Cara Blogger Menyampaikan Cinta

Ceritanya tadi malam, gue iseng-iseng mampir ke blog milik penulis lain. Ada beberapa blogger yang gue relatif suka sama tulisannya. Sampai kemudian gue menemukan satu tulisan yang isinya manis banget. Isinya cerita soal penulis yang belum pernah bilang cinta sama pacarnya. Instead, dia bilang cinta sama si pacar melalui tulisan, dengan cara yang romantis banget.

Gue sampai berpikir, “Kalau gue jadi pacarnya, gue akan lebih senang mendapatkan pernyataan cinta yang seperti itu ketimbang kalimat “I love you” seperti orang lain pada umumnya.”

Kenapa begitu? Karena pernyataan cinta dalam bentuk blog itu sifatnya sangat personal, ditulis khusus buat kita, hanya ada satu-satunya, dan dibagikan secara terbuka… seperti enggak ada rasa ragu atau malu untuk membiarkan seisi dunia mengetahuinya.

It’s beautiful, isn’t it?

Beranjak ke blog lain, gue lalu menemukan beberapa tulisan yang isinya menyatakan kekaguman penulis kepada lawan jenis yang disukainya. Isinya sangat detail, sampai ada pembaca yang bertanya melalui kolom komentar, “Kira-kira dia baca tulisan ini nggak ya?”

Gue tersenyum tipis membaca komentar itu. Siapapun penulisnya, dalam hati kecilnya, dia pasti berharap, sangat-sangat berharap, orang yang dia sukai akan membaca tulisannya itu. Karena memang begitulah cara kami; para blogger, menyatakan isi hati kami kepada orang-orang yang kami sukai. Gue juga lumayan sering kok, menuangkan isi hati gue dalam bentuk tulisan yang lalu gue bagi melaui blog gue ini.

Kenapa harus dengan cara seperti itu?

Gue enggak tahu ya, apakah jawaban gue berikut ini mewakili alasan para blogger lain di luar sana, tapi alasan gue mengungkapkan isi hati melalui blog adalah:

  1. Gue bukan tipe orang yang bisa dengan santainya bilang “I love you.” Gue enggak pernah sekalipun mengucapkan kalimat sakti itu kepada siapapun sepanjang 32 tahun hidup gue ini. Enggak ke orang yang gue suka, enggak juga ke anggota keluarga gue sendiri. It just feels odd and awkward, you know…
  2. Pada umumnya, cowok nggak akan berani maju lebih jauh jika mereka merasa tidak punya peluang. Tapi masalahnya itu tadi, gue bukan tipe orang yang pintar menunjukan ketertarikan gue pada orang lain. Saat ada orang yang doing something nice, gue malah suka bingung harus berkata atau bersikap bagaimana. Untuk mengakalinya, gue menunjukan ketertarikan gue itu melalui tulisan. Cowok yang suka sama gue toh biasanya rajin baca blog gue dan dia bisa anggap tulisan gue itu sebagai sinyal balik dari gue, hehehehe; dan
  3. Kalaupun gue dalam keadaan pesimis hubungan gue dan si gebetan akan going somewhere, menuangkan isi hati lewat tulisan itu akan jadi semacam pelampiasan buat gue. Sekedar menulis bisa bikin gue ngerasa sangat lega! It feels like, “Okay, this is it! I’ve done my part to let him know how I truly feel about him.” Mungkin, cuma sesama penulis saja yang bisa memahami point of view gue ini kali ya.

Intinya sih, gue merasa lebih mampu menuangkan isi hati gue dalam bentuk tulisan ketimbang dalam bentuk kata-kata yang gue ucapkan langsung ke orangnya. Aslinya gue sama sekali enggak seromantis isi tulisan gue dalam blog ini, hehehehe.

The best I can do when I fall for someone is to write something nice about him, to drop him a hint, and hoping that he will read it anytime soon. Sounds stupid? I know, but maybe, just maybe, that’s the only way I know how to tell people how I truly feel about them.

Cara Menghemat Biaya Pernikahan Ala Gue

Wait, jangan heboh dulu! Gue masih jomblo dan masih enggak jelas kapan bakalan getting married. Kalau gue bisa punya pacar di tahun ini pun (eh tapi, tahun ini udah tinggal seminggu yah), belum tentu berarti gue married tahun depan juga sih. Selain mesti nabung, gue juga ngerasa mesti mengenal dengan baik calon suami gue juga kan (ini serasa lagi ngomongin an imaginary boyfriend, hehehe).

But well, once I decided to get married, I already have a well planned wedding budget!

Ada beberapa hal yang menurut gue bisa dihemat tanpa perlu membuat acara pernikahan gue itu terasa apa adanya. Jujur, gue tipe orang yang ingin membuat acara yang berkesan… Anggaplah sebagai bentuk rasa syukur, serta untuk berbagi kebahagiaan, setelah jatuh-bangun mencari pria yang tepat selama puluhan tahun lamanya (and now I feel old, hehehe).

Worry not, a dream wedding doesn’t always mean a billion rupiah wedding! Here are some costs that can be reduced in my wedding someday!

  1. Enggak perlu ada acara lamaran yang melibatkan banyak orang. Menurut gue, acara lamaran itu seharusnya bersifat intimate, cukup melibatkan keluarga inti plus ipar plus ponakan saja. Supaya enggak usah kebanyakan pendapat saat masuk ke pembicaraan soal tanggal, lokasi, dan lain sebagainya gitu lho. Enggak usah juga booking satuΒ ballroom hanya untuk acara lamaran atau pertunangan, cukup booking satu lounge di salah satu hotel di Jakarta (Peacock Lounge Fairmont misalnya, hehehehe);
  2. Gue hanya perlu satu cincin saja, tinggal dipindah dari tangan kiri ke tangan kanan. Asal bentuknya sesuai cincin impian gue (classic ring with a small diamond on it), cukup satu itu saja sudah bikin gue happy banget. Besides, gue ini orangnya ceroboh… bisa terasa seperti beban kalau harus menjaga 2 cincin sekaligus, hehehehe;
  3. Pre-wedding dan wedding photography cukup memanfaatkan jaringan dan keahlian gue sendiri saja. Sia-sia dong, punya bisnis fotografi kalau masih menghabiskan banyak uang untuk biaya yang satu ini!
  4. Tamu yang diundang cukup maksimal 300 orang saja (ini sudah termasuk keluarga dekat). Gue lebih suka acara yang sifatnya intimate. Enggak usah ada pelaminan, cukup buat 2-3 photo booths untuk foto-foto, supaya gue dan pasangan bisa bebas berbaur dengan orang-orang terdekat kita. Kenapa gue enggak tertarik mengundang banyak orang? Well, jumlah orang yang masih menemani hidup gue sekarang kan memang tidak seberapa banyak, dan buat gue, cukup mereka saja yang tetap menemani gue di hari pernikahan gue nanti;
  5. Tidak perlu buat acara terpisah antara akad nikah dengan resepsinya… Hidangkan tamu dengan appetizer saat akad nikah, main course dan desserts saat resepsi;
  6. Gue cukup pakai satu wedding gown saja…yang diganti cukup hijab styling-nya saja (mesti ada aksesoris warna pink saat resepsinya, hehe);
  7. Wedding gown jangan sewa, tapi bikin baru oleh designer impian gue; Anne Avantie. Mahal? Memang iya. Tapi setelah itu, bisa gue sewakan melalui bisnis fotografi gue itu (sekarang ini bisnis gue itu memang sekaligus melayani sewa busana juga); dan
  8. Untuk wedding venue, gue lebih suka outdoor daripada indoor… dan kebetulan, outdoor wedding venue harga sewanya memang jauh lebih murah daripada indoor ballroom.

Delapan hal di atas, jika gue lakukan dengan benar, semua itu akan sangat menghemat biaya pernikahan dengan tetap mewujudkan hari pernikahan yang gue impikan!

Sounds good? Now let me stop daydreaming and going back to reality, hehehehe.

2018 in a Nutshell

Berikut ini rangkuman perjalanan hidup gue sepanjang tahun 2018. Naik-turunnya dan suka-dukanya! Check them out!

Di awal tahun 2018, gue memulai pekerjaan baru dengan lingkungan kerja yang jauh berbeda dengan perusahaan sebelumnya.

Pertama kali kerja di C level dengan peers dan boss(es) yang sangat mendukung perjalanan karier gue. We helped each other and we had fun along the way!

Gue juga ketemu teman-teman baru di kantor baru, teman curhat baru, orang-orang yang surprisingly bisa ngertiin gue banget.

Di saat yang bersamaan, bisnis sampingan gue berkembang lumayan cepat. Portofolio juga mulai bertambah banyak. Gue jadi punya kesempatan untuk bertemu dengan banyak pasangan yang deeply in love with each other.

Kemudian di kuartal ke tiga tahun 2018, gue mendapatkan promosi di kantor baru (it’s incredibly fast and I’m beyond grateful for that!). Efektif Desember 2018, gue pindah ke group level dan disambut oleh orang-orang yang sangat excited menerima gue di sana. Alhamdulillah. πŸ˜‡

Untuk love life, kuartal pertama tahun ini, gue completely moved on dari cowok yang bolak-balik gue suka selama hampir 2 tahun lamanya.

Gue bahkan mulai bisa berteman lagi, sesekali ngobrol-ngobrol lagi, dengan si mantan gebetan.

Beberapa bulan kemudian, gue ketemu cowok baru (finally!). I’m happy that I met him this year and It’s been a long while since the last time I felt this way. I don’t know how it’s going to end but no matter how it ends, I will always cherish every moment I had with him all this year.

Untuk personal life, tahun ini gue punya hobi baru: fotografi. Beli kamera dan lensa yang udah kayak my own baby.

Tahun ini gue juga berkesempatan untuk mewujudkan ultimate travel goal gue: pergi ke Iceland. Alhamdulillah… Iceland was magnificent indeed!

Kabar dukanya, bulan September dan Desember, sahabat gue Junet dan Kakek dari pihak nyokap meninggal dunia. Untuk pertama kalinya gue merasakan kehilangan dalam artian yang sesungguhnya. May both of them rest in peace ❀️

Di penghujung tahun, gue sempat ngerasa sedikit depresi, bingung hidup mau apa lagi. Gue bersyukur banget atas hidup yang gue punya, tapi entah kenapa, gue kayak nggak bergairah buat hidup lebih lama.

Kemudian di saat yang nyaris bersamaan, banyak orang bilang soal bagaimana gue menginspirasi mereka. Soal bagaimana gue membantu mereka mencapai a better life. Dari situ gue menyadari… gue akhirnya menemukan alasan kenapa gue harus hidup lebih lama; supaya gue bisa menolong orang lain lebih lama lagi.

Setelah dipikir lagi, 2018 ini sebetulnya tahun yang luar biasa buat gue. Ada banyak hal-hal kecil yang membuat gue merasa beyond blessed. Tahun yang membawa duka, tapi dari duka itu juga gue jadi belajar untuk lebih menikmati setiap moment dengan mereka yang masih ada dalam keseharian gue.

2018 masih satu minggu lagi, semoga masih ada lagi beautiful moments yang bisa gue simpan sebagai kenangan πŸ’•

Apa Tolak Ukur Kita Sudah Move On dari Mantan?

Ada pembicaraan dengan salah satu teman sekantor yang bikin gue berpikiran, “Sebetulnya apa sih, tolak ukur kita sudah move on dari mantan pacar atau mantan gebetan?”

Sudah berhenti menangisi si mantan yang bikin kita patah hati itu? Belum tentu berarti kita sudah move on. Bisa jadi kita hanya sudah terbiasa dengan absennya dia dari kehidupan kita. It’s like having “a new normal”.

Sudah punya pacar baru? Ini juga belum tentu. Orang yang sudah menikah tapi belum move on dari mantan pacarnya juga ada kok.

Atau sudah berhenti sedikit-sedikit curhat soal si mantan? Well, bisa jadi kita cuma sudah kehabisan teman curhat yang masih tampak tertarik mendengar curhatan kita yang isinya itu-itu saja.

Kalau begitu, lalu apa tolak ukurnya?

Menurut gue, beda orang beda tolak ukurnya.

Teman yang tadi gue sebutkan di awal tulisan ini masih anti melihat Instagram stories milik mantannya. Dan menurut gue, itu tanda dia belum move on. Dia masih takut terbayang-bayang, atau mungkin, dia masih enggan melihat hidup si mantan sudah baik-baik saja meski sudah enggak ada dia di dalamnya.

Bagaimana dengan diri gue sendiri? Apa tolak ukur gue sudah move on dari orang yang pernah bikin gue patah hati?

Satu dekade yang lalu, gue masih senang menulis diary. Bukan lagi diary dalam bentuk buku fisik, tetapi diary yang gue tulis menggunakan komputer. Waktu itu gue sudah mulai kenalan dengan blog, tapi gue masih suka menulis diary untuk hal-hal yang enggak mungkin gue bagi di blog gue saat itu. Gue terus menulis diary, sampai akhirnya gue patah hati. Itu pertama kalinya gue jatuh cinta (cowok-cowok sebelumnya cuma naksir-naksir biasa saja), dan itu juga pertama kalinya gue patah hati, habis-habisan.

Saat gue memutuskan untuk move on dan berhenti menunggu cowok itu, gue juga memutuskan untuk “mengubur” diary gue dalam-dalam. Gue taruh folder berisi diary gue itu di dalam tempat yang sangat dalam di hard drive gue untuk menghindari gue yang tanpa sengaja melihat kembali isi dari folder itu. Pikir gue saat itu, melihat kembali isi folder itu akan menjadi pengalaman yang sangat-sangat menakutkan. Gue tidak ingin hapus, tapi gue juga tidak ingin melihatnya untuk sementara waktu. Sejak saat itu sebetulnya gue sudah pernah beberapa kali suka sama beberapa cowok baru, tapi entah kenapa, gue tetap tidak berani menyentuh diary folder yang satu itu.

Beberapa bulan yang lalu, gue ketemu cowok baru yang sifatnya agak mirip dengan mantan gebetan gue 8 tahun yang lalu itu. Beberapa sifat dia mengingatkan gue dengan sifat si mantan gebetan, sampai akhirnya, mengingatkan gue dengan diary yang gue sembunyikan itu.

And you know what I did? Yes, I finally opened the folder and I reread that diary I wrote over 8 years ago.

Saat itulah gue tahu dengan sendirinya, bahwa akhirnya, setelah 8 tahun lamanya, gue benar-benar move on dari si mantan gebetan.

Apa rasanya membaca diary yang gue hindari selama 8 tahun lamanya? Sedih, tapi lebih karena gue kasihan sama diri gue sendiri. Kasihan melihat naik-turunnya emosi gue saat itu. Di satu hari gue merasa sangat optimis, hopeful, bahagia… di lain hari gue merasa pesimis, hopeless, sedih dan kadang sampai terpuruk juga. Gue juga jadi ingat bahwa awalnya, dulu itu gue enggak sebegitu yakinnya dengan perasaan gue ke si mantan gebetan sampai akhirnya gue kehilangan dia. Mungkin itu pertama kalinya gue merasakan apa yang orang bilang dengan, “You don’t really know what you have until it’s gone.”

Lalu apa yang harus kita lakukan supaya bisa move on? Ini juga beda orang bisa beda jawabannya, tapi menurut gue, ada satu yang pasti: time heals. Cuma memang, rasanya enggak enak banget kalau sampai perlu waktu satu dekade hanya untuk bisa benar-benar move on, hehehehe.

Balik lagi ke teman sekantor yang menginspirasi gue menulis post ini, gue lalu mengajarkan dia cara untuk bisa menyembunyikan Instagram stories tanpa perlu unfollow orang yang bersangkutan. Setelah gue ajarkan, dia malah bilang begini, “Tapi jangan deh… kalo gue hide, nanti gue malah nggak belajar.”

Hmm… ada benarnya. Mungkin, kalo dulu gue lebih keras sama diri gue sendiri, kalo gue enggak sebegitu protektifnya sama perasaan gue sampai harus menghindari segala hal tentang si mantan gebetan, maka mungkin, gue enggak akan butuh waktu sampai satu dekade.

A Tribute to My Grandpa

Gue selalu worried ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi ketika gue sedang bepergian jauh ke luar negeri. Enggak terbayang deh mesti gimana… Selain jauh, jadwal penerbangan juga jumlahnya masih terbatas. Itu pula yang gue khawatirkan saat hendak berangkat ke Iceland bulan lalu… Kondisi Kakek dari nyokap makin memburuk… dan firasat kami sekeluarga sudah mulai enggak enak. Jadi lah gue mengunjungi Kakek beberapa hari menjelang keberangkatan ke Iceland bulan lalu itu.

Hari itu gue duduk menemani Kakek yang terbaring di tempat tidur. Ngobrol panjang lebar, bantu Kakek download aplikasi radio supaya ada hiburan buat Kakek yang sudah enggak kuat lama berdiri, dan juga bantu beli-beli barang yang Kakek butuhkan melalui online store.

Waktu itu gue bilang begini, “Aku mau ke Iceland, Kek, rencananya. Sama Norway juga. Tapi Kakek lagi sakit begini…”

Kakek menjawab, “Nggak papa, Fa… Kakek malah seneng ngelihat Ifa bisa jalan-jalan, mewujudkan cita-cita Ifa dari kecil. Kakek seneng Ifa sukses, bahagia, bagus rezekinya… Pergi aja, nggak usah mikirin Kakek.”

Setelah ngobrol beberapa lama, gue keluar kamar untuk makan malam, dan nggak lama kemudian gue pulang ke rumah nyokap. Saat mobil sudah terlanjur jalan… baru gue sadar gue lupa pamit sama Kakek! Entah kenapa gue bisa kelupaan. Sempat berniat mau telepon Kakek, tapi akhirnya gue cuma titip pesan melalui WhatsApp ke Nenek saja.

Dua minggu gue habiskan di Iceland dan Norway, saat gue pulang, kondisi Kakek sempat agak membaik. Lega banget kekhawatiran gue enggak terbukti. Sempat terpikir ingin jenguk Kakek lagi, tapi kesibukan di kantor, plus masalah pribadi yang sedang menguras emosi gue pasca liburan, membuat gue lebih memilih menghabiskan akhir pekan di kosan saja, sendirian. Bawaannya capek dan enggak mood untuk ketemu banyak orang.

Kemudian minggu lalu, gue ditugaskan ke Singapura. Dalam perjalanan menuju bandara, gue dapat kabar Kakek dibawa ambulans ke rumah sakit terdekat. Perasaan gue mulai enggak enak. Pesawat gue akan take-off dalam 2 jam, dan jarak rumah sakit lumayan jauh dari kosan gue. Dalam hati gue hanya bisa berdoa, semoga Kakek akan baik-baik saja.

Sampai di Singapura, tidak lama setelah gue kembali dari makan malam di Orchard road, gue mendapatkan kabar duka… Kakek sudah meninggal dunia, meninggalkan kami sekeluarga, untuk selama-lamanya…

Apa yang selalu khawatirkan akhirnya terjadi juga… musibah menimpa keluarga saat gue sedang jauh dari mereka. Rasanya memang betul-betul enggak enak! Nangis sendiri, mau pulang tapi sudah tidak ada penerbangan, ingin curhat nggak ada teman ngobrol karena sudah lewat tengah malam… Rasanya betul-betul kesepian banget deh.

Senin pagi, gue langsung ambil first flight kembali ke Jakarta. Semalaman nggak bisa tidur, ingin cepat pulang, tapi jadwal penerbangan tentu saja enggak bisa gue majukan! Sampai di Jakarta, gue sudah serba buru-buru, sesampainya di lokasi, Kakek sudah selesai dimakamkan 😦

Bokap banyak bercerita tentang masa-masa terakhir Kakek. Berkali-kali shalat, dan tidak henti-hentinya Kakek berdzikir, dan mengucap dua kalimat syahadat, sampai helaan napas terakhirnya…

Almarhum Kakek ini mulai taat beragama sejak 10 tahun yang lalu. Kakek sampai sengaja beli rumah baru yang lokasinya di seberang mesjid tidak lama setelah mengidap glukoma. Kakek bilang, ingin tinggal depan mesjid supaya saat penglihatannya mulai menghilang, Kakek akan tetap dengan mudah pergi shalat ke mesjid depan rumah. Kakek yang sudah tidak terhitung berapa kali khatam Qur’an, Kakek yang selalu membanggakan anak-anak serta cucunya, sudah pergi untuk selama-lamanya…

Sehari setelah kepergian Kakek, nyokap bantu Nenek berberes kamar. Saat itulah nyokap menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan kakek… secarik kertas yang berisi doa-doa almarhum Kakek untuk seluruh anggota keluarganya 😦

Tadi malam menjelang tidur, tiba-tiba saja gue ingat Kakek. Aneh rasanya saat memikirkan orang lain dan menyadari bahwa gue enggak akan pernah bisa melihat mereka lagi… Baru di tahun 2018 ini, gue merasakan kehilangan dalam artian yang sebenar-benarnya.

Dan jujur gue menyesali…

Harusnya waktu itu, gue putar balik ke rumah kakek untuk salim dulu…

Atau harusnya, gue mampir lagi ke rumah Kakek sebelum berangkat ke Singapura…

Jika bisa putar balik waktu, gue kepingin banget bisa lihat Kakek lagi, untuk yang terakhir kalinya…

Salah satu pesan terakhir Kakek adalah supaya gue tetap menjadi orang yang baik… Kakek sangat meyakini hidup gue diberkahi karena kebaikan yang gue berikan kepada orang-orang di sekitar gue. Saat itu gue hanya mengangguk… Kakek tidak tahu saja, gue juga tidak selamanya selalu baik pada orang-orang di sekitar gue 😦

Rest in peace, Kakek… semoga amal ibadah Kakek diterima oleh Allah, semoga Kakek mendapatkan tempat di surga, dan semoga doa Kakek untuk kami sekeluarga juga dijabah oleh Allah SWT.

You will be missed, Kek… always, and forever.

Tu Me Manques

Frustrated with writer’s block, I opened drafts folder in my WordPress blog and I found a lot of unfinished posts inside that folder. I didn’t find much interesting stuffs (if it’s good enough, I would have finished the post and published it) until I found the following post. It was beautifully written and the only reason I didn’t publish the draft because it would reveal how I truly felt of someone I cared about back then. I’ve moved on from him for more than a year by now but I still want to publish this just because it’s too beautiful to be kept to myself! It’s also a beautiful reminder how I once genuinely cared about someone else.

April 7, 2017

I miss the moment when everything was right. When I still had hopes and thought, “What’s next?” When this feeling was beautiful, when I could smile alone as I thought of you.

I miss the way you look at me. A deep and warm look on your eyes. I miss the way you never took your eyes off me when I spoke to you. That kind of look in your eyes that made me feel like I was the only one.

I miss the way you took care the little things for me. I miss our long chats. I miss your jokes, our jokes; that only the two of us could understand.

I miss seeing your smile behind your lens when you took picture of me. I miss listening to you singing a song that made me felt like you were singing for me.

And did you know? I also miss your cranky face. Your cranky voice. It never ceased to amaze me how some random guys could turn your mood upside down, just like that.

I enjoyed all the little things, the ups and downs, the struggles, the hopes, until it’s all gone the day you told me that I was wrong. The day I started to think that everything I cherished, all the things that made me miss you like this, was not real.

Everything is broken and I don’t know how to fix this. I don’t know how to come back from the pain. I don’t know which parts were real. I don’t know what I did so wrong we ended up like this.

I really want to be so angry with you, hate you, and just walk away. But no matter how much I despise everything you did, there’s always a part of me missing you. The old you. Or maybe, the illusion of you. I don’t know. If my memories were wrong, then I miss being wrong.

Tu me manques. I miss you.

Back to 2018: I read this and I told myself, “Oh I’m a damn good writer, hehehehehe.”

When People Tend to Forget that I am Only a Human Too

Sometimes it hurts knowing that some people don’t consider how I might feel as an impact of the things they said or did. Just because I’m a tough person, that doesn’t mean I’m a superwoman with superpower! I’m only a human with feelings too. The truth is, I’m hurt when they hurt me.

When they bad mouth me behind my back.

When they choose to protect others or even protecting themselves even though that only means they hurt me badly.

When they keep me in the dark.

When they lie.

Or simply when they don’t tell me the truth that I desperately need.

They think I will be just fine. That I’m used to it. That I’m strong enough to get through all that s***. That I’ll move on and I’ll leave all that behind. And that I’ll be a survivor on my own.

Oh yes I will be all that. I don’t want to be permanently bent and broken no matter what. But is that really necessary to let me fight all those nightmares on my own? Is it really necessary to push me to deal with pain, or wonder, or disappointment over and over again? What did I do so wrong I deserve all that?

Just because I’m strong, it doesn’t mean I’m happy to be hurt.

Oftentimes I wish I could just look them in the eyes and tell them how wounded I really was. How I wish I didn’t have to deal with another heartbreak. And how I desperately wanted to let people know that I was not fine. Not at all.

Do you know what’s even worse from all these? It’s knowing the fact that the people who let me go through all these pains are sometimes the people I care about. The people whose opinions do count to me. The people whom I thought would always be “my person”.

I still remember a few years ago, I read this quote saying that the strongest people are mostly the most wounded. And now I find it so true! The more I look fine from the outside, the less people really care how I feel inside.

I also find it so true that everyone is fighting their own battle. Because so am I! Hence if you can’t be kind to me, at least, be kind enough not to be cruel. It’s not that I want you to pity me, it’s just that I want you to treat me as human with feelings inside. And to me, that would be a luxury.

Cinta dan Macam-macam Jenisnya

Menurut gue, cinta itu ada macam-macam jenisnya. Malah sebetulnya bisa jadi, apa yang gue sangka sebagai cinta sebetulnya hanya sebatas rasa suka saja. Atau bisa juga, hanya sebatas cinta lokasi saja. Bagaimana cara membedakannya?

Tahap pertama: naksir

Ibarat kita melirik baju yang dipakai manekin, itulah tahap naksir. Tahap di mana seseorang mulai mencuri perhatian kita. Tahap di mana kita mulai mencari berbagai informasi tentang dia, dan salah satunya, masih single atau sudah taken? Ibarat memilih baju, masih sangat mungkin kita naksir lebih dari satu cowok sekaligus. Ini kan masih tahap melihat-lihat opsi yang ada. Kalaupun ternyata tidak bisa berlanjut pun, kita bisa dengan mudah move on tanpa harus melewati fase patah hati.

Tahap ke dua: suka

Pada tahap ini, kita mulai menaruh harapan. Kita mulai memiliki keinginan untuk bisa jadian dengan si dia. Kita semakin sering memikirkan dia, makin senang saat melihat ada dia, dan yang paling terasa, kita mulai kangen saat dia sedang nggak ada di sekitar kita. Ini juga tahap di mana kita mulai menyusun rencana untuk bisa mendekati dia atau bahkan kita mulai berusaha untuk bisa membahagiakan dia. Keberadaan pesaing di luar sana juga mulai membuat kita merasa cemburu. Di saat yang bersamaan, kita sudah masuk tahap di mana hal-hal yang tidak diinginkan mulai bisa sampai menyakiti perasaan kita. Harapan yang tidak menjadi kenyataan itu mulai bisa berujung pada kekecewaan yang membuat kita harus melewati fase patah hati hanya untuk bisa move on dari dia.

Tahap ke tiga: cinta

Saat sudah sampai cinta, harapan bukan lagi sekedar sampai jadian, tapi sudah jauh sampai pada jenjang pernikahan. Bukan berarti sudah kepengen nikah sama dia dalam waktu dekat, tapi setidaknya, kita sudah mulai melihat keberadaan dia di masa depan kita nanti. Pada tahap ini, sulit untuk kita membayangkan hidup tanpa ada dia di samping kita. Kita sudah tidak lagi pada tahap di mana hal-hal kecil berpotensi menjadi a deal breaker. Rasa sayang kita ke dia sudah mulai stabil dan di saat yang bersamaan, dia mulai jadi prioritas kita melebihi hal-hal lain termasuk melebihi diri kita sendiri. Rasa peduli kita akan keadaan mereka juga sudah jauh lebih tulus dan bukan lagi sekedar ingin tampak peduli hanya demi menarik perhatian dia saja. Tulusnya perasaan itu pula yang membuat putus cinta di tahap ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan, bahkan bisa jadi traumatis juga. Untuk beberapa orang, putus cinta di tahap ini membutuhkan waktu yang sangat lama (bisa mencapai hitungan tahun) hanya untuk bisa move on. Malah ironisnya, sekalinya kita jatuh cinta, maka orang tersebut akan selalu punya tempat tersendiri di hati kita ini. Kenyataannya, kita tidak akan pernah benar-benar lupa betapa dulu kita pernah sebegitu menyayangi orang ini. Kita bisa jatuh cinta lagi pada orang lain, tapi tetap saja, akan ada bagian kecil dari diri kita yang terus mengenang dia, selama-lamanya.

Hati-hati sama yang ini: cinta lokasi

Cinlok ini rasanya sangat mirip dengan cinta betulan, hanya saja bedanya, cinlok akan segera hilang saat sudah tidak lagi berada dalam satu lokasi yang sama. Misalnya, sudah tidak lagi kerja sekantor. Cinlok biasanya muncul karena rasa nyaman atas kebersamaan kita dengan dia, tapi belum tentu cinta betulan karena belum cukup kuat untuk tidak terpisahkan oleh jarak. Banyak juga cinlok yang berkembang menjadi cinta betulan, tapi tidak sedikit juga cinlok yang sifatnya murni hanya temporary feeling saja. Cinlok tidak bahaya asalkan keduanya mempunyai perasaan yang sama. Bisa repot jika satu orang sudah jatuh cinta betulan sedangkan yang satunya lagi hanya sekedar cinlok belaka! Makanya kalau kita sampai suka dengan orang yang sering bareng sama kita di lokasi tertentu, lebih baik segera diputuskan saja: mau lanjut jadian atau tidak? Cinlok yang menggantung itu cuma buang-buang waktu padahal sebetulnya moving on dari perasaan seperti ini tidak akan sebegitu sulitnya juga.

Salah satu teman gue pernah menyarankan supaya gue tidak buru-buru “naik level”. Jangan cepat sampai di tahap suka, apalagi sampai jatuh cinta, kecuali jika gue sudah mendapatkan bukti yang solid bahwa gue tidak bertepuk sebelah tangan. Boleh mulai suka setidaknya saat sudah ada ajakan nge-date, dan boleh berkembang sampai cinta jika sudah sampai jadian. Teman gue bilang, jangan sampai gue harus melewati fase patah hati yang tidak perlu. Saran yang bagus sih, menurut gue. Dengan menjaga perasaan itu sebatas rasa naksir saja dapat menghindari kita dari terlalu cepat memakai kacamata kuda (cuma fokus pada cowok yang belum tentu suka sama kita juga). Pelan-pelan, beri waktu supaya tidak berakhir buang-buang waktu.

Indonesia dan Budaya Cyber Bully

Sekitar 5 tahun yang lalu, gue mulai aktif ikut online forum khusus traveling. Lumayan buat cari info, bahkan pernah juga 2 kali dapat teman jalan dari forum tersebut. Awalnya menyenangkan, tapi akhir-akhir ini, gue sering merasa risih tiap kali membaca isi online forum yang sekarang mulai merambah sampai ke Facebook itu. Kenapa risih? Karena gue bisa menemukan begitu banyak komentar negatif (beberapa sampai level cyber bully saking sadisnya) di hampir semua post yang gue baca di forum-forum tersebut. Ironisnya lagi, beberapa anggota forum sampai ada yang menambahkan kalimat “please jangan di-bully ya” dalam post yang mereka tulis di forum-forum tersebut.

Gue betulan heran sih. Kenapa mesti sebegitu judesnya sih? Apa untungnya buat mereka? Kenapa sebegitu tersinggung dengan tulisan yang bahkan menurut gue biasa-biasa saja. Jawaban judes mereka itu bahkan belum tentu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penulis thread-nya. Jika tidak bisa memberikan jawaban yang bermanfaat, seharusnya tidak usah membalas sama sekali. Jangan lupa jejak digital itu sangat sulit dihapus dan bisa jadi batu sandungan untuk diri kita sendiri. Ingat bahwa saat kita menyerang orang lain, image kita yang akan terlihat jelek dan bukan image orang yang kita serang itu. If it’s not nice nor useful, just keep our thoughts to ourselves!

Tapi ya yang gue heran dari begitu banyak orang Indonesia akhir-akhir ini… kenapa ya, jumlah orang vokal di dunia maya cenderung jauh lebih banyak daripada orang yang berani menyuarakan dan memperjuangkan pendapatnya di dunia nyata? Misalnya saat ikut meeting atau training. Berapa banyak sih jumlah orang yang aktif memgajukan pertanyaan, menyanggah, atau memberikan pendapat? Seringnya sangat sedikit sekali! Gue kenal beberapa orang yang cenderung tidak banyak bicara di dunia nyata tetapi sangat vokal bahkan sampai kelewat kritis saat memberikan komentar di dunia maya.

Lalu bagaimana cara gue mengatasi forum-forum yang penuh dengan tukang bully itu? Paling gampang emang leave group aja sih ya, tapi karena sejauh ini masih lumayan informatif, atau masih sering memberikan gue inspirasi untuk tujuan wisata selanjutnya, gue memutuskan untuk tetap stay di dua forum itu. Strategi gue:

  1. Tidak usah baca bagian komentar jika tidak diperlukan;
  2. Tidak usah membalas kejudesan orang lain dengan kejudesan lainnya;
  3. Jika tulisan gue di forum itu banyak dibalas dengan komentar yang tidak mengenakkan, maka gue hapus saja post gue yang dianggap kontroversial itu; dan yang paling penting
  4. Gue tidak ikut-ikutan mem-bully orang lain. Gue hanya ikut komentar jika gue tahu gue bisa memberikan jawaban yang bermafaat, yang sesuai dengan konteks pertanyaan ybs.

Hidup sudah rumit, jangan dibuat makin rumit dengan hal-hal yang tidak perlu. Selalu ambil sisi positifnya saja, pastikan kita sudah berusaha menjadi orang baik, sampai pada hal-hal yang sekecil-kecilnya.

Wanted: The Next Big Thing in Life

My birthday this year was quite a story. Two weeks before my birthday, my mood suddenly dropped and it felt such a hot mess inside. Just went back from an incredible holiday didn’t make me feel any better (I even thought it might be what people called as post-holiday blues). I tried everything I could do to cheer me up but none of it was working. I kept wondering and I asked myself, “On my birthday, many people will wish me a long life to live, but for what? What else do I want to do in the rest of my life?”

November 30 around 3 PM, in the middle of a meeting in the office, my teammates entered the room singing a birthday song with a birthday cake and three candles on it. Right before blowing out the candles, I made a wish. I simply wishes that life would find me a reason to live longer. Something that excites me to wake up early in the morning, something that brings smiles and big laughters on my face, something that makes every step I take feels lighter no matter how hard this life gets.

It’s not that I’m not happy with my life. I am happy with my life. It’s just that it feels like I’ve been living the same old life, dealing with the same old dramas, and winning the same old battles in the past 10 years.

Need some examples?

I’ve had enough guys coming to my life just to watch them leave not so long after that. I’m sick of wondering how they truly feel about me. At this point, I’ve started to think that maybe, happily ever after is just not my thing.

Need another example?

A promotion at work doesn’t feel as good as it used to be. Yes, it keeps me proud of myself but that’s that. I’ve went through 6 promotions in the past 10 years and I’m thankful of that, but somehow, the euphoria was just not there anymore. It’s like no matter how delicious a food is, I’ll eventually get bored eating the same food over and over again.

Traveling still feels as good, but I can’t travel everyday of my life anyway (and again, once it becomes “regular”, the hypes will fade away!). What about writing, shopping, watching movies and all the things I always love to do? They are all still fun, but still, they are not sufficient to become a good reason to have a long life, aren’t they?

You know… writing all these has really made me feel bad about myself. It might sound like I’m not grateful for everything I have in life. But well, if you know me in person, for sure you’ll know how grateful I really am. I’m grateful but I need changes, the big ones, in my life. I want to have a brand new chapter in life. I was once unhappy with my life so many years ago and I don’t want to go back there! Letting myself feeling this way (empty, unmotivated, bored, emotionally tired and mentally exhausted) will eventually makes me less happy than I am right now. And to me, living an unhappy life is a nightmare!

I’m determined to figure out what is the real problem that leads me to this feeling and what I should do to make myself feel better over this weekend. If you guys have any idea, feel free to let me know! I desperately need an enlightenments at the moment. I hope this horrible feeling is just temporary and it will soon go far away!