekali mengalah sama teman kita sendiri. Nggak papa lah nekad nemenin mereka nyobain makanan baru yang enggak banget menurut kita. Toh kalo kita nggak suka sama makanannya, kita bisa pesen minum doang, terus abis itu gantian mereka yang temenin kita makan di restoran favorit. Intinya sih, win-win solution. Lagipula siapa tau, kita juga jadi jatuh cinta sama pilihan temen-temen kita itu kan…

 

Whatever it is, it’s always important to have friends to have fun with! Happy weekend everyoneJ

Cosmopolitan This Month

 

Gue suka banget deh, sama majalah Cosmopolitan edisi November 2010. Awalnya gue cuma iseng-iseng aja mampir di rak majalah di Gramedia, sekedar buat killing time aja gitu. Terus pas gue lihat cover-nya Cosmopolitan, gue mulai tergoda… beli nggak ya? Gue kan masih harus berhemat buat biaya liburan awal tahun depan! Setelah beberapa kali ambil-taruh lagi-ambil lagi-taruh lagi… akhirnya itu majalah gue bawa ke kasir barengan sama komik Conan yang terbaru (kalo komik ini emang wajib gue beli!). Kayaknya ada semacam bisikan hati buat beli si Cosmo itu, hehe…

Sampe rumah ternyata gue lebih tertarik baca Conan gue terlebih dahulu, sedangkan Cosmopolitan itu dibawa sama adek cewek gue ke kamar tidurnya. Lalu pagi-pagi, adek gue itu muncul di kamar gue sambil bilang, “Baca deh, kisah nyata cewek-cewek yang nemuin true match mereka dengan cara yang aneh-aneh. Ceritanya bagus-bagus!”

Gue bilang, “Ah, yang kayak gitu sih adanya cuma di sinetron doang! Gue sih nemuin gebetan di tempat yang standar-standar aja tuh. Nggak jauh-jauh dari sekolah, kampus, kantor.”

Adek gue langsung sewot, “Yee, tapi ini kan kisah nyata! Berarti emang betulan kayak begitu kejadiannya.”

Akhirnya gue pun melenggang ke kamar adek gue, lalu buka Cosmopolitan langsung di halaman yang dihebohkan adek gue itu. Hmmm… ada orang yang ketemu pasangannya di konser Coldplay di Singapur, ada yang ketemu di ruang tunggu bandara, di depan menara Eiffel pas lagi liburan, ada pula yang akhirnya jadian sama klien cowok yang ternyata ganteng dan keren.

Bener-bener kayak cerita drama! Kemaren gue pergi traveling, beberapa kali nemuin cowok keren mulai dari produk lokal sampe bule-bule, tapi enggak ada yang berkelanjutan tuh. Paling cuma lihat-lihatan, minta tolong fotoin, atau sekedar saying hi doang. Atau klien keren… aah, dari puluhan atau mungkin ratusan klien gue dari jamannya perusahaan yang lama sampe yang sekarang, nggak ada satupun klien yang masuk kategori keren.

Tapiii… well, gue tipe orang yang percaya bahwa there is nothing impossible in this world. Kalo suatu hal bisa terjadi sama orang-orang lain, enggak mustahil hal yang sama akan terjadi sama gue juga. Kalopun katakanlah belum ada orang lain yang mengalami suatu hal tertentu, hei, there’s always the first one who’s making the breakthrough right?

Point-nya bukanlah gue jadi mengkhayalkan pertemuan yang dramatis antara gue dan true match gue yang entah siapa orangnya. Yang gue suka dari artikel ini adalah, gue jadi seperti melihat masa depan. You know, penyakit khas-nya orang patah hati: so much worry that I will never find someone like him. I’m still 23 going to 24, dan dengan asumsi panjang umur, masih akan ada begitu banyak hari yang bakal gue lewati dan banyak orang baru yang akan gue temui. Gue enggak akan pernah tahu apa yang nantinya akan gue dapatkan kecuali gue terus menjalani hari demi hari dalam hidup gue.

Oh ya, dia artikel tentang finding my true match itu, ada dua quotes yang berkesan banget buat gue:

Love yourself first, and the rest will follow,” by Lady Gaga (ternyata si crazy lady ini bisa bener juga yah ngomongnya, hehehehe).

You will never know will you meet your destiny. So it’s best to be as pretty as possible for your destiny,” by Coco Chanel.

Selain artikel soal finding my true match, ada juga beberapa artikel tentang happiness yang gue temukan dalam Cosmopolitan bulan ini. Isinya ada tips-tips kecil supaya kita bisa lebih menikmati aktivitas harian kita, sama satu artikel yang judulnya: 17 Cara Singkat, Tapi Bikin Bahagia!

Sebetulnya, gue bukan cewek yang desperate of being a single. Gue malah suka ngerasa nggak nyaman sama temen-temen seumuran yang suka berkata seolah mereka itu udah tua, almost expired, so unhappy of being single. Karena menurut pengalaman gue, justru orang-orang seperti itu yang nantinya setelah menikah akan lebih sering mengeluhkan kehidupan mereka sebagai suami atau isteri. Kenapa begitu? Karena tipe orang seperti ini pandangan hidupnya cuma dua:

1.   Menginginkan sesuatu yang belum mereka miliki sampai lupa menikmati apa yang sudah mereka miliki; dan

2.   Menyesali sesuatu yang akhirnya mereka miliki lantas merindukan sesuatu yang dulu pernah mereka miliki.

Dan gue juga bukan cewek yang merasa bermasalah dengan kebahagiaan. Alhamdulillah, gue justru ngerasa semakin bahagia sama hidup gue seiring dengan bertambahnya usia gue. Jadi sebetulnya tanpa perlu baca artikelnya Cosmo bulan ini pun, gue udah punya konsep yang solid soal hidup bahagia meskipun ada banyak hal sialan yang terjadi dalam hidup gue.

Tapi tetep aja, kadang-kadang sebagai manusia, kita perlu diingatkan untuk tetap bertahan pada apa yang kita yakini kebenarannya. There are so many things in this life as we grow up which possibly changing us to be worse. Contonya, terkadang suka jadi susah being single and happy di saat semua orang single di sekitar kita terus menerus mengeluh tentang single-nya mereka. So I really thank the writer in Cosmopolitan this month for reminding me that there’s nothing wrong of being me all this timeJ.

 

Puja dan Segala Kedodolannya

 

Tiba-tiba terlintas di benak gue buat menuliskan satu artikel khusus tentang sahabat-sahabat gue. Karena kalo diinget-inget, kayaknya ada beberapa blogger lain yang pernah melakukan hal yang sama. Nah, untuk yang pertama, entah kenapa jari-jari gue lebih lancar bergerak saat mengetik cerita tentang sahabat gue dari jamannya masih kuliah tahun pertama: Puja Rani si cewek keturunan Indiahe.

Sebagian besar memori gue tentang Puja terisi tentang hal-hal konyol yang bikin gue senyum-senyum sendiri. And in this blog, I will share you a little flash about our memories.

 

Suatu hari di dalam lift kampus

Puja sibuk mengamati riasan wajah salah satu teman sekelas. Terus dia bilang sama temen kita itu, “Eh eh… itu di mata lo ada selotip copot…”

 

Suatu hari lainnya di dalam lift kampus

Puja sibuk mengendus-endus aroma di dalam lift. Waktu itu di dalam lift, cuma ada gue, Puja, dan satu cowok yang nggak kita kenal.

Puja       :               “Eh, Fa, elo nyium bau minyak rem nggak?”

Gue       :               *Cuma bisa nyengir salah tingkah.

Well, gue enggak tahu sih, bau minyak rem itu kayak gimana. Yang gue tau, wangi itu mirip banget sama wanginya Bvlgari for Man!

 

Our chat about Air Asia

Gue       :               “Ja, ada tiket murah nih, ke Singapur. Cuma sepuluh ribu!”

Puja       :               “Bah, mana mungkin! Duduk di sayap pesawat!”

Gue       :               “Ja, elo tau nggak, berapa harga tiket kita ke KL tahun depan?”

Puja       :               “Berapa?”

Gue       :               “0 rupiah! Duduk di roda!”

 

Sebenernya masih ada banyak banget cerita dodol yang gue alamin waktu lagi bareng sama si Pujahe. Tapi karena sebagian besar sifatnya sangat-sangat confidential, jadi maaf lah ya, off the record aja, hehehehe. 

Anyway, di luar segala kedodolan itu, hal yang mempererat persahabatan gue sama Puja adalah begitu banyak kebaikan yang dia lakuin buat gue. Mulai dari sekedar menampung segitu banyaknya keluh kesah gue setiap kali patah hati, sampe minjemin gue duit dalam jumlah besar saat ‘kantor tercinta’ menunda gaji gue selama sebulan cuma gara-gara gue telat ngisi timesheet!

Yang enggak akan pernah gue lupakan adalah pertolongan Puja waktu beredar gosip gue akan disidang skripsi sama dosen yang benci setengah mati sama gue. Dan dosen ini emang terkenal suka ngejatuhin skripsi mahasiswa yang dia benci! 1-H, Puja ngomong ke Kajur kampus gue soal nasib malang gue itu, dan bener aja, besokannya dosen penguji gue diganti sama orang lain! Ternyata sang Kajur yang baik hati itu sependapat sama Puja: sayang skripsi gue kalo sampe jatuh cuma karena dosen rese. Tapi pastinya, Kajur yang masih baru kerja di Binus itu enggak akan tahu soal kasus gue kalo bukan karena Puja yang bilang ke dia. Dan menurut gue, enggak semua orang bersedia melakukan hal yang sama buat gue.

As I ever told her before, I want to say it again, “Puja, I love you full, hehehehe.”