Diversities Could be Cute

Salah satu hal yang gue syukuri dari kuliah di Binus adalah mengajarkan gue tentang hidup rukun antar umat beragama. Bukan cuma sekedar rukun, gue juga bersahabat erat dengan 2 dari sekian banyak teman kuliah yang beda agama. And Christmas always remind me how cute are together, hehehehe. Nah, dalam blog kali ini, gue mau sharing betapa perbedaan bisa jadi sesuatu yang cute to be remembered.

 

Kartu Natal dari Zi

Waktu tahun pertama kuliah, beberapa hari menjelang Natal, gue dikasih kartu natal buatan sendiri sama si Zi. Kartunya berupa gulungan kecil yang dimasukkan ke dalam kantung kecil warna pink. Kartunya cantik banget! Ngelihat muka gue yang bingung karena dikasih kartu Natal, waktu itu Zi bilang gini, “Abisnya kan enggak adil kalo cuma elo doang yang enggak gue kasih cuma gara-gara agamalo lain sendiri…” Sampe sekarang, kartu Natal itu masih gue simpan dengan baik di dalam laci lemari gueJ

 

Nungguin gue shalat

Gue lupa persisnya waktu itu gue, Natalia, dan Puja mau pergi ke mana. Yang jelas waktu itu sebelum pergi, gue harus shalat dulu di mushalla kampus. Lalu dengan manisnya mereka duduk di teras mushalla sambil nungguin gue shalat. Hal kecil yang menyentuh banget kalo menurut gue.

 

Nyobain pake jilbab

Puja sama Natalia pernah nginep satu malam di kosan gue. Dan waktu itu, malem-malem si Puja iseng pengen nyobain pake jilbab! Lucu juga kalo diinget-inget. Oh ya… belum lama ini, ada juga temen sekantor gue (Katolik) yang nyobain pake mukena sama jilbab gue di kamar hotel. Terus abis itu dia foto-foto dan berkomentar, “Kok kalo gue yang pake jilbab keliatan jelek yah?”

 

Ucapan lebaran

Sejak lebaran pertama gue di Binus, gue udah terima banyak banget SMS lebaran dari teman-teman kampus yang non-Islam. Pertama kali terima SMS lebaran dari mereka, gue suka cekikikan sendiri. Soalnya ada beberapa yang kirim SMS-nya pake bahasa Arab segala! Gue jadi bingung sendiri… mereka dapet template SMS lebaran itu dari mana yah? Hehehe.

 

Ucapan hari raya selain Idul Fitri

Tiap tahun, selalu ada aja temen non-Islam yang juga ngirim ucapan selamat buat gue di hara raya Islam selain Idul Fitri. Misalnya, Idul Adha atau bahkan Tahun Baru Islam! Masalahnya yah, justru temen-temen gue yang sesama Islam cuma ngirim ucapan selamat kalo Idul Fitri doang loh… Lucunya, waktu ada temen Budhist yang ngucapin selamat Idul Adha, iseng-iseng pernah gue bercandain dia, “Eh, emangnya elo tau, Idul Adha itu hari raya apa?” Terus kurang-lebih, dia dengan entengnya jawab, “Hari makan kambing bukan sih?”

 

Food with pork

Teman-teman gue di Binus suka dengan baik hatinya ngasih tau gue rumah makan mana aja yang makanannya mengandung babi. Soalnya kadang, yang punya rumah makan suka enggak bilang soal itu. Temen-temen gue bisa tau karena mereka tau banget rasa minyak babi itu kayak gimana. Gue selalu salut banget sama teman gue yang seperti itu. Mereka makan pork tapi tetap sangat menghargai prinsip gue untuk enggak menyentuh apapun yang berhubungan dengan itu. Thanks!

 

Puja dan daging sapi

Kalo gue nggak boleh makan babi, Puja (Hindu) enggak boleh makan daging sapi. Tapi masalahnya, kadang-kadang dia suka sungkan nanya ke pelayan resto soal makanan yang mau dia pesan itu ada unsur sapinya apa enggak. Jadilah gue atau Natalia yang dengan sukarela nanyain soal sapi ke pelayan restonya…

 

Jokes ala kita

Biasanya, sebelum memulai sesuatu yang sulit (misalnya kalo mau UAS), Puja suka ngomong gini ke gue, “Doain gue ya, Fa!” Terus gue bilang, “Emang bisa? Doanya ke Tuhan yang mana nih? Kan beda, hehehe.” Puja ngebales, “Bisa kok! Mereka juga kan temenan kayak kita.”

 

Diversities among us

Partner traveling gue ke Phuket September kemaren itu berasal dari suku dan agama yang beda-beda. Natalia (Chinese – Yehuwa), Puja (Indiahe – Hindu), dan gue (Sunda – Islam). Nah, suatu sore pas kita lagi belanja di Jungceylon, ada salah satu pedagang yang kalo diterjemahin nanya beigni ke kita bertiga, “Kalian asalnya dari mana sih? Ada Arab (sambil nunjuk gue), India, dan Cina. Lengkap ya!” Yup, and we’re proud of itJ

 

Kurban Seorang Mualaf

Akhir tahun 2009 yang lalu, gue sempet kerja satu tim sama cowok Chinese yang di hari pertama kerja bareng gue, dia mengejutkan gue dengan pertanyaan, “Di sini mushala-nya di sebelah mana ya?”

Loh, ternyata dia muslim toh! Akhirnya gue tau kalo dia itu mualaf dan satu-satunya muslim di keluarga dia.

Sampe sekarang gue belum tau alesan dia masuk Islam itu apa. Gue sempet nebak karena dia pernah kuliah di Malasyia, tapi ternyata bukan. Dia baru masuk Islam justru setelah balik ke Indonesia. Karena pengaruh pacar pun rasanya bukan. Karena pacarnya yang pake jilbab itu juga dia kenal setelah masuk Islam.

Idul Adha hari ini mengingatkan gue sama cowok ini. Waktu itu dia sempat cerita sama gue tentang pengalaman kurban pertama dia setelah jadi mualaf.

Waktu itu kata dia, di saat kambing lain mesti ditarik-tarik menuju tempat pemotongan, kambing kurbannya dia justru berjalan mendului dia menuju mesjid. Lalu di tempat pemotongan, di saat kambing lain meronta sekuat tenaga, kambing kurbannya dia justru dengan sendirinya memasrahkan lehernya untuk disembelih.

Waktu itu pikir gue, bahkan kambing pun tahu, memenuhi hidayah menjadi mualaf bukanlah suatu hal yang mudah, makanya dia sengaja mempermudah kurban pertama majikannya supaya nggak nambahin masalah baru buat majikannya itu, hehehehe.

Bicara soal pindah agama, gue jadi inget, sekitar enam tahun yang lalu, ada seorang kenalan yang bertanya sama gue, “Kenapa agamalo Islam? Karena orang tualo Islam kan?”

Mestinya, pertanyaan itu bukan pertanyaan yang sopan ya. Apalagi gue tau, motif dia nanya kayak gitu adalah untuk convert gue ke agamanya dia. Tapi kalo dipikir-pikir, pertanyaan dia itu emang ada benarnya. Agama pertama setiap orang kemungkinan besar agama yang dianut orang tuanya. Lalu pertanyaannya, apa iya, gue tetep beragama Islam hanya karena orang tua gue? Bukankah setelah dewasa, gue punya hak untuk mementukan kepercayaan yang gue yakini kebenarannya?

Thanks to that girl, dari situ gue justru jadi semakin meyakini agama gue. Berkat dia, gue jadi tahu bawha gue tetap beragama Islam karena memang agama ini yang gue yakini kebenaran dari setiap ajarannya, dan bukan semata-mata karena didikan orang tua gue. Malah, gara-gara dia, gue juga sampe berpikiran… kalopun misalkan ortu gue bukan Islam, pasti setelah dewasa dan mengenal agama ini, ujung-ujungnya gue akan teteap memeluk agama Islam. Makanya, gue juga jadi bersyukur udah terlahir dalam keluarga muslim. At least dengan begitu, gue jadi nggak perlu repot-repot mengalami dilema saat mutusin untuk jadi mualaf, hehehehe.

Well, selamat hari raya Idul Adha buat teman-teman yang merayakannyaJ

Tentang Caleg dan Poligami

Gue ngerasa geli sama politik ala Indonesia. Selaluuu aja ada gosip yang beredar setiap kali musim kampanye mulai menjelang. Ada capres/caleg yang disebut-sebut mafia Indonesia, ada pula yang dibilang antek-anteknya Amerika, sampe yang paling hangat, soal partai yang katanya banyak diwakili oleh caleg yang berpoligami.

Soal yang kemaren-kemaren, gue nggak berani komentar karena enggak begitu tahu kebenaran soal isu ybs. Tapi soal caleg yang berpoligami… hmm… bolehlah ya gue sedikit berkomentar, hehe.

Megacu pada dua artikel di Detik.com, ada sebuah organisasi perempuan Indonesia yang akan mengumumkan daftar nama caleg yang berpoligami. Mereka menghimbau untuk tidak memilih caleg yang tercantum dalam daftar itu. Di lain pihak, menurut Sekjen PKS, apa yang dilakukan oleh organisasi itu sudah berada di luar konteks politik. Sang sekjen yang juga pelaku poligami itu berpendapat, poligami adalah urusan pribadi setiap orang.

Sebelum gue menyampaikan pendapat gue soal caleg yang berpoligami, ijinkan gue menyampaikan pendapat gue soal poligami itu sendiri. Harus diakui, poligami memang dihalalkan oleh agama Islam. Tapi maaf-maaf kalo gue bilang, aplikasi poligami pada masyarakat Indonesia pada umumnya itu SALAH BESAR. Menrut gue, suatu praktek poligami sudah sesuai dengan tujuan mulia dari poligami itu sendiri APABILA:

  1. Wanita yang dinikahi adalah wanita yang sulit mendapatkan suami DAN istri pertama dengan ikhlas megijinkan suaminya untuk menikah kembali;
  2. Istri pertama dalam keadaan sakit sehingga dengan ikhlas meminta suaminya untuk menikahi wanita lain; dan
  3. Negara ybs dalam keadaan perang.

Nah, pertanyaan gue sekarang, dari beberapa orang caleg yang melakukan poligami, ada berapa banyak caleg yang melakukan poligami atas dasar tiga point yang gue sebutkan di atas? Gue emang nggak punyi bukti, tapi gue YAKIN kebanyakan istri muda mereka lebih yahud daripada si istri pertama…

Lalu pertanyaan berikutnya, benarkah tidak ada hubungannya antara politik dengan isu poligami?

Setujuhkah elo kalo gue bilang poligami untuk mencari istri muda yang lebih yahud adalah tindakan yang hanya dilandasi oleh nafsu semata? Dan setujukah kamu bahwa tiga godaan utama buat laki-laki adalah tahta, harta, dan wanita?

Jadi menurut gue, caleg yang tidak bisa menahan nafsunya soal wanita kemungkinan besar juga tidak memiliki kemampuan untuk menahan diri soal tahta dan harta dalam hidup mereka.

Memang benar bahwa poligami masih lebih mendingan daripada melakukan zina. Tapi tetap saja, kedua hal itu sama-sama mengindikasikan ketidakmampuan seorang laki-laki untuk mengendalikan nafsu mereka. Jadi, mari kita pilih caleg yang tidak berpoligami tapi juga tidak berzina! Pelajari baik-baik caleg yang akan kita pilih. Kalo masih enggak yakin juga, ya sudah, kita golput saja, hahaha, ajakan sesat nih!

Ok, selamat memilih!

Pasukan Jihad Untuk Palestina

Bukan sekali dua kali gue denger pernyataan seperti ini, “Ngepain sih orang Indonesia repot-repot ngurusin Palestina? Pake mau pergi ke sana segala… Apa mereka enggak takut mati konyol?”

Sebetulnya ya, gue paling males ngebahas soal konflik di salah satu kawasan Timur Tengah itu. Kenapa? Karena pasti bahasan itu ujung-ujungnya hanya mendsikreditkan agama Islam atau Nasrani. Jangan aja gara-gara Palestina-Israel lagi ’berantem’ terus gue sama temen gue itu jadi ikutan ’berantem’ juga…

Tapi, statement yang gue kutip di awal bener-bener mendorong gue untuk mengeluarkan opini. Lewat tulisan ini gue mau balik bertanya, ”Kenapa kita harus mempertanyakan orang-orang yang dengan sukarela pergi ke sana untuk memberikan BANTUAN?”

Coba bayangkan…

  • Suatu malam elo lagi tidur nyenyak tau-tau ada bom jatuh di atas genteng rumahlo;
  • Masih mending kalo elo langsung mati, tapi gimana kalo elo malah hidup dengan tangan buntung atau tubuh penuh dengan luka berlumuran darah?
  • Karena serangan dari pihak lawan, elo terpaksa berbulan-bulan atau bahkan mungkin bertahun-tahun hidup di tepat pengungsian yang katanya berbau tidak sedap dengan fasilitas yang sangat minim;
  • Sepanjang hari dalam setiap detiknya elo ngerasa waswas dengan anggota keluargalo yang mungkin lagi pergi cari makanan dan tidak pernah kembali lagi karena tertembus peluru atau terkena serangan bom berikutnya;
  • Elo juga nggak bisa hidup tenang karena  khawatir akan muncul lagi serangan yang dilakukan oleh pihak lawan;
  • Dan hiduplo enggak tenang karena ayah dan saudara laki-lakilo terpaksa maju ke medan perang untuk membela bangsanya… Nggak ada yang bisa jamin mereka akan pulang dengan selamat atau pulang dengan tubuh utuh yang segar bugar.

Nah, kalo elo berada dalam posisi-posisi tersebut di atas, apa lagi yang elo harapkan selain memperoleh PERTOLONGAN? Dalam agama Islam, semua umat Islam itu bersaudara. Dan apa pantas kita membiarkan saudara kita hidup terlunta-lunta sementara kita hidup enak di Indonesia sini? Jadi apa salahnya jika para kaum jihad itu mencoba untuk memberikan pertolongan? Kalaupun akhirnya perjuangan mereka sia-sia, setidaknya mereka sudah mencoba…

Jangan dikira pergi ke medan perang itu keputusan gampang! Mereka juga punya keluarga, punya kehidupan, hanya bedanya; mereka punya hati nurani yang jauh lebih peka daripada kita yang hanya berdiam diri.

Jadi terlepas apapun agama yang kita anut, terlepas siapa di antara Israel dan Palestina yang terlebih dulu memulai perselisihan, ada baiknya kita mendukung niat baik orang-orang yang ingin pergi membela Palestina. Israel itu udah banyak ’antek-anteknya’ dan tidak seharusnya mereka menyerang warga sipil seperti itu. Jadi cobalah berhenti memojokkan para pasukan Jihad. Jangan persulit mereka denagn pandangan sinis dan cibiran yang melukai hati. Sekali lagi gue bilang, seandainya kita (baca: orang Indonesia) yang dijatuhi rentetan bom, apa kita masih bisa menganggap sinis orang-orang yang berniat menolong kita?

Tidak banyak yang bisa gue lakukan untuk Palestina. Gue pergi jihad yang ada nanti gue malah ngerepotin orang lain… Jadi besar harapan gue, setidaknya tulisan ini bisa jadi salah satu bentuk kepedulian gue untuk Palestina. Semoga dengan ini gue bisa mengetuk hati teman-teman semua untuk sama-sama menyalurkan bantuan atau sekedar dukungan moral. Mereka yang terlunta-lunta di sana juga manusia biasa seperti kita. Mereka punya keluarga, punya rekan dan sahabat, punya mimpi dan impian… mereka semua punya KEHIDUPAN yang telah dihancurkan oleh peperangan.

Mari kita panjatkan doa, semoga perang antara Israel-Palestina dapat segera diakhiri dan tidak akan terulang lagi, selamanya…