Dua Hari Tanpa “Proper Internet”

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik!

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay šŸ˜€

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringat buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini.

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga bisa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membangunĀ bisnis gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak akan sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, notaris untuk urus perijinan, PH untuk bikin video, dan masih banyak lagi yang pada intinya, tidak relevan untuk gue baca semua isi buku yang terkait dengan masing-masing topik.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soalĀ database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

 

 

Dua Hari Tanpa “Proper Internet”

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik! 

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry 😦 *lebay šŸ˜€

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah 😦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting 😦 Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringag buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini. 

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga busa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membuat website gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak perlu sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, tidak relevan untuk gue baca semua isi bukunya.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soal database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

Never Ever be Obsessed of Someone Else

Terobsesi atas suatu tujuan (cita-cita misalnya) kadang kala bisa jadi sesuatu yang mendatangkan hasil positif. TAPI, hal yang sama tidak berlaku pada obsesi kepada sesama manusia. Saat kita mulai terobsesi pada orang lain, pada saat itulah kita mengakhiri kebahagiaan kita sendiri.

Sebelum gue lanjutkan, apa sih definisi obsesi itu sendiri?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, obsesi itu gangguan jiwa berupa pikiran yang sangat sukar dihilangkan.

Atau mengutip dari kamus Cambridge, terobsesi adalah terlau memikirkan, tertarik, atau khawatir akan sesuatu.

Berikut ini contoh kasus nyata di mana seseorang sangat terobsesi dengan orang lainnya.

  1. Terobsesi pada orang yang kita cintai. Ditandai dengan perhatian yang berlebihan (sampai pada tahap di mana objek yang diperhatikan justru merasa risih atau terganggu), cemburu berlebihan, dan rasa ketergantungan yang juga berlebihan, seolah hidup akan berakhir jika sampai kehilangan orang yang dicintai;
  2. Terobsesi pada idola, penyanyi kesukaan misalnya. Saat sudah mulai terobsesi, kehidupan pribadi sudah tidak lagi penting. Banyak buang-buang uang, buang-buang waktu, bahkan sampai nekad melakukan hal ekstrim untuk menarik perhatian idola tanpa peduli bahwa sebetulnya, idola kita itu justru tidak merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan;
  3. Terobsesi sampai senang melakukan copy-cat. Beli tas dan baju yang sama, menginginkan pekerjaan yang sama, gaya hidup yang sama, teman-teman yang sama, bahkan hal-hal kecil seperti gaya bahasa juga ditiru sekalian. Hati-hati… lama kelamaan orang ybs pasti akan menyadarinya dan mereka tidak akan merasa nyaman dengan perbuatan kita itu. Tanyakan pada diri sendiri… kenapa harus copy-cat? Kenapa tidak cukup bahagia dengan jadi diri sendiri saja? Copy-cat juga termasuk tanda ketidakbahagiaan, jangan dibiasakan dan mulai segera cari solusinya!
  4. Senang melihat ketidakbahagiaan orang-orang tertentu. Pagi siang malam kita habiskan untuk mengamati hidup mereka baik-baik, luar dalam, mencari celah ketidakbahagiaan dalam diri mereka. Dari semua jenis obsesi, ini obsesi yang paling tidak sehat menurut gue. Kenapa? Karena obsesi yang satu ini berpotensi membuat kita menjadi orang jahat. Dengan sadar dan sengaja melakukan hal-hal yang kita tahu akan menyakiti orang ybs. Membenci orang lain tanpa ada alasan yang jelas bisa jadi efek dari rasa benci pada diri kita sendiri. Jangan dibiarkan dan segera cari pertolongan!
  5. Membenci secara membabi buta. Yang ini sedang nge-trend di Indonesia akhir-akhir ini. Saat sudah mulai membenci seseorang, pikiran kita tidak jauh-jauh dari bagaimana cara untuk menghina orang tersebut. Semua berita buruk tentang orang ybs akan langsung disebarkan meski belum tentu jelas kebenarannya. Dan biasannya, kita jadi mendadak “berteman” dengan orang-orang yang juga membenci orang yang sama meskipun sebenarnya mereka juga bukan tipe orang yang biasa kita jadikan teman.

Sebetulnya gue enggak ngerti kenapa seseorang bisa terobsesi pada orang lainnya.

Cinta bertepuk sebelah tangan? Move on saja!

Ngefans dengan penyanyi idola? Cukup nonton konsernya saja.

Meniru orang lain yang gue kenal? Oh, please. I love my life as it is!

Senang melihat orang lain tidak bahagia? Gue malah sedih saat orang yang menyakiti gue tertimpa musibah lagi dan lagi. Gue sudah doakan supaya diberi kesembuhan.

Membenci membabi buta? Gue tentu pernah sangat membenci orang lain, tapi tidak sampai membabi buta. Biasanya jika gue udah sampai benci banget, gue akan jaga jarak dulu. Gue jauhkan diri gue dari hal-hal yang bisa mengingatkan gue dengan orang-orang ini. Gue paksakan diri gue untuk tidak mengatakan atau melakukan sesuatu di saat gue sedang marah-marahnya supaya tidak memperburuk keadaan.

It’s actually simple, isn’t it? It’s the obsession that makes our life becomes a lot more complicated.

Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita sudah terlanjur terobsesi pada orang lain? Rasanya hanya ada satu solusi: belajar tahan diri. Jika sudah sangat parah, tidak ada salahnya untuk coba cari pertolongan profesional, psikolog klinis misalnya.

Bagaimana jika kita berada dalam posisi yang sebaliknya? Apa yang harus kita lakukan saat ada orang lain yang terobsesi dengan kita?

Saat ada cowok yang kelihatan terobsesi, gue tolak baik-baik. Gue putuskan komunikasi, supaya tidak memberi mereka harapan palsu.

Saat ada orang yang senang meniru, gue betulan pernah menegur mereka baik-baik. Gue bilang terus terang bahwa gue merasa tidak nyaman. Jika gue rasa tidak worth-it untuk bicara terus terang, gue lebih memilih untuk jaga jarak saja. Gue tidak bisa berteman dengan orang yang berusaha keras menjadi seperti gue. Hubungan gue dengan tipe orang seperti ini tidak pernah berakhir baik, ujung-ujungnya ada saja drama yang membuat gue semakin merasa tidak nyaman.

Lalu saat ada orang yang senang berusaha menyakiti perasaan gue, biasanya gue tegur baik-baik dulu. Akan gue tanya, gue salah apa? Jika tidak ada perubahan, ya sudah, gue tidak perlu kenal mereka lagi. Daripada gue terus berpikiran macam-macam, lebih baik benar-benar disudahi saja. Hidup yang sudah rumit tidak perlu dibuat jadi lebih rumit!

Life is too short to be obsessed of someone else. Be kind to yourself, set yourself free from your own obsessions. Find your happy place and leave all your baggage behind. Then you will be just fine!

Will that Mr. Right be Any Different with Your Ex?

A few months ago, I told an old friend of mine that the only reason why I was still single was merely because I hadn’t found the right person just yet. Surprisingly, he told me that it was not the real reason. He said, ā€œYou’re just too lazy to make it happen.ā€

I often hear people say that the right person will come along. One thing that people rarely admits is that in fact, a right person doesn’t make everything any easier. At the end of the day, it will take an equal amount of efforts just to keep going with this person. The only reason why you call him as your right person is that he is the one who’s willing to fight the battles and win the war for you, and you both are determined to spend the rest of your lives together.

This one person may not be better than you ex. He will also come with flaws, a lot of it, and he’s not so much different with your ex in a way he too makes you mad, makes you cry, and makes you wonder if you’ve been doing the right things. Did you know? 90% of brides to be I know had doubts about their weddings. What I’m trying to say, the chances are… you will never find someone whom you’re 100% sure about. The only thing that makes him different with your ex is that this time, you’re willing to get rid of your doubts to start a life with him in it.

All these facts got me thinking… maybe, it’s not about finding someone who is right for me. Because maybe, it’s about me finding myself. And it’s not that the men from my past were wrong, it was just that the timing wasn’t right for both of us. Both of us hadn’t had enough lessons on how to be right for each other.

Life has taught me that nobody is perfect, and that’s the first step. I have given up trying to find someone who is exactly like what I want. I finally accept the fact that I will never get to say this on my wedding day, ā€œHe’s everything that I always want.ā€ There’s always a ā€œbutā€ in my sentence when I describe him, and that’s okay.

I’ve also learned that everyone, no matter how kind he is, will eventually hurt me. He will disagree with me, we will have a couple of fights, he will break my heart and make me upset. I will never find someone who ALWAYS, from times to times, makes me completely happy. No matter who he is, it will never be an easy road between us, and that’s okay too.

And then finally, I’ve come to learn that my life, my rule, my decision. No matter who he is, people will always have something to say. I will never find someone whom everyone approves. He won’t be able to please everyone I know, and he doesn’t have to!

I write this not because I have finally found my Mr. Right. I think it’s better that I write it now so that people won’t presume that I’m talking about my spouse :p Whether it’s right or wrong, I’ll see about that. Very soon, I guess šŸ˜‰

You and your future man will come along to each other, and right now, both of you are still learning how to be right for each other. Keep going and you’ll get there. I know I’ll get there, someday.

A Heartbreak is Just About Time

Patah hati ada banyak jenisnya. Ada yang terasa ringan, karena toh kita hanya sekedar “ngefans” sama si (mantan) gebetan. Ada yang lumayan berat, biasanya karena sudah mulai tumbuh rasa cinta dalam waktu yang cukup lama. Dan ada juga patah hati “kronis” yang butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk bisa sembuh.

Apapun itu, pada dasarnya, patah hati hanya soal waktu. Cepat atau lambat, kita akan pulih dengan sendirinya. Konon katanya, semakin optimis kita bisa move-on, akan semakin sedikit pula waktu yang kita butuhkan untuk bisa betulan move-on.

Di awal patah hati, godaan untuk kembali mencoba akan masih sangat sering terasa. Masih sering maju-mundur, berubah-ubah pikiran, sering baper dan penuh dengan keraguan. Dorongan untuk terus mengamati kehidupan si mantan (entah itu tanya-tanya ke orang sekitar, atau mengamati diam-diam via social media) masih terasa begitu besar.

Seiring berjalannya waktu, ada kalanya kita mulai merasa bahwa kita sudah moved on, sudah semakin jarang stalking dalam bentuk apapun, tapi pada fase menengah, biasanya masih rawan baper. Masih bisa tiba-tiba merasa kangen, masih suka bernostalgia, dan masih sibuk bertanya-tanya apa yang salah dan apakah masih bisa diperbaiki segala “kerusakan” yang ada.

Pelan-pelan, lama kelamaan, tanpa disadari, kita sudah moved on dengan sendirinya.

Kita sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali mengintip Instagram si mantan. Sudah tidak lagi berusaha mencari tahu apakah si mantan sudah punya pasangan baru. Sudah bisa mengingat atau menceritakan kenangan masa lampau tanpa ada rasa sedih yang mengiringi. 

Waktu menyembuhkan, dan usaha untuk move on akan mempercepat. Usaha apa saja? 

Usaha untuk tidak meninggalkan unfinished business. Jika masih ada yang terasa mengganjal, tanyakan langsung kepada orangnya.

Usaha untuk menghibur diri. Boleh berduka, tapi ada batasnya. 

Usaha untuk meyakinkan diri bahwa kita baik-baik saja. Patah hati bukan akhir dari segalanya. Fake it until we make it. 

Terus berusaha, lagi dan lagi, sampai tanpa kita sadari, kita sudah tidak lagi menganggap si mantan cukup penting untuk hidup kita ini. Atau bisa jadi, tanpa kita sadari, sudah ada orang baru yang mengisi hati dan pikiran kita saat ini šŸ˜‰

Mau satu tip tambahan? Coba bilang begini sama diri kamu sendiri, “Semakin lama saya patah hati, semakin lama saya bisa menemukan the one.”

Moving on is not just a myth. Keep trying, and you’ll get there.

The Socmed Police

Barusan banget, gue baca tulisan di salah satu media massa ternama di Indonesia yang intinya menyarankan untuk tidak sering-sering upload foto liburan supaya teman-teman di socmed yang bersangkutan tidak merasa iri. Saat baru baca judul artikelnya, tadinya gue kira tidak disarankan karena faktor keamanan saja, tapi ternyata, penulis juga menyebutkan resiko orang lain bisa jadi merasa iri!

Coba kita pikir kembali… Jika pemikiran penulis itu ada benarnya, maka artinya…

Orang yang happily married enggak boleh pamer cerita romantis sama pasangannya, supaya orang yang masih jomblo enggak iri.

Orang yang kerja kantoran enggak boleh upload foto office gathering supaya orang yang masih mencari pekerjaan enggak iri.

Orang yang sering makan di restoran mahal enggak boleh pamer foto makanannya supaya orang lain enggak iri. 

Really? Are we really that shallow?

Untuk diri gue sendiri, jangankan iri… gue bahkan tidak pernah repot-repot membenci orang lain hanya karena gue anggap suka pamer di socmed. Gue juga kebetulan bukan tipe orang yang bisa dengan gampang menuduh orang lain sedang pamer. Kenapa? Karena bisa jadi, di mata orang ybs, apa yang kita anggap “wah” hanya sesuatu yang biasa-biasa saja untuk standar mereka. Atau bisa juga, posting orang tersebut hanya sebentuk ungkapan kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Selama apa yang mereka upload tidak merugikan diri gue sendiri, kenapa juga gue harus ambil pusing?

Hal ini mengingatkan gue dengan obrolan dengan salah satu teman lama. Waktu itu ceritanya, dia menganggap teman kuliah dia di kampus dulu sering pamer belanja di butik sekelas LV. 

Begini isi obrolan kita waktu itu.

Gue: “Kalo dia check-in belanja di Pasar Tanah Abang misalnya, masih masuk hitungan pamer atau enggak?”

Dia: “Enggak. Kan cuma pasar biasa.”

Gue: “Tapi gimana kalau dia enggak pernah ke Tanah Abang dan pasar-pasar lainnya? Gimana kalo dia emang cuma beli baju dan tas di butik sekelas LV? Apa dia jadi enggak boleh check-in di Facebook, gitu?”

Dia: Sambil menganggukan kepala, “Iya juga ya… Nggak adil dong ya.”

Kenyataannya, orang yang betulan hanya makan di restoran menengah ke atas itu memang benar ada. 

Orang yang hanya mau beli tas kulit asli juga betulan ada.

Orang yang cuma punya mobil dengan harga di atas 500juta juga pasti ada saja.

Dan orang yang suka traveling karena faktor hobi (dan bukan hanya karena ingin pamer) juga betul-betul ada di dunia ini!

Apa semua itu benar berarti mereka jadi tidak punya hak untuk upload isi hidup mereka di social media? Mereka jadi tidak boleh update ini-itu hanya supaya orang lain tidak iri, begitu? 

Satu hal yang menurut gue paling lucu adalah orang-orang yang masih saja follow orang yang mereka “benci” di social media. Kalau tidak suka dengan konten orang ybs, buat apa pula tetap di-follow? Padahal baik Facebook maupun Path (2 socmed yang menganut sistem “friendsinstead of “followers“), sudah menyediakan fitur yang memungkinkan penggunanya untuk menyaring konten yang tidak ingin mereka lihat. Bisa tetap berteman tanpa perlu melihat update dari orang-orang yang tidak diinginkan. 

Masih mending jika orang-orang yang merasa iri itu hanya menyimpan perasaannya untuk diri mereka sendiri saja (karena sebetulnya, rasa iri itu manusiawi). Tapi kalau sampai meninggalkan comments yang tidak menyenangkan, apalagi kalau sampai dijadikan bahan gosip yang dilebih-lebihkan, maka dalam kasus ini, siapa yang lebih bersalah? Orang yang upload atau orang yang salah menafsirkan posting tersebut? Padahal kembali lagi pada tulisan gue di paragraf sebelumnya, jika tidak suka, cukup unfollow saja! Pemilik account ybs tidak pernah memaksa kalian untuk melihat konten socmed mereka, bukan?

Jadi sudahlah… tidak perlu repot-repot jadi socmed police hanya karena rasa iri. Jangan biarkan rasa iri mengubah pertemanan jadi permusuhan. Jangan pula merusak kebahagiaan orang lain hanya karena hal sepele seperti ini! Ingat, semua orang punya hak untuk upload apa saja dan kapan saja selama tidak melanggar ketentuan masing-masing platform. Kalau pun benar teman kita memang sengaja ingin pamer di socmed, kita toh sebenarnya tidak dirugikan. Dan sekali lagi, kalau tidak suka, kita bebas unfollow kapan saja! 

Social media is supposed to be fun. Let’s keep it that way.

When You Really Love Somebody, then Go and Get Them!

A few days ago, I told one of my colleagues, ā€œIf you really like her until that much, then you should go and get her. So long she’s not taken, you’ll still have a chance. Do it if you don’t want to wonder or regret for the rest of your life!”

And then I also told him a long-time story about how I used to lose someone who meant a lot to me. Someone who took years for me to move on (and that was only because I knew he was getting married soon), someone whom I adored, looked up to, someone who made me want to be a better person like he was.

Sometimes I wonder if I should have tried harder before it was too late.

Sometimes I think I should never listen to anyone else, I should just believe in him and me.

Maybe, I should never let my doubt consumed me. I should accept the parts of him that didn’t seem fit to me. I should be more patient. I should have more courage to fight for us, and bold enough to ask him where we stood back then.

I know that people would just say that it was not meant to be. I know that if we were meant for each other, we would somehow find a way regardless all the obstacles between us. I know all that, but I also know that I didn’t try hard enough. Knowing that I didn’t put my very best effort only left me wondering, over and over, if there was anything I could do to make us happen.

The irony is that, having said that I’ve moved on, the truth is, the memory of him never really went out of my mind.

In the lowest points of my life, I sometimes look at his happy life and I’ll wonder, ā€œWhat if we tried harder? Maybe, if only I tried hard enough, that life could be my life now. A life with him in it.ā€

What’s even worse, I still tend to compare the new guys in my life with this one guy from the past. I often say to my best friends that it’s impossible to find someone like him. And everytime I got disappointed by someone new, it was only anoher justification how right I was: I’ve had my chance and I have let it slipped through my fingers.

Believe me… it’s definitely true when people say that it’s better try and fail rather than never try and always wonder. I’ve also tried and failed, and it was indeed a lot better than the regret of letting that one amazing guy walk out of my life. At least when I tried, I didn’t have any “what if” as I already had all my questions answered. I’ve put my best effort and if the very best of me was not enough for him, then I had no doubt to let it go. 

Some people in our life may randomly happened for some reasons we don’t even remember. In some cases,  we look back and we laugh at ourselves: how could we be so crazy about all those guys? But some other people are unforgettable. They are still our favorite stories to tell, and the memories just can’t seem to fade away. They are the ones who make us learn how to define a true love, and they are the ones who will always have a little piece of us. If you have someone like that, after reading all this, I hope… you should know what to do.

I Didn’t Change, I Evolved

Ceritanya tadi pagi, Arfa keponakan gue iseng bongkar-bongkar isi rak buku gue. Dia menarik keluar buku tahunan SMA gue dulu. Arfa tanya sama gue, “Foto Aunty yang mana?”

Gue lalu membuka buku itu sampai ke halaman yang menampilkan biodata gue. Dan gue terdiam sejenak. Lalu gue ketawa cekikikan, sendirian… menertawakan foto dan tulisan gue di buku itu.

Foto gue di buku itu tampak pucat. Boro-boro pakai lipstik dan eyeliner, pakai bedak juga tidak! Dan yang paling lucu adalah kutipan yang gue tulis di biodata itu, “Cinta akan abadi selama ada di hati. Love you, guys!”

Oh my God… did I really write that? It was unbelievably cheesy! šŸ˜€

Dalam hati gue membatin… jika gaya penulisan gue persis seperti itu, pasti sudah enggak ada lagi orang yang mau baca blog gue ini, hehehehe.

Dari situ gue jadi teringat betapa berbedanya diri gue yang sekarang ini. Dalam hal apa saja? Berikut ini perbandingannya!

Sekarang: pakai jilbab mesti rapih… harus simetris kanan dan diri. Dulu: jilbab acak-acakan, miring sebelah juga gue tidak peduli.

Sekarang: rajin pakai make-up, rajin perawatan supaya wajah tidak jerawatan. Dulu: jerawat besar di sana-sini, wajah tiga kali lebih berminyak dibanding sekarang ini.

Sekarang: peduli dengan fashion, feminim, penggemar high heels. Dulu: pakai baju seadanya, cukup kaos longgar, jins kebesaran, dan sandal gunung.

Sekarang: pekerja keras, perfeksionis, idealis. Dulu: malas, asal-asalan, tukang nyontek.

Sekarang: percaya diri, optimis, I will fake it until I make it. Dulu: pemalu, minder, pesimis.

Sekarang: a go getter. Dulu: cukup ikut air mengalir… kalau dapat ya alhamdulillah, tidak dapat juga tidak apa-apa.

Dan yang paling penting, sekarang: alhamdulillah, hidup lebih bahagia dan lebih mudah merasakan syukur. Dulu: hidup seadanya, tidak neko-neko, tapi tidak sering merasa bahagia.

Itulah sebabnya gue tidak percaya bahwa seseorang tidak akan pernah bisa berubah. Kalau gue boleh menilai diri gue sendiri, yang gue lakukan bukan cuma sekedar merubah penampilan, tapi juga merubah kebiasaan, prinsip, dan pola pikir. Buat gue, itu sudah seperti berevolusi! Memang tidak mudah, tapi gue meyakini di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Make an effort to evolve, start from the little things. If I can do it, you can do it!

It’s Okay to Fail, but It’s NOT Okay to Feel Like a Failure

Pernah baca cerita sukses Jack Ma yang tersohor itu? Atau Oprah Winfrey, JK Rowling, Walt Disney, atau Colonel Sanders dari Kentucky Fried Chicken? Jika belum, coba Google dulu kisah sukses lima tokoh ini, baru kemudian kembali lagi ke blog saya ini.

Apa kesamaan lima tokoh besar tersebut? Mereka sama-sama pernah gagal, dan mereka sama-sama pantang menyerah, bangkit, bekerja keras, sehingga akhirnya sukses besar seperti mereka yang sekarang ini.

Tidak usah melihat jauh-jauh ke lima nama besar yang sangat jauh dari kehidupan kita, cukup lihat saja orang paling sukses yang kita kenal dalam hidup kita sendiri. Bisa jadi rekan kerja, klien, teman sepermainan, atau mungkin, anggota keluarga kita sendiri. Percayakah kalian jika saya bilang, mereka semua juga pernah mengalami kegagalan saat merintis karier mereka masing-masing?

Meski saya tidak mengenal semua orang sukses di dunia ini, saya tetap berani bilang bahwa semua orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Bahkan orang yang sudah sukses pun tidak selalu menang dalam setiap ‘kompetisi’ yang mereka jalani.

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan.

Pasti pernah dipertemukan dengan orang lain yang memandang mereka sebelah mata.

Pasti pernah berhadapan dengan orang-orang yang berusaha menjatuhkan mereka.

Pasti pernah harus menghibur diri saat ada orang lain yang berusaha membuat mereka berkecil hati.

Pasti pernah mengalami keraguan. Frustasi. Putus asa. Dan lain sebagainya.

Pasti pernah mengalami penolakan yang membuat mereka nyaris merasa tidak cukup bagus untuk mimpinya sendiri.

Pasti pernah merasa takut gagal. Dan pasti pernah benar-benar gagal.

Hanya saja bedanya, orang yang sukses tidak lantas menyerah begitu saja.

Mereka berjibaku melawan rasa takutnya, mindernya, ragunya, frustasinya, stresnya, dan depresinya.

Mereka tidak pernah bosan untuk terus coba dan coba lagi. Bangkit dan bangkit lagi. Terus demikian, sampai akhirnya mereka menemukan pintu sukses mereka.

Mereka tidak mengharapkan keajaiban. Mereka tidak mengandalkan siapa-siapa. Mereka tidak menyalahkan keadaan. Mereka kuat dengan sendirinya, mereka berjuang, dan mereka tidak pernah berhenti hingga mereka benar-benar sampai di suatu tujuan.

Semua orang sukses pasti pernah gagal, tapi, mereka menolak untuk menyerah dan menganggap diri dan hidup mereka sebagai suatu kegagalan. Konon katanya, kita hanya gagal jika kita sudah berhenti mencoba!

Pemikiran itulah yang membantu saya untuk bangkit tiap kali saya merasa kalah. Tiap kali saya ragu untuk memulai terobosan baru dalam hidup saya sendiri. Mungkin saya tidak akan langsung sukses di perjalanan karier saya selanjutnya, tapi pelajaran yang saya dapatkan dari kegagalan itu akan membantu saya untuk kembali berusaha mencapai kesuksesan yang selanjutnya. Insyaaallah, selama saya terus mencoba, cepat atau lambat, saya akan sampai di tempat tujuan.

Mohon doanya, dan mari kita sama-sama mencoba!

The Art of Forgiveness

I’ve learned that not all people who looks forgiving are actually holding no grudge. And not all people who speaks the ugly truth having the hard times to forgive the others’ flaws. Forgiveness is not how it seems, it’s how it really feels inside our heart.

Sometimes, forgiving is easy. Sometimes, it’s hard and it takes times. And sometimes, we’re not even sure if we can come back from the pain they put us through.

On the other hands, asking for forgiveness is easy. Sometimes, it’s terrifying. But then sometimes, we don’t even think we have something to apologize.

Forgiveness is getting more complicated as we grow older. We don’t always want to, but we have to. It’s not always asked for, but we still have to. And I believe, that’s Eid is all about: to forgive and to seek for forgiveness.

I know that it’s always easier being said than being done. Some pain is just too much to take. Not everything requires apology to make things right, but in the same time, not everything can be solved and fixed by an apology.

With that being said, somehow I found my way to forgive the people whom I never thought I’d ever forgive. They never ask for forgiveness, I never say they are forgiven either, and it’s not like I’m willing to live a life with them in it like it used to be. But still, I forgive them, in my own way.

I hope, they forgive themselves for everything they did. Or if they still believe they didn’t do anything wrong, I hope that someday they will wake up and learn from it. And on top of all that, I sincerey hope that God will forgive them for all the wrong said and done. I hope, God will help them to be a better person, and help them with a light at the end of the tunnels. Apart from all the nightmare they put me through, they used to be the people who meant a lot and whom I cherished the most.

Forgive people even when they don’t ask for forgiveness. Or even when they don’t deserve any of it. Forgive them not for them, forgive them for you, for your soul and your peace of mind.

Finally, if I ever hurt you with anything I said or did, please do forgive me with a chance to restart all over again. I’m no pure angel, but I’m no pure evil either.

Please forgive me for being a straight-talking.

Forgive me for fighting for what I believed was right until it hurt you along the process.

Forgive me when I’m not always capable of controlling my own anger.

And for the people I care about, please forgive me for the tough love and for not always being nice all the times. When it comes to you, I’m not being mean, I’m being myself who wants nothing but the best for you and your life. Maybe, I just don’t know how to do it right.

As usual for all my blog readers, please forgive me if I ever wrote something offended to you. Wish you all a blessed Eid and a new beginning for you and the loved ones. Happy Eid mubarak and happy holiday!