Even if I Fail a Hundred Times…

Sejak kecil dulu, bokap sering bilang gue ini enggak jago matematika. Gue butuh waktu yang luar biasa lama hanya untuk menghapal perkalian 1 sampai 10. Nilai matematika gue sampe pernah dapet merah waktu SMA dulu. Gue juga gampang banget lupa sama segala sesuatu yang berhubungan dengan angka. Gue cuma ingat tanggal lahir gue sendiri, dan gue cuma hapal luar kepala nomor hp gue dan nomor hp bokap gue. Itupun nomor bokap pernah sengaja gue hapalkan buat keperluan future emergency aja.

Kelemahan gue terkait angka terus terbawa sampai gue mulai kerja. Gue bukan tipe accounting manager yang akan langsung ingat saat ditanya, “Tahun lalu PBT kita berapa ya?” Duh… jangankan net income tahun lalu… Net income bulan ini pun, bisa jadi gue udah lupa lagi. Nggak heran kalo gue jadi ketergantungan banget sama kalkulator dan Excel sheet. Makanya tiap kali meeting, bisa dipastikan gue masuk ke ruang meeting dengan membawa si laptop dalam pelukan, hehehe.

Awalnya, kelemahan gue yang satu ini sama sekali tidak gue anggap sebagai a big thing. At least, gue udah terbukti bisa more than survive kerja di bidang finance and accounting yang notabene sangat identik dengan angka-angka. Dengan modal jago Excel saja sudah cukup bikin gue ngerasa safe dalam menjalani pekerjaan sehari-hari. Everything was fine, until I found out that I need to obtain GMAT score if I wish to apply for MBA program. Right when I knew about this, I was dead inside. Masalahnya adalah: GMAT terkenal dengan tes matematika yang luar biasa susahnya 😦

Gue menghabiskan waktu lebih dari satu tahun lamanya hanya untuk apply for GMAT preparation class. Tidak pernah terbayang di benak gue bahwa someday gue harus ikutan ‘kursus matematika’. Dengan alasan sibuk dan sering lembur, gue menunda aplikasi gue itu. Gue terus menunda… sampai pada akhir tahun 2013, gue seperti mendapatkan ‘a wake-up call’. Dalam sekejap, gue langsung sadar… kalo gue bener-bener pengen kejar beasiswa MBA, maka suka nggak suka, gue harus bersedia menghadapi GMAT. Maka tanpa pikir panjang, gue langsung daftar kursusnya dan langsung bayar di muka keesokan harinya.

Sejak kemarin, ceritanya gue terpaksa ikut motivational training and annual sales meeting yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam di salah satu hotel di Jakarta. Padahal besok itu hari pertama gue kursus, eh gue malah harus nginep di hotel segala. Jadilah tadi malam gue lembur di kamar hotel hanya untuk belajar GMAT. Maksud gue at least, saat hari pertama kursus, gue udah punya bayangan lengkap GMAT itu seperti apa. Ibaratnya jaman kuliah dulu, gue harus baca bukunya dulu, minimal satu bab, sebelum kelasnya dimulai.

Tadi malam, dalam rangka belajar, gue download software simulasi GMAT yang disediakan MBA.com. Lalu tanpa pikir panjang, gue memulai simulation test perdana gue. Session pertama masih gampang, karena writing itu kan emang udah hobi gue banget. Tapi begitu gue mulai masuk ke sesi qualitative… baru soal pertama, gue langsung frustasi. Banyak soal yang saking susahnya, gue asal nge-klik aja salah satu pilihan yang ada. Badan langsung terasa capek, kepala panas, pusing, stres, pesimis dan putus asa…

Berbagai pikiran negatif langsung melintas di benak gue…

“Aduh… besok lusa di tempat kursus, udah pasti gue yang paling oon.”

“Aduh… jangan-jangan GMAT score gue di bawah rata-rata manusia pada umumnya.”

“Aduh… mana mungkin gue bisa dapet beasiswa MBA kalo perkalian 1 sampe 10 pun gue udah ada yang lupa-lupa inget.”

“Apa mendingan gue apply beasiswa tahun depan aja ya? Tahun ini udah nggak keburu kayaknya… GMAT gue pasti masih jeblok gini nilainya…”

Sampai akhirnya… “Aduh sudahlah… gue kerja jadi Accountant seumur hidup juga nggak papa lah. Mungkin, gue cuma belum menemukan accounting job yang tepat?

Dalam keadaan putus asa, gue tekan “Pause Exam” di layar laptop gue. Gue hentikan sejenak simulasi GMAT gue itu. Gue langsung beranjak ke kamar mandi, bersihin make-up, cuci muka, dan ganti baju tidur. Saat itulah, tiba-tiba gue teringat dengan video yang diputar di motivational training kemarin pagi. Pernah dengar Nick Vujicic? Pria asal Australia yang terlahir tanpa lengan dan kaki…

Di video itu, Nick memperagakan dirinya tengah terjatuh. Dan dalam keadaan tengkurap, dia berkata kepada audience-nya, “I’m down here. Face down. And I have no arms, no legs. It should be impossible for me to get back up. But it’s not. You see, I’ll try 100 times to get up.  And if I fail 100 times… if I fail and I give up, do you think I’m ever going to get up? No. But if I fail, I try again, and again, and again.”

Setelah mengingat video itu, gue bilang sama diri gue sendiri, “Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times. Again, and again, and again.”

Waktu di Binus dulu, gue pernah terpaksa mengikuti mata kuliah matematika bisnis. It was a nightmare for me… but you know what? Gue bukan cuma berhasil lulus dari mata kuliah itu, tapi juga bisa bawa pulang angka 90 di transkip nilai gue. Gimana caranya? Gue belajar dari 0; belajar dari buku matematika anak SMP (atau SD?) yang membahas soal aljabar dasar. Satu buku matematika bisnis pun gue lalap habis dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Gue lalu berpikir… jika waktu kuliah dulu gue bisa dapat nilai 90, kenapa sekarang tidak?

GMAT memang jauh lebih sulit daripada matematika bisnis, tapi jika tidak dicoba dulu, bagaimana gue bisa tahu berapa nilai yang akan gue bawa pulang? Kalaupun nantinya gue gagal mendapatkan skor yang gue inginkan, bukankah gue masih bisa mencoba lagi?

Gue pun bertekad… gue akan mengikuti kursus gue dengan baik. Apapun yang terjadi, gue akan selalu berusaha datang tepat waktu. Gue akan memanfaatkan waktu luang yang gue punya untuk berlatih lagi dan lagi. Kemudian daripada bengong, lebih baik gue melatih otak gue untuk berhitung tanpa bantuan kalkulator. Gue juga bertekad akan kembali mencari buku-buku matematika anak sekolah untuk mengingat kembali rumus-rumus luas dan volume.

Besok, gue akan memulai hari pertama gue kursus GMAT. Kursus memang tidak jaminan gue akan dapat skor bagus. Sudah dapat skor bagus pun, tidak jaminan gue berhasil mendapatkan beasiswa. Bahkan dengan gelar MBA di tangan pun, belum tentu gue bakal diterima kerja di perusahaan impian… Tapi apapun yang terjadi nanti, malam ini gue kembali merasakan satu hal: rasa bahagia karena gue tahu gue sedang mengejar sesuatu yang berarti dalam hidup gue ini.

Malam ini gue sibuk berceloteh soal kursus GMAT gue ke teman-teman kantor. Soal essay yang sudah gue tulis sejak satu tahun yang lalu, soal masih bingung mau minta referensi sama siapa, soal beasiwa dan cita-cita besar gue… Hanya dengan bercerita, sudah bikin gue ngerasa bahagia.

So here I go again… I tell myself again that I will never ever give up my big dreams. Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times.

Please pray for me yaa, guys. Wish me luck!

The Climb

Kemarin pagi, dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba gue teringat lagu The Climb yang sempat gue nyanyikan berdua dengan seorang teman di acara karaoke dalam rangka ultah gue beberapa minggu yang lalu. Waktu itu, teman gue bilang, “Liriknya keren yaa.”

When I started singing the lyrics on my head… it felt like the song really speaks my mind. Sesampainya di kantor, gue langsung buka laptop dan googling lirik lengkap lagu The Climb by Miley Cyrus itu. Dan benar saja… gue terkesima banget dengan lirik yang gue baca. Semua yang gue rasakan akhir-akhir ini seperti terangkum dalam satu lagu. I really really like the lyrics! Saking sukanya, gue sampe kepengen berbagi isi lirik yang sangat inspiring itu.

So here we go… The Climb by Miley Cyrus.

I can almost see it
That dream I am dreaming
But there’s a voice inside my head saying
You’ll never reach it

Every step I’m taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking

But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb

The struggles I’m facing
The chances I’m taking
Sometimes might knock me down
But no, I’m not breaking

I may not know it
But these are the moments that
I’m gonna remember most, yeah
Just gotta keep going

And I, I got to be strong
Just keep pushing on

Keep on moving, keep climbing
Keep the faith, baby
It’s all about, it’s all about the climb
Keep the faith, keep your faith, oh oh oh whoa

Berbekal lirik lagu ini… berbekal doa dan keyakinan dalam hati, gue pun mulai kembali mengejar mimpi. Bismillahirahmanirrahim 🙂

New Year, New Hopes

Di tahun 2013, ada begitu banyak hal yang harus gue lewati. Many angers, pains, disappointments, and wasted efforts. Meski begitu, anehnya… justru rentetan kejadian itulah yang kemudian membuat gue pada akhirnya, berhasil menemukan jati diri gue sendiri. And it really feels good to finally find me. Gue jadi lebih mantap menjalani hidup, lebih mudah mengambil keputusan, dan tentunya, gue jadi lebih nyaman dengan diri gue sendiri.

Di tahun 2013, gue juga merasakan titik tertinggi dari rasa syukur di dalam hati gue. Waktu kecil dulu, keinginan gue sederhana saja: ingin tumbuh dewasa jadi gadis yang cantik, sukses karier-nya, punya baju bagus, tas bagus, dan teman-teman yang luar biasa. Dan pada tahun 2013 itu… gue menyadari… gue sudah tumbuh menjadi wanita dewasa persis seperti yang gue inginkan dulu 🙂

Di tahun 2013 ini pula, gue paling menikmati kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Berbaikan dengan sahabat lama, mempererat persahabatan dengan sahabat baru, dan gue juga semakin menikmati betapa menyenangkannya punya keponakan yang lucu dan menggemaskan itu.

Selama tahun 2013, terlepas dari segala up and down, pada akhirnya gue menyadari bahwa gue punya tim kerja yang cukup solid. Teman-teman satu tim yang dengan ikhlas membantu gue menyelesaikan pekerjaan, dan juga si bos yang bikin gue sesekali berpikiran, “I think… he is the best boss I’ve ever had.” Selain mereka, ada pula rekan kerja dari Malaysian office yang tanpa disangka-sangka, bilang begini sama gue, “You know… your boss is lucky to have you.” It had really made my year 🙂

Meski begitu, anehnya, dengan segala hal positif yang gue rasakan itu… gue tetap menganggap tahun 2013 bukan tahun yang membahagiakan buat gue. Sepanjang tahun 2013, gue lebih jarang tersenyum, lebih jarang tertawa, lebih jarang dalam hati berbisik, “God… I’m really happy  with life! Thank you!”

Seringkali, sepanjang tahun ini, gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri… kenapa? Bukannya gue nggak bersyukur… malah seperti yang gue tulis di atas, tahun 2013 justru merupakan tahun gue paling merasa bersyukur atas segala hal dalam hidup gue. Tapi kenapa gue malah enggak ngerasa happy seperti tahun-tahun sebelumnya?

Gue terus bertanya-tanya, sampai beberapa saat menjelang pergantian tahun, gue seperti mendapatkan ‘a wake-up call’. Ada serangkaian kejadian sepele yang tiba-tiba bikin gue bertanya-tanya, “Why am I still here? What am I doing? What have I done to pursue my big dreams this year?”             

Gue lalu teringat dengan teori ‘ugly duckling’-nya gue. Jadi ceritanya, gue menilai sampai usia ABG, gue itu ibarat si itik buruk rupa. Pake baju asal-asalan, sekolah asal-asalan, berteman hanya untuk sekedar punya teman buat makan bareng dan pulang bareng, nggak punya cita-cita, nggak neko-neko, hidup hanya sekedar mengikuti air mengalir aja…

If I look back into my past, my ugly duckling era was really the most boring stage of my life. I kept being an ugly duckling, until one day, a guy came into my life and made me realize how precious I could be. He made me feel pretty, he made me believe that I was smart, and he made me learn how to dream, believe, and make it happen. It was just a puppy love, but it has changed my life ever since. Right after I know how to dream, I started to know how to be happy.

Jadi menurut gue, di situlah letak permasalahannya. Mungkin dari luar, gue udah bukan lagi si itik buruk rupa, tapi dari dalam… gue seperti kembali menjadi gue yang dulu. Kesibukan yang semakin menggila membuat gue berhenti mengejar mimpi-mimpi besar gue, sehingga gue mulai merasa stuck, tidak berkembang, dan takut tertinggal dari teman-teman lainnya. Ada pula beberapa hal yang membuat gue ngerasa berkecil hati, ngerasa not good enough, ngerasa selalu ada yang salah dalam diri gue… All of those negative thought about myself have made me feel like an ugly duckling… and I’m not happy with that.

Tahun-tahun sebelumnya, gue selalu mengawali tahun baru dengan begitu banyak resolusi. Tapi tahun 2014 ini, resolusi gue hanya satu: I want to take my smiles back by making this year as another year of the pursuit of dreams.

Gue tidak bilang bahwa semua orang harus sebegitu ambisiusnya hanya untuk bisa merasa bahagia.  Setidaknya untuk diri gue sendiri, gue tahu bahwa upaya mengejar mimpi lah yang selalu bikin hidup gue terasa lebih berarti. Tidak peduli gagal atau berhasil, setidaknya dengan berusaha, gue sudah mengambil satu langkah lebih maju. Gue bahkan lebih suka melihat gue gagal daripada melihat diri gue hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Itulah sebabnya, tahun di mana gue mengalami kegagalan justru terasa lebih membahagiakan ketimbang tahun 2013 yang serba datar-datar saja itu…

For me, new year means new hopes. Tahun 2014 ini, gue bukan hanya ingin mengejar segala hal yang bisa membuat gue merasa bahagia, tapi gue juga ingin memberanikan diri untuk meninggalkan hal-hal yang tidak lagi membawa kebahagiaan. Meski sulit, meski banyak rintangannya, gue harus tetap mencoba! Sebagai bukti nyata dari tekad itu, beberapa hari menjelang pergantian tahun, demi kembali mengejar beasiswa MBA, gue nekad mendaftarkan diri untuk ikut GMAT preparation class. Nggak peduli di kantor sedang sibuk-sibuknya, nggak peduli tempat kursusnya jauh dari rumah dan kantor, yang penting, gue sudah daftar dan sudah bayar. Tidak putus gue berdoa… semoga hal ini akan menjadi langkah awal yang baik untuk mengejar cita-cita gue itu.

Finally, happy new year 2014 for my blog reader. Hope this year will bring us new hopes to pursue, new chances to take, and new battles to win. Thank you for reading my blog during the past year and hope you’ll never get bored to read my blog. Have a great year!

This Girl is On Fire!

Sudah jadi cita-cita sejak jamannya masih kanak-kanak, gue kepingin ngerasain kuliah di luar negeri. Setelah kerja, keinginan untuk hal itu terasa semakin kuat. Gue kepingin banting setir, kepingin kerja jadi Business Consultant di Consulting Company papan atas, dan untuk itu, gue harus punya gelar MBA. Secara program MBA itu cuma ada di luar negeri dan terkenal sangat mahal, beasiswa sudah jadi satu-satunya option buat gue.

Dua tahun yang lalu, gue pernah coba apply beasiswa yang disediakan pemerintah Australia. Gue pilih MBA meskipun sebetulnya tidak ada di preferred program mereka. Lalu hasilnya? Gagal, tentu saja, secara sampe sekarang gue masih di sini-sini aja 😀 Kemudian dari hasil ngobrol-ngobrol sama beberapa blog reader yang pernah dapet MBA scholarshipgue disarankan coba Fullbright (program beasiswa US) dan harus kejar GMAT score setinggi-tingginya. 

Sejujurnya, saat tahu soal GMAT, semangat gue sempat mengendur. I’m not good at Math, at all. Itulah alasannya kenapa gue bisa jago Microsoft Excel, salah satunya demi menutupi kekurangan gue buat urusan matematika 😀 Kemudian sempat ada kenalan yang menyemangati… GMAT score masih bisa didongkrak dengan kursus. Yang penting, good English and knows the trick. Gue pun mulai nge-Google, dan ketemu satu tempat kursus GMAT yang paling populer di Jakarta: PASCAL. Gue simpan link-nya, dan berniat daftar jika ada waktu luang.

Seiring berjalannya waktu, soal ikut GMAT preparation class seolah terlupakan dengan sendirinya. Dan tau-tau aja, gue malah udah siap-siap mau ambil PPAK! Kenapa gue malah memprioritaskan PPAK meskipun dalam hati kecil, gue kepingin banting setir dan meninggalkan dunia akuntansi?

Well, accounting is my comfort zone. There’s no doubt, I am good at it. Gue pernah coba karier jadi accounting software consultant, auditor, lalu sekarang, company accountant, dan semuanya selalu berjalan mulus. Dan gue khawatir… keberhasilan yang sama tidak akan gue dapatkan kalo gue banting setir. Makanya, gue pikir PPAK bakal lebih sesuai buat gue daripada GMAT program

Alasan lainnya, bekerja jadi business consultant sama saja gue kembali kepada kehidupan karier tanpa jeda. Crazy overtime and working from client to client… Gue masih ingat gimana beratnya hidup dengan jam tidur kurang dari 6 jam setiap harinya. Bangun tidur susahnya setengah mati, jadi dapet penyakit yang nggak pernah gue derita sebelumnya, nggak punya cukup waktu buat mikirin penampilan… Do I really want to go back to that kind of life? Belum lagi kenyataan bahwa banting setir = kembali memulai dari 0. Padahal di bidang akuntansi, gue udah sampe level managerial dan insyaallah, gue punya peluang di masa depan untuk sampai di level direksi. Jadi kenapa gue harus banting setir?

Kemudian beberapa waktu belakangan ini, ada serangkaian kejadian yang kembali mengingatkan gue sama impian yang sempat terlupakan itu. Karena suatu company event, gue jadi berkenalan dengan beberapa orang yang punya cool job. They all have the job that I’ve always wanted. Gue terpana banget dengan hanya sekedar ngelihat name cards mereka, dengan sekedar ngelihat betapa kerennya gerak-gerik serta betapa pintarnya mereka… Gue sampe bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Why am I still here?”

Di saat yang sama, gara-gara kesibukan kerja, gue jadi telat daftar kuliah PPAK gelombang bulan April. Kelas yang gue inginkan udah keburu penuh! Kalau mau, gue harus ambil kelas yang lokasinya jauh banget dari kantor, atau, ikut di lokasi yang diinginkan tapi itupun nanti, baru mulai bulan Agustus! Gila gue pikir… November sampai dengan bulan Mei tahun berikutnya itu busy season-nya accounting. Mana sanggup gue kuliah sambil kerja gila-gilaan dalam waktu yang bersamaan?

Puncaknya malam ini, dosen gue di Binus bikin kultwit tentang beasiswa S2 di luar negeri. Baca serangkaian tweet Ibu dosen bikin gue kembali on fire. Gue emang payah di Matematika, tapi Business Math gue di Binus berhasil dapet A dengan belajar dan latihan 2 kali lebih keras. Kemudian soal jam kerja, lho buktinya, gue kerja jadi Company Accountant juga pun, 4 bulan belakangan ini gue lembur gila-gilaan dan so far gue masih survive aja tuh. Jadi apa salahnya sih, gue coba lagi… coba sekali lagi? Lagipula bukankah… hal ini masih jadi bagian 30 things to do before 30-nya gue?

Memang benar, ikut kelas persiapan belum tentu berhasil dongkrak GMAT score gue. GMAT score sudah menjulang pun, enggak jaminan gue pasti dapet beasiswanya. Dengan beasiswa di tanganpun, enggak jaminan gue bisa diterima kerja di perusahaan impian. Dan yang paling buruk, mendapatkan pekerjaan impian pun bukan berarti gue akan benar-benar bisa menikmatinya. Tapiii, itu semua kan masih dalam bentuk kemungkinan. Mungkin, gue akan gagal, tapi… mungkin, gue juga bisa berhasil.

Gagal atau berhasil, yang penting gue coba dulu. Gue nggak mau terus-terusan menjadi orang yang hanya bisa menatapi betapa kerennya kartu nama orang lain. I have to give it a good fight, my best fight, before I give it up. Kalau ternyata kapasitas otak gue memang enggak akan pernah sampe untuk GMAT yang pantas masuk ke kelas MBA di universitas papan atas, ya sudah, yang penting gue tahu bahwa gue sudah mencoba.

So now… stop talking and tomorrow, first thing in the morning, I will call PASCAL right away to register my name in May 2013 class. Wish me luck!

5 Ways To My Dream Career

Entah sejak kapan, gue punya cita-cita pengen bikin business consulting company. Bukan business consulting yang canggih banget kayak BCG atau McKinsey gitu. Gue cuma pengen bantu orang-orang yang ingin mendirikan bisnisnya sendiri. Tapi masalahnya, siapa juga yang mau menggunakan jasa konsultasi dari gue, kalo gue sendiri enggak punya pengalaman di bidang business consulting? Makanyaaa, udah sejak dua tahun yang lalu gue kepengen banget kerja di business consulting group kelas kakap kayak BCG, McKinsey, atau AT Kearney juga boleh…

Sayangnya, tiga perusahaan itu sangat-sangat selektif dalam memilih karyawannya. Setelah melalui serangkaian browsing, berikut ini 4 alternatif yang bisa gue pilih untuk mengejar cita-cita itu:

Cari beasiswa S2, kalo bisa di luar negeri

Business consulting companies itu menjual gengsi. Gue sering lihat mereka buka lowongan dengan kualifikasi minimal S2, lebih disukai yang bergelar MBA (baca: lulusan luar negeri… secara gelar MBA kan udah nggak ada lagi di Indonesia!). Dan faktanya, emang ada banyak banget lulusan luar negeri yang diterima kerja di konsultan bisnis kelas kakap itu…  

Kendalanya:

Mayoritas beasiswa S2 yang ditawarkan itu ditujukan buat peneliti, orang-orang yang tidak mampu, atau orang-orang yang bekerja sosial. Nah, kalo dibilang peneliti, seumur-umur gue cuma pernah sekali bikin penelitian. Kalo dibilang tidak mampu… yaah, gue emang belum punya cukup dana buat kuliah S2 sih. Tapi masa’ iya gue mau minta surat pernyataan tidak mampu dari Pak RT?

 

Apply kerja di bidang business development

Biasanya, perusahaan menggunakan jasa business consultant buat bantu mereka mengembangkan bisnis perusahaan. Makanya, punya pengalaman kerja di bidang business development di perusahaan besar jelas lebih relevan dengan cita-cita gue jadi business consultant.

Kendalanya:

Sama aja kayak business consulting companies, perusahaan besar yang buka lowongan buat business development officer juga lebih suka sama lulusan S2…

 

Apply kerja apa aja yang penting gajinya gede

Berhubung kayaknya kuliah S2 itu syarat mutlak buat gue, jadi kayaknya gue harus cari kerja yang gaji kotornya mencapai delapan digit… Dengan pendapatan segitu, dalam sebulan gue bisa nabung banyak buat biaya kuliah gue. Masalahnya kalo gue mau kerja di konsultan bisnis bergengsi, universitas yang gue pilih buat kuliah S2 juga harus bergengsi. Dan kampus yang masuk kategori bergengsi itu biaya kuliahnya mahalll. Paling murah bisa 90 jutaan.

Kendalanya:

Gue harus rela kerja di bidang accounting/internal audit/ERP kalo mau dapet gaji segitu… Masalahnya cuma tiga bidang itu aja yang bersedia ngegaji gue sampe delapan digit (itu juga nyarinya bakalan susah banget). Pengalaman kerja gue kan emang kuat banget di tiga bidang itu. Tapiii, aduh, gue udah bosen ngaudit. Nggak gitu berminat kerja di divisi accounting. Terus gue juga udah bosen ngurusin software yang berhubungan sama ERP.

 

Terbitin novel gue

Gue pede banget sama novel gue yang ke dua (yang pertama udah ditolak sama penerbit) yang masih dalam proses penulisan ini. Gue banyak belajar dari kegagalan yang pertama, ditambah beberapa masukan dari penerbit yang nolak novel pertama gue itu. Nah, uang dari penjualan novel itu seeenggaknya bisa bantu nutupin setengah dari biaya kuliah S2 gue.

Kendalanya:

Nulis novel itu nggak gampang… Gue butuh banyak waktu buat ngetik, edit, riset, dan inquiry buat mempertajam detail cerita. Makanya, kalo fokus gue adalah novel, gue harus cari kerja yang bisa pulang tenggo setiap harinya…

 

Alternatif lainnya

Sebenernya selain kerja di business consulting company, ada satu alternatif lain supaya gue bisa mencapai cita-cita utama gue buat mendirikan perusahaan konsultasi bisnis gue sendiri… Bisa aja kan, gue mulai dari berbisnis sendiri… bikin bisnis yang banyak! Terus abis itu, semua bisnis gue jual satu per satu… terus pas gue udah mulai terkenal, gue tawarin deh, jasa konsultasi buat bisnis orang lain, hehehehe.

Dulu gue pernah baca profil cewek yang punya bisnis jadi konsultan restoran. Awalnya dia bikin restoran, terus dijual. Bikin restoran lagi, dijual lagi… Terus akhirnya, sekarang dia bikin bisnis konsultasi buat restoran gitu deh.

Kendalanya:

Gue kan nggak punya cukup modal buat buka bisnis sendiri… Mesti jual tanah warisan dulu kayaknya sih, hehehehehe.

 

Mengejar Mimpi Berikutnya

Hampir semua impian gue udah mati di kampus Binus. Nggak bisa lulus cum laude karena pernah 3 kali dapet C, nggak berhasil dapet nilai skripsi A gara-gara dituduh malsuin data (syukur-syukur dengan tuduhan seberat itu gue masih dikasih nilai B), nggak pernah jadi ngewakilin kampus untuk ikut lomba akuntansi nasional… Ah… rasanya sedih banget nggak bisa bikin ortu bangga…

Tapi herannya nggak ada temen yang bisa mengerti kekecewaan gue. Katanya gue harus bersyukur lah, yang penting masa depan karier gue bakalan cerah lah… Mereka nggak ngerti bahwa gue udah kehilangan satu impian terbesar yang udah gue pendam seumur hidup gue… Gue cuma pengen, satu kali aja, gue ngerasain rasanya dapet rangking satu, atau gimana rasanya lulus dengan gelar Lulusan Terbaik… Yang paling menyedihkan adalah gue udah TIGA kali hampir berhasil mencapai impian itu! Belum lagi kalo ngebayangin gimana kecewanya bokap dan nyokap… Gue sampe nggak berani nelepon nyokap buat ngabarin skripsi yang gue kerjain setengah mati itu cuma dikasih nilai B dengan alasan-alasan yang nggak masuk akal.

Bukannya gue nggak bersyukur, terlalu ambisius atau apa… Gue cuma menyesal lagi-lagi gue gagal menuhin harapan bokap dan nyokap gue… Penyesalan itu semakin jadi karena boleh dibilang, impian gue itu pernah ada di depan mata gue tapi gue nggak berhasil mencapainya! Contohnya skripsi gue. Entah apa alasannya, salah satu dosen penguji yang waktu sidang cuma manggut-manggut ngeliat gue dituduh macem-macem sama dosen yang satunya lagi malah nulis “Maaf ya,” di dalam soft cover skripsi gue! Dari situ gue tau bahwa nilai A sudah di depan mata gue! Seandainya waktu itu gue berusaha lebih keras menghadapi dosen penguji yang keras kepala itu…

Tapi setelah satu hari berlalu… setelah gue coba berpikiran jernih… tidak pernah ada kata MATI untuk impian dalam hidup ini. Asalkan gue masih punya hari esok, gue juga masih punya peluang untuk menciptakan impian baru dan berusaha mengejarnya sekuat tenaga.

Sekarang, gue cuma butuh waktu untuk menentukan pilihan karier gue selanjutnya. Di sanalah mimpi gue yang berikutnya akan berlabuh. Ok, mari kita bersama-sama mengejar mimpi!