A Heartbreak is Just About Time

Patah hati ada banyak jenisnya. Ada yang terasa ringan, karena toh kita hanya sekedar “ngefans” sama si (mantan) gebetan. Ada yang lumayan berat, biasanya karena sudah mulai tumbuh rasa cinta dalam waktu yang cukup lama. Dan ada juga patah hati “kronis” yang butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk bisa sembuh.

Apapun itu, pada dasarnya, patah hati hanya soal waktu. Cepat atau lambat, kita akan pulih dengan sendirinya. Konon katanya, semakin optimis kita bisa move-on, akan semakin sedikit pula waktu yang kita butuhkan untuk bisa betulan move-on.

Di awal patah hati, godaan untuk kembali mencoba akan masih sangat sering terasa. Masih sering maju-mundur, berubah-ubah pikiran, sering baper dan penuh dengan keraguan. Dorongan untuk terus mengamati kehidupan si mantan (entah itu tanya-tanya ke orang sekitar, atau mengamati diam-diam via social media) masih terasa begitu besar.

Seiring berjalannya waktu, ada kalanya kita mulai merasa bahwa kita sudah moved on, sudah semakin jarang stalking dalam bentuk apapun, tapi pada fase menengah, biasanya masih rawan baper. Masih bisa tiba-tiba merasa kangen, masih suka bernostalgia, dan masih sibuk bertanya-tanya apa yang salah dan apakah masih bisa diperbaiki segala “kerusakan” yang ada.

Pelan-pelan, lama kelamaan, tanpa disadari, kita sudah moved on dengan sendirinya.

Kita sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali mengintip Instagram si mantan. Sudah tidak lagi berusaha mencari tahu apakah si mantan sudah punya pasangan baru. Sudah bisa mengingat atau menceritakan kenangan masa lampau tanpa ada rasa sedih yang mengiringi. 

Waktu menyembuhkan, dan usaha untuk move on akan mempercepat. Usaha apa saja? 

Usaha untuk tidak meninggalkan unfinished business. Jika masih ada yang terasa mengganjal, tanyakan langsung kepada orangnya.

Usaha untuk menghibur diri. Boleh berduka, tapi ada batasnya. 

Usaha untuk meyakinkan diri bahwa kita baik-baik saja. Patah hati bukan akhir dari segalanya. Fake it until we make it. 

Terus berusaha, lagi dan lagi, sampai tanpa kita sadari, kita sudah tidak lagi menganggap si mantan cukup penting untuk hidup kita ini. Atau bisa jadi, tanpa kita sadari, sudah ada orang baru yang mengisi hati dan pikiran kita saat ini šŸ˜‰

Mau satu tip tambahan? Coba bilang begini sama diri kamu sendiri, “Semakin lama saya patah hati, semakin lama saya bisa menemukan the one.”

Moving on is not just a myth. Keep trying, and you’ll get there.

When You Really Love Somebody, then Go and Get Them!

A few days ago, I told one of my colleagues, ā€œIf you really like her until that much, then you should go and get her. So long she’s not taken, you’ll still have a chance. Do it if you don’t want to wonder or regret for the rest of your life!”

And then I also told him a long-time story about how I used to lose someone who meant a lot to me. Someone who took years for me to move on (and that was only because I knew he was getting married soon), someone whom I adored, looked up to, someone who made me want to be a better person like he was.

Sometimes I wonder if I should have tried harder before it was too late.

Sometimes I think I should never listen to anyone else, I should just believe in him and me.

Maybe, I should never let my doubt consumed me. I should accept the parts of him that didn’t seem fit to me. I should be more patient. I should have more courage to fight for us, and bold enough to ask him where we stood back then.

I know that people would just say that it was not meant to be. I know that if we were meant for each other, we would somehow find a way regardless all the obstacles between us. I know all that, but I also know that I didn’t try hard enough. Knowing that I didn’t put my very best effort only left me wondering, over and over, if there was anything I could do to make us happen.

The irony is that, having said that I’ve moved on, the truth is, the memory of him never really went out of my mind.

In the lowest points of my life, I sometimes look at his happy life and I’ll wonder, ā€œWhat if we tried harder? Maybe, if only I tried hard enough, that life could be my life now. A life with him in it.ā€

What’s even worse, I still tend to compare the new guys in my life with this one guy from the past. I often say to my best friends that it’s impossible to find someone like him. And everytime I got disappointed by someone new, it was only anoher justification how right I was: I’ve had my chance and I have let it slipped through my fingers.

Believe me… it’s definitely true when people say that it’s better try and fail rather than never try and always wonder. I’ve also tried and failed, and it was indeed a lot better than the regret of letting that one amazing guy walk out of my life. At least when I tried, I didn’t have any “what if” as I already had all my questions answered. I’ve put my best effort and if the very best of me was not enough for him, then I had no doubt to let it go. 

Some people in our life may randomly happened for some reasons we don’t even remember. In some cases,  we look back and we laugh at ourselves: how could we be so crazy about all those guys? But some other people are unforgettable. They are still our favorite stories to tell, and the memories just can’t seem to fade away. They are the ones who make us learn how to define a true love, and they are the ones who will always have a little piece of us. If you have someone like that, after reading all this, I hope… you should know what to do.

The People I Need in My Life

One of the greatest lessons I learned from getting Ā older is to learn the things I like, want, and need for my own life. I’ve come to learn quality over quantities, and it includes the people that I need to have around.

I don’t need a thousand friends on my social media, I only need a smaller circle of people who truly care.

I don’t need dozens of social event invitations, I only need unforgettable moments with the loved ones.

And I don’t need a bunch of bride maids on my wedding day, I only need a couple of best friends who are always there in my ups and downs.

Why can’t I have all of that with more of people in my life? Because it takes a great amount of effort just to have a few of them in a longer run and that makes all of them very hard to find!

And why did I say they were hard to find? What precisely do I need from the people that count to me?

Here’s the short list!

  1. I need the people who is genuinely happy for me when my life is up on the sky (and not the ones who let their envy consumes themselves);
  2. The people who is genuinely upset when my life knocks me down (and not the ones who are secretly happy to see me fail);
  3. The people who think of my problems as if it were theirs;
  4. The people who can keep my secrets carefully;
  5. The people who never get bored with the stories and problems I share with them repeatedly;
  6. The people who always reply my text, even the not so important ones (and just because they understand it’s really important for me);
  7. The people who are always willing to forgive my flaws;
  8. The people who still believe in me and capable to see my lights even in my darkest times;
  9. The people who are always in my corner (even when I’m doing all the wrong things in public); and
  10. The people who make time for me, no matter how busy they are.

What makes it even more difficult? Because when I know how hard they try to do all that for me, I will also put my very best effort to do all that for them back. That’s why I said; quality over quantities. I would rather to spend my times and energy to the ones that really matter.

It would be great if you can have dozens of people like that in your life, but to me, I’m beyond grateful just to have a couple of them. I don’t know what I ever did in my past that makes me deserve every single one of them. Not only they are the people I need, they’re also the people I want and I love to have to be a part of my life. I hope, I really hope, we’re going to have each other for the rest of our life.

Critical Eleven – Movie Review

Berawal dari rekomendasi beberapa orang teman, gue jadi kepingin nonton film ini. Tipe film yang bisa menguras air mata katanya. It sounds perfect for my current mood! 

Jadilah gue memisahkan diri dari keluarga setelah acara buka bareng dan langsung beranjak sendirian ke bioskop hanya untuk nonton Critical Eleven. 

Berikut ini serangkaian isi pikiran gue dari awal hingga akhir film. Berhenti baca sampai di sini jika tidak ingin dapat bocoran soal jalan cerita film ini!

Hal pertama yang terlintas di benak gue: aktingnya kok agak kaku ya? Dialognya kurang menggigit. Kenapa dua orang itu cekikikan atas sesuatu yang enggak ada lucu-lucunya? Hmm… Bisa jadi maksudnya, orang yang lagi pdkt emang suka kayak begitu kali ya? Ngetawain hal-hal yang enggak lucu-lucu amat…

Begitu menginjak adegan Ale mengenalkan Anya ke seluruh anggota keluarganya… hati gue mulai meleleh. Tipe adegan yang bikin gue jadi berpikir, “Kalo gue enggak cepat-cepat move on, gue akan semakin lama untuk bisa mendapatkan hidup yang seperti itu.”

Semakin lama, semakin gue menilai dua tokoh utama dalam film ini punya kemampuan akting yang mumpuni. Chemistry-nya dapet banget! Pasangan suami-isteri betulan aja belum tentu bisa menunjukan chemistry sekuat itu! Adegan saat mereka harus berpisah sementara (si Ale ceritanya kerja di tambang minyak laut lepas), lumayan bikin gue jadi berpikir, “Bisa nggak ya, gue menjalani rumah tangga yang seperti itu?”

Konflik rumah tangga mulai bermunculan perlahan. Ale mulai terlihat sebagai sosok suami yang termasuk posesif. Sifat yang sebetulnya sangat tidak cocok untuk dipasangkan dengan karakter Anya yang juga termasuk keras. The conflict looks real and somewhat it feels relatable to myself.

Konflik yang awalnya bisa diatasi dengan cara Anya yang terpaksa mengalah saja, akhirnya mulai terasa terlalu berat saat bayi mereka lahir dalam keadaan meninggal. Akting para pemainnya betulan keren banget! Air mata gue sampai sedikit menetes saat nonton adegan yang satu ini. Enggak terbayang kalau sampai harus melewati cobaan seperti itu!

Pasca meninggalnya anak Ale dan Anya, konflik antara mereka semakin meruncing hingga puncaknya, Ale mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya dia ucapkan. Kalimat yang membuat Anya kehilangan gairah untuk mempertahankan rumah tangganya. Dan lagi-lagi, gue merasa terhubung dengan adegan itu. Gue kenal satu cowok yang sifatnya persis seperti Ale: tidak bisa mengendalikan kata-katanya di saat sedang marah. Gue sampai berpikiran, “Pasti seperti itu rasanya kalau sampai gue betulan married dengan cowok ini.”

Sampai sini, sempat ada beberapa adegan yang agak terlalu lebay. Anya terpikir untuk bunuh diri? Orang dengan karakter kuat seperti Anya semestinya tidak punya mental lemah seperti itu. Kemudian saat adegan Ale mengalami kecelakaan mobil… gue malah menghela napas. Pikir gue, “Really? An accident? It’s so typical Indinesian novel story!”

Dan tentu saja, Ale dan Anya akhirnya berbaikan setelah kecelakaan mobil tersebut! Rasa kecewa karena kisah klise itu akhirnya tertutupi dengan adegan penutup film ini. Kehangatan keluarga dan persahabatan di akhir film, membuat gue kembali berbisik pada diri gue sendiri, “Right… At the end of the day, that’s the life I want for my future.”

Find Someone Who Loves You as Much as You Do

Beberapa waktu yang lalu, gue nonton video pendek yang dibagikan oleh Bride Story via Instagram. Video itu menampilkan sepasang manula yang sudah puluhan tahun menikah, mereka mulai pacaran sejak umurnya belum menginjak 17 tahun.

Suami dalam video ini bercerita bahwa saat itu, rumah dia dan rumah istrinya (yang dulu masih jadi pacarnya) berjarak sekitar 13 KM. Meski demikian, si suami rela menempuh jarak itu dengan berjalan kaki hanya demi menemui istrinya seminggu sekali. Melihat pengorbanan itu, ayah dari si suami suatu hari bertanya pada anaknya, ā€œDo you think that girl loves you as much as you love her?ā€

Kemudian suatu hari, si suami sakit keras, dan tiba-tiba saja, gantian si istri yang rela berjalan kaki 13KM, sendirian, hanya untuk menemui pacarnya itu! Saat itulah si suami menemukan jawaban atas pertanyaan ayahnya, ā€œShe loved me as much as I did.ā€

Meski gue tidak mengenal pasangan ini secara langsung, gue percaya bahwa memang benar mereka tetap saling mencintai meski sudah menikah puluhan tahun lamanya. Tetap mesra, dan tetap  bahagia. Tipe pasangan yang persis seperti ini lah yang bisa bikin gue ngerasa kagum! Gue lebih ā€œiriā€ melihat pasangan kakek-nenek yang masih terlihat romantis ketimbang a newly wed yang masih tampak mabuk kebayang.

Kenapa?

Karena pasangan yang baru menikah, sudah hampir pasti semuanya masih tampak tergila-gila, masih mesra, dan harmonis satu sama lainnya. Lain halnya dengan orang yang sudah sampai puluhan tahun menikah. Berhasil melewati satu hari tanpa saling meneriaki satu sama lainnya saja sudah bisa dianggap bagus banget!

Berangkat dari video ini, gue jadi berkesimpulan:

  1. Yang paling penting bukan hanya sekedar menemukan pasangan lalu menikah; yang penting adalah menikah dengan orang yang sangat kita cintai, yang juga sangat-sangat mencintai kita; dan
  2. Setelah menikah, yang paling penting bukan hanya sekedar tetap menikah dan tidak bercerai; yang penting adalah tetap menikah dan tetap bahagia. Tetap saling mencintai.

Video ini juga menyadarkan gue bahwa kemungkinan besar, menjalani hubungan yang berat sebelah akan terasa luar biasa menyiksa untuk pihak yang berada dalam posisi ā€œlebih mencintaiā€. Harus selalu mengalah, harus selalu berkorban, repot sendiri, capek sendiri, stres sendiri, sedih sendiri…. Balik ke poin dua di atas, kalaupun nantinya berlanjut sampai ke jenjang pernikahan, pertanyaannya, ā€œBisa tahan sampai berapa lama?ā€

Pemikiran seperti ini pada akhirnya membantu gue banget buat bisa move-on. Kesadaran bahwa gue harus dapat orang yang mencintai gue sama besarnya dengan gue mencintai dia membuat gue memutuskan bahwa gue tidak boleh buang-buang waktu. If he doesn’t feel it after all these times, then he will just never feel it for the entire times. And that’s the end of the story.

Just Because He Was in the Past, It Doesn’t Mean He Was a Mistake

A friend used to tell me, “You should really get rid of him. He’s gone, he’s in the past, and he’s not worth the wait! You deserve way better than him.”

It was actually nice that I had a friend who looked out for me and I can really understand her point of view. With that being said, it doesn’t mean I entirely agree with her. Just because he was in the past, it doesn’t mean he was a mistake.

Why?

Because if I said that he was a mistake, it also suggested that I was making a mistake. That I was a mistake myself. And I refuse to think of me that way. I refuse to think of him that way.

There was a reason why I fell for him in the first place. I saw his very best back then. I saw a quality that he probably didn’t even realize. I saw something in him, and I really liked what I saw. Even when he turned to break my heart, I was still holding on just because I knew that the bright side of him was surely still there; right inside of him. And when I finally gave up, it was not because I gave up my faith on him; it was merely because I realized that his very best just unfortunately not belong to me.

So again, he was not a mistake. He was just a lesson that I can’t always get what I want to have. Just because I can see the very best of him, it doesn’t mean he can also see the very best of me. So there I learn how to have a big heart and get moved on with my life. And that’s that.

What did I See from the Guys I Used to Like?

Last year, someone asked me repeatedly, “What do you like from him?” 

I went blank and I barely gave her any good answer. Having said real love didn’t always need a reason, deep down I knew that I did have reason in every little thing I did. I knew I had it, I just didn’t know what to say. I didn’t know what I should do to make people understand.

As time went by, as I met many guys I never wanted to be with, I started to understand what I liked from the guys I wanted to be with.

I used to like them because they made me feel special. They were never the guy who flirted with many random girls.

I also liked the way they stood for themselves. I always like the guys who know how to make a statement. Not a people pleaser who is too afraid to fight for his thoughts.

And yes, it’s true that I have certain feelings for smart guys. I liked them because they made me learn something new. It makes a man more like a man when they are expert at what they do.

Finally, I used to fall for them because they managed to make me fall for them. The little things they did just worked well to me. 

There I said it… the reasons why I liked the guys I liked. Why didn’t I tell these reasons earlier? Because sometimes, I need to lose something before I understand how previous it was. 

Sounds stupid? I know. And maybe I was. But at least, now I learn something.

Find a Man Who Knows What He Wants with You

A friend asked me, “What should I do to make him make the next move? It’s going nowhere. I should convince him, shouldn’t I?”

I asked her back, “Why would you want to be with someone who needs to be convinced just to be with you? If it takes him a long time just to date you, how much times longer he needs to propose you? And if you have to put a great effort to convince him to be with you, chances are, you’ll always have to work harder to make him stay. Is that really what you want for yourself? For your future?”

Find a man who knows for sure what he wants with you. And the one who makes a real effort to make it happen. He doesn’t need to be as charming or as successful as you want from your dream guy, but he has to want you and love you the way you deserve it. 

Or else, don’t settle fot the less. You deserve better. You know you deserve better.

If He Has These 5 Qualities, He’s a Keeper

Apa kriteria pasangan idaman kalian? Good looking, lucu, pintar, perhatian? Well, that is so teenager, isn’t that?Ā 

Realitanya, definisi pasangan ideal sama sekali tidak sesederhana itu. Ada hal-hal sepele yang dulu gue lewatkan dan baru sekarang gue sadari betapa pentingnya hal-hal sepele itu dalam membangun sebuah hubungan jangka panjang. Belajar dari pasangan-pasangan yang paling bahagia yang pernah gue kenal, berikut ini 5 hal penting yang menandakan bahwa si dia adalah pasangan yang pantas untuk kita pertahankan.

He puts our comfort and happiness before him

Dulu, pernah ada cowok yang peduli banget sama gue sampai hal kecil sekecil-kecilnya. Jika diingat kembali, dulu dia sering banget mengutamakan diri gue sebelum dia mengutamakan dirinya sendiri. Contohnya tiap kali pergi makan bareng. Begitu masuk restoran, dia akan langsung meneliti isi buku menu… bukan untuk berpikir dia mau makan apa, tapi lebih memikirkan apakah ada menu yang bisa gue makan (ya, dulu itu, gue picky banget untuk urusan makanan). Kemudian tiap kali pergi makan ke restoran Cina atau Jepang, hal pertama yang dia minta setelah memesan makanan adalah sepasang sendok dan garpu. Bukan buat dia, tapi buat gue yang dulu sama sekali tidak bisa makan pakai sumpit. Dia mendengar baik-baik semua isi cerita gue , dan… dia tidak segan menunjukkan bahwa dia sangat mengenal gue, luar-dalam.

His action shows us how much he cares

Perhatian itu bukan soal seberapa rajin dia telepon kita hanya untuk tanya sedang apa, di mana, sudah makan atau belum, dan basa-basi standar ala orang pacaran pada umumnya. Perhatian yang sesungguhnya jauh melebihi sekedar kata-kata.

Gue kebetulan punya beberapa sahabat cowok yang menunjukan perhatian mereka (sebagai teman) dalam bentuk tindakan yang nyata. Membelikan makanan dan obat saat gue sakit. Atau sekedar memberikan satu-satunya helm yang dia punya untuk gue gunakan selama berboncengan dengan dia di motornya.

If he means it, he will show it.

He knows our flaw and he loves us anywayĀ 

Mencintai seseorang di saat-saat terbaiknya itu mudah, tapi tetap mencintai seseorang meski setelah kita mengenal dia luar-dalam, lengkap dengan segala kekurangan, kesalahan, dan kegagalannya, itu lain cerita.

Dan bukan hanya berlaku untuk cowok sebenarnya… menerima seseorang apa adanya juga bisa jadi tantangan tersendiri untuk cewek pada umumnya. Makanya… kalau sudah ketemu seseorang yang tetap memiliki keyakinan atas diri kita meski setelah melihat sisi buruk dalam diri kita ini, lebih baik diusahakan sekuat tenaga untuk mempertahankan dia dalam hidup kita.

He forgives us, over and over again

Ironisnya, semakin dekat kita dengan seseorang, justru semakin besar dampak rasa sakit yang bisa kita goreskan dalam hati mereka itu. Dan hubungan yang awet itu sama sekali bukan hubungan yang tidak pernah saling menyakiti, melainkan hubungan di mana keduanya selalu bersedia untuk saling memaafkan, lagi… dan lagi… dan lagi…

He does the extra miles just to make us happy

Dulu, pernah ada satu cowok yang tidak pernah gagal membuat gue terkejut dengan usaha-usaha dia untuk menyenangkan gue. Bukan soal hadiah mahal atau apa, tapi sekedar tahu dia rela berusaha keras untuk mewujudkan keinginan gue saja sudah sangat menyentuh hati. Misalnya, saat dia repot-repot mencarikan komik kesukaan gue yang saat itu sedang sangat langka di toko buku terdekat. Gue hanya cerita gue sedang cari komik itu, dia langsung bergerak sendiri untuk mencari buku itu sampai dapat. Hanya komik, tapi sangat berkesan!

Kenyataannya, masih banyak cowok yang malas repot-repot sampai sebegitunya. Tidak semua orang menyadari, tapi sebetulnya, punya pasangan yang mau berusaha ekstra keras untuk membahagiakan mereka itu sudah seharusnya mereka syukuri dan hargai.

Finally, you can settle for the less, except on how much he cares about you

Tidak ada yang salah dari mengurangi kriteria yang kita miliki untuk pasangan ideal. Penampilan fisik bukan segalanya, kemapanan bisa dibangun perlahan-lahan, bahkan kesamaan hobi sebetulnya tidak harus jadi patokan. Hal-hal seperti itu bisa kita coret dari daftar kriteria yang kita punya, tapi sekali lagi gue tulis di blog ini, jangan biarkan diri kita berakhir dengan cowok yang menyayangi kita sekadarnya saja.

My Two Cents – Haqy Selma Journey

Sudah baca cerita ala fairy tale Selma-Haqy yang notabene anaknya Amien Rais itu? Lama-lama, gue gatal juga pengen ikutan komentar. Banyak yang berprasangka, Selma tega meninggalkan pacar lamanya demi langsung married dengan Haqy yang sudah mapan. Dengan Haqy yang anak orang kaya dan ternama. Bisa jadi benar, tapi bisa juga tidak benar.

Sebagai sesama cewek, gue bisa melihat Haqy seperti Selma melihat suaminya itu: gentle man yang tahu pasti apa yang dia inginkan dan mau terang-terangan berusaha untuk mendapatkannya. Seperti yang gue peenah tulis sebelumnya, cowok yang percaya diri itu kelihatan seksi, hehehe.

Hanya saja kenyataannya, cowok seperti itu sudah semakin langka. Banyak cowok jaman sekarang yang bisanya hanya kasih kode-kode saja. Atau sesekali nge-date tanpa ada kepastian mau dibawa ke mana. Atau pacaran sampai bertahun-tahun tanpa jelas arah dan tujuannya. 

Gue bahkan kenal beberapa cowok yang terang-terangan punya prinsip, “Jika tidak ada peluang, tidak usah dicoba-coba.” Makanya, sekalinya ada cowok yang berani coba-coba dan mempertaruhkan perasaannya sendiri, di mata cewek pada umumnya akan terlihat “cowok banget”. 

Modern atau tradisional, mandiri atau manja, usia 20-an atau 30-an, perempuan tetap perempuan; punya naluri dasar untuk jatuh hati dengan cowok yang mampu menempatkan dirinya sebagai “a fighter”. Yang punya keyakinan kuat atas dirinya sendiri. Yang betulan mampu meyakinkan kita, para perempuan, bahwa dia itu laki-laki yang siap serta mampu untuk menjadi pemimpin atas diri kita ini.

Makanya kalau menurut gue, bisa jadi, Selma memilih Haqy yang sudah mapan itu hanya kebetulan saja. Masih banyak Selma-Haqy di luar sana yang nekad membangun rumah tangga dengan bermodal kesederhanaan, hanya saja bedanya, mereka tidak sampai terekspos karena memang bukan anak dari orang ternama. 

Jadi perempuan itu kadang sangat capek rasanya. Capek menebak isi hati si dia. Capek dengan rasa insecure soal posisi kita sebetulnya ada di mana. Capek berpikir bagaimana caranya supaya dia tergerak untuk memberi kepastian. Capek bertanya-tanya masih kurang apa diri kita ini. Capek berdebat dengan diri sendiri apa harus tetap bertahan atau mulai cari yang lain saja… Makanya, saat datang cowok ala Haqy yang sangat jelas apa maunya, wah, itu memang rasanya seperti menemukan oase di gurun pasir! 

Memang benar merebut pacar orang lain tidak etis. Memang benar juga bahwa yang namanya pernikahan tidak boleh dipaksakan. Dan jelas memang benar bahwa Selma dan mantan pacarnya itu hanya tidak berjodoh saja. Tapi di saat yang sama, memang benar juga bahwa pada dasarnya, perempuan hanya perlu rasa aman. Perempuan perlu yakin bahwa dia tidak menjatuhkan perasaannya pada laki-laki yang salah; pada laki-laki yang hanya akan mematahkan hatinya – lagi dan lagi.