Working: Between CV Against Reality

 

Udah jadi hal yang sangat lumrah buat kita menuliskan hal muluk-muluk dalam CV kita. Misalnya:

1.       Dapat bekerja di bawah tekanan;

2.       Menyukai tantangan;

3.       Dapat bekerja dalam tim;

4.       Fast learning;

5.       Jujur;

6.       Willing to travel and/or be relocated;

7.       Dsb dsb…

Terlepas dari benar atau tidaknya kita sanggup melakukan hal-hal tersebut, rasa-rasanya kata-kata sifat itu emang udah seharusnya tercantum di dalam CV. Logikanya, employer mana juga yang mau ngerekrut karyawan yang gampang depresi, gampang nyerah, egois, dan lemot?

 

Tapi tentu saja kenyataannya, mewujudkan kata-kata sifat yang tertulis di CV sama sekali bukan hal yang mudah. Mau contoh? Ini contohnya…

 

1.   Dapat bekerja di bawah tekanan

Kita gampang aja ngomong gini saat situasi masih tentram dan aman sentosa. Tapi waktu deadline semakin mepet tapi target belum tercapai, saat bos udah mulai meracau, saat satu kerjaan belum selesai tapi bos udah nambahin kerjaan-kerjaan lain yang nggak kalah susahnya… masihkah kita mau bilang bahwa kita sanggup kerja di bawah tekanan?

 

2.   Menyukai tantangan

Salah satu kalimat favorit yang sering terucap dari mulut gue: “Gue nggak suka sama kerjaan yang nggak ada tantangannya… bosan!”

 

Tapi baru-baru ini, cuma gara-gara satu senior resign, dalam waktu yang singkat semua ‘tantangan-tantangan’ itu disodorin persis ke depan muka gue. Ada satu kerjaan di klien baru yang rasanya masih jauh banget dari jangkauan knowledge gue, ditambah yang paling mengejutkan, satu kerjaan lama yang disebut senior gue yang mau resign itu sebagai kerjaan dia yang paling susah, kerjaan yang bikin dia ngabisin satu botol Xylitol dalam sehari saking stresnya…

 

Terus gimana rasanya ketika tantangan itu diwariskan buat gue setelah si senior resign? Waktu bos-bos nyamperin meja gue untuk menyampaikan ‘kabar gembira’ itu, gue cuma bisa diem, speechless, bener-bener nggak nyangka kerjaan yang sering dijadiin jokes saking susahnya itu akan diwariskan ke gue… Dan barusan, persis sebelum gue ngetik blog ini, telapak tangan gue berkeringet dingin ngelihat sang worksheet warisan di layar laptop… Fyi, worksheet legendaris itu pula yang akhirnya mendorong gue untuk segera bikin tulisan ini.

 

3.   Dapat bekerja dalam tim

Kesannya kerja dalam tim itu malah lebih gampang daripada kerja sendirian. Tapi percaya deh, menyatukan banyak kepala itu susah-susah gampang. Belum lagi saat harus misahin antara urusan pribadi dengan urusan kerjaan. Contohnya:

·     bukan hal yang mudah tetap respek sama atasan yang udah kayak sahabat kita sendiri,

·     bukan hal yang mudah untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan hanya karena masalah pribadi,

·     bukan hal yang mudah untuk menegur bawahan yang tiap hari pergi makan siang bareng kita,

·     bukan hal yang mudah untuk benar-benar ikhlas membantu kolega yang tidak lain adalah pesaing kita di kantor tercinta,

·     bukan hal yang mudah untuk tidak iri dan tetap mendukung teman yang lebih berprestasi daripada kita,

·     intinya, bukan hal yang mudah untuk cocok berteman sekaligus cocok kerja bareng dalam waktu yang bersamaan.

 

4.   Fast learning

Setinggi-tingginya IPK jaman kuliah, tetap ada banyak hal baru yang harus kita pelajari di dunia kerja. Bedanya, kalo waktu kuliah kita punya waktu berhari-hari buat baca buku, saat kerja, bisa jadi kita hanya punya hitungan jam untuk mempelajari sesuatu yang baru itu. Malah biasanya, ada pula hal-hal yang sifatnya learning by doing. Bersyukurlah kalo ada senior yang bersedia ngajarin kita. Tapi kalo nggak ada? Kalopun udah dibantu sama senior, jangan lupa kalo senior itu juga manusia. Dia juga punya kerjaan lain selain ngajarin kita si anak baru…

 

Lalu apakah bos-bos akan mentoleransi ketidaktahuan kita sebagai anak baru yang belum ngerti apa-apa? I don’t think so… Don’t ever forget that time is running fast and business can’t wait.

 

5.   Jujur

Nggak bisa dipungkiri bahwa tingkat kejujuran seseorang biasanya makin lama makin luntur seiring berjalannya waktu. Ada banyak hal di dunia kerja yang memaksa kita untuk mengurangi idealisme, termasuk mengurangi kejujuran, sedikit demi sedikit.

 

6.   Willing to travel and/or be relocated

Cuma sekedar travel barangkali masih lebih mudah (kecuali elo nggak suka atau males travelling, atau di rumah elo punya suami/istri/anak-anak yang keberatan kalo elo sering pergi ke luar kota/luar negeri). Tapi relokasi?

 

Fyi, enggak semua orang bisa survive after relocation. Selain homesick, beradaptasi di lingkungan baru itu belum tentu menyenangkan. Contohnya, banyak city girls yang merasa enggak betah ditempatkan in the middle of nowhere, atau ordinary Indonesian girl yang ngerasa stres dengan pola pergaulan ala Singapura yang cuek abis sama rekan kerjanya… So better think twice before saying you are ready to be relocated.

 

Mungkin ada baiknya gue menutup tulisan ini dengan tips dan trik mengatasi permasalahan yang gue sebutkan di atas. Tapi masalahnya, dalam kesempatan ini gue cuma mau curhat… Karena, yeah, gue akui: 2 dari 6 point di atas itu adalah permasalahan yang saat ini sedang gue hadapi di kantor. So I am totally welcome if you guys want to share me how to face such a working problem like those.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s