Mari Berhenti Menjadi Generasi yang Usil Mulutnya!

Dulu, ada salah satu teman yang paling sebal saat ditanya kapan married. Setelah beberapa kali ganti pacar, akhirnya dia married juga. Lama tidak berkomunikasi dengan teman gue itu, hari ini gue baca comment dia di salah satu foto yang di-post oleh mutual friend kita di Instagram.

Ceritanya, teman gue yang satu lagi itu upload foto farewell dia dengan teman sekantornya. Dia baru resign dari pekerjaan terakhirnya. Cukup banyak comment yang mengatakan, “Good luck” dan yang sejenisnya, kecuali satu orang teman yang gue sebutkan di awal tulisan. Teman gue yang satu itu, malah comment begini, “Kapan married-nya nih?”

Gue langsung geleng-geleng kepala… Dulu dia stres ditanya kapan married, sekarang dia malah bikin orang lain yang sedang stres dengan urusan belum married dengan menanyakan pertanyaan yang sama! Kelihatan banget usilnya karena comment dia betul-betul enggak nyambung dengan konteks foto farewell kantor!

Budaya mulut usil ini rasanya sudah seperti budaya yang menurun dari satu generasi ke generasi. Padahal sebetulnya tidak harus demikian! Bisa juga generasi kita – para millennial – menjadi generasi pertama yang berhenti mewariskan bad habit ini.

Prinsipnya sederhana saja, “If you don’t want people to do the same thing to you, then don’t do it to someone else you know!”

The Way Men Oppress Women, Nowadays…

Tadi malam, salah satu teman sekantor gue (cowok) bilang kurang lebih begini, “Dari dulu sampai sekarang, cowok itu selalu punya cara buat oppress cewek. Kalo dulu, caranya dengan ngelarang ini-itu. Kalo sekarang, caranya dengan mempermainkan emosinya cewek. Ghosting, PHP, apapun yang bisa bikin ceweknya tertekan.”

Oh man, he was so right! Agak kaget juga gue mendengar kalimat itu justru dari mulut cowok!

But don’t you guys think he’s right about what he said?

Emang sih, gak boleh pukul rata. Enggak semua cowok kayak gitu, dan bukan cuma cowok aja yang suka mempermainkan lawan jenis. Tapi kalau diamati, bukankah lebih banyak cowok yang mempermainkan cewek ketimbang cewek mempermainkan cowok?

Statement teman gue itu seperti wake-up call buat gue. Kita, perempuan, cuma jadi korban jika kita dengan sadar menempatkan diri kita sendiri sebagai korbannya.

Bagaimana bisa?

Dalam hati kecil sebetulnya kita sudah tahu, dia tidak serius dengan kita. Bisanya cuma kasih pertanda-pertanda yang tidak cukup jelas apa maksudnya. Kita tahu kita hanya korban PHP, tapi tetap saja, kita menaruh harapan kepada dia yang kita sukai itu. Andai kita memilih untuk move on, maka kita tidak akan pernah jadi korban PHP. We won’t be the victim, we’ll be the survivor.

Yang paling buruk dari cara cowok “oppress” cewek jaman sekarang (yang juga diamini oleh teman gue itu), adalah cowok semakin pintar dalam menjalankan taktiknya. Caranya sangat halus sampai kita tidak bisa menyalahkan mereka atas apapun yang mereka perbuat itu. Pada titik tertentu, kita bisa sampai berpikiran, “Am I delusional to think that he has feelings for me?”

Girls, wake up! This problem is REAL! Stop wasting your times for the wrong person! If he really likes you, he will go and get you! No excuse, no but, no fake signs and promises!

Kalau tulisan gue ini masih belum cukup convincing, coba baca atau nonton “He’s Just Not That Into You.”

Because the ugly truth is that… he’s just not that into you!