My Whole Life is a Lesson to Love the Others

Recently I realize… I’ve been learning how to love others since the day I was born thirty years ago. I’ve learned how to love as a daughter, a sister, a friend, a colleague, or as a girl who falls in love.

I’ve learned how to tell people how I feel, knowing that silence is in fact not always golden.

I’ve learned to accept that I’m not perfect, and neither is anyone else.

I’ve learned to fight for the people I love, I even fight myself just to keep that feeling alive inside my heart.

I’ve learned to never give up easily on the people I care about.

I’ve learned to not forget someone’s else good deed just because one mistake they did.

I’ve learned that to love is to take and to give, equally, and to love is to be less selfish than I once was.

I’ve learned to give people their second chances. 

I’ve also learned how far I should go knowing that I should also love myself enough to walk away everytime I realize I deserve better.

I’ve learned to forgive, to let go, and be okay with it.

I’ve learned to heal myself from a heartbreak and to love again. To believe in humanity, again.

I’ve learned how blessed and loved that I really am. And I cannot ask for more.

Somehow I Know, I Have the Greatest Friends on Earth

Ceritanya hari ini gue sakit (lagi). Berawal dari flu, pagi ini kepala gue rasanya sakit banget. Gue sahur hanya seadanya, kembali tidur, dan saat bangun, kepala gue malah terasa lebih sakit dibanding sebelumnya. Mau minum paracetamol tapi sudah lewat waktu sahur. Jadilah gue ijin sakit untuk hari ini dan hanya berbaring lemas di atas tempat tidur.

Sekitar jam 3 sore, gue mulai bosan. Iseng-iseng gue Whatsapp sahabat gue di kantor sebelumnya. Gue bilang gue bosan karena hanya istirahat seharian di kosan saja. Teman gue ini lalu bilang begini, “Gue ke kosanlo deh. Gue bawain dokter sekalian, hehe.”

Awalnya gue kira dia cuma bercanda, tapi benar saja, sore menjelang buka puasa, teman gue ini muncul di depan kosan. Dia lalu menyodorkan sesuatu dari dalam ras ranselnya, “Ini gue bawain dokter kesukaanlo.”

Tahu apa yang dia bawa? DVD Grey’s Anatomy season 13! Teman gue ini emang tahu banget kalo gue penggemar berat Grey’s Anatomy sejak serial ini baru mulai tayang bertahun-tahun yang lalu. Senang rasanya punya teman yang sangat thoughtful seperti dia!


Hal ini mengingatkan gue dengan acara bukber dengan sahabat-sahabat dari bangku SMA hari Minggu yang lalu. We’ve been friends for sixteen years! It’s amazing, isn’t it?

Gue dan gank gue saat SMA itu punya kepribadian yang sangat bertolak belakang. Satu orang yang sangat humoris, satu orang yang sangat tomboy, satu orang yang sangat pendiam, satu orang yang sangat cerewet, ditambah dengan gue, si judes yang gila kerja, hehehehe. 

Gue dan keempat orang itu udah melewati banyak hal selama enam belas tahun belakangan. Ada up and down, ada jarak dan kesibukan yang memisahkan, tapi gue bersyukur, sangat-sangat bersyukur, gue dan mereka masih saling meluangkan waktu untuk sekedar bertukar kabar. I really can’t wait for our next trip to Bali September this year!

Selain mereka berlima, masih ada lagi sahabat yang sudah gue kenal dari bangku SMP. Dari bangku kuliah. Dan dari kantor pertama gue juga. Gue senang di mana pun gue berada, selalu ada sahabat baik yang menemani perjalanan hidup gue. 

I don’t have a thousand friends, but I do have a couple of the GREATEST friends on earth. And I cannot ask for more.

Pasar Malam Pinggir Jalan

Beberapa kali dalam sebulan, ruas jalan di depan kosan gue langganan dipakai untuk menggelar semacam pasar kaget. Pedagang pakaian, aksesoris, mainan, jajanan pasar, dan bahkan ada juga wahana sederhana untuk anak-anak kecil. Pasar malam di tengah kota Jakarta yang sangat sederhana tapi tidak pernah sekalipun tampak kekurangan pengunjung.

Suatu malam, gue melewati pasar dadakan itu di perjalanan pulang menuju kosan. Dari dalam taksi, gue melihat keluarga kecil berjalan bergandengan. Si anak terlihat gembira dengan balon merah di tangan kanannya. Begitu pula raut wajah ayah dan ibunya. Mereka bertiga tampak sangat bersemangat melihat-lihat barang dagangan yang digelar di sepanjang jalan.

Hanya begitu saja, hari gue saat itu menjadi lebih baik dengan sendirinya. Gue masih saja sering lupa… bahagia itu sederhana. Sesederhana menikmati malam bersama keluarga. Atau sesederhana berbahagia melihat kebahagiaan orang lain.

Sejak malam itu, perjalanan melewati pasar malam yang awalnya terasa menjengkelkan saking ramainya, berubah menjadi terasa menyenangkan. Gue seperti menemukan satu lagi alasan kecil untuk bisa berbahagia.

Find your happiness, start from the little things.

Why do I Want to be an Entrepreneur? 

Beberapa bulan belakangan ini, gue mulai terpikir untuk menjalankan bisnis gue sendiri. Di satu sisi, gue jelas merasa sangat bersemangat, tapi di sisi lain, gue masih saja bertanya-tanya pada diri gue sendiri.

Do I really want to do this? And why would I want to do it?

Membangun perusahaan sendiri jelas jauh berbeda dengan sekedar pindah kerja ke perusahaan lain milik orang lain. Ada modal kerja yang jadi taruhan, yang kali ini dalam kasus gue, jumlahnya tidak sedikit. Dan kenapa gue sampai harus senekad itu?

Ada satu kekhawatiran yang sebetulnya gue simpan diam-diam… Bagaimana jika ternyata bisnis gue ini hanya pelarian gue saja? Masalahnya, gue punya kebiasaan over excited terhadap hal-hal baru sebelum akhirnya gue merasa bosan dengan sendirinya. Pernah ada yang bilang, yang paling sulit itu bukan saat harus menentukan pilihan, tetapi lebih pada saat harus bertahan pada satu pilihan. Teori yang sangat mengena buat diri gue ini.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel keren ini via Linkedin. Dari semua gambar yang ditampilkan, ada satu gambar yang paling menarik perhatian gue. Berikut ini gambar yang gue maksud!


Sambil membaca tulisan di dalam gambar, sambil gue menilai diri gue sendiri. Masih belum cukup sampai di situ, gue juga mengirimkan gambar ini ke adik dan beberapa teman terdekat gue. Gue tanya sama mereka, “Menurutlo, gue yang mana?”

Lalu apa hasilnya?

Pendapat gue:

  1. Easily bored. Seperti yang gue tulis di atas: gue tipe orang yang pembosan. Di mana pun gue bekerja, gue selalu aja mulai merasa jenuh tiap kali sudah memasuki tahun ke tiga. Pernah satu kali bisnis kecil-kecilan, tapi hanya bertahan sebentar saja hanya karena gue cepat merasa bosan;
  2. Too impatient. Tiap kali gue punya ide yang gue anggap brilian, gue akan mulai tidak sabaran ingin cepat-cepat mewujudkannya. Hanya saja sayangnya, mewujudkan ide akan jadi lebih sulit saat harus berhadapan dengan begitu banyak kepentingan yang berbeda-beda. Benar-benar bikin gemas!
  3. Wants freedom above all. Entah kenapa, gue seringkali merasa “terbelenggu” sepanjang perjalanan karier gue selama 9 tahun belakangan ini. Meskipun banyak yang bilang bahwa gue ini an agent of change, tapi tetap saja… gue belum pernah menemukan freedom sampai pada tingkat yang gue inginkan dalam dunia kerja;
  4. Too ambitious. Bukan cuma gue ingin ini dan ingin itu, gue juga tipe orang yang senang membuktikan bahwa gue masih bisa menjadi lebih baik daripada diri gue di hari sebelumnya. Gue betulan bisa merasa kecewa jika gue sampai melewati satu tahun tanpa prestasi apa-apa; dan
  5. Been through school of hard knocks. Meski terdengar aneh, tapi pengalaman jatuh-bangun di dunia kerja malah membuat gue semakin yakin untuk memulai bisnis sendiri. Seringkali gue berpikir, “Is there anything that is even worse than what I’ve already been through?” Pernah melewati hal-hal sulit membuat gue lebih optimis bahwa insyaallah, gue juga akan bisa melewati rintangan-rintangan lainnya di masa depan nanti.

Bagaimana dengan jawaban adik dan teman-teman gue?

  1. Can’t have a boss. Mungkin karena gue sering banget curhat soal bos, siapapun bosnya, hehehehe;
  2. Too educated. Wow, this is flattering, hehehehe;
  3. Can sell ice to eskimos. This is flattering too. Entah kenapa ada saja orang yang menilai gue punya bakat sales;
  4. Addicted to risk. Ah, really?
  5. Wants freedom above all (akhirnya ada jawaban yang sama persis kayak jawaban gue sendiri, hehehehe).

Setelah mengevaluasi diri dengan cara seperti ini, gue mulai merasa lebih baik. Maybe, this is just meant to be, isn’t it?

Semoga bisnis ini bisa memberikan hal-hal yang belum pernah bisa diberikan oleh pekerjaan-pekerjaan gue sebelumnya, membuka jalan untuk hal-hal luar biasa lainnya, dan juga mempertemukan gue dengan orang-orang baru yang akan menemani petualangan gue selanjutnya. 🙂

The People I Need in My Life

One of the greatest lessons I learned from getting  older is to learn the things I like, want, and need for my own life. I’ve come to learn quality over quantities, and it includes the people that I need to have around.

I don’t need a thousand friends on my social media, I only need a smaller circle of people who truly care.

I don’t need dozens of social event invitations, I only need unforgettable moments with the loved ones.

And I don’t need a bunch of bride maids on my wedding day, I only need a couple of best friends who are always there in my ups and downs.

Why can’t I have all of that with more of people in my life? Because it takes a great amount of effort just to have a few of them in a longer run and that makes all of them very hard to find!

And why did I say they were hard to find? What precisely do I need from the people that count to me?

Here’s the short list!

  1. I need the people who is genuinely happy for me when my life is up on the sky (and not the ones who let their envy consumes themselves);
  2. The people who is genuinely upset when my life knocks me down (and not the ones who are secretly happy to see me fail);
  3. The people who think of my problems as if it were theirs;
  4. The people who can keep my secrets carefully;
  5. The people who never get bored with the stories and problems I share with them repeatedly;
  6. The people who always reply my text, even the not so important ones (and just because they understand it’s really important for me);
  7. The people who are always willing to forgive my flaws;
  8. The people who still believe in me and capable to see my lights even in my darkest times;
  9. The people who are always in my corner (even when I’m doing all the wrong things in public); and
  10. The people who make time for me, no matter how busy they are.

What makes it even more difficult? Because when I know how hard they try to do all that for me, I will also put my very best effort to do all that for them back. That’s why I said; quality over quantities. I would rather to spend my times and energy to the ones that really matter.

It would be great if you can have dozens of people like that in your life, but to me, I’m beyond grateful just to have a couple of them. I don’t know what I ever did in my past that makes me deserve every single one of them. Not only they are the people I need, they’re also the people I want and I love to have to be a part of my life. I hope, I really hope, we’re going to have each other for the rest of our life.

What If?

So I’ve been on something big, like really really big, in the past couple of months… and I’ve started to doubt myself.

Am I really going to do this?

Do I really know how to do it all?

Do I really have what it takes to make it happen?

Tried to treat myself a movie to distract me from all that crazy thoughts, but here I am… sitting on a wooden bench in Starbucks, wandering and still wondering all the things I’ve done to pursue this one big dream.

I know that I’m not a coward, I’ve never been one in my entire life, but still… doing what I’m doing at this age is beyond brave! What made me think I could survive this one too? It’s gonna change my life, but what if, it’s not gonna change my life in a good way?

I’m actually a believer that if I believe I will, then I will. But what if I’m wrong this one time? What if I’m wrong and I miserably fail? 

I really want to tell you that I go back home 100% sure that I will be just fine. But the truth is, I’m still doubting myself. Yes, I doubt myself, but make no mistake, it doesn’t mean I no longer believe in me. 

Yes, I might be wrong, BUT… what if I’m right? What if I’m right and I can make it all happen?

I don’t know, and neither does anyone else. I’ll never know, unless I try. Hence at least for now, if I believe I will, I will. Insyaallah.

Harus Dibedakan: Saran VS Hinaan

Entah kenapa, banyak dari kita yang lebih “mendengarkan” hinaan daripada saran yang membangun. Saat dihina: langsung dimasukkan ke dalam hati. Tapi saat diberi saran: masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.

Padahal seharusnya, kita hanya boleh mendengar saran, dan tidak perlu menerima hinaan apapun dan dari siapapun.

Bagaimana cara membedakan saran, masukan, dan nasehat dengan hinaan?

Saran diucapkan dengan tenang, secara konstruktif, dan atas niat membawa kebaikan untuk orang yang bersangkutan.

Sedangkan hinaan diucapkan berbarengan dengan amarah, secara menggebu-gebu, atas niat menyudutkan objek yang sedang dibencinya.

Saran yang konstruktif bisa jadi memang benar cerminan dari diri kita sebagai penerima saran, lain halnya dengan hinaan yang bisa jadi hanya luapan emosi dari orang yang mengucapkannya.

And don’t you know? Hurt people will tend to hurt another people.

Orang yang sedang sakit hati, atau sedang bermasalah dengan diri dan hidupnya sendiri, disadari atau tidak, cenderung berpotensi melukai orang-orang di sekitar mereka. Malah dalam kasus-kasus tertentu, hinaan mereka itu bukan hanya sekedar luapan emosi mereka saja, tapi juga cerminan atas kekecewaan mereka terhadap diri dan hidup mereka sendiri. Itulah sebabnya, saat mereka sedang marah, tidak selamanya kita punya andil dalam kemarahan mereka itu. Dan kalaupun ada, biasanya mereka hanya membesar-besarkan masalah kecil saja.

So maybe… it’s not you, it’s just them.

Kenapa gue bisa sangat yakin dengan teori gue ini? Karena gue juga pernah melakukan keduanya: memberi saran dengan niat untuk menolong, pernah pula mengucap hal buruk hanya karena terlarut dengan emosi yang sedang meluap. Saat gue memberi nasehat, tidak ada salahnya untuk didengar, tapi saat gue menyindir atau bersikap sinis, tolong tegur dan ingatkan. Dan jangan dimasukkan ke dalam hati! Gue tidak bermaksud demikian, jangan dengarkan isi kalimat yang bahkan langsung gue sesali segera setelah gue ucapkan. Jangan dengarkan sindiran yang pernah keluar dari mulut gue di saat gue sedang berada dalam titik terburuk gue. Orang yang tengah meluap emosinya bukan orang yang berada dalam posisi terbaik untuk memberikan meski hanya sepotong nasehat.

Bedakan saran dengan hinaan. Belajar menerima saran sama pentingnya dengan belajar untuk tidak menggubris hinaan. Jangan merugikan diri sendiri dengan terus menolak saran dari orang yang peduli, serta jangan pula merugikan diri sendiri dengan membiarkan hinaan orang lain mengkonsumsi pikiran dan energi dalam diri kita ini.

Be smart enough, and you’ll be more than just fine.

Critical Eleven – Movie Review

Berawal dari rekomendasi beberapa orang teman, gue jadi kepingin nonton film ini. Tipe film yang bisa menguras air mata katanya. It sounds perfect for my current mood! 

Jadilah gue memisahkan diri dari keluarga setelah acara buka bareng dan langsung beranjak sendirian ke bioskop hanya untuk nonton Critical Eleven. 

Berikut ini serangkaian isi pikiran gue dari awal hingga akhir film. Berhenti baca sampai di sini jika tidak ingin dapat bocoran soal jalan cerita film ini!

Hal pertama yang terlintas di benak gue: aktingnya kok agak kaku ya? Dialognya kurang menggigit. Kenapa dua orang itu cekikikan atas sesuatu yang enggak ada lucu-lucunya? Hmm… Bisa jadi maksudnya, orang yang lagi pdkt emang suka kayak begitu kali ya? Ngetawain hal-hal yang enggak lucu-lucu amat…

Begitu menginjak adegan Ale mengenalkan Anya ke seluruh anggota keluarganya… hati gue mulai meleleh. Tipe adegan yang bikin gue jadi berpikir, “Kalo gue enggak cepat-cepat move on, gue akan semakin lama untuk bisa mendapatkan hidup yang seperti itu.”

Semakin lama, semakin gue menilai dua tokoh utama dalam film ini punya kemampuan akting yang mumpuni. Chemistry-nya dapet banget! Pasangan suami-isteri betulan aja belum tentu bisa menunjukan chemistry sekuat itu! Adegan saat mereka harus berpisah sementara (si Ale ceritanya kerja di tambang minyak laut lepas), lumayan bikin gue jadi berpikir, “Bisa nggak ya, gue menjalani rumah tangga yang seperti itu?”

Konflik rumah tangga mulai bermunculan perlahan. Ale mulai terlihat sebagai sosok suami yang termasuk posesif. Sifat yang sebetulnya sangat tidak cocok untuk dipasangkan dengan karakter Anya yang juga termasuk keras. The conflict looks real and somewhat it feels relatable to myself.

Konflik yang awalnya bisa diatasi dengan cara Anya yang terpaksa mengalah saja, akhirnya mulai terasa terlalu berat saat bayi mereka lahir dalam keadaan meninggal. Akting para pemainnya betulan keren banget! Air mata gue sampai sedikit menetes saat nonton adegan yang satu ini. Enggak terbayang kalau sampai harus melewati cobaan seperti itu!

Pasca meninggalnya anak Ale dan Anya, konflik antara mereka semakin meruncing hingga puncaknya, Ale mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya dia ucapkan. Kalimat yang membuat Anya kehilangan gairah untuk mempertahankan rumah tangganya. Dan lagi-lagi, gue merasa terhubung dengan adegan itu. Gue kenal satu cowok yang sifatnya persis seperti Ale: tidak bisa mengendalikan kata-katanya di saat sedang marah. Gue sampai berpikiran, “Pasti seperti itu rasanya kalau sampai gue betulan married dengan cowok ini.”

Sampai sini, sempat ada beberapa adegan yang agak terlalu lebay. Anya terpikir untuk bunuh diri? Orang dengan karakter kuat seperti Anya semestinya tidak punya mental lemah seperti itu. Kemudian saat adegan Ale mengalami kecelakaan mobil… gue malah menghela napas. Pikir gue, “Really? An accident? It’s so typical Indinesian novel story!”

Dan tentu saja, Ale dan Anya akhirnya berbaikan setelah kecelakaan mobil tersebut! Rasa kecewa karena kisah klise itu akhirnya tertutupi dengan adegan penutup film ini. Kehangatan keluarga dan persahabatan di akhir film, membuat gue kembali berbisik pada diri gue sendiri, “Right… At the end of the day, that’s the life I want for my future.”

Find Someone Who Loves You as Much as You Do

Beberapa waktu yang lalu, gue nonton video pendek yang dibagikan oleh Bride Story via Instagram. Video itu menampilkan sepasang manula yang sudah puluhan tahun menikah, mereka mulai pacaran sejak umurnya belum menginjak 17 tahun.

Suami dalam video ini bercerita bahwa saat itu, rumah dia dan rumah istrinya (yang dulu masih jadi pacarnya) berjarak sekitar 13 KM. Meski demikian, si suami rela menempuh jarak itu dengan berjalan kaki hanya demi menemui istrinya seminggu sekali. Melihat pengorbanan itu, ayah dari si suami suatu hari bertanya pada anaknya, “Do you think that girl loves you as much as you love her?”

Kemudian suatu hari, si suami sakit keras, dan tiba-tiba saja, gantian si istri yang rela berjalan kaki 13KM, sendirian, hanya untuk menemui pacarnya itu! Saat itulah si suami menemukan jawaban atas pertanyaan ayahnya, “She loved me as much as I did.”

Meski gue tidak mengenal pasangan ini secara langsung, gue percaya bahwa memang benar mereka tetap saling mencintai meski sudah menikah puluhan tahun lamanya. Tetap mesra, dan tetap  bahagia. Tipe pasangan yang persis seperti ini lah yang bisa bikin gue ngerasa kagum! Gue lebih “iri” melihat pasangan kakek-nenek yang masih terlihat romantis ketimbang a newly wed yang masih tampak mabuk kebayang.

Kenapa?

Karena pasangan yang baru menikah, sudah hampir pasti semuanya masih tampak tergila-gila, masih mesra, dan harmonis satu sama lainnya. Lain halnya dengan orang yang sudah sampai puluhan tahun menikah. Berhasil melewati satu hari tanpa saling meneriaki satu sama lainnya saja sudah bisa dianggap bagus banget!

Berangkat dari video ini, gue jadi berkesimpulan:

  1. Yang paling penting bukan hanya sekedar menemukan pasangan lalu menikah; yang penting adalah menikah dengan orang yang sangat kita cintai, yang juga sangat-sangat mencintai kita; dan
  2. Setelah menikah, yang paling penting bukan hanya sekedar tetap menikah dan tidak bercerai; yang penting adalah tetap menikah dan tetap bahagia. Tetap saling mencintai.

Video ini juga menyadarkan gue bahwa kemungkinan besar, menjalani hubungan yang berat sebelah akan terasa luar biasa menyiksa untuk pihak yang berada dalam posisi “lebih mencintai”. Harus selalu mengalah, harus selalu berkorban, repot sendiri, capek sendiri, stres sendiri, sedih sendiri…. Balik ke poin dua di atas, kalaupun nantinya berlanjut sampai ke jenjang pernikahan, pertanyaannya, “Bisa tahan sampai berapa lama?”

Pemikiran seperti ini pada akhirnya membantu gue banget buat bisa move-on. Kesadaran bahwa gue harus dapat orang yang mencintai gue sama besarnya dengan gue mencintai dia membuat gue memutuskan bahwa gue tidak boleh buang-buang waktu. If he doesn’t feel it after all these times, then he will just never feel it for the entire times. And that’s the end of the story.

My Appreciation to Gojek

Entah kenapa, dua minggu belakangan ini gue sedang malas-malasnya pergi keluar rumah. Badan gue rasanya luar biasa pegal dan capek banget! Belum pernah tempat tidur gue terasa sampai sebegitu nyamannya. Bantal terasa lebih empuk, selimut lebih lembut, sampai AC yang temperaturnya tidak bisa diatur itu mendadak terasa pas untuk menemani gue tetap tidur di akhir pekan. 

Masalahnya cuma satu: gue kehabisan bedak padat. Sudah 2 weekends plus 1 hari libur nasional terlewati, gue masih saja belum menyempatkan diri pergi ke Grand Indonesia; mall terdekat yang menjual bedak gue itu. 

Gue mulai bingung. Hari Rabu minggu ini gue berangkat ke Vietnam untuk urusan pekerjaan. Apa jadinya gue pergi tanpa bedak? Tapi tetap saja, pikiran harus meninggalkan kasur hanya untuk pergi beli bedak terasa bukan ide yang menyenangkan. Pikir gue, “Minggu ini akan bikin capek banget! Harus submit beberapa reports sebelum pergi ke Vietnam dan selama di sana, pagi sampai sore ikut summit, lalu malamnya pasti harus kerja di hotel untuk handle urusan di Jakarta sini. Pulang dari Vietnam hari Minggu sore dan besoknya harus kerja lagi!”

Lihat kan? Lebih baik gue tetap tidur di rumah saja! Lalu bagaimana dengan bedak gue? Ah… Beli pakai aplikasi Gojek saja!

Awalnya gue ragu-ragu mau beli bedak pakai fitur Go-Shop. Cash di dompet hanya ada dua ratus ribu sedangkan harga bedak gue bisa lebih dari lima ratus ribu. Bisa pakai Go-Pay, tapi masalahnya, jarang ada driver yang mau ambil order Go-Pay dengan nilai sampai setinggi itu. Tapi ya gue coba saja dulu. Sambil tunggu aplikasi Gojek cari driver-nya, sambil gue menyusun back-up plan jika sampai tidak ada driver yang bersedia ambil order gue. Tapi ternyataa, tidak butuh waktu lama sampai ada driver yang ambil order gue!

Gue sempat khawatir si driver ini akan cancel order gue. Udah lima menit lebih tidak ada SMS atau telepon dari si driver. Jadi ya sudah. Gue SMS dia duluan untuk menjelaskan lokasi toko kosmetiknya. Nggak lama si driver telepon dan meminta gue untuk konfirmasi warna bedak langsung ke SPG-nya. Tidak sampai setengah jam kemudian, bedak gue sudah tiba di kosan! Persis sesuai pesanan yang gue tulis di aplikasinya.

Beres urusan bedak seperti mengingatkan gue betapa gue mulai sangat tergantung dengan aplikasi ini. Jalanan macet dan malas naik taksi, gue tinggal pesan Go-Ride. Malas ke salon untuk potong rambut, gue pesan Go-Glam. Shampo yang baru gue beli ketinggalan di rumah nyokap, gue ambil pakai Go-Send. Dan yang paling sering, malas keluar cari makan, gue pesan pakai Go-Food saja! Berkat Go-Food, gue jadi lebih banyak makan daripada sebelumnya! Banyak pilihan yang bisa gue coba setiap harinya! Walau anehnya, badan gue tetap saja kurus seperti biasanya sih. 😐

Selain fitur yang sudah pernah gue coba, gue masih pengen coba Go-Massage. Pengen cobain hot stone massage-nya. Lalu kapan-kapan mau coba make-up plus hijab styling-nya juga! Trus nanti pas Lebaran, mau coba pesan Go-Clean juga. Gojek sudah sangat lengkap buat gue, kecuali untuk urusan alis; masih belum ada jasa eyebrow wax atau threading di menu Go-Glam-nya. Gojek, please hear me out!

Saking terkesannya sama Gojek, gue iseng-iseng Googling si Nadiem Makarim dan berakhir di Instagram-nya. Cuma sedikit foto, entah benar punya dia atau bukan, yang sudah dihujani komentar dari unhappy customers dan bahkan, banyak juga komentar dari unhappy drivers!

Emang sih, gue enggak kerja di Gojek. Tapi gue bisa memahami sulitnya menjalankan online business skala besar. Semakin banyak transaksinya, semakin canggih fitur yang ditawarkan, semakin tinggi pula potensi terjadinya system error. Not an excuse, but understandable. Gue percaya Gojek tidak berniat menelan dana Go-Pay nasabah yang gagal top-up, gue yakin itu hanya system glitch saja. Perusahaan tempat gue bekerja juga terkadang bisa terlambat melakukan refund, tapi hal itu betul-betul bukan sesuatu yang disengaja, bukan pula dilakukan untuk cari untung dengan mengambil dana milik customers. It’s not easy to run an e-commerce, but it’s fun!

Balik ke Gojek, gue senang dan merasa sangat terbantu dengan aplikasi ini. Tarifnya juga bersahabat, sangat bersahabat, sehingga kadang gue penasaran, “Kalau tarifnya terus serendah ini, gimana kalau suatu saat nanti Gojek sudah tidak lagi mendapatkan suntikan dana? Bagaimana cara mereka bisa survive? Oh, well… I guess that is Gojek’s homework! 😉

Berkat Gojek, hari ini gue bisa santai-santai seharian. Makan, tidur, makan lagi. Nonton TV kabel, ketawa-tawa sendirian, sambil makan lagi 😀 Ada banyak definisi hari yang menyenangkan, dan hari ini salah satunya. And I thank Gojek for this! Hehehehe.

Great job, Gojek! Keep it up!