Apa Rasanya Jadi Pepper Potts?

Penggemar Marvel pastilah familiar dengan nama Pepper Potts; asisten Tony Stark “Iron Man” yang kemudian berakhir menjadi istrinya. Dan seingat gue, pasangan Tony-Pepper inilah yang butuh waktu paling lama untuk jadian jika dibandingkan pasangan-pasangan lain di MCU (Marvel Cinematic Universe).

Saat tadi menonton ulang film pertama Iron Man, gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri, “Apa rasanya hidup jadi Pepper Potts?”

Pepper jelas menunjukkan ketertarikan dia pada atasannya itu. Perhatian-perhatian kecilnya, rasa khawatirnya, serta pengorbanannya, jelas bukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh bawahan untuk atasannya. Tony juga jelas mengetahui perasaan Pepper terhadap dirinya, tapi tetap saja… dia lebih memilih berganti-ganti teman kencan ketimbang langsung memilih Pepper sebagai kekasihnya.

Seolah itu saja belum cukup buruk, di awal cerita, Pepper sang asisten rutin bertugas untuk “mengusir secara halus” teman kencan Tony dari kediamannya. Pengorbanan perasaan yang sangat besar menurut gue. Memang hanya film, tapi bisa saja terjadi di dunia nyata. Nggak usah jauh-jauh sampai melihat si dia dengan perempuan lain misalnya. Melihat dia di kantor setiap hari tanpa pernah bisa memilikinya juga sudah cukup menyedihkan. Mau move on juga pasti sangat susah karena masih harus kerja bareng setiap harinya.

Banyak dari kita pastilah juga pernah berada di situasi yang mirip seperti Pepper. Merasa seperti ada harapan, tapi tidak juga banyak kemajuan. Mencintai, tapi enggak punya privilege untuk menyampaikannya. Kangen tapi enggak bisa bilang kangen, cemburu tapi enggak punya hak untuk complain, sekedar ingin ketemu dia pun masih harus pintar-pintar mencari alasan. Situasi yang lama kelamaan akan membuat kita bertanya-tanya… apa jangan-jangan semua ini hanya sekedar cinta yang bertepuk sebelah tangan? Dan yang paling penting, mau begini sampai kapan?

Gue sering berharap… andai gue tahu kapan gue harus terus mencoba atau kapan sebaiknya gue menyerah saja. Bagaimana jika gue hanya perlu sedikit waktu lagi? Berusaha sedikit lebih keras lagi? Bersabar sedikit lebih banyak lagi?

Tapi bagaimana jika semua itu pada akhirnya hanya akan terbuang sia-sia? Bagaimana jika kenyataannya, apapun yang gue lakukan, apapun yang gue katakan, berikan, atau bahkan korbankan, tidak akan pernah cukup untuk bisa mengubah pikirannya? Untuk menggerakan hatinya? Untuk meyakinkan dia bahwa gue adalah “the one“?

If Pepper Potts were real, how did she manage all that?

Beruntung untuk Pepper Potts perasaan dia akhirnya terbalas juga. Pasangan Tony-Pepper akhirnya jadi pasangan favorit hampir semua MCU fans yang gue kenal. Tapi sayangnya, tidak semua dari kita akan berakhir seperti Pepper Potts. Seperti frase yang cukup populer akhir-akhir ini; pada akhirnya, kita hanya sedang menjaga jodoh milik orang lain.

Oh ya, tahu apa yang lebih berat dari menjadi Pepper Potts? Rasa takut orang yang dia cintai akan pergi selama-lamanya sebagai resiko dari “pekerjaannya”.

Gue masih ingat suatu hari saat gue sedang meeting, cowok yang gue sayang banget, mengabari dia akan pulang lebih awal karena mendadak demam tinggi. Mau periksa ke UGD katanya. Membaca isi pesan itu, fokus gue langsung buyar. Telinga gue seolah berhenti mendengar kalimat yang diucapkan oleh rekan kerja gue di meeting itu. Bayangan saat terakhir kali gue melihat dia terbaring di Rumah Sakit tiba-tiba melintas di benak gue. Bagaimana jika dia sakit sampai separah itu lagi?

My brain froze… and that was when I knew how much deeper my feelings had grown for this man.

Tapi tetap saja. Dia bukan pacar gue. Gue pengen ikut mengantar ke UGD. Ingin melihat keadaan dia dengan mata kepala gue sendiri. Tapi gue enggak punya hak untuk itu. Satu-satunya hal yang bisa gue lakukan hanya membalas via WhatsApp, “Kabari dokternya bilang apa. And get well soon!”

Balik lagi ke Pepper Potts… gue mungkin tidak akan bisa sekuat dia. Dan mungkin, gue tidak akan berakhir bahagia dengan cowok yang gue sayangi itu…

Every girl wishes for a happy ending, but maybe, this one is just never meant to be… Still hoping that someday, I will find someone who chooses me, just like Tony Stark chooses Pepper Potts.