Jack Ma dan Rencana Pensiunnya

Hampir dua tahun yang lalu, gue pernah mengkuti townhall meeting dengan Jack Ma di kantor Lazada Singapura. Jack Ma yang perawakannya kecil tetapi bisa menyihir begitu banyak orang hanya dengan kharismanya saja. Saat Jack Ma mulai bicara, ruangan yang tadinya sangat riuh langsung berubah menjadi sunyi senyap. Bule-bule Eropa dan Amerika yang bekerja di Lazada pun tampak sangat menganggumi dan menaruh respect kepada sosok Jack Ma.

Mendengar Jack Ma berbicara langsung di depan gue sudah jadi pengalaman yang tidak terlupakan buat gue. Apalagi waktu itu, gue diberikan front seat oleh kantor dan juga diberikan kepercayaan untuk menjadi satu dari lima orang yang diperkenankan untuk mengajukan pertanyaan kepada Jack Ma dan timnya. Baru sekali itu saja, gue merasa luar biasa gugup hanya karena mengajukan satu pertanyaan ke orang lain!

Jack Ma ini sudah menjadi salah satu role model gue khususnya dalam kapasitas gue sebagai pengusaha kecil-kecilan. Jack Ma memberikan harapan bahwa siapapun bisa mendulang sukses dalam hidupnya. Gue bukan anak orang kaya, bukan lulusan kampus ternama, bukan lulusan luar negeri, tidak pernah bekerja di luar negeri juga, tidak pernah pula bekerja di top consulting firm, tapi gue optimis, insyaallah gue akan bisa perlahan-lahan mewujudkan cita-cita dan impian gue.

Jika Allah memberikan gue usia yang cukup panjang, saat pensiun nanti, gue ingin pensiun seperti Jack Ma pensiun dari karier-nya:

  1. Beliau pensiun meninggalkan warisan yang membanggakan;
  2. Beliau pensiun setelah mendidik begitu banyak pekerja di Alibaba Group; dan
  3. Beliau pensiun dalam keadaan finansial yang bukan cuma akan mampu mencukupi kebutuhan sisa hidupnya, tapi juga tetap mampu untuk mendonasikan hasil kerjanya untuk kegiatan amal yang bermanfaat untuk masyarakat luas.

What can be better than that kind of retirement?

Congratulation for your retirement, Jack Ma! It was a pride to me that I was once a part of your empire even just for a while and even just as a little part of it. Thanks for the inspiration and I wish nothing but the best for you. Have a great life ahead!

Indonesia dan Kisruh Politik Akhir-akhir Ini

Pilpres 2019 bikin gue ngerasa ngeri. Ricuhnya pilkada DKI masih terasa hangat di benak gue. Waktu itu, sampai ada teman lama yang tidak bisa menghadiri acara ulang tahun gue di Jakarta (dia tinggal di Bandung), karena rasa takut kerusuhan massal yang menyudutkan kaum Chinese keturunan akan kembali berulang hari itu. Ya, buat begitu banyak teman kita di luar sana, masalah ini sebegitu seriusnya.

Gue sangat menyesali makin ke sini isu politik semakin melekat kepada isu agama. Memang penting untuk memilih pemimpin yang bergama, tapi sayangnya, para pendukung yang ribut-ribut di social media atau mereka yang sampai turun ke jalan ini tidak selalu menunjukan perilaku selayaknya orang yang beragama. Bagi teman-teman sesama muslim, ingatkah kalian cerita soal Nabi Muhammad yang tetap bersabar saat dilempari kotoran oleh para pembencinya? Bukankah sikap sabar seperti itu yang diajarkan oleh Nabi kita itu?

Tidak ada yang salah dari menyuarakan pendapat selama dilakukan dengan cara yang sopan dan terpelajar. Mengatai orang lain dengan julukan “goblok” di ruang publik tidak membuat kita jadi lebih pintar daripada orang tersebut. Dan sekali lagi, apapun agama yang kalian anut, menghina tanpa belas kasih sama sekali bukan bagian dari ajaran agama yang kalian anut itu.

Yang terakhir, gue sebetulnya bingung sih ya… banyak di antara kita membela para calon pemimpin ini (yang notabene orang asing buat kita) sampai putus hubungan baik dengan keluarga dan teman masing-masing. Padahal saat nanti kita butuh bantuan, siapa yang akan bisa memberikan bantuan buat kita kalau bukan keluarga dan teman-teman kita sendiri? Dan asal tahu saja, para calon pemimpin yang sedang berkompetisi itu bisa duduk makan bareng sambil ketawa-ketawa seolah enggak ada apa-apa! Masyarakat yang panas ini semacam “korban” dari timses masing-masing calon DAN dari awak media yang senang melakukan click baits (sengaja bikin judul tulisan yang provokatif hanya supaya website mereka ramai pengunjung). Ayo kita buktikan bahwa kita ini lebih cerdas daripada timses dan jurnalis mana pun! Jangan sampai orang lain yang untung, tapi malah kita yang buntung!

Let’s be wiser and smarter, shall we? 😉

Anak Jakarta Selatan dan Bahasa Campur-campurnya

Akhir-akhir ini, sedang marak beredar meme soal kebiasaan anak-anak Jakarta Selatan yang sering menggunakan mixed language dalam percakapan sehari-harinya. Pertama kali lihat meme itu, gue langsung tertawa terbahak-bahak! Gue betul-betul bisa mengerti jokes itu karena gue sendiri juga persis seperti itu, hehehehe.

Berikut ini pembelaan diri gue sebagai orang yang bekerja dan tinggal di Jakarta Selatan (KTP Bekasi itu cuma buat memenuhi kebutuhan administratif aja secara gue udah jarang banget pulang ke Bekasi, hehe).

Jadi awalnya, menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari itu hanya tuntutan pekerjaan saja. Sejak lulus dari EY, gue mulai bekerja dengan tenaga kerja asing di perusahaan-perusahaan gue selanjutnya. Hal itu memuncak saat gue kerja di Lazada di mana bule-bulenya bukan hanya pimpinannya saja tapi juga beberapa rekan kerja yang selevel dengan gue. Belum lagi di sana, gue aktif berkomunikasi dengan rekan kerja di negara lain juga. Selama kerja di Lazada, gue pernah bekerja dengan lebih dari 30 kewarganegaraan!

Saking seringnya ngomong pakai bahasa Inggris bikin gue suka tanpa sadar menggunakan bahasa asing itu bahkan di saat gue sedang ngobrol dengan sesama orang Indonesia. Kalimat favorit gue:

  1. Oh my God!
  2. It’s unbelievable!
  3. It doesn’t make any sense!
  4. Who do they think they are?
  5. I’m going nuts here!

Dan gue bisa menggunakan 5 kalimat di atas secara bersamaan di saat gue sedang marah-marah, hehehehe.

Selain tanpa sadar ngomong dalam full English, gue juga bisa tanpa sadar ngomong dalam mixed language. Apa alasannya?

  1. Kata yang gue ingat secara refleks malah kata dalam bahasa Inggris;
  2. Gue suka bingung mencari terjemahan kata yang pas dalam bahasa Indonesia terutama kata-kata yang berhubungan dengan teknologi. Misalnya, gue enggak pernah tahu apa terjemahan yang tepat untuk kata “database“. Kalau gue maksa dengan bilang “media penyimpanan data”, lawan bicara gue pasti akan bingung;
  3. Masih ada kaitannya dengan teknologi, terjemahan istilah teknologi dalam bahasa Indonesia itu rasanya aneh aja gitu. Gue lebih nyaman bilang “download” ketimbang “unduh” misalnya;
  4. Nomor 2 dan 3 semakin akut buat gue karena 4 tahun belakangan ini gue bekerja di technology company di mana gue harus banyak menguasai istilah-istilah teknologi.

Fenomena ini bukan cuma terjadi sama gue dalam komunikasi verbal saja, tapi juga dalam komunikasi via tulisan. Gue butuh waktu lebih lama untuk menulis formal e-mail dalam bahasa Indonesia ketimbang menulis dalam bahasa Inggris. Ini juga karena faktor kebiasaan saja sih. Gue sering berpikir gini saat sedang tulis e-mail dalam bahasa Indonesia, “Hmm… ini terlalu baku… kaku banget kesannya. Tapi kalau diganti malah jadi kayak tulisan nggak resmi… Hmm…”

Akhirnya, karena gue tidak bisa mengubah komunikasi gue dengan rekan kerja asing gue, mau nggak mau gue hanya bisa berbahasa Indonesia ya dengan keluarga dan teman-teman yang sesama orang Indonesia. Meskipun jadi campur-campur, tapi kan setidaknya tetap terpakai. Saat menulis blog ini juga pun, gue usahakan mayoritas tetap bahasa Indonesia (pakai bahasa informal supaya lebih gampang, hehehe). Karena sebetulnya, menurut gue bahasa Indonesia itu unik dan indah!

Mau contoh keunikan dari bahasa Indonesia? Yang paling gue suka, bahasa Indonesia ini kaya akan sinonim yang secara harfiah sama, tapi beda secara makna. Contohnya, penggunaan kata “saya” untuk percakapan formal, “gue” untuk percakapan informal, dan “aku” buat ngomong sama pacar, hehehehe. Beda sama bahasa Inggris yang cuma punya satu kata “I”. Keren kan? 😉

Menurut gue yang paling penting dari komunikasi adalah menggunakan bahasa yang paling tepat supaya pesannya bisa tersampaikan. Jika mixed language justru lebih efektif ketimbang full Indonesian, ya kenapa tidak? Mesti disesuaikan dengan konteks, topik, dan lawan bicaranya juga. Soal gaya bahasa anak Jakarta Selatan yang dijadikan lelucon itu malah bikin gue bangga! Itu artinya, kita anak-anak Jaksel berhasil mencuri perhatian dengan cara kita berkomunikasi, hehehehe.

Peace and cheers!

Apakah Benar Kemajuan Jaman & Teknologi Telah Membuat Kita Lebih Duniawi, Hedonis, & Konsumtif?

Sejak e-commerce mulai booming di Indonesia, cukup banyak kalangan yang menyuarakan keprihatinan mereka soal masyakarat yang menjadi lebih konsumtif.

Apa saja contohnya?

Kehadiran Tokopedia, Lazada, dsb membuat orang lebih sering membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan.

Kehadiran Go-food dan Grab Food membuat orang jadi lebih sering jajan daripada sebelumnya.

Jika ruang ligkup diskusinya gue perlebar, kemajuan teknologi ini juga dikhawatirkan membuat masyarakat menjadi lebih hedonis dan duniawi.

Apa saja contohnya?

Peluang untuk selingkuh jadi lebih tinggi. Kenapa? Karena sekarang, kita bisa dengan mudah menemui orang baru dari lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kita. Orang yang kita kenal tidak lagi melulu tetangga atau teman-teman di sekolah dan kantor kita saja. Bisa kenalan di online forum mengenai traveling misalnya, atau ada juga pertemanan yang dimulai dari social media seperti Facebook, Instagram, Twitter, atau gue akui, seperti blog gue ini misalnya. Kirim satu saja DM, perkenalan terjadi lah sudah. Kemudahan ini pula yang membuat semakin maraknya kasus selingkuh dengan kenalan dari dunia maya.

Contoh lainnya adalah aplikasi online dating seperti Tinder. Ganti-ganti teman kencan jadi semakin mudah dengan keberadaan Tinder. Hal ini mengakibatkan semakin banyak orang yang menolak untuk buru-buru “resmi” pacaran dengan gebetannya hanya karena dia masih ingin lihat-lihat lawan jenis lain yang mungkin akan dia temui melalui aplikasi itu. Ada pula yang dengan entengnya bilang putus karena toh masih ada Tinder yang akan “memberikan” dia pengganti posisi mantan pacarnya itu.

Bagaimana pandangan pribadi gue soal semua itu?

Jawaban gue sederhana saja: dalam hidup ini, tidak akan ada satu hal pun yang 100% baik untuk hidup kita. Hal yang baik pun, jika dilakukan secara berlebihan atau dilakukan dengan cara yang salah, akan merubah hal baik tersebut menjadi hal yang luar biasa buruknya.

Menolak teknologi sayangnya tetap bukan solusi terbaik. Gue pribadi malah betul-betul ogah banget jika harus kembali ke jaman sebelum ada online store, ride hailing apps, atau social media. Kemajuan teknologi membuat hidup gue terasa lebih mudah. Hidup itu sendiri saja sudah semakin berat, jika ada solusi yang dapat memudahkan berbagai aspek dalam hidup gue, ya kenapa tidak? Contohnya, fokus gue dalam pekerjaan pasti akan berkurang jika mood gue saat datang ke kantor sudah keburu rusak hanya karena sulit cari sarapan (nasib anak kost yang nggak bisa masak) atau sulit cari alat transportasi yang nyaman dan terjangkau. Selain itu, thanks to e-commerce, gue tidak perlu selalu repot-repot menyempatkan diri pergi ke mall di tengah macetnya lalu lintas kota Jakarta hanya untuk membeli barang yang gue butuhkan. Tinggal pesan di pagi hari, malamnya barang sudah tiba di rumah gue. Nyaman banget kan?

Kemudian soal teknologi yang meperbesar peluang untuk selingkuh, jika luasnya networking dan banyaknya pilihan membuat pasangan gue tergoda untuk selingkuh, berarti dia memang bukan pasangan yang tepat buat gue saja. Itu berarti, jodoh gue dan dia memang cuma sampai di situ saja. Jika dia sampai cari perempuan lain, maka dia juga harus ikhlaskan gue untuk move on supaya gue bisa mencari laki-laki lain yang lebih baik daripada dia. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya; dia bisa tetap setia meski dia punya banyak pilihan di depan mata, maka gue akan tahu dengan sendirinya; gue sudah memilih pasangan yang tepat untuk hidup gue ini.

Do not despise the existence of technology, despise the way we use it instead. We are smarter than our apps, it’s as simple as that.

4 Hal yang Gue Pelajari dari Bos-bos Bule

Selama hampir 4 tahun bekerja di Lazada, gue kerja di bawah kepemimpinan 5 bos bule (European & American). Ini belum termasuk bos bule di regional office atau bos bule di divisi lainnya. Ada kesamaan di antara mereka yang kemudian tanpa gue sadari, mulai terserap sebagai bagian dari diri gue sendiri.

Apa saja?

Kebiasaan bertanya; apa kabar? Tiap kali baru berjumpa, tiap harinya

Kebanyakan bule itu memang menanyakan kabar untuk basa-basa saja sih, tapi tanpa gue sadari, gue jadi ketularan. Tidak sampai separah mengulang pertanyaan yang sama beberapa kali setiap harinya, tapi setidaknya, gue rutin menanyakan kabar rekan kerja yang sudah beberapa hari tidak gue jumpai atau yang gue tahu sedang melewati masa-masa penuh perjuangan dalam pekerjaannya.

Pertanyaan “apa kabar” ini juga sudah gue modifikasi menjadi…

  1. How’s life?
  2. How’s your project going?
  3. All good in the office?

Dan bedanya gue dengan bule kebanyakan, gue mencampur budaya peduli ala orang Indonesia ke dalam sapaan gue itu. Gue bukan hanya bertanya sambil lalu saja, tapi gue juga tertarik dan sungguh-sungguh ingin mendengarkan jawabannya.

Sedikit Sentuhan Fisik

Beberapa bos gue di Lazada memang bisa kelewat friendly. Bukan cuma menepuk di punggung, tapi bisa sampai merangkul pundak atau bahkan sampai cium pipi! Untuk cium pipi itu tidak pernah gue alami sendiri sih. Meski tidak sampai sebegitunya, awalnya gue tetap merasa agak risih. Tapi lalu tanpa gue sadari, gue sendiri jadi ketularan suka sesekali menepuk pundak rekan kerja atau bawahan gue di kantor!

Pada dasarnya jika kita tidak merasa nyaman, kita punya hak untuk menyuarakannya. Tapi menurut gue, tidak perlu sampai heboh dibesar-besarkan juga (kecuali jika sifatnya sudah mengarah ke pelecehan seksual). Coba berpikiran positif karena sebetulnya, saat mereka menepuk pundak kita, itu adalah cara mereka untuk mengatakan, “I’ve got your back!”

Tidak pelit pujian

Dibanding bos-bos gue yang orang Indonesia asli, bos-bos bule ini lebih terbuka bukan hanya saat memberikan kritik, tapi juga saat memberikan pujian baik itu pujian lisan atau pujian melalui tulisan yang mereka kirimkan via Skype messenger. Sangat sering gue menerima pujian seperti, “You’re so good, you know?” Atau “Wow, that’s impressive. You’re impressive.” Atau, “Nobody in this room understands this as well as Riffa does.”

It’s flattering, isn’t it?

Tanpa gue sadari, pujian-pujian itu membuat gue jadi sangat percaya diri. Gue yang dulunya minder sekarang malah jadi orang yang sangat yakin dengan kemampuan diri gue sendiri. Gue jadi sadar kualitas baik apa saja yang harus gue pertahankan dalam diri gue ini. Kepercayaan diri ini pula yang kemudian banyak membantu gue melewati masa-masa sulit dalam perjalanan karier gue. Gue sekarang meyakini, “Jika mereka saja percaya sama kemampuan gue, kenapa gue tidak mempercayai kemampuan diri gue sendiri?”

They didn’t take no as an answer

Dulu, bos-bos gue itu sering dengan bangganya bilang bahwa mereka tidak menerima jawaban tidak sebagai jawaban atas pertanyaan atau permintaan mereka. Pikir gue saat itu, “They’re sooo stubborn!” Sifat mereka yang satu itu udah bikin gue harus kerja mati-matian untuk menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang datang sebagai efek samping dari ide dan inovasi mereka.

Kemudian belum lama ini di kantor gue, saat bos baru (yang juga orang bule), menyampaikan kabar soal kenaikan jabatan gue, dia bilang begini, “You are the right person for this job because you are very determined and you don’t take no as an answer.”

Wait, what? Damn it! I’m exactly like my bosses back at Lazada!

Pada akhirnya gue mulai berubah pikiran. Doesn’t take no as an answer itu tidak selalu berarti keras kepala, tapi lebih kepada persistence. Lebih kepada sikap pantang menyerah meskipun banyak rintangan yang datang menghadang. Bagaimanapun pada akhirnya, diperlukan keteguhan hati yang seperti itu untuk bisa sampai ke tujuan akhir yang kita inginkan. Dan tentunya, suatu tujuan tidak akan tercapai jika hanya sang pimpinan perusahaan yang memiliki persistence seperti itu! Itulah sebabnya mereka tidak mau menerima jawaban tidak dari timnya sendiri: supaya semuanya bisa bersama-sama making goals happen!

Semakin ke sini, semakin gue melihat peningkatan kualitas dalam kapasitas diri gue sebabai leader. Dan baru sekarang gue menyadari, para mantan bos bule gue itu pula yang sebetulnya sudah banyak membantu gue untuk bisa menjadi pemimpin yang lebih baik. Ini yang gue maksud dengan, “Saat mengenal orang lain, ambil yang baik-baiknya untuk menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya!”

Bisa Nggak, Cewek & Cowok Murni Bersahabat?

Judul blog ini boleh dibilang topik yang termasuk sering dibahas di berbagai media sejak jaman gue masih ABG sampai gue menginjak usia dewasa saat ini. Jawabannya pun selalu cenderung terbagi dua: bisa dan tidak bisa.

Lalu bagaimana pendapat pribadi gue?

Gue tentu tidak bisa menjawab pertanyaan ini atas nama semua orang di muka bumi ini, tapi gue tentu bisa menjawab berdasarkan pengalaman pribadi gue sendiri yang kebetulan, awet bersahabat dengan 3 lawan jenis mulai dari teman SMA (yang baru saja wafat 3 hari yang lalu, may he rest in peace), sampai teman yang gue temui di tempat gue pernah bekerja.

Siapa saja mereka? Berikut ini cerita singkatnya!

My high school buddy: Junet

Yang pertama namanya Junet; almarhum Junet, sahabat gue dari kelas 1 SMA. Dulu ceritanya gue dan dia bergabung dalam satu gank yang sama dengan 3 orang perempuan lainnya. Gue masih ingat saat SMA dulu, sempat ada gosip beredar soal gue pacaran sama Junet. Gosip yang tidak bertahan lama karena kemudian marak beredar kabar soal siapa cowok yang beneran gue suka di kelas kita itu, hehehe.

Junet ini orangnya selalu ceria. Setiap ada dia, gue pasti bisa ketawa sampai sepuas-puasnya. Junet juga sangat helpful, mulai dari bantu gue menyelesaikan skripsi sampai bantu gue supaya biaya liburan gue ke Bali bisa di-reimburse ke kantor gue sebelumnya (di sana memang ada program yang memberikan gue pilihan antata gadget, education, atau travel reimbursement).

Yang paling unik, Junet ini semacam gay radar buat gue. Berawal dari sebuah penelitian yang menyatakan 1 dari 10 cowok Indonesia itu ada kecenderungan homoseksual, gue jadi parno sendiri. Jadilah (hampir) tiap kali gue naksir cowok baru, gue akan kirim socmed link cowok itu ke Junet hanya untuk bertanya, “Do you think he’s gay?

Sejujurnya gue ini bukan tipe orang yang mudah mendapatkan sahabat. Ada banyak banget orang yang mengenal gue di sekolah dan di kantor gue, tapi hanya sedikit yang bisa awet dan tahan lama menjadi sahabat gue. Sifat keras gue bukan sifat yang bisa dimaklumi oleh semua orang. Itu pula sebabnya kehilangan Junet sudah jadi kehilangan terbesar dalam hidup gue; sahabat yang bisa menerima gue apa adanya (termasuk sahabat yang tidak pernah cemburu dengan pencapaian hidup gue), sudah berkurang jumlahnya satu orang. Gugur sudah rencana gue untuk menjadikan dia sebagai salah satu “best man” gue di pernikahan gue suatu saat nanti. He’s gone, but I will always remember him as my friend; my best friend (literally) forever.

My Playboy Best Friend: Steven

Jujur awalnya, gue enggak berniat menjadikan Steven sebagai sahabat. Kenapa? Karena awalnya gue langsung naksir sama dia, hehehe. Semacam naksir pada pandangan pertama. Kenapa gue berani nulis di sini? Ya karena orangnya juga sudah tahu. Dia malah pernah bilang cinta sama gue via telepon bertahun-tahun yang lalu (walau sekarang gue ragu apakah saat itu dia sedang dalam keadaan sober, hehehe). Perasaan gue ke Steven enggak bertahan lama selain karena dia sudah punya pacar, tapi juga karena gue menemukan gebetan baru di kantor gue yang selanjutnya (iya, gue emang gampang kena cinlok, hehe). Gebetan setelah Steven itu malah bukan sekedar gebetan sih. Kalau dipikir sekarang, dari semua cowok yang pernah gue suka, cuma satu orang itu saja yang pernah sampai tahap gue beneran cinta sama dia.

Kisah cinta gue itu sayangnya tidak berakhir baik. Gue patah hati habis-habisan. Dan saat itu, Steven banyak bantu gue untuk move on. Dari situ gue sadar, Steven akan lebih baik menjadi sahabat buat gue ketimbang pacar apalagi calon suami. Dan benar saja… sudah 10 tahun gue dan dia saling mengenal, dan dia selalu ada untuk mendengar kisah-kisah patah hati gue yang tidak pernah ada habisnya itu, hehehe.

With that being said, pertemanan gue dengan Steven ini ada pasang-surutnya. Kalau sedang berantem, kita bisa lose contact sampai setahun lamanya. Meski begitu hebatnya, tiap kali gue ngerasa butuh teman ngobrol setelah lose contact dengan dia berbulan-bulan lamanya, dia tetap bisa langsung meluangkan waktu untuk mendengarkan curhatan gue. Beda sama Junet yang sering gue jadikan sebagai gay radar, kalau Steven malah tanpa ditanya bisa langsung seenaknya menuduh begitu banyak mantan gebetan gue sebagai gay. Kadang bete sih, tapi berhubung gue butuh teman curhat (and again, teman gue itu jumlahnya nggak banyak), jadi ya sudahlah, terima saja resiko diceramahi, “I’ve told you, he’s gay!”

Yang namanya perasaan itu memang aneh ya. Rasa naksir gue ke Steven ini seperti sudah menguap dengan sendirinya. Gue bisa santai saja kenalan atau bahkan hang out bareng pacar terbarunya dia. Gue juga pernah dengan santainya membawa dia sebagai wedding date gue. Gue bahkan pernah datang ke rumah orang tua dia sebagai teman dan sama sekali enggak ada yang terasa aneh dari itu semua. He is my friend and will always be my platonic friend.

Best of the best: Chrisnata

Maaf yah Steven, tapi Chris ini emang best of the best, hehehe. Gue mengenal Chris sekitar 7 tahun yang lalu dan persahabatan gue dengan dia terjalin secara konsisten sampai sekarang. Dari semua sahabat gue, cuma Chris yang pernah mendengar segala-galanya. Biasa gue curhat ke Steven cuma kalo Chris sudah tidur dan nggak balas Whatsapp gue (gue tipe pekerja yang sering lembur dan cuma sempat curhat di malam hari, dan kebetulan Steven ini tipe orang yang meleknya malah di malam hari, hehehe).

Chris ini so sweet banget deh orangnya. Mengambilkan obat saat gue sakit, nemenin gue belanja baju, dan ingat cerita soal teman yang datang menjenguk saat gue sakit sambil membawa DVD Grey’s Anatomy kesukaan gue itu? Yup, that was Chris who did that. Beda sama Steven dan Junet yang lebih blak-blakan, Chris ini lebih berusaha untuk menjaga perasaan gue tiap kali dia menyatakan pendapatnya soal curhatan gue. That what makes him the best of the best, hehehehe.

Gue ingat banget beberapa tahun yang lalu, Chris bilang begini saat baru jadian dengan pacarnya, “Gue udah bilang sama cewek gue kalo elo itu temen baik gue.” Jadi ceritanya, saat itu dia merasa enggak nyaman jika harus kehilangan gue sebagai temannya hanya karena keberadaan pacarnya. Gue dan dia sama-sama berharap, kita berdua bisa terus bersahabat, untuk selama-lamanya. Amiin!

Jadi apa kesimpulannya?

Gue jelas meyakini bahwa cewek dan cowok bisa murni bersahabat bahkan hingga usia dewasa. Menurut gue, chemistry untuk sahabat dengan chemistry untuk pasangan hidup itu dua hal yang jauh berbeda. Bagaimanapun, ketetertarikan fisik itu komponen penting dalam romantic relationship, dan ketertarikan fisik itu yang tidak gue rasakan pada sahabat-sahabat gue ini (dan begitu pula sebaliknya). Kita juga bukan tipe sepasang sahabat yang punya pikiran, “Kalo sampe usia 40 kita masih single, kita married aja lah.” Karena memang bukan itu arah, niat, dan tujuannya! Kedudukan mereka buat gue sama persis dengan semua sahabat perempuan gue: kita hanya ingin menjalin persahabatan yang long lasting, yang bisa kita wariskan sampai ke generasi anak-anak kita nanti.

Ya, gue memang tidak punya banyak teman, tapi syukur alhamdulillah, gue punya cukup banyak sahabat yang luar biasa. Merusak persahabatan itu dengan unsur cinta-cintaan? Big no no!

September Kelabu, Lagi…

Jakarta, 5 September 2018

Jakarta macet… gue dalam perjalanan menuju Bekasi… ingin cepat sampai sana. Ingin segera ketemu sahabat-sahabat gue… ingin ketemu dengan keluarga dari sahabat gue yang lainnya… yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya.

Namanya Rudi Junaidi. Biasa kita panggil Junet. Sahabat satu gank sedari SMA. Orang yang kenal dekat sama gue pasti pernah mendengar nama Junet dari mulut gue. Cerita-cerita gue soal keunikan-keunikan sahabat gue yang satu ini.

Junet masih jadi teman curhat favorit gue. Teman yang bisa dengan santainya gue tanya, “Do you think that my crush is gay?” atau berbagai pertanyaan random yang hanya gue rasa nyaman untuk ditanyakan kepada Junet saja. He never judged, he was one of a few people who made me feel like I could really be myself just the way I really am.

Sudah belasan tahun saling mengenal, silaturahmi gue dan Junet tidak pernah putus… sampai akhirnya dia meninggalkan gue dan sahabat-sahabat lainnya terlebih dulu.

Awal minggu ini, Miko, salah satu teman sekantor Junet yang kebetulan gue kenal mengabari soal Junet masuk rumah sakit. Junet memang sudah sebulan ini mengeluh sakit kepala. Ingin segera jenguk, tapi kantor sedang migrasi sistem, tim gue sedang bekerja siang-malam, 7 hari dalam seminggu… gue putuskan jenguknya nanti saja di hari Sabtu. Tidak terpikir penyakit Junet sebegitu parahnya… padahal hasil tes MRI dia itu bersih, tidak ditemukan penyakit atau kelainan apapun.

Tadi sore, saat sedang sibuk berdiskusi dengan tim gue, Miko telepon ke hp gue… Dari situ gue mulai khawatir… something might have gone wrong. Gue tidak dengar jelas Miko bilang apa, gue hanya mendengar dia tengah menangis tersedu-sedu. Meski tidak terdengar jelas, gue tahu dengan sendirinya, Junet sudah tiada…

Telepon terputus, Miko tidak bisa dihubungi kembali. Gue kontak Nitya, sahabat gue yang lainnya, yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Junet. Gue masih berpikiran, “Mungkin gue salah dengar, mungkin Junet masih kritis, mungkin Junet masih ada…”

Nitya ternyata baru sampai parkiran rumah sakit. Dia tiba persis sesaat sebelum Junet pergi meninggalkan kita semua. Nitya juga yang kemudian mengkonfirmasi kabar buruk itu, dan baru pada saat itu semuanya jadi terasa nyata buat gue; Junet, sahabat baik kita semua, sudah pergi untuk selama-lamanya.

Gue mulai fokus atur rencana untuk langsung pergi ke rumah orang tua Junet. Gue hubungi supir gue minta dijemput. Setelah beres urusan penjemputan, pikiran gue rasanya kosong. Gue bingung harus bagaimana. Dan tiba-tiba saja, mata gue mulai terasa hangat… gue cepat-ceat beranjak ke toilet kantor, masuk ke bilik toilet, menutup dudukan toilet, duduk di atasnya… dan air mata pertama gue untuk Junet mulai menetes dengan sendirinya.

Junet yang selalu ceria. Yang selalu menghibur kita semua. Yang selalu tertawa meskipun jokes gue enggak ada lucu-lucunya. Yang selalu menyemangati gue tiap kali sedang patah hati. Yang selalu jadi satu dari sedikit teman lama yang masih gue sebut sebagai “sahabat”… kini sudah tiada. Segala rencana meet-up selanjutnya, acara jalan-jalan selanjutnya, semua tinggal rencana saja. Lambaian tangan Junet saat terakhir kali gue bertemu dia 2 bulan yang lalu telah menjadi lambaian perpisahan terakhir dia, untuk selama-lamanya…

Gue nggak sangka Junet pergi secepat ini… di usia yang masih sangat muda. Yang lebih gue nggak sangka, gue merasa kehilangan sampai sebesar ini. This has been the biggest lost to me and it really really broke my heart. Jadi terasa banget betapa berartinya 17 tahun persahabatan gue dengan dia, jadi sebegitu terasa, justru setelah dia benar-benar pergi dari hidup kita semua.

This is one of the moments that make me realize that “life is short” is so true! Gue jadi kepikiran cita-cita dan rencana-rencana Junet yang belum tercapai… kepikiran anak perempuannya yang masih balita… Kepikiran betapa cepat semua itu hilang, hanya dalam sekejap mata.

Sampai sini gue bingung mau tulis apa lagi… Gue pengen bilang thanks atas segala bantuan dia dari hal kecil sampai besar, dari dulu sampai sekarang, ingin juga bilang thanks atas persahabatan gue dan dia selama ini… tapi bagaimana caranya gue bilang thanks? Junetnya udah nggak bisa lagi mendengar gue…

Gue udah hampir sampe ke rumah ortunya Junet. Rumah yang terakhir gue datangi untuk menjenguk kelahiran anak pertamanya akan menjadi rumah tempat gue melihat wajahnya, untuk terakhir kalinya…

Rest in peace, Junet. You will be forever missed.

Apa Sih Susahnya Ikut Berbahagia Buat Sesama Perempuan?

Kemarin malam, gue mengucapkan selamat kepada salah satu ex-colleague yang baru saja mendapatkan kenaikan jabatan di kantor gue sebelumnya. Gue beneran ikut happy dia telah berhasil mendapatkan jabatan yang memang pantas dia dapatkan. Setelah mengucapkan selamat via LinkedIn, gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “Apa sih susahnya ikut berbahagia untuk perempuan lain yang kita kenal?”

Teman gue yang satu ini bukan cuma pintar, tapi juga cantik dan disukai banyak orang (satu kualitas yang tidak begitu gue miliki, hehehe). Tipe cewek yang bisa bikin iri banyak cewek lainnya di luar sana. Padahal sebetulnya, apa sih untungnya buat kita iri sama perempuan lain?

Ada lagi satu teman lain yang sangat cantik, fashionable, selalu pakai tas bermerk, selalu wangi, dan disukai begitu banyak cowok di kantor gue. Teman cewek lain banyak banget yang sering membicarakan kejelekan dia. Padahal setelah kerja bareng dia, gue ngerasa dia sama sekali tidak seburuk itu. Gue malah suka ngobrol-ngobrol dan menghabiskan waktu bareng sama dia. Dari situ gue jadi sadar, cewek-cewek itu membenci dia bukan karena sifatnya, tapi karena kelebihan-kelebihan yang dia miliki.

Gue bukan tipe orang yang sungkan memuji perempuan lain. Saat teman gue yang cantik banget itu upload foto yang keren banget ke Instagram account-nya, gue tidak pikir dua kali untuk comment hanya untuk bilang, “You look stunning!”

Gue tidak pernah mau repot-repot mengamati mereka (cewek-cewek hebat ini) untuk mencari celah kekurangan mereka. Gue tidak pernah mau sengaja berkomentar buruk hanya untuk mengurangi kebahagiaan mereka. Dan yang paling penting, gue tidak mau ikut-ikutan menjelek-jelekan mereka di saat sebetulnya, mereka tidak salah apa-apa.

Seperti yang pernah gue tulis belum lama ini; cara paling instan untuk menambah kebahagiaan dalam hidup kita adalah dengan ikut berbahagia untuk orang lain di sekitar kita. Dan betul deh, hal itu sama sekali tidak sesulit yang kita kira! Kebahagiaan itu sifatnya menular, dengan syarat, kita tidak membiarkan rasa iri menghalangi rasa bahagia atas kebahagiaan orang lain itu.

Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa berbahagia untuk kebahagiaan orang lain? Caranya sederhana: lakukan hal-hal yang bisa membuat kita semakin bangga atas diri kita sendiri, dan yang tidak kalah penting, belajar untuk mencintai dan membahagiakan diri kita sendiri. Saat kita sibuk dengan goals kita sendiri, sibuk mengurus kebahagiaan kita sendiri, maka kita tidak akan punya ruang dalam hati untuk membenci kebahagiaan orang lain.

It’s that simple, isn’t it?

In Every Tragedy in Life, We Will ALWAYS Have These Two Options

One of my colleagues told me this one interesting insight. She said, “It’s amazing how 2 people with the same condition can have 2 very different outcomes. One fails, one succeeds.”

She also gave me one good example of her two friends whose parents suddenly broke until they had to sell their houses and started from the scratch. Her first friend spent the rest of his life wondering why it happened to him, blamed the universe for being terrible to him, and pretty much did nothing to make it right. The other one decided to move on and work hard to pursue his lifelong dreams.

I can always see my colleague’s point of view in so many other events in life.

Children from a broken home have 2 options: making their past baggages as an excuse to ruin their future or using it as a strength to pursue their own happy ending.

Employees who got fired have 2 options: letting their failures become their identities or learning from their mistakes and doing better in the coming opportunities.

Lovers who got cheated also have 2 options: feeling sorry for themselves or healing the pain and trying to believe and to love again.

What about my own life?

Oh well, I’ve actually had many rejections in my life too. In romance, friendship, and even rejections at work (one thing that I’m actually very good at). Horrible bosses who tried to make me feel small just because his own failure as a leader? I’ve been there too! Being called stupid and ugly was also a part of my past. And not to mention, my childhood was definitely not an easy one. I’m far from perfect but I’m glad that everytime this life knocked me down, I always chose to get back up on my feet again. And no matter how bad other people hurt and broke my heart, I always chose to never lose my faith in humanity.

So again, in every miserable condition, you only have two options: you let it make you a loser, or you come out as the winner. The choice is yours, and only yours.

The More You Give, The More You Get in Return

Belum lama ini, alhamdulillah, gue kembali mendapatkan kenaikan jabatan di kantor baru gue (baru 6 bulan tepatnya). Dari semua promosi yang pernah gue dapatkan, ini benar-benar promosi terbaik banget deh pokoknya.

Saat mendengar kabar tersebut, salah satu teman gue bilang begini, “Elo orangnya loyal, jadi berbuah manis deh.”

Hal ini mengingatkan gue dengan salah satu teman lama yang juga pernah mengucapkan hal yang sama pada salah satu promosi gue sebelumnya; dia bilang, rezeki gue dipermudah karena gue tipe orang yang senang memberi kepada orang lain.

Benarkah demikian? Benarkah kemurahan hati bisa memperlancar rezeki yang kita miliki? Menurut gue iya, bisa jadi memang benar demikian.

Gue kebetulan dibesarkan oleh orang tua yang senang memberi. Mereka mengajarkan gue sejak kecil untuk tidak pernah bersikap pelit. Dan gue masih ingat dulu banget, nyokap pernah marah karena gue menangis meraung-raung hanya karena gue tidak rela untuk memberikan baju bekas yang sudah tidak gue pakai untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Seingat gue, sejak itulah gue belajar untuk bersikap lebih dermawan.

Memang sih, tidak ada korelasi langsung antara memberi dengan rezeki. Kenaikan pangkat itu memang bukan gue dapatkan dari orang yang pernah gue tolong. Memang teori yang tidak sepenuhnya logis, tapi gue betul-betul mempercayai bahwa semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima. Dan begini logikanya.

Saat kita dengan mudah memberikan sesuatu kepada orang lain, saat itu kita juga sedang berinvestasi kepada diri kita sendiri. Melakukan hal baik membuat kita merasa baik, bahagia, dan juga memberikan ketenangan hati dan pikiran, yang pada akhirnya, semua energi positif itu membuat kinerja kita dalam mencari rezeki juga jadi lebih baik. Contohnya, pikiran kita jadi lebih positif, lebih optimis, lebih tahan banting, dan lain sebagainya! Semua pekerjaan pasti ada rintangannya, dan tidak semua orang bisa melewatinya dengan baik. Dan gue percaya, berbuat baik telah berhasil membuat gue lebih mampu untuk melewati segala rintangan itu.

Berbuat baik ini tetap ada korelasi langsungnya juga, by the way. Meski jaman sekarang ini ada semakin banyak kacang yang lupa kulitnya, orang-orang yang ingat membalas budi juga tetap ada. Dan ini juga tentu akan sangat membantu mendatangkan rezeki! Mulai dari hal kecil seperti menyemangati saat pekerjaan sedang bikin kita stres setengah mati, menjawab telepon dan bantu menjawab pertanyaan kita yang sesuai dengan keahlian mereka, sampai hal besar seperti memberikan kita peluang kerja yang sebetulnya bisa saja mereka berikan pada orang lain yang sama capable-nya dengan kita.

Lihat kan? Tidak ada pemberian yang sia-sia!

Belajarlah untuk memberi… sedikit tip untuk Go-jek driver atau pelayan restoran tidak akan membuat kita bangkrut! Tidak usah terlalu hitung-hitungan yang akhirnya malah membuat orang lain menjadi jengkel. Dan yang paling penting, jangan karena saking pelitnya malah jadi menjadi parasit untuk orang lain!

Amal yang baik adalah pembuka rezeki. Bekerja keras dan cerdas itu penting, tetapi menjadi orang yang baik juga tidak kalah penting.

Have a nice weekend!