17 Ways to Make You Look Cool at Work

Gue pernah mendengar sebuah quote yang bilang… adalah hal yang penting untuk menjadi pintar, tapi, yang lebih penting lagi adalah bagaimana caranya agar terlihat pintar. Kenyataannya memang begitu… Kepintaran seseorang tidak dapat memberikan power dalam hal positioning jika dia tidak kelihatan pintar di mata orang lain.

Hal yang sama berlaku juga dalam hal pekerjaan. Percuma jabatan tinggi kalau kita tidak terlihat seperti seorang yang mempunyai kedudukan penting. Percaya tidak percaya, penampilan kita, gerak-gerik dan gaya bahasa kita, dapat menentukan respect orang lain dalam dunia kerja.

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi gue, berikut ini hal-hal yang dapat membuat kita terlihat lebih keren dalam dunia kerja.

  1. Gunakan kata ‘saya’, bukan ‘aku’, apalagi ‘gue’ terutama pada saat formal meeting;
  2. Jangan tertawa saat sedang berbicara, hal ini akan membuat kita kelihatan nervous dan ragu-ragu;
  3. Gunakan istilah-istilah ilmiah ketimbang bahasa yang gampang-gampang. Supaya bisa menguasai istilah-istilah sulit, perbanyak baca buku, berita (asal bukan berita gosip yah), dan jurnal-jurnal ilmiah;
  4. Hilangkan kebiasaan jelek pada gerak-gerik tubuh kita… Menggaruk tubuh di saat bingung, misalnya. Jika kita sulit untuk menilai diri sendiri… tanyakan pada orang lain; bad habit apa yang tampak ganjil di mata mereka?
  5. Melek teknologi. Orang yang gaptek kelihatan kurang menarik di dunia kerja masa kini. Dan jangan cuma bisa punya gadget keren, tapi juga harus tahu bagaimana cara memanfaatkannya;
  6. Good English. Orang yang fasih berbahasa Inggris selalu meninggalkan kesan tersendiri di mata rekan kerjanya. Makanya jangan malas belajar dan berlatih! Tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar bahasa Inggris;
  7. Hilangkan logat daerah saat sedang bicara dalam Bahasa Inggris;
  8. Perhatikan intonasi bicara… Penting untuk belajar public speaking yang baik dan benar. Oh ya, jangan pernah bicara menggunakan intonasi manja dan kekanakan. It’s no longer cute at all;
  9. Pakaian yang harus dihindari (kecuali jika kamu bekerja di industri kreatif): legging, corak binatang (macan, zebra, dsb…), corak bunga-bunga besar ala baju Bali, pakaian berbahan kaus (bahkan di hari Jum’at pun, lebih baik mengenakan batik atau kalaupun kaus, pastikan tipe kaus yang berkerah), dan warna yang kelewat ngejreng;
  10. Hindari aksesoris yang berlebihan, dan hindari juga aksesoris yang lebih cocok untuk dikenakan ABG;
  11. Untuk wanita, pakailah high heel, setidaknya 5 CM. High heel selalu membuat pemakainya terlihat lebih percaya diri (jangan lupa, harus pilih high heel yang nyaman);
  12. Jangan memakai sepatu karet untuk pergi ke kantor (Friday masih acceptable lah ya) apalagi kalau mau pergi meeting sama klien!
  13. Warna-warna gelap seperti hitam dan abu-abu dapat membuat kita terlihat lebih resmi. Tidak heran kalau ada cukup banyak professional yang memilih warna ini;
  14. Kenakan dasi dan jas (untuk pria) dan blazer (untuk wanita) plus hand bag (hand bag terlihat lebih resmi daripada tote bag) pada saat menghadiri meeting penting;
  15. Jaga kebersihan wajah, dan untuk wanita, kenakan sedikit make-up, tapi jangan berlebihan seperti mau pergi ke kondangan ya;
  16. Di Indonesia, tato sifatnya masih kontroversial. Pikir dua kali sebelum membuat tato di bagian tubuh yang jarang tertutup kain (misalnya telapak tangan). Again, working in creative industry could be an exception. Tato yang terekspos akan mempersempit pilihan karier yang kita punya; dan
  17. Pada akhirnya… be smart and look smart. Orang yang kelihatan pintar otomatis akan kelihatan keren di mata rekan kerjanya.

Loyalitas Kepada Atasan ala Skyfall

Menurut gue, big theme dari Skyfall adalah soal menguji loyalitas James Bond terhadap atasannya yang biasa disapa M. M yang memerintahkan anak buahnya untuk menembak musuh meskipun saat itu sang musuh sedang berduel dengan Bond di atas kereta yang melaju cepat sehingga beresiko salah sasaran, dan M yang berbohong agar dapat menerjunkan Bond kembali ke lapangan meskipun sebetulnya, menurut hasil tes mental dan fisik menyatakan Bond tidak lagi layak untuk bertugas. Ditambah lagi, ada hasutan dari mantan anak buah M tentang betapa tidak berperasaannya M kepada dia di waktu yang lalu. Jika kita yang menjadi James Bond, masihkah kita percaya, mau bekerja untuknya, bahkan masih mau mati-matian berusaha untuk melindungi nyawa M?

Jalan cerita Skyfall menurut gue terbilang sederhana. Tidak banyak unsur teka-teki dan tidak ada kejutan di akhir cerita seperti film action papan atas pada umumnya. Soal adegan laganya pun menurut gue standar-standar aja. Berkejaran dengan musuh menggunakan motor dan mobil sampai bikin keadaan kota panik dan kacau berantakan, berkelahi di atas kereta yang sedang melaju, memanfaatkan tabung gas untuk menciptakan ledakan, atau menembak permukaan danau yang membeku untuk mengalahkan musuh. Semua orang yang hobi nonton film pasti pernah melihat adegan sejenis di berbagai judul film lainnya.

Soal special effect juga nothing new lah ya. Udah sering disuguhi special effect yang wow dalam film-film masa kini, terutama film yang mempunyai versi 3D, membuat special effect di Skyfall jadi terlihat biasa-biasa saja. Tapi soal ide ada pistol yang hanya bisa dipakai oleh pemiliknya sounds like a good one sih. Rasanya udah bosen lihat adegan laga di mana pistol yang terlepas dari tangan sang jagoan malah berhasil direbut oleh sang musuh.

Selain beberapa kekurangan yang gue sebutkan di atas, tetap ada satu kelebihan yang nyaris selalu menjadi ciri khas film-film James Bond: menampilkan pemandangan yang spektakuler. Shanghai, Macau, dan Scotlandia tampak sangat menawan di film ini. Shanghai dengan gedung-gedung pencakar langitnya, Macau dengan keunikan kasinonya, dan Scotlandia dengan pemandangan alamnya… Bener-bener bikin pengen dateng ke sana! Bahkan Macau yang sudah pernah gue kunjungi pun terihat jauh lebih cantik di film ini.

Saat nonton Skyfall, dalam hati gue berpikir… Kalo gue jadi meneteri pariwisata Indonesia, gue bakal ngelobi PH film-film Hollywood sekelas James Bond supaya mau syuting di Indonesia. Let’s say, di Raja Ampat yang mempunyai pemandangan atas dan bawah laut yang luar biasa indah. Masih ingat salah satu pulau di Pha Nga Bay Phuket, Thailand yang kini ramai dikunjungi turis dan lebih dikenal dengan James Bond Island? Film James Bond yang berjudul The Man with the Golden Gun pernah syuting di tempat itu pada tahun 1974. Sudah lewat puluhan tahun… tetapi pulau itu tetap jadi salah satu top destination di Phuket.

Pada akhirnya, meskipun jalan cerita terbilang sederhana dan special effect tidak tampak luar biasa, Skyfall tetap salah satu film yang tergolong must watch di tahun ini. Bond Girl yang sangat cantik dan seksi, akting pemeran Silva (si penjahat) yang sangat all out, nice soundtrack, pemandangan kota dan alam yang sangat spektakuler, ending yang cukup menyentuh, dan moral lesson yang bisa kita dapatkan setelah nonton film ini.

Bicara soal moral lesson dalam Skyfall kembali lagi bicara soal loyalitas terhadap atasan. Gue pernah merasakan sendiri betapa sulitnya untuk tetap mempercayai atasan setelah mendengar berbagai sisi negatif tentang diri si bos yang beberapa di antaranya merupakan fakta, dan bukan sekedar isapan jempol belaka. Tidak peduli betapa baiknya si bos selama ini, tetap akan terasa sulit untuk kita tetap mempertahankan loyalitas pada saat-saat buruk seperti itu. Akan tetapi yang tidak kalah sulitnya bukan hanya mempertahankan loyalitas terhadap atasan di saat-sata terburuknya, melainkan juga bagaimana caranya agar kita bisa menjadi atasan yang dapat dipercayai sepenuhnya oleh anak buah kita?

Sebagai atasan, gue selalu berusaha untuk menjaga performance dan credibility gue dengan sebaik-baiknya. Oleh karenanya, di luar itu gue berharap anak-anak buah gue pun akan selalu berusaha untuk percaya sama gue, tidak mudah terpengaruh oleh gosip-gosip yang beredar, dan selalu mencoba untuk melihat alasan kenapa gue melakukan sesuatu yang tampaknya tidak ideal itu? M was so lucky to have an agent like James Bond, and I wish I could be as luck as she was 🙂

My ‘Career’ Journey… Since I was a Kid

Tiba-tiba aja, gue kepingin cerita tentang sumber penghasilan gue dari jaman dulu sampai sekarang. Ngelihat perjalanan ‘karier’ ala gue ini bikin gue jadi ngerasa sangat-sangat bersyukur dengan apa yang gue miliki saat ini. Gue emang bukan orang paling kaya dari semua orang yang gue kenal, tapi gue bersyukur udah bisa meningkatkan taraf hidup gue sendiri, perlahan tapi pasti, hingga akhirnya gue tiba di hari ini.

Waktu Masih SD

Yup, gue udah mulai dagang kecil-kecilan dari jamannya masih pake seragam putih-merah. Apa aja barang dagangan gue?

  1. Baju Barbie jahitan tangan sendiri… Modalnya cuma kain perca (a.k.a kain sisa jahitan nyokap), dan benang plus jarum jahit punya nyokap juga. Bisnis yang nggak ngeluarin modal sepeser pun, hehehehe;
  2. Gantungan kunci handmade. Waktu itu lagi ngetren gantungan kunci kertas bertuliskan nama yang kemudian di-laminating. Sayangnya bisnis yang ini enggak terlalu laku. Gue emang nggak bakat gambar sepertinya; dan
  3. Jualan oleh-oleh. Setiap kali pergi ke luar kota, gue selalu dikasih uang saku sama ortu atau om tante gue buat belanja oleh-oleh. Begitu sampe rumah… oleh-oleh itu gue jual lagi ke teman-teman sekolah. Ini juga bisnis yang nggak pake modal, hehehehe.

Pada masa itu, gue jualan cuma supaya gue bisa beli camilan yang gue mau. Seneng aja rasanya bisa beli makanan apapun yang gue pengen 😀 Oh ya, waktu kelas 6 SD, pengen ngoleksi kertas file bergambar juga jadi motivasi gue buat jualan kecil-kecilan. Abisnya kalo kata nyokap, beliin kertas file itu cuma buang-buang duit! Jadi ya udah, gue cari sendiri aja duit buat koleksi kertas file gue…

SMP

Selain masih suka jualan oleh-oleh, berikut ini bisnis gue yang lumayan nguntungin waktu SMP dulu:

  1. Jualan kertas file koleksi gue. Saat kelas 3 SMP, gue mulai bosan sama koleksi kertas file. Akhirnya, tumpukan kertas file itupun gue jual ke teman-teman sekolah. Kertas file yang tadinya gue beli seharga 50 perak (harga sebelum krismon), gue jual seharga 100 sampe 500 perak (harga setelah krismon… makin lucu kertasnya, gue jual makin mahal!).

Saat itu motivasi gue jualan adalah buat beli komik dan majalah remaja yang gue pengen. Bisa aja minta sama ortu, tapi nggak bakalan dikasih beli komik sampe sebanyak yang gue mau, hehehehe.

SMA

Bisnis gue jaman SMA udah mulai lebih keren. Gue udah nggak pernah lagi jualan oleh-oleh di rentang usia ini.

  1. Ngajar les privat bahasa Inggris. Murid-muridnya anak-anak di lingkungan rumah gue. Cuma dapet sekitar 500ribu dalam sebulan, tapi waktu itu rasanya lumayan banget buat gue beli ini-itu;
  2. Ikutan bazaar di pensi sekolah, modalnya dari ‘lembar saham’ yang gue jual ke temen-temen sekelas. Keren kan gue, masih ABG udah ngerti sistem profit sharing, hehehehe. Waktu itu gue nyari barang buat dijual sampe ke pasar Jatinegara segala loh. Gue juga jual kue-kue yang dimasak nyokap. Bazaar pertama sukses besar, return per ‘saham’ sampe lebih dari 50%, tapi bazaar yang ke dua cuma untung dikit gara-gara salah pilih lokasi jualan; dan
  3. Di akhir kelas 3 SMA, gue mulai ikutan MLM. Waktu itu gue jualan Avon dan lagi-lagi, untungnya lumayan besar buat ukuran gue saat itu. Sekitar 20% atau 30% dari harga katalog kalo nggak salah.

Saat SMA, alokasi duit udah mulai lebih centil. Buat beli fashion items, make-up, dan tentunya, komik, majalah dan novel juga.

Kuliah

  1. MLM Oriflame. Avon Indonesia bangkrut saat gue kuliah, dan gue pun beralih ke Oriflame. Target pasar keluarga besar dan teman-teman gue sendiri;
  2. Ngajar les privat akuntansi. Hasil ngajar bener-bener lumayan banget. Bisa mencapai jutaan rupiah per semester. Asyiknya lagi, ngajar privat secara nggak sadar justru bikin gue jadi makin pinter. Murid gue nggak jauh-jauh dari temen sekelas atau adik kelas atau temennya temen gue. Benar-benar pekerjaan yang menyenangkan 😀
  3. Sumber penghasilan lainnya: beasiswa dari Binus yang dikasih buat mahasiswa berprestasi 🙂 Jumlahnya sekitar 5jutaan… dan semua duitnya gue pake buat belanja, hehehehe.

Saat kuliah, biaya hidup gue meningkat cukup drastis. Mulai suka beli-beli barang dengan harga lebih mahal, ngoleksi sepatu dan tas, dan mulai hobi nonton film juga. Selain buat mengakomodasi semua itu, gue mempertahankan tradisi ngajar les privat sampe semester 7 juga karena rasanya senang saat tahu nilai murid-murid jadi membaik setelah les sama gue. Besides, berkat ngajar les, gue jadi dapet temen dan sahabat baru 🙂

Mulai kerja kantoran

Gue mulai kerja kantoran saat masih UAS semester 7. Pekerjaan pertama gue hasilnya udah termasuk lumayan buat ukuran anak yang masih bikin skripsi. Sistem honornya per proyek gitu, dan kalo gue lagi hoki, gue bisa dapet sekitar empat jutaan tiap bulannya. Gue kerja di kantor yang pertama cuma sekitar 8 bulan. Dua hari setelah resign, gue langsung mulai kerja di perusahaan berikutnya.

Setelah itu gue kerja di EY, nggak lama setelah lulus sidang skripsi. It was a good company for me…  Gue mulai mewujudkan impian buat traveling abroad saat kerja di EY. Kalo gue kerja cuma untuk cari duit, gue pasti akan tetap stay di sana. Sayangnya gue bener-bener ngerasa bosen sama kerjaannya, so there I left the Firm early in 2011.

Setelah itu gue kerja di Niro, sampai hari ini. Tadinya gue takut setelah keluar dari EY, karier dan penghasilan gue bakalan stuck. Tapi Alhamdulillah, sampe hari ini, bukan itu yang terjadi sama gue. Gue banyak menerima jenis pekerjaan baru di sini, yang bikin gue juga jadi belajar lebih banyak. Dan dari segi financial pun, I believe this is the best I can have at least for this year.

Kalo gue buat ringkasannya, awalnya gue cari uang hanya untuk memuaskan keinginan gue buat beli ini-itu. Gue tipe orang yang sangat menyukai financial independence, bahkan sejak usia gue belum sampai 2 digit. Tapi kemudian, gue mulai bekerja karena gue suka bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sekarang, lebih dari itu, gue bekerja karena challenge at work sudah menjadi kesenangan tersendiri buat gue. Rasa senang dan bangga saat berhasil mengatasi rintangan dengan baik bener-bener bikin gue ketagihan! Dan kalo bukan karena pekerjaan gue, gue enggak akan pernah kenal dengan beberapa teman terbaik dalam hidup gue.

Again… thank God for blessing me this much 🙂

How I Manage Anger at Work

Sejak awal kerja jadi auditor, sampe kemudian pindah kerja jadi Company Accountant, gue termasuk tipe orang yang suka marah-marah di kantor. Gue gampang banget tersulut emosinya kalo lagi banyak kerjaan, dikejar deadline, pusing sama kerjaan yang susahnya setengah mati, atau ngomel saat melihat kesalahan yang dilakukan rekan kerja gue. Jangankan bawahan gue deh, sebelumnya gue bisa ngomel-ngomel sama orang lain yang jabatannya sama-sama manajer, atau bahkan, bersikap sedikit judes sama atasan gue sendiri.

Sampai kemudian suatu waktu, sekitar 3 bulan yang lalu, mulai terjadi beberapa hal yang membuat gue kepengen berubah. Sejak saat itu sampai sekarang, gue terus mencari cara untuk mengendalikan emosi gue di kantor. Dan berikut ini adalah cara-cara yang udah terbukti berhasil bikin gue jadi lebih kalem di tempat kerja.

  1. Kalo kerjaan lagi numpuk, sampe bikin bingung mana yang harus dikerjain duluan, untuk meredakan emosi, gue bakal inget-inget masa idle a.k.a masa-masa doing nothing a.k.a masa-masa magabut. Cuma magabut sehari-dua hari aja, gue udah kayak cacing kepanasan! Jadi ya sudah… nikmati aja semua tumpukan kerja yang ada daripada mati bosen karena doing nothing in the office. Setelah mulai bisa berpikir dengan tenang, gue akan mulai set priority berdasarkan tenggat waktu, tingkat kesulitan, serta jika diperlukan, gue akan mendelegasikan beberapa pekerjaan ke staf-staf gue;
  2. Kalo lagi bener-bener mepet dikejar deadline yang sangat-sangat penting, gue akan tutup pintu ruangan, turn-off YM, put my BB in silent (I do not use my BB for business matter), and sometimes, I will tell my staffs for not disturbing me for a while. Menghindari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian seperti itu efektif banget untuk speed-up our work. Penting juga supaya kita bisa fokus sama satu pekerjaan yang sudah due itu;
  3. Kalo lagi stres sama kerjaan yang susahnya setengah mati, maka gue akan bilang begini sama diri gue sendiri, “Masih mending gue ngerjain hal-hal susah kayak gini daripada disuruh ngerjain hal-hal remeh yang anak SMA juga bisa kerjain.” Gue juga akan menekankan sama diri gue sendiri bahwa gimanapun, pekerjaan yang sulit akan selalu membuat gue jadi lebih pintar dan selangkah lebih maju;
  4. Kalo bos lagi banyak maunya, nyuruh ngerjain hal-hal ajaib yang bikin bingung, gue nggak lagi komplain. Gue inget-inget aja nasib orang-orang yang dicuekin dan nggak dianggap penting sama bosnya sendiri… Kalo ngutip komentar bos gue, “Dikasih banyak kerjaan itu artinya bos percaya sama kamu.” And remember one thing… banyaknya keluhan cuma akan membuat si bos lebih memilih untuk memberikan pekerjaan itu ke orang lain! I’m even gonna feel worse if I see someone else is taking over my job;
  5. Kalo mood bos lagi jelek, lagi ngadat, atau lagi suka ngelakuin hal-hal yang bikin kesel, gue inget-inget aja daftar kebaikan dia selama ini… Gue juga toh enggak selalu bisa jadi bos yang baik buat staf-staf gue… Jadi kalo gue pengen dimaklumin sama mereka, maka gue juga harus bia maklumin bos gue itu;
  6. Kalo lagi kesel sama orang-orang yang nggak bales e-mail gue… ya gue inget-inget aja, kalo gue juga enggak selalu balas e-mail mereka, hehehehe. Tapi sebetulnya, enggak bales message orang lain itu nggak sopan loh… Bales e-mail itu udah jadi bagian dari job desk kita. Kalo gue sih cuma suka males menutup e-mail dengan reply just to sayok” atau “noted”. Kalo ada yang ditanyain sih, gue pasti jawab. Makanya, kalau ada orang yang nggak jawab pertanyaan gue via e-mail, gue akan tegur langsung atau kirim e-mail yang berisi follow up;
  7. Kalo gue terima e-mail yang isinya menyebalkan… gue akan klik iconpending task’. Gue balas e-mail menyebalkan itu nanti aja kalo emosi gue udah mulai reda;
  8. Kalo gue lagi keseeeeelll banget sama salah satu rekan kerja, gue akan ngetik e-mail yang isinya panjaaaang banget, hanya untuk meluapkan amarah gue. Tapi abis itu, message-nya gue delete tanpa pernah dikirim. Kalo gue udah mulai anteng, baru deh gue ketik e-mail yang lebih kalem, mulai dari awal lagi ngetiknya, hehehehe;
  9. Kalo gue lagi kesel banget sama salah satu bawahan gue, maka gue nggak pernah lagi langsung manggil mereka cuma buat diomelin habis-habisan. Sekarang, gue cuma akan kasih tau mereka bahwa mereka melakukan kesalahan, suruh mereka melakukan koreksi, ditutup dengan kalimat, “You’re making a serious mistake… Jangan sampe terulang lagi.” Kalo mood gue udah membaik, baru gue panggil mereka lagi untuk discuss lebih lanjut tentang kesalahan mereka itu;
  10. Sekarang gue lebih prefer jaga jarak sama rekan kerja yang kepribadiannya enggak cocok sama gue. Berusaha bertemen sama mereka cuma akan memicu konfik yang ujung-ujungnya ganggu kerjaan di kantor. Kita emang nggak perlu akrab sama semua orang di kantor kok. Yang penting kita keep the good relationship supaya kerjaan berjalan lancar;
  11. Do my best but don’t put my hopes up. Gue kerja pake strategi, prediksi, dan gue akan mewujudkannya sebaik yang gue bisa. Gue juga tipe orang yang akan mencari cara untuk melebihi ekspektasi atasan. Akan tetapi, setelah semua itu selesai, gue tidak akan menyimpan harapan apa-apa dalam hati. Reaksi atasan atas hasil pekerjaan gue bukan sesuatu yang bisa sepenuhnya gue kendalikan. Kondisi mood mereka misalnya. Sometimes, no matter how good our performance is, bosses’ bad mood would make our hard work looks just ordinary. Jadi daripada gue kecewa trus jadi marah karenanya, once one work is done, gue akan langsung mengalihkan perhatian gue dengan mengerjakan tugas yang selanjutnya; dan
  12. Gue tidak lagi selalu peduli dengan pendapat orang lain tentang gue. Gue harus bisa memisahkan kapan gue harus mendengar, serta kapan gue harus menutup telinga rapat-rapat. Mendengarkan pendapat SEMUA orang cuma bikin gue jadi sakit kepala. Again, I think it was true what my boss has ever said, “We cannot always please everyone at work.”

Seperti yang kita semua ketahui, bos yang suka marah-marah itu selalu jadi topik favorit semua bawahannya. Malah diam-diam, bos yang seperti itu akan menjadi ‘public enemy’. Memang benar, kita tidak perlu menjadi angel yang disukai semua orang, tapi jangan juga menjelma menjadi devil yang suka menyakiti perasaan orang lain. Jangan pula sampai terjadi ada good staff yang malah resign karena enggak tahan dengan kelakuan gue yang udah kelewatan. Semua orang memang harus punya ability to work under pressure, tapi tetap saja, semua itu ada batasnya.

Jadi intinya, saat ini gue sedang berusaha mengurangi sikap marah-marah yang tidak pada tempatnya. Selalu marah sepanjang waktu akan membuat orang lain tidak bisa membedakan kapan kita benar-benar marah sehingga tidak akan ada manfaatnya. Gue pasti akan tetap marah, tetapi marah yang berguna dan bukan hanya sekedar pelampiasan emosi. Seperti nasehat yang sering gue dengar dari beberapa atasan gue, “Working is not only about how smart you are, but also how good you are in managing people around you.”

And of course, being angry all the time is never be a good idea to manage people around me.

Short Stories… About My Bosses

Gara-gara abis baca buku “My Stupid Boss”, gue jadi terinspirasi buat nulis tentang orang-orang yang pernah atau masih jadi atasan gue. Dari belasan orang yang pernah jadi atasan gue, berikut ini 3 atasan yang gue pilih untuk gue ceritakan. Gue kasih nama mereka menggunakan inisial yang bukan merupakan singkatan nama, melainkan singkatan dari julukan yang baru aja gue buat pagi ini 🙂

 

Mr. MS

Waktu pertama kali ketemu MS untuk keperluan job interview (untuk posisi accounting software consultant), gue langsung punya good feeling soal si calon bos. Orangnya kelihatan baik, dan enggak sungkan untuk memuji… Gara-gara pujiannya itu, gue sampe langsung yakin banget kalo gue pasti diterima kerja di sana, hehehehe.

Seingat gue, gue enggak pernah punya konflik yang cukup berarti dengan bos yang satu ini. Akan tetapi, cukup sering terjadi, MS ngasih gue assignment yang sebetulnya melebihi kapasitas gue.

Gue pernah dikasih klien yang bergerak di bidang manufacturing, padahal saat itu, gue belum menerima training tentang modul produksi. Waktu gue lapor via telepon, MS sepertinya lupa kalo sebetulnya gue belum boleh pegang klien itu. Kemudian MS bilang, gue pulang aja… enggak papa. Fee gue akan tetap dibayar. But of courseI didn’t do that. Gue sok-sok-an nanya step by step yang dilakukan si klien dengan alasan, supaya gue tahu apakah ada yang salah dari operasional harian mereka (padahal sebetulnya, gue lagi mempelejari cara kerja modul produksi saat klien menjelaskan prosedur harian mereka itu, hehehehe). Berbekal ilmu yang udah gue punya, thank God, I could find the solution just right in time!

Setelah itu, MS seneng kasih gue klien-klien sulit yang banyak maunya. Gue udah cukup sering dikirim untuk menggantikan konsultan lain yang di-reject oleh klien karena dianggap tidak cukup capable. Pernah suatu hari, gue dapat klien yang punya sifat luar biasa jelek. Dia suka nge-reject konsultan lain bukan karena lack of skill, tapi lebih karena sifat si klien yang emang rese, terlalu banyak maunya, emosional, dan punya sensitivitas yang sangat berlebihan. Klien rese itulah yang bikin gue untuk pertama kalinya, nyaris di-reject dengan alasan: gue ini judes. Si bos langsung telepon gue dari kantor… Tadinya gue pikir gue bakal diomelin, tapi ternyata, MS malah bilang beigni, “Ya udah… kamu pulang aja. Saya juga udah ngomong sama orang-orang sales, kita udah sepakat refund uang si customer. Biar nanti software-nya kita tarik kembali. Soalnya kalo kamu juga udah nggak bisa handle, berarti emang customer itu yang keterlaluan.”

Sebetulnya, gue pantang banget minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahan gue. Tapi karena tersentuh dengan kalimat bos di telepon, gue memberanikan diri datang ke klien belagu itu… untuk meminta maaf. Akhirnya gue enggak jadi di-reject, dan gue selesaikan semua assignment di sana sampai tuntas. Ego gue emang penting, tapi image perusahaan, dan kepercayaan bos sama gue, itu jauh lebih penting.

Beberapa saat menjelang gue resign dari perusahaan itu, seorang anak baru yang ditugaskan untuk on-job training sebagai asisten gue bilang begini, “Pak MS sering banget lho, cerita tentang Mbak di kelas training. Kelihatannya dia bangga, punya staf kayak Mbak Riffa.”

Gue kerja bareng MS tidak terlalu lama. Tapi sebagai bos pertama dalam sejarah karier gue, dia udah berhasil menumbuhkan kepercayaan diri gue dalam dunia kerja. Asalkan gue mau berusaha, gue pasti bisa… apapun rintangannya.

 

Mr. OA

Bos gue yang satu ini terkenal nyentrik. Tipe bos yang jelas-jelas menyadari bahwa ada banyak bawahan yang sebel sama dia. Tapi dia selalu bilang sama gue, dia sedang berusaha untuk berubah. Dan emang kalo sama gue, sikap menyebalkannya secara signifikan lebih mendingan daripada sikap dia ke beberapa orang lainnya. Bahkan, bukan cuma mendingan… dalam beberapa hal, dia juga baek banget sama gue. Misalnya kalo pulang malem dalam waktu yang bersamaan, dia suka nganter gue pulang sampe ke gang depan rumah… Abis itu dengan entengnya dia bilang, “Walaupun gua anter, elo tetep charge taksi aja… nanti gue tanda tangan. Nggak bakal ada yang tau.”

Tapi tentunya, sebagai karyawan jujur, gue enggak pernah reimburse taksi lembur kecuali gue beneran pulang naik taksi, hehehehe.

Hidup gue terbilang jadi enak selama kerja bareng OA. Mau cuti gampang, reimburse gampang, charge overtime gampang, chargeable hours juga gampang, bahkan… promotion pun, menjadi sesuatu yang relatif lebih mudah buat gue. Oh ya, di luar pekerjaan, OA juga suka curhat… Gue jadi suka ngerasa, sepertinya dia bukan cuma nganggep gue sebagai stafnya dia aja, tapi juga sebagai teman yang bisa dipercaya.

Sama seperti bos pertama gue, OA ini juga mempercayai kapasitas gue melebihi kepercayaan gue terhadap diri gue sendiri. Baru satu tahun gue bekerja, gue udah dipercaya buat jadi person in charge (acting senior) untuk satu klien baru yang bergerak di bidang produksi. Padahal sebelumnya, pekerjaan gue masih nggak jauh dari prosedur yang gampang-gampang. Prosedur remeh yang selalu gue keluhkan dengan, “Kerjaan kayak gini sih, anak SMA juga bisa!”

Tapi waktu disuruh jadi PIC, gue sempet takut juga. Dari kerjaan remeh ala anak SMA, tiba-tiba disuruh jadi in charge untuk all procedures, di klien baru pula! Masalahnya kalo klien baru itu artinya belum ada working paper tahun lalu yang bisa gue jadikan contoh! Udah gitu, gue kerja dibantu dua staf yang masih baru banget kerja di perusahaan gue itu.

Syukurlah sampai akhir, pekerjaan selesai dengan baik. At the end of the project, OA bilang begini, “Selama elo jadi in charge di sana, gua jadi bisa tidur nyenyak. Gua gak pusing mikirin itu klien, hehehehe.”

Sayangnya di saat-saat terakhir gue kerja di perusahaan itu, entah kenapa, OA bersikap antipasti sama gue. Padahal waktu itu, gue sedang kerja under manajer lain. Jadi bukan karena ada konflik kerja terus dia jadi sebel sama gue. Bahkan anehnya, pada saat gue mengajukan surat resign, dia enggak mau tanda tangan surat resign gue loh. Untunglah gue masih punya 2 manajer lainnya, jadi gue tetep bisa resign tanpa perlu ada tanda tangan dari OA.

Pada saat itu gue ngerasa, mentang-mentang dia udah enggak butuh gue lagi, dia jadi seenaknya. Tapi setahun kemudian, bos gue di kantor yang baru (yang emang kebetulan kenal sama si OA) bilang begini, “Saya rasa sebenernya dia itu kecewa kamu malah resign.”

Gue sih enggak pernah kepikiran sampe segitunya yah… Tapi gue malah jadi mikir, apapun alasannya, I owe OA quite a lot. Belum tentu gue bisa naik ke level senior meskipun belum sampai 2 tahun bekerja, kalo bukan berkat jasa OA. Tugas-tugas yang dia percayakan juga udah bikin gue jadi bisa berkembang lebih cepat. Jadi ya sudahlah… di luar gimana ending-nya, tapi yang penting, gue enggak boleh ngelupain kebaikan OA selama gue kerja bareng dia.

 

Mr. CB

Dari semua bos yang pernah gue punya, CB ini gayanya paling slengean. Orangnya santai, lucu, dan suka kelewat cuek bebek. Berlawanan banget sama gue yang relatif serius dan serba well-planned.  However, meskipun gaya kerjanya beda banget sama gue, meskipun orangnya moody dan kalo lagi kumat suka enggak bales e-mail atau SMS gue, dan meskipun dia cuma ‘extra-sweet’ kalo gue lagi dapet ‘extra-job’, kadang-kadang gue suka berpikiran, dia itu bos yang paling baik yang pernah gue punya.

Gue sempet curiga si Mr. CB ini punya semacem indra ke enam yang bikin dia bisa baca isi pikiran orang. Ada beberapa hal yang lebih gue pilih untuk dipendam, tapi dia suka bisa nebak, dengan tebakan yang nyaris 100% akurat. Malah pernah, dia ngucapin kalimat yang isinya sama persis dengan isi kepala gue! Tapi semakin lama gue kerja sama dia, semakin gue tau kalo dia itu bukannya punya indera ke enam, tapi… he simply spends some times to observe his own team. Seringnya, tebakan dia itu benar, tapi kadang tebakannya bisa salah besar juga. Makanya gue jadi tau kalo dia enggak punya indera ke enam… Lagian gue mah nggak percaya sama hal-hal mistis kayak gitu, hehehe…

Yang paling gue suka dari CB itu adalah sifat supportive dan willing to listen-nya. Dia peduli banget sama kenyamanan anak buahnya. Dia juga percaya banget sama gue, yang pastinya, kepercayaannya itu  bikin gue jadi cepat berkembang. Asalkan sifat moody CB lagi nggak kumat, he could be the best boss I’ve ever had lah… Dan dia bakal jadi bos paling baek sedunia kalo ngijinin gue pergi lihat sakura di bulan April 😀 Asal dijinin pergi bulan April, gue rela deh, pergi ke Jepang bawa-bawa laptop, hehehehe.

 

Overall, gue ngerasa cukup beruntung untuk urusan bos. Beda banget sama ‘stupid-boss-nya’ Amoy Kerani… Di manapun gue kerja, gue selalu punya bos yang selalu men-support gue dengan baik. Gue dikasih banyak kesempatan untuk berkembang, diberikan kepercayaan melebihi yang bisa gue bayangkan, dan yang tidak kalah penting, mereka selalu dengan tulus memaafkan gue di saat sedang khilaf, hehehehe. Intinya sih, they were not perfect, but at least, they were good for my career.

Pada akhirnya gue pengen bilang… meskipun gue enggak pernah sampaikan secara langsung sama semua orang yang pernah jadi bos gue, tapi sebetulnya… I am nobody without my bosses. Wish you all success and a great life as always yaa, bapak-bapak, mas-mas, dan mbak-mbak semuaa 🙂

One Year Anniversary With Niro Indonesia

Hari ini, sudah tepat satu tahun sejak pertama kali gue bergabung dengan Niro Granite Indonesia. Awalnya, gue bekerja untuk NCSI, kemudian awal tahun 2012, gue dipindahkan ke SRG, perusahaan induk dari NCSI.

Gue masih ingat saat dulu hendak memulai karier di Niro, tidak semua orang terdekat gue menyetujui ide tersebut. Ada yang bilang, skill yang gue punya akan terbuang sia-sia kalau gue hanya bekerja di perusahaan kecil seperti ini. Malah ada lagi yang bilang, sayang kalo gue sampe hanya kerja di perusahaan yang bertempat di ruko (entah dari mana dia dapet info NCSI itu kantornya cuma di ruko). Akan tetapi saat itu, gue punya prioritas gue sendiri, sehingga akhirnya gue putuskan untuk bergabung dengan NCSI.

Bulan-bulan pertama, jujur… gue sempat ngerasa enggak betah. Perbedaan lingkungan dan budaya kerja sempat membuat gue ngerasa kaget (kalo istilah kerennya: culture shock, hehehehe). Gue sampe sempet mempertanyakan keputusan gue untuk bekerja di perusahaan ini. Tapi pada akhirnya, dalam hati gue selalu meyakini bawha everything happens for a reason. Waktu itu gue bilang sama diri gue sendiri, “Mungkin sekarang gue enggak ngerti alasan kenapa gue harus kerja di sini, tapi suatu saat gue pasti tau bahwa memang ini yang terbaik untuk gue saat ini.”

Sekarang, satu tahun kemudian, gue mengetahui jawaban dari pertanyaan gue saat itu.

Di Niro, gue menemukan jenis teman-teman yang belum pernah gue temukan di tempat lain. Gue nggak mau sharing detailnya di sini, takut mereka geer (soalnya gue tau mereka suka baca blog gue), hehehehehe.

Di Niro, gue mendapatkan beberapa pengalaman kerja yang kemungkinan, tidak akan pernah gue dapatkan seandainya gue tetap bekerja jadi auditor.

Dan pastinya di Niro, gue jadi bisa merasakan bagaimana rasanya jadi manajer di usia 25.

Ada lagi teman gue yang blak-blakan bilang… lebih baik jadi staf di perusahaan oil & gas sekelas Medco daripada jadi manajer di SRG. Sepertinya teman gue itu masih saja menganggap bahwa perusahaan gue ini hanya perusahaan kecil yang tidak patut gue pertahankan.

Well… gue sih enggak akan tersinggung kok, dengan statement teman-teman gue itu. Gue yaking semua itu hanya bentuk dari kepedulian mereka sama gue. Tapi 3 hal yang ingin gue luruskan:

  1. Niro bukan lagi perusahaan kecil. Perusahaan dengan hampir 600 karyawan tetap (belum termasuk ratusan karyawan kontrak), yang kini sedang melakukan ekspansi, pastinya bukan perusahaan yang bisa dibilang kecil;
  2. Kantor NCSI itu di gedung Honey Lady Pluit, bukan di salah satu ruko dekat Emporium, hehehehe; dan
  3. Gue sama sekali tidak merasa lebih baik gue kerja jadi staf di Medco daripada jadi manajer di SRG. Bagaimanapun, jabatan ini merupakan suatu prestasi yang bisa gue banggakan.

Jadi terlepas dari masa-masa up and down selama gue bekerja di sini, gue tetap percaya bahwa bekerja di sini telah membuat gue jadi lebih baik dari sebelumnya. Gue sama sekali tidak menjadi lebih bodoh hanya karena pindah ke perusahaan yang ukurannya lebih kecil. Kalo nggak percaya, tanya aja sama auditor-auditor gue, hohohoho, sombooong.

Konon katanya, terkadang kita hanya punya 2 pilihan dalam dunia kerja:

  1. Menjadi ikan besar di kolam kecil; atau
  2. Menjadi ikan kecil di kolam besar.

Gue tidak tahu akan sampai kapan gue tetap bekerja untuk SRG. Satu hal yang gue yakini, pengalaman kerja gue di sini akan mempersiapkan gue untuk kelak, berpindah menjadi ikan besar yang berenang di kolam besar. Kesimpulannya… di manapun kita bekerja, selama kita melakukannya penuh dengan totalitas, maka tidak akan pernah ada yang namanya pekerjaan sia-sia.

Life is a choice… and I am so happy with choice I’ve made one year ago. Happy one year anniversary for me then 🙂

Rainbow After the Rain

Kemarin sore di kantor, gue menasehati salah satu teman yang tetap menghisap rokoknya meski baru saja sembuh sakit satu hari sebelumnya. Dengan entengnya, teman gue ini menjawab, “Nggak papa lah ngerokok… Hidup ini enggak enak, jadi ngepain hidup lama-lama?”

Gue malah cekikikan sambil membalas, “Hidup saya sih menyenangkan kok. Nggak papa hidup lama.”

Sambil tertawa kecil, teman gue membalas lagi, “Yakin menyenangkan? Kerja lembur melulu kayak gini emangnya enak?”

Gue malah nyengir… sambil melanjutkan dalam hati… Ya, meskipun sering lembur gila-gilaan, meskipun semakin sering ngerasa tertekan sama kerjaan sampe sempet meneteskan air mata waktu lagi sibuk ngetik di depan laptop saking stresnya, dan meskipun gue punya banyak kekurangan di sana-sini, gue tetap bahagia sama hidup gue.

Bicara soal pekerjaan… rasa-rasanya benar apa yang pernah dibilang sama teman sekantor gue yang lainnya: jika gue mau berpikir jernih, maka sebetulnya, gue punya lebih banyak hal untuk disyukuri daripada hal-hal untuk gue keluhkan. Lagipula sebetulnya wajar-wajar saja kalo makin ke sini makin banyak masalah pekerjaan yang harus gue hadapi. Memangnya apa yang gue harapkan? Posisi dan fasilitas manajer tapi beban dan tanggung jawab ala fresh graduate gitu?

Kemudian soal makin banyaknya jumlah orang yang seneng banget ngegosipin gue di belakang… yaah, gue rasa itu emang udah sepaket sama pencapaian yang gue punya lah yaa. Gue percaya bahwa dalam hidup ini, when we gain some, we will also lose some in the same time. Suatu kelebihan pasti akan satu paket dengan satu kekurangan lainnya. Jadi achiever di usia muda emang bisa bikin bangga, tapi resikonya, jadi lebih rentan sama omongan orang. Jadi ya sudahlah… Gue emang enggak bisa nutup mulut orang lain supaya enggak ngomongin gue yang jelek-jelek, TAPI, gue pasti bisa nutup telinga gue rapat-rapat dari omongan yang sengaja diucapkan hanya untuk mengurangi kebahagiaan yang gue punya.

Di luar pekerjaan dan mimpi-mimpi yang jadi bisa gue wujudkan sebagai hasil dari jerih payah gue itu, alhamdulillah… gue masih punya banyak hal kecil lainnya yang sangat patut untuk gue syukuri.

Gue punya ortu yang suka masakin gue makanan enak-enak.

Adek-adek yang meskipun tengil tapi selalu jadi supporter nomor satu buat gue.

Kucing-kucing lucu yang suka nganter gue pergi kerja dengan berdiri berjejer di pinggir garasi lalu malam harinya saat gue pulang, mereka kembali berjejer menyambut gue di tempat yang sama.

Gue juga punya sahabat-sahabat yang meskipun enggak selalu akur, tapi mereka tetep selalu siap sedia mendengar curhat gue di tengah malam sekalipun.

Di kantor gue punya teman-teman yang selalu bisa memaafkan kekhilafan gue saat sedang stres berat sama pekerjaan.

Gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, tapi setidaknya bos gue yang satu ini sangat peduli dengan kenyamanan anak buahnya.

Dengan semua yang ada dalam hidup gue itu… bagaimana mungkin gue bisa bersikap tidak bersyukur?

Gue baru aja selesai buka-buka koleksi blog lama gue yang berkategori “About Life”. Membaca koleksi tulisan gue sendiri rasanya seperti melihat grafik kehidupan. Sangat jelas terlihat dari ‘grafik’ itu bahwa hidup memang selalu naik dan turun seperti roller coaster. Sehingga pada akhirnya gue jadi optimis… dulu gue pernah susah, tapi gue juga pernah senang. Kemarin gue juga baru aja ngerasa sangat susah, tapi hari ini gue kembali merasa senang. Jadi untuk selanjutnya, setiap kali gue kembali merasa hidup di bawah tekanan besar, gue hanya perlu mengingat bahwa tidak lama lagi, badai pasti akan berlalu. Yang perlu gue lakukan hanya bersabar, sambil terus berusaha sebaik-baiknya. Nanti setelah badai itu berlalu, insyaallah… gue akan kembali menemukan indahnya pelangi di langit yang biru 🙂

One Year After Leaving EY

4 April  2011, gue efektif mengundurkan diri setelah 3 tahun bekerja untuk EY. Waktu itu, dalam hati gue cukup sering bertanya-tanya… akan jadi seperti apa hidup gue setelah resign dari EY? Gue bukan tipe orang yang akan langsung resign hanya karena satu alasan tertentu saja. Gue punya banyak pertimbangan, plus dan minus, dari setiap pilihan yang gue punya. Ada banyak sisi positif yang gue harap akan gue dapatkan dengan resign dari EY, tapi… ada juga beberapa sisi positif EY yang gue takut akan sulit gue temukan di perusahaan lainnya. Intinya gue takut, resign dari EY bukannya bikin hidup jadi lebih baik, yang ada malah bikin hidup gue jadi mengalami kemunduran.

Lalu bagaimana realisasinya? Bagaimana hidup gue setelah satu tahun resign dari EY? Berikut summary-nya…

  1. Resign dalam keadaan belum punya pekerjaan pengganti bikin gue sempat merasakan yang namanya pusing mencari kerja. Ternyata memang benar… mencari pekerjaan dengan benefit yang sesuai keinginan itu bukan perkara mudah. Perusahaan besar tidak jaminan gajinya juga besar. Untunglah tidak lama kemudian, salah satu mantan klien di EY nelepon hp gue untuk menawarkan pekerjaan. Seminggu setelah itu, gue datang ke sana untuk interview dengan sang big boss, dan voilaa, keesokan harinya, 27 April 2011, gue sudah resmi jadi bagian dari NCSI, subsidiary company yang perusahaan induknya pernah gue audit itu;
  2. Hal paling sulit setelah memulai pekerjaan baru adalah menyesuaikan jam biologis gue. Udah terbiasa lembur bikin gue tetap baru bisa tidur paling cepat jam 11, tetapi bedanya, mau enggak mau, keesokan paginya gue tetep harus udah sampe kantor jam 8 pagi. Padahal waktu di EY, gue bisa dateng ke kantor jam berapa saja! Sulitnya adaptasi itu berhasil bikin gue mendapatkan rangking 3 di NCSI untuk urusan keterlambatan. Sigh…
  3. Banyak yang bilang, kerja jadi company accountant itu justru lebih membosankan daripada kerja jadi auditor. Padahal alasan utama gue resign dari EY itu justru karena bosan! Saking bosannya, dulu itu gue sering banget ngerasa ngantuk sepanjang hari. Awalnya gue masih ragu… gue sering ngantuk itu karena kurang tidur atau memang karena bosan? Empat bulan belakangan ini, gue kembali sering lembur gila-gilaan (yang mana lembur kali ini jadi semakin berat karena besoknya harus tetep bangun pagi), tapi ternyata… penyakit ngantuk sepanjang hari gue itu jarang banget kumat lagi! Dari situ gue tau… gue ngerasa lebih cocok kerja jadi company accountant daripada jadi auditor. Lebih stressful,  tapi yang penting tidak bosan gila-gilaan;
  4. Gue bukan tipe orang yang mudah beradaptasi. Perbedaan budaya kerja antara EY dengan NCSI sempat bikin gue ngerasa enggak nyaman. Gue sampe sempet pesimis bisa punya teman baik seperti teman-teman yang gue punya di EY. Tapi nggak disangka-sangka… semakin lama gue justru semakin dekat dengan beberapa teman di NCSI. Bulan lalu, gue pergi menginap satu malam ke Bandung dengan beberapa teman cewek di kantor; satu hal sederhana yang selalu gagal gue realisasikan dengan teman-teman di EY;
  5. Enaknya kerja di EY adalah sistem training yang memadai, yang bikin para auditornya jadi tidak pernah ketinggalan ilmu-ilmu accounting terbaru. Cuma training in house, tapi tidak pernah ada habisnya. Makanya gue sempet worry ilmu gue bakal out of date setelah resign dari EY. Tapi ternyata tidak juga… Meskipun kantor gue tidak punya in house training untuk bidang akuntansi, bos selalu mendorong gue buat ikutan training di luar kantor. Gue juga didaftarkan kantor untuk jadi member IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). Kantor gue sendiri suka bikin in house training yang sifatnya mengasah soft-skill; satu jenis training yang tidak pernah gue dapatkan selama kerja di EY. Dan sekarang ini gue menyadari… mengasah soft-skill itu justru jauh lebih sulit daripada sekedar mengasah technical-skill;
  6. Gue juga sempat takut ‘tingkat kepintaran’ gue akan menurun drastis setelah resign dari EY. Bervariasinya jenis klien udah banyak mengasah ilmu pengetahuan gue selama kerja di sana. Beda sama company accountant yang cuma berkecimpung di satu industri yang itu-itu saja… Tapi ternyata bukan itu pula yang gue dapatkan. Gue justru merasa udah banyak berkembang dari segi technical skill selama satu tahun belakangan ini. Tanggung jawab yang besar bikin gue jadi semakin terpacu untuk mengembangkan diri. Selain itu nggak disangka-sangka, gue juga menemukan beberapa peluang untuk mempelajari dan menangani hal-hal baru yang tidak pernah gue temui sebelumnya. Thank God that I’m still smart like I used to be, hehehehehe;
  7. Satu hal yang bikin gue sempat ragu untuk resign dari EY adalah soal jenjang karier. Di EY, tiap tahunnya pasti ada promosi, dan juga ada kenaikan gaji yang terkadang, jumlahnya bisa sangat-sangat signifikan. Dan sejak awal gue tahu bahwa hal seperti itu jarang sekali bisa kita temukan di perusahaan-perusahaan lain. Tapi alhamdulillah buat gue, setidaknya untuk tahun pertama, kekhawatiran gue itu tidak terbukti benar.  Per akhir November 2011, gue dipastikan mendapatkan promosi ke SRG (induknya NCSI), untuk posisi yang sudah pasti tidak akan bisa gue dapatkan tahun ini seandainya gue masih kerja di EY.

Jadi kesimpulannya, nyaris semua rasa takut yang dulu gue rasakan itu tidak terbukti kebenarannya. Sehingga pada akhirnya gue belajar bahwa sebenarnya, bagaimana hidup kita (gue dan ex-auditor atau soon-to-be-ex auditor lainnya) setelah resign dari EY, pada akhirnya semua itu kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Hidup kita setelah resign dari EY akan sangat tergantung dari pikiran dan sikap yang kita tentukan setelah itu.

Jika tidak ingin bosan selepas kerja jadi auditor, maka jangan mencari pekerjaan yang banyak menuntut clerical things to do. Jika ingin tetap menjadi expert di bidang akuntansi, maka carilah pekerjaan yang job description-nya dapat mengasah accounting skill yang sudah kita punya. Jika ingin terus mengembangkan knowledge and skill, maka carilah perusahaan yang bersedia men-support kita untuk jadi lebih pintar. Dan jika tidak ingin karier jalan di tempat, maka carilah perusahaan yang masih punya peluang untuk berkembang.

Gue nulis blog ini sama sekali bukan berniat untuk bilang bahwa EY itu jelek. Gimanapun berkat EY, gue jadi dapat banyak pengalaman baru yang telah berkontribusi besar untuk perjalanan karier gue selanjutnya.  I used to have a good life at EY, but thank God that I have a better life afterward. So yes… one year ago, I have made a right decision to leave EY for my better life. For me, it was simply a right choice in the right time.

Hope the Holiday Will Make Me Feel Better

Entah kenapa, sekitar seminggu belakangan ini gue ngerasa apa yang biasa disebut orang lain sebagai galau. Bermula dari suatu sore di mana-mana tiba-tiba gue ngerasa super bad mood, bosan, dan yang paling parah, gue jadi males ngomong. Buat orang seperti gue, kalau masih suka ngomel-ngomel, itu hal biasa. Tapi kalo udah sampe males berdebat, males ngomong, itu yang udah bahaya… Apalagi kalo udah sampe jarang senyum dan jarang ketawa… bener-bener udah masuk kategori bad mood tingkat tinggi.

Dulu gue pernah bilang sama salah satu temen gue di EY. Definisi bahagia buat gue itu simpel aja: asalkan dalam satu hari gue bisa sekali aja tertawa senang, berarti hari itu adalah hari yang bahagia buat gue. Dan ya… belakangan ini, gue jarang punya alasan untuk tertawa. Belakangan ini, entah kenapa, gue jarang sekali memiliki hari yang bahagia.

Udah sebulan lebih, gue menghabiskan belasan jam dalam sehari, dari Senin hingga Minggu, hanya untuk bekerja. Setelah semua kerja keras itupun, nyatanya report gue tetap saja selesai terlambat. Pernah di suatu malam, tiba-tiba gue ngerasa capek… Gue jadi mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang gue kejar dengan jam kerja yang menggila seperti itu? Dan apa sebetulnya yang bisa gue dapatkan terutama kalau pada akhirnya, pekerjaan gue tetap saja selesai terlambat…

Bekerja lembur sebetulnya bukan hal baru buat gue. Tapi kerja lembur yang terasa membebani, kerja lembur yang sebetulnya tidak ikhlas gue jalani, serta kerja lembur yang sering membuat gue ngerasa sendiri… semua itu benar-benar hal yang baru terjadi dalam hidup gue. Sehingga kadang, gue jadi ngerasa kangen sama suasana kerja lembur waktu masih di EY… Kerja lembur yang sesekali diselingi acara curhat atau sekedar ngobrol ngalor ngidul sampe pernah, berjam-jam gue dan teman gue lewati hanya untuk ngobrol ini-itu, sampai tanpa terasa, pagi hari sudah datang menjelang…

Sebetulnya gue juga enggak yakin… apakah semua rasa tidak nyaman ini berasal dari pekerjaan. Dan rasanya agak-agak tidak pantas kalau gue menyalahkan semua ini kepada pekerjaan. Gue punya pekerjaan yang baik, prestasi yang baik terutama untuk ukuran orang yang baru berusia 25, gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, gue bisa bilang dia itu bos terbaik yang pernah gue punya… Belum lagi teman-teman yang makin lama terasa makin dekat sama gue, yang suka tiba-tiba nraktir gue mulai dari es jeruk, es kelapa muda, Come Buy, sampe makan bimbimbap di Han Gang, serta teman-teman yang sabar menghadapi kejudesan gue dan seorang teman yang kebaikan hatinya suka bikin gue terkejut…

Ada seorang sahabat yang bilang… mungkin gue hanya perlu istirahat. Mungkin gue hanya merasa lelah setelah harus menyelesaikan begitu banyak masalah sejak hari pertama gue mulai bekerja. Atau mungkin, gue hanya butuh ketetapan hati untuk meninggalkan apa yang saat ini sudah gue miliki untuk sesuatu yang lebih baik lagi…

Jadi singkatnya, gue butuh lepas sejenak dari pekerjaan gue. Butuh bersenang-senang, supaya setelah itu, gue bisa berpikir jernih… tentang apa yang terbaik buat gue, serta tentang apa yang sebenarnya saat ini gue ingini…

Kebetulan hari Senin gue dan keluarga akan pergi liburan. Nggak jauh-jauh, cuma ke Singapura 3 hari 2 malam. Tujuan utamanya sudah pasti Universal Studio. Dan seperti biasa, gue selalu menyukai amusement park. Terlepas dari amusement park, gue selalu menyukai aktivitas traveling. Gue suka berada di tempat baru, melihat suasana kota yang jauh berbeda dengan Jakarta, suka berfoto ria di tempat-tempat yang sebelumnya hanya gue lihat di lembar buku atau layar kaca… Dan semua itu, selalu membuat gue ngerasa bahagia.

So yes… I hope that the upcoming holiday, will definitely make me feel better. Happy holiday for me then 🙂

Working As an Auditor Vs Company Accountant

Pernah punya pengalaman sebagai auditor dari level staff sampai senior, serta pengalaman sebagai company accountant di level supervisor sampai manager, rasanya udah bikin gue jadi cukup eligible untuk membuat tulisan ini. Tabel perbandingan di bawah ini gue buat murni berdasarkan pengalaman pribadi. Hal yang sama persis belum tentu pernah terjadi untuk orang lain terutama orang-orang yang bekerja di jenis perusahaan yang berbeda. Tulisan ini gue buat bukan untuk membandingkan mana yang lebih oke, atau lebih menyenangkan, atau lebih menjanjikan… Tulisan ini hanya sekedar input bagi para alumni jurusan akuntansi yang sedang bingung memilih karier, atau mungkin, buat para auditor yang ingin ganti haluan menjadi company accountant. Selamat membaca!

 

Auditor

Company Accountant

Cuma punya satu maha-deadline: rilis audit report. Hampir setiap hari, selalu saja ada deadline baru, dan hampir semuanya deadline penting!
Selama gue kerja di EY, belum pernah satu kalipun gue berhasil rilis report persis atau lebih awal dari tanggal yang sesuai dengan timetable. Hal itu sih udah biasa, dan enggak pernah berdampak negatif sama karier gue. Telat submit report = you’re so dead… bisa berefek negatif ke KPI gue.
Boleh datang terlambat… yang penting dalam satu hari, jam kerja minimal tetap 8 jam. Nggak boleh datang telat… walau malam harinya habis kerja lembur.
Sebagian besar auditor pasti mengalami masa low season setiap tahunnya, biasanya di pertengahan tahun. Tidak pernah ada istilah low season, tapi tetap ada istilah peak season dari bulan Desember sampai bulan Februari tahun berikutnya.
Nggak usah pusing-pusing mikirin training… sudah ada yang mengatur urusan ini. Harus mikir sendiri… butuh training apa dan di mana?
Punya budget cuma dalam bentuk chargeable hours saja. Enggak usah pusing-pusing mikirin strategi untuk menghemat uang perusahaan. Harus pandai mengatur uang perusahaan… serta dituntut untuk berpikir bagaimana caranya agar perusahaan mendapatkan laba sesuai target.
Jarang terima e-mail tentang pekerjaan… Dulu waktu jamannya BB belum populer, inbox e-mail kantor lebih banyak diisi dengan e-mail lucu/unik/mengharukan daripada e-mail yang berhubungan dengan pekerjaan. Ada banyak e-mail yang harus dibalas! Makin tinggi jabatan, makin banyak e-mail.
Bekerja dalam tim yang relatif kecil. Meskipun kerja di KAP besar, dalam satu tim audit untuk satu perusahaan pasti jumlah auditornya tidak terlalu banyak. Perusahaan gue hitungannya perusahaan menengah atas yang sedang berkembang pesat… Ukuran timnya pun relatif lebih besar. Belum lagi harus kerja bareng orang-orang dari divisi lain juga.
Bekerja berdasarkan peraturan baku… tentang bagaimana praktek yang seharusnya. Harus fleksibel… Kenyataannya, praktek itu jauh lebih sulit daripada sekedar teori.
Kurang memiliki pemahaman tentang operational details. Auditor yang tiba-tiba mau bikin perusahaan sendiri pasti masih harus belajar banyak hal baru. Jadi banyak tahu hal-hal kecil, termasuk tips dan trik, tentang menjalankan sebuah perusahaan.
Pakai accounting system hanya sebagai viewer atas report yang sudah jadi. Pakai accounting system untuk kegiatan operasional sehari-hari. Harus benar-benar paham seluk beluknya supaya saat terjadi masalah, bisa dicari pemecahannya.
Saat akan rilis report, akan ada banyak reviewer, mulai dari senior, manager, sampai partner. I am the only one reviewer. Setelah itu, direksi cuma sebagai user yang terima beres. Pasti ada review dan koreksi dari CFO, tapi tidak mendetail.
Kalau bekerja di KAP besar, terkadang kenaikan gaji bisa jadi kejutan besar. Kenaikan gaji setiap tahunnya tidak terlalu signifikan, kecuali kalau baru dapat promosi. Bisa naik 10% saja sudah termasuk bagus banget lho.
Jam kerja relatif gila… Bisa lewat dari jam 12 malam setiap harinya selama peak season. Lebih jarang kerja lembur, kecuali saat periode reporting.
Agak sulit kerja jadi auditor sambil ambil kursus, kuliah, atau ikutan social community. Lebih fleksibel untuk cari aktivitas lain di luar pekerjaan.