Jangan Pernah Menyalahkan Waktu

 

Pernah naksir sama seseorang yang udah punya pacar? Atau malah udah punya suami/istri? Well, menurut gue, tidak ada yang salah dengan naksir seseorang yang udah punya pasangan. Masalahnya, perasaan itu kan enggak sama dengan mobil yang bakalan belok kanan atau kiri hanya dengan memutar setir ke kanan atau ke kiri. Intinya, kita enggak bisa memilih ingin jatuh cinta kepada siapa.

 

Tapi tentu saja, manusia dengan hati nurani enggak akan pernah merebut seseorang dari pasangannya. Dan, si dia juga bukan cowok/cewek yang baik kalau dia sampai tega meninggalkan pasangannya begitu saja hanya demi orang yang baru dalam hidupnya.

 

Nah, kalau hal seperti ini sudah terjadi, umumnya kita semua akan mulai menyalahkan waktu. Kenapa gue baru ketemu dia sekarang setelah dia ada yang punya? Kenapa enggak dari dulu-dulu?

 

Beberapa hari yang lalu, gue baca artikel menarik dari majalah Chic. Temanya, jangan pernah menyalahkan waktu. Kenapa? Karena kalaupun kita sudah mengenal dia sejak bertahun-tahun yang lalu, belum tentu sejak saat itu kita bakalan jatuh hati sama si dia seperti sekarang. Jangan lupa bahwa setiap orang pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. Jadi, ada kemungkinan bahwa dia yang sekarang kelihatan charming setengah mati itu bisa saja masih culun bertahun-tahun yang lalu.

 

Now let me share you a story. Menjelang kelulusan, gue pernah naksir seseorang yang gue kenal di kampus Binus. Seorang cowok mapan yang jadi idola hampir semua cewek-cewek di jurusan gue. Dia ganteng, tinggi, keren, lulusan luar negeri, dan pastinya, sangat-sangat pintar dan berwibawa.  Dia persis banget sama tipe cowok yang gue cari: pintar tapi tetap charming, modern tapi tetap taat beribadah. I simply thought that he was only one in a million… Tapi sayangnya, dia udah married, bahkan udah punya satu orang anak.

 

Awalnya gue ngotot bahwa bisa aja, status married itu hanya suatu kamuflase. Masalahnya, I saw no ring, no wife picture or anything around him. Gue pun mulai meng-google nama dia dan menemukan beberapa blog dan account Friendster yang mencantumkan namanya… Dan, ouch, gue kaget banget ngelihat penampilan dia bertahun-tahun yang lalu! 

 

I hate to say this since I do still adore him until now (read: ADORE not CRUSH), but he was really kinda nerd, atau simpelnya, dia kelihatan masih cupu banget! Rasanya kalopun gue udah kenal dia sejak beberapa tahun yang lalu itu, kayaknya gue enggak bakalan deh, naksir sama dia. Karena gue akui bahwa gue adalah tipe orang yang berpikiran, enggak penting ganteng atau sedeng, yang penting itu jangan sampe kelihatan cupu, hehehe.

 

Artikel di majalah Chic itu juga menulis, kalaupun bukan soal penampilan, soal kecerdasan dan kesuksesan seseorang juga berubah dari waktu ke waktu. Jadi misalkan saat ini kita naksir dia yang pintar serta sukses dengan karier-nya, bisa aja lho, waktu jaman SMA atau kuliah dia itu tukang bolos dan tukang nyontek! Nah, ini juga nih, salah satu pendirian gue soal cowok: enggak penting anak orang kaya atau anak tukang ojek, yang penting, dia itu pekerja keras , rajin, jujur, pintar, dan kelihatan berwibawa di mata gue.

 

So guys, let us stop blaming the time. Kata orang bijak, everything happens for a reason. Dalam kasus gue, walaupun pada akhirnya gue cuma bertepuk sebelah tangan, tapi dengan mengenal dia untuk beberapa saat telah menginsipirasi gue untuk bekerja keras meraih cita-cita. Segala pujian, teguran, dan motivasi dari dia akan terus gue kenang sepanjang perjalanan karier gue ke depannya, termasuk, akan selalu menjadi penyemangat di saat gue sedang lelah, kalah, dan terpuruk. See? It was not too bad falling for a crush on him!

 

Nah, sekarang gue tidak pernah lagi menyalahkan takdir kenapa baru sekarang? Lagipula, untuk saat ini, bukan itu topik yang sedang hot dalam hidup gue. Mau tahu kenapa? Gue kasih sedikit bocorannya: he’s good looking, he’s smart, he’s a very kind person, he’s funny, and he’s single. Yes, he is single BUT we were born different to each other.

 

So my question now: why didn’t we born in the same skin color? In the same faith of God? And why should I finally lose my control not to fall in love with him?!? Arrrgghhh, kenapa sih, gue ini seneng banget cari penyakit??? Hhhh…