Someday I Will

Waktu kecil, gue pengen banget bisa nyetir mobil gue sendiri. Gue juga pengen tinggal di apartemen gue pribadi, dan bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan uang gue sendiri. Tapi waktu itu, gue masih belum tau udah gede nanti mau kerja sebagai apa…

Setelah kuliah, gue jelas tau bahwa gue harus punya cita-cita yang konkret demi mencapai itu semua. I need to be something to afford them all right? Sampai satu per satu impian yang akan gue kejar itu mulai muncul satu per satu…

Waktu dosen audit gue bilang gue cocok kerja jadi auditor, gue memutuskan bahwa gue akan kerja jadi auditor setelah lulus kuliah nanti.

Lalu waktu dosen gue yang lain cerita tentang prospek karier di KAP Big Four, gue juga memutuskan bahwa gue akan berjuang untuk menembus satu dari empat KAP raksasa itu.

Dan waktu gue melintas di kawasan niaga Sudirman… gue bertekad di salah satu pencakar langit itulah gue akan mencari nafkah.

The time goes by, sekarang gue udah lulus kuliah, dan udah tiga minggu gue memulai karier sebagai auditor di Ernst and Young; salah satu KAP Big Four yang berlokasi di Gedung BEJ Sudirman…

Alhamdulillah satu rangkaian impian gue sudah tercapai. Sekarang, gue akan kembali mengejar impian gue semasa kanak-kanak…

Someday I will ride my own car

Someday I will live in my own apartment

Someday I will go abroad with my own money 🙂

Wish me luck yaa guys!

Mengejar Mimpi Berikutnya

Hampir semua impian gue udah mati di kampus Binus. Nggak bisa lulus cum laude karena pernah 3 kali dapet C, nggak berhasil dapet nilai skripsi A gara-gara dituduh malsuin data (syukur-syukur dengan tuduhan seberat itu gue masih dikasih nilai B), nggak pernah jadi ngewakilin kampus untuk ikut lomba akuntansi nasional… Ah… rasanya sedih banget nggak bisa bikin ortu bangga…

Tapi herannya nggak ada temen yang bisa mengerti kekecewaan gue. Katanya gue harus bersyukur lah, yang penting masa depan karier gue bakalan cerah lah… Mereka nggak ngerti bahwa gue udah kehilangan satu impian terbesar yang udah gue pendam seumur hidup gue… Gue cuma pengen, satu kali aja, gue ngerasain rasanya dapet rangking satu, atau gimana rasanya lulus dengan gelar Lulusan Terbaik… Yang paling menyedihkan adalah gue udah TIGA kali hampir berhasil mencapai impian itu! Belum lagi kalo ngebayangin gimana kecewanya bokap dan nyokap… Gue sampe nggak berani nelepon nyokap buat ngabarin skripsi yang gue kerjain setengah mati itu cuma dikasih nilai B dengan alasan-alasan yang nggak masuk akal.

Bukannya gue nggak bersyukur, terlalu ambisius atau apa… Gue cuma menyesal lagi-lagi gue gagal menuhin harapan bokap dan nyokap gue… Penyesalan itu semakin jadi karena boleh dibilang, impian gue itu pernah ada di depan mata gue tapi gue nggak berhasil mencapainya! Contohnya skripsi gue. Entah apa alasannya, salah satu dosen penguji yang waktu sidang cuma manggut-manggut ngeliat gue dituduh macem-macem sama dosen yang satunya lagi malah nulis “Maaf ya,” di dalam soft cover skripsi gue! Dari situ gue tau bahwa nilai A sudah di depan mata gue! Seandainya waktu itu gue berusaha lebih keras menghadapi dosen penguji yang keras kepala itu…

Tapi setelah satu hari berlalu… setelah gue coba berpikiran jernih… tidak pernah ada kata MATI untuk impian dalam hidup ini. Asalkan gue masih punya hari esok, gue juga masih punya peluang untuk menciptakan impian baru dan berusaha mengejarnya sekuat tenaga.

Sekarang, gue cuma butuh waktu untuk menentukan pilihan karier gue selanjutnya. Di sanalah mimpi gue yang berikutnya akan berlabuh. Ok, mari kita bersama-sama mengejar mimpi!